Aqidah Imam Asy-Syafi’i Seputar Sahabat

Aqidah Imam Asy-Syafi’i Seputar
Sahabat

Imam Asy-Syafi’i berkata,” Allah Subhanahu wa
Ta’ala telah memuji para sahabat Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa Salam di dalam Al-Qur’an51, taurat dan injil.
Keutamaan mereka telah disampaikan oleh Rasulullah,
sesuatu yang tidak dimiliki oleh orang selain mereka.
Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menyayangi mereka
dan menempatkan mereka setinggi-tinggi derajat, yaitu
derajat orang-orang yang jujur, syuhada’ dan orangorang
yang shalih. Merekalah yang menyampaiakn
kepada kita sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa Salam dan menyaksikan wahyu diturunkan kepada
Rasulullah. Mereka mengerti apa yang dikehendaki oleh
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam baik secara
umum dan khusus. Mereka mengetahui semuanya yang
tidak kita ketahui. Mereka berada di atas kita dalam

bidang ijtihad, pengetahuan, wara’, dan lainnya.
pemikiran mereka lebih terpuji dan lebih utama untuk
kita dari pemikiran yang datang berikutnya. Jika seorang
di antara mereka menyatakan pendapatnya dan tidak
ada seorangpun yang menyalahkannya, maka kitapun
harus mengambil pendapat tersebut”.52
Setiap sahabat memiliki kelebihan tersendiri, tapi
yang paling utama secara berurutan adalah Abu Bakar,
Umar, Utsman dan Ali Radiyallahu Anhum. Imam Asy-
Syafi’i menyebutkan,”Semua ulama sepakat tentang ini,
yang diperselisihkan hanya mana yang lebih utama
Utsman atau Ali”. Beliau juga berkata,” Kita tidak
menyalahkan salah seorang di antara kalangan sahabat
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam pada apa yang
mereka kerjakan”.53
******

51 Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala : “Muhammad itu adalah
utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap
orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka: kamu lihat mereka
ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda
meraka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.Demikianlah sifat-sifat
mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman
mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu
menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu
menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak”
menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang
mu’min).Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan
mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang
besar. (QS. 48:29)

52 Manaaqib Imam Asy-Syafi’i, oleh AL-Baihaqi, 1/442-443
53 Ibid , 1/434

Iklan

Seputar Kenabian dan Kematian

Seputar Kenabian dan Kematian
1. Iman Kepada Para Nabi
Maksudnya adalah tashdiq (pembenaran)
terhadap kenabian semua Nabi yang diceritakan oleh
Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan membenarkan apa yang
mereka sampaikan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, iman
terhadap nama-nama mereka, sifat-sifat mereka, dan
pembenaran secara umum tanpa mengingkarinya.
Imam Asy-Syafi’i berkata,” Allah Subhanahu wa
Ta’ala menjadikan Nabi sebagai makhluk pilihan di
antara makhluk-makhluk-Nya, dan menitipkan amanah
wahyu untuk disampaikan dan menegakkan hujjah
kepada manusia.45
2. Kematian
Diriwayatkan dari AL-Baihaqi dari Imam Asy-Syafi’i
beliau berkata,” Adzab kubur itu benar adanya dan
pertanyaan yang diajukan kepada penghuni kubur juga
benar adanya”.46
3. Menghadiahkan Pahala Amal Kepada Mayit
Kalangan Ahlussunnah wal Jamaah sepakat bahwa
orang yang telah mati dapat menerima manfaat dari
usaha orang yang hidup dalam dua hal:

1. Hasil usaha mayit ketika hidup yang dapat
memberikan manfaat kepada orang lain.
2. Amal shalih orang yang masih hidup apabila
dilakukan sebagai taqarrub kepada Allah Subhanahu
wa Ta’ala kemudian diberikan kepada mayit, akan
sampai namun terjadi perbedaan pada sebagian
ibadah.47
Imam Asy-Syafi’i dan Imam Malik berpendapat
bahwa tidak sampai kepada mayit kecuali apa yang
diterangkan oleh dalil tentang pengesahan untuk
memberikan hadiah kepada mayit yaitu berbentuk doa,
shadaqah, haji dan umrah. Adapun diluar itu tidak
sampai kepadanya dan tidak pula disyariatkan
perbuatannya dengan niat memberikan hadiah. Itulah
pendapat yang masyhur (populer) dari mazhab Imam
Asy-Syafi’i dan Imam Malik.48
Adapun dalilnya adalah:
1. Sabda Rasulullah,”Apabila mati anak Adam, maka
terputuslah amal perbuatannya kecuali tiga hal;
shadaqah jariyah, anak shaleh yang mendo’akannya
dan ilmu yang bermanfaat baginya sepeninggalnya”,
(HR. Muslim dari Abu Hurairah).
2. Hadits Aisyah tentang seorang pria yang datang
kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam dan
berkata,”Wahai Rasulullah! Sesungguhnya ibuku telah
meniggal dunia secara mendadak dan tidak sempat
berwasiat, saya kira seandainya ia sempat berbicara

niscaya akan bershadaqah, adakah baginya pahala
jika saya bershadaqah untuknya?. Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa Salam menjawab,”Ya”.
(HR.Bukhari dan Muslim).
3. Hadits Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa seorang
wanita dari Juhainah telah datang menghadap Nabi
dan berkata,” Ibuku telah bernadzar untuk
melaksanka ibadah haji tetapi belum sempat
melaksanakan ia telah meninggal dunia, bolehkah
aku melaksanakan haji untuknya?. Nabi bersabda,”
Berhajilah untuknya! bagaimana menurutmu kalau
ibumu memiliki hutang, haruskah engkau
melunasinya?. Hutang kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala lebih berhak untuk dilunasi (HR.Bukhari).
4. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam
bersabda,”Barangsiapa yang meninggal dunia masih
memiliki kewajiban puasa, maka hendaklah walinya
berpuasa untuknya”. (HR.Bukhari dan Muslim dari
Aisyah).
Imam Asy-Syafi’i berkata,” Disampaikan pahala
kepada si mayit dari tiga amalan orang lain; haji yang
dilaksanakan untuknya, harta yang dishadaqahkan atau
dilunasi untuknya, dan doa. Adapun shalat dan puasa, itu
hanya milik pelaku dan tidak sampai kepada mayit.
Berbeda dengan harta, sesungguhnya seorang
mempunyai kewajiban untuk memenuhi apa –apa yang
pada harta itu terdapat hak Allah Subhanahu wa Ta’ala
yang berupa zakat dan lainnya, karena itu memadai bila
dilaksanakan oleh orang lain atas perintahnya.
Adapun doa, sesungguhnya Allah Subhanahu wa
Ta’ala telah menganjurkan hamba-hamba-Nya untuk

melakukannya dan meminta Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa Salam untuk melaksanakannya. Maka, apabila
dibolehkan berdoa untuk saudara yang masih hidup,
berarti boleh pula berdoa untuk yang telah mati. Dan
Insya’ Allah Subhanahu wa Ta’ala keberkahan akan
sampai kepadanya, di samping Allah Subhanahu wa
Ta’ala Maha Luas rahmat-Nya untuk memenuhi pahala
orang hidup dan menyertakan si mayit dalam
kemanfaatannya. Demikian pula setiap kali seseorang
bertathawwu’ (shadaqah sunnah) untuk orang lain
melalui sedekah tathawwu’”.49
Adapun aqidah beliau dalam masalah-masalah di
hari kiamat, sebagaimana aqidah salaf yang lain.
Beriman kepada kebangkitan, pembalasan, pemeriksaan,
hisab, pembacaan tulisan, pahala, siksaan, titian, neraka
dan surga, yang merupakan dua makhluk yang tidak akan
musnah selamanya.50
******

45 ] Al-Umm, 4/159
46 Manaqib Asy-Syafi’i, 1/415-416

47 Syarah Aqidah Al-Thahawiyah, hal. 452
48 Syarah Aqidah Al-Thahawiyah, hal. 452 dan Al-Majmu’ , Imam An-
Nawawi, 15/521

49 Al-Umm, 4/120, Manaaqib Asy-Syafi’i, 1/431
50 Syarah Al-Thahawiyah, hal. 404-405

Tauhid Asma dan Shifat

Tauhid Asma dan Shifat
Manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah dalam bab
Asma’ (nama) dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu
mensifatkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sifatsifat
yang telah ditetapkan-Nya untuk diri-Nya atau yang
ditetapkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam
tanpa ta’wil, takyif (menanyakan bagaimana), tamtsil
(mengumpamakan) dan tasybih (menyerupakan),
berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
ليس كمثله شيئ وهو السميع البصير
Artinya,” Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia,
dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat”,
(QS. 42:11).
Sebagai salah satu dari ulama salaf, Imam Asy-
Syafi’i sangat konsisten dengan manhaj salaf dalam
masalah ini. Hal ini terlihat di antaranya sebagaimana di
awal khutbah kitabnya al-Risalah, beliau berkata,”
Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana
Dia mensifati diri-Nya dan atas apa yang disifatkan
untuk-Nya oleh makhluk-Nya”.42

Di antara Sifat-Sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala
1. sifat Al-‘Uluw (ketinggian)
Al-‘Uluw adalah sifat Dzatiah yang tidak terpisah dari
Allah Subhanahu wa Ta’ala yaitu Dia bersifat tinggi di
atas makhluk-Nya, dan Dia berada di Arsy-Nya di langit,
sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
Apakah kamu merasa aman terhadap Allah Subhanahu
wa Ta’alaang di langit bahwa Dia menjungkir balikkan
bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu
bergoncang”, (QS. 67:16), baca juga surat Fathir: 10,
An-Nahl:50, Ali Imran: 55, Al-A’la:1, Al-Ma’arij:4, dll.
2. Istiwa’ (bersemayam)
Istiwa’ adalah sifat fi’liyah yang tetap bagi Allah
Subhanahu wa Ta’ala, yaitu Dia bersemayam di atas
Arsy, sebagaimana firman-Nya,

”Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah Subhanahu wa
Ta’ala yang telah menciptakan langit dan bumi dalam
enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy”, (QS.
7:54). Baca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala surat
Yunus: 3, Al-Rad: 2, Thaha: 5, Al-Furqan: 59, As-Sajdah:
4, Al-Hadid:4.
3. An-Nuzul (Turun)
An-Nuzul termasuk di antara sifat Khabariyah fi’liyah
yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala turun ke langit dunia
pada setiap malam, sebagaimana dalam hadits riwayat
Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah. Imam Asy-Syafi’i
berkata,” Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala di
atas Arsy-Nya mendekat kepada makhluk-Nya menurut
bagaimana yang Dia kehendaki dan sesungguhnya Allah
Subhanahu wa Ta’ala turun ke langit dunia menurut
bagaimana yang Dia kehendaki”.43
4. Sifat al-Yadd (tangan)
al-Yadd (tangan) termasuk di antara sifat dzatiyah
Khabariyah yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki
tangan, sebagaimana firman-Nya,

”Allah berfirman:”Hai iblis, apakah yang menghalangi
kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan
kedua tangan-Ku”, (QS. 38:75). Baca firman Allah
Subhanahu wa Ta’ala di Al-Maidah: 64 dan AL-Fath:10.
5. Sifat al-wajh (wajah), lihat firman Allah Subhanahu
wa Ta’ala surat Al-Qashash: 88, Al-Rahman: 27 dll.
6. Sifat al-Qadam (kaki), Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa Salam bersabda,” Kemudian Allah Subhanahu wa
Ta’alaang Maha Perkasa meletakkan kaki-Nya padanya
(neraka), dan ketika itu barulah ia penuh dan saling
berdekatan dengan yang lainnya dan berkata,”Cukup,
cukup”, (HR.Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).
7. Sifat tertawa, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
Salam bersabda,” Allah tertawa kepada dua orang yang
salah satunya membunuh yang lainnya dan mereka
berdua masuk surga. Yang satunya berperang di jalan
Allah kemudian terbunuh, dan Allah menerima taubat
dari pembunuh dan masuk Islam dan ia juga mati
syahid”. (HR.Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

8. Sifat al-Ashaabi’(jari-jemari), Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda,” Tidak ada satu
hatipun kecuali berada di antara dua jari di antara jarijemari
Al-Rahman”. (Thabaqat Ibnu Abi Ya’la, I/284,
dan Majmu’ Fatawa, 4/182).
9. Sifat al-‘Ain (mata), Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman,” dan supaya kamu diasuh di bawah
pengawasan-Ku”, (QS. 20:39). juga firman Allah
Subhanahu wa Ta’ala surat Al-Qamar: 14, Huud:37, Ath-
Thur:48.
10. Sifat al-‘ilmu, Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman,” tetapi Allah mengakui Alquran yang
diturunkan-Nya kepadamu. Allah menurunkannya
dengan ilmu-Nya”. (QS. 4:166). lihat juga firman Allah
Subhanahu wa Ta’ala surat At-Taubah: 78, Al-Ahzab: 54
dll.
Aqidah Imam Asy-Syafi’i Dalam Masalah Asma
dan shifat
Rabi’ bin Sulaiman berkata,”Aku bertanya kepada Asy-
Syafi’i tentang sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala ”. Beliau
berkata,” Terlarang untuk akal mengumpamakan Allah
Subhanahu wa Ta’ala, untuk dugaan memberi batasan
pada-Nya, untuk yang sangkaan memastikan, jiwa yang
memikirkan, hati kecil yang mendalami-Nya, lintasan
batin untuk merenungi-Nya dan selain apa yang
disifatkan-Nya untuk diri-Nya melalui lisan Nabi-Nya.44

………………………………………………………………………………….

43 Ijtima’ Juyuus Islamiyah, hal. 94 dan Mukhtashar Al-Uluw, hal. 176

44 Majmu’ Fatawa, 4/6.

Tauhid Rububiyah

Tauhid Rububiyah
Metode Salaf Dalam Menegakkan Dalil Tentang Wujud
Allah Subhanahu wa Ta’ala

1. Fithrah, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,”
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama
(Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah Subhanahu wa
Ta’alaang telah menciptakan manusia menurut fitrah
itu.Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.(Itulah)
agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak
mengetahui”. (QS. 30:30). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa Salam bersabda,” Setiap anak dilahirkan dalam
keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang
menjadikannya Yahudi, Nashrani dan Majusi”,
(HR.Bukhari dan Muslim).
2. Melalui ayat-ayat kauniyah, yaitu adanya alam
semesta menunjukkan adanya Allah Subhanahu wa
Ta’ala yang Maha Pencipta.
3. Melalui dalil ‘inayah yaitu dalil yang masih termasuk
di bawah ayat-ayat yang membuktikan keesaan Allah
Subhanahu wa Ta’ala , misalnya firman Allah Subhanahu
wa Ta’ala,” Kami akan memperlihatkan kepada mereka
tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada
diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka
bahwa al-Qur’an itu benar.Dan apakah Rabbmu tidak
cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan
segala sesuatu”, (QS. 41:53).

Metode Imam Asy-Syafi’i Dalam Menegakkan Dalil
Tentang Wujud Allah Subhanahu wa Ta’ala

Imam Asy-Syafi’i bercerita,” Telah berjumpa
denganku tujuh belas orang Dzindiq di jalan menuju
Ghazah. Mereka bertanya,”Apa bukti adanya Pencipta?”.
Aku berkata,”Jika aku mengemukakan bukti yang
memuaskan apakah kalian mau beriman?”. Mereka
menjawab,”Ya”. Aku katakan,”Daun pohon At-Tut,
rasanya, warnanya dan baunya sama. Dimakan oleh ulat
yang keluar dari perutnya adalah benang sutera.
Dimakan oleh lebah yang keluar adalah madu. Dimakan
oleh kambing yang keluar adalah kotoran. Yang dimakan
adalah satu jenis maka yang keluar seharusnya juga satu
jenis. Tetapi perhatikanlah bagaimana keadaan itu
berubah, niscaya itu adalah perbuatan Pencipta Alam
yang Maha Kuasa untuk merubah semuanya”.
Beliau juga berkata,” Anda melihat sebuah
benteng yang kokoh, tidak memiliki pintu dan celah.
Anda melihat dindingnya retak, dan tiba-tiba keluar
binatang yang bisa melihat dan bersuara. Anda sadar
alam tidak akan mampu melakukannya tetapi Allah
Subhanahu wa Ta’ala bisa menciptakannya. Benteng
tersebut adalah telur dan binatang tersebut adalah anak
ayam”.41
******

41 Mufid Al-Ulum, hal. 26 riwayat seperti ini juga dari Ahmad, lihat Aqidah al-
Muslimin, Al-Baihaqi, 1/124

HUKUM PELAKU DOSA BESAR DAN PENGARUHNYA PADA IMAN

HUKUM PELAKU DOSA BESAR DAN
PENGARUHNYA PADA IMAN

Ahlussunnah wal jama’ah memiliki sikap
pertengahan antara sikap Khawarij dan Mu’tazilah yang
berlebih-lebihan dan sikap Khawarij yang longgar.
Khawarij berpendapat bahwa orang Islam yang
melakukan dosa besar (al-kabirah) menjadi kafir jika
tidak bertaubat dan akan kekal di neraka. Mu’tazilah
mengatakan mereka akan kekal di neraka dan didunia
berada di antara dua posisi yaitu tidak kafir dan tidak
mukmin (manzilah bainal manzilatain). Sementara
Khawarij mengatakan bahwa orang yang mengucapkan
syahadat telah sempurna imannya dan setiap mukmin
masuk surga. Dosa tidak berpengaruh terhadap iman
sebagaimana ketaatan tidak bermanfaat bersama
kekufuran.25
Adapun Ahlussunnah mereka berpendapat bahwa
dosa besar yang dilakukan seorang mukmin tidak
mengeluarkannya dari iman. Bila mereka meninggal
sebelum bertaubat, maka ia akan disiksa di neraka
namun tidak kekal, bahkan urusan mereka diserahkan
kepada Allah, apakah Allah Subhanahu wa Ta’ala
menyiksanya atau berkenan mengampuninya.26 Mereka
berdalil dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,”
Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa
mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, Dan Dia
mengampuni dosa yang lain dari syirik itu bagi siapa
yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan

(sesuatu) dengan Allah, maka
sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya”, (QS.
4:48 dan 116).
Mafhumnya, setiap dosa yang selain dosa syirik berada
dalam masyi’ah (kehendak) Allah. jika Allah Subhanahu
wa Ta’ala menghendaki untuk mengampuninya, maka
Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengampuninya
sekalipun pelakunya tidak bertaubat. Sebaliknya bila
Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki untuk
menghukumnya, maka Allah Subhanahu wa Ta’alaakan
menyiksanya.
Ucapan Imam Asy-Syafi’i tentang dosa-dosa besar
selain syirik
Imam Asy-Syafi’i berpendapat bahwa ahlul qiblat
(kaum mukminin) yang berbuat dosa besar berada di
bawah masi’ah Allah. Beliau berkata,” Orang yang lari
pada saat pertempuran bukan karena ingin bersiasat
dalam menghadapi musuh atau bukan karena ingin
bergabung dengan pasukan lain, maka saya khawatir ia
mendapat murka Allah, kecuali Allah Subhanahu wa
Ta’ala memaafkannya.27
Beliau juga berkata,” Dan Allah Subhanahu wa
Ta’ala menjadikan akherat sebagai tempat tinggal abadi
dan balasan atas amal-amal kebaikan dan kejahatan di
dunia jika Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak
mengampuninya.28

Pendapat Imam Asy-Syafi’i di atas didasarkan
pada nash-nash al-Qur’an dan sunnah di antaranya
firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
Artinya,” Dan jika ada dua golongan dari orang-orang
mu’min berperang maka damaikanlah antara
keduanya.Jika salah satu dari kedua golongan itu
berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka
perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga
golongan itu kembali, kepada perintah Allah; jika
golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah),
maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan
berlaku adillah.Sesungguhnya Allah menyukai orangorang
yang berlaku adil”, (QS. 49:9).
Imam Asy-Syafi’i berkata,” Pada ayat ini Allah
Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan peperangan antara
dua golongan, namun tetap dinamakan mukminin dan
menyuruh untuk didamaikan dst”.29
Hukum Meninggalkan Shalat
Imam Asy-Syafi’i berpendapat bahwa orang yang
meninggalkan shalat karena malas harus disuruh taubat,
bila tidak mau dia boleh dibunuh karena had (hukuman)
bukan karena ia murtad dan sudah menjadi kafir.30
Pendapat beliau ini bertentangan dengan pendapat
Mayoritas ulama baik salaf maupun khalaf yang
mengatakan mereka dibunuh karena ia kafir.31

Hukum Sihir dan Penyihir
Mengenai masalah sihir dan tukang sihir, Imam
Syafi’i memberikan perincian, beliau berkata,” Jika
seorang belajar sihir, maka tanyalah ia apakah sihirnya
itu?”. Bila sihirnya berisi hal-hal yang menjadikannya
kafir seperti meminta bantuan kepada jin dan binatang,
maka ia kafir. Bila ia hanya menggunakan bau-bauan
(kemenyan) maka tidak kafir tapi sangat diharamkan.
Dan bila ia mengakui sihir itu dibolehkan, maka ia juga
kafir. Jika tidak menyakini itu boleh maka ia tidak
kafir.32
Tauhid Uluhiyah
Tauhid uluhiyah menurut Imam Asy-Syafi’i
adalah,” Mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam
ibadah, dan ini merupakan hakekat Tauhid. Dan untuk
itulah manusia diciptakan, sebagaimana firman Allah
Subhanahu wa Ta’ala : ”Dan tidaklah Aku menciptakan
jin dan manusia, melainkan supaya mereka beribadah
kepada-Ku”, (QS. Adz-Dzaariyat: 56).
Juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
أيحسب الإنسان أن يترك سدى
Artinya,” Apakah manusia mengira, bahwa ia akan
dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban) (QS.
75:36).

Imam Asy-Syafi’i berkata,” Para ulama tafsir
sepakat bahwa yang dimaksud dengan suda dalam ayat
ini adalah tidka diperintah dan tidak dilarang”.33
Beberapa Masalah Tentang Kubur
1. Talqin
Tidak ada keterangan dari Imam Asy-Syafi’i
tentang masalah talqin. yang menganjurkan talqin
adalah ulama-ulama Syafi’iyah seperti al-Qadhi Husain,
Al-Mutawalli, Al-Rafi’i dan lainnya. mereka berdalil
dengan hadits Hadits Umamah yang diriwayatkan oleh
Al-Thabrani. Namun hadits tersebut dhaif.34 Syaikh Al-
Albani menyebutkan di antara sebab lemahnya adalah
karena dalam sanadnya ada Al-Azdi atau Al-Audi yang
tidak tsiqah dan dia majhul.35
2. Meratakan Kuburan
Imam Asy-Syafi’i berkata,”Aku menyukai kalau
tanah kuburan itu sama (diratakan) dari yang lain, dan
tidak mengapa jika ditambah sedikit saja sekitar satu
jengkal”.36
3. Membangun kuburan dan duduk di atasnya
Imam Asy-Syafi’i berkata,”Aku suka jika kuburan
itu tidak dibangun dan disemen, karena hal itu
merupakan bentuk perhiasan dan kebanggaan. Saya juga
tidak suka kuburan itu diinjak, diduduki atau dijadikan

sandaran. Beliau berdalil dengan Sabda Nabi,” Seseorang
duduk di atas bara api sehingga pakaian dan kulitnya
terbakar, lebih baik baginya daripada duduk di atas
kuburan seorang muslim”.(HR.Muslim)37
4. Ziarah kubur
Imam Asy-Syafi’i berkata,” Dan boleh melakukan
ziarah kubur. Dalam ziarah kubur, janganlah
mengucapkan kata-kata kotor yaitu mendoakan jelek
kepada mayit dan meratapinya. Tetapi beristigfarlah
untuk si mayit”.38
Ziarah kubur khusus untuk laki-laki dan Wanita
tidak boleh melakukannya berdasarkan hadits Abu
Hurairah, bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala
melaknat wanita –wanita yang menziarahi kubur”.
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad (2/337-
356), Imam At-Tirmidzi no. 1056, Ibnu Majah, no.1576.
Tirmidzi mengatakan,”Hadits ini hasan shahih dan
memiliki syawahid (penguat) di antaranya adalah:
1. Sanad dari Hassan pada riwayata Ahmad (3/442-
443), Ibnu Majah (1574).
2. Dari Ibnu Abbas pada Ahmad (1/229), Abu Daud
(3236), At-Tirmidzi (320), AN-Nasa’i (4/94-95) dan
Ibnu Majah (1575).
3. Karena banyak jalurnya, maka hadits ini shahih.
Imam An-Nawawi berkata,” Adapun jika
tujuannya (ziarah kubur) untuk mendo’akan si mayit

atau mengambil ibrah (pelajaran) darinya, maka itu bisa
dilakukannya di rumahnya”.39
5. Syafaat
Syafaat artinya memohon kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala agar Dia mengampuni dosa dan
kesalahan orang lain yang diberi syafaat. Syafaat di bagi
dua yaitu:
a. Syafaat yang diakui oleh agama dan bermanfaat bagi
pelakunya, yaitu syafaat yang memiliki dua syarat
yaitu:
1. Si pemberi syafaat mendapat izin dari Allah
Subhanahu wa Ta’ala untuk memberi syafaat,
lihat al-Qur’an surat Al-Baqarah: 255, Yunus:3.
2. Orang yang diberi syafaat mendapat ridha dari
Allah Subhanahu wa Ta’ala lihat al-Qur’an surat
An-Najm: 26, Al-Anbiya’: 28.
b. Syafaat yang tidak diakui oleh agama dan tidak
bermanfaat bagi pelakunya karena tidak memenuhi
syarat di atas.
6. Ruqyah
Imam Asy-Syafi’i membolehkan ruqyah dengan
syarat diambil dari kitabullaah atau zikrullah.40
******

25 Lihat Al-Tafsil fi Al-Fashl, Ibnu Hazm, III/ 229-247
26 Lihat Syarhu As-Sunnah, Imam Al-Bagawi, I/103

27 Al-Umm, 4/169, Manaaqib Asy-Syafi’i oleh AL-Baihaqi, 1/328
28 Ibid, 4/122

29 ibid, 4/214
30 ibid, 1/208
31 Nailul Authar, Al-Syaukani, 1/376

32 Al-Umm, 1/256-257

33 Kitab Al-Risalah, hal. 25
34 Al-Majmu’, Imam An-Nawawi, 5/304
35 Irwa’ Al-Ghalil, 3/203-204
36 Syarah Shahih Muslim, An-Nawawi, 2/666

37 Al-Umm, 1/277
38 ibid, 1/278

39 Al-Majmu’, Imam An-Nawawi, 5/309-311
40 Al-Umm, 7/228

AQIDAH IMAM ASY-SYAFI’i DALAM MASALAH IMAN

AQIDAH IMAM ASY-SYAFI’i DALAM
MASALAH IMAN

Al-Baihaqi meriwayatkan dengan sanadnya dari Rabi’ bin
Sulaiman Al-Muradi, ia berkata,”Saya mendengar Imam
Asy-Syafi’i berkata,”Iman adalah ucapan dan perbuatan,
ia bertambah dan berkurang”.18
Di antara dlalil yang digunakan oleh Imam Asy-Syafi’i
adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
ويزداد الذين أمنوا إيمانا
Artinya,” Dan supaya orang-orang yang beriman
bertambah imannya”, (QS. Al-Muddatsir: 35).
Juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
Artinya,” Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu
adalah mereka yang apabila disebut nama Allah

gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada
mereka Ayat-ayat-Nya, bertambahalah iman mereka
(karenanya) dan kepada Rabblah mereka bertawakkal”.
(QS. 8:2).
Baca juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di surat At-
Taubah: 124.
Adapun hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam
adalah sebagaimana yang diriwayatkan dari Abu
Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam
bersabda:
الإيمان بضع وسبعون ، أو بضع وستون شعبة ، فأفضلها قول
لا إله إلا الله ، وأدناها إماطة الأذى عن الطريق ، والحياء
شعبة من الإيمان
Artinya,” Iman itu terdiri dari tujuh puluh lebih cabang
atau enampuluh lebih cabang. Yang paling tinggi ialah
ucapan La Ilaaha Illallah, sedang yang paling rendah
adalah menyingkirkan duri (sesuatu yang mengganggu)
dari jalan dan malu adalah sebagian dari iman”,
(HR.Bukhari dan Muslim).
Pendapat Imam Asy-Syafi’i ini sesuai dengan
pendapat para sahabat, tabi’in, dan lainnya,
sebagaimana perkataan Umar bin Khattab kepada
teman-temannya,” Mari kita menambah keimanan kita”.
Kemudian mereka berzikrullah.19

Pengecualian Dalam Iman
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,”Yang
dimaksud dengan pengecualian dalam masalah iman
adalah seperti seorang berkata,”Saya seorang mukmin,
Insya’ Allah Subhanahu wa Ta’ala”.
Tentang masalah ini para ulama berselisih
pendapat: ada yang mewajibkannya, ada yang
mengharamkannya dan ada yang membolehkannya dan
inilah pendapat yang paling shahih”.20
Dan pendapat inilah yang diambil oleh Imam Asy-
Syafi’i sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Abu Al-
Baqa’ Al-Futuhy,” Boleh mengaku beriman dengan
pengecualian seperti seorang mengatakan,”Saya beriman
Insya’ Allah Subhanahu wa Ta’ala”, pendapat ini
ditegaskan oleh Imam Ahmad, Imam Asy-Syafi’i dan
diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud”.21
Perbedaan Antara Islam dan Iman
Ini adalah masalah yang diperselisihkan oleh para
ulama. Pendapat mereka terbagi menjadi tiga golongan;
1. Islam dan Iman adalah satu, yang berpendapat
seperti ini adalah Imam Al-Bukhari 22, Imam Muh.
bin Nashir Al-Marwadzi 23,Imam Ibnu Mandah 24.

2. Iman dan Islam adalah dua hal yang berbeda. Imam
Az-Zuhri berkata,”Islam adalah kalimat atau
ucapan, sedangkan iman adalah amal”. Abdul Malik
Al-Maimuni bertanya kepada Imam Ahmad, apakah
iman dan Islam berbeda?, beliau menjawab,”Ya”,
berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala
surat Al-Hujarat: 14.
3. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Al-Khattabi dan Ibnu
Rajab menyebutkan bahwa apabila iman dan Islam
disebut secara terpisah maka keduanya bermakna
sama, namun bila disebutkan bersamaan maka
keduanya terdapat perbedaan. Iman adalah
pengakuan dan keyakinan hati dan pengamalannya
sedangkan Islam adalah ketundukan yang tercermin
dalam amal.
Berdasarkan beberapa perkataan Imam Syafi’i,
maka beliau termasuk yang berpendapat iman dan Islam
bermakna satu dan tidak ada perbedaan antara
keduanya.
******

18 AL-Manaqib, I/385

19 Al-Syari’ah, hal. 112

20 Kitab Al-Iman, hal. 140
21 Syarah Al-Kaukabul Munir, hal. 417.
22 Lihat Fathul Bari, I/ 55
23 lihat Ta’zim Qadri Al-Sunnah, II/506-575
24 Lihat Al-Iman, I/321

Kaidah ketiga: Menjauhi pengikut hawa nafsu, pelaku bid’ah ahli kalam dan mencela mereka.

Kaidah ketiga: Menjauhi pengikut hawa nafsu,
pelaku bid’ah ahli kalam dan mencela
mereka.

Bid’ah secara bahasa berarti mencipta dan mengawali
sesuatu. Sedangkan menurut istilah, bidah berarti cara
baru dalam agama (yang belum ada contoh sebelumnya)
yang menyerupai syariah dan bertujuan untuk dijalankan
dan berlebihan dalam beribadah kepada Allah Subhanahu
wa Ta’ala.11
Imam Syafi’i membagi perkara baru menjadi dua:
1. Perkara baru yang bertentangan dengan Al-Kitab
dan As-Sunnah atau atsar (sahabat) dan ijma’. Ini
adalah bidah dhalalah.
2. Perkara baru yang baik tetapi tidak bertentangan
dengan Al-Kitab dan As-Sunnah atau atsar (sahabat)
dan ijma’. Ini adalah bidah yang tidak tercela.
Inilah yang dimaksud dengan perkataan Imam Syafi’i
yang membagi bid’ah menjadi dua yaitu bid’ah
mahmudah (terpuji) dan bid’ah mazmumah (tercela/
buruk). Bidah yang sesuai dengan sunnah adalah terpuji
dan baik, sedangkan yang bertentangan dengan sunnah
ialah tercela dan buruk”.12

Hajr (meninggalkan) pelaku bid’ah menurut Imam
Asy-Syafi’i

Para Salaf menasihatkan agar tidak banyak
bergaul dengan para pelaku bid’ah. Imam Ad-Darimi
meriwayatkan dalam sunannya dari Abu Qilabah, beliau
berkata,” Janganlah kamu berteman dengan pengikut
hawa nafsu dan janganlah kamu berdebat dengan
mereka. susungguhnya aku khawatir kalau kamu akan
masuk terperangkap ke dalam pemikiran sesatnya atau
menjadi ragu tentang apa yang telah kamu yakini”.13
Imam Hasan Al-Bashri dan Muhammad bin Sirin juga
berpesan,” Janganlah kamu berteman dengan pengikut
hawa nafsu, dan jangan kamu berdebat dan
mendengarkan mereka. Jangan berteman dengan
pembuat bidah, karena akan membuat penyakit di
kalbumu”.14
Inilah juga mazhab Imam Syafi’i, bahkan beliau
meninggalkan Bagdad dan pindah ke Mesir kerena
munculnya aliran mu’tazilah yang telah berhasil
mempengaruhi negara. Beliau berkata,”Saya tidak akan
berdebat dengan seorangpun yang saya yakini bahwa ia
tetap dalam kebid’ahannya”.15
Imam Asy-Syafi’i bahkan mengkafirkan sebagian
pelaku bid’ah yang jelas-jelas sesat seperti orang yang
mengatakan al-Qur’an adalah makhluk. Sebagaimana
perkataan beliau kepada Hafs Al-Fard yang mengatakan

bahwa al-Qur’an adalah makhluk. Imam Syafi’i berkata,”
Engkau telah kafir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala”.16
Imam Asy-Syafi’i juga berkata,” Jika engkau
melihat pengikut hawa nafsu terbang, aku tidak akan
percaya kepadanya. sungguh benar perkataan seorang
penyair:
“Bila engkau melihat orang bisa terbang, dan berjalan di
atas lautan, tetapi ia melanggar batas syariah. Maka, ia
adalah orang yang diistidraj dan ia adalah pelaku
bid’ah”.17

******

11 Kitab Al-‘Itisham, I/36
12 Hilyah al-Auliya’, 9/113, dan Al-Ba’its ‘ala Inkar Al-Bida’, hal. 15

13 Sunan Ad-Darimi, 1/108
14 Al-Bida’ wa An-nahyu ‘anha, Ibnu Wadhdhah, hal. 47
15 Manaqib Asy-Syafi’i, Imam AL-Baihaqi, I/175

16 Ibid, I/407
17 Ibid, I/407

Kaidah kedua: Menghormati pemahaman sahabat dan mengikutinya.

Kaidah kedua: Menghormati pemahaman
sahabat dan mengikutinya.

Imam Asy-Syafi’i berkata,” Selama orang
mendapati Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka tidak ada
jalan lain baginya selain mengikutinya. Jika keduanya
tidak ada, kita harus mengambil ucapan para sahabat
atau salah satu dari mereka atau ucapan para imam
seperti Abu Bakar, Umar dan Utsman. Ucapannya lebih
patut diambil dari yang lainnya.
I lmu itu bertingkat-tingkat, di antaranya:
1. Al-Kitab dan As-Sunnah yang shahih.
2. Ijma’ (konsensus/ kesepakatan) para ulama
terhadap masalah yang tidak ada ayat atau
haditsnya.
3. Ucapan sebagian sahabat yang tidak ditentang oleh
seorangpun dari mereka.
4. Ikhtilaf para sahabat dalam masalah tersebut.
5. Qiyas terhadap sebagian tingkatan, tidak boleh
mengambil selain Al-Kitab dan As-Sunnah selama
keduanya ada, karena ilmu itu hanya diambil dari
yang lebih tinggi.10
Kenapa harus mengikuti sahabat?
Imam Syafi’i seperti yang dikutip oleh Imam Al-
Baihaqi dalam Al-Risalah Al-Qadimah dari Al-Hasan bin
Muhammad Az-Za’farani, Imam syafi’i berkata,” Allah
Subhanahu wa Ta’ala telah memuji para sahabat
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam dalam Al-Qur’an,

Injil dan Taurat. Kelebihan mereka disebutkan oleh
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam tidak dimiliki
oleh seorangpun selain mereka. mereka telah
menyampaikan kepada kita sunnah Rasulullah. Telah
mendampingi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam
dikala wahyu diturunkan, sehingga mereka mengetahui
apa yang diinginkan oleh Rasulullah, baik yang umum
maupun yang khusus, baik perintah, larangan, maupun
bimbingan. Mereka telah mengetahui sunnah Rasulullah,
sehingga mereka lebih unggul baik dalam ilmu, ijtihad,
kewara’an, maupun pikiran. Pendapat mereka lebih baik
kita ambil dibandingkan dengan pendapat kita”.
******

10 Kitab Al-Umm, 5/265

Pandangan Imam Asy-Syafi’i tentang hadits Ahad

Pandangan Imam Asy-Syafi’i tentang hadits Ahad
Hadits Ahad adalah hadits yang tidak memenuhi
semua atau sebagian syarat –syarat hadits mutawatir.6
Yaitu diriwayatkan oleh orang banyak yang menurut adat
dan logika mereka tidak mungkin berdusta, dan
diriwayatkan dari orang banyak dan menyandarkan hadit
kepada sesuatu yang bisa dirasakan oleh indera.
Adapun kriteria hadits yang diterima oleh Imam
Asy-Syafi’i adalah:
1. Sanadnya bersambung (tidak terputus).
2. Para perawinya adil.
3. Perawinya dhabit (tepat dan sempurna hafalannya).
4. Selamat dari syudzuz (riwayatnya tidak
bertentangan dengan riwayat orang lain yang lebih
tsiqah).
5. Selamat illat (cacat) yang membuatnya tercela.7
Dengan demikian selama hadits itu shahih dari
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam, maka Imam Asy-
Syafi’i akan menerimanya. Ketika ditanya tentang,
sebagaimana jawaban beliau ketika ditanya oleh Sa’id

bin Asad tentang hadits ru’yah (salah satu hadits ahad),
beliau berkata,” Hai Ibnu Asad, hukumlah aku, baik aku
hidup atau mati, jika aku tidak mengikuti hadits shahih
yang datang dari Rasulullah, sekalipun aku tidak
mendengarnya langsung”.8
Dengan demikian maka Imam Asy-Syafi’i
mewajibkan menggunakan hadits Ahad dalam seluruh
perkara agama, dengan tidak ada pembedaan baik dalam
masalah aqidah atau lainnya. orang yang menolak hadits
ahad tanpa alasan yang dibenarkan, merupakan satu
kesalahan yang tidak bisa dimaafkan.9
******

6 Syarah Nukhbatul Fikar, Ibnu Hajar AL-Asqalani hal. 4-8
7 Syarat-syarat ini sesuai dengan yang ditetapkan oleh ulama hadits, lihat
Ikhtishar ‘Ulumul Hadits, hal. 10, Tadrib Al-Raawi, hal. 22 dan Iamahaat fi
Ushul Al-Hadits, hal. 11

8 Manaaqib Asy-Syafi’i, I/421
9 Al-Risaalah, hal. 459-460

DASAR-DASAR IMAM ASY-SYAFI’i DALAM MENETAPKAN AQIDAH

DASAR-DASAR IMAM ASY-SYAFI’i DALAM
MENETAPKAN AQIDAH
Sebagaimana para ulama salaf lainnya, Imam Asy-
Syafi’i membuat beberapa landasan (Kaidah) dalam
menetapkan Kaidah di antaranya adalah sebagai berikut:
Kaidah pertama: Iltizam (komitmen) terhadap
Al-Qur’an dan Sunnah dan mendahulukan
keduanya dari akal.
Mengambil lahiriyah Al-Qur’an dan sunnah dan
menjadikan keduanya sebagai landasan dan sumber
dalam menetapkan aqidah islamiyah. Apa yang
ditetapkan oleh keduanya maka wajib diterima dan apa
yang dinafikan oleh keduanya wajib untuk ditolak, Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
” Dan tidakkah patut bagi laki-laki yang mu’min dan
tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah
dan Rasul-Nya telah menetappkan suatu ketetapan,
akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan
mereka.Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-

Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”,
(QS. 33:36).
Imam Asy-Syafi’i berkata,” Aku beriman kepada
Allah Subhanahu wa Ta’ala dan apa yang datang dari
Allah Subhanahu wa Ta’ala sesuai yang diinginkan oleh
Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan aku beriman kepada
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam dan apa yang
datang dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam
sesuai dengan apa yang dimaksudkan Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa Salam ”.4
Kedudukan As-Sunnah menurut Imam Syafi’i dan
bantahan beliau terhadap orang yang mengingkar sunnah
sebagai hujjah.
Imam Asy-Syafi’i berkata,” Semua yang datang
dari sunnah merupakan penjelasan dari al-Qur’an. Maka
setiap orang yang menerima Al-Qur’an, maka wajib
menerima sunnah Rasulullah, karena Allah Subhanahu wa
Ta’ala mewajibkan hamba-Nya untuk mentaati Rasul-Nya
dan mematuhi hukum-hukumnya. Orang yang menerima
apa yang datang dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
Salam berarti ia telah menerima apa yang datang dari
Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena Dia telah
mewajibkan kita untuk mentaatinya”.5
Beliau berdalil dengan sejumlah ayat di antaranya
firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

” Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan
taatilah Rasul(-Nya), dan ulil amri di antara kamu.
Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang
sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Alquran)
dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman
kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu
adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”,
(QS. 4:59).
Bantahan Imam Syafi’i kepada orang yang mengingkari
sunnah sebagai hujjah.
1. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mewajibkan kita
untuk mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa Salam dan menyuruh kita mematuhi
perintah dan menjauhi larangannya.
2. Tidak ada cara lain bagi kita untuk mentaati
perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut
kecuali dengan mengamalkan apa yang datang dari
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam dengan
lapang dada dan bersih hati dari keinginan untuk

menolaknya, serta pasrah pada perintah dan hukumhukumnya.
3. Seorang muslim membutuhkan sunnah Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa Salam untuk menjelaskan
globalitas isi Al-Qur’an.

………………………………………………………………………………………….

4 Majmu’ Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, IV/2, VI/354
5 Al-Risalah, hal. 32-33

Untuk yang Sehati

Bercita-cita mengamalkan Islam secara utuh adalah suatu hal yang wajib bagi setiap muslim....
Namun bila belum mampu seluruhnya, jangan ditinggalkan semuanya....Karena Alloh Subhanahu wata'ala tidak membebani seseorang kecuali sesuai kemampuan maksimal yang dimiliki...

Buat diriku & dirimu

....Jangan pernah merasa cukup untuk belajar Islam, karena semakin kita tahu tentang Islam, semakin kita tahu tentang diri kita (...seberapa besar iman kita, ...seberapa banyak amal kita,....seberapa dalam ilmu kita, dan sebaliknya...seberapa besar kemunafikan kita, ...seberapa banyak maksiat kita, ...seberapa jauh kedunguan kita)
....Barangsiapa mengenal dirinya, maka semakin takut ia kepada Alloh Subhaanahu wata'ala

Do’a kita

Semoga Alloh Subhaanahu wata'ala meneguhkan hati kita dalam Islam hingga maut menjemput kita,...aamiin

Kalender

November 2017
S M S S R K J
« Mei    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Total Pengunjung

  • 217,030 klik