DAKWAH SALAFIYAH, SUATU KEMESTIAN

Rosulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

يُوشِكُ اْلأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

Hampir saja umat manusia mengerubuti kalian sebagaimana mengerubuti makanan di piring. berjumlah banyak, tetapi (bagai) buih, seperi buih air bah. Dan Allah benar-benar mencabut rasa takut dari musuh kalian terhadap kalian, dan menyusupkan kedalam dada kalian wahn. Seseorang bertanya: “ wahai rosulullah apakah wahn itu?” jawab beliau: “cinta dunia dan takut mati.” Shohih, riwayat abu dawud 4297.

كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُوْنَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْخَيْرِ وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِيْ فَقُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّا كُنَّا فِيْ جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ فَجَاءَنَا اللهُ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ وَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ قَالَ نَعَمْ وَفِيْهِ دَخَنٌ قَلْتُ وَمَا دَخَنُهُ قَالَ قَوْمٌ يَهْدُوْنَ بِغَيْرِ هَدْيِيْ تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ قُلْتُ فَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ دُعَاةٌ إِلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوْهُ فِيْهَا قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ صِفْهُمْ لَنَا فَقَالَ هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُوْنَ بِأَلْسِنَتِنَا قُلْتُ فَمَا تَأْمُرُنِيْ إِنْ أَدْرَكَنِيْ ذَلِكَ قَالَ تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَإِمَامَهُمْ قُلْتُ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا إِمَامٌ قَالَ فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجْرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ

Dari Hudzaifah bil Al Yaman رضي الله عنه , ia berkata: “manusia bertanya kepada Rosulullah صلى الله عليه وسلم perkara yang baik , sedang aku bertanya kepada beliau perkara yang jelek, lantaran aku takut akan menimpaku. Kataku “wahai Rosulullah, dulu kami berada dalam kejahilan dan kejelekan, lalu Allah mendatangkan kebaikan ini (Islam), apakah setelah kebaikan ada kejelekan”. Jawabnya: “ada”. Tanyaku: “apakah sesudah kejelekan itu ada kebaikan?” Jabwabnya: “ada, tetapi terdapat dukhon.” Apa dakhonnya?” Jawabnya: “ Suatu kaum yang tidak mengambil petunjuk, kalian mengenalnya dan akan mengingkari mereka.” Kataku:” Apakah usai kebaikan itu ada kejelekan?” jawabnya: “ada” (yaitu) para da’i yang menyeru kepintu-pintu jahannam, siapa yang menyambut mereka maka akan mereka lemparkan kedalam-nya. Kataku: “gambarkan sifat mereka wahai Rosulullah. “ Jawabnya: “mereka sebangsa dengan kita dan berbicara dengan bahasa kita.” Tanyaku” apa yang engkau perintahkan kepadaku jika hal itu menemuiku.” Jawabnya: “Bergabunglah dengan jamaah kaum muslimin dan imam mereka.” Tanyaku: “Jika tidak ada jama’ah dan imam?” Jawabnya:” jauhi semua firqoh itu, sekalipun engkau mengigit akar pohon hinga maut menjemputmu dan engkau tetap komitmen.” (Riwayat Bukhori 3606, 7084)

Dua hadits tadi mengambarkan kondisi umat Islam sepeninggal Rosulullah dan telah menjaid kenyataan. Hadits pertama mengisyaratkan bahwa orang-orang kafir senantiasa mengintip untuk mengenyahkan kaum muslim$in, rasa takut tiada lagi menyertai mereka. Sehinga dengan terang-terangan, mengintimidasi dan menyerang kita. Itu belum makar yang rahasia, tentu lebih jahat lagi. Umat islam bagai bola yang bisa mereka giring kemana suka, selaras dengan kepentingan yang mereka canangkan. Izzah umat Islam bagai fatamorgana yang seakan mustahil teraih. Apa yang mendorong nekat seperti itu? Rosulullah sabdakan bahwa kaum muslimin sudah terlena dengan gemerlapnya dunia. Fenomena ini sangat nampak di pelupuk mata. Kita menyaksikan mereka menjadikan dunia sebagai orientasi hidupnya. Sampai ada celetupan “Kecil bermanja-manja, muda berfoya-foya, tua berleha-leha, mati masuk surga.” Gaya hidup model begini menjangkitkan penyakit ogah mati. Lantaran sudah gandrung dengan dunia dan hartanya. Seakan harta itu bisa mengekalkannya. Allahul Musta’an.
Begitu pula hadits kedua. Gambaran yang tidak kalah mengerikan . Karena bala’ ini menyusup ditengah kaum muslimin, tanpa mereka sadari. Bahkan dianggap sunnah. Itulah bid’ah. Merupakan dakhon yang dicetuskan oleh firqoh-firqoh sesat seperti Mu’tazilah, Sufiyah, Jahmiyah, Asy’ariyah, Syi’ah dan lainya. Bid’ah merupakan virus yang ganas karena menyerang hati, sehingga imam Adz Dzahabi berucap: ”Mayoritas ulama salaf sepakat untuk mewaspadai bid’ah, karena hati itu lemah dan bid’ah ganas menyambar”. Kemudian juga akan bangkit para juru dakwah (da’i) yang mendakwahkan syirik, bid’ah dan pola pikir yang sesat dan nyeleneh, semisal reaktualisasi pemikiran keagamaan, demokrasi, emansipasi, penyetaraan agama dan lainya sehingga dapat menyeret kelembah jahannam. Mulailah kaum muslimin jaga dari lelapnya. Terbukti dengan banyaknya jama’ah yang muncul. Hanya saja tampil dengan manhaj (metode) dakwah yang beragam. Ada yang menempuh cara tasawuf, ada lewat jalur politik, ada lewat pemberdayaan ekonomi, ada yang meneriakan persatuan umat walaupun aqidahnya centang-perenang; masih doyan syirik, bid’ah dll. Munculah slogan “kita saling membantu dalam perkara yang kita sepakati, dan tidak saling manyalahkan dalam perkara yang kita perselisihkan.”
Sekalipun demikian semuanya mengklaim berpijak diatas Al Qur’an dan Sunnah. Tetapi mengapa tidak bisa bersatu dan tujuan yang diidam-idamkan tak kunjung terealisir. Jawabnya tiada lain , karena mereka memahami kitab dan sunnah bertopang pada penafsiran sendiri. Jadi tidak aneh bila tujuan sulit tercapai, dan sulit guyub rukun, lantaran setiap jama’ah memiliki penafsiran sendiri-sendiri terhadap Al Qur’an dan sunnah. Lalu bagaimana jalan keluarnya?
Beliau memberikan solusi yang jitu yaitu iltizam (komitmen) kepada jama’ah, yaitu memegang teguh Al Qur’an dan sunnah sesuai dengan metode salaf sholih. Inilah yang sering dilalaikan kebanyakan jamaah, yaitu pemahamana salafus sholih. Itulah wasiat Rosulullah صلى الله عليه وسلم kepada kita semua, agar memegang sunnah para sahabatnya, sabdanya:

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّيْنَ الرَّاشِدِيْنَ، تَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِانَّوَاجِذِ

Wajib bagi kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah khulafa’ur Rasyidin yang mendapat petunjuk , pegangilah dengan kuat, dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. (Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Daud [4607] -–lafal hadits ini adalah milik beliau–, dikeluarkan pula oleh At-Tirmidzi [2676] dan Ibnu Majah [43—44]; At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan shahih”
Sabdanya Pula\

لَتَفْتَرِقَنَّ أُمَّتِي عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَثِنْتَانِ وَسَبْعُوْن فِي النَّارِ. قِيْلَ يَا رَسُولُ اللهِ مَنْ هُمْ ؟ قَالَ : مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي

Umatku akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya masuk neraka kecuali satu,” para sahabat bertanya :” siapa dia wahai Rosulullah?”. Jawab beliau:” Siapa yang meniti apa yang aku dan para sahabatku menitinya”. (Hadits riwayat Tirmidzi dihasankan oleh Al Albani dalam shohihul jami’ no.5343).
Hal ini selaras dengan firman Allah

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا (115)

Dan barang siapa yang menentang Rosul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu, dan kami masukan ia kedalam jahannam,dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali (Q.S An Nisa’: 115)

Betapa bagusnya ucapan Syaikhul Islam ibnu Taimiyah:” Bahwa kedua sifat ini (menentang Rosul dan menyelisihi jalan orang-orang mukmin patut mendapat celaan karena sifat yang satu melazimkan kepada sifat yang lain, siapa yang menentang Rosul otomatis tidak mengikuti jalan sahabat, dan siapa yang tidak mengikuti jalan sabahat berati menentang Rosul. . . (Majmu’ Fatwa 19/193-194).

Maka mengikuti manhaj salaf merupakan kelaziman yang tidak bisa ditawar lagi. Merekalah generasi terbaik,sebagaimana sabda beliau:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِى ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

Manusia yang terbaik adalah masaku, kemudian sesudahnya, kemudain sesudahnya (H.R Bukhori: 2652)

Imam Ahmad mengatakan: “Pokok sunnah (dien) menurut kami adalah berpegang teguh dengan jalan para sahabat Rosulullah dan meneladani mereka.” (Ushulus Sunnah oleh Imam Ahmad)

Manhaj salaf berarti mengikuti metode yang ditempuh oleh para salaf (sahabat) baik dalam beraqidah, beramal, bertahkim, (menetapkan dan menerapkan syari’at), tarbiyah dan mensucikan jiwa. Salafiyah adalah manhaj (metode), bukan suatu jama’ah tertentu dan aturan tertentu sebagaimana disangkan oleh sebagian orang.

Berkata Al Alamah Al Albani :”tatkala kita intima’ (menasabkan) kepada salaf, maknanya adalah adalah kita intima’ kepada generasi terbaik , tetapi perlu diperhatikan bahwa intima’ ini bukanlah kepada pribadi atau kepada suatu jama’ah yang sangat mungkin bisa jatuh kepada kesalahan, atau kesesatan baik sedikit atau banyak.” (Manhaj Salaf menurut Syaikh Al Albani hal.14).

Berkata syaikhul Islam: “tidak ada cela bagi yang menampakan manhaj salaf dan menisbatkan diri kepadanya, bahkan secara mufakat wajib menerimanya, , karena manhaj salaf pasti benar.” (majmu’ Fatawa 4/149)

Berkata Al Allamah Al Albani:” oleh karena itu tiada jalan bagai seorang muslim yang ingin termasuk Firqoh Najiyah (golongan yang selamat).

الله أعلم بالصواب

Redaksi

(Majalah Al Furqon edisi 1 tahun 1, pada waktu itu masih dalam bentuh Buletin Al Furqon)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Untuk yang Sehati

Bercita-cita mengamalkan Islam secara utuh adalah suatu hal yang wajib bagi setiap muslim....
Namun bila belum mampu seluruhnya, jangan ditinggalkan semuanya....Karena Alloh Subhanahu wata'ala tidak membebani seseorang kecuali sesuai kemampuan maksimal yang dimiliki...

Buat diriku & dirimu

....Jangan pernah merasa cukup untuk belajar Islam, karena semakin kita tahu tentang Islam, semakin kita tahu tentang diri kita (...seberapa besar iman kita, ...seberapa banyak amal kita,....seberapa dalam ilmu kita, dan sebaliknya...seberapa besar kemunafikan kita, ...seberapa banyak maksiat kita, ...seberapa jauh kedunguan kita)
....Barangsiapa mengenal dirinya, maka semakin takut ia kepada Alloh Subhaanahu wata'ala

Do’a kita

Semoga Alloh Subhaanahu wata'ala meneguhkan hati kita dalam Islam hingga maut menjemput kita,...aamiin

Kalender

November 2011
S M S S R K J
« Agu   Des »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Total Pengunjung

  • 203,765 klik
%d blogger menyukai ini: