AL-QUR’A N, PEDOMAN SETIAP INSAN

Tidak diragukan lagi, bahwa Al-Qur’an merupakan kitab yang diturunkan Allah ta’alah kepada Rasul-Nya sebagai pedoman dan petunjuk bagi hamba-Nya supaya dibaca tulisannya, difahami ma’nanya dan diamalkan isinya. Namun sangat disayangkan, Al-Qur’an yang seharusnya dijadikan pedoman hidup, sekarang banyak dilalaikan, bahkan yang lebih memperhatikan lagi, masih banyak diantara kaum muslimin Yang masih belum mampu membaca Al-Qur’an. Kalau membaca Al-Qur’an saja tidak bisa, bagaimana memahaminya?. Walhasil, Al-Qur’an masih dijadikan sekedar pajangan rumah.

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآَنَ مَهْجُورًا (30)

Berkatalah Rosul: “Ya Robku, sesungguhnya kaumku menjadikan AL-Qur’an ini suatu yang tidak diacuhkan (Al Furqon: 30)
Hanya kepada Allahlah kita mengadu.

MAKNA AL-QUR’AN

Al-Qur’an secara bahasa artinya membaca atau mengumpulkan.
Adapun menurut syara’ adalah kalam (perkataan) Allah ta’ala yang diturunkan kepada Rasul dan penutup para Nabi-Nya, Muhammad صلى الله عليه وسلم yang diawali surat Al-Fatihah dan diakhiri surat An-Naas.
Allah berfirman:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآَنَ تَنْزِيلًا (23)

Sesungguhnya kami benar-benar menurunkan AL-Qur’an kepadamu (Al-Insan: 23)

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآَنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ (2)

Sesungguhnya kami menurunkan berupa Al-Qur’arn dengan berbahasa arab agar kalian memahaminya”. (Q.S Yusuf: 2) (Lihat “Ushul fit tafsir” oleh syeikh ibnu Utsaimin).

TUJUAN AL-QUR’AN

Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa Al-Qur’an yang mulia ini diturunkan untuk tiga hal:

* Beribadah kepada Allah Ta’alah dengan membacanya.
* Dipelajari isi dan kandunganya
* Diamalkan.

Lihatlah para sahabat Rasulullah! Mereka mempelajari Al-Qur’an tidak lebih dari sepuluh ayat, sampai mereka memahami ilmu yang dikandungnya dan mengamalkanya. Barulah setelah itu mereka menambah dengan ayat yang lain. Hingga seorang diantara mereka pernah mengatakan: “apabila kami mempelajari sepuluh ayat Al-Qur’an kami tidak beranjak meneruskannya hingga kami mendalaminya, memahami kandungannya dan mengamalkannya (lihat “syarah muqodimah tafsir” oleh syeikh ibnu Utsaimin)

Wahai saudaraku marilah kita mendekatkan diri beribadah kepada Allah dengan banyak membaca Al-Qur’an. Rasulullah kerap kali memotivasi kaum muslimin supaya mereka rajin membaca Al-Qur’an. Diantaranya beliau bersabda;

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

Barangsiapa membaca satu huruf dari kitab Allah (Al Qur’an) maka akan memperoleh satu kebaikan, dan kebaikan tersebut dilipat gandakan menjadi sepuluh kebaikan, aku tidak mengatakan الم satu huruf, akan tetapi “ ا” satu huruf, “ ل” satu huruf, “ م” satu huruf’.
(syeikh Al-Bani berkata dalam “ Shifat shalat Nabi” hal 101: “ diriwayatkan oleh Tirmidzi, Hakim, dengan sanad shahih dan oleh Al-A’jurry dalam “Hamalatul Qur’an” Lihat “As Shahihah” no.660)
Sabdanya pula:

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ

Bacalah al-qur’an, karena sesungguhnya dia akan datang pada hari kiamat sebagai pembela bagi orang yang mempelajarinya dan menta’atinya” H.R Muslim dari Abu Umamah).

Akan tetapi tidak cukup hanya sekedar membacanya. Meskipun hal itu sudah mendapatkan pahala yang berlimpah dari Allah سبحانه وتعالى sesuai sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم diatas. Tetapi harus dipahami maknanya. Sebab tanpa memahaminya, tidak akan mendapatkan petunjuk, firmanNya:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآَنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

Maka apakah mereka tidak memperhatikan AL-Qur’an ataukah hati mereka terkunci. (Muhammad 24).

Berkata Ibnu Katsir: “Allah ta’alah memerintahkan agar Al-Qur’an ditadabburri dan dipahami maknanya dan melarang berpaling dari AL-Qur’an (tidak mau memahaminya), (bagi siapa tidak mau mentadabburinya) maka hatinya terkunci, makna Al-Qur’an sedikitpun tidak bisa masuk kedalamnya. (Tafsirul Qur’anil ‘Adhim)

Rosulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

القُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ

Dan Al-Qur’an itu hujjah bagimu atau hujjah (melawan) kamu (H.R Muslim 223)

Berkata imam Nawawi dalam syarah Muslim: “maknanya sangat jelas yaitu siapa yang mengambil manfaat dari Al-Qur’an dan mengamalkanya maka dia menjadi pembelanya, tetapi jika tidak dia akan menjadi lawannya .” (2/457).

URGENSI (PENTINGNYA) AL-QUR’AN

Al-Qur’an merupakan manhaj (jalan hidup) untuk menggapai kehidupan abadi yang bahagia dan sejahtera. Taukah anda apa dan bagaimana jalan hidup orang yang termulia di muka bumi ini Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم?!! Jawabannya kita serahkan kepada istri tercinta beliau, Aisyah rodhiyallahuanha: “Akhlak beliau adalah Al-Qur’an.” Oleh karenanya, barang siapa yang menjadikan Al-Qur’an sebagai jalan hidupnya, niscaya dia akan berbahagia. Sebaliknya, barang siapa yang berpaling darinya, niscaya dia akan sengsara. Camkanlah baik-baik firman Allah berikut ini:

قَالَ اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيعًا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى (123) وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى (124) قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا (125) قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ آَيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَى (126)

Maka jika datang kepadamu petunjuk dariKu, maka barang siapa yang mengikuti petunjukKu, Niscaya dia tidak akan sesat dan celaka. Dan barang siapa yang berpaling dari peringatanku, maka baginya kehidupan yang sempit dan kami akan menghimpunnya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia: wahai Robku, : “ mengapa engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta sedangkan dahulu aku adalah orang yang melihat? Allah berfirman: “demikianlah, telah datang kepada kalian ayat-ayat Kami, lalu kalian melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kalianpun dilupakan (Q.S Thaha : 123-126)

Syaikhul islam ibnu Taimiyah mengatakan bahwa yang dimaksud dengan “Adz-Dzikraa” (peringatan) adalah Al-Qur’an dan kitab-kitab lain yang diturunkan. (Syarah Aqidah Wasithiyah hal: 35-36). Kemudian marilah kita perhatikan bersama-sama firman Allah berikut ini:

وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (52) صِرَاطِ اللَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ أَلَا إِلَى اللَّهِ تَصِيرُ الْأُمُورُ (53)

Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Qur’an) dengan perinyah kami.sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengannya siapa yang kami kehendaki diantara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus” (Q.S Asy Syura: 52-53).

Dalam ayat yang mulia ini Allah ta’ala mensifati AL-Qur’an dengan “Ar-Ruh” sebagai isyarat bahwa kehidupan tidak ada artinya tanpa Al-Qur’an. Ayat ini juga menunjukkan bahwa hidayah tidak dapat diraih kecuali dengan Al-Qur’an. Mengapa demikian? Jawabannya karena nabi kita Muhammad saja tidak mendapatkan hidayah kecuali dengn Al-Qur’an, apalagi kita sebagai pengikutnya.

Satu hal lagi yang perlu ditegaskan disini, bahwa Al-Qur’an merupakan petunjuk yang paling adil bagi manusia sepanjang zaman dan dalam segala persoalan. Bukankah Allah Ta’ala telah menyatakan dalam kitabnya:

إِنَّ هَذَا الْقُرْءَانَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada yang paling baik.” (Al-Isra’ : 9)

Alangkah agung dan bijaksana ucapan ini! Karena petunjuk Al-Qur’an mencakup segala aspek kehidupan, baik aqidah, akhlaq, politik, ekonomi, amalan dunia, akherat, dan selainnya. Al-Qur’an adalah petunjuk yang paling adil dan baik. (Lihat “Qowaidul Hissan Litafsiril Qur’an” hal.177 oleh syaikh Abdurrohman As Sa’di).

Dari ayat-ayat diatas kita dapat mengetahui, betapa pentingnya Al-Qur’an bagi kehidupan manusia. Baik dan rusaknya manusia di dunia dan akheratnya ditentukan oleh kemesraannya dengan Al-Qur’an. Oleh karena itu, kita harus memprioritaskan, meninggikan dan menjadikannya sebagai kebutuhan primer kita, lebih dari makanan dan minuman. Caranya dengan cara mempelajarinya dan memahaminya dengan benar, yaitu pemahaman salafus sholih. Usai itu kita realisasikan dan praktekan dalam kehidupan kita sehari-hari. Akhirul kalam, mudah-mudahan Allah ta’ala memberikan taufiq kepada kita untuk mewujudkannya (Muhammad Amin).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Untuk yang Sehati

Bercita-cita mengamalkan Islam secara utuh adalah suatu hal yang wajib bagi setiap muslim....
Namun bila belum mampu seluruhnya, jangan ditinggalkan semuanya....Karena Alloh Subhanahu wata'ala tidak membebani seseorang kecuali sesuai kemampuan maksimal yang dimiliki...

Buat diriku & dirimu

....Jangan pernah merasa cukup untuk belajar Islam, karena semakin kita tahu tentang Islam, semakin kita tahu tentang diri kita (...seberapa besar iman kita, ...seberapa banyak amal kita,....seberapa dalam ilmu kita, dan sebaliknya...seberapa besar kemunafikan kita, ...seberapa banyak maksiat kita, ...seberapa jauh kedunguan kita)
....Barangsiapa mengenal dirinya, maka semakin takut ia kepada Alloh Subhaanahu wata'ala

Do’a kita

Semoga Alloh Subhaanahu wata'ala meneguhkan hati kita dalam Islam hingga maut menjemput kita,...aamiin

Kalender

November 2011
S M S S R K J
« Agu   Des »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Total Pengunjung

  • 203,767 klik
%d blogger menyukai ini: