IMAN KEPADA PARA RASUL

IMAN KEPADA PARA RASUL

………………………………………………….
“Arrusul” bentuk jamak dari kata “Rasul”, yang berarti orang
yang diutus untuk menyampaikan sesuatu. Namun yang dimaksud
“Rasul” disini adalah orang yang diberi wahyu syara’ untuk
disampaikan kepada umat.
Rasul yang pertama adalah Nabiyullah Nuh , dan yang
terakhir adalah Nabiyullah Muhammad .
Allah berfirman, yang artinya :
“Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu
sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan
Nabi-nabi yang berikutnya…” (QS. An Nisa’ : 163).
Anas bin Malik  dalam hadits tentang syafaat menceritakan
bahwa Nabi  mengatakan, nanti orang-orang akan datang kepada
Nabi Adam untuk meminta syafaat, tetapi Nabi Adam meminta
maaf kepada mereka seraya berkata : “Datangilah Nuh, Rasul
pertama yang diutus Allah… ( HR. Bukhori ).
Allah  berfirman tentang Nabi Muhammad , yang artinya:
“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seoarng lailaki
di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup
Nabi-nabi dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
(QS. Al Ahzab : 40).
Setiap umat tidak pernah sunyi dari Nabi yang diutus Allah 
yang membawa syari’at khusus untuk kaumnya atau dengan
membawa syari’at sebelumnya yang diperbaharui. Allah 
berfirman :

ولقد بعثنا في كل أمة رسول أن اعبدوا الله واجتنبوا الطاغوت 
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap
umat (untuk menyerukan) : “Sembahlah Allah (saja), dan
jauhilah thaghut…” (QS. An Nahl : 36).
“sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa
kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai
pemberi peringatan. Dan tidak ada suatu umatpun melainkan
telah ada padanya seorang pemberi peringatan.” (QS. Fathir :
24).
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat
didalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi),
yang dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang
yahudi…” (QS. Al Maidah :44)
Para Rasul adalah manusia biasa, makhluk Allah yang tidak
mempunyai sedikitpun keistimewan rububiyah dan uluhiyah. Allah
 berfirman tentang Nabi Muhammad  sebagai pimpinan para
Rasul dan yang paling tinggi pangkatnya di sisi Allah :
قل ل أملك لنفسي نفعا ول ضرا إل مبا شباء اللبه ولبو كنبت أعلبم 
الغيب لاستكثرت من الخير وما مسني السوء إن أنببا إل نببذير وبشببير
 لقوم يؤمنون
“Katakanlah : “aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi
diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang
dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib,
tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan
aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah
pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orangorang
yang beriman.” (QS. Al A’raf : 188).
“Katakanlah : “Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan
sesuatu kemudharatanpun kepadamu dan tidak (pula) sesuatu
kemanfaatan. Katakanlah : “sesungguhnya aku sekali-kali
tidak seorangpun yang dapat melindungiku dari (azab) Allah
dan sekali-kali tiada memperoleh tempat berlindung daripada-
Nya.” (QS. Al Jin : 21-22).
Para Rasul juga memiliki sifat-sifat kemanusiaan, seperti sakit,
mati, membutuhan makan dan minum, dan lain sebagainya. Allah
 berfirman tentang Nabi Ibrahim yang menjelasakan sifat
Robbnya, yang artinya :

“Dan Robbku, yang Dia memberi makan dan minum
kepadaku, dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan
aku, dan yang akan mematikan aku, kemudian akan
menghidupkan aku (kembali)…” (QS. Asy Syuara’ : 79-81).
Nabi muhamad  bersabda :
” إنما أنا بشر مثلكم أنسى كما تنسون، فإذا نسيت فذكروني “.
“Aku tidak lain hanyalah manusia seperti kalian. Aku juga lupa
seperti kalian. Karenanya, jika aku lupa, ingatkanlah aku.”
Allah  menerangkan bahwa para Rasul mempunyai ubudiyah
(penghambaan) yang tertinggi kepadaNya. Untuk memuji mereka,
Allah  berfirman tentang Nabi Nuh  yang artinya :
“…Dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur.” (QS. Al
Isra’ : 3).
Allah  juga berfirman tentang Nabi Muhammad  yang
artinya :
“Maha suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan (Al Qur’an)
kepada hambaNya, agar dia menjadi pemberi peringatan
kepada seluruh alam.” (QS. Al Furqan : 1).
Allah juga berfirman tentang Nabi Ibrahim, Nabi Ishaq, dan
Nabi Ya’qub  yang artinya :
“Dan ingatlah hamba-hamba Kami : Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub
yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmuilmu
yang tinggi. Sesungguhnya Kami telah mensucikan
mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak
yang tinggi yaitu salalu mengingatkan (manusia) kepada
negeri akhirat. Dan sesungguhnya mereka pilihan yang paling
baik.” (QS. Shaad : 45-47).
Allah juga berfirman tentang Nabi Isa bin Maryam  yang
artinya :
“Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan
kepadanya ni’mat (kenabian) dan Kami jadikan dia sebagai
tanda bukti (kekuasaan) untuk Bani Israil.” (QS. Az Zukhruf :
59).
Iman kepada para Rasul mengandung empat unsur :

1. Mengimani bahwa risalah mereka banar-banar dari Allah .
Barangsiapa mengingkari risalah mereka, walaupun hanya
seorang, maka menurut pendapat seluruh ulama dia
dikatakan kafir.
Allah  berfirman, yang artinya :
“Kaum Nuh telah mendustakan para Rasul.” (QS. Asy
Syu’ara’ : 105).
Allah  mejadikan mereka mendustakan semua Rasul,
padahal hanya seorang Rasul saja yang ada ketika mereka
mendustakannya. Oleh karena itu umat Nasrani yang
mendustakan dan tidak mau mengikuti Nabi Muhammad ,
berarti mereka juga telah mendustakan dan tidak mengikuti
Nabi Isa Al Masih bin Maryam, karena Nabi Isa sendiri pernah
manyampaikan kabar gembira dengan akan datangnya Nabi
Muhammad  ke alam semesta ini sebagai rahmat bagi
semesta alam. Kata “memberi kabar gambira” ini
mengandung makna bahwa Muhammad adalah seorang Rasul
mereka yang menyebabkan Allah menyelamatkan mereka dari
kesesatan dan memberi petunjuk kepada mereka jalan yang
lurus.
2. Mengimani orang-orang yang sudah kita kenali namanamanya,
misalnya Muhammad, Ibrahim, Musa, Isa, Nuh .
Kelima Nabi Rasul itu adalah Rasul “ulul azmi”. Allah  telah
menyebut mereka dalam dua tempat dari Al Qur’an, yakni
dalam surat Al Ahzab dan surat Asy syura, yang artinya :
“ Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari Nabi-
Nabi dan dari kamu (sendiri), dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa
putera Maryam…” (QS. Al Ahzab 7).
“Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama yang
telah diwasiatkanNya kepada Nuh dan juga apa yang telah
Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami
wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, yaitu : tegakkanlah
agama dan janganlah kamu berpecah-belah tentangnya…”
(QS. Asy Syura : 13).
Terhadap para Rasul yang tidak dikenal nama-namanya, juga
wajib kita imani secara global.
Allah  berfirman, yang artinya :
“Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang Rasul
sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan

kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami
ceritakan kepadamu…” (QS. Al Mu’min : 78).
3. Membenarkan apa yang diberitakannya.
4. Mengamalkan syari’at dari mereka yang diutus kepada kita.
Dia adalah Nabi terakhir Muhammad  yang diutus Allah
kepada seluruh mausia. Allah berfirman, yang artinya :
“Maka demi Robbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak
beriman hingga mereka menjadikah kamu hakim terhadap
perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak
merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap
putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan
sepenuhnya.” (QS. An Nisa’ : 65).

…………….
Buah iman kepada para Rasul.
1. Mengetahui rahmat serta perhatian Allah kepada hambahambanya
sehingga mengutus para Rasul untuk menunjukkan
mereka pada jalan Allah, serta menjelaskan bagaimana
seharusnya mereka menyembah Allah , kerena memang
akal menusia tidak bisa mengetahui hal itu dengan sendirinya.
2. Mensyukuri ni’mat Allah yang amat besar ini.
3. Mencintai para Rasul, mengagungkan serta memujinya,
karena mereka adalah para Rasul Allah  dan kerena mereka
hanya menyembah Allah, menyampaikan risalahNya, dan
menasehati hambaNya.
Orang-orang yang menyimpang dari kebenaran mendustakan
para Rasul dengan menganggap bahwa para Rasul Allah
bukan manusia. Anggapan yang salah ini dijelaskan Allah 
dalam sebuah firman-Nya :
 وما منع الناس أن يؤمنوا إذ جاءهم الهدى إل أن قالوا أبعث ال بشرا رسول 
“Dan tidak ada sesuatu yang menghalangi manusia untuk
beriman tatkala datang petunjuk kepada mereka, kecuali
perkataan mereka : “Adakah Allah mengutus seorang manusia
menjadi Rasul?” (QS. Al Isra : 94).
Dalam ayat di atas Allah  mematahkan anggapan mereka
yang keliru. Rasul Allah harus dari golongan manusia, karena ia
akan diutus kepada penduduk bumi yang juga manusia.
Seandainya penduduk bumi itu Malaikat, pasti Allah akan
menurunkan Malaikat dari langit sebagai Rasul.
Di dalam surat Ibrahim, Allah menceritakan orang-orang yang
mendustakan para Rasul :
“Mereka (orang-orang yang mendustakan Rasul) berkata :
“Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti Kami juga. Kamu

menghendaki untuk menghalang-halangi Kami dari apa yang
selalu disembah oleh nenek moyang Kami. Karena itu,
datangkanlah kepada Kami bukti yang nyata.” Rasul-Rasul
mereka berkata kepada mereka : “Kami tidak lain hanyalah
manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberi karunia
kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hambanya.
Dan tidak patut bagi Kami mendatangkan suatu bukti kepada
kamu melainkan dengan izin Allah. Dan hanya kepada Allah
sajalah hendaknya orang-orang mukmin bertawakkal.” (QS.
Ibrahim 10-11).

……………………………………………………………

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Untuk yang Sehati

Bercita-cita mengamalkan Islam secara utuh adalah suatu hal yang wajib bagi setiap muslim....
Namun bila belum mampu seluruhnya, jangan ditinggalkan semuanya....Karena Alloh Subhanahu wata'ala tidak membebani seseorang kecuali sesuai kemampuan maksimal yang dimiliki...

Buat diriku & dirimu

....Jangan pernah merasa cukup untuk belajar Islam, karena semakin kita tahu tentang Islam, semakin kita tahu tentang diri kita (...seberapa besar iman kita, ...seberapa banyak amal kita,....seberapa dalam ilmu kita, dan sebaliknya...seberapa besar kemunafikan kita, ...seberapa banyak maksiat kita, ...seberapa jauh kedunguan kita)
....Barangsiapa mengenal dirinya, maka semakin takut ia kepada Alloh Subhaanahu wata'ala

Do’a kita

Semoga Alloh Subhaanahu wata'ala meneguhkan hati kita dalam Islam hingga maut menjemput kita,...aamiin

Kalender

Januari 2010
S M S S R K J
« Des   Feb »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Total Pengunjung

  • 203,765 klik
%d blogger menyukai ini: