TUJUAN AKIDAH ISLAM

TUJUAN AKIDAH ISLAM

………………………………………..
Akidah Islam mempunyai banyak tujuan yang baik yang harus
dipegang teguh, yaitu :
1. Untuk mengihlaskan niat dan ibadah kepada Allah semata.
Karena Dia adalah pencipta yang tidak ada sekutu bagiNya,
maka tujuan dari ibadah haruslah diperuntukkan hanya
kepadaNya.
2. Membebaskan akal dan pikiran dari kekacauan yang timbul
dari kosongnya hati dari akidah. Karena orang yang hatinya

kosong dari akidah ini, adakalanya kosong hatinya dari setiap
akidah serta menyembah materi yang dapat di indera saja dan
adakalanya terjatuh pada berbagai kesesatan akidah dan
khurafat.
3. Ketenangan jiwa dan pikiran, tidak cemas dalam jiwa dan tidak
goncang dalam pikiran. Karena akidah ini akan
menghubungkan orang mukmin dengan Penciptanya lalu rela
bahwa Dia sebagai Tuhan yang mengatur, Hakim yang
membuat tasyri’. Oleh karena itu hatinya menerima takdir-
Nya, dadanya lapang untuk menyerah lalu tidak mencari
pengganti yang lain.
4. Meluruskan tujuan dan perbuatan dari penyelewengan dalam
beribadah kepada Allah dan bermuamalah dengan orang lain.
Karena diantara dasar akidah ini adalah mengimani para
Rasul, dengan mengikuti jalan mereka yang lurus dalam
tujuan dan perbuatan.
5. Bersungguh-sungguh dalam segala sesuatu dengan tidak
menghilangkan kesempatan beramal baik, kecuali
digunakannya dengan mengharap pahala. Serta tidak melihat
tempat dosa kecuali menjauhinya dengan rasa takut dari
siksa. Karena diantara dasar akidah ini adalah mengimani
kebangkitan serta balasan terhadap seluruh perbuatan.
( ( وَلِكلُّ دَرَجَاتٌ مّمّبا عَمِلُبوا وَمَبا رَببّكَ بغَِافِبلٍ عَمّبا يعَْمَلُبونَ 132 
سورة النعام
“Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat
(sesuai) dengan yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak
lengah dari apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al An’am : 132).
Nabi Muhammad  juga menghimbau untuk tujuan ini dalam
sabdanya :
” الممؤمن القوي خير وأحب إلى الله من المؤمن الضعيف، وفي كببل
خير، احرص على ما ينفعك واستعن بالله ول تعجز وإن أصببابك شببيء
فل تقل لو أني فعلت كذا وكذا ولكن قل : قبدر اللبه ومبا شباء فعبل،
فإن لو تفتح عمل الشيطان “.
“Orang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh
Allah daripada orang mukmin yang lemah. Dan pada masingmasing
terdapat kebaikan. Bersemangatlah terhadap sesuatu
yang berguna bagimu serta mohonlah pertolongan dari Allah
dan janganlah lemah. Jika engkau ditimpa sesuatu, maka
jaganlah engkau katakan : seandainya aku kerjakan begini
dan begitu. Akan tetapi katakanlah : itu takdir Allah dan apa
yang Dia kehendaki dia lakukan. Sesungguhnya mengada-ada
itu membuka perbuatan setan.” ( HR. Muslim)

6. Menciptakan umat yang kuat yang mengerahkan segala yang
mahal maupun yang murah untuk menegakkan agamanya
serta memperkuat tiang penyanggahnya tanpa peduli apa
yang akan terjadi untuk menempuh jalan itu.
إنِمَّا الْمُؤْمِنوُنَ الّذِينَ آمَنوُا باِللّهِ وَرَسُولِهِ ثمُّ لَببمْ يرَْتبَبابوُا وَجَاهَببدُوا 
( ( بأِمَْوَالِهِمْ وَأنَفُسِبهِمْ فِبي سَببيِلِ اللّبهِ أوُْلَئكَِ هُبمُ الصّبادِقُونَ 15
سورة الحجرات
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orangorang
yang beriman kepada Allah dan RasulNya kemudian
mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta
dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang –rang
yang benar.” (QS. Al Hujurat : 15),
7- Meraih kebahagiaan dunia dan akhirat dengan memperbaiki
individu-individu maupun kelompok-kelompok serta meraih
pahala dan kemuliaan.
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مّن ذَكرٍَ أوَْ أنُثىَ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنحُْييِنَبّبهُ حَيبَباةً طَيبّبَبةً 
سورة النحل. ((َ وَلَنجَْزِينَهُّمْ أجَْرَهُم بأِحَْسَنِ مَا كاَنوُا يعَْمَلُون 97
“Barangsiapa yang mengerjakan amal baik, baik lelaki
maupun wanita dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya
akan Kami berikan balasan kepadanya kehidupan yang baik
dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka
dengan pahala yang paling baik dari apa yang telah mereka
kerjakan.” (QS. An Nahl 97)
Inilah sebagian dari tujuan akidah Islam, Kami mengharap
agar Allah merealisasikannya kepada Kami dan seluruh umat Islam.

……………………………………….

IMAN KEPADA TAKDIR

IMAN KEPADA TAKDIR

……………………………………..
Al qadar adalah takdir Allah  untuk seluruh makhluk yang
ada sesuai dengan ilmu dan hikmahNya.
Iman kepada takdir mangandung empat unsur :
1. Mengimani bahwa Allah mengetahui segala sesuatu
secara global maupun terperinci, azali dan abadi, baik
yang berkaitan dengan perbuatan-Nya maupun
perbuatan para hamba-Nya.
2. Mengimani bahwa Allah telah menulis hal itu di “Lauh
Mahfudz”.
Tentang kedua hal tersebut Allah berfirman, yang
artinya :
“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya
Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di
bumi; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam
sebuah kitab (Lauh Mahfudzh)? Sesungguhnya yang
demikian itu amat mudah bagi Allah.” (QS. Al Hajj : 70).
Abdullah bin Umar ra. Berkata : “Aku pernah mendengar
Rasululah  bersabda :
” كتب الله مقادير الخلق قبل أن يخلق السببماوات والرض بخمسببين ألببف
سنة “.
“Allah telah menulis (menentukan) takdir seluruh
makhluk sebelum menciptakan langit dan bumi lima
puluh ribu tahun.” (HR. Muslim).
3. Mengimani bahwa seluruh yang ada tidak akan ada,
kecuali dengan kehendak Allah . Baik yang berkaitan
dengan perbuatan-Nya maupun yang berkaitan dengan
perbuatan makhluk-makhlukNya.
Allah  berfirman, yang artinya :

“Dan Robbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan
Dia pilih…” (QS. Al Qashash : 68).
 هو الذي يصوركم في الرحام كيف يشاء ل إله إل هو العزيز الحكيم 
“Dialah yang membentuk kamu dalam rahim
sebagaimana dikehendakiNya. Tak ada Tuhan melainkan
Dia. Yang Maha perkasa lagi Mahabijaksana.” (QS. Al
Imran : 6).
Allah juga berfirman tentang sesuatu yang berkaitan
dengan perbuatan-perbuatan makhluk-makhluk-Nya,
yang artinya :
“…Kalau Allah menghendaki, maka Dia memberi
kekuasaan kepada mereka terhadap kamu, lalu pastilah
mereka memerangimu…” (QS. An Nisa : 90).
“… Dan kalau Allah menghendaki, maka mereka tidak
mengerjakannya. Maka tinggalkanlah mereka dan apa
yang mereka ada-adakan.” (QS. Al An’am : 137).
4. Mengimani bahwa seluruh yang ada, Dzatnya, sifat dan
geraknya diciptakan oleh Allah .
“Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara
segala sesuatu.” ( QS. Az Zumar : 62).
“… dan Dia telah menciptakan segala sesuatu dan Dia
menetapkan ukuran-ukuranNya dengan serapi-rapinya.”
(QS. Al Furqan :2 ).
Allah berfirman tentang Nabi Ibrahim yang berkata
kepada kaumnya, yang artinya :
“Padahal Allah lah yang menciptakan kamu dan apa yang
kamu perbuat itu.” (QS. As Shaffat : 96).
Iman kepada takdir sebagaimana telah Kami terangkan di atas
tidak menafikan bahwa manusia mempunyai kehendak dan
kemampuan dalam barbagai perbuatan yang sifatnya ikhtiari.
Syara’ dan kenyataan (realita) menunjukkan ketetapan itu.
a. Secara syara’, Allah berfirman tentang kehendak manusia,
yang artinya :
“Maka berangsiapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh
jalan kembali kepada Robbnya.” (QS. An Naba’ : 39).

“…maka datangilah tempat kamu bercocok tanam (isterimu)
itu bagaimana saja kamu kehendaki…” (QS. Al Baqarah : 223).
Allah juga berfirman tentang kemampuan manusia, yang
artinya :
“maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut
kesanggupanmu, dengarlah dan taatlah…” (QS. At Taghabun :
16).
 ل يكلف الله نفسا إل وسعها لها ما كسبت وعليها مااكتسبت 
“Allah tidak membebani seseorang malainkan sesuai dengan
kesanggupannya. Ia mendapat pahala dari (kebajikan) yang
dikerjakannya serta mendapat siksa dari (kajahatan) yang
dikerjakan…” (QS. Al Baqarah : 286).
b. Secara kenyataan, manusia mengetahui bahwa dirinya
mempunyai kehendak dan kemampuan yang
menyebabkannya mengerjakan atau meninggalkan sesuatu.
Dia juga dapat membedakan antara kemauannya (seperti
berjalan), dan yang bukan kehendaknya (seperti gemetar).
Kehendak serta kemampuan seseorang itu akan terjadi
dengan masyi’ah (kehendak) serta qudrah (kemampuan) Allah
, seperti dalam sebuah firman-Nya, yang artinya :
“(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan
yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh
jalan itu), kecuali apabila dikehendaki Allah, Robb semesta
alam.” (QS. At Takwir : 28-29).
Karena alam semesta ini seluruhnya milik Allah, maka tidak
ada pada miliknya barang sedikitpun yang tidak diketahui serta
tidak dikehendakiNya.
Iman kepada takdir ini tidak berarti memberi alasan untuk
meninggalkan kewajiban atau untuk mengerjakan maksiat. Kalau
itu dibuat alasan, maka alasan itu jelas salah ditinjau dari beberapa
segi :
1. Firman Allah, :
سَيقَُولُ الّذِينَ أشَْرَكوُا لَوْ شَباء اللّبهُ مَبا أشَْبرَكنْاَ وَل آباَؤُنبَبا وَل 
حَرّمْناَ مِن شَيْءٍ كذَلِكَ كذَّبَ الّذِينَ مِن قَبلِْهِم حَتىّ ذَاقُوا بأَسَْبناَ قُبلْ
هَلْ عِندَكمُ مّنْ عِلْم فَتخُْرِجُوهُ لَناَ إنِ تتَبّعُِبونَ إلِ الظّبنّ وَإنِْ أنَتبُمْ إلَ سورة النعام (( تخَْرُصُونَ 148
“orang-orang yang menyekutukan Tuhan mengatakan :
“Jika Allah menghendaki, niscaya Kami dan bapak-bapak

Kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) Kami
mengharamkan barang sesuatu apapun. Demikian juga
orang-orang sebelum mereka yang telah mendustakan
(para Rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami.
Katakanlah : “adakah kamu mempunyai sesuatu
pengetahuan sehingga kamu dapat mengemukakannya
pada Kami? Kamu tidak mengetahui kecuali prasangka
belaka dan kamu tidak lain hanya menyangka.” (QS. Al
An’am : 148)
kalau alasan mereka dengan takdir itu dibenarkan, Allah 
tentu tidak akan menjatuhkan siksaNya.
3. Firman-Nya:
رّسُل مّبشَّرِينَ وَمُنبذِرِينَ لِئلَ يكَبُبونَ لِلنبّباسِ عَلَبى اللّبهِ حُجّبةٌ بعَْبدَ 
سورة النساء (( الرّسُلِ وَكاَنَ اللّهُ عَزِيزًا حَكيِمًا 165
“(mereka Kami utus) sebagi Rasul-Rasul pembawa kabar
gembira dan pemberi peringatan agar tidak ada alasan bagi
manusia membantah Allah sesudah diutusnya Rasul-Rasul
itu. Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS. An
Nisa” : 165).
Kalau takdir dapat dibuat alasan bagi orang-orang yang
salah, Allah  tidak menafikanya dengan diutusnya para
Rasul, karena menyalahi sesuatu setelah terutusnya para
Rasul jatuh pada takdir Allah  juga.
3. Hadits yang diriwayatkan Al Bukhari dan Muslim, dari Ali bin
Abi Thalib bahwa Nabi  bersabda :
” ما منكم من أحد إل قد كتب مقعده من النار أو الجنة، فقال رجل
من القوم، أل نتكل يا رسول الله؟ قال: ل إعملوا كببل ميسببر، ثببم
قرأ :
“Setiap diri kalian telah ditulis (ditetapkan) temmpatnya di
sorga atau di neraka. Ada seorang sahabat bertanya :
“Mengapa kita tidak tawaakal (pasrah) saja, wahai
Rasulullah?” beliau mejawab : “tidak, berbuatlah karena
masing-masing akan dimudahkan.” Lalu beliau membaca
surat Al lail ayat 4-7 :
إنِّ سَعْيكَمُْ لَشَتىّ( 4)، فَأمَّا مَنْ أعَْطَى وَاتقَّى ، وَصَدّقَ باِلحُسْنىَ 
 ، فَسَنيُسَّرُهُ لِلْيسُْرَى
“Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda.
Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah)
dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang

terbaik (surga) maka Kami kelak akan menyiapkan baginya
jalan yang mudah.” (QS. Al Lail 4-7)
jadi, Nabi  memerintahkan untuk berbuat serta melarang
menyerah pada takdir.
4. Allah  memerintah serta melarang hamba-hambaNya,
namun tidak menuntutnya kecuali yang mampu dikerjakan.
Allah  berfirman:
سورة التغابن ( ( فاتقُّوا اللّهَ مَا اسْتطَعْتمُْ 16 َ
“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut
kesanggupanmu…” (QS. At Taghabun : 16)
سورة البقرة (( ل يكُلَّفُ اللّهُ نفَْسًا إلِ وُسْعَهَا 286 
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai
dengan kesanggupannya…” (QS. AlBaqarah : 286).
Kalau manusia dipaksakan untuk berbuat sesuatu, artinya
disuruh mengerjakan sesuatu yang tidak mungkin
dikerjakan, maka ini merupakan suatu kesalahan. Oleh
karena itu, bila maksiat dilakukan karena kebodohan atau
karena lupa, atau karena dipaksa, maka pelakunya tidak
berdosa. Mereka dimaafkan Allah.
5. Takdir Allah adalah rahasia yang tersembunyi, tidak
dapat diketahui sebelum terjadinya takdir serta kehendak
seseorang untuk mengerjakannya terlebih dahulu daripada
perbuatannya. Jadi, kehendak seseorang untuk
mengerjakan sesuatu itu tidak berdasarkan pada
pengetahuannya akan takdir Allah. Pada waktu itu habislah
alasannya dengan takdir karena tidak ada alasan bagi
seseorang terhadap apa yang tidak diketahuinya.
6. Kita melihat orang yang ingin mendapatkan urusan dunia
secara layak, tidak ingin pindah kepada yang tidak layak.
Apakah ia beralasan pindahnya dengan takdir? Mengapa ia
berpindah dari yang kurang menguntungkan kepada yang
menguntungkan dengan alasan takdir? Bukankah keadaan
dua hal itu satu?
Cobalah perhatikan contoh dibawah ini :
Kalau di depan seseorang ada dua jalan. Pertama menuju
ke sebuah negeri yang semuanya serba kacau,
pembunuhan, perampokan, pembantaian kehormatan,
ketakutan, dan kelaparan. Yang kedua menuju ke sebuah
negeri yang semuanya serba teratur, keamanan yang

terkendali, kesejahteraan yang melimpah ruah, jiwa,
kehormatan, dan harta benda dihormati, jalan mana yang
akan ia tempuh?
Ia pasti akan menempuh jalan yang kedua yang menuju
ke sebuah negeri yang teratur serta aman. Tidak
mungkin orang yang berakal menempuh jalan yang
menuju ke sebuah negeri yang kacau serta menakutkan
dengan alasan takdir. Mengapa dalam urusan akhirat ia
menempuh jalan yang menuju ke neraka bukan jalan
yang menuju surga dengan beralasan takdir?
Contoh lain adalah seorang yang sakit disuruh meminum
obat lalu meminumnya sedangkan hatinya tidak
menyukainya. Dan dilarang memakan makanan yang
berbahaya lalu meninggalkannya sementar hatinya
menyukainya. Semua itu dimaksudkan mencari
pengobatan serta kesehatan. Orang yang sakit itu tidak
mungkin enggan minum obat atau melanggar memakan
makanan yang berbahaya dengan alasan menyerah pada
takdir. Bagaimana seseorang meninggalkan perintah
Allah  dan Rasulnya , atau malakukan larangan Allah
dan Rasulnya dengan beralasan pada takdir?
7. Orang yang meninggalkan kewajiban serta melanggar
kemaksiatan dengan alasan takdir itu seandainya
dianiaya oleh seseorang, dirampas hartanya dan dirusak
kehormatannya dengan beralasan pada takdir dan
mengatakan : Anda jangan menyalahkan saya, karena
kelaliman saya ini adalah takdir Allah, alasannya itu tidak
akan diterima. Bagaimana seseorang tidak mau menerima
alasan orang lain dengan takdir dalam penganiayaannya
terhadap orang lain, lalu ia sendiri beralasan dengan takdir
terhadap kelalimannya pada hak Allah ?
Diriwayatkan bahwa Amirul Mukminin Umar bin khattab 
menerima seorang pencuri yang berhak dipotong
tangannya. Beliau memerintahkan agar dipotong
tangannya. Pencuri berkata : tunggu dulu, Amirul
Mukminin, aku mencuri ini hanya karena takdir Allah. Umar
pun tidak kalah menjawab : demikian Kami potong
tanganmu hanya karena takdir Allah .

………………………………….
Buah iman kepada takdir:

1. Bersandar kepada Allah  ketika mengerjakan sebab, tidak
bersandar kepada sebab itu sendiri, karena segala sesuatu
ditentukan dengan takdir Allah .
2. Agar seseorang tidak lagi mengagumi dirinya ketika tercapai
apa yang dicita-citakan. Karena tercapainya cita-cita
merupakan ni’mat dari Allah  yang dikarenakan takdirNya
yaitu sebab-sebab keberhasilan. Dan mengagumi dirinya akan
dapat melupakan syukur kepada ni’mat ini.
3. Menimbulkan ketenangan serta kepuasan jiwa terhadap
seluruh takdir yang berlaku, tidak gelisah karena hilangnya
sesuatu yang disukai atau datangnya sesuatu yang tidak
disukai. Karena dia tahu bahwa hal itu ditentukan dengan
takdir Allah yang memiliki langit dan bumi dan bahwa hal itu
akan terjadi dengan pasti.
مَا أصَابَ مِن مّصِيبةٍَ فِي الْرَْضِ وَلَ فِي أنَفُسِكمُْ إلِّ فِبي كتِبَبابٍ مّبن 
قَبلِْ أنَ نبّرَْأهَا إنِّ ذَلِكَ عَلَى اللّهِ يسَِيرٌ لكِيَلَْ تأَسَْوْا عَلَببى مَببا فَبباتكَمُْ وَلَ
سورة الحديد  تفَْرَحُوا بمَِا آتاَكمُْ وَاللّهُ لَ يحُِبّ كلُّ مُخْتاَلٍ فَخُورٍ
“Tidak suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak
pula) pada dirimu sendiri melainkan telah ditulis dalam kitab
(lauh mahfudh) sebelum Kami menciptakannya.
Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah. (Kami
jelaskan yang demikian itu) supaya kamu tidak berduka cita
terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu tidak
terlalu gembira terhadap apa yang diberikan olehNya
kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang
sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Al Hadid : 22-230).
Nabi Muhammad  bersabda :
” عجبا لمر المؤمن إن أمره كله له خير، ول يكون ذلبك لحبد
إل للمؤمن، إن أصابته سراء شكر، فكان خيرا له، وإن أصببابته
ضراء صبر، فكان خيرا له “.
“Sungguh menakjubkan perkara orang mukmin itu.
Perkaranya semua baik, dan itu tidak ada pada seorangpun
selain orang mukmin. Jika mendapatkan kegembiraan, ia
bersukur, itu baik baginya. Dan jika ditimpa kesusahan ia
bersabar, itupun baik baginya.” (HR. Muslim).
Dalam masalah takdir ini ada dua golongan yang tersesat :
Pertama : golongan Jabariyyah. Yaitu mereka yang
mengatakan bahwa manusia itu terpaksa atas perbuatannya, tidak
punya iradah (kemauan) dan qudrah (kemampuan).

Kedua : golongan Qadariyah. Yaitu mereka yang
mengatakan bahwa manusia dalam perbuatannya ditentukan oleh
kemauan serta kemampuannya sendiri, kehendak serta takdir Allah
 tidak ada pengaruhnya sama sekali.
Untuk menjawab pendapat golongan pertama, (jabariyyah),
dapat dengan mengunakan syara’ dan kenyataan :
a. Adapun dalil syara’ maka Allah  telah menetapkan
kehendak kepada hambaNya serta menggantungkan perbuatan
kepadanya juga.
سورة آل عمران  مِنكمُ مّن يرُِيدُ الدّنيْاَ وَمِنكمُ مّن يرُِيدُ الخِرَةَ 
“…Diantara kamu ada yang menghendaki dunia dan ada
pula yang menghendaki akhirat…” (QS. Al Imran : 152).
وَقُلِ الْحَقّ مِن رّبكّمُْ فَمَن شَاء فَلْيؤُْمِن وَمَن شَباء فَلْيكَفُْبرْ إنِبّبا 
أعَْتدَْناَ لِلظّالِمِينَ نبَبارًا أحَباطَ بهِبمْ سُبرَادِقُهَا وَإنِ يسَْبتغَِيثوُا يغَُباثوُا
( بمَِاء كاَلْمُهْلِ يشَْوِي الْوُجُوهَ بئِسَْ الشّرَابُ وَسَاءتْ مُرْتفَقًا 29
سورة الكهف
“Dan katakanlah : kebenaran itu datangnya dari
Tuhanmu. Maka barangsiapa yang (ingin) beriman
hendaklah beriman. Dan barangsiapa yang ingin (kafir)
biarlah kafir. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi
orang-orang zdalim itu neraka yang mengepung
mereka..” (QS. Al Kahfi : 29).
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنفَْسِهِ وَمَبنْ أسَباء فَعَلَيهَْبا وَمَبا رَببّبكَ بظَِلّم 
سورة فصلت  لّلْعَبيِدِ
“Barangsiapa mengerjakan amal yang baik (pahalanya)
untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang berbuat jahat
maka (dosanya) atas dirinya sendiri (pula). Dan sekalikali
Tuhanmu tidak akan menganiaya hamba-hamba-
Nya.” (QS. Fushilat : 46).
b. Secara kenyataan bahwa manusia mengetahui
perbedaan antara perbuatan-perbuatan yang ikhtiari (dapat
diupayakan) yang dikerjakan dengan kehendaknya, seperti makan,
minum, dan jual beli, dan yang di luar kehendaknya seperti
gemetar karena demam, dan jatuh dari atas. Pada yang pertama ini
ia dapat mengerjakan dan memilih dengan kemauannya tanpa ada
paksaan. sedangkan yang kedua dia tidak dapat memilih juga tidak
dikehendaki terjadinya.
Pendapat golongan kedua (Qadariyah) dapat dijawab pula
dengan syara’ dan kenyataan :

a. Adapun dalil syara’ maka Allah  adalah Pencipta
segala sesuatu, dan segala sesuatu terjadi dengan
kehendakNya. Allah telah menjelaskan dalam Al Qur’an
bahwa perbuatan makhlukNya terjadi dengan kehendak-
Nya, sebagaimana firman-Nya:
وَلَوْ شَاء اللّهُ مَا اقْتتَلَ الّذِينَ مِن بعَْدِهِم مّن بعَْدِ مَبا جَباءتهُْمُ 
الْبيَنّاَتُ وَلَكنِ اخْتلَفُوا فَمِنهُْم مّنْ آمَنَ وَمِنهُْم مّن كفَببرَ وَلَببوْ شَبباء
سورة البقرة (( اللّهُ مَا اقْتتَلَُوا وَلَكنِّ اللّهَ يفَْعَلُ مَا يرُِيدُ 253
“Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah
berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah
Rasul-Rasul itu, sesudah datang kepada mereka
beberapa macam keterangan, akan tetapi mereka
berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan
ada (pula) di antara mereka yang kafir. Seandainya Allah
menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan
tetapi Allah berbuat apa yang dikehendakiNya.” (QS. Al
Baqarah : 253).
وَلَوْ شِئنْاَ لَتيَنْاَ كلُّ نفَْسٍ هُدَاهَا وَلَكنِْ حَببقّ الْقَببوْلُ مِنبّبي لَمَْلَنَّ 
سورة السجدة (( جَهَنمَّ مِنَ الْجِنةِّ وَالناّسِ أجَْمَعِينَ 13
“Dan kalau Kami menghendaki niscaya Kami akan
berikan kepada tiap-tiap jiwa petunjuk (bagi)nya, akan
tetapi telah tetaplah perkataan (ketetapan) dariku;
sesungguhnya akan Aku penuhi neraka jahannam itu
dengan jin dan manusia bersama-sama.” (QS. As Sajdah :
13).
b. Adapun menurut akal, bahwa alam semesta ini adalah
milik dan berada dalam kekuasaan Allah. Dan manusia,
sebagai bagian dari alam semesta tidak mungkin dapat
berbuat dalam kekuasaan Si Penguasa kecuali dengan
seizinNya dan kehendakNya.

……………………………………………….

IMAN KEPADA HARI AKHIR

…………………………………….

IMAN KEPADA HARI AKHIR

……………………………………..
Hari Akhir adalah hari kiamat, dimana seluruh manusia
dibangkitkan pada hari itu untuk dihisab dan dibalas. Hari itu
disebut hari akhir, karena tidak ada hari lagi setelahnya. Pada hari
itulah penghuni surga dan penghuni neraka masing-masing
menetap di tempatnya.
Iman kepada hari Akhir mengandung tiga unsur :
1. Beriman kepada ba’ts (kebangkitan), yaitu
menghidupkan kembali orang-orang yang sudah mati
ketika tiupan sangkakala yang kedua kali. Pada waktu itu
semua manusia bangkit untuk menghadap Robb alam
semesta dengan tidak beralas kaki, bertelanjang, dan
tidak disunat.
Allah  berfirman :
يوَْمَ نطَْوِي السّمَاء كطَيّ السّجِلّ لِلْكتُبُِ كمَا ببَبدَأنْاَ أوَّلَ خَلْبقٍ 
سورة النبياء. ( ( نعِّيدُهُ وَعْدًا عَلَينْاَ إنِاّ كنُاّ فَاعِلِينَ 104
“(yaitu) pada hari Kami gulung langit seperti menggulng
lembaran-lembaran buku. Sebagaimana Kami telah
memulai penciptaan partama, begitulah Kami akan
mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati.
Sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya.”
(QS. Al Anbiya’ : 104).
Kebangkitan adalah kebenaran yang pasti ada, bukti
keberadaannya diperkuat oleh Al Kitab, sunnah dan ijma’
umat Islam.

Allah  berfirman yang artinya :
“Kemudian sesungguhnya kamu sekalian akan
dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat.” (QS. Al
Mu’minun : 16).
Nabi Muhamad  juga bersabda :
“ Di hari kiamat seluruh manusia akan dihimpun dengan
keadaan tidak beralas kaki dan tidak disunat.” (HR.
Bukari & Muslim).
Umat Islam sepakat akan adanya hari kebangkitan
Karena hal itu sesuai dengan hikmah Allah yang
mengembalikan ciptaannya untuk diberi balasan
terhadap segala yang telah diperintahkan-Nya melalui
lisan para Rasul-Nya.
Allah berfirman yang artinya :
“ Maka apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya
Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan
bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?”
(QS. Al Mu’minin : 115).
Allah  berfirman kepada Rasulullah , yang artinya:
“ Sesungguhnya yang mewajibkam atasmu (melaksnakan
hukum-hukum) Al Qur’an benar-benar akan
mengembalikan kamu ke tempat kembali…” (QS. Al
Qashash : 85).
2. Beriman kepada hisab (perhitungan) dan jaza’
(pembalasan) dengan meyakini bahwa seluruh perbuatan
manusia akan dihisab dan dibalas. Hal ini dipaparkan
dengan jelas di dalam Al Qur’an, sunnah dan ijma’
(kesepakatan) umat Islam.
Allah  berfirman, yang artinya :
“Sesungguhnya kepada Kamilah kembali mereka,
kemudian sesungguhnya kewajiban Kamilah menghisab
mereka.” (QS. Al Ghasyiah : 25-26).
من جاء بالحسنة فله عشر أمثالها ومن جاء بالسبيئة فل يجبزى إل 
 مثلها وهم ل يظلمون
“Barang siapa membawa amal yang baik maka baginya
(pahala) sepuluh kali lipat amalnya, dan barangsiapa

yang membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak
diberi pembalasan melainkan seimbang dengan
kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya
(dirugikan).” (QS. Al- An’am : 160).
“ Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari
kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang
sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji
sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan
cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.” (QS. Al
Anbiya’ : 47).
Dari Ibnu Umar  diriwayatkan bahwa Nabi  bersabda
yang artinya :
“Allah nanti akan mendekatkan orang mukmin, lalu
meletakkan tutup dan menutupnya. Allah bertanya :
“Apakah kamu tahu dosamu ini?” “apakah kamu tahu
dosamu itu?” Ia menjawab, “Ya Robbku.” Ketika ia sudah
mengakui dosa-dosanya dan melihat dirinya telah binasa,
Allah  berfirman : “Aku telah menutupi dosa-dosamu di
dunia dan sekarang Aku mengampuninya.” Kemudian
diberikan kepada orang mukmin itu buku amal baiknya.
Adapun orang-orang kafir dan orang-orang munafik, Allah
 memanggilnya di hadapan orang banyak. Mereka
orang-orang yang mendustakan Robbnya. Ketahuilah,
laknat Allah itu untuk orang-orang yang dzalim.” (HR.
Bukhari Muslim).
Nabi  bersabda :
” أن من هم بحسنة فعملها كتبه الله عنده عشر حسنات
إلى سبعمائة ضعف إلى أضبعاف كبثيرة، وإن هبم بسبيئة
فعملها كتبها الله سيئة واحدة “.
“Orang yang berniat melakukan satu kebaikan, lalu
mengamalkannya, maka ditulis baginya sepuluh
kebaikan, sampai tujuh ratus kali lipat, bahkan sampai
beberapa kali lagi. Barangsiapa berniat melakukan satu
kejahatan, lalu mengamalkannya, maka Allah
menulisnya satu kejahatan saja.”
Umat Islam telah sepakat tentang adanya hisab dan
pembalasan amal, karena hal itu sesuai dengan
kebijaksanaan Allah. Sebagaimana kita ketahui, Allah 
telah menurunkan Kitab-kitab, mengutus para Rasul serta

mewajibkan kepada manusia untuk menerima ajaran
yang dibawa oleh Rasul-Rasul Allah itu dan mengerjakan
segala yang diwajibkannya. Dan Allah telah mewajibkan
agar berperang melawan orang-orang yang
menentangnya serta menghalalkan darah, keturunan,
isteri dan harta benda mereka. Kalau tidak ada hisab dan
balasan tentu hal ini hanya sia-sia belaka, dan Robb yang
Maha bijaksana, Mahasuci darinya.
Allah  telah mengisyaratkan hal itu dalam firman-Nya,
yang artinya :
“Maka sesungguhnya Kami akan menanyai umat-umat
yang telah diutus Rasul-Rasul kepada mereka dan
sesunguhnya Kami akan menanyai (pula) Rasul-Rasul
(Kami), maka sesungguhnya akan Kami kabarkan kepada
mereka (apa-apa yang telah mereka perbuat). Sedang
(Kami) mengetahui (keadaan mereka), dan Kami sekalikali
tidak jauh (dari mereka).” (QS. Al Anfal : 6-7).
3. Mengimani sorga dan neraka sebagai tempat manusia
yang abadi. Sorga adalah tempat keni’matan yang
disediakan Allah untuk orang-orang mukmin yang
bertaqwa, yang mengimani apa-apa yang harus diimani,
yang taat kepada Allah dan RasulNya, dan kepada orangorang
yang ikhlas.
Di dalam sorga terdapat berbagai kenikmatan yang tidak
pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, serta
tidak terlintas dalam benak manusia.
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan
mengerjakan amal shaleh, mereka itu adalah sebaik-baik
makhluk. Balasan mereka di sisi Robb mereka ialah surga
‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka
kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridla terhadap
mereka, dan merekapun ridha kepadaNya. Yang
demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut
kepada Robbnya.” QS. (QS. Al bayyinah : 7-8).
“Tidak seorang pun yang mengetahui apa yang
disembnyikan untuk mereka, yaitu (bermacam-macam
ni’mat) yang menyenangkan pandangan mata sebagai
balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS.
As Sajadah : 17).

Neraka adalah tempat azab yang disediakan Allah untuk
orang-orang kafir, yang berbuat zalim serta bagi yang
mengingkari Allah dan RasulNya. Di dalam neraka
terdapat berbagai azab dan sesuatu yang menakutkan,
yang tidak pernah terlintas dalam hati.
 واتقوا النار التي أعدت للكافرين 
“Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan
untuk orang-orang yang kafir.” (QS. Al Imran : 131).
“Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang
yang zalim itu neraka yang gejolaknya mengepung
mereka. Jika mereka miminta minum, maka mereka akan
diberi minuman dengan air seperti besi yang mendidih
yang dapat menghanguskan muka. Itulah minuman yang
paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.”
(QS. Al Kahfi : 29).
“Sesungguhnya Allah melaknati orang-rang kafir dan
menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala
(neraka). Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.
Mereka tidak memperoleh seorang pelindungpun dan
tidak (pula) seorang penolong. Pada hari ketika muka
mereka dibolak-balikan dalam neraka, mereka berkata :
“Alangkah baiknya, andaikata Kami taat kepada Allah
dan taat (pula) kepada Rasul.” (QS. Al Ahzab : 64-65).
Iman kepada hari akhir adalah termasuk mengimani peristiwaperistiwa
yang akan terjadi sesudah mati, misalnya :
a. fitnah kubur, yaitu pertanyaan yang diajukan kepada mayat
ketika sudah dikubur, tentang Robbnya, agama dan Nabinya.
Allah akan meneguhkan orang-orang yang beriman dengan
kata-kata yang mantap. Ia akan menjawab pertanyaaan itu
dengan tegas dan penuh keyakinan, Allah Robbku, Islam
agamaku, dan Muhammad  Nabiku. Allah menyesatkan
orang-orang yang dzalim dan kafir. Mereka akan menjawab
pertanyaan dengan terbengong-bengong karena pertanyaan
itu terasa asing baginya. Mereka akan menjawab, “Aku… aku
tidak tahu.” Sedangkan orang-orang munafik akan menjawab
pertanyaan itu dengan kebingungan, aku tidak tahu. Dulu aku
pernah mendengar orang-orang mengatakan sesuatu, lalu aku
mengatakannya.”

b. Siksa dan ni’mat kubur. Siksa kubur diperuntukkan bagi
orang-orang dzalim, yakni orang-orang munafik dan orangorang
kafir, seperti dalam firman-Nya, yang artinya :
“…alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu
orang-orang yang dzalim (berada) dalam tekanan-tekanan
sakaratul maut, sedang para Malaikat memukul dengan
tangannya, (sambil berkata), “keluarkanlah nyawamu.” Di hari
ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan,
karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan)
yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan
diri terhadap ayat-ayatNya.” (QS. Al an’am : 93).
Allah  berfirman tentang keluarga fir’aun :
النار يعرضون عليها غدوا وعشيا ويبوم تقبوم السباعة ادخلبوا آل 
 فرعون أشد العذاب
“Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang,
dan pada hari terjadinya kiamat. (Dikatakan kepada
Malaikat) : “Masukkan fir’aun dan kaumnya ke dalam azab
yang sangat keras.” (QS. Al Mu’min : 46).
Dari Zaid bin Tsabit diriwayatkan bahwa Nabi  bersabda :
“kalau tidak karena kalian saling mengubur (orang yang mati),
pasti aku memohon kepada Allah agar mamperdengarkan
siksa kubur kepada kalian yang saya mendengarnya.”
Kemudian Nabi  menghadapkan wajahnya seraya berkata :
“Mohonlah perlindungan kepada Allah dari siksa neraka.” Para
sahabat berkata : “Kami memohon perlindungan kepada Allah
dari siksa neraka.” Nabi  kemudian berkata lagi : “Mohonlah
perlindungan Allah dari siksa kubur.” Para sahabat berkata :
“Kami memohon perlindungan Allah dari siksa kubur.” Lalu
beliau berkata lagi ; “Mohonlah perlindungan kepada Allah dari
berbagai fitnah baik yang tampak maupun yang tidak
tampak.” Para sahabat lalu barkata : “Kami memohon
perlindungan kepada Allah dari berbagai fitnah baik yang
tampak maupun yang tidak tampak.” Nabi  berkata lagi :
“Mohonlah perlindungan kepada Allah dari fitnah dajjal.” Para
sahabat berkata : “Kami mohon perlindungan kepada Allah
dari fitnah dajjal.” (HR. Muslim).
Adapun ni’mat kubur diperuntukkan bagi orang-orang mukmin
yang jujur. Hal ini telah dijelaskan Allah dalam firman-Nya, yang
artinya :

“sesungguhnya orang-orang yang mengatakan : “Robb Kami
ialah Allah”, kemudian mereka konsistent, para malaikat akan
turun kepada mereka (dengan mengatakan) : “Janganlah
kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan
gembiralah dengan (memperoleh) surga yang telah
dijanjikan Allah kepadamu.” (QS. Fushshilat : 30).
“Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan,
padahal kamu ketika itu melihat, dan Kami lebih dekat
kepadanya daripada kamu. Tetapi kamu tidak melihat, maka
mengapa jika kamu tidak dikuasai (oleh Allah)? Kamu tidak
mengembalikan nyawa itu (kepada tempatnya) jika kamu
adalah orang-orang yang benar?. Adapun jika dia (orang yang
mati) termasuk orang yang didekatkan (kepada Allah), maka
dia memperoleh ketentraman dan rezeki serta surga
keni’matan.” (QS. Al Waqi’ah : 83-89).
Dari Al Bara’ bi Azib  dikatakan bahwa Nabi  bersabda
tentang orang mukmin jika menjawab pertanyaan Malaikat di dalam
kuburnya. Sabdanya : “ada suara dari langit : “hamba-Ku memang
benar. Oleh karenanya berilah dia alas dari surga, berilah pakaian
dari surga, dan bukakanlah baginya pintu surga.” Lalu datanglah
keni’matan dan keharuman dari surga, dan kuburnya dilapangkan
sejauh pandangan mata…” (HR. Ahmad, Abu Daud, dalam hadits
yang panjang).

…………………………………………
Buah iman kepada hari akhir :
1. Mencintai ketaatan dengan mengharap pahala hari itu.
2. Membenci perbuatan maksiat dengan rasa takut akan
siksa pada hari itu.
3. Menghibur orang mukmin tentang apa yang tidak
didapatkan di dunia dengan mengharap keni’matan serta
pahala di akhirat.
Orang-orang kafir mengingkari adanya kebangkitan setelah mati
dengan menyangka bahwa hari akhir dengan segala peristiwaperistiwanya
adalah suatu hal yang mustahil. Persangkaan mereka
jelas sangat keliru dan kesalahannya itu dapat dibuktikan dengan
syara’, indera, dan akal.
1. Bukti syara’
Allah  berfirman, yang artinya :

“Orang-orang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali
tidak akan dibangkitkan. Katakanlah : “Tidak demikian, demi
Robbku, benar-benar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan
diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” Yang
demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. At Taghabun : 7).
2. Bukti inderawi
Allah  telah memperlihatkan bagaimana Dia menghidupkan
orang-orang yang sudah mati di dunia ini.
Dalam surat Al Baqarah terdapat lima contoh mengenai hal
ini :
a. Ketika kaum Musa berkata kepada Nabi Musa  bahwa
mereka tidak akan percaya dengan risalah yang dibawa
Musa , sampai mereka melihat Allah dengan mata
kepala mereka sendiri. Oleh karena itulah Allah berfirman
(yang ditujukan kepada Bani Israil), yang artinya :
“Dan (ingatlah), ketika kamu berkata : “Hai Musa, Kami
tidak akan beriman kepadamu sebelum Kami melihat
Allah dengan terang.” Karena itu kamu disambar
halilintar, sedang kamu menyaksikannya. Setelah itu
Kami bangkitkan kamu sesudah kamu mati, supaya kamu
bersyukur.” (QS. Al Baqarah : 55-56).
b. Cerita orang yang terbunuh yang pembunuhnya
dipersengketakan bani Israil. Allah  lalu memerintahkan
mereka untuk menyembelih sapi, kemudian sapi itu
dipukulkan ke tubuh orang yang terbunuh itu agar dapat
menceritakan siapa sebenarnya yang telah
membunuhnya. Hal ini diungkapkan dalam firman-Nya,
yang artinya :
“Dan (ingatlah ), ketika kamu membunuh seorang
manusia, lalu kamu saling tuduh-menuduh tentang itu.
Dan Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini
kamu sembunyikan. Lalu Kami berfirman : “Pukullah
mayat itu dengan sebahagian anggota sapi betina itu!”
Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang
yang telah mati, dan memperlihatkan kepadamu tandatanda
kekuasaannya agar kamu mengerti.” (QS. Al-
Baqarah : 72-73).
c. Kisah kaum yang keluar dari negerinya karena
menghindari kematian. Mereka berjumlah ribuan orang.

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang
keluar dari kampung halaman mereka, sedang mereka
beribu-ribu (jumlahnya) karena tekut mati, maka Allah
berfirman kepada mereka : “Matilah kamu, kemudian
Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah
mempunyai karunia terhadap manusia, tetapi
kebanyakan manusia tidak bersyukur.” (QS. Al Baqarah :
234).
d. Kisah orang yang melewati sebuah desa yang hancur. Dia
sangsi, bagaimana Allah mematikannya selama seratus
tahun, kemudian Allah menghidupkan kembali. Ini
dikisahkan dalam firman-Nya, yang artinya :
“Atau apakah (kamu memperhatikan) orang yang
melewati suatu negeri yang (temboknya) telah roboh
menutupi atapnya. Dia berkata, “Bagaimana Allah
menghidupkan kembali negri ini setelah hancur?” maka
Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian
menghidupkan kembali. Allah bertanya : “Berapa lama
kamu tinggal di sini? Ia menjawab : “Saya tinggal di sini
sehari atau setengah hari.” Allah berfirman :
“Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun
lamanya. Lihatlah makanan dan minumanmu yang belum
lagi berobah, dan lihatlah keledaimu (yang telah mejadi
tulang-belulang). Kami akan menjadikan kamu tanda
kekuasaan Kami bagi manusia. lihatlah tulang-belulang
keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali,
kemudian Kami membalutnya dengan daging. Maka
tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah
menghidupkan yang telah mati) diapun berkata ; “Saya
yakin Allah maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al
Baqarah : 259).
e. Kisah Nabiyullah Ibarahim ketika bertanya kepada Allah
bagimana Dia menghidupkan kembali orang-orang yang
telah mati. Allah memerintahkannya untuk menyembelih
empat ekor burung dan memisah-misahkan bagianbagian
tubuh burung itu di atas gunung-gunung yang ada
di sekelilingnya. Ibrahim memanggil burung itu, lalu tak
lama tampaklah olehnya bagian-bagian tubuh burungburung
itu menyatu dan segera mendatangi Nabi Ibrahim

kembali. Ini dikisahkan Allah dalam Al-Qur’anul Karim,
yang artinya :
“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata : “ya Robbku,
perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau
menghidupkan orang-orang mati.” Allah berfirman :
“Apakah kamu belum percaya?” Ibrahim menjawab :
“Saya telah percaya, akan tetapi agar hatiku bertambah
tenang.” Allah berfirman (kalau demikian) ambillah
empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu,
lalu letakkan di atas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari
bagian-bagian itu, sesudah itu panggillah mereka,
niscaya mereka datang kepada kamu dengan segera.”
Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana.” (Al Baqarah : 260).
Inilah beberapa bukti inderawi yang menunjukkan mungkinnya
Allah menghidupkan orang-orang yang sudah mati. Telah
diisyaratkan di atas, Allah memberikan kemukjizatan kepada Isa bin
Maryam dengan menghidupkan orang-orang yang sudah mati serta
mengeluarkannya dari kubur dengan izin Allah .
3. Bukti akal (logika)
Bukti akal dapat dibagi menjadi dua bagian :
a. Allah  sebagai pencipta langit dan bumi seisinya telah
menciptakannya pertama kali. Allah mampu menciptakan
pertama kali, tentu pasti mampu pula untuk
mengembalikannya.
Firman-Nya :
سورة الروم ( ( وَهُوَ الّذِي يبَدَْأ الْخَلْقَ ثمُّ يعُِيدُهُ وَهُوَ أهَْوَنُ عَلَيهِْ 27 
“Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari
permulaan, kemudian mengembalikan
(menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkan kembali
itu adalah lebih mudah bagiNya…” (QS. Ar rum : 27).
“sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama,
begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji
yang pasti Kami tepati. Sesungguhnya Kamilah yang
akan melaksanakannya.” (QS. Al Anbiya’ : 104).
“Katakanlah : “ia akan dihidupkan oleh Robb yang
menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha
mengetahui tentang segala makhluk.” (QS. Yasin : 79).

b. Bumi yang mati dan tandus akan hidup kembali dan
tumbuhan yang mati akan bergerak subur setelah turun
hujan. Yang mampu untuk menghidupkannya setelah
mati, dan yang mampu menghidupkan orang-orang yang
sudah mati itu sudah pasti Allah  Maha perkasa lagi
Maha berkehendak.
Allah  berfirman yang artinya :
“Dan sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan)Nya bahwa
kamu melihat bumi itu kering tandus, maka apabila Kami
turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur.
Sesungguhnya Tuhan yang menghidupkannya tentu
dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha
Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Fushshilat : 39).
“Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak
manfaatnya, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohonpohon
dan biji-bijian tanaman yang diketam, dan pohon
kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang
bersusun-susun untuk menjadi rezki bagi hamba-hamba
(Kami), dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang
mati (kering). Seperti itulah terjadinya kebangkitan.” (QS.
Qaaf : 9-11).
Orang-orang yang ingkar kepada siksa kubur dan
keni’matannya mengira hal itu suatu perkara yang mustahil
serta bertolak belakang dengan kenyataan karena apabila
kubur itu dibongkar, tidak akan didapati seperti semula, tidak
bertambah luas dan tidak pula bertambah sempit.
Persangkaan mereka ini jelas tidak benar menurut syara’,
indera, dan akal.
1- Dalil syara’
Ibnu Abbas  berkata, “Rasululah  pernah keluar dari
salah satu kebun kota madinah lalu beliau mendengar ada
dua orang yang disiksa di dalam kuburnya.” Dalam hadits
itu disebutkan bahwa yang satu disiksa karena tidak
memelihara buang air kecil (kencing sembarangan), dan
yang satunya lagi karena mengadu domba.” (HR. Bukhari).
2- Dalil inderawi
Orang yang tidur terkadang mimpi bahwa dia berada di
tempat yang luas, menggembirakan, dan dia bersenangsenang
di situ. Atau terkadang dia juga bermimpi berada di

tempat yang sempit, menyedihkan, dan menyakitkan.
Terkadang seseorang bisa terbangun karena mimpinya itu,
padahal ia berada di atas tempat tidurnya. Ya, tidur adalah
rekan mati.
Oleh karena itu Allah menyebut tidur dengan “wafat”,
seperti dalam firman-Nya, yang artinya :
“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan
(memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu
tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang yang telah Dia
tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain
sampai waktu yang ditentukan…” (QS. Az zumar : 42).
3- Dalil akal
Orang yang tidur terkadang bermimpi yang benar sesuai
dengan kenyataan. Bisa jadi mimpi melihat Nabi  sesuai
dengan sifat beliau. Barangsiapa pernah bermimpi melihat
beliau sesuai dengan sifatnya, maka dia bagaikan
melihatnya benar-benar. Padahal waktu itu dia berada di
dalam kamarnya, di atas tempat tidurnya, jauh dari yang di
mimpikan. Apabila keadaan tersebut suatu hal yang
mungkin dijumpai di dunia, maka bagaimana tidak mungkin
dijumpai di akhirat?
Adapun dalih mereka bahwa apabila kubur itu digali, akan
didapati seperti semula, tidak bertambah luas dan tidak
pula bertambah sempit maka jawabannya :
1. apa yang dibawa syara’ tidak boleh dipertentangkan
dengan hal-hal yang bathil. Kalau orang yang
mempertentangkan itu mau berpikir tentang apa yang
dibawa oleh syara’ ia pasti mengetahui kebathilan
kesalah pahamannya itu.
Seorang penyair bertutur :
Berapa banyak orang yang mencela pendapat yang
benar
Padahal bencana itu dari pemahaman yang salah.
2. keadaan dalam barzakh (alam kubur) termasuk hal-hal
ghaib yang tidak dapat dijangkau oleh indera, kerena jika
hal itu dapat diindera, maka tidak ada artinya iman
kepada yang ghaib, dan sama antara orang yang beriman
kepada yang ghaib dan orang yang mengingkari, dalam
mempercayainya.
3. Siksa kubur, ni’mat kubur, luas dan sempitnya kubur
hanya dapat dijumpai oleh mayat itu sendiri, bukan yang

lain. Ini seperti apa yang dilihat orang tidur dalam
mimpinya, dia bisa berada di tempat yang sempit yang
menakutkan, atau di tempat yang luas dan
menyenangkan, padahal menurut orang lain yang
melihatnya tidur, tidurnya tidak berobah, masih di dalam
kamar dan di atas tempat tidurnya.
Ketika menerima wahyu, Nabi Muhammad  berada di
tengah-tengah para sahabatnya. Beliau mendengar
wahyu, tetapi para sahabatnya tidak mendengarnya. Bisa
jadi wahyu itu diturunkan dengan cara Malaikat menjelma
menjadi seorang lelaki, lalu berbicara dengan beliau, dan
para sahabat tidak melihatnya serta mendengarnya.
4. Pengetahuan manusia terbatas pada sesuatu yang
hanya diizinkan Allah untuk diketahuinya. Tidak mungkin
manusia dapat mengetahui apa saja yang ada. Langit
yang tujuh serta bumi seisinya semua bertasbih dengan
memuji Allah memperdengarkan kepada orang yang
dikehendakinya, meskipun demikian hal itu terhalang dari
kita.
“Dalam masalah ini Allah berfirman, yang artinya :
“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya
bertasbih kepada Allah. Dan tak ada satupun melainkan
bertasbih dengan memujiNya, tetapi kamu sekalian tidak
mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha
Panyantun lagi Maha Pengampun.” (QS. Al Isra’ : 44).
Demikian halnya dengan setan dan jin yang mondar-mandir
pulang-pergi di atas bumi. Pernah ada jin datang kepada
Nabi  dan mendengarkan bacaan beliau, kemudian dia
kembali ke kaumnya sebagai juru da’wah. Hal itu terhalang
bagi kita.
Dalam masalah ini Allah  berfirman, yang artinya :
“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu
oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibubapakmu
dari surga. Ia menanggalkan dari keduanya
pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya aurat
keduanya. Sungguh, ia dan pengikutnya melihat kamu dari
suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka .
sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu
pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.”
(QS. Al A’raf : 27).

Apabila manusia tidak dapat mengetahui segala yang ada,
maka mereka tidak boleh mengingkari perkara-perkara ghaib yang
ditetapkan oleh syara’ sekalipun mereka tidak dapat
mengetahuinya dengan indera mereka.

……………………………………………………..

IMAN KEPADA PARA RASUL

IMAN KEPADA PARA RASUL

………………………………………………….
“Arrusul” bentuk jamak dari kata “Rasul”, yang berarti orang
yang diutus untuk menyampaikan sesuatu. Namun yang dimaksud
“Rasul” disini adalah orang yang diberi wahyu syara’ untuk
disampaikan kepada umat.
Rasul yang pertama adalah Nabiyullah Nuh , dan yang
terakhir adalah Nabiyullah Muhammad .
Allah berfirman, yang artinya :
“Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu
sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan
Nabi-nabi yang berikutnya…” (QS. An Nisa’ : 163).
Anas bin Malik  dalam hadits tentang syafaat menceritakan
bahwa Nabi  mengatakan, nanti orang-orang akan datang kepada
Nabi Adam untuk meminta syafaat, tetapi Nabi Adam meminta
maaf kepada mereka seraya berkata : “Datangilah Nuh, Rasul
pertama yang diutus Allah… ( HR. Bukhori ).
Allah  berfirman tentang Nabi Muhammad , yang artinya:
“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seoarng lailaki
di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup
Nabi-nabi dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
(QS. Al Ahzab : 40).
Setiap umat tidak pernah sunyi dari Nabi yang diutus Allah 
yang membawa syari’at khusus untuk kaumnya atau dengan
membawa syari’at sebelumnya yang diperbaharui. Allah 
berfirman :

ولقد بعثنا في كل أمة رسول أن اعبدوا الله واجتنبوا الطاغوت 
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap
umat (untuk menyerukan) : “Sembahlah Allah (saja), dan
jauhilah thaghut…” (QS. An Nahl : 36).
“sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa
kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai
pemberi peringatan. Dan tidak ada suatu umatpun melainkan
telah ada padanya seorang pemberi peringatan.” (QS. Fathir :
24).
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat
didalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi),
yang dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang
yahudi…” (QS. Al Maidah :44)
Para Rasul adalah manusia biasa, makhluk Allah yang tidak
mempunyai sedikitpun keistimewan rububiyah dan uluhiyah. Allah
 berfirman tentang Nabi Muhammad  sebagai pimpinan para
Rasul dan yang paling tinggi pangkatnya di sisi Allah :
قل ل أملك لنفسي نفعا ول ضرا إل مبا شباء اللبه ولبو كنبت أعلبم 
الغيب لاستكثرت من الخير وما مسني السوء إن أنببا إل نببذير وبشببير
 لقوم يؤمنون
“Katakanlah : “aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi
diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang
dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib,
tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan
aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah
pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orangorang
yang beriman.” (QS. Al A’raf : 188).
“Katakanlah : “Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan
sesuatu kemudharatanpun kepadamu dan tidak (pula) sesuatu
kemanfaatan. Katakanlah : “sesungguhnya aku sekali-kali
tidak seorangpun yang dapat melindungiku dari (azab) Allah
dan sekali-kali tiada memperoleh tempat berlindung daripada-
Nya.” (QS. Al Jin : 21-22).
Para Rasul juga memiliki sifat-sifat kemanusiaan, seperti sakit,
mati, membutuhan makan dan minum, dan lain sebagainya. Allah
 berfirman tentang Nabi Ibrahim yang menjelasakan sifat
Robbnya, yang artinya :

“Dan Robbku, yang Dia memberi makan dan minum
kepadaku, dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan
aku, dan yang akan mematikan aku, kemudian akan
menghidupkan aku (kembali)…” (QS. Asy Syuara’ : 79-81).
Nabi muhamad  bersabda :
” إنما أنا بشر مثلكم أنسى كما تنسون، فإذا نسيت فذكروني “.
“Aku tidak lain hanyalah manusia seperti kalian. Aku juga lupa
seperti kalian. Karenanya, jika aku lupa, ingatkanlah aku.”
Allah  menerangkan bahwa para Rasul mempunyai ubudiyah
(penghambaan) yang tertinggi kepadaNya. Untuk memuji mereka,
Allah  berfirman tentang Nabi Nuh  yang artinya :
“…Dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur.” (QS. Al
Isra’ : 3).
Allah  juga berfirman tentang Nabi Muhammad  yang
artinya :
“Maha suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan (Al Qur’an)
kepada hambaNya, agar dia menjadi pemberi peringatan
kepada seluruh alam.” (QS. Al Furqan : 1).
Allah juga berfirman tentang Nabi Ibrahim, Nabi Ishaq, dan
Nabi Ya’qub  yang artinya :
“Dan ingatlah hamba-hamba Kami : Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub
yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmuilmu
yang tinggi. Sesungguhnya Kami telah mensucikan
mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak
yang tinggi yaitu salalu mengingatkan (manusia) kepada
negeri akhirat. Dan sesungguhnya mereka pilihan yang paling
baik.” (QS. Shaad : 45-47).
Allah juga berfirman tentang Nabi Isa bin Maryam  yang
artinya :
“Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan
kepadanya ni’mat (kenabian) dan Kami jadikan dia sebagai
tanda bukti (kekuasaan) untuk Bani Israil.” (QS. Az Zukhruf :
59).
Iman kepada para Rasul mengandung empat unsur :

1. Mengimani bahwa risalah mereka banar-banar dari Allah .
Barangsiapa mengingkari risalah mereka, walaupun hanya
seorang, maka menurut pendapat seluruh ulama dia
dikatakan kafir.
Allah  berfirman, yang artinya :
“Kaum Nuh telah mendustakan para Rasul.” (QS. Asy
Syu’ara’ : 105).
Allah  mejadikan mereka mendustakan semua Rasul,
padahal hanya seorang Rasul saja yang ada ketika mereka
mendustakannya. Oleh karena itu umat Nasrani yang
mendustakan dan tidak mau mengikuti Nabi Muhammad ,
berarti mereka juga telah mendustakan dan tidak mengikuti
Nabi Isa Al Masih bin Maryam, karena Nabi Isa sendiri pernah
manyampaikan kabar gembira dengan akan datangnya Nabi
Muhammad  ke alam semesta ini sebagai rahmat bagi
semesta alam. Kata “memberi kabar gambira” ini
mengandung makna bahwa Muhammad adalah seorang Rasul
mereka yang menyebabkan Allah menyelamatkan mereka dari
kesesatan dan memberi petunjuk kepada mereka jalan yang
lurus.
2. Mengimani orang-orang yang sudah kita kenali namanamanya,
misalnya Muhammad, Ibrahim, Musa, Isa, Nuh .
Kelima Nabi Rasul itu adalah Rasul “ulul azmi”. Allah  telah
menyebut mereka dalam dua tempat dari Al Qur’an, yakni
dalam surat Al Ahzab dan surat Asy syura, yang artinya :
“ Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari Nabi-
Nabi dan dari kamu (sendiri), dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa
putera Maryam…” (QS. Al Ahzab 7).
“Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama yang
telah diwasiatkanNya kepada Nuh dan juga apa yang telah
Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami
wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, yaitu : tegakkanlah
agama dan janganlah kamu berpecah-belah tentangnya…”
(QS. Asy Syura : 13).
Terhadap para Rasul yang tidak dikenal nama-namanya, juga
wajib kita imani secara global.
Allah  berfirman, yang artinya :
“Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang Rasul
sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan

kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami
ceritakan kepadamu…” (QS. Al Mu’min : 78).
3. Membenarkan apa yang diberitakannya.
4. Mengamalkan syari’at dari mereka yang diutus kepada kita.
Dia adalah Nabi terakhir Muhammad  yang diutus Allah
kepada seluruh mausia. Allah berfirman, yang artinya :
“Maka demi Robbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak
beriman hingga mereka menjadikah kamu hakim terhadap
perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak
merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap
putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan
sepenuhnya.” (QS. An Nisa’ : 65).

…………….
Buah iman kepada para Rasul.
1. Mengetahui rahmat serta perhatian Allah kepada hambahambanya
sehingga mengutus para Rasul untuk menunjukkan
mereka pada jalan Allah, serta menjelaskan bagaimana
seharusnya mereka menyembah Allah , kerena memang
akal menusia tidak bisa mengetahui hal itu dengan sendirinya.
2. Mensyukuri ni’mat Allah yang amat besar ini.
3. Mencintai para Rasul, mengagungkan serta memujinya,
karena mereka adalah para Rasul Allah  dan kerena mereka
hanya menyembah Allah, menyampaikan risalahNya, dan
menasehati hambaNya.
Orang-orang yang menyimpang dari kebenaran mendustakan
para Rasul dengan menganggap bahwa para Rasul Allah
bukan manusia. Anggapan yang salah ini dijelaskan Allah 
dalam sebuah firman-Nya :
 وما منع الناس أن يؤمنوا إذ جاءهم الهدى إل أن قالوا أبعث ال بشرا رسول 
“Dan tidak ada sesuatu yang menghalangi manusia untuk
beriman tatkala datang petunjuk kepada mereka, kecuali
perkataan mereka : “Adakah Allah mengutus seorang manusia
menjadi Rasul?” (QS. Al Isra : 94).
Dalam ayat di atas Allah  mematahkan anggapan mereka
yang keliru. Rasul Allah harus dari golongan manusia, karena ia
akan diutus kepada penduduk bumi yang juga manusia.
Seandainya penduduk bumi itu Malaikat, pasti Allah akan
menurunkan Malaikat dari langit sebagai Rasul.
Di dalam surat Ibrahim, Allah menceritakan orang-orang yang
mendustakan para Rasul :
“Mereka (orang-orang yang mendustakan Rasul) berkata :
“Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti Kami juga. Kamu

menghendaki untuk menghalang-halangi Kami dari apa yang
selalu disembah oleh nenek moyang Kami. Karena itu,
datangkanlah kepada Kami bukti yang nyata.” Rasul-Rasul
mereka berkata kepada mereka : “Kami tidak lain hanyalah
manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberi karunia
kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hambanya.
Dan tidak patut bagi Kami mendatangkan suatu bukti kepada
kamu melainkan dengan izin Allah. Dan hanya kepada Allah
sajalah hendaknya orang-orang mukmin bertawakkal.” (QS.
Ibrahim 10-11).

……………………………………………………………

IMAN KEPADA KITAB-KITAB ALLAH

IMAN KEPADA KITAB-KITAB ALLAH

…………………………………………………………….
Al kutub jamak dari kata “kitab” yang berarti “sesuatu yang
ditulis”. Namun yang dimaksud disini adalah kitab-kitab yang
diturunkan Allah  kepada para RasulNya sebagai rahmat dan
hidayah bagi seluruh manusia agar mencapai kebahagiaan di dunia
dan akhirat.
Iman kepada kitab mengandung empat unsur :
1. Mengimani bahwa kitab kitab tersebut benar-benar
diturunkan dari Allah .
2. Mengimani kitab-kitab yang sudah kita kenali namanya
seperti Al Qur’an yang diturunkan kepada Nabi
Muhammad , Taurat yang diturunkan kepada Nabi
Musa , Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa , dan
Zabur yang diturunkan kepada Nabi Dawud . Adapun
kitab-kitab yang tidak kita ketahui namaya, kita
mengimaninya secara global.
3. Membenarkan apa apa yang diberitakan, seperti beritaberita
yang ada di dalam Al Qur’an, dan berita-berita
kitab-kitab terdahulu yang belum diganti atau belum
diselewengkan.
4. Mengerjakan seluruh hukum yang belum dinasakh
(dihapus) serta rela dan menyerah pada hukum itu, baik
kita memahami hikmahnya maupun tidak. Seluruh kitab
terdahulu telah dinasakh oleh Al Qur’anul Adhim, seperti
firman-Nya, yang artinya :
“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan
membawa kebenaran, membenarkan apa yang
sebelumnya yaitu kitab-kitab (yang diturunkan
sebelumya), dan sebagai batu ujian terhadap kitab-kitab
yang lain itu…” (QS. Al Maidah : 48).
Oleh karena itu tidak dibenarkan mengerjakan hukum
apapun dari kitab-kitab terdahulu, kecuali yang benar dan
ditetapkan Al Qur’an.
Buah iman kepada kitabullah

1. Mengetahui perhatian Allah  terhadap hambahambaNya
sehingga menurunkan kitab yang menjadi
hidayah (petunjuk) bagi setiap kaum.
2. Mengetahui hikmah Allah dalam syara’ atau hukumNya
sehingga menetapkan hukum yang sesuai dengan
tingkah laku setiap umat, seperti firman-Nya, yang
artinya :
“… untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan
aturan dan jalan yang terang…” (QS. Al Maidah : 48).
3. Mensyukuri ni’mat Allah.

…………………………………………………….

IMAN KEPADA PARA MALAIKAT

IMAN KEPADA PARA MALAIKAT

………………………………………………….
Malaikat adalah alam ghaib, makhluk, dan hamba Allah .
Malaikat sama sekali tidak memiliki keistimewaan rububiyah dan
uluhiyah. Allah menciptakannya dari cahaya serta memberikan
kekuatan yang sempurna serta kekuatan untuk melaksanakan
ketaatan itu.
Allah  berfirman, yang artinya :
“… dan Malaikat yang ada di sisi-Nya, mereka tidak angkuh
untuk menyembahnya dan tidak (pula) merasa letih, mereka
selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya.” ( QS.
Al Anbiya’ : 19-20).
Malaikat berjumlah banyak, dan tidak ada yang dapat
menghitungnya, kecuali Allah. Dalam hadits Bukhari dan Muslim
terdapat hadits dari Anas  tentang kisah mi’raj bahwa Allah telah
memperlihatkan Al-Baitul Ma’mur yang ada di langit kepada Nabi
. Di dalamnya terdapat 70.000 Malaikat yang setiap hari
melakukan shalat. Siapapun yang keluar dari tempat itu, tidak
kembali lagi.
Iman kepada Malaikat mengandung empat unsur :
1. Mengimani wujud mereka.
2. Mengimani mereka yang kita kenali nama-namanya,
seperti jibril, dan juga terhadap nama-nama Malaikat
yang tidak kita kenal.
3. Mengimani sifat-sifat mereka yang kita kenali, seperti
sifat bentuk Jibril, sebagaimana yang pernah dilihat Nabi
 yang mempuyai 600 sayap yang menutup ufuk.

Malaikat bisa saja menjelma berwujud seorang lelaki,
seperti yang pernah terjadi pada Malaikat jibril tatkala
Allah  mengutusnya kepada Maryam. Jibril menjelma
jadi seorang yang sempurna. Demikian pula ketika jibril
datang kepada Nabi , sewaktu beliau sedang duduk di
tengah-tengah para sahabatnya. Jibril datang dengan
bentuk seorang lelaki yang berpakaian sangat putih,
berambut sangat hitam, tidak terlihat tanda-tanda
perjalanannya, dan tidak seorangpun yang
mengenalinya. Jibril duduk dekat Nabi , menyandarkan
kedua lututnya ke lutut Nabi dan meletakkan kedua
telapak tangannya di atas kedua pahaya. Ia bertanya
kepada Nabi  tentang Islam, iman, ihsan, hari kiamat,
dan tanda-tandanya, setelah tidak di situ lagi, barulah
Nabi  menjelaskan kepada para sahabatnya, “itu
adalah Jibril yang datang untuk mengajarkan agama
kalian.”
Demikian halnya dengan para Malaikat yang diutus
kepada Nabi Ibrahim dan Luth. Mereka mejelma bentuk
mejadi lelaki.
4. Mengimani tugas-tugas yang diperintahkan Allah kepada
mereka yang sudah kita ketahui, seperti bacaan tasbih,
dan menyembah Allah  siang dan malam tanpa merasa
lelah.
Diantara mereka ada yang mempunyai tugas-tugas
tertentu, misalnya :
1. Malaikat Jibril yang dipercayakan menyampaikan wahyu
kepada para Nabi dan Rasul.
2. Malaikat Mikail yang diserahi tugas menurunkan hujan
dan tumbuh-tumbhan.
3. Malaikat Israfil yang diserahi tugas meniup sangkakala di
hari kiamat dan kebangkitan makhluk.
4. Malaikat maut yang diserahi tugas mencabut nyawa orang.
5. Malaikat yang diserahi tugas menjaga neraka.
6. Para Malaikat yang diserahi tugas yang berkaitan dengan
janin dalam rahim, ketika sudah mencapai empat bulan di
dalam kandungan, Allah  mengutus Malaikat untuk
meniupkan ruh dan menyuruh untuk menulis rezkinya,
ajal, amal, derita dan bahagianya.
7. Para Malaikat yang diserahi tugas menjaga dan menulis
semua perbuatan manusia. Setiap orang dijaga oleh dua

Malaikat, yang satu pada sisi dari kanan dan yang
satunya lagi pada sisi dari kiri.
8. Para Malaikat yang diserahi tugas menanyai mayit. Bila
mayit sudah dimasukkan ke dalam kuburnya, maka akan
datanglah dua makaikat yang bertanya kepadanya
tentang Robbnya, agama dan Nabinya.
Buah iman kepada Malaikat.
1. Mengetahui keagungan Allah, kekuatan dan kekuasanNya.
Kebesaran makhluk pada hakikatnya adalah dari keagungan
sang pencipta.
2. Syukur kepada Allah  atas perhatianNya terhadap manusia
sehingga menugasi Malaikat untuk memelihara, mencatat
amal-amal dan berbagai kemaslahatannya yang lain.
3. Cinta kepada para Malaikat karena ibadah yang mereka
lakukan kepada Allah ..
Ada orang sesat yang mengingkari keberadaan Malaikat,
mereka mengatakan bahwa Malaikat ibarat “kekuatan kebaikan”
yang tersimpan pada makhluk-makhluk, ini berarti tidak
mempercayai kitabullah, sunnah RasulNya, da ijma’ (konsensus)
umat Islam.
Allah berfirman, yang artinya :
الْحَمْدُ لِلّهِ فَاطِرِ السّبمَاوَاتِ وَالْرَْضِ جَاعِبلِ الْمَلَئكِبَبةِ رُسُبلً 
أوُلِي أجَْنحَِةٍ مّثنْىَ وَثلَُثَ وَرُباَعَ يزَِيدُ فِي الْخَلْقِ مَا يشَباء إنِّ اللّبهَ عَلَبى
سورة فاطر  كلُّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, yang
menjadikan Malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus
berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masingmasing
(ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan
pada ciptaanNya apa yang dikehendakiNya. Sesungguhnya
Allah Maha kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Fathir : 1).
وَلَوْ ترَى إذِْ يتَوَفّى الّذِينَ كفَرُوا الْمَلئكِةَُ يضَْرِبوُنَ وُجُوهَهُمْ وَأدَْببَبارَهُمْ 
سورة النفال ( ( وَذُوقُوا عَذَابَ الْحَرِيقِ 50
“Kalau kamu melihat ketika para Malaikat mencabut jiwa
orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang
mereka (dan berkata) : “Rasakan olehmu siksa neraka yang
membakar”, (tentulah kamu akan merasa ngeri).” (QS. Al-
Anfal : 50)

“…alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu
orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan
sakaratul maut, sedang para Malaikat memukul dengan
tangannya, (sambil berkata) : “Keluarlah nyawamu…” (QS. Al-
An’am : 93).
“…sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati
mereka, mereka berkata : “apakah telah difirmankan oleh
Robbmu?” mereke menjawab : “(perkataan) yang benar”, dan
Dialah yang Maha tinggi lagi Maha besar.” (QS. Saba’ : 23).
“…Malaikat-Malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari
semua pintu (sambil mengucapkan) : “salamun alikum bima
shabartum (salam sejahtera kepadamu dengan kesabaranmu).
“Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. Ar-Ra’d :
22-23).
Dari Abu Hurairah , Nabi Muhammad  bersabda :
” إذا أحب الله العبد نبادى جبريبل أن اللبه يحبب فلنبا فبأحبه، فيحببه
جبريل، فينادي جبريل أهل السماء إن الله يحب فلنبا فبأحبوه، فيحببه
أهل السماء، ثم يوضع له القبول في الرض “.
“Apabila Allah mencintai seorang hambaNya, ia memberitahu
Jibril bahwa Allah  mencintai fulan, dan menyuruh Jibril untuk
mencintainya, maka Jibrilpun mencintainya. Jibril lalu
memberitahu para penghuni langit bahwa Allah  mencintai
fulan dan menyuruh mereka untuk mencintainya maka
penghuni langitpun mencintainya, kemudian ia diterima di
atas bumi.” (HR. Bukhari).
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah  Nabi  bersabda :
” إذا كان يوم الجمعة كان على كل باب من أبواب المسببجد الملئكببة
يكتبون الول فالول فإذا جلس المام طووا الصحف وجاؤوا يستمعون
الذكر “.
“ Di setiap hari jum’at pada setiap pintu masjid para Malaikat
mancatat satu demi satu orang yang datang. Bila imam sudah
duduk (di atas mimbar) mereka menutup buku-bukunya dan
datang untuk mendengarkan zdikir (khutbah).”
Dari nash-nash ini tampak jelas bahwa para Malaikat itu benarbanar
ada, bukan kekuatan maknawi yang terdapat dalam diri
manusia seperti yang disangka orang-orang sesat. Nash-nash
tersebut telah disepakati umat Islam.

……………………………………………………….

4. Beriman kepada Asma’ dan sifat Allah

4. Beriman kepada Asma’ dan sifat Allah .

………………………………………………..

Iman kepada nama-nama dan sifat-sifat Allah  , yakni :
menetapkan nama-nama dan sifat-sifat yang sudah

ditetapkan Allah untuk diri-Nya dalam kitab suci-Nya atau
sunnah Rasul-Nya dengan cara yang sesuai dengan
kebesaran-Nya tanpa tahrif (penyelewengan), ta’thil
(peniadaan), takyif (menanyakan bagaimana?), dan
tamsil (menyerupakan).
Allah  berfirman, yang artinya :
“Allah mempunyai Asmaaul husna, maka memohonlah
kepadanya dengan menyebut asmaul husna itu dan
tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari
kebenaran dalam (menyebut) nama-namaNya. Nanti
mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah
mereka kerjakan.” ( QS. Al-A’raf : 180).
“Allah mempunyai sifat yang Mahatinggi; Dialah Yang
Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” ( QS. An-Nahl : 60).
“… tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan
Dialah yang Maha mendengar lagi Maha Melihat.” ( QS.
Asy-syura : 11).
Dalam perkara ini ada dua golongan yang tersesat, yaitu :
1. Golongan Mu’aththilah, yaitu mereka yang
mengingkari nama-nama dan sifat-sifat Allah atau
mengingkari sebagiannya saja. Menurut sangkaan
mereka, menetapkan nama-nama dan sifat-sifat itu
kepada Allah dapat menyebabkan tasybih (penyerupaan),
yakni menyerupakan Allah  dengan makhluk-Nya.
Pendapat ini jelas keliru karena :
a. Sangkaan itu akan mengakibatkan hal-hal yang bathil
atau salah, karena Allah  telah menetapkan untuk
diriNya nama-nama dan sifat-sifat, serta telah menafikan
sesuatu yang serupa denganNya. Andaikata menetapkan
nama-nama dan sifat-sifat itu menimbulkan adanya
penyerupaan, berarti ada pertentangan dalam kalam
Allah serta sebagian firman-Nya akan menyalahi
sebagian yang lain.
b. Kecocokan antara dua hal dalam nama atau sifatnya
tidak mengharuskan adanya persamaan. Anda melihat
ada dua orang yang keduanya manusia, mendengar,
melihat dan berbicara, tetapi tidak harus sama dalam
makna-makna kemanusiaannya, pendengarannya,

beberapa binatang yang punya tangan, kaki dan mata,
tetapi kecocokannya itu tidak mengharuskan tangan, kaki
dan mata mereka sama. Apabila antara mkhluk-makhluk
yang serupa dalam nama atau sifatnya saja jelas memiliki
perbedaan, maka tentu perbedaan antara khaliq
(pencipta) dan makhluk (yang diciptakan) akan lebh jelas
lagi.
2. Golongan Musyabbihah, yaitu golongan yang
menetapkan nama-nama dan sifat-sifat, tetapi
menyerupakan Allah  dengan makhluknya. Mereka
mengira hal ini sesuai dengan nash-nash Al Qur’an,
karena Allah berbicara dengan hamba-hamba-Nya
dengan sesuatu yang dapat difahaminya. Angapan ini
jelas keliru ditinjau dari beberapa hal, antara lain :
a. Menyerupakan Allah  dengan makhluk-Nya jelas
merupakan sesuatu yang bathil, menurut akal
maupun syara’. Padahal tidak mungkin nash-nash
kitab suci Al-Qur’an dan sunnah Rasul menunjukkan
pegertian yang bathil.
b. Allah  berbicara dengan hamba-hambaNya dengan
sesuatu yang dapat dipahami dari segi asal
maknanya. Hakikat makna sesuatu yang
berhubungan dengan zdat dan sifat Allah adalah hal
yang hanya diketahui oleh Allah saja.
Apabila Allah menetapkan untuk diri-Nya bahwa Dia Maha
Mendengar, maka pendengaran itu sudah maklum dari segi
maknanya, yaitu menemukan suara-suara. Tetapi hakikat
hal itu dinisbatkan kepada pendengaran Allah tidak
maklum, karena hakekat pendengaran jelas berbeda, walau
pada makluk-makhluk sekalipun. Jadi perbedaan hakikat itu
antara pencipta dan yang diciptakan jelas lebih jauh
berbeda.
Apabila Allah  memberitakan tentang diri-Nya bahwa Dia
bersemayam di atas Arasy-Nya, maka bersemayam dari
segi asal maknanya sudah maklum, tetapi hakekat
bersemayamnya Allah itu tidak dapat diketahui.
Buah iman kepada Allah :

1. Merealisasikan pengEsaan Allah  sehingga tidak
menggantungkan harapan kepada selain Allah, tidak
takut kepada yang lain, dan tidak menyembah kepada
selain-Nya.
2. Menyempurnakan kecintaan terhadap Allah, serta
mengagungkan-Nya sesuai dengan nama-nama-Nya yang
indah dan sifat-sifat-Nya yang Maha tinggi.
3. Merealisasikan ibadah kepada Allah dengan
mengerjakan apa yang diperintah serta menjauhi apa
yang dilarang-Nya.

………………………………………………….

3. Beriman kepada Uluhiyah Allah

Beriman kepada Uluhiyah Allah .

………………………………………………….

Artinya, benar-benar mengimani bahwa Dialah Ilah yang benar
dan satu-satunya, tidak ada sekutu baginya.
Al Ilah artinya “al ma’luh”, yakni sesuatu yang disembah
dengan penuh kecintaan serta pengagungan.
Allah  berfirman, yang artinya :
“Dan Tuhanmu adalah tuhan yang Maha Esa; tidak ada tuhan
melainkan Dia, yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”
( QS. Al Baqarah : 163).
شهد الله أنه ل إله إل هو والملئكة وأولوا العلبم قائمبا بالقسبط ل 
 إله إل هو العزيز الحكيم
“Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak
disembah) selain Dia yang menegakkan keadilan, para
Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan
demikian). Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain
Dia yang Maha Perkasa lagi Maha bijaksana.” ( QS. Al-Imran :
18).

Allah  berfirman tentang lata, uzza, dan manat yang disebut
sebagai tuhan, namun tidak diberi hak Uluhiyah:
Allah  berfirman, yang artinya :
إنِْ هِيَ إلِ أسَْبمَاء سَبمّيتْمُوهَا أنَتبُبمْ وَآببَباؤُكمُ مّبا أنَبزَلَ اللّبهُ بهَِبا مِبن 
سورة النجم (( سُلْطَانٍ 23
“Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapakbapak
kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan
suatu keteranganpun untuk (menyembah)nya…” (An Najm :
23).
Setiap sesuatu yang disembah selain Allah, Uluhiyahnya
adalah batil.
Allah  berfirman yang artinya :
“(Kuasa Allah) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya
Allah, Dialah (Tuhan) yang haq dan sesungguhnya apa saja
yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang batil, dan
sesungguhnya Allah, Dialah yang Mahatinggi lagi Mahabesar.”
(Al-Hajj : 62).
Allah  juga berfirman tentang Nabi Yusuf yang berkata
kepada dua temannya di penjara, yang artinya :
“Hai kedua temanku dalam penjara, manakah yang baik,
tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah yang
Maha Esa lagi Maha Perkasa? Kamu tidak menuyembah yang
selain Allah, kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang
kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak
menurukan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu…”
( QS. Yusuf : 40).
Oleh karena itu para Rasul ‘Alaihimussalam berkata kepada
kaum-kaumnya :
“Sembahlah Allah oleh kamu sekalian, sekali-kali tidak ada
Tuhan selain daripadanya. Maka mengapa kamu tidak
bertaqwa (kepadaNya)?” ( QS. Al-Mu’minun : 32).
Orang-orang musyrik tetap saja mengingkarinya. Mereka
masih saja mengambil Tuhan selain Allah . Mereka
menyembah, meminta bantuan dan pertolongan kepada
tuhan-tuhan itu dengan menyekutukan Allah.

Pengambilan tuhan-tuhan yang dilakukan orang-orang musyrik
ini telah dibatalkan oleh Allah dengan dua bukti :

A. Tuhan-tuhan yang diambil itu tidak mempunyai
keistimewaan uluhiyah sedikitpun, karena mereka adalah
makhluk, tidak dapat menciptakan, tidak dapat menarik
manfaat, tidak dapat menolak bahaya, tidak memiliki
hidup dan mati, tidak memiliki sedkitpun dari langit dan
tidak pula ikut memiliki keseluruhannya.
Allah  berfirman,yang artinya :
“Mereka mengambil tuhan-tuhan selain daripadaNya
(untuk disembah), yang tuhan-tuhan itu tidak
menciptakan apapun, bahkan mereka sendiri diciptakan
dan tidak kuasa untuk (menolak) sesuatu kemudharatan
dari dirinya dan tidak (pula untuk mrngambil) sesuatu
manfaatpun dan (juga) tidak kuasa mematikan,
menghidupkan dan tidak (pula) membangkitkan.” ( QS.
Al-Furqan : 3).
“Katakanlah : “Serulah mereka yang kamu anggap
(sebagai tuhan) selain Allah. Mereka tidak memiliki
(kekuasaan) seberat zarrahpun di langit dan di bumi, dan
mereka tidak mempunyai suatu sahampun dalam
(penciptaan) langit dan bumi, dan sekali-kali tidak ada
diantara mereka yang menjadi pembantu bagiNya, dan
tiadalah berguna syafaat di sisi Allah, melainkan bagi
orang yang telah diizinkanNya memperoleh syafaat…”
( QS. Saba’ : 22-23).
“Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan)
berhala-berhala yang tak dapat menciptakan
sesuatupun? Sedangkan berhala-berhala itu sendiri
buatan orang. Dan berhala-berhala itu tidak mampu
memberi pertolongan kepada penyembahpenyembahnya
dan kepada dirinya sendiripun berhalaberhala
itu tidak dapat memberi pertolongan.” ( QS. Al-
A’raf :191-192).
Kalau demikian keadaan tuhan-tuhan itu, maka sungguh
sangat tolol dan sangat batil bila menjadikan mereka
sebagai Ilah dan tempat meminta pertolongan.

B. Sebenarnya orang-orang musyrik mengakui bahwa Allah
 adalah satu-satunya Robb, Pencipta, yang di tangan-
Nya kekuasaan segala sesuatu. Mereka juga mengakui

bahwa hanya Dialah yang dapat melindungi dan tidak
ada yang dapat melindungi-Nya. Ini mengharuskan
pengesaan uluhiyah (penghambaan), seperti mereka
mengEsakan Rububiyah (ketuhanan) Allah.
Allah  berfirman :
ياَ أيَهَّا النبّباسُ اعْببُبدُوا رَبكّبُبمُ الّبذِي خَلَقَكبُبمْ وَالّبذِينَ مِبن قَبلِْكبُبمْ 
لَعَلّكمُْ تتَقُّونَ( 21 ) الّبذِي جَعَبلَ لَكبُبمُ الرَْضَ فِرَاشبا وَالسّبمَاء بنِبَباء
وَأنَزَلَ مِنَ السّمَاء مَاء فَأخَْرَجَ بهِ مِنَ الثمَّرَاتِ رِزْقا لّكمُْ فَل تجَْعَلُوا سورة البقرة  لِلّهِ أنَدَادا وَأنَتمُْ تعَْلَمُونَ
“Hai manusia, sembahlah Robbmu yang telah
menciptakanmu dan orang-orag yang sebelummu, agar
kamu bertaqwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai
hamparan bagimu dan langit sebagai atap, Dia
menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan
dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki
untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan
sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahiu.”
( QS. Al-Baqarah : 21-22).
“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka :
“Siapakah yang menciptakan mereka? “ niscaya mereka
menjawab : “Allah”. Maka bagaimanakah mereka dapat
dipalingkan (dari menyembah Allah)?” ( QS. Az-Zukhruf :
87).
“Katakanlah : “siapakah yang memberi rezki kepadamu
dari langit dan dari bumi, atau siapakah yang kuasa
(menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan
siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati
dan yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan
siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka
akan menjawab : “Allah”. Maka katakanlah : “Mengapa
kamu tidak bertaqwa (kepadaNya)?” maka (Dzat yang
demikian) itulah Allah Robb kamu yang sebenarnya.
Tidak ada sesudah kebenaran itu, malainkan kesesatan.
Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari
kebenaran)?” ( QS. Yunus : 31-32).

……………………………………………………..

2. Beriman kepada Rububiah Allah

Beriman kepada Rububiah Allah

…………………………………………
Beriman kepada Rububiyah Allah maksudnya : beriman
sepenuhnya bahwa Dialah Robb satu-satunya, tiada sekutu
dan tiada penolong bagiNya.
Robb adalah yang berhak menciptakan, memiliki serta
memerintah. Jadi, tidak ada pencipta selain Allah, tidak ada
pemilik selain Allah, dan tidak ada perintah selain perintah
dari-Nya. Allah  telah berfirman yang artinya :
“…Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanya hak Allah.
Maha suci Allah, Robb semesta alam.” (QS. Al-A’raf : 54).
…Yang (berbuat) demikian itulah Allah Robbmu, kepunyaan-
Nyalah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah)
selain Allah tidak mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit
ari.” (QS. Fathir : 13).

Tidak ada makhluk yang mengingkari kerububiyahan Allah ,
kecuali orang yang congkak sedang ia tidak meyakini
kebenaran ucapannya, seperti yang dilakukan fir’aun ketika
berkata kepada kaumnya : “Akulah tuhanmu yang paling
tinggi.” ( QS. An-Naziat : 24), dan juga ketika berkata : “Hai
pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain
aku.” ( QS. Al-Qashash : 38)
Allah  berfirman yang artinya :
وَجَحَدُوا بهَِا وَاسْتيَقَْنتَهَْا أنَفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُبوّا فَبانظُرْ كيَبْبفَ كبَبانَ عَاقِببَبةُ 
سورة النمل ( ( الْمُفْسِدِين 14
“Dan mereka mengingkarinya karena kezdaliman dan
kesombongan mereka padahal hati mereka meyakini
(kebenaran)nya.” (QS. An-Naml : 14).
قَالَ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا أنَزَلَ هَبؤُلء إلِ رَبّ السّبمَاوَاتِ وَالرَْضِ بصَبآئرَِ وَإنِبّبي 
سورة السراء ( ( لظَُنكَّ ياَ فِرْعَونُ مَثبْوُرًا 102
Nabi Musa berkata kepada Fir’aun : “Sesungguhnya kamu
telah mengetahui bahwa tiada yang menurunkan mukjizatmukjizat
itu kecuali Robb yang memelihara langit dan bumi
sebagai bukti-bukti yang nyata; dan sesungguhnya aku
mengira kamu, hai fir’aun, seorang yang akan binasa.” (QS.
Al-Isra’ : 102).
Oleh karena itu, sebenarnya orang-orang musyrik mengakui
rububiyah Allah, meskipun mereka menyekutukan-Nya dalam
uluhiyah (penghambaan).
Allah  berfirman, yang artinya :
“Katakanlah : Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang
ada padanya, jika kamu mengetahui? “Mereka akan menjawab
: “kepunyan Allah”. Katakanlah : “siapakah yang empunya
langit yang tujuh dan yang empunya Arsy yang besar?”
mereka menjawab : “kepunyaan Allah.” Katakanlah : “Maka
apakah kamu tidak bertakwa? “Katakanlah : “Siapakah yang di
tanganNya berada kekusaan atas segala sesuatu, sedang Dia
melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari
(azab)Nya, jika kamu mengetahui?” mereka akan menjawab :
“kepunyaan Allah.” Katakanlah : “(kalau demikian), maka dari
jalan manakah kamu ditipu?” ( QS. Al-Mu’minun : 84-89).
ولئن سألتهم من خلق السماوات والرض ليقولن خلقهن العزيببز العليببم 

“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka : “Siapakah
yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka
menjawab, “Semuanya diciptakan oleh yang Maha Perkasa
lagi Maha Mengetahui.” ( QS. Az-Zukhruf : 9).
 ولئن سألتهم من خلقهم ليقولن الله فأنى يؤفكون 
“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka : “siapakah
yang menciptakan mereka?”, niscaya mereka menjawab :
“Allah”, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari
menyembah Allah)?” (QS. Az-Zukhruf : 87).
Perintah Allah  mencakup perintah alam semesta (kauni) dan
perintah syara’ (syar’i). Dia adalah pengatur alam, sekaligus
sebagai pemutus seluruh perkara, sesuai dengan tuntutan
hikmahNya. Dia juga pemutus peraturan-peraturan ibadah
serta hukum-hukum muamalat sesuai dengan tuntutan
hikmahNya. Oleh karena itu barangsiapa menyekutukan Allah
dengan seorang pemutus ibadah atau pemutus muamalat,
maka dia berarti telah menyekutukan Allah serta tidak
beriman kepadaNya.

…………………………………………………………..

IMAN KEPADA ALLOH

Beriman kepada Alloh meliputi: (silahkan klik pada tulisannya untuk membaca penjelasannya)

1. Mengimani Wujud Allah Swt
2. Mengimani Rububiyah Allah swt
3. Mengimani Uluhiyah Allah
4. Mengimani Asma dan Sifat Allah Swt

…………………………………………

Untuk yang Sehati

Bercita-cita mengamalkan Islam secara utuh adalah suatu hal yang wajib bagi setiap muslim....
Namun bila belum mampu seluruhnya, jangan ditinggalkan semuanya....Karena Alloh Subhanahu wata'ala tidak membebani seseorang kecuali sesuai kemampuan maksimal yang dimiliki...

Buat diriku & dirimu

....Jangan pernah merasa cukup untuk belajar Islam, karena semakin kita tahu tentang Islam, semakin kita tahu tentang diri kita (...seberapa besar iman kita, ...seberapa banyak amal kita,....seberapa dalam ilmu kita, dan sebaliknya...seberapa besar kemunafikan kita, ...seberapa banyak maksiat kita, ...seberapa jauh kedunguan kita)
....Barangsiapa mengenal dirinya, maka semakin takut ia kepada Alloh Subhaanahu wata'ala

Do’a kita

Semoga Alloh Subhaanahu wata'ala meneguhkan hati kita dalam Islam hingga maut menjemput kita,...aamiin

Kalender

Juli 2017
S M S S R K J
« Mei    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Total Pengunjung

  • 211,611 klik