AGAR DAKWAH MEMBAWA BERKAH

Da’wah illallah adalah ibadah yang sangat mulia. Buktinya Allah memposisikan para da’i sebagai manusia yang terbaik ucapan dan amalanya. Alloh سبحانه وتعالى berfirman:

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ (33)

Dan siapakah yang lebih baik ucapanya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan beramal sholih dan ia berkata: “sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri” (Q.S Al Fushilat: 33)

Maksud ayat ini adalah tidak ada seorangpun yang lebih baik ucapannya dari seorang da’i, lantaran dia berdakwah ilallah, beramal dengan apa yang dia dakwahkan serta berterus terang siapa jati dirinya, dia tidak berkecil hati bahkan justru mengatakan saya seorang muslim” (Al Hujajul Qowiyyah hal 7 Syaikh Abdus Salam bin Barjas)

Da’wah ilallah juga merupakan jalan yang ditempuh Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan para pengikutnya, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ (108)

“Katakanlah; ”Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan ilmu, Maha suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik” (Q.S Yusuf: 108).

Al Hafidh Ibnu Katsir berkata: “Allah berfirman dengan memerintah kepada Rasul-Nya, supaya memberi tahu manusia bahwa ini adalah jalannya dan sunnahnya yaitu dakwah mengajak kepada syahadat; tidak ada ilah (sesembahan) yang haq kecuali Allah semata. Dzat yang tidak ada sekutu baginya. Beliau berdakwah karena Allah dengan berbekal ilmu, keyakinan dan bukti-bukti ilmiah. Demikian pula orang-orang yang mengikutinya , mereka berdakwah dengan berbekal ilmu, keyakinan dan bukti-bukti ilmiyah yang dapat dibuktikan secara akal maupun syara’. (Tafsir Quranil Adhim)

Bahkan dakwah merupakan tugas utama para Rasul dan para pengikut mereka seluruhnya, untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya , dari kekufuran kepada iman, dari syirik kepada tauhid dan dari neraka kepada surga.
Tetapi perlu diingat bahwa dakwah harus dilandasi kaidah dan pondasi yang kokoh dan benar, agar dakwah menjadi benar. Bila hilang salah satunya, dakwah menjadi keliru dan menyimpang. Akhirnya tidak akan membuahkan hasil sebagaimana yang diharapkan sekalipun dicurahkan segenap kemampuan, kesungguhan dan menghabiskan waktu yang panjang. Sebagaimana kenyataan yang terjadi pada jama’ah-jama’ah dakwah dewasa, kaidah dan pondasi yang dimaksud adalah:

a. Ikhlas.
Karena dakwah adalah ibadah, maka harus dilandasi dua syarat, agar diterima Allah. Salah satunya adalah ikhlas. Artinya, dakwah harus dilakukan karena semata-mata mengharap wajah Allah, bukan untuk tujuan riya’, sum’ah, meraih kepemimpinan atau tujuan duniawi lainnya. Hendaklah seorang da’i tidak menjadikan dirinya, kelompoknya, atau organisasinya, atau orang yang ia kagumi dan pemikiran-pemikirannya sebagai syarikat (sekutu) bagi Allah didalam dakwahnya. Seorang yang tidak ikhlas dalam dakwahnya akan termasuk (atau dikhawatirkan termasuk) orang yang disabdakan Rosulullah صلى الله عليه وسلم sebagai salah satu dari orang-orang yang pertama kali diputuskan perkaranya oleh Allah pada hari kiamat, kemudian diperintahkan untuk diseret diatas wajahnya, lalu dilempar kedalam neraka, tersebut dalam shohih Muslim no.1905

Alloh Ta’ala berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ (5)

Dan tidaklah mereka diperintah kecuali hanya untuk beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan ibadah hanya kepadanya (Q.S Al Bayyinah: 5)

b. Menjadikan sunnah Nabi dan para sahabat-nya sebagai acuan da’wahnya.

Hendaklah seorang da’i menjaidkan sunnah RasulNya dan pemahaman salaf sebagai mizan dalam dakwahnya. Karena dengan ilmu , pemahaman, praktek, dan dakwah yang telah dijalankan oleh Rasul صلى الله عليه وسلم dan para sahabatnyalah, Allah menurunkan nikmat terbesar bagi umat ini, yaitu:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian dan telah Aku cukupkan atas kalian nikmatKu dan telah aku Ridhoi Islam sebagai Agama bagi kalian” (QS. An Nisa : 3)

Ayat ini turun bukan ketika agama ini diilmui, dipahami, dipraktekan dan disebarkan oleh para cendekiawan yang mendahulukan akal dan hawa nafsunya, sehingga untuk mengenal Allah saja, merelakan dirinya untuk belajar kepada orang-orang kafir. Mereka sungguh telah terperdaya oleh kepicikan akal mereka!!! Sehingga tidak dapat membedakan antara lubang mulut dengan lubang duburnya. Tetapi ayat ini turun setelah generasi terbaik umat ini bersama Rosul-Nya صلى الله عليه وسلم telah sempurna dan paripurna dalam mengilmui, memahami, mempraktekan dan mendakwahkan agama Allah ini.

Kewajiban generasi penerus adalah mencontoh dan mengikuti mereka, termasuk juga dalam berdakwah. Karena kita telah dicukupi oleh mereka, kita tidak perlu menambah, mengurangi, maupun mengoreksi.

Setiap kebaikan adalah mengikuti salaf
Dan setiap kejelekan adalah dalam bid’ah orang-orang belakangan”

c. Al Ilmu

Seorang da’i harus betul-betul memahami ilmu yang didakwahkan dan cara berdakwah. Bahkan ilmu merupakan keahlian pokok seorang da’i. Oleh karena itu seorang yang jahil (bodoh) tidak boleh menjadi da’i. Alloh سبحانه وتعالى berfirman:

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ (108)

Katakanlah: “inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan ilmu, Maha suci Allah dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik” (Q.S Yusuf: 108)

Maksud “Bashiroh” dalam ayat tersebut adalah ilmu. Karena seorang da’i akan menjelaskan kepada umat ini tentang Allah dan agamanya, maka haram baginya bahkan bagi setiap orang untuk berbicara atas Allah dan agamanya tanpa berdasar ilmu.

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ (33)

Dan (Allah haramkan) kalian berbicara atas Allah apa yang kalian tidak mempunyai ilmu tentangnya” (Q.S Al A’raf 33).

Dia juga akan menghadapi para da’i sesat yang akan melontarkan sekian banyak kerancuan dan pengaburan ajaran agama yang mulia ini dari keasliannya. Disamping itu juga dia harus menghadapi sekian banyak problematika umat yang akut; yaitu tidak mengenal sunnah Rasulnya.

d. Mengamalkan apa yang dia dakwahkan Sehingga dirinya betul-betul menjadi panutan yang baik, dan ilmunya betul-betul menjadi amaliyyah dan amalnya betul-betul ilmiyyah. Tidaklah pantas bila ia memerintahkan manusia agar beramal sholih, tetapi ia sendiri tidak mengamalkannya dan ia melarang manusia agar menjauhi kemaksiatan. Namun ia sendiri melakukannya. Itulah perbuatan orang-orang yang merugi. Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ (2) كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ (3)

Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian disisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. (Q.S Shof 2-3)

Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:

“يؤتى بالرجل يوم القيامة فيلقى فى النار فتنتدلق اقتاب بطنه فيدور بها كما يدور الحمار فى الرحى، فيجتمع إليه أهل النار، فيقولون: يافلان، مالك؟ ألم تكن تأمر بالمعروف وتنهى عن المنكر؟ فيقول بلى، كنت أمر بالمعروف ولا آتيه وأنهى عن المنكر وأتيه”

Akan didatangkan seorang laki-laki pada hari kiamat, lalu dilemparkan keneraka. Maka terbuai ususnya kemudian dia berputar dengan menyeret ususnya seperti keledai memutari alat penggilingan. Penduduk neraka mengerumuninya dan bertanya: “wahai fulan, ada apa denganmu, bukankah kau dulu memerintahkan kebajikan dan melarang kemungkaran? “dia menjawab; “Benar, aku dahulu memerintahkan kebajikan tetapi aku sendiri tidak mengamalkanya dan aku melarang dari kemungkaran tetapi aku sendiri melakukanya.“ (H.R Muslim 2989)

e. Berhias dengan akhlak yang terpuji ketika berdakwah bahkan dalam seluruh hidupnya.

Allah Ta’ala berfirman memerintah Musa dan Harun:

فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى (44)

Maka katakan oleh kalian berdua kepada Fir’aun ucapan yang lembut, barang kali dia mau ingat dan takut (Q.S Thaha 44)

Dan firman Allah سبحانه وتعالى yang lain

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

Maka disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah lembut kepada mereka, sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar , tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (Q.S Ali Imron 159)

Hendaknya seorang da’i bersikap lembut, kasih, sabar, santun, tidak berkata kasar, lekas marah karena akan menyebabkan orang lari sebelum menerima kebenaran. Karena dakwah itu pada asalnya dilaksanakan dengan lembut santun.

Bersabda Rosulullah صلى الله عليه وسلم:

إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ

Tidaklah sikap kasih itu berada pada sesuatupun melainkan akan membuatnya indah dan tidaklah sikap kasih itu dicabut dari sesuatupun melainkan akan membuatnya jelek. (Riwayat Ahmad 25181 dan Muslim 2935)

Sabdanya pula:

مَنْ لاَ يَرْحَمْ لاَ يُرْحَمْ

Siapa yang tidak menyayangi tidak akan disayangi (H.R Bukhori 5997, Muslim 2318, dan lainnya).

f. Memulai dengan yang terpenting.
Yaitu memprioritaskan dakwahnya untuk memperbaiki aqidah, mengajak memurnikan ibadah hanya kepada Allah semata, dan mencegah segala bentuk kesyirikan. Kemudaian berpindah pada perkara terpenting berikutnya, yaitu mendakwahkan hal-hal yang wajib dalam syari’at ini dan memperingatkan dari perkara yang diharamkan Allah Ta’alah. Sebagaimana metode yang ditempuh para Rasul Alaihim salam. Alloh Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ….. (36)

Dan sesungguhnya kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan sembahlah Allah semata da jauhilah thaghut: (Q.S An Nahl 36)

Rasulullah صلى الله عليه وسلم ketika mengurus Mu’adz bin Jabal ke Yaman untuk berdakwah, berpesan:

إِنَّكَ سَتَأْتِي قَوْمًا أَهْلَ كِتَابٍ، فَإِذَا جِئْتَهُمْ فَادْعُهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللهَ. فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوْكَ لِذَلِكَ ، فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوْا لَكَ بِذَلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ،…..
Sesungguhnya engkau akan mendatangi ahlu kitab, maka hendaklah pertama kali yang engkau serukan kepada mereka adalah supaya mereka mentauhidkan Allah ta’ala, bila mereka telah mengakuinya beritahu mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka untuk sholat lima waktu sehari semalam, jika mereka telah melaksanakanya, beritahu mereka bahwa Allah mewajibkan zakat kepada mereka yang diambil dari orang-orang yang berpunya diberikan kepada orang yang miskin (H.R Bukhori 1458, Muslim 14)

Sabar dalam berdakwah
Karena dakwah bukanlah jalan yang mulus, tanpa resiko. Bahkan sebaliknya, jalan ini penuh duri, berliku, menanjak, berupa gangguan, ejekan, cemoohan, teror, puncaknya ancaman dibunuh.
Allah berfirman:

وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ فَصَبَرُوا عَلَى مَا كُذِّبُوا وَأُوذُوا حَتَّى أَتَاهُمْ نَصْرُنَا وَلَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ وَلَقَدْ جَاءَكَ مِنْ نَبَإِ الْمُرْسَلِينَ (34)

Dan sungguh telah didustakan para Rasul sebelummu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan kami kepada mereka” (Q. S Al An’am 34).

Rasulullah bersabda:
أَشَدُّ بَلاَءً الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ

Manusia yang paling keras ujiannya adalah para Nabi, kemudian orang-orang semisalnya dan yang semisalnya lagi” (H.R Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad dengan sanad hasan)

Yang dimaksud “orang-orang yang semisalnya” adalah orang sholih yang meniti manhaj atau metode para nabi didalam berdakwah. Mereka adalah para da’i yang menyeru dan berdakwah seperti yang didakwahkan oleh para Nabi yaitu Tauhidullah dan memberantas kesyirikan. Akhirnya ia pun akan mendapatkan gangguan sebagaimana dialami oleh uswah (panutan) mereka (para Nabi).

Lihatlah cobaan yang diterima Rasulullah صلى الله عليه وسلم ketika berdakwah di Makah dan juga ketika pergi ke Thaif. Beliau tidak mendapat apa-apa melainkan lemparan batu hingga berdarah. Tetapi semua itu diterima dengan sabar. Demikian juga yang dialami oleh para Khulafa’ sesudahnya dan para ulama yang meneladani pendahulunya. Masih segar diingatan kita cobaan yeng menimpa Imam ahlu sunnah Ahmad bin Hambal beliau dipenjara dan dicambuk lantaran mempertahankan kebenaran “al qur’an adalah kalam Allah” bukan makhluk.

Demikianlah asas dan kaidah dakwah yang harus dimiliki oleh seorang da’i dalam dakwahnya harus memahami hal-hal yang diatas tadi dan selalu memperhatikan darimana ia mengambil agamanya (ilmu nya). Karena siapapun yang sudi memperhatikan keadaan gerakan-gerakan islam dan jama’ah-jama’ah dakwah , baik dahulu maupun sekarang, akan mengetahui bahwa sebab terbesar kegagalan dan penyimpangan mereka dari jalan yang lurus didalam dakwahnya adalah salah didalam talaqi ilmu ( pengambilan ilmu), penyerahan ilmu, jauh dari ilmu syar’i, dan bimbingan para ulama mumpuni (Abui Hamam Ahmad Al Atsari)

Iklan

One response to “AGAR DAKWAH MEMBAWA BERKAH

  1. Semoga kita diberikan kemudahan dalam dakwah yang mulia ini..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Untuk yang Sehati

Bercita-cita mengamalkan Islam secara utuh adalah suatu hal yang wajib bagi setiap muslim....
Namun bila belum mampu seluruhnya, jangan ditinggalkan semuanya....Karena Alloh Subhanahu wata'ala tidak membebani seseorang kecuali sesuai kemampuan maksimal yang dimiliki...

Buat diriku & dirimu

....Jangan pernah merasa cukup untuk belajar Islam, karena semakin kita tahu tentang Islam, semakin kita tahu tentang diri kita (...seberapa besar iman kita, ...seberapa banyak amal kita,....seberapa dalam ilmu kita, dan sebaliknya...seberapa besar kemunafikan kita, ...seberapa banyak maksiat kita, ...seberapa jauh kedunguan kita)
....Barangsiapa mengenal dirinya, maka semakin takut ia kepada Alloh Subhaanahu wata'ala

Do’a kita

Semoga Alloh Subhaanahu wata'ala meneguhkan hati kita dalam Islam hingga maut menjemput kita,...aamiin

Kalender

November 2011
S M S S R K J
« Agu   Des »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Total Pengunjung

  • 211,611 klik
%d blogger menyukai ini: