Maraji’ 2

Maraji’ :
1. Al-Wajiz fi Fiqhis Sunnah karya Syaikh Abdul Azhim
Badawy, Kitaab ath-Thohaaroh, Bab al-Ghaslu, hal. 44-46
2. Marshd as-Salafiy as-Sudaaniy, Bab al-Ghoslu, oleh
Ustadz Husain Jailani, http://www.marsd.net/
3. Muhadharah Fiqh oleh al-Ustadz Ahmad Sabiq, Lc. di
Ma’had as-Sunnah Surabaya (4 Muharam 1426/13
September 2005)

Masalah 6

Masalah 6 :
Wajibkah bagi wanita yang panjang rambutnya
menguraikan rambutnya?

Pendapat yang rajih adalah wajib bagi wanita yang mandi
karena haidh agar menguraikan rambutnya namun tidak wajib
menguraikan rambutnya bagi wanita yang mandi janabat.
Dalilnya :
Sifat mandi janabah adalah hadits yang diriwayatkan oleh
Aisyah, Maimunah dan Ummu Salamah yang telah lewat
penyebutannya.
Sifat mandi wajib karena haidh adalah hadits yang diriwayatkan
oleh Aisyah, suatu ketika Asma’ bertanya kepada nabi صلى الله عليه وسلم
tentang mandi haidh, beliau menjawab : ”Ambillah air dan
bidara dan bersihkanlah (farjimu) dengan sebersih-bersihnya,
kemudian siramlah kepalamu dan gosoklah dengan kuat hingga
mengenai seluruh bagian kepalamu, lalu siramlah dengan air.
Setelah itu ambillah kapas yang dicelup wewangian dan
sucikanlah dengannya.”
Asma’ berkata : ”Bagaimana bersuci dengannya?” Nabi
menjawab : ”Maha suci Allah bersucilah dengannya!” Aisyah
berkata seakan-akan ia kawatir dengan akan tampaknya bekas
darah.
Hadits ini merupakan dalil yang terang tentang perbedaan

mandi janabat dengan mandi haidh, dimana pada mandi haidh
nabi memberikan porsi tersendiri yang lebih menekankan
pensuciannya dengan menggosok kepala dan menguraikan
rambut, sedangkan tidak demikian pada mandi janabat.
Hadits Ummu Salamah menunjukkan sifat mandi janabah yang
tidak wajib menguraikan rambut. Secara asal, menguraikan
rambut adalah sebagai peyakin supaya kulit kepala bisa terkena
air namun hal ini dimaafkan pada saat mandi janabat karena
intensitas mandi janabat relatif berulang-ulang dan karena
timbulnya kesukaran yang sangat bagi wanita untuk
menguraikan rambutnya setiap akan mandi janabat. Berbeda
dengan mandi haidh karena hanya dilakukan sekali sebulan.
(Tahdzib Sunan Abu Dawud oleh Ibnul Qoyyim (I/167/166)
dengan sedikit perubahan).

Masalah 5

Masalah 5 :
Batasan dikatakan jima’ (bersenggama)

Yang dimaksud denga jima’ adalah ’bertemunya dua khitan’
walaupun tidak sampai keluar mani. Dan batasan khitan bagi
pria adalah kepala penis dan bagi wanita adalah daging yang
tumbuh di bagian atas vagina (clitoris). Jadi batasan jima’
adalah bila kepala farji pria telah hilang (tidak tampak) masuk di
dalam farji wanita. Jika hanya menggesek di permukaan farji
wanita maka belum masuk ke dalam batasan jima’.
Jika seseorang melakukan ístimta’ (bersenang-senang) dengan
isteri tidak sampai memasukkan farjinya hanya menggesekgesekkan
saja, namun keluar mani, maka wajib mandi wajib
dari sisi keluarnya mani dengan syahwat bukan dari sisi jima’.

Masalah 4

Masalah 4 :
Perkataan ulama tentang menggosok tubuh dengan air
ketika mandi.

Para ulama berbeda pendapat tentangnya menjadi dua
pendapat:
Pendapat pertama : Menggosok hukumnya wajib menurut
Malikiyah dan al-Muzanni dari kalangan Syaf i’iyah.
Dalil :
Hadits Abu Hurairoh رضي الله عنه yang berbunyi :
تحت كل شعرة جنابة فبلوا الشعر وأنقوا البشرة
”Setiap bagian rambut terdapat janabah maka basahilah rambut
dan ratakan seluruhnya” diriwayatkan oleh Turmudzi, Abu
Dawud dan Ibnu Majah.
Sisi pendalilannya : bahwasanya الأنقاء (meratakan) tidak
berfaidah menghasilkan الإفاضة (membasahi) namun menghasilkan
التدليك (memijat/menggosok).
Pendapat kedua : Menggosok tidak wajib hukumnya, dan ini
adalah pendapat jumhur.
Dalil :
1. Hadits Aisyah yang di dalamnya terdapat lafazh :

ثم أفاض الماء على سائر جسده
”kemudian mengguyur seluruh tubuhnya dengan air”.
Muttafaq ’alaihi.
2. Hadits Maimunah yang berbunyi :
ثم أفرغ على جسده
”Kemudian menuangkan ke atas tubuh”. Riwayat Muslim.
3. Hadits Ummu Salamah, beliau berkata :
يا رسول الله إني أمرأة أشد ضفر رأسي أفأنقضه لغسل الجنابة قال لا إنما يكفيك ان
تحثي على رأسك ثلاث حثيات ثم تفيضي عليه الماء فتطهرين
”Wahai Rasulullah sesungguhya aku adalah wanita yang
lebat rambutnya, apakah perlu aku menguraikan rambutku
ketika mandi janabat?” beliau menjawab, ”Tidak,
sesungguhnya telah mencukupi kau mengguyurnya dengan
tiga cidukan air kemudian ratakan maka kau telah bersuci.”
Sisi pendalilannya : Bahwasanya hadits Aisyah dan hadits
Maimunah tidak menyebutkan di dalamnya tentang التدليك
(memijat/menggosok), sesungguhnya yang disebutkan di
dalamnya adalah إفراغ الماء (menuangkan air) yang kalimatnya
datang dalam bentuk الحصر pembatasan dengan kata ( .(إنما

Pembatasan ini menunjukkan bahwa التدليك (memijat)
tidaklah wajib, dan jika seandainya wajib maka niscaya
akan diperintahkan untuk melakukannya.
Kesimpulan : Yang Rajih adalah pendapat jumhur dikarenakan
kuatnya dalilnya.

Masalah 3

Masalah 3 :
Bermimpi namun tidak melihat adanya air (tidak basah)
Barangsiapa bermimpi namun dia tidak mendapatkan air (mani)
maka tidak wajib mandi janabat, dan barangsiapa tidak ingat
telah bermimpi namun mendapatkan air maka wajib atasnya
mandi.
Dalilnya :
Dari Aisyah beliau berkata, ”Rasulullah صلى الله عليه وسلم ditanya
tentang seorang lelaki yang mendapatkan basah namun ia tidak
ingat telah bermimpi, maka beliau menjawab : dia wajib mandi.
Beliau juga ditanya tentang seorang lelaki yang mengingat
dirinya bermimpi namun dia tidak mendapatkan basah, maka
beliau menjawab : dia tidak wajib mandi.” (Shahih, diriwayatkan
Abu Dawud dan Turmudzi).

Masalah 2

Masalah 2 :

Mani yang keluar bukan karena syahwat
Para ulama berbeda pendapat tentang mani yang keluar bukan
karena syahwat, seperti karena sakit atau karena dingin,
menjadi dua pendapat.
Pendapat pertama : Tidak wajib mandi sebagaimana
pendapatnya Imam Malik dan Abu Hanifah
Dalil :
(1) Bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم mensifati mani yang wajib
mandi adalah yang berwarna putih kental sebagaimana di
dalam hadits Ummu Sulaim yang diriwayatkan Muslim
bahwasanya beliau bertanya kepada Nabiullah صلى الله عليه وسلم
tentang seorang wanita yang melihat di dalam mimpinya
sebagaimana apa yang dilihat oleh seorang lelaki. Rasulullah
صلى الله عليه وسلم menjawab :
إذا رأت ذلك المرأة فلتغتسل
”Jika wanita melihatnya (mani, pent.) maka wajib atasnya
mandi”. Syahid dari hadits di atas adalah bahwasanya mani
keluar dengan syahwat.
(2) Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud secara marfu’ :
إذا رأيت فضخ الماء فاغتسلي

”Jika seorang wanita melihat air yang memancar maka
hendaknya mandi”. Dan الفضخ artinya keluarnya dengan kuat.
(3) Hadits nabi صلى الله عليه وسلم yang berbunyi : ”Jika air keluar
dengan memancar maka wajib mandi janabat dan jika tidak
memancar tidak wajib mandi.” (Hasan Shahih di dalam
Irwa’ul Ghalil).
Imam Syaukani berkata : ”Memancar adalah menyembur,
dan tidaklah akan demikian jika tidak disertai syahwat.” Oleh
karena itu Syaikh Abdul Azhim Badawi berkata : ”Di dalam
hadits ini terdapat peringatan tentang mani yang keluar
karena bukan syahwat baik dikarenakan sakit ataupun dingin
maka tidak wajib mandi.”
Pendapat kedua : Wajib mandi sebagaimana pendapatnya
Imam Syaf i’i.
Dalil :
(1) Hadits Ummu Sulaim, beliau berkata : Apakah wajib bagi
seorang wanita mandi jika dia bermimpi? Maka nabi صلى الله عليه
وسلم menjawab :
نعم إذا هي رأت الماء
”Iya jika ia melihat adanya air” Muttafaq ’alaihi.
(2) Hadits Abu Sa’id al-Khudri beliaui berkata : Rasulullah صلى الله

عليه وسلم bersabda :
الماء من الماء
”air (untuk mandi) karena air (mani)” Diriwayatkan oleh
Muslim.
Kesimpulan : Yang Rajih (kuat) adalah pendapat pertama,
yaitu tidak wajib baginya mandi. Argumentasinya :
Bantahan terhadap hadits pertama adalah, sesungguhnya hadits
tersebut menunjukkan mani yang keluar di saat mimpi adalah
dengan syahwat.
Bantahan terhadap hadits kedua adalah, sesungguhnya hadits
tersebut mansukh karena Abu Hurairoh رضي الله عنه berkata : Nabi صلى
الله عليه وسلم bersabda :
إذا قعد بين شعبيها الأربع ثم جهدها فقد وجب الغسل
”Jika seseorang duduk di antara cabang yang empat dan ia
bersungguh-sungguh di atasnya maka wajib baginya mandi”
Muttafaq ’alaihi. Dan dalam riwayat Muslim terdapat tambahan :
وإن لم يترل ”Walaupun tidak sampai keluar (mani)”.
Syahid dari hadits di atas adalah : Rasulullah صلى الله عليه وسلم
mewajibkan mandi walaupun tidak sampai keluar (mani).
Wallahu a’lam.

Masalah 1

Masalah 1 :
Tentang kesepakatan ulama di dalam hal-hal yang
mewajibkan mandi janabat.
Para ulama bersepakat bahwa mani yang keluar dengan
syahwat maka wajib mandi baik laki-laki maupun wanita, baik
ketika terjaga maupun tidur. Demikian pula wajib bagi wanita
yang selesai dari haidh dan nifas untuk mandi.
Dalilnya :
Firman Allah Ta’ala :
فإذا تطهرن فأتوهن
”Jika mereka telah suci maka datangilah mereka”
Hadits Fathimah binti Abi Hubaisy :
دعي الصلاة قدر الأيام التي كنت تحيضين فيها ثم اغتسلي وصلي
“Aku meninggalkan sholat beberapa hari di kala aku sedang
haidh kemudian aku mandi dan aku sholat (di saat telah
berhenti dari haidh)” Muttafaq ’alaihi.

MULHAQ (TAMBAHAN) Masalah-Masalah Seputar Mandi Wajib

MULHAQ (TAMBAHAN)
Masalah-Masalah Seputar Mandi Wajib

Penyusun : Abu Salma al-Atsary
Definisi :
al-Ghaslu الغسل artinya adalah :
تعميم البدن بالماء
membasahi seluruh tubuh dengan air
Dalilnya :
1) Firman Allah Ta’ala :
وإن كنتم جنبًا فاطهروا
“Jika kamu dalam keadaan junub maka bersucilah”
(al-Maidah : 6)
3) Firman Allah Ta’ala :
ويسألونك عن المحيض قل هو أذى فاعتزلوا النساء في المحيض ولا تقربوهن حتى يطهرن
”Mereka bertanya kepadamu tentang darah haidh, katakan
bahwa darah haidh itu kotor, maka jauhilah wanita-wanita yang

sedang haidh janganlah kau dekati mereka hingga mereka suci.”
(al-Baqoroh : 222)
Penyebab Wajibnya Mandi :
(1) Keluarnya mani baik dalam keadaan terjaga maupun dalam
keadaan tertidur.
(2) Jima’ (bersenggama) walaupun tidak keluar mani.
(3) Seorang kaf ir yang baru masuk islam.
(4) Berhentinya haidh dan nifas.
Dalilnya :
(1) Wajib mandi jika keluar mani baik dalam keadaan terjaga
maupun tidur. Berdasarkan hadits Ummu Salamah
bahwasanya Ummu Sulaim berkata : ”Wahai Rasulullah,
sesungguhnya Allah tidak malu terhadap kebenaran, apakah
wajib bagi wanita mandi jika mereka bermimpi?” Rasulullah
menjawab :
نعم إذا رأت الماء
”Iya jika dia melihat adanya air” (Muttafaq ’alaihi)
2) Jima’ walaupun tidak sampai keluar mani maka wajib mandi
berdasarkan hadits Abu Hurairoh رضي الله عنه berkata : Nabi صلى الله

عليه وسلم bersabda :
إذا قعد بين وإن لم يترل شعبيها الأربع ثم جهدها فقد وجب الغسل
”Jika seseorang duduk di antara cabang yang empat dan ia
bersungguh-sungguh di atasnya maka wajib baginya mandi
walaupun tidak sampai keluar” muttafaq ’alaihi dengan
tambahan lafazh وإن لم يترل dari Muslim.
3) Seorang Kafir baru masuk islam wajib mandi berdasarkan
riwayat Qais bin ’Ashim bahwasanya beliau masuk islam dan
nabi صلى الله عليه وسلم memerintahkannya untuk mandi dengan air
dan bidara. (Shahih diriwayatkan Nasa’i, Turmudzi dan Abu
Dawud)
4) Berhenti haidh dan nifas wajib mandi berdasarkan hadits
Aisyah, bahwasanya nabi صلى الله عليه وسلم berkata kepada
Fathimah binti Abi Hubaisy :
”Jika datang haidh maka tinggalkan sholat dan jika telah
lewat maka mandilah dan sholatlah” (Muttafaq ’alaihi). Dan
Nifas hukumnya sama dengan haidh menurut ijma’

Rukunnya :
1) Niat.
2) Membasahi seluruh badan dengan air.
Kaifiyat (cara)nya :
1) Membasuh kedua telapak tangan sampai pergelangan
tangan tiga kali.
2) Mencuci kemaluan dan sekitarnya.
3) Berwudlu’ secara sempurna sebagaimana wudlu’ akan
sholat dan mengakhirkan membasuh kakinya hingga
selesai mandi.
4) Menyiramkan air ke kepala tiga kali sambil menyelanyelai
rambut agar air mengenai ke kulit kepala.
5) Menyiramkan air ke seluruh tubuh yang dimulai dari
bagian kanan kemudian bagian kiri dengan cara
dipijat/ditekan sampai sela-sela jari jemari dan kedua
lubang telinga.
6) Membasuh kedua kaki.

Dalilnya :
ما جاء عن ائشة رضي الله عنها أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا اغتسل من الجنابة بدأ
فيغسل يديه ثم يفرغ بيمينه على شماله فيغسل فرجه ثم يتوضأ وضوءه للصلاة ثم يأخذ الماء
ويخل أصابعه في أصول الشعر حتى إذا أنه (استبرأ حقن على رأسه ثلاث حثيات ثم أفاض
على سائر جسده) رواه البخاري ومسلم وفي رواية بدأ بشق رأسه الأيمن ثم الأيسر.
وكذلك حديث ميمونة في البخاري
Hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah bahwasanya Nabi صلى الله عليه
وسلم jika mandi janabah beliau memulai dengan membasuh kedua
tangannya yang diawali dengan tangan kanannya kemudian
tangan kirinya, kemudian beliau membasuh kemaluannya dan
berwudlu’ sebagaimana wudlu’nya akan sholat. Kemudian beliau
mengambil air sembari memasukkan jari-jemarinya (menyelainyelai)
kulit kepalanya sampai beliau memandang bahwa kulit
kepalanya telah basah, lantas beliau mengguyur kepalanya
dengan tiga gayung air, setelah itu beliau menyiram seluruh
tubuhnya. Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, di dalam
riwayat lainnya beliau memulai dengan menyelai-nyelai kepala
bagian kanan kemudian kirinya. Demikian hadits Maimunah
yang diriwayatkan Bukhari.

Maroji’ :

Maroji’ :
1. Asy-Syarhul Mumti’, karya Syeikh Al-Utsaimin.
2. Thuhurul Muslim, karya Syeikh Al-Qohthony.
3. Al-Fiqh Al-Islami, karya Doktor Wahbah Az-Zuhaili.
4. Tamamul Minnah,Karya Syaikh Al-Albani
5. Jami’ Ahkamun Nisa’, karya Syaikh Mustafa Al-Adawi
6. Fatawa Al-Madinah Al-Munawaroh, karya Syaikh Al-
Albani
7. Irwaul golil, karya Syaikh Al-Albani jilid 1
8. Taisirul ‘Alam, Karya Syaikh Ali Bassam
9. Majmu’ Fatawa, karya Syaikh Utsaimin, jilid 4
10. Fathul Bari, jilid 1

Mandi-mandi yang disunnahkan

Mandi-mandi yang disunnahkan

1. Mandi hari Jum’at
Sesuai dengan hadits Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu
bahwasanya Rosulullah bersabda :
َ غ  س ُ ل ي  ومِ اْل  جمِعةِ  واجِ  ب  عَلى ُ كلِّ م  حتلِمٍ
Mandi hari jum’at adalah wajib bagi setiap orang yang mimpi
(baligh)87
Dan hadits ‘Aisyah dia memarfu’kannya :
اْلغ  س ُ ل ي  وم اْل  جمِعةِ  واجِ  ب  عَلى ُ كلِّ م  حتلِمٍ  و َأ ْ ن ي  ست  ن  وَأ ْ ن ي  م  س طِيبا إِ ْ ن  و  ج د
Mandi pada hari jum’at wajib bagi setiap orang yang mimpi
(baligh) dan bersiwak dan memakai minyak wangi jika dia
mendapatkannya.88
Namun ada khilaf apakah hukum mandi jum’at itu wajib atau
sunnah.
2. Mandi untuk berihrom
Sesuai dengan hadits Zaid bin Tsabit Radhiyallahu ‘anhu:

َأنَّ النبِ  ي ت  جرد لإِ  ه َ لالِهِ  وا ْ غت  س َ ل
Bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidak berpakaian
untuk berihlal dan beliau mandi89
3. Mandi ketika masuk Mekah
Karena Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu tidaklah dia masuk Mekah
kecuali dia bermalam di Dzi Tuwa hingga subuh dan dia mandi,
dan dia menyebutkan bahwasanya hal itu (apa yang telah
dilakukannya) dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam90
4. Mandi setiap kali akan bersenggama
Sesuai dengan hadits Abu Rof i’Radhiyallahu ‘anhu:
َأنَّ النبِ  ي َ طا  ف َذا  ت ي  ومٍ  عَلى نِ  سائِهِ, ي  غتسِ ُ ل عِن  د هذِهِ  وعِن د هذِه. َقا َ ل : َفُقْل  ت :يا  ر  س  و َ ل
اللهِ, َأ َ لا ت  جعُله ُ غ  س ً لا  واحِ  د؟ َقا َ ل : ه َ ذ َأ  ز َ كى  وَأ ْ طي  ب
Bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengelilingi istriistrinya
pada suatu hari, dan dia mandi di sisi istri yang ini dan
di sisi istri yang ini. Berkata Abu Rof i’ Radhiyallahu ‘anhu : Lalu
aku berkata :”Ya Rosulullah, tidakkah engaku menjadikannya

sekali mandi saja ?”, Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam
berkata : “Ini lebih bersih dan lebih baik”91
Untuk masalah mengulangi jimak, maka ada tiga tingkatan :
1. Dia mandi sebelum dia mengulanginya. Ini adalah
tingkatan yang paling sempurna.
2. Dia hanya berwudlu sebelum dia mengulangi jimaknya.
Tingkatan ini adalah di bawah tingkatan yang pertama.
3. Dia mengulangi jimak tanpa mandi dan tanpa wudlu.
Ini adalah tingkatan yang peling rendah, namun hal ini
boleh.92
5. Mandi setelah memandikan mayat
Sesuai dengan hadits Abu Huroiroh Radhiyallahu ‘anhu, dia
memarfu’kannya :”Barangsiapa yang memandikan mayat maka
mandilah”93, dan sesuai dengan hadits ‘Aisyah, dia berkata
:”Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mandi karena empat
perkara : karena janabah, karena hari jum’at, karena berbekam,
dan karena memandikan mayat”94.

Dan yang menunjukan bahwa hal ini tidaklah wajib adalah hadits
Asma’ binti ‘Umais (istri Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu), dia
memandikan Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu ketika Abu Bakr
Radhiyallahu ‘anhu wafat, lalu dia keluar dan bertanya kepada
para muhajirin yang bertemu dengannya. Lalu dia berkata
:”Sesungguhnya saya berpuasa dan hari ini adalah hari yang
dingin sekali, apakah aku harus mandi (setelah memandikan
Abu Bakr Radhiyallahu ‘anhu)?, lalu mereka berkata :”Tidak”95
Syaikh Bin Baz menjelaskan bahwasanya hal ini menunjukan
bahwasanya mandi karena memandikan mayat adalah hal yang
ma’lum (yang diketahui) oleh para shahabat, tetapi hal ini
adalah sunnah.96
6. Mandi karena mengubur orang musyrik
Sesuai hadits Ali bin Abi Tholib Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya
beliau mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, lalu Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berkata :”Sesungguhnya Abu Tholib
telah mati”, lalu beliau berkata :”Pergilah engkau lalu
kuburkanlah dia!”. Ali Radhiyallahu ‘anhu berkata
:”Sesungguhnya dia mati dalam keadaan musyrik”. Beliau
berkata :”Pergilah dan kuburlah dia”. (Ali Radhiyallahu ‘anhu
berkata) :”Ketika aku telah menguburnya aku kembali ke Nabi

Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, lalu beliau berkata kepadaku :
”Mandilah”97
7. Mandi bagi orang yang beristihadloh ketika akan setiap
akan sholat atau ketika menggabungkan dua sholat
Sesuai dengan hadits ‘Aisyah bahwasanya Ummu Habibah
mengalami istihadloh di masa Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa
Sallam, lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memerintahnya
untuk mandi setiap sholat.98 Dan hadits Hamnah binti Jahsin
bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berkata
kepadanya :”Aku akan memerintahkan engkau dengan dua
perkara, mana diantara keduanya yang engkau laksanakan
maka telah mencukupi engkau, kalau engkau mampu untuk
melaksanakan keduanya maka engkaulah yang lebih
mengetahui.” Dan dalam riwayat yang lain Nabi Shallallahu
‘alaihi wa Sallam berkata kepadanya :”Dan jika engkau mampu
untuk mengakhirkan sholat Dzuhur dan engkau menyegerakan
sholat Ashar lalu engkau mandi dan engkau menggabungkan
antara dua sholat Dzuhur dan Ashar dan engkau mengakhirkan
Magrib dan menyegerakan Isya’ lalu engkau mandi dan engkau
menggabungkan dua sholat, maka lakukanlah !. Dan engkau

mandi bersama sholat subuh maka lakukanlah, dan berpuasalah
jika engkau mampu untuk itu.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
Sallam berkata :”Ini adalah perkara dari dua perkara yang
paling aku sukai”99
8. Mandi setelah pingsan.
Sesuai dengan hadits ‘Aisyah, beliau berkata : Nabi Shallallahu
‘alaihi wa Sallam dalam keadaan sakit yang berat, lalu berkata
:”Apakah manusia telah sholat?”, kami berkata :”Belum,
mereka sedang menunggu engkau.”, beliau berkata :
ضع  وا لِ  ي ماءً فِ  ي اْلمِ  خ  صبِ  (”Letakkan untukku air di mikhdlob”100). ‘Aisyah
berkata : Maka kami lakukan (permintaan beliau untuk
mengambil air), lalu beliau mandi, lalu beliau bangkit, maka
beliau pingsan. Kemudian beliau sadar lalu berkata : “Apakah
manusia telah sholat?”, kami berkata :”Belum, mereka sedang
menunggu engkau ya Rosulullah”. Beliau berkata :”Letakkan
untukku air di mikhdlob” maka dia duduk dan mandi…..”101
Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam melakukan hal itu tiga
kali dan dia dalam keadaan berat dengan sakitnya, maka hal ini
menunjukan akan sunnahnya mandi karena pingsan.

9. Mandi karena berbekam.
Sesuai dengan hadits ‘Aisyah, berkata :
َ كا َ ن  ر  س  و ُ ل اللهِ ي غتسِ ُ ل مِ  ن َأ  ربعٍ : مِ  ن اْل  جنابةِ,  وي  ومِ اْل  ج  معةِ,  و مِ  ن اْلحِ  جامةِ,  و مِ  ن َ غ  سلِ
اْل  ميتِ
Adalah Rosulullah mandi karena empat hal, karena janabah,
karena hari jum’at, karena berbekam, dan karena memandikan
mayat.102
10. Mandi ketika masuk Islam (bagi yang menganggap
hal ini adalah sunnah).
Lihat pembahasan sebelumnya
11. Mandi ketika dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adlha).
Berkataan para ulama tidak ada hadits yang shohih dari Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam masalah ini.
Berkata Syaikh Al-Albani :”Dan yang paling baik yang dijadikan
hujjah akan sunnahnya mandi ketika dua hari raya adalah apa
yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari jalan As-Syafi’i dari
Zadan, dia berkata :”Seorang laki-laki bertanya kepada Ali

Radhiyallahu ‘anhu tentang mandi, maka Ali Radhiyallahu ‘anhu
berkata :”Mandilah setiap hari jika engkau kehendaki !”, lalu
laki-laki itu berkata :”Bukan, (tapi) mandi yang benar-benar
mandi”, Ali Radhiyallahu ‘anhu berkata :”(Mandi) pada hari
Jum’at, pada hari ‘Arofah103, pada hari An-Nahr (Idlul Adlha’),
dan pada hari ‘Idul Fitri”104. Dan dari Sa’id ibnil Musoyyib
bahwasanya beliau berkata : “Sunnah hari raya ‘Idul Fitri ada
tiga, berjalan ke musholla (tanah lapang), makan sebelum
keluar (ke musholla), dan mandi”105. Dan telah tsabit
bahwasanya Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu ‘anhu mandi pada
hari ‘Idul Fitri sebelum beliau berangkat ke musholla.106
12. Mandi ketika hari ‘Arofah.
Dalilnya sebagaimana telah lalu.

…………………………………………………………………………………….

87 Bukhori no 879, dan Muslim 2/580 no 846
88 Bukhori no 880 dan Muslim 2/581 no 846

89 Dishohihkan oleh Al-Albani dalam shohih Ay-Thirmidzi 1/250, lhat Al-Irwa’ no 149
90 Bukhori (Al-Fath 3/436), dan Muslim 2/919

91 Abu dawud no 219, Nasai, Thobroni, dan dihasankan oleh Al-Albani dalam shohih Abu
dawud 1/43, dan Adabuz Zifaf hal 32.
92 Majmu’ Fatawa Syaikh Utsaimin 4/229,230
93 Hadits hasan, lihat Al-Irwa’ no 144
94 Riwayat Abu Dawud 1/96 no 3160 dan dishohihkan oleh Ibnu Khuzaimah, berkata
Syaikh Bin Baz :”Isnadnya la ba’sa bihi atas syarat Muslim”

95 Dikeluarkan oleh Malik dalam Al-Muwatto’ 1/223 dan dihasankan sanadnya oleh Abdul
Qodir Al-Arna’uth dalam jami’ul ushul 7/338
96 Thuhurul Muslim hal 139

97 Riwayat Abu Dawud no 3214, dan Nasai 1/110 dan 4/79, dan Ahmad, dan selain
mereka.Dishohikan oleh Abdul Qodir Al-Arnauth dalam takhrij jami’il ushul 7/337, lihat
shohih An-Nasai no 184. Berkata Syaikh Bin Baz :”Jika shohih hadits ini maka mandi
karena menguburkan orang musyrik adalah sunnah” (Thuhurul Muslim hal 140)
98 Dishohikan oleh Al-Albani dalam shohih sunan Abi Dawud 1/58 no 274.

99 Dihasankan oleh Al-Albani dalam shohih sunan Abi Dawud 1/59 dan dalam Al-Irwa’
1/202
100 Dikatakan bahwa mikhdlob adalah tempayan kecil yang digunakan untuk mencuci baju
(Thuhurul Muslim hal 142)
101 Riwayat Bukhori dalam Al-Fath no 687 dan Muslim 1/418

102 Riwayat Abu Dawud 1/96 no 3160dan dishohihkan oleh Ibnu Khuzaimah, berkata
Syaikh Bin Baz :”Isnadnya la ba’sa bihi atas syarat Muslim”

103 Maksudnya hari ‘Arofah ketika akan haji
104 Lihat Al-Irwa’ 1/177 dan sanadnya shohih yaitu mauquf hingga Ali 
105 Berkata Al-Albani : Diriwayatkan oleh Al-Firyabi, dan isnadnya shohih, lihat Al-Irwa’
3/103
106 Muwatho’ Imam Malik 1/177

Untuk yang Sehati

Bercita-cita mengamalkan Islam secara utuh adalah suatu hal yang wajib bagi setiap muslim....
Namun bila belum mampu seluruhnya, jangan ditinggalkan semuanya....Karena Alloh Subhanahu wata'ala tidak membebani seseorang kecuali sesuai kemampuan maksimal yang dimiliki...

Buat diriku & dirimu

....Jangan pernah merasa cukup untuk belajar Islam, karena semakin kita tahu tentang Islam, semakin kita tahu tentang diri kita (...seberapa besar iman kita, ...seberapa banyak amal kita,....seberapa dalam ilmu kita, dan sebaliknya...seberapa besar kemunafikan kita, ...seberapa banyak maksiat kita, ...seberapa jauh kedunguan kita)
....Barangsiapa mengenal dirinya, maka semakin takut ia kepada Alloh Subhaanahu wata'ala

Do’a kita

Semoga Alloh Subhaanahu wata'ala meneguhkan hati kita dalam Islam hingga maut menjemput kita,...aamiin

Kalender

Maret 2017
S M S S R K J
« Mei    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Total Pengunjung

  • 207,978 klik