URGENSI PENYUCIAN JIWA

Pepatah mengatakan: “men sano in corpore sano” artinya “di dalam badan yang sehat terdapat jiwa yang sehat”. Sejak lama semboyan ini menjadi semacam ajaran wajib (doktrin) di sekolah-sekolah atau lembaga lain yang berkecimpung dalam dunia olahraga. Sekilas maknanya benar, sehingga tidak aneh, bila banyak orang, tua-muda, besar-kecil, pria-wanita, terpikat.

Akibatnya tiada hari tanpa olahraga, supaya sehat wal afiat. Munculah jargon “mengolahragakan masyarakat dan memasyarakatkan olahraga”. Tetapi bila ditilik secara seksama, nampak sekali adanya keganjalan. Bagaimana tidak? Dengan argumen sederhana saja bisa dibuktikan bahwa pepatah diatas tidak tepat. Misalnya kita sering menyaksikan seorang berbadan atletis, tegap, gerakannya gesit, jarang dihampiri penyakit, ternyata jiwanya dipakai sarang penyakit, dengki, pendendam, korup, gila hormat, kekuasaan, rakus harta, zina, dan masih banyak lagi. Semua itu membuktikan bahwa jiwanya sakit, tidak sehat. Atau ada kemungkinan yang dimaksud pepatah diatas adalah hatinya tidak ditimpa penyakit, seperti liver, kangker, dan sebagainya. Bila ini yang dimaksud berarti pepatah tadi mempunyai makna yang sempit. Kurang pas apabila dijadikan semboyan. Apalagi bila dihadapkan dengan untaian kata mutiara dari lisan yang mulia, Rosulullah صلى الله عليه وسلم dengan sabdanya:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ.”

Perhatikan!! Sesungguhnya di dalam badan terdapat degumpal darah, jika ia sehat maka seluruh badan akan sehat. Jika ia rusak maka akan rusak seluruh badan. Ia adalah hati (HR. Bukhari no. 52. Imam Muslim no. 1599).

Dari sini justru diambil kesimpulan terbalik, yaitu didalam jiwa/hati yang sehat terdapat badan yang sehat. Bila seorang jiwanya sehat secara klinis dan sehat dari penyakit maknawi, maka akan menyembul (mempengaruhi) kejasadnya dan aktifitasnya; badannya sehat, rapi, bersih, dan sebagainya, aktifitasnya baik, ibadahnya benar dan tekun, suka membantu, tidak merugikan orang lain. Sebaliknya jika orang itu lahiriahnya tidak sehat, perbuatanya tidak baik, menandakan bahwa jiwanya rusak, sakit. Karenanya hati merupakan kunci kesholihan dan kebajikan seluruh aktifitas jasad keseharian. Dia merupakan motor penggerak yang siap mengantarkan menuju tujuan yang akan ditempuh. Maka sehatnya jiwa menyebabkan sehatnya badan dan aktifitasnya. Rusaknya jiwa otomatis badan dan aktifitasnya akan rusak pula. Betapa butuhnya kita terhadap jiwa yang sehat. Lantaran itu, tidak syak lagi bahwa penyucian jiwa merupakan kewajiban asasi yang tidak boleh diabaikan. Dan inilah diantara tugas suci yang diemban oleh para Rosul. Perhatikan firman Allah Azza wajalla:

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ ….. (2)

Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rosul diantara mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah)…. (Q.S Al Jumu’ah: 2)

كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آَيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ …..(151)

Sebagaimana (kami telah menyempurnakan ni’mat kami kepadamu) kami telah mengutus kepadamu Rosul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat kami kepada kamu dan mensucikan kamu… (Q.S Al Baqoroh: 151)

As Syikh Abdurrohman As Sa’di menafsirkan: “mensucikan akhlak dan jiwa kalian dengan cara mendidiknya dengan akhlak yang baik, dan mensucikannya dari akhlak yang jelek, seperti mensucikan dari kesyirikan lalu dibekali dengan tauhid, riya’ diganti denga ikhlas, kedustaan diganti kejujuran, sifat khianat dibuang, diganti dengan amanat, dari kecongkakan dirubah dengan tawadhu’ (rendah hati), akhlak yang jelek dirubah menjadi akhlak yang baik, sifat permusuhan, kebencian, pemutusan silaturrohim diganti dengan kasih sayang, silaturrohim dan sifat-sifat yang lainnya (Taisirul karimur Rohman fi Tafsir kalamil mannan).

Pada ayat yang lain, Allah menfirmankan tentang keberuntungan bagi yang mensucikan jiwanya, firman nya:

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا (7) فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا (8) قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا (9)

Dan jiwa serta penyempurnaanya (ciptaanya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaan, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. (Q.S As Syamsu: 7-9).

Berkata ibnu Katsir: “beruntunglah orang yang mensucikan jiwanya dengan cara taat kepada Allah dan mensucikannya dari akhlak yang hina”. Berkata ibnu jarir at thobari: “membersihkan jiwanya dari kekufuran dan kemaksiatan, dan memperbaiki dengan amal sholih.” (Tafsir ibnu katsir)

firmanNya:

ثُمَّ لَا يَمُوتُ فِيهَا وَلَا يَحْيَى (13) قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى (14)

Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman) (Q.S Al A’la: 14)

…. وَمَنْ تَزَكَّى فَإِنَّمَا يَتَزَكَّى لِنَفْسِهِ…. (18)

Dan barang siapa yang mensucikan dirinya, sesungguhnya ia mensucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. (Q.S Fathir: 18)

Imam at thobari menafsirkan: “ barangsiapa mensucikan dirinya dari kotoran kekuufuran dan dosa dengan bertaubat kepada Allah, beriman kepadaNya, dan melaksanakan ketaatan, sesungguhnya semua manfaatnya berpulang kepada dirinya sendiri, yaitu dia akan memperoleh ridho Allah, kebahagiaan jiwa, dan keselamatan dari siksaNya yang diperuntukan bagi orang-orang kafir.” (Tafsir At Thobari)

…. وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَى مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ… (21)

Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendakiNya (Q.S An Nur: 21).

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنْفُسَهُمْ بَلِ اللَّهُ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ….. (49)

Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih? Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendakiNya (Q.S An Nisa’: 49)

Dan masih banyak lagi ayat yang mengkisahkan tentang penyucian jiwa. Lalu, Mengapa mensucikan jiwa harus bersusah payah dan nggoyo? Jawabnya bisa dilihat dari firman Alloh سبحانه وتعالى melalui lisan nabi Yusuf :

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ (53)

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya jiwa itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali jiwa yang diberi rohmat oleh Robku. Sesungguhnya Robku maha pengampun lagi maha penyayang (Q.S Yusuf: 53)

Imam At Thobari menafsirkan: “(Yusuf berkata “ aku tidak membebaskan diriku dari kesalahan dan kekeliruan, karena sesungguhnya jiwa-jiwa manusia itu memerintahkan kepada yang disukai oleh hawa nafsu, walaupun hawanya itu tidak diridhoi Allah, kecuali yang dirohmati oleh Allah dari hambaNya yang dikehendaki, lalu Allah menyelamatkannya untuk tidak terseret hawa nafsu dan apa yang digandrunginya berupa kejelekan.” (Tafsir AT Thobari).

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ (88) إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ (89)

Yaitu di hari dimana harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna. Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih (Q.S As Syua’ra: 88-89)

Imam ibnu katsir menafsirkan: “ tidak ada yang mampu menyelamatkan seseorang dari adzab Allah sekalipun ditebus dengan emas sepenuh bumi atau ditebus dengan semua manusia yang berada permukaan bumi. Pada waktu itu tidak ada lagi yang berguna kecuali keimanan kepada Allah, keikhlasan kepadaNya dan berlepas dari kesyirikan dan pelakunya. Oleh karena itu Allah berfirman (yang artinya) “ kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih”, yaitu hati yang selamat dari dosa dan kesyirikan”.

Rosulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

Dan kita berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa-jiwa kita dan dari kejelekan amalan kita. (H.R Ibnu Majah 1892, dishohihkan Al Albani).

Alakullihal, jiwa yang suci dan bersih merupakan kebutuhan primer guna merengkuh kehidupan yang bahagia dan harmoni di dunia dan di akhirat kelak. InsyaAllah akan kita bahas cara-cara mensucikan jiwa pada edisi mendatang. Allahua’lam
(Abu Nu’aim al atsari)

Majalah Al-Furqon edisi 1 tahun I

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Untuk yang Sehati

Bercita-cita mengamalkan Islam secara utuh adalah suatu hal yang wajib bagi setiap muslim....
Namun bila belum mampu seluruhnya, jangan ditinggalkan semuanya....Karena Alloh Subhanahu wata'ala tidak membebani seseorang kecuali sesuai kemampuan maksimal yang dimiliki...

Buat diriku & dirimu

....Jangan pernah merasa cukup untuk belajar Islam, karena semakin kita tahu tentang Islam, semakin kita tahu tentang diri kita (...seberapa besar iman kita, ...seberapa banyak amal kita,....seberapa dalam ilmu kita, dan sebaliknya...seberapa besar kemunafikan kita, ...seberapa banyak maksiat kita, ...seberapa jauh kedunguan kita)
....Barangsiapa mengenal dirinya, maka semakin takut ia kepada Alloh Subhaanahu wata'ala

Do’a kita

Semoga Alloh Subhaanahu wata'ala meneguhkan hati kita dalam Islam hingga maut menjemput kita,...aamiin

Kalender

Desember 2011
S M S S R K J
« Nov   Mei »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Total Pengunjung

  • 203,455 klik
%d blogger menyukai ini: