Keajaiban yang Allah Ciptakan: Sungai Dalam Laut

Subhanallah

وَهُوَ الَّذِي مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ هَذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ وَهَذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ وَجَعَلَ بَيْنَهُمُا بَرْزَخًا وَحِجْرًا مَّحْجُورًا

“Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan) ; yang ini tawar lagi segar dan yang lain masin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (Q.S Al Furqan:53)

Jika Anda termasuk orang yang gemar menonton rancangan TV `Discovery’ pasti kenal Mr.Jacques Yves Costeau , ia seorang ahli oceanografer dan ahli selam terkemuka dari Perancis. Orang tua yang berambut putih ini sepanjang hidupnya menyelam ke perbagai dasar samudera di seantero dunia dan membuat film dokumentari tentang keindahan alam dasar laut untuk ditonton di seluruh dunia.

Pada suatu hari ketika sedang melakukan eksplorasi di bawah laut, tiba-tiba ia menemui beberapa kumpulan mata air tawar-segar yang sangat sedap rasanya kerana tidak bercampur/tidak melebur dengan air laut yang masin di sekelilingnya, seolah-olah ada dinding atau membran yang membatasi keduanya.

Fenomena ganjil itu memeningkan Mr. Costeau dan mendorongnya untuk mencari penyebab terpisahnya air tawar dari air asin di tengah-tengah lautan. Ia mulai berfikir, jangan-jangan itu hanya halusinansi atau khalayan sewaktu menyelam. Waktu pun terus berlalu setelah kejadian tersebut, namun ia tak kunjung mendapatkan jawapan yang memuaskan tentang fenomena ganjil tersebut.

Sampai pada suatu hari ia bertemu dengan seorang profesor Muslim, kemudian ia pun menceritakan fenomena ganjil itu. Profesor itu teringat pada ayat Al Quran tentang bertemunya dua lautan (surat Ar-Rahman ayat 19-20) yang sering diidentikkan dengan Terusan Suez . Ayat itu berbunyi

مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِ {19} بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لاَّيَبْغِيَانِ {20}

Artinya: “Dia biarkan dua lautan bertemu, di antara keduanya ada batas yang tidak boleh ditembus”. Kemudian dibacakan surat Al Furqan ayat 53 di atas.

Selain itu, dalam beberapa kitab tafsir, ayat tentang bertemunya dua lautan tapi tak bercampur airnya diartikan sebagai lokasi muara sungai, di mana terjadi pertemuan antara air tawar dari sungai dan air asin dari laut. Namun tafsir itu tidak menjelaskan ayat berikutnya dari surat Ar-Rahman ayat 22 yang berbunyi

يَخْرُجُ مِنْهُمَآ اللُّؤْلُؤُ وَالْمَرْجَانِ {22}

Artinya: “Keluar dari keduanya mutiara dan marjan”. Padahal di muara sungai tidak ditemukan mutiara.

Terpesonalah Mr. Costeau mendengar ayat-ayat Al Qur’an itu, melebihi kekagumannya melihat keajaiban pemandangan yang pernah dilihatnya di lautan yang dalam. Al Qur’an ini mustahil disusun oleh Muhammad yang hidup di abad ke tujuh, suatu zaman saat belum ada peralatan selam yang canggih untuk mencapai lokasi yang jauh terpencil di kedalaman samudera. Benar-benar suatu mukjizat, berita tentang fenomena ganjil 14 abad yang silam

Akhirnya terbukti pada abad 20. Mr. Costeau pun berkata bahwa Al Qur’an memang sesungguhnya kitab suci yang berisi firman Allah, yang seluruh kandungannya mutlak benar. Dengan seketika dia pun memeluk Islam.

Allahu Akbar…! Mr. Costeau mendapat hidayah melalui fenomena teknologi kelautan. Maha Benar Allah yang Maha Agung. Shadaqallahu Al `Azhim.Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda[1]:

“Sesungguhnya hati manusia akan berkarat sebagaimana besi yang dikaratkan oleh air.” Bila seorang bertanya, “Apakah caranya untuk menjadikan hati-hati ini bersih kembali?” Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Selalulah ingat mati dan membaca Al Quran.”

Jika Anda seorang penyelam, maka anda harus mengunjungi Cenote Angelita, Mexico. Disana ada sebuah gua. Jika anda menyelam sampai kedalaman 30 meter, airnya air segar (tawar), namun jika anda menyelam sampai kedalaman lebih dari 60 meter, airnya menjadi air asin, lalu anda dapat melihat sebuah “sungai” di dasarnya, lengkap dengan pohon dan daun daunan.

Setengah pengkaji mengatakan, itu bukanlah sungai biasa, itu adalah lapisan hidrogen sulfida, nampak seperti sungai… luar biasa bukan? Lihatlah betapa hebatnya ciptaan Allah ta’ala.

sumber: www.ivandrio.wordpress.com

Dinukil oleh maramissetiawan di http://tegoeh.multiply.com/journal/item/390/


[1] Saya (maramis), belum mengetahui derajat hadits ini karena artikel yang saya nukil tidak menyebutkannya. Jika ada ikhwah fillah yang mengetahui derajatnya, mohon di sampaikan via kolom komentar.
Iklan

Mukjizat Terbelahnya Bulan

  • Judul: Mukjizat Terbelahnya Bulan
  • Sumber: The Moon Cleft Asunder
  • Penulis: Prof. Zaghlul Al-Neggar
  • Artikel oleh: A Learning Page

diambil dari http://www.raudhatulmuhibbin.org

Anas bin Malik radhiallahu anhu meriwayatkan bahwa penduduk Makkah pernah meminta Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memperlihatkan kepada mereka tanda (kekuasaan) Allah. Lalu beliau memperlihatkan kepada mereka bulan terbelah menjadi dua sehingga mereka melihat celah diantara kedua belahan itu. (HR Bukhari).

Penjelasan Hadits

Peristiwa ini diriwayatkan oleh sejumlah sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam, diantaranya adalah: Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas dan lain-lain. Calender Indian dan Cina telah mencatat peristiwa terbelahnya bulan tersebut.

Beberapa tahun yang lalu, saya memberikan kuliah pada Faculty of Medicine, Cardiff University, di Wales. Seorang Muslim bertanya kepadaku mengenai awal dari surat Al-Qamar, mengenai terbelahnya bulan, dan apakah hal tersebut dipandang sebagai salah satu tanda-tanda sains yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan apakah ada pembuktian ilmiah yang telah ditemukan untuk menjelaskan peristiwa ini.

Jawaban saya adalah bahwa peristiwa ini dipandang sebagai salah satu mukjizat yang paling nyata, yang terjadi untuk mendukung Nabi shallallahu alaihi wasallam ketika beliau ditantang oleh kaum musyrikin dan kafir Quraisy, untuk menunjukkan kepada mereka untuk membuktikan bahwa beliau adalah Rasul Allah. Mukjizat terjadi sebagai suatu peristiwa yang tidak biasa yang mematahkan seluruh hukum-hukum alam yang biasa (terjadi). Oleh karena itu, sains konvensional tidak dapat menjelaskan bagaimana mukjizat itu terjadi, dan jika hal itu tidak disebutkan di dalam Al-Qur’an dan Sunnah, maka kita tidak wajib memeprcayainya. Oleh karena itu, kita percaya bahwa peristiwa terbelahnya bulan terjadi persis seperti perkataan Allah Azza wa Jala yang berfirman:

اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانشَقَّ الْقَمَرُ وَإِن يَرَوْا آيَةً يُعْرِضُوا وَيَقُولُوا سِحْرٌ مُّسْتَمِرٌّ وَكَذَّبُوا وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءهُمْ وَكُلُّ أَمْرٍ مُّسْتَقِرٌّ وَلَقَدْ جَاءهُم مِّنَ الْأَنبَاء مَا فِيهِ مُزْدَجَرٌ حِكْمَةٌ بَالِغَةٌ فَمَا تُغْنِ النُّذُرُ

“Telah dekat datangnya saat itu dan telah terbelah bulan. Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mu’jizat), mereka berpaling dan berkata: “(Ini adalah) sihir yang terus menerus.” Dan mereka mendutakan (Nabi) dan mengikuti hawa nafsu mereka, sedang tiap-tiap urusan telah ada ketetapannya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka beberapa kisah yang di dalamnya terdapat cegahan (dari kekafiran). Itulah suatu hikmah yang sempurna maka peringatan-peringatan itu tidak berguna (bagi mereka).” (QS Al-Qamar 54] : 1-5)

Ketika saya menyelesaikan perkataanku, seorang laki-laki British diantara para peserta bernama Dawud Musa Pidcock, pemimpin British Muslim Party, meminta kesempatan untuk menambahkan sesuatu terhadap jawabanku. Ia berkata, “Inilah ayat-ayat permulaan surat Al-Qamar yang membuatku memeluk agama Islam di akhir tahun 70an.” Hal ini terjadi ketika ia sedang melakukan penelitian yang luas dalam perbadingan agama, dan salah seorang Muslim memberikan kepadanya mushaf terjemahan Al-Qur’an. Ketika dia membuka mushaf tersebut untuk pertama kalinya, ia mendapati Surat Al-Qamar dan dia membacanya di awal Surat, dan tidak dapat mempercayai bahwa bulan telah terbagi menjadi dua bagian yang berbeda dan kemudian keduanya disatukan kembali, maka dia menutup terjemahan Al-Qur’an tersebut dan menyimpannya.

Pada tahun 1978, Mr. Pidcock atas kehendak Allah menonton sebuah program mengenai perjalanan luar angkasa, dimana penyiar Inggris yang terkenal, James Burke, menerima tiga orang ilmuan antariksa Amerka. Dalam perdebatan itu, penyiar mengkiritk pengeluaran NASA yang berlebih-lebihan (jutaan dolar) untuk proyek antariksa, sementara ada jutaan penduduk bumi yang menderita kelaparan, penyakit dan kebodohan. Jawaban dari ahli antariksa tersebut menegaskan bahwa karena perjalanan antariksa inilah yang memungkin pembangunan teknologi terpan dalam bidang diagnosa dan pengobatan penyakit, industri, pertanian dan banyak bidang lainnya. Dalam debat itu, mereka merujuk pada (peristiwa) pertama kalinya seorang manusia mendarat di permukaan bulan, dan bagaimana perjalanan tersebut menghabiskan dana lebih dari $100 juta dolar. Lebih lanjut ilmuwan tersebut mengatakan bahwa perjalanan ini telah membuktikan sebuah fakta sains, yang jika mereka menghabiskan waktu sebanyak yang telah mereka lakukan utnuk meyakinkan manusia mengenainya, tidak akan ada yang mempercayai mereka. Fakta ini adalah bahwa pada zaman dahulu bulan telah terbelah dan bersatu kembali, ada banyak petunjuk yang nyata di perbukaan bulan untuk membuktikannya.

Lebih lanjut Mr. Pidcock berkata, “Ketika saya mendengarnya, saya melompat dari kursiku, dan berkata bahwa ini adalah mukjizat yang terjadi seribu empat ratus tahun yang lalu untuk mendukung Muhammad (shallallahu alaihi wasallam), dan Al-Qur’an menerangkannya dengan terperinci. Setelah periode waktu yang lama dan di masa (perkembangan) sains dan teknologi, Allah menggunakan orang-orang (non Muslim) yang menghabiskan semua dana itu hanya untuk membuktikan bahwa mukjizat itu benar terjadi. Maka, saya berkata kepada dirku, ini pasti agama yang benar, dan saya kembali mengambil terjamahan Al-Qur’an tersebut dan membacanya dengan semangat. Ayat-ayat di awal Surat Al-Qamar inilah alasan dibalik masuknya saya ke dalam Islam.

Ini terjadi pada masa dimana sebagian Muslim mengklaim bahwa terpisahnya bulan belum terjadi, dan bahwa itu adalah salah satu dari tanda-tanda hari kiamat seperti yang disebutkan di pembukaan Surat tersebut (Telah dekat datangnya saat itu…). Mereka melupakan bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari Sahl bin Sa’ad t dimana ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ هَكَذَا

“Jarak antara diutusnya kau dengan hari kiamat adalah seperti ini” Beliau mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengahnya.

Orang-orang yang menolak terjadinya peristiwa terbelahnya bulan itu, menggunakan dalil yang keliru untuk mendukung pendapat mereka, sebagaimana mereka menggunakan Surat Al-Isra:

وَمَا مَنَعَنَا أَن نُّرْسِلَ بِالآيَاتِ إِلاَّ أَن كَذَّبَ بِهَا الأَوَّلُونَ

“Dan sekali-kali tidak ada yang menghalangi Kami untuk mengirimkan (kepadamu) tanda-tanda (kekuasan Kami), melainkan karena tanda-tanda itu telah didustakan oleh orang-orang dahulu.” (QS Al-Israa [17] : 59)

Ayat ini dijadikan sebagai dalil tidak pada tempatnya karena banyak tanda-tanda dan mukjizat yang jelas (nyata) yang terjadi di masa kehidupan Nabi e.

Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada penutup para Nabi shallallahu alaihi wasallam, yang baginya Allah menjadikan bulan terbelah menjadi dua bagian, sebagai kehormatan baginya dan untuk menaikkan derajatnya dan sebagai pendukung (bukti kebenaran-pent.) risalahnya (diatara kaumnya), dan meninggalkan kita dengan petunjuk yang nyata untuk menunjukkan bahwa peristiwa (terbelahnya bulan) itu benar-benar terjadi.

Sumber: The Treasure in the Sunnah; a Scientific Approach, oleh: Zaghlul El-Neggar, hal. 40-43, Al-Falah Foundation, 2004.

Catatan “A Learning Page”

Terlepas dari kontroversi seputar kebenaran kisah mendaratnya manusia pertama di bulan – yang oleh sebagian orang dianggap sebagai bualan Amerika, kesesuaian akan fakta sains yang mereka kemukakan dengan peristiwa yang disebutkan dalam Al-Qur’an serta hadits-hadits dengan derajat mutawatir, telah menjadi hujjah yang kuat dan mendorong seseorang untuk masuk ke dalam Islam.

Berikut ini kami nukilkan bebarapa hadits yang termaktub di dalam Tafsir Ibnu Katsir terhadap ayat pertama Surat Al-Qamar mengenai peristiwa tersebut dari beberapa jalan:

1. Riwayat Anas bin Malik radhiallahu anhu.

Imam Ahmad dari Anas bin Malik radhiallahu anhu, ia berkata, “Penduduk Makkah pernah meminta kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam (mengenai) suatu tanda (kekhususan Allah) maka terbelah lah bulan di Makkah (yang terjadi) dua kali. Kemudian beliau membaca: اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانشَقَّ الْقَمَرُ “Telah dekat datangnya saat itu dan telah terbelah bulan.” (HR Muslim).

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Anas bin Malik radhiallahu anhu bahwa penduduk Makkah pernah meminta Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memperlihatkan kepada mereka tanda (kekuasaan) Allah. Lalu beliau memperlihatkan kepada mereka bulan terbelah menjadi dua sehingga mereka melihat celah diantara kedua belahan itu.

Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim juga meriwayatkannya dari hadits Yunus bin Muhammad al-Mu-addib dari Syaiban dari Qatadah.

2. Riwayat Abdullah bin Abbas radhiallahu anhu.

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Abbas radhiallahu anhu, ia berkata, :”Bulan pernah terbelah menjadi dua pada zaman Nabi shallallahu alaihi wasallam. Juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Bakr bin Mudharr dari Ja’far bin Rabi’ah dari Arak dengan lafazh sepertinnya.

3. Riwayat Ibnu Mas’ud radhiallahu anhu.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiallahu anhu, ia berkata, :”Bulan pernah terbelah menjadi dua pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sehingga mereka melihatnya, maka beliau bersabda: ‘Saksikanlah!’” Dan demikianlah yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Sufyan bin Uyainah.

Imam Al-Bukhari meriwayatkan Abu Abdillah Al-Hafizh memberitahu kami dari Abduulah, ia berkata, “Bulan pernah terbelah di Makkah sehingga menjadi dua bagian lalu orang-orang kafir Quraisy dari kalangan penduduk Makkah berkata, “Ini adalah sihir yang dilakukan terhadap kalian oleh Ibnu Abu Kabsyah. Tunggulah para musafir, jika mereka melihat apa yang kalian lihat, maka yang demikian itu benar adanya, dan jika mereka tidak melihat apa yang kalian lihat, maka yang demikian itu merupakan sihir yang dilakukan terhadap kalian.” Abdullah melanjutkan, “Kemudian para musafir yang datang dari seluruh penjuru ditanya, maka mereka menajawab, ‘Kami melihatnya.’” Hadits tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari hadits Al-Mughirah dan ada tambahannya, yaitu Allah Azza wa Jalla berfirman: اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانشَقَّ الْقَمَرُ (“Telah dekat datangnya saat itu dan telah terbelah bulan.”)

Faktor faktor yang berhubungan dengan penggunaan sel sel

1. Pemilihan bahan

 

Setelah pengkajian mendalam terhadap sel‑sel tradisional di berbagai tempat berbeda di dunia, diketahui bahwa bumi dengan berbagai bentuknya (tanah, tanah liat, batu‑batuan) merupakan bahan untuk membuat sel‑sel lebah di negeri-negeri yang kering di mana tidak tersedia kayu.

Orang Inggris berusaha membuat sel‑sel dari kayu dan bahan‑bahan yang berasal dari tumbuh‑tumbuhan di mana pada masa lalu sel‑sel dibuat dari cabang-cabang pokok kayu yang gembur karena mudah untuk menghancurkan dan melumatkannya.

 

2. jenis

 

Tujuan dari membangun sel, khususnya jenis Apis mellifera (lebah madu), harus dapat menyiapkan yang berikut ini:

a.  Bahan baku pembuatan, komposisi dan kekerasannya yang bertujuan menjaga lebah dari kondisi‑kondisi udara, yang ia buat dari bahan selain metal.

b.  Volume, volume sel-sel berkisar antara 40‑50 liter, sekalipun sebagian volume sel mencapai separuhnya, yang digunakan untuk menarik buangan.

  1. Bukaan pintu. masuk lebah: Biasanya antara 1‑2 cm dan ini barangkali pada sel atau pada penyanggah yang digunakan untuk menutup mulut bukaan. Barangkali juga terdapat bukaan untuk ventilasi. Lebah membutuhkan sebuah bukaan yang tidak kurang dari 8 cm2.

c.

Sedangkan lebah jenis Apis cerana, maka sel‑selnya berciri mirip dengan sel‑sel terdahulu, khususnya jenis Apis mellifera, namun ia mempunyai volume lebih kecil mencapai dua pertiga volume sel terdahulu dan isinya antara 10‑15 liter.

Dari uraian terdahulu dapat dikatakan bahwa sel‑sel pertama yang menyiapkan untuk menempatkan lebah madu adalah sel‑sel sangat sederhana yang mirip dengan sarang alaminya, yang dibuat adakalanya dari dahan pohon setelah membuat rongga di dalamnya dan menutupnya dengan tutup yang tidak rapi dari atas, di mana terdapat bukaan untuk keluar masuk lebah, atau ia membuat dalam bentuk pipa‑pipa dari bahan porselin atau tanah liat dan biasanya tanah. Lalu sel‑sel ini berkembang menjadi sel‑sel berbentuk kotak yang tertutup yang bekerja seperti dalam bentuk dahan kayu, tetapi terdiri dari empat dinding. Kemudian digunakan skep yang terbuat dari jerami yang dijalin atau dahan‑dahan lunak dari tumbuh‑tumbuhan semak‑semak. Dalam beberapa arah untuk tujuan itu sendiri, lebah sampai menggunakan sel kayu yang mempunyai kamar‑kamar yang berisikan roda‑roda yang bergerak. Kemajuan perhatian petemak lebah sampai dengan membangun sel dengan rekor intemasional untuk penggunaan runggal dalam semua koloni. Sel‑sel juga dibuat dari sisa‑sisa pertanian seperti jerami, serpihan tebu dan lain‑lain.

 

Juga dalam sarang lilin yang dibangun lebah di dalam tempat tinggalnya untuk meletakkan telur dan menyimpan bahan makanan merupakan contoh atas kecanggihan penciptaan Maha Pencipta yang dianugerahkan‑Nya kepada lebah. Sarang lilin yang berisikan ribuan lubang bersegi enam digunakan sebagai tipuan untuk mengasuh anak‑anak lebah atau gudang‑gudang untuk menyimpan madu dan bibit pembuah. Suatu yang menakjubkan, bahwa di samping ia disiapkan betul‑betul untuk pekerjaan ini, maka yang lebih menakjubkan lagi adalah bentuk persegi enam dari lubang yang membutuhkan jumlah bahan bangunan yang lebih sedikit, selain juga ia cocok untuk pertumbuhan anak lebah yang dipelihara dalam lubang‑lubang ini. Bentuk segi enam adalah bentuk geometrik yang terbaik yang menghasilkan kekosongan‑kekosongan perantara dan bahwa jumlah lubang dari kekosongan‑kekosongan ini pada luas tertentu melebihi jumlah bentuk‑bentuk lain pada luas yang sama.

 

Kita tidak mempunyai sikap lain kecuali tertegun menyerah di depan kemampuan I’jaz (kemukjizatan) Al‑Qur’an ini, sewaktu kita menemukan bahwa lebah madu membangun berbagai lubang di mana terdapat lubang‑lubang kecil yang dalam satu inci persegi berisikan 28,27 lubang persegi enam. Ini digunakan untuk anak lebah pekerja dan penyimpan madu. Ada juga yang sedikit lebih besar yang digunakan untuk menjaga bibit jantan yang dalam satu inci persegi terdapat 18,84 lubang bersegi enam.

 

Maha Suci Engkau, wahai Tuhanku. ‑Engkau memberi ilham kepada dunia yang telah dan masih saja menakjubkan makhluk Engkau yang paling canggih. Ilmu Engkau Maha Mendahului ilmu manusia, makhluk Engkau yang paling lemah. Bukankah pada tempat tinggal Lebah terdapat krcasi dan Ilham? Siapakah yang mengajarkan kepada setiap jenis lebah supaya mengambil bahan baku tertentu sebagai tempat tinggal dan tidak suka dengan bahan pengganti yang lain? Ia adalah Allah, Tuhan seluruh alam, pencipta langit dan bumi. Maha benar Allah dengan firmannya:

 

Itu adalah Allah, Tuhan seluruh alam, Pencipta segala sesuatu. Karena itu, sembahlah Ia!” (QS 6:102).

 

Tidakkah mereka memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah? …. ” (QS 7: 185).

 

Tidakkah mereka mendalami Al‑Qur’an. Sekiraranya berasal dari selain Allah, tentu mereka akan banyak menemukan berbagai kontradiksi di dalamnya!” (QS 4:82).

 

Terakhir sekali, pada rumah‑rumah lebah dan pada dunia lebah terdapat keajaiban dan kreativitas yang menyingkap rahasia kemukjizatan ilmiah yang diturunkan dalam Al‑Qur’an Al‑Karim, yang merupakan mukjizat Islam yang abadi dan kekal, yang berisikan ayat‑ayat dan petunjuk‑petunjuk yang selalu mengarahkan manusia kepada iman dengan Allah, Tuhan seluruh alam, dan kepada Islam yang cocok untuk segala ruang dan waktu.

 

Maha Suci Allah yang telah mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Pujian bagi Allah, Tuhan seluruh alam, dan shalawat atas junjungan kita Muhammad, Nabi yang ummi, serta atas keluarga dan Seluruh sahabat beliau.

Fakta tentang Sel sel yang masih digunakan sampal sekarang

Yang menimbulkan ketakjuban adalah sel‑sel itu tetap atau tidak berubah atau sel‑sel tradisional yang berjalan selama beratus‑ratus tahun, barangkali beribu‑ribu tahun. Cara penyusunan, bahan besar dan bentuknya umumnya tidak mengalami perubahan selama berabad‑abad. Sel‑sel dari tanah liat biasanya digunakan pada berbagai daerah di Timur jauh seperti di Mesir pada zaman kuno, seperti juga pada masa sekarang.

 

Orang Romawi menyebutkan sembilan macam sel yang segi‑seginya banyak mereka terangkan. Mereka juga menerangkan bagaimana sel‑sel ini dibuat, yang semuanya berdasarkan sistem horisontal yang sering diletakkan di atas mastaba (ban luar) atau dipahatkan ke dalam dinding, kadang‑kadang ditempatkan dua baris atau tiga baris bertingkat. Daftar yang dibuat oleh Crane (1983) berikut ini menjelaskan hal itu:

  1. Sel‑sel terbuat dari pohon kayu yang berlubang
  2. Sel‑sel dari pohon quercus suber
  3. Sel‑sel dari kayu papan
  4. Sel‑sel dari ranting‑ranting yang dijalin
  5. Sel‑sel dari pokok tumbuh‑tumbuhan yang kokoh di samping pokok yang lain
  6. Sel‑sel terbuat dari kotoran hewan
  7. Sel‑sel dari tanah yang dihaluskan (bahan porselin atau bahan tanah liat)
  8. Sel‑sel dari batu merah
  9. Sel‑sel transparan dari bahan tanduk dan mika

Sel‑sel dari tanah yang tidak dihaluskan. Sel‑Sel jenis ini tidak diterangkan dalam tulisan‑tulisan orang Romawi.

Lebah Madu

Sebelum manusia memanfaatkan lebah, lebah madu membuat sarangnya di celah‑celah yang ada antara batu‑batuan dan pohon‑pohon yang berlubang. Ini diterangkan oleh gambar yang menceritakan tentang batu‑batuan yang mempunyai celah sebagai tempat tinggal lebah di salah satu dataran tinggi di sebelah timur Spanyol pada masa batu pertengahan Hal itu lebih kurang 700 tahun sebelum masehi. Lebah sering sekali membuat sarang‑sarang lilinnya di tempat terbuka, dengan mengambil tempat‑tempat yang mudah untuk menjaganya dari faktor‑faktor alam. Di sini ia beranak pinak dan mengumpulkan madu. Sel‑selnya terbuat dari bahan‑bahan sederhana yang dapat dijangkau dan sesuai dengan keahlian‑keahlian lokal berbagai masyarakat Lebah. Ini menunjukkan bahwa sel‑sel lebah tidak mempunyai satu asal-usul.

 

Di hutan‑hutan besar di Eropa pada masa lalu, sel kuno merupakan kayu-kayu berongga yang berjatuhan yang dihuni oleh lebah madu liar Kebanyakan petunjuk yang dikenal tentang Lebah madu pada zaman kuno adalah lebah mesir lebih kurang 3.400 sampai 600 tahun sebelum masehi. Hal‑hal yang ditemukan tentang Lebah Mesir Kuno mempunyai urgensi penting karena kelangkaannya dan karena ia adalah peninggalan sejarah.

 

 

Sel‑sel Lebah Madu

Sel yang digunakan oleh lebah adalah bidang sempit rongga kosong yang mempunyai pintu masuk di tengah‑tengah antara kedua ujungnya. Kedua ujung barangkali ditutup dengan dua penyanggah yang cocok terbuat dan kayu. Bila terdapat keretakan‑keretakan maka ditutup dengan plester dari tanah. Pada beberapa daerah, sebagai pengganti sanggahan dari kayu digunakan bulatan‑bulatan batu yang disiapkan sesuai besar lubang. Bulatan‑bulatan batu ini ditemukan sewaktu dilakukan pekerjaan penggalian di berbagai daerah di kota Maya.

 

Sel sel terbuat dari tanah yang tidak dihancurkan yang berasal antara 2.400 sampai 2.133 tahun sebelum masehi. Terdapat juga sel‑sel yang terbuat dari tanah‑tanah yang sudah dihancurkan berbentuk wadah sedang dengan panjang 36 cm dan rata‑rata garis tengahnya pada kebanyakan potongan 14 cm di mana terdapat bukaan dengan garis tengah 2 cm pada lingkaran dengan ujung yang berhadapan dengan mulut bukaannya. Akan tetapi wadah wadah ini barangkali digunakan untuk mengumpulkan buangan karena ia kecil dan tidak cocok menjadi sel yang sebenamya.

 

Ditemukan sel‑sel yang tidak cocok menjadi sel yang sebenamya. Ditemukan sel‑sel yang merupakan wadah‑wadah besar yang terbuat dari tanah liat yang tidak dihaluskan (coarse pottary) yang mempunyai bukaan yang luas yang dinamakan sel‑sel tanah liat (pottary hives), berasal dari 500 sampai 600 tahun sebelum masehi.

Sel‑sel yang ditemukan di utara Eropa bersifat tradisional, merupakan keranjang‑keranjang terbuat,dari ranting‑ranting yang dijalin, kemudian dari jerami yang dijalin atau pokok rumbuh‑tumbuhan lainnya yang dkenal dengan nama skeps, berasal dari abad pertama sampai abad ketiga sebelum Masehi.

Pekerjaan Tutup Sarang

Jenis tutup sarang yang tidak kokoh terbuat dari bahan‑bahan yang diambil dari saluran gerbang masuk. Sedangkan bagian yang tidak kokoh pada jenis tutup campuran dibuat bahan‑bahan yang sama yang menjadi komposisi sel, seperti pada lebah Osmia parvols. Ia membuat onggokan‑onggokan antara sel-sel dan partikel‑partikel sumsum betis yang juga digunakan untuk pembuatan sarang.

 

Sementara bagian yang tidak kokoh berisikan partikel‑partikel sumsum kaki, butir‑butir pasir dan lain‑lain. Bagian dari tutup sarang tetap tidak kokoh, sekalipun tidak terdapat onggokan di depan setiap sel, seperti pada lebah Anthidium. Komposisi‑komposisinya diambilkan dari luar sarang. Begitu juga halnya dengan dinding sel. Bila sel‑sel sarang dibangun dari bahan‑bahan yang masuk padanya peralatan lebah dan mengeluarkannya, maka bagian yang kokoh atau tutup yang kokoh dibangun dari bahan yang sama. Sebaliknya juga betul, bila sarang dibuat dari bahan‑bahan yang tidak termasuk peralatan lebah, tutupnya juga demikian. Sedangkan selain itu, adalah akibat dari menetapnya parasit-parasit atau benda‑benda asing di luar sarang, seperti pada Megachile. Sesungguhnya terdapat partikel‑partikel dari kerang atau. dari pasir, yang barangkali besar atau kecil tersusun dalam satu baris atau. lebih, diletakkan antara sel‑sel yang tersusun rapi. Pada Anthidium, ia ditutup melalui lilin hijau. Sementara itu pada lebah Megachile cefebre, maka partikel‑partikel sarang yang kokoh berhubungan antara satu dengan yang lain melalui perekat hijau, sedangkan sel‑sel itu sendiri terbuat dari tanah berperekat yang diaduk dengan air ludah lebah.

 

Pada beberapa keadaan, bagian akhir sel kadang‑kadang berubah menjadi tutup dan pada ruangan sel yang diubah kadang‑kadang ditempatkan benih pembuah. Tutup sarang kadang‑kadang terdapat di dalam, khususnya pada permulaan gerbang masuk seperti pada Osmia rufa. Pada keadaan yang lain, barangkali tutup diletakkan sedikit jauh ke dalam dari pintu gerbang. Dengan demikian, ia melingkari ujung pintu masuk. Jarang sekali ada tutup luar yang sempurna yang serasi di atas setiap sarang dari luar, seperti pada Chalicodoma micraria.

 

 

Pembagian Jenis‑jenis Sarang

 

Supaya dapat menjaga diri, lebah membangun berbagai sarang. Supaya dapat mengetahui dengan baik jenis‑jenisnya, Anda harus mempelajarinya dari berbagai segi serta membandingkan berbagai bentuknya antara yang satu dengan yang lain. Sebagian besar pengkajian ini telah disebutkan dalam halaman‑halaman terdahulu. Hasilnya adalah pengenalan jenis‑jenis dan bentuk‑bentuk sarang seperti berikut:

 

1. Berkenaan dengan Individu penghuni Sarang:

a. Sarang Jantan

b. Sarang Betina

c. Sarang bersama Jantan dan Betina

d. Sarang yang menggabungkan antara ketiga jenis di atas

2. Berkenaan dengan jumlah Sel:

a. Sel Tunggal

b. Multi Sel

3. Berkenaan dengan hubungan antar berbagai Sel:

a. Sarang dengan sel‑sel terpisah

b. Sarang dengan sel‑sel berhubungan

4. Berkenaan dengan cara Membangun:

a. Sarang Vertikal

b. Sarang Horisontal

5. Berkenaan dengan jumlah sarang yang termasuk komposisi sarang tunggal yang dibangun oleh seekor serangga tunggal:

a. Sarang Sederhana

b. Sarang Berlapis

6. Berkenaan denganjumlah serangga yang membangun sarang:

a. Sarang Menyendiri

b. Sarang mengelompok atau tersusun

7. Berkenaan dengan kemiripan antara Sarang‑sarang:

a. Sarang dengan bentuk tersendiri

b. Sarang dengan bentuk mirip

Penutupan Sel (Kamar)

Setelah selesai menyuplai sel dengan makanan dan menempatkan telur di dalam sel, lebah penyendiri biasanya menutup sel itu. Sesuai dengan kebiasaan yang banyak ditemukan di antara lebah‑lebah penyendiri, sel langsung ditutup setelah meletakkan telur dalam sel itu.

 

Sesuai dengan penetrasinya terhadap kelembaban, maka tutup sel dapat digolongkan kepada dua jenis:

1.  Jenis yang dapat dimasuki oleh kelembaban seperti pada lebah jenis Halictus, Andrena dan Osmia.

2.  Jenis yang tidak dapat dimasuki oleh kelembaban, seperti pada lebah jenis Colletes, Chalicodoma dan Anthophara.

 

Menurut tingkatan keserasian, tutup itu juga dapat digolongkan kepada dua jenis:

1. Pintu Terkunci

Terdiri dari bagian‑bagian atau bagian‑bagian kecil terpisah yang tidak bersenyawa yang teronggok secara tidak beraturan pada gerbang masuk sel. Tutup jenis ini jarang sekali kelihatan, kecuali pada lebah jenis Halictus dan Anthidium.

2. Tutup Menyatu

Terdapat pada hampir semua jenis lebah. Ia terdiri dari bagian‑bagian kecil yang disusun dengan cara tertentu dan sebagiannya biasanya bergenyawa atau terdiri dari bagian‑bagian lengkap dari berbagai bahan seperti pada lebah Colletes, Andrena dan Megachile.

Setelah menutup sel sebagian jenis lebah membuat berbagai jenis hambatan untuk sampai kepada sel. Misalnya dengan membangun onggokan‑onggokan dari partikel‑partikel yang biasanya ditinggalkan tanpa melekat dan tanpa aturan sehingga memenuhi jalan menuju ke sel dan dengan demikian menghambat lalu lintas lebah yang lain.

 

 

Jumlah, Kamar dalam Sarang

 

Sedikit sekali lebah jenis penyendiri yang membuat sarang terdiri dari satu sel saja. Contoh penting dari lebah jenis ini adalah Osmia papevaria juga terdapat beberapa jenis yang membuat sarang terdiri dari dua kamar, kamar pertama sebagai kamar utama dan kamar kedua sebagai kamar tambahan.

 

Jumlah kamar berbeda sesuai dengan perbedaan kondisi luar seperti besar kamar dan bidang tempat membuat sarang. Ia juga berbeda sesuai dengan per­bedaan kondisi dalam seperti instink membangun sendiri atau usia lebah. Dalam keadaan‑keadaan seperti ini, jumlah kamar biasanya antara 5 dan 6 kamar. Jumlah sampai 10 kamar pada lebah jenis Andrena binaculata, 15 kamar pada lebah jenis Chalicodma muraria dan Osmia, 17 kamar pada jenis lebah kayu kecil Ceratina, dan 19 kamar pada lebah kayu besar Xylcopa. Semua angka ini tentu saja

 

menunjuk sarang lebah penyendiri yang dibangun oleh individu tunggal. Sedang­kan sarang‑sarang bertingkat‑tingkat yang dibangun oleh sejumlah individu secara khusus lebah bermasyarakat yang telah kita terangkan, sering terdiri dari sejumlah kamar yang sampai ratusan atau ribuan buah.

 

 

Urutan Kamar dalam Sarang

 

Biasanya susunan kamar sudah tertentu. Kamar‑kamar itu mungkin betul-betul terpisah, atau sedikit saling berhubungan, atau berganda. Bila hubungannya sederhana, terdapat satu jalan menuju kamar, dan bila berhubungan ganda, barangkali terdapat dua jalan atau lebih. Pada lebah penggali (digger bees), maka kamar‑kamar sarang berhubungan antara satu dengan yang lain melalui terowongan utama menuju kamar‑kamar dan melalui terowongan‑terowongan sampingan untuk setiap kamar terpisah. Urutan menurut cara ini bersimpang siur. Dalam kesimpangsiuran itu dapat dibedakan mana jalan‑jalan yang maju ke depan, yang mundur ke belakang dan yang tetap bila diukur dengan kedalaman dan panjang terowongan utama ketika jumlah sel (kamar) bertambah.

 

Contoh kesimpangsiuran yang banyak adalah pada lebah Halictus. Hal itu karena hubungan antara sel‑sel pertambahan jumiah dan terowongan utama tidak jelas. Contoh kesimpangsiuran yang maju ke depan adalah seperti yang terdapat pada lebah Systropha. Contoh kesimpangsiuran yang mundur ke belakang adalah seperti yang terdapat pada lebah Colletes cunicitarius. Juga mudah ditemukan kesimpangsiuran mengikuti putaran jarum jam atau melawannya. Namun ini tidak begitu penting bila dibandingkan dengan cmpat cara kesimpangsiuran yang telah disebutkan, karena terdapat pilihan di antara beberapa cara ini, bahkan di antara puak‑puak dari satu jenis.

 

Juga terdapat perbedaan mengenai cara urutan kamar pada level horisontal dan vertikal dalam sarang yang sama. Terdapat kamar‑kamar yang membuat sudut dengan level horisontal dan vertikal serta pada beberapa keadaan sudut yang dibuat itu melindungi sel‑sel pada kedua level secara permanen dalam satu sarang. Barangkali pula hubungan antara kamar‑kamar itu bersifat sempuma sehingga hilang sama sekali dinding sel yang membujur, seperti pada sarang lebah (qarsh al‑asal;honeycomb).

 

Sel‑sel juga tersusun antara cara urutan sarang lebah dan cara urutan garis atau bersimpangsiur. Pada lebah Osmia coerulescens yang mengisi ruang sarang, maka kamar‑kamar sering berhubungan antara satu dengan yang lain. Itu tidak hanya pada jalan ujung saja, seperti pada keadaan urutan garis yang lurus, tapi juga melalui jalan dinding yang membujur, seperti pada keadaan sarang lebah. Menurut cara garis lurus, ini dinamakan berbaris banyak. Pada lebah Osmia fucunda dengan mengesampingkan besar dan bentuk ruang (seperti pada urutan‑sarang lebah), sering saling berhubungan antara satu dengan yang lain melalui garis lurus ini disebut himpunan luruh. Diamati bahwa urutan kamar‑kamar pada sarang lebah bertahap dalam bersimpangsiuran, lebih banyak dari apa yang ada pada garis lurus.

 

Bentuk yang jarang ini terdapat dalam sarang‑sarang di mana kamar‑kamar dihubungkan secara teratur melalui sisi‑sisi yang terdapat pada ruang. Inilah yang disebut kamar pendidikan (penjagaan) yang pada dasarnya meru­pakan perekatan berbagai terowongan samping yang pendek. Pada sarang‑sarang ini sel‑sel tersusun pada kamar‑kamar. Sistem seperti ini terdapat pada lebah Halictus dan pada beberapa jenis lebah yang membuat sarang madu pada tanah.

 

 

Penutupan Sarang

 

Setelah sel‑sel selesai dibangun dalam sarang, maka lebah menutup sarang melalui sebuah tutup yang disebut tutup sarang. Ini terjadi pada semua jenis dan bangsa lebah selain jenis Ceratina dan Xylocopa. Kedua jenis ini dikecualikan dari kaidah. Hal itu karena lebah akan terus bekerja di sarang sampai tenaganya habis. Dengan demikian, lebah itu akan tetap di gerbang masuk supaya ia dapat mempertahankannya sebisa mungkin.

 

Di samping adanya proteksi alami bersifat mekanis, seperti ditemukan pada lebah bermasyarakat, terdapat apa yang disebut kuburan lebah yang masih hidup seperti pada jenis Lithurgus. Ia juga tidak menutup sarang dan tutup jarang yang diletakkan dari dalam sehingga mengurung lebah itu sendiri didalam sarang. Di antara contoh‑contohnya adalah apa yang dilakukan oleh lebah Andiena ovina yang membangun sarang madu di tanah, kemudian lebah itu meninggalkan sarang pada akhimya.

 

Tutup sarang dan kamar terbagi tiga:

1. Tutup yang kokoh

2. Tutup yang tidak kokoh

3. Tutup bercampur

 

(1)Tutup yang kokoh adalah melalui rekatan partikel‑partikel antara yang satu dengan yang lain, yang sering mencakup partikel‑partikel lebar yang terpisah satu sama lain di akhir sel dengan adanya jarak‑jarak yang kosong. Keadaan seperti ini terdapat pada lebah menetap dan lebah Mason, seperti pada Osmia globicola dan Chalicodoma.

(2)Tutup jenis kedua,dibangun dari partikel‑partikel yang tidak melekat dengan partikel lain, sekalipun bersenyawa seluruhnya, yang tampak seperti onggokan yang menyatu pada gerbang masuk sarang. Sistem ini terdapat pada lebah penggali seperti Andrena, tetralonia dan lebah Antrophora dan terdapat dalam persentase kecil pada lebah Ceratina.

(3) Jenis ketiga, campuran menghimpun antara yang kokoh dan tidak kokoh.Ia mencangkup onggokan tanah, partikel‑partikel yang bertaut, dipadatkan atau lainnya. Pada beberapa keadaan, ia berhubungan dengan suatu kum­pulan atau sistem tertentu dari pintu‑pintu. Contohnya adalah lebah Antrophora acervarum dan lebah Osmia leucomelaena.

Tutup sarang yang tidak kokoh tersusun dari bahan yang sama yang menjadi komposisi tutup kamar pada sarang. Perbedaan satu‑satunya, pada pintu sarang, bahan pada pintu sarang diambilkan dari bagian depan sarang di mana tidak mungkin membuat terowongan baru. Ini mengakibatkan adanya penurunan tajam pada salah satu sisi galian atau kamar di permukaan, seperti pada Tetraloniamalvae dan Anthaphera accervorum.

Suplai Makanan untuk Sarang

Lebah jenis penyendiri menyuplai kamar‑kamamya dengan makanan secara sempuma dan sering sekali dengan jenis‑jenis makanan yang berasal dari bahan-bahan nabati seperti nektar dan bibit pembuah dan sering juga dicampur dengan cairan‑cairan dari kelenjar air ludah. Pada jenis lebah bermasyarakat juga menyuplai kamar‑kamamya dengan cara ini, tetapi dengan beberapa. pengecualian seperti dalam hal makanan raja yang disemprotkan oleh lebah pembantu dari kelenjar pada sel‑sel di mana ratu‑ratu lebah madu dibesarkan, yang menggantikan sama sekali fungsi nektar dan bibit‑bibit pembuah. Lebah biasanya mendapatkan bahan karbohidrat dari nektar dan mendapatkan bahan protein dari bibit pembuah atau cairan dari berbagai kelenjar.

Urutan Pembuatan Kamar kamar

Lebah secara umum membangun sel‑sel atau kamar‑kamamya menurut salah satu dari dua sistem. Pertama, ia membangun kamar satu demi satu sampai selesai. Kedua, ia membangun kamar‑kamar secara keseluruhan dalam waktu yang sama. Sering sekali bahwa jenis lebah penyendiri membangun sarangnya dengan cara pertama dan lebah jenis bermasyarakat membangun sarangnya dengan cara kedua. Berikut ini adalah berbagai cara untuk membagi kamar-kamar atau sel‑sel:

 

A. Menurut Fungsi Kamar

1. Kamar yang ditempati terbagi kepada:

  1. Kamar Jantan
  2. Kamar Betina
  3. Kamar Pembantu
  4. Kamar Kelompok

2. Kamar  yang tidak ditunggui terbagi kepada:

a. Kamar untuk gudang

b. Kamar tambahan

 

B. Menurut Bentuk:

1. Panjang

2. Pendek

3. Berbentuk beraturan

4. Berbentuk tidak beraturan

5. Dua sisinya sama

6. Porosnya sama

7. Tidak sama

 

C. Menurut Bahan Pembuat Bangunan:

1. Bahan Nabati

2. Bahan Metalik

3. Bahan Hewani

 

D. Menurut Rongga Sel:

1. Sempit

2. Cukup Luas

3. Luas

 

E. Menurut Arah:

1. Horisontal.

2. Miring ke bawah

3. Vertikal

4. Miring ke atas

 

E Menurut Urutan Pembuatan:

1. Sel demi sel

2. Sejumlah sel dalam waktu yang sama

Arah Kamar kamar

Biasanya keadaan sel dalam ruangan dipandang menurut arah poros bujur dalam hubungannya dengan poros vertikal. Berdasarkan ini, maka sel itu vertikal, miring dengan sisi vertikal dan dengan demikian miring ke bawah atau ke atas atau horisontal.

 

Secara umum, sel‑sel lebah yang sejenis biasanya diarahkan dengan cara tertentu. Di antara contoh lebah penyendiri yang membangun kamar‑kamar horisontal atau mendekati horisontal adalah lebah teralonia dan nomia. Sedangkan arah kamar lebah bermasyarakat bombus dan trogona dipengaruhi oleh tempat‑tempat membuat sarang.

Untuk yang Sehati

Bercita-cita mengamalkan Islam secara utuh adalah suatu hal yang wajib bagi setiap muslim....
Namun bila belum mampu seluruhnya, jangan ditinggalkan semuanya....Karena Alloh Subhanahu wata'ala tidak membebani seseorang kecuali sesuai kemampuan maksimal yang dimiliki...

Buat diriku & dirimu

....Jangan pernah merasa cukup untuk belajar Islam, karena semakin kita tahu tentang Islam, semakin kita tahu tentang diri kita (...seberapa besar iman kita, ...seberapa banyak amal kita,....seberapa dalam ilmu kita, dan sebaliknya...seberapa besar kemunafikan kita, ...seberapa banyak maksiat kita, ...seberapa jauh kedunguan kita)
....Barangsiapa mengenal dirinya, maka semakin takut ia kepada Alloh Subhaanahu wata'ala

Do’a kita

Semoga Alloh Subhaanahu wata'ala meneguhkan hati kita dalam Islam hingga maut menjemput kita,...aamiin

Kalender

November 2017
S M S S R K J
« Mei    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Total Pengunjung

  • 217,030 klik