IMAN KEPADA TAKDIR

IMAN KEPADA TAKDIR

……………………………………..
Al qadar adalah takdir Allah  untuk seluruh makhluk yang
ada sesuai dengan ilmu dan hikmahNya.
Iman kepada takdir mangandung empat unsur :
1. Mengimani bahwa Allah mengetahui segala sesuatu
secara global maupun terperinci, azali dan abadi, baik
yang berkaitan dengan perbuatan-Nya maupun
perbuatan para hamba-Nya.
2. Mengimani bahwa Allah telah menulis hal itu di “Lauh
Mahfudz”.
Tentang kedua hal tersebut Allah berfirman, yang
artinya :
“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya
Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di
bumi; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam
sebuah kitab (Lauh Mahfudzh)? Sesungguhnya yang
demikian itu amat mudah bagi Allah.” (QS. Al Hajj : 70).
Abdullah bin Umar ra. Berkata : “Aku pernah mendengar
Rasululah  bersabda :
” كتب الله مقادير الخلق قبل أن يخلق السببماوات والرض بخمسببين ألببف
سنة “.
“Allah telah menulis (menentukan) takdir seluruh
makhluk sebelum menciptakan langit dan bumi lima
puluh ribu tahun.” (HR. Muslim).
3. Mengimani bahwa seluruh yang ada tidak akan ada,
kecuali dengan kehendak Allah . Baik yang berkaitan
dengan perbuatan-Nya maupun yang berkaitan dengan
perbuatan makhluk-makhlukNya.
Allah  berfirman, yang artinya :

“Dan Robbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan
Dia pilih…” (QS. Al Qashash : 68).
 هو الذي يصوركم في الرحام كيف يشاء ل إله إل هو العزيز الحكيم 
“Dialah yang membentuk kamu dalam rahim
sebagaimana dikehendakiNya. Tak ada Tuhan melainkan
Dia. Yang Maha perkasa lagi Mahabijaksana.” (QS. Al
Imran : 6).
Allah juga berfirman tentang sesuatu yang berkaitan
dengan perbuatan-perbuatan makhluk-makhluk-Nya,
yang artinya :
“…Kalau Allah menghendaki, maka Dia memberi
kekuasaan kepada mereka terhadap kamu, lalu pastilah
mereka memerangimu…” (QS. An Nisa : 90).
“… Dan kalau Allah menghendaki, maka mereka tidak
mengerjakannya. Maka tinggalkanlah mereka dan apa
yang mereka ada-adakan.” (QS. Al An’am : 137).
4. Mengimani bahwa seluruh yang ada, Dzatnya, sifat dan
geraknya diciptakan oleh Allah .
“Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara
segala sesuatu.” ( QS. Az Zumar : 62).
“… dan Dia telah menciptakan segala sesuatu dan Dia
menetapkan ukuran-ukuranNya dengan serapi-rapinya.”
(QS. Al Furqan :2 ).
Allah berfirman tentang Nabi Ibrahim yang berkata
kepada kaumnya, yang artinya :
“Padahal Allah lah yang menciptakan kamu dan apa yang
kamu perbuat itu.” (QS. As Shaffat : 96).
Iman kepada takdir sebagaimana telah Kami terangkan di atas
tidak menafikan bahwa manusia mempunyai kehendak dan
kemampuan dalam barbagai perbuatan yang sifatnya ikhtiari.
Syara’ dan kenyataan (realita) menunjukkan ketetapan itu.
a. Secara syara’, Allah berfirman tentang kehendak manusia,
yang artinya :
“Maka berangsiapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh
jalan kembali kepada Robbnya.” (QS. An Naba’ : 39).

“…maka datangilah tempat kamu bercocok tanam (isterimu)
itu bagaimana saja kamu kehendaki…” (QS. Al Baqarah : 223).
Allah juga berfirman tentang kemampuan manusia, yang
artinya :
“maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut
kesanggupanmu, dengarlah dan taatlah…” (QS. At Taghabun :
16).
 ل يكلف الله نفسا إل وسعها لها ما كسبت وعليها مااكتسبت 
“Allah tidak membebani seseorang malainkan sesuai dengan
kesanggupannya. Ia mendapat pahala dari (kebajikan) yang
dikerjakannya serta mendapat siksa dari (kajahatan) yang
dikerjakan…” (QS. Al Baqarah : 286).
b. Secara kenyataan, manusia mengetahui bahwa dirinya
mempunyai kehendak dan kemampuan yang
menyebabkannya mengerjakan atau meninggalkan sesuatu.
Dia juga dapat membedakan antara kemauannya (seperti
berjalan), dan yang bukan kehendaknya (seperti gemetar).
Kehendak serta kemampuan seseorang itu akan terjadi
dengan masyi’ah (kehendak) serta qudrah (kemampuan) Allah
, seperti dalam sebuah firman-Nya, yang artinya :
“(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan
yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh
jalan itu), kecuali apabila dikehendaki Allah, Robb semesta
alam.” (QS. At Takwir : 28-29).
Karena alam semesta ini seluruhnya milik Allah, maka tidak
ada pada miliknya barang sedikitpun yang tidak diketahui serta
tidak dikehendakiNya.
Iman kepada takdir ini tidak berarti memberi alasan untuk
meninggalkan kewajiban atau untuk mengerjakan maksiat. Kalau
itu dibuat alasan, maka alasan itu jelas salah ditinjau dari beberapa
segi :
1. Firman Allah, :
سَيقَُولُ الّذِينَ أشَْرَكوُا لَوْ شَباء اللّبهُ مَبا أشَْبرَكنْاَ وَل آباَؤُنبَبا وَل 
حَرّمْناَ مِن شَيْءٍ كذَلِكَ كذَّبَ الّذِينَ مِن قَبلِْهِم حَتىّ ذَاقُوا بأَسَْبناَ قُبلْ
هَلْ عِندَكمُ مّنْ عِلْم فَتخُْرِجُوهُ لَناَ إنِ تتَبّعُِبونَ إلِ الظّبنّ وَإنِْ أنَتبُمْ إلَ سورة النعام (( تخَْرُصُونَ 148
“orang-orang yang menyekutukan Tuhan mengatakan :
“Jika Allah menghendaki, niscaya Kami dan bapak-bapak

Kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) Kami
mengharamkan barang sesuatu apapun. Demikian juga
orang-orang sebelum mereka yang telah mendustakan
(para Rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami.
Katakanlah : “adakah kamu mempunyai sesuatu
pengetahuan sehingga kamu dapat mengemukakannya
pada Kami? Kamu tidak mengetahui kecuali prasangka
belaka dan kamu tidak lain hanya menyangka.” (QS. Al
An’am : 148)
kalau alasan mereka dengan takdir itu dibenarkan, Allah 
tentu tidak akan menjatuhkan siksaNya.
3. Firman-Nya:
رّسُل مّبشَّرِينَ وَمُنبذِرِينَ لِئلَ يكَبُبونَ لِلنبّباسِ عَلَبى اللّبهِ حُجّبةٌ بعَْبدَ 
سورة النساء (( الرّسُلِ وَكاَنَ اللّهُ عَزِيزًا حَكيِمًا 165
“(mereka Kami utus) sebagi Rasul-Rasul pembawa kabar
gembira dan pemberi peringatan agar tidak ada alasan bagi
manusia membantah Allah sesudah diutusnya Rasul-Rasul
itu. Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS. An
Nisa” : 165).
Kalau takdir dapat dibuat alasan bagi orang-orang yang
salah, Allah  tidak menafikanya dengan diutusnya para
Rasul, karena menyalahi sesuatu setelah terutusnya para
Rasul jatuh pada takdir Allah  juga.
3. Hadits yang diriwayatkan Al Bukhari dan Muslim, dari Ali bin
Abi Thalib bahwa Nabi  bersabda :
” ما منكم من أحد إل قد كتب مقعده من النار أو الجنة، فقال رجل
من القوم، أل نتكل يا رسول الله؟ قال: ل إعملوا كببل ميسببر، ثببم
قرأ :
“Setiap diri kalian telah ditulis (ditetapkan) temmpatnya di
sorga atau di neraka. Ada seorang sahabat bertanya :
“Mengapa kita tidak tawaakal (pasrah) saja, wahai
Rasulullah?” beliau mejawab : “tidak, berbuatlah karena
masing-masing akan dimudahkan.” Lalu beliau membaca
surat Al lail ayat 4-7 :
إنِّ سَعْيكَمُْ لَشَتىّ( 4)، فَأمَّا مَنْ أعَْطَى وَاتقَّى ، وَصَدّقَ باِلحُسْنىَ 
 ، فَسَنيُسَّرُهُ لِلْيسُْرَى
“Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda.
Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah)
dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang

terbaik (surga) maka Kami kelak akan menyiapkan baginya
jalan yang mudah.” (QS. Al Lail 4-7)
jadi, Nabi  memerintahkan untuk berbuat serta melarang
menyerah pada takdir.
4. Allah  memerintah serta melarang hamba-hambaNya,
namun tidak menuntutnya kecuali yang mampu dikerjakan.
Allah  berfirman:
سورة التغابن ( ( فاتقُّوا اللّهَ مَا اسْتطَعْتمُْ 16 َ
“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut
kesanggupanmu…” (QS. At Taghabun : 16)
سورة البقرة (( ل يكُلَّفُ اللّهُ نفَْسًا إلِ وُسْعَهَا 286 
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai
dengan kesanggupannya…” (QS. AlBaqarah : 286).
Kalau manusia dipaksakan untuk berbuat sesuatu, artinya
disuruh mengerjakan sesuatu yang tidak mungkin
dikerjakan, maka ini merupakan suatu kesalahan. Oleh
karena itu, bila maksiat dilakukan karena kebodohan atau
karena lupa, atau karena dipaksa, maka pelakunya tidak
berdosa. Mereka dimaafkan Allah.
5. Takdir Allah adalah rahasia yang tersembunyi, tidak
dapat diketahui sebelum terjadinya takdir serta kehendak
seseorang untuk mengerjakannya terlebih dahulu daripada
perbuatannya. Jadi, kehendak seseorang untuk
mengerjakan sesuatu itu tidak berdasarkan pada
pengetahuannya akan takdir Allah. Pada waktu itu habislah
alasannya dengan takdir karena tidak ada alasan bagi
seseorang terhadap apa yang tidak diketahuinya.
6. Kita melihat orang yang ingin mendapatkan urusan dunia
secara layak, tidak ingin pindah kepada yang tidak layak.
Apakah ia beralasan pindahnya dengan takdir? Mengapa ia
berpindah dari yang kurang menguntungkan kepada yang
menguntungkan dengan alasan takdir? Bukankah keadaan
dua hal itu satu?
Cobalah perhatikan contoh dibawah ini :
Kalau di depan seseorang ada dua jalan. Pertama menuju
ke sebuah negeri yang semuanya serba kacau,
pembunuhan, perampokan, pembantaian kehormatan,
ketakutan, dan kelaparan. Yang kedua menuju ke sebuah
negeri yang semuanya serba teratur, keamanan yang

terkendali, kesejahteraan yang melimpah ruah, jiwa,
kehormatan, dan harta benda dihormati, jalan mana yang
akan ia tempuh?
Ia pasti akan menempuh jalan yang kedua yang menuju
ke sebuah negeri yang teratur serta aman. Tidak
mungkin orang yang berakal menempuh jalan yang
menuju ke sebuah negeri yang kacau serta menakutkan
dengan alasan takdir. Mengapa dalam urusan akhirat ia
menempuh jalan yang menuju ke neraka bukan jalan
yang menuju surga dengan beralasan takdir?
Contoh lain adalah seorang yang sakit disuruh meminum
obat lalu meminumnya sedangkan hatinya tidak
menyukainya. Dan dilarang memakan makanan yang
berbahaya lalu meninggalkannya sementar hatinya
menyukainya. Semua itu dimaksudkan mencari
pengobatan serta kesehatan. Orang yang sakit itu tidak
mungkin enggan minum obat atau melanggar memakan
makanan yang berbahaya dengan alasan menyerah pada
takdir. Bagaimana seseorang meninggalkan perintah
Allah  dan Rasulnya , atau malakukan larangan Allah
dan Rasulnya dengan beralasan pada takdir?
7. Orang yang meninggalkan kewajiban serta melanggar
kemaksiatan dengan alasan takdir itu seandainya
dianiaya oleh seseorang, dirampas hartanya dan dirusak
kehormatannya dengan beralasan pada takdir dan
mengatakan : Anda jangan menyalahkan saya, karena
kelaliman saya ini adalah takdir Allah, alasannya itu tidak
akan diterima. Bagaimana seseorang tidak mau menerima
alasan orang lain dengan takdir dalam penganiayaannya
terhadap orang lain, lalu ia sendiri beralasan dengan takdir
terhadap kelalimannya pada hak Allah ?
Diriwayatkan bahwa Amirul Mukminin Umar bin khattab 
menerima seorang pencuri yang berhak dipotong
tangannya. Beliau memerintahkan agar dipotong
tangannya. Pencuri berkata : tunggu dulu, Amirul
Mukminin, aku mencuri ini hanya karena takdir Allah. Umar
pun tidak kalah menjawab : demikian Kami potong
tanganmu hanya karena takdir Allah .

………………………………….
Buah iman kepada takdir:

1. Bersandar kepada Allah  ketika mengerjakan sebab, tidak
bersandar kepada sebab itu sendiri, karena segala sesuatu
ditentukan dengan takdir Allah .
2. Agar seseorang tidak lagi mengagumi dirinya ketika tercapai
apa yang dicita-citakan. Karena tercapainya cita-cita
merupakan ni’mat dari Allah  yang dikarenakan takdirNya
yaitu sebab-sebab keberhasilan. Dan mengagumi dirinya akan
dapat melupakan syukur kepada ni’mat ini.
3. Menimbulkan ketenangan serta kepuasan jiwa terhadap
seluruh takdir yang berlaku, tidak gelisah karena hilangnya
sesuatu yang disukai atau datangnya sesuatu yang tidak
disukai. Karena dia tahu bahwa hal itu ditentukan dengan
takdir Allah yang memiliki langit dan bumi dan bahwa hal itu
akan terjadi dengan pasti.
مَا أصَابَ مِن مّصِيبةٍَ فِي الْرَْضِ وَلَ فِي أنَفُسِكمُْ إلِّ فِبي كتِبَبابٍ مّبن 
قَبلِْ أنَ نبّرَْأهَا إنِّ ذَلِكَ عَلَى اللّهِ يسَِيرٌ لكِيَلَْ تأَسَْوْا عَلَببى مَببا فَبباتكَمُْ وَلَ
سورة الحديد  تفَْرَحُوا بمَِا آتاَكمُْ وَاللّهُ لَ يحُِبّ كلُّ مُخْتاَلٍ فَخُورٍ
“Tidak suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak
pula) pada dirimu sendiri melainkan telah ditulis dalam kitab
(lauh mahfudh) sebelum Kami menciptakannya.
Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah. (Kami
jelaskan yang demikian itu) supaya kamu tidak berduka cita
terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu tidak
terlalu gembira terhadap apa yang diberikan olehNya
kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang
sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Al Hadid : 22-230).
Nabi Muhammad  bersabda :
” عجبا لمر المؤمن إن أمره كله له خير، ول يكون ذلبك لحبد
إل للمؤمن، إن أصابته سراء شكر، فكان خيرا له، وإن أصببابته
ضراء صبر، فكان خيرا له “.
“Sungguh menakjubkan perkara orang mukmin itu.
Perkaranya semua baik, dan itu tidak ada pada seorangpun
selain orang mukmin. Jika mendapatkan kegembiraan, ia
bersukur, itu baik baginya. Dan jika ditimpa kesusahan ia
bersabar, itupun baik baginya.” (HR. Muslim).
Dalam masalah takdir ini ada dua golongan yang tersesat :
Pertama : golongan Jabariyyah. Yaitu mereka yang
mengatakan bahwa manusia itu terpaksa atas perbuatannya, tidak
punya iradah (kemauan) dan qudrah (kemampuan).

Kedua : golongan Qadariyah. Yaitu mereka yang
mengatakan bahwa manusia dalam perbuatannya ditentukan oleh
kemauan serta kemampuannya sendiri, kehendak serta takdir Allah
 tidak ada pengaruhnya sama sekali.
Untuk menjawab pendapat golongan pertama, (jabariyyah),
dapat dengan mengunakan syara’ dan kenyataan :
a. Adapun dalil syara’ maka Allah  telah menetapkan
kehendak kepada hambaNya serta menggantungkan perbuatan
kepadanya juga.
سورة آل عمران  مِنكمُ مّن يرُِيدُ الدّنيْاَ وَمِنكمُ مّن يرُِيدُ الخِرَةَ 
“…Diantara kamu ada yang menghendaki dunia dan ada
pula yang menghendaki akhirat…” (QS. Al Imran : 152).
وَقُلِ الْحَقّ مِن رّبكّمُْ فَمَن شَاء فَلْيؤُْمِن وَمَن شَباء فَلْيكَفُْبرْ إنِبّبا 
أعَْتدَْناَ لِلظّالِمِينَ نبَبارًا أحَباطَ بهِبمْ سُبرَادِقُهَا وَإنِ يسَْبتغَِيثوُا يغَُباثوُا
( بمَِاء كاَلْمُهْلِ يشَْوِي الْوُجُوهَ بئِسَْ الشّرَابُ وَسَاءتْ مُرْتفَقًا 29
سورة الكهف
“Dan katakanlah : kebenaran itu datangnya dari
Tuhanmu. Maka barangsiapa yang (ingin) beriman
hendaklah beriman. Dan barangsiapa yang ingin (kafir)
biarlah kafir. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi
orang-orang zdalim itu neraka yang mengepung
mereka..” (QS. Al Kahfi : 29).
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنفَْسِهِ وَمَبنْ أسَباء فَعَلَيهَْبا وَمَبا رَببّبكَ بظَِلّم 
سورة فصلت  لّلْعَبيِدِ
“Barangsiapa mengerjakan amal yang baik (pahalanya)
untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang berbuat jahat
maka (dosanya) atas dirinya sendiri (pula). Dan sekalikali
Tuhanmu tidak akan menganiaya hamba-hamba-
Nya.” (QS. Fushilat : 46).
b. Secara kenyataan bahwa manusia mengetahui
perbedaan antara perbuatan-perbuatan yang ikhtiari (dapat
diupayakan) yang dikerjakan dengan kehendaknya, seperti makan,
minum, dan jual beli, dan yang di luar kehendaknya seperti
gemetar karena demam, dan jatuh dari atas. Pada yang pertama ini
ia dapat mengerjakan dan memilih dengan kemauannya tanpa ada
paksaan. sedangkan yang kedua dia tidak dapat memilih juga tidak
dikehendaki terjadinya.
Pendapat golongan kedua (Qadariyah) dapat dijawab pula
dengan syara’ dan kenyataan :

a. Adapun dalil syara’ maka Allah  adalah Pencipta
segala sesuatu, dan segala sesuatu terjadi dengan
kehendakNya. Allah telah menjelaskan dalam Al Qur’an
bahwa perbuatan makhlukNya terjadi dengan kehendak-
Nya, sebagaimana firman-Nya:
وَلَوْ شَاء اللّهُ مَا اقْتتَلَ الّذِينَ مِن بعَْدِهِم مّن بعَْدِ مَبا جَباءتهُْمُ 
الْبيَنّاَتُ وَلَكنِ اخْتلَفُوا فَمِنهُْم مّنْ آمَنَ وَمِنهُْم مّن كفَببرَ وَلَببوْ شَبباء
سورة البقرة (( اللّهُ مَا اقْتتَلَُوا وَلَكنِّ اللّهَ يفَْعَلُ مَا يرُِيدُ 253
“Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah
berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah
Rasul-Rasul itu, sesudah datang kepada mereka
beberapa macam keterangan, akan tetapi mereka
berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan
ada (pula) di antara mereka yang kafir. Seandainya Allah
menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan
tetapi Allah berbuat apa yang dikehendakiNya.” (QS. Al
Baqarah : 253).
وَلَوْ شِئنْاَ لَتيَنْاَ كلُّ نفَْسٍ هُدَاهَا وَلَكنِْ حَببقّ الْقَببوْلُ مِنبّبي لَمَْلَنَّ 
سورة السجدة (( جَهَنمَّ مِنَ الْجِنةِّ وَالناّسِ أجَْمَعِينَ 13
“Dan kalau Kami menghendaki niscaya Kami akan
berikan kepada tiap-tiap jiwa petunjuk (bagi)nya, akan
tetapi telah tetaplah perkataan (ketetapan) dariku;
sesungguhnya akan Aku penuhi neraka jahannam itu
dengan jin dan manusia bersama-sama.” (QS. As Sajdah :
13).
b. Adapun menurut akal, bahwa alam semesta ini adalah
milik dan berada dalam kekuasaan Allah. Dan manusia,
sebagai bagian dari alam semesta tidak mungkin dapat
berbuat dalam kekuasaan Si Penguasa kecuali dengan
seizinNya dan kehendakNya.

……………………………………………….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Untuk yang Sehati

Bercita-cita mengamalkan Islam secara utuh adalah suatu hal yang wajib bagi setiap muslim....
Namun bila belum mampu seluruhnya, jangan ditinggalkan semuanya....Karena Alloh Subhanahu wata'ala tidak membebani seseorang kecuali sesuai kemampuan maksimal yang dimiliki...

Buat diriku & dirimu

....Jangan pernah merasa cukup untuk belajar Islam, karena semakin kita tahu tentang Islam, semakin kita tahu tentang diri kita (...seberapa besar iman kita, ...seberapa banyak amal kita,....seberapa dalam ilmu kita, dan sebaliknya...seberapa besar kemunafikan kita, ...seberapa banyak maksiat kita, ...seberapa jauh kedunguan kita)
....Barangsiapa mengenal dirinya, maka semakin takut ia kepada Alloh Subhaanahu wata'ala

Do’a kita

Semoga Alloh Subhaanahu wata'ala meneguhkan hati kita dalam Islam hingga maut menjemput kita,...aamiin

Kalender

Januari 2010
S M S S R K J
« Des   Feb »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Total Pengunjung

  • 203,455 klik
%d blogger menyukai ini: