Korban Cinta

Cinta hadir dalam kehidupan, ketika manusia belum memintanya. Cinta memberi warna dalam kehidupan, ketika manusia belum lagi memahami makna hidup itu sendiri. Cinta memberi bekas dalam hidup, kadang tanpa manusia mengharapkannya. Manusia bisa menjadi digdaya, atau justru gila karena cinta, tanpa ia sadar telah memilih yang mana. Maka, bukankah hanya kepada Pencipta cinta, kita bisa memasrahkan jiwa?

‘Kenakalan’ Cinta

Cinta itu nakal. Ia membuat seorang bayi menangis menjerit-jerit, hanya mengejar cairan susu dari payudara ibunya.

Cinta itu nakal. Lihatkan, betapa banyak gadis kecil atau anak lelaki ingusan harus berlagak di hadapan lawan jenisnya, mengganti pakaian, memakai parfum, mengubah gaya berjalan, dan malu-malu dengan wajah bersemu merah, saat tiba-tiba bertemu dengan ‘dia’ yang ia cintai, di tengah jalan.

Anak-anak sekecil itu, sudah harus menjadi korban cinta.

Cinta itu sungguh nakal. Tak sedikit pria kaya memiskinkan diri demi mengejar cinta kekasihnya. Tak sedikit wanita menjadi nyaris tak bermalu, mengobral diri secara memilukan, demi berharap cinta pria yang dikasihinya.

Cinta itu pun terlihat nakal, ketika banyak bapak yang berkorban tak makan siang, demi jatah makan anak dan isterinya.

Cinta itu nakal, karena begitu banyak isteri berubah wujud saat sudah menjadi isteri seorang pria. Siapapun pria itu. Teroris sekalipun.

Aih. Karena kenakalan cinta, maka seorang suami kerap ‘berbohong’, menutupi jati dirinya, karena ia khawatir sang isteri akan kecewa. Kekecewaan isteri adalah rasa sakit di dadanya. Maka jangan kaget, bila seorang isteri baru tahu belakangan kalau suaminya adalah koruptor. Bahwa suami yang begitu baik, santun, penuh kasih itu, ternyata dengan berdarah dingin bisa membunuh ratusan orang sambil tersenyum.

Duhai, nakalnya cinta.  Ia hadir, berbuat, berkreasi dalam jiwa, dan membuat letupan-letupan makna yang kerap mengejutkan, dan seringkali tak dikehendaki oleh manusia itu sendiri.

Terlalu banyak sudah, manusia yang menjadi korban kenakalan cinta. Buku novel-novel picisan, sering mengglomourkan kisah para korban cinta itu dalam aksi-aksi yang seolah-oleh heroik. Padahal, siapapun tahu kalau itu adalah kecelakaan yang menonjok jiwa.

Diadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternakdan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)…” (Ali Imraan : 14)

Cinta itu menghiasi jiwa. Tapi dengan nakalnya, ia kerap membuat sang jiwa merana. Meregang duka. Menanggung seribu derita.

‘Mengakali’ Cinta

Karena nakal, maka cinta harus diakali. Sang ibu, yang pertama mengakali cinta sang bayi. Puting susunya dibaluri balsem atau jejamuan yang pahit, sehingga si bayi kapok menyusuinya.

Nafsu dan cinta, juga ibarat bayi. Kecintaan kita kepada ragam makanan dan minuman, harus diakali dengan puasa Ramadhan dan sejenisnya. Sehingga tak lagi terlalu liar mengejar kenikmatan semaunya.

Nafsu syahwat juga harus diakali dengan menikah, dan bila belum mampu dengan puasa bujang (shaumul ‘uzzaab), agar sang nafsu melunak, dan tidak berlagak dan merusak.

Teori mengakali cinta itu diajarkan dalam agama kita. Islam ingin mengemas cinta menjadi anugerah. Karena itu, ia harus ditundukkan. Payahnya, ia tidak bisa tunduk dengan segala upaya kita. Bahkan kerap kali justru kita yang diakalinya. Dengan hanya kekuatan kita sebagai manusia, kita hanya senantiasa menjadi korban cinta. Ia akan mendikte kita, membuat kita begitu bodoh dan tak lagi mampu membedakan antara hitam dan putih. Cinta hanya bisa tunduk, bila kita membangun ketundukkan kepada Pencipta cinta itu sendiri. Allah, Yang Rahmaan dan Yang Rahiem.

Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’ien. Hanya kepada-Mu, ya Allah, kami beribadah. Dan hanya kepada-Mu, kami memohon pertolongan.

Ibnu Abbas menjelaskan, “Hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan, untuk melaksanakan segala urusan kami, demi menaati-Mu.”[1]

Nabi n bersabda kepada Ibnu Abbas,

“Apabila engkau hendak meminta pertolongan, mintalah kepada Allah…”[2]

Syaikh Al-Alusi menjelaskan, “Kalimat iyyaka- nasta’iin menunjukkan bahwa ibadah itu hanya sempurna dengan pertolongan, taufiq dan izin Allah…”[3]

Dus, hanya dengan pertolongan Allah, kita bisa selamat dari jebakan cinta.

Agar Tak Binasa Karena Cinta

Agar tak menjadi korban cinta, amatilah beberapa hal berikut:

  1. Tetaplah sadar, bahwa cinta itu hanya berfungsi menghiasi jiwa, bukan menguasai jiwa. Maka, jadikan cinta sebagai alat membuat hidup lebih indah, jangan biarkan kita menjadi gila.
  2. Hiasi hati dengan cinta sejati, yaitu cinta manusia kepada Rabbnya. Karena cinta itu akan menjadi raja. Segala bentuk cinta lain akan tunduk kepadanya.
  3. Ubahlah paradigma cinta. Jangan menganggapnya sebagai sesuatu yang datang tiba-tiba. Tapi jadilah orang yang berusaha melahirkan cinta. Untuk itu, bereskan tauhid Anda. Karena hanya itu Anda mampu melahirkan cinta yang membuat Anda bahagia.
  4. Selalu lah memohon pertolongan kepada Allah. Jangan bersikap jumawa. Sadarlah, bahwa hanya dengan pertolongan Allah kita bisa selamat dari jerat-jerat cinta yang menggilakan.
  5. Maknai cinta dengan bulir-bulir iman yang mengendap pada rasa suka, dan menjadikan rasa itu sebagai pelecut mengejar kebahagiaan hakiki. Cintai siapapun, selama cinta itu bermakna. Selama cinta itu berguna untuk kehidupan abadi Anda………….

أَوْثَقُ عُرَى اْلإِيْمَانِ: أَنْ تُحِبَّ فِيْ اللهِ، وَتُبْغِضَ فِيْ اللهِ

Pokok-pokok iman yang paling kuat adalah Anda mencintai karena Allah dan membenci karena Allah.”[4]


[1] Tafsir Al-Quran Al-’Azhim tahqiq tim Hasan Abbas Quthub I:215.

[2] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi IV : 667,  oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak III : 623, Al-Haitsami dalam Majma’uz Zawa-id VII : 189 dan  Ahmad dalam Musnad-nya I : 293.

[3] Ruhul Ma’ani I : 121.

[4] HR. Ath-Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir, No. 11537; Ibnu Syaibah dalam Al-Iman, hlm. 110, dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, No. 1728

Iklan

Mengejar Cinta Allah

diambil dari abuumar.com
……………………………….
Betapa indahnya cinta Allah. Allah mencintai keindahan. Sementara cinta kepada Allah, dan cinta Allah kepada seorang hamba, sesungguhnya adalah keindahan yang melebihi segala keindahan. Maka, Allahpun sangat mencintai cinta hamba kepada-Nya, dan cinta-Nya kepada sang hamba. Namun, bagaimana kita bisa menggapai cinta-Nya?

Manusia Sibuk Mengejar ‘Cinta’

Betapa sibuknya manusia mengejar cinta. Betapa berharganya cinta itu bagi mereka. Cinta isteri, cinta anak, cinta atasan, cinta masyarakat, dan cinta begitu banyak orang. Bahkan juga cinta binatang peliharaan.

Kenapa begitu? Karena mereka butuh merasakan kenyamanan hidup. Bagi mereka, betapa nyamannya hidup, bila segala dan siapapun yang ada ada di sekitarnya, merasa mencintai dan menyayanginya.  Mereka berpandangan, bahwa dengan dicintai semakin banyak orang, mereka akan semakin aman, semakin merasa tentram, dan semakin bisa menerima uluran kebaikan.

Di satu sisi, anggapan itu memang benar.  Islam memang menganjurkan kita menebar kebaikan, agar kitapun menerima beragam kebaikan. Tapi, satu hal yang bisa membuat semua upaya itu menjadi keliru dan salah sama sekali: sejauh manakah orang itu mengejar cinta Allah yang MahaKuasa?

Bila seseorang sibuk mengejar cinta sesamanya, dan lalai mengejar cinta Allah, itu sama saja dengan orang yang mencari selamat dengan mengumpulkan ember dan selang buat mencari air, tapi lupa mencari sumber airnya.

Bila Allah murka kepada diri seseorang, apalah gunanya keridhaan semua orang terhadapnya?

Kalaupun seluruh manusia membencinya,  apakah itu bisa memberi bahaya buat dirinya, selama Allah mencintainya?

Maka, silakan sibuk mengejar cinta sesama, tapi mengejar cinta Allah haruslah menjadi upaya yang paling utama.

“Siapa saja yang mencari keridhaan Allah dengan hal-hal yang dimurkai oleh umat manusia, pasti Allahpun akan meridhainya, dan umat manusia juga akan menyukainya.  Siapa saja yang mencari keridhaan umat manusia dengan hal-hal yang dimurkai oleh Allah, pasti Allahpun akan murka terhadapnya, sementara umat manusia justru akan membencinya[1].”

Harga Cinta Allah

Cinta manusiapun kerap dihargai dengan mahal. Banyak pria mengumbar uang tak terkira banyaknya, demi mengejar cinta wanita yang dia idam-idamkan. Lalu, seberapakah harga yang telah kita bayar, untuk mengejar cinta Allah? Simak, firman Allah berikut:

يَآأَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لأَزْوَاجِكَ إِن كُنتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحًا جَمِيلاً * وَإِن كُنتُنَّ تُرِدْنَ اللهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ اْلأَخِرَةَ فَإِنَّ اللهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَاتِ مِنكُنَّ أَجْرًا عَظِيمًا

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu:”Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, marilah supaya kuberikan kepadamu mut’ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki (keredhaan) Allah dan Rasul-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang yang berbuat baik di antaramu pahala yang besar. ” (Al-Ahzab : 28)

Dari totalitas amal yang telah kita lakukan,  sudahkah terlihat jelas bahwa kita adalah hamba yang mengejar cinta Allah? Mengejar kehidupan akhirat, dan kenikmatan memandang wajah-Nya kelak?

Cinta seorang mukmin kepada Allah, seharusnya melebihi cinta kaum kafir terhadap tuhan-tuhan mereka.

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapan orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada….” (Al-Baqarah : 186)

Anas bin Malik t menceritakan,

Ada seorang pria berkata kepada Nabi n, “Wahai Rasulullah! Saya tidak mempunyai banyak persiapan baik amal shalat, puasa, maupun sedekah. Tapi saya hanya mencintai Allah I dan Rasul-Nya.” Beliau r lalu bersabda,

فَإِنَّكَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ

“Engkau akan beserta dengan orang yang engkau cintai.”[2]

Ibnu Taimiyah v pernah berkata, “Mencintai Allah I, bahkan mencintai Allah dan Rasul-Nya, merupakan kewajiban iman teragung sekaligus membentuk pondasi dan prinsip iman terbesar. Bahkan bisa dikatakan merupakan pondasi setiap amal keimanan dan apklikasi ajaran agama….”[3]

“Allah U mendatangiku–yakni dalam mimpi–Dia berfirman kepadaku,

” اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَ حُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَ اْلعَمَلَ الَّذِيْ يَبْلُغُنِيْ حُبَّكَ”

“Hai Muhammad, ucapkanlah, ‘Ya Allah, sesungguh-nya aku memohon cinta-Mu, dan cinta orang yang mencintai-Mu, dan amal yang mengantarkan aku untuk mencintai-Mu.”[4]

Nah, teman-teman sekalian, koreksilah cintamu kepada Allah. Sudahkah Allah menjadi yang paling engkau cintai dari siapapun?


[1] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi IV : 609, oleh Ibnu Hibban I : 510, oleh Al-Haitsami dalam Majma’uz Zawaa-id IV : 71. Juga oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannif VI : 198. Lalu oleh Ath-Thabrani X : 215.

[2] Riwayat. Al-Bukhari, No. 6171, Fath Al-Bari, 10/573, dan Muslim, No. 2639, 4/2033 dengan lafazh Al-Bukhari.

[3] Al-Majmu’ Al-Fatawa, Syaikhul Al-Islam Ibnu Taimiyah 10/43, 49, Daar ‘Alam Al-Kutub, Riyadh

[4] Riwayat Ibnu Khuzaimah, bab At-Tauhid, hlm. 218-219; Ath-Thabrani dalam Al-Kabir, 20/216, Ahmad, 5/23, Al-Hakim, 1/521, At-Tirmidzi, No. 3233. Kata beliau,”Hadits ini hasan shahih. Hadits ini dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-At-Tirmidzi, No. 2582, 3 : 98 .

Ayat-Ayat Cinta?

Ayat-Ayat Cinta?

………………………………

Film ayat-ayat Cinta meledak! Ini isu terbaru, awal-awal tahun 2008. Begitu saya paparkan, dalam salah satu bab buku terbaru saya, FENOMENA AYAT-AYAT SETAN. Buku ini bukan membahas soal Ayat-Ayat Cinta, dalam versi novel atau filmnya. Tapi membahas betapa banyak ayat (tanda-tanda keberadaan) setan di sekitar kita, yang tidak kita sadari. Film Ayat-ayat Cinta, masuk bahasan dalam buku itu. Namun dalam tulisan ini, saya ingin berbicara secara khusus tentang film fenomenal, calon peraih piala citra tersebut. Maka, izinkan saya mengerucutkan pembahasan sejenak, ke topik penting ini.

Sebelum dan sesudahnya, marilah merunduk patuh pada firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluan mereka …”

Mari, amati baik-baik ayat ini, mungkin untuk kesekian ratus atau kesekian ribu kali dalam hidup kita. Karena di hadapan masyarakat Indonesia sekarang sedang ditayangkan sebuah film dengan godaan yang begitu dahsyat, untuk ditonton. Bersiap-siaplah, karena keimanan kita akan diuji. Karena, sebagai insan beriman, banyak di antara kita yang mungkin merasa penasaran, “seberapa islami-kah film ini? Berbedakah dengan film-film pada umumnya?”

Rasa penasaran itu akan aman, bila diselipkan dalam benak kita saja, lalu kita lanjutkan dengan duduk ber-tafakkur, sambil membaca ayat di atas. Akan berabe, bila akhirnya memaksa kaki kita bergerak lambat-lambat, menuju bioskop!

Atau, kita pilih cara yang lebih aman. Beli VCD atau DVD-nya, lalu nikmati diam-diam. Wah, ternyata betul-betul berbeda! Dahsyat!

Berbeda, karena dalam film ini segala yang sering menjadi simbol-simbol ketaatan orang beriman diekspos nyata. Ada jilbab, ada cadar, ada pengajian, ada tartil bacaan Al-Qur’an, ada banyak nama Allah disebut-sebut. Berbeda, karena segala simbol ketaatan itu di film ini bisa disandingkan dengan nilai-nilai yang melenceng dari aturan syariat. Para ustadz menyebutnya, kefasikan. Si shalih dan si fasik –meminjam bahasa mas Prie GS dalam SMS-nya kepada saya-, bertemu dalam satu tempat. Wah, seru!

Dahsyat? Ya, dahsyat. Karena film ini bisa menggiring para wanita muslimah berjilbab lebar, bahkan sebagian bercadar, yang biasanya malu-malu berkumpul bersama kaum pria yang bukan mahram, untuk secara senyap-senyap, datang ke bioskop. Setidaknya, itulah yang terlihat pada penayangan perdana film ini, di Istora Senayan Jakarta. Amboi…apa yang sebenarnya terjadi?

Sebenarnya, itu bukan apa-apa. Allah sedang menguji kita, sebagaimana Allah memang selalu menguji keimanan para hamba-Nya. Dahulu, ketika wanita berjilbab syar’i masih langka, ujian itu juga datang bertubi-tubi. Saat ujian yang muncul berupa hujatan, kecaman, hingga didepak dari sekolahan, kebanyakan wanita berjilbab lulus ujian. Kekerasan selamanya akan sulit menggertak kaum beriman untuk beringsut dari ketegaran di atas syariat. Tapi saat jilbab ditoleransi, kaum selebritis ikut-ikutan berjilbab, ada pula wanita berjilbab yang menjadi juara nyanyi, bermain sinetron, dan muncul dalam lokasi-lokasi yang kuyup dengan maksiat, banyak yang akhirnya gagal dalam lulus ujian.

Simbol-simbol ketaatan religius itu kini sedang mendapat ujian baru. Celakanya, ujian itu berupa tayangan hiburan yang memanjakan banyak orang. Saat sekian banyak orang mengapresiasi film setengah kolosal ini, memuji dan menyanjungnya, sebagian bersyukur dan malah bersujud syukur, sebagai juru dakwah, sebagai santri, saya malah melihat banyak hal yang perlu diwaspadai pada film ini. Bisa jadi, ini aji menentang arus. Bisa jadi, sikap ini akan menuai dompratan banyak orang. Tapi izinkanlah seorang santri berbicara, demi kepentingan orang-orang seagamanya. Wahai kaum beriman, waspadalah!

Ayat-ayat Cinta, menurut Kang Abik –penulis novel megabest seller, Ayat-ayat Cinta-, artinya tanda-tanda kehadiran cinta. Tapi saya mengkhawatirkan tema lain yang menyeruak diam-diam di belakangnya, ayat-ayat setan. Karena tanda-tanda kehadiran setan itu begitu jelas dan nyata. Saya berani bersumpah, Kang Abik pasti juga merasakan hal itu. Ia sarjana lulusan Al-Azhar, tentu tahu betul aturan syariat. Ketika novelnya difilmkan, pasti Kang Abik merasa bergelayut di antara dua tali panjang: satu tali berisi pundi-pundi rupiah yang digantung rendah. Satu tali lagi berisi aturan-aturan syariat yang harus beliau gengam erat. Untuk bisa memperoleh pundi-pundi rupiah, dengan sebisa mungkin mencengkeram aturan syariat, Kang Abik harus menghadapi tiga pihak sekaligus: produser, sutradara, dan masyarakat muslim Indonesia. Tapi Kang Abik mengaku gagal. Ia tidak puas dengan film tersebut. Sementara banyak umat Islam yang berusaha menegakkan syariat Islam dan berada di barisan generasi kebangkitan Islam, sudah semenjak lama, dari saat novelnya itu menggeliat di pasar, dan dari saat Kang Abik menyepakati difilmkannya novel tersebut, mereka sudah beranggapan, berkeyakinan dan berpandangan, bahwa Kang Abik sudah terperosok. Bangkitlah Kang. Sejuta umat sedang megap-megap mencari selamat [1]. Tapi ‘penyelamat’ itu kini sedang mampir di tangan Anda. Film “Ayat-ayat Cinta” tak mungkin dibubarkan. Tapi fenomenanya yang membius banyak orang itu, tentu bisa Anda minimalisir ke level yang jauh lebih aman.

“Letak bius yang berbahaya pada film ini justru pada label religius di belakangnya. Bila sebuah film tak diembel-embeli sebagai film religius atau islami, ia akan ditonton sebagaimana film-film lain. Soal film itu begitu bagus, menyentuh dan sangat membangun, itu soal lain. Tapi bila sudah diberi imbuhan kata religius atau islami, maka ia akan dinikmati sebagai produk agama.” begitu di antaranya saya ungkapan, dalam buku saya.

Di sini, saya ingin menegaskan hal itu kembali. Memang, tak ada kata resmi “religius” di lekatkan di judul film ini. Tapi tema itu begitu kental menyeruak dalam pandangan masyarakat umum. Bahkan banyak yang berkata, “Ini film paling religius hingga saat ini.”

Film Di Balik Lindungan Ka’bah yang diangkat dari novel Hamka dulu, masih belum apa-apa dibandingkan reputasi Ayat-ayat Cinta. Untuk soal komersialitas karya, Ayat-ayat Cinta lebih “Hamka” dibandingkan karya Hamka sendiri.

Namun –sekali lagi- justru ini yang semakin mengubah bius itu menjadi candu.

Sekarang, minimal, masyarakat Islam militan harus bersiap-siap untuk menganggap legal sesuatu yang mereka anggap tabu selama ini. Berhati-hatilah terhadap peringatan Allah,

يعلم خآ ئنة الأعين و ماتخفي الصدور

“Allah mengetahui pandangan mata yang khianat. Dan apa yang tersembunyi dalam hati…”

Tentu, seperti saya ungkapkan dalam buku saya, dengan menyoroti film ini sedemikian rupa, jangan dipandang bahwa saya menganggap bahwa film ini sama sekali tak berisi faidah, hikmah atau pelajaran. Tidak, bukan itu yang saya maksud. Karena pada hakikatnya, dari setiap bergulirnya nyawa kehidupan, selalu ada hikmah. Sebuah adegan maksiat saja seringkali memberi pelajaran buat kita. Saat ibu-ibu yang kecopetan, kita mendapat pelajaran, “betapa perlunya waspada di tengah kerumunan orang banyak” Tapi toh, tak seorangpun di antara kita memilih mendapat tontonan orang kecopetan. Begitu juga dengan film ini. Inilah saat kita menyaksikan kaum militan Islam sedang kecopetan. Begitu kasihan kita melihat mereka. Dan kita berharap, kejadian itu tak perlu terulang lagi.

Sungguh, saya sangat menghargai niat baik di balik pembuatan film ini, dari mereka yang mungkin memandang ini sebagai sebuah kebajikan. Bahkan saya mengistilahkan sebagai sebuah lompatan jauh menuju religiusitas perfilman tanah air. Tapi, kita berbicara hukum yang sifatnya baku. Niat baik tak bisa mengubah yang buruk menjadi baik.

كم من مريد للحفّ لم بصبه

Berapa banyak orang yang berniat baik tetapi tidak mendapatkan kebaikan tersebut.”[2]

Begitu diungkapkan oleh Ibnu Mas’ud radliallahu ‘anhu. Kepada mereka yang telah berjibaku untuk mewujudkan film ini sebagai reaksi kepedulian mereka terhadap Islam, saya berdoa semoga niat baik mereka tetap diberi pahala oleh Allah. Tapi, doa itu akan saya tambahkan: semoga Allah membuka hati mereka, untuk lebih memahami kebenaran. Semoga, meski dengan langkah yang “keliru”, niat baik mereka dihargai oleh Allah dengan membuka pintu taubat yang seluas-luasnya buat mereka. Buat kita bersama.

Catatan kaki:


[1] Alhamdulillah. Sebenarnya, saat tulisan ini saya ketik, dan bahkan semenjak saya menulis “Fenomena Ayat-Ayat Setan” , saya sudah bersepakat dengan seorang teman karib saya yang juga teman karib Kang Abik saat masih mengajar di Abu Bakar, Furqan al-Hasbi, untuk bertemu. Ada banyak hal yang mau saya bicarakan dengan beliau. Sayang, kami kesulitan menemukan waktu di mana kami bertiga bisa sama-sama luang. Sehingga hingga tulisan ini selesai saya ketik, kami belum juga mau bertemu. Padahal Kang Abik sedang bersiap-siap ke Hongkong dan Mesir. Saya berharap, lain waktu bisa bertemu. Tapi melalui tulisan ini, saya menitipkan ’secuil’ dari pesan saudara seiman, yang ingin saya sampaikan langsung kepada beliau. Wallahu a’lam.

[2] Diriwayatkan oleh Ad-Darimi dalam Sunan-nya nomor 210, dengan tahqiq Abdullah Hasyim Yamani. Sanadnya dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Silsilah Al-Hadits Ash-Shahihah dengan nomor 2005. Lihat Majma’uz Zawa-id l: 181.

Penulis: Ustadz Abu Umar Basyir
diambil dari Artikel AbuUmar.com

Dosa Terbesar di sisi al-Jabbar

Dosa Terbesar di sisi al-Jabbar

diambil dari abumuslih.com

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, beliau berkata, “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam; Dosa apakah yang paling besar di sisi Allah?”. Maka beliau menjawab, “Engkau menjadikan sekutu bagi Allah padahal Dialah yang telah menciptakanmu.” Abdullah berkata, “Kukatakan kepadanya; Sesungguhnya itu benar-benar dosa yang sangat besar.” Abdullah berkata, “Aku katakan; Kemudian dosa apa sesudah itu?”. Maka beliau menjawab, “Lalu, kamu membunuh anakmu karena takut dia akan makan bersamamu.” Abdullah berkata, “Aku katakan; Kemudian dosa apa sesudah itu?”. Maka beliau menjawab, “Lalu, kamu berzina dengan istri tetanggamu.” (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim [2/153])

Hadits yang mulia ini mengandung pelajaran berharga, di antaranya:

  1. Kemaksiatan yang terbesar adalah syirik, kemudian setelah itu pembunuhan tanpa alasan yang benar. Para ulama madzhab Syafi’i mengatakan bahwa dosa besar yang terbesar setelah syirik adalah pembunuhan (lihat Syarh Muslim [2/154])
  2. Sebagaimana amalan itu bertingkat-tingkat keutamaannya, demikian pula dosa. Ada dosa besar dan ada dosa kecil. Dosa besar pun bertingkat-tingkat, sedangkan dosa besar yang terbesar adalah yang terkait dengan hak Allah (ibadah) yaitu mempersekutukan Allah dalam hal ibadah. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia akan mengampuni dosa lain yang berada di bawah tingkatan syirik itu bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya.” (QS. an-Nisaa’: 48). Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah mengatakan, “Maka jelaslah berdasarkan ayat ini bahwa syirik merupakan dosa yang paling besar.” (Fath al-Majid, hal. 70)
  3. Tauhid rububiyah -pengakuan Allah sebagai satu-satunya pencipta- sudah tertanam di dalam hati manusia (lihat Shahih Bukhari, Kitab Tafsir al-Qur’an, hal. 924)
  4. Yang dimaksud menjadikan sekutu bagi Allah adalah beribadah kepada selain-Nya di samping beribadah kepada-Nya. Artinya seseorang beribadah kepada Allah dan juga kepada selain Allah (lihat Shahih Bukhari, Kitab Tafsir al-Qur’an, hal. 1003).
  5. Tauhid rububiyah merupakan dalil atas tauhid uluhiyah. Orang yang mengakui bahwa Allah yang menciptakan dirinya maka sudah semestinya dia mempersembahkan ibadahnya hanya kepada Allah. Oleh sebab itu Nabi mengatakan bahwa dosa terbesar itu -yaitu syirik- adalah, “Engkau menjadikan sekutu bagi Allah padahal Dialah yang telah menciptakanmu.” Sebagaimana Allah tidak bersekutu dalam hal rububiyah (penciptaan, penguasaan, dan pengaturan alam) maka demikian pula dalam hal uluhiyah. Metode semacam ini sering kita temukan dalam al-Qur’an. Contohnya, firman Allah (yang artinya), “Wahai umat manusia, sembahlah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa.” (QS. al-Baqarah: 21). Tauhid rububiyah merupakan pintu gerbang menuju tauhid uluhiyah (lihat Kitab Tauhid li Shaffil Awwal, hal. 36)
  6. Bertanya kepada ahli ilmu atau ulama. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Bertanyalah kepada ahli ilmu jika kamu tidak mengetahui perkara apa saja.” (QS. an-Nahl: 43)
  7. Perbuatan membunuh anak karena takut dia makan bersama orang tuanya (alasan ekonomi) adalah sebuah tindakan biadab (lihat Shahih Bukhari, Kitab al-Adab, hal. 1239)
  8. Perzinaan adalah perbuatan yang sangat keji dan dosa yang sangat besar (lihat Shahih Bukhari, Kitab al-Muharibin, hal. 1368)
  9. Hamba dan perbuatannya adalah ciptaan Allah ta’ala (lihat Shahih Bukhari, Kitab at-Tauhid, hal. 1494). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Allah yang menciptakan kalian dan apa yang kalian perbuat.” (QS. ash-Shaffat: 96). Meskipun demikian, perbuatan yang dilakukan oleh manusia tidak di bawah tekanan dan dia melakukan sesuatu dengan pilihan dan kemampuannya sendiri. Oleh sebab itu, pelaku maksiat tidak boleh berdalil dengan takdir untuk membenarkan kemaksiatannya. Sesungguhnya berdalih dengan takdir untuk membenarkan kemaksiatan merupakan karakter orang-orang musyrikin. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Orang-orang yang berbuat syirik itu benar-benar akan mengatakan; Seandainya Allah menghendaki niscaya kami tidak akan berbuat syirik demikian pula bapak-bapak kami. Dan kami juga tidak akan pernah mengharamkan apapun -yang sebenarnya tidak haram, pent-. Demikian itulah tindakan pendustaan yang dilakukan oleh orang-orang sebelum mereka sampai mereka merasakan hukuman Kami…” (QS. al-An’am: 148)
  10. Kewajiban Nabi adalah sekedar menyampaikan risalah/wahyu dan ketetapan dari Allah, bukan menyampaikan apa yang diinginkan oleh hawa nafsu dan perasaannya, ataupun menampung keinginan dan paham kebudayaan kaumnya terhadap agama ini. az-Zuhri rahimahullah berkata, “Risalah berasal dari Allah ‘azza wa jalla. Kewajiban Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah menyampaikannya. Adapun kewajiban kita adalah taslim/pasrah.” (lihat Shahih Bukhari, Kitab at-Tauhid, hal. 1496-1497). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah dia -Muhammad- berbicara dengan dasar hawa nafsunya, akan tetapi itu adalah semata-mata wahyu yang diwahyukan kepadanya.” (QS. an-Najm: 3-4). Allah juga berfirman (yang artinya), “Tidaklah kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan -wahyu- dengan jelas.” (QS. al-Ankabut: 18). Oleh sebab itu, Allah menyebut orang yang menaati Rasul telah menaati Allah. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang taat kepada Rasul itu sesungguhnya dia telah taat kepada Allah.” (QS. an-Nisaa’: 80). Sehingga ini semua menjadi bantahan yang sangat jelas bagi kaum Liberal dan Pluralis yang beranggapan bahwa ajaran al-Qur’an yang diterapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebuah produk budaya, bukan wahyu yang suci dan harus dijunjung tinggi! Maha suci Allah dari busuknya keyakinan mereka… Inilah akibatnya -wahai saudaraku- tatkala manusia berpaling dari manhaj salaf, maka yang terjadi adalah kerancuan, kebimbangan, dan kerusakan akal yang pada akhirnya akan menyeret pelakunya ke jurang kehancuran! Maha benar Allah dengan firman-Nya (yang artinya), “Orang-orang yang terdahulu dan pertama-tama dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengkuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Allah pun telah menyediakan untuk mereka surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya. Itulah kemenangan yang sangat besar.” (QS. at-Taubah: 100)
  11. Membunuh jiwa yang diharamkan adalah dosa besar, maka bagaimanakah lagi jika yang dibunuh adalah anaknya sendiri? Demikian juga, berzina adalah dosa besar, maka bagaimanakah lagi jika yang menjadi korban -suka atau tidak suka- adalah istri tetangganya?
  12. Hadits ini menunjukkan bahwa Islam mengajarkan kepada umat manusia untuk menjaga agama, nyawa, dan kehormatan mereka. Karena perkara-perkara ini termasuk dalam maqashid syari’ah yang harus dijaga.
  13. Hadits yang agung ini menunjukkan bahwa sebesar apapun kebencian orang terhadap pembunuhan dan perzinaan, maka kebencian mereka terhadap kemusyrikan harus lebih besar dari itu semua. Karena syirik adalah sebesar-besar dosa besar! Bahkan, meskipun syirik tersebut digolongkan dalam syirik ashghar yang tidak sampai membuat pelakunya keluar dari agama secara total, maka kebencian kita kepadanya harus lebih besar! Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata, “Sungguh, aku bersumpah dengan nama Allah tapi dusta itu lebih aku sukai daripada bersumpah dengan selain nama Allah meskipun jujur.” (dinukil dari Fath al-Majid, hal. 402). Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah berkata, “Kalau sikap seperti itu yang diterapkan terhadap syirik ashghar, lantas bagaimanakah lagi sikap terhadap syirik akbar yang menyebabkan pelakunya kekal di neraka?” (Fath al-Majid, hal. 402). Maka perhatikanlah diri kita masing-masing, wahai saudaraku. Seberapakah kualitas kebencian kita kepada syirik, ataukah kita justru meremehkan dan seolah menganggap kita pasti terbebas darinya? Allahul musta’an.

Nasehat di Tengah Malam

Nasehat di Tengah Malam

diambil dari http://abumushlih.com

Dari Ummu Salamah radhiyallahu’anha –salah seorang isteri Nabi-, beliau berkata: Suatu malam, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bangun dari tidur -dalam keadaan terkejut- lalu berkata, “Subhanallah! Fitnah apa yang diturunkan pada malam ini, dan perbendaharaan apakah yang sedang dibukakan. Bangunkanlah para wanita yang tinggal di bilik-bilik itu (isteri-isteri beliau) -untuk mendirikan sholat-. Betapa banyak wanita yang berpakaian di dunia namun telanjang di akherat.” (HR. Bukhari, lihat Fath al-Bari [1/255])

Hadits yang mulia ini banyak mengandung pelajaran, di antaranya:

  1. Hadits ini menunjukkan bahwa yang dimaksud larangan berbicara (ngobrol) selepas sholat Isyak -sebagaimana dalam hadits lainnya- adalah pembicaraan yang tidak dalam kebaikan. Dan hadits ini juga menunjukkan bolehnya melakukan ta’lim (pelajaran/kajian) atau mau’izhah (nasehat) di waktu malam (lihat Fath al-Bari [1/255]). Oleh sebab itu suatu ketika Umar bersama dengan Abu Musa al-Asy’ari pernah berbincang-bincang seputar permasalahan agama hingga larut malam, sehingga Abu Musa mengatakan, “Ini adalah saat sholat malam.” Maka Umar pun menjawab, “Sesungguhnya kita juga sedang sholat.” (dinukil dari Fath al-Bari [1/259])
  2. Hadits ini menunjukkan bolehnya mengucapkan ‘Subhanallah’ ketika merasa heran/takjub kepada sesuatu, entah sesuatu yang diherankan itu dominan membawa dampak buruk (semacam fitnah) ataupun yang tidak selalu memberikan dampak buruk (semacam perbendaharaan/harta) (lihat Fath al-Bari [1/256], lihat juga Shahih Bukhari, Kitab al-Adab, hal. 1272)
  3. Dianjurkan untuk berdzikir kepada Allah setelah bangun dari tidur (lihat Fath al-Bari [1/256])
  4. Dianjurkan bagi seorang suami untuk membangunkan isterinya di malam hari dalam rangka menunaikan ibadah, terlebih lagi di saat melihat atau mengalami kejadian yang menakjubkan (lihat Fath al-Bari [1/256])
  5. Dianjurkan mengerjakan sholat malam (lihat Shahih Bukhari, Kitab at-Tahajjud, hal. 234)
  6. Dianjurkan untuk bersegera mengerjakan sholat -sunnah- di saat-saat muncul kekhawatiran terhadap suatu keburukan yang akan menimpa (lihat Fath al-Bari [1/257])
  7. Dianjurkan bertasbih -membaca subhanallah- ketika menjumpai keadaan yang mengerikan atau menimbulkan kegoncangan (lihat Fath al-Bari [1/257])
  8. Semestinya seorang yang berilmu memberikan peringatan kepada orang-orang yang belajar kepadanya dari segala kondisi yang akan mereka hadapi dan pasti akan terjadi. Kemudian, ia semestinya juga membimbing mereka bagaimana cara mengatasi perkara yang membahayakan tersebut (lihat Fath al-Bari [1/257])
  9. Hadits ini menunjukkan salah satu bukti kenabian Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dimana beliau bisa mengetahui turunnya fitnah dan terbukanya perbendaharaan di malam tersebut (lihat Shahih Bukhari, Kitab al-Manaqib, hal. 752)
  10. Hadits ini menunjukkan betapa melekat ingatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai Allah ta’ala serta kampung akherat, dan hal itu mencerminkan ketekunan beliau dalam berdzikir kepada-Nya
  11. Tidak semestinya kenikmatan dunia ini melalaikan manusia dari beribadah kepada Rabbnya
  12. Tolong menolong dalam kebaikan dan takwa, terutama di dalam lingkungan internal keluarga sangat dibutuhkan demi terwujudnya keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah
  13. Hadits ini mengisyaratkan bolehnya berpoligami dan hendaknya sang suami berlaku adil kepada isteri-isterinya, di antaranya adalah dalam hal tempat tinggal dan waktu bermalam
  14. Kedudukan sebagai isteri Nabi tidak boleh melalaikan kaum wanita dari beribadah kepada Allah (lihat Fath al-Bari [1/256]). Kalau isteri Nabi saja demikian, maka bagaimana lagi dengan selain mereka, seperti isteri pak kyai, ustadz, ataupun da’i…

Kontradiksitas

diambil dari addariny.wordpress.com

Dengan merendah, ku terangkat tinggi

Karena meninggi, ku jadi rendah diri

—   —

Ketika merasa alim, aku dalam kejahilan

Karena rasa jahilkulah, tanda kealiman

—   —

Besar hatiku… ketika ku anggap kecil masalahku…

Besarnya permasalahan… adlh tanda kecilnya pengharapan…

—   —

saat ku rasa dlm kebebasan, ternyata ku dalam penghambaan

Adakah selain menghamba pada Ar-Rohman, atau menghamba pada setan?!

—   —

Perasaan kaya, adalah biang kefakiran

Siapa merasa kaya thd amalan, pasti akan fakir pahala kebaikan

—   —

Saat datang kesedihan, berarti ku nanti kebahagiaan

Adakah kesedihan, tanpa percikan kebahagiaan?!

—   —

Ketika ku ahli dalam sesuatu, aku bodoh dalam hal lainnya

Tiada yang sempurna ilmunya, selain Alloh yg Maha Esa

—   —

saat ku kejar dunia, ia seakan lari

saat ku harus meninggalkannya, ia malah datang menggoda hati

—   —

Dan makin jauh perjalanan hidupku, adalah makin dekatnya ajalku

Ya Alloh… Jadikanlah akhir kematianku itu awal kehidupanku

(oleh: Addariny, Madinah ‘07-’09)

10 Kiat Tegar Menghadapi Cobaan

cobaan musibah

Mengarungi kehidupan pasti seseorang akan mengalami pasang surut. Kadang seseorang mendapatkan nikmat dan kadang pula mendapatkan musibah atau cobaan. Semuanya datang silih berganti. Kewajiban kita adalah bersabar ketika mendapati musibah dan bersyukur ketika mendapatkan nikmat Allah. Berikut adalah beberapa kiat yang bisa memudahkan seseorang dalam menghadapi setiap ujian dan cobaan.

Pertama: Mengimani takdir ilahi

Setiap menghadapi cobaan hendaklah seseorang tahu bahwa setiap yang Allah takdirkan sejak 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi pastilah terjadi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

Allah telah mencatat takdir setiap makhluk sebelum 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.”[1]

Beriman kepada takdir, inilah landasan kebaikan dan akan membuat seseorang semakin ridho dengan setiap cobaan. Ibnul Qayyim mengatakan, “Landasan setiap kebaikan adalah jika engkau tahu bahwa setiap yang Allah kehendaki pasti terjadi dan setiap yang tidak Allah kehendaki tidak akan terjadi.” [2]

Kedua: Yakinlah, ada hikmah di balik cobaan

Hendaklah setiap mukmin mengimani bahwa setiap yang Allah kehendaki pasti ada hikmah di balik itu semua, baik hikmah tersebut kita ketahui atau tidak kita ketahui.[3] Allah Ta’ala berfirman,

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ (115) فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ (116)

Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (Yang mempunyai) ‘Arsy yang mulia.” (QS. Al Mu’minun: 115-116)

Allah Ta’ala juga berfirman,

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لَاعِبِينَ (38) مَا خَلَقْنَاهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ

Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan haq.” (QS. Ad Dukhan: 38-39)

Ketiga: Ingatlah bahwa musibah yang kita hadapi belum seberapa

Ingatlah bahwa Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam sering mendapatkan cobaan sampai dicaci, dicemooh dan disiksa oleh orang-orang musyrik dengan berbagai cara. Kalau kita mengingat musibah yang menimpa beliau, maka tentu kita akan merasa ringan menghadapi musibah kita sendiri karena musibah kita dibanding beliau tidaklah seberapa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لِيَعْزِ المسْلِمِيْنَ فِي مَصَائِبِهِمْ المصِيْبَةُ بي

Musibah yang menimpaku sungguh akan menghibur kaum muslimin.[4]

Dalam lafazh yang lain disebutkan,

مَنْ عَظَمَتْ مُصِيْبَتُهُ فَلْيَذْكُرْ مُصِيْبَتِي، فَإِنَّهَا سَتَهَوَّنُ عَلَيْهِ مُصِيْبَتُهُ

Siapa saja yang terasa berat ketika menghapi musibah, maka ingatlah musibah yang menimpaku. Ia tentu akan merasa ringan menghadapi musibah tersebut.[5]

Keempat: Ketahuilah bahwa semakin kuat iman, memang akan semakin diuji

Dari Mush’ab bin Sa’id -seorang tabi’in- dari ayahnya, ia berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً

Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

« الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ »

Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.[6]

Kelima: Yakinlah, di balik kesulitan ada kemudahan

Dalam surat Alam Nasyroh, Allah Ta’ala berfirman,

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 5)

Ayat ini pun diulang setelah itu,

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 6). Qotadah mengatakan, “Diceritakan pada kami bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberi kabar gembira pada para sahabatnya dengan ayat di atas, lalu beliau mengatakan,

لَنْ يَغْلِبَ عُسْرٌ يُسْرَيْنِ

Satu kesulitan tidak mungkin mengalahkan dua kemudahan.[7]

Keenam: Hadapilah cobaan dengan bersabar

‘Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

الصَّبْرُ مِنَ الإِيْمَانِ بِمَنْزِلَةِ الرَّأْسِ مِنَ الجَسَدِ، وَلَا إِيْمَانَ لِمَنْ لاَ صَبْرَ لَهُ.

Sabar dan iman adalah bagaikan kepala pada jasad manusia. Oleh karenanya, tidak beriman (dengan iman yang sempurna), jika seseorang tidak memiliki kesabaran.[8]

Yang dimaksud dengan bersabar adalah menahan hati dan lisan dari berkeluh kesah serta menahan anggota badan dari perilaku emosional seperti menampar pipi dan merobek baju.[9]

Ketujuh: Bersabarlah di awal musibah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الأُولَى

Yang namanya sabar seharusnya dimulai ketika awal ditimpa musibah.[10] Itulah sabar yang sebenarnya. Sabar yang sebenarnya bukanlah ketika telah mengeluh lebih dulu di awal musibah.

Kedelapan: Yakinlah bahwa pahala sabar begitu besar

Ingatlah janji Allah,

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az Zumar: 10). Al Auza’i mengatakan, “Pahala bagi orang yang bersabar tidak bisa ditakar dan ditimbang. Mereka benar-benar akan mendapatkan ketinggian derajat.” As Sudi mengatakan, “Balasan orang yang bersabar adalah surga.”[11]

Kesembilan: Ucapkanlah “Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’un …”

Ummu Salamah -salah satu istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam- berkata bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أُمَّ سَلَمَةَ زَوْجَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- تَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَا مِنْ عَبْدٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا إِلاَّ أَجَرَهُ اللَّهُ فِى مُصِيبَتِهِ وَأَخْلَفَ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا ». قَالَتْ فَلَمَّا تُوُفِّىَ أَبُو سَلَمَةَ قُلْتُ كَمَا أَمَرَنِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَأَخْلَفَ اللَّهُ لِى خَيْرًا مِنْهُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.

Siapa saja dari hamba yang tertimpa suatu musibah lalu ia mengucapkan: “Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’un. Allahumma’jurnii fii mushibatii wa akhlif lii khoiron minhaa [Segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali pada-Nya. Ya Allah, berilah ganjaran terhadap musibah ang menimpaku dan berilah ganti dengan yang lebih baik]”, maka Allah akan memberinya ganjaran dalam musibahnya dan menggantinya dengan yang lebih baik.” Ketika, Abu Salamah (suamiku) wafat, aku pun menyebut do’a sebagaimana yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan padaku. Allah pun memberiku suami yang lebih baik dari suamiku yang dulu yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”[12]

Do’a yang disebutkan dalam hadits ini semestinya diucapkan oleh seorang muslim ketika ia ditimpa musibah dan sudah seharusnya ia pahami. Insya Allah, dengan ini ia akan mendapatkan ganti yang lebih baik.

Kesepuluh: Introspeksi diri

Musibah dan cobaan boleh jadi disebabkan dosa-dosa yang pernah kita perbuat baik itu kesyirikan, bid’ah, dosa besar dan maksiat lainnya. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.” (QS. Asy Syura: 30). Maksudnya adalah karena sebab dosa-dosa yang dulu pernah diperbuat.[13] Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Akan disegerakan siksaan bagi orang-orang beriman di dunia disebabkan dosa-dosa yang mereka perbuat, dan dengan itu mereka tidak disiksa (atau diperingan siksanya) di akhirat.”[14]

Semoga kiat-kiat ini semakin meneguhkan kita dalam menghadapi setiap cobaan dan ujian dari Allah.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

diambil dari Artikel http://rumaysho.com

Diselesaikan di Pangukan-Sleman, 25 Shofar 1431 H


[1] HR. Muslim no. 2653, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash.

[2] Al Fawaid, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, hal. 94, Darul ‘Aqidah, cetakan pertama, tahun 1425 H.

[3] Lihat Syarh ‘Aqidah Ahlis Sunnah wal Jama’ah, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, hal. 151-153, Maktabah Ash Shofaa, cetakan pertama, tahun 1426 H.

[4] Shahih Al Jami’, 5459, dari Al Qosim bin Muhammad. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.

[5] Disebutkan dalam Bahjatul Majalis wa Ansul Majalis, Ibnu ‘Abdil Barr, hal. 249, Mawqi’ Al Waroq.

[6] HR. Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024, Ad Darimi no. 2783, Ahmad (1/185). Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 3402 mengatakan bahwa hadits ini shahih.

[7] Dikeluarkan oleh Ibnu Jarir Ath Thobari dalam kitab tafsirnya. Lihat Tafsir Ath Thobari, 24/496, Dar Hijr.

[8] Bahjatul Majalis wa Ansul Majalis, Ibnu ‘Abdil Barr, hal. 250, Mawqi’ Al Waroq.

[9] Lihat ‘Uddatush Shobirin wa Zakhirotusy Syakirin,  Ibnu Qayyim Al Jauziyah, hal. 10, Dar At Turots, cetakan pertama, tahun 1410 H.

[10] HR. Bukhari no. 1283, dari Anas bin Malik.

[11] Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 12/117, Muassasah Qurthubah.

[12] HR. Muslim no. 918.

[13] Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 12/280, Muassasah Quthubah.

[14] Dikeluarkan oleh Ibnu Jarir Ath Thobari dalam kitab tafsirnya. Lihat Tafsir Ath Thobari, 20/514.

MUSUH-MUSUH MANUSIA

MUSUH-MUSUH MANUSIA

Oleh
Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman Al Jibrin

diambil dari http://www.almanhaj.or.id

Kita memahami, bahwa Allah Azza wa Jalla menciptakan fitrah atas diri manusia, yaitu bisa mengetahui dan mengenal kebenaran, serta menjauhi dan menghindari kebathilan. Akan tetapi, meskipun fithrah manusia itu sudah disiapkan dan memiliki kemampuan untuk mengetahui yang haq dan yang bathil, namun bukan berarti untuk mengamalkan al haq ataupun menghindari yang bathil itu mudah.

Ada rintangan dan hambatan yang menjadi ujian. Ada musuh yang selalu menghalangi dari jalan al haq. Dan sebaliknya ada musuh yang selalu berusaha membimbing ke arah yang bathil.

Musuh-musuh ini memberikan gambaran tentang kebenaran dan kebathilan. Al haq, yang semestinya indah, menjanjikan kebaikan dan membawa kepada kebahagiaan dunia dan akhirat, digambarkan oleh musuh manusia sebagai sesuatu yang menakutkan dan menyusahkan.

Sebaliknya yang bathil, yang mestinya menjijikkan dan berujung pada penderitaan, digambarkan oleh musuh manusia sebagai keindahan nan menyenangkan. Akhirnya banyak orang yang terpedaya, meninggalkan jalan yang benar dan mengikuti jalan yang bathil, iyadzan billah.

Karenanya, wahai saudara-saudaraku, rahimanillahu wa iyyakum ajma’in, kita perlu mengetahui musuh-musuh itu, agar dapat bersikap. Musuh tetaplah musuh, bukan sebagai teman, apalagi sebagai pembimbing. Siapakah musuh-musuh yang selalu berusaha mengajak manusia kepada perbuatan batil dan keliru?

Musuh yang pertama adalah setan. Berbagai macam cara ditempuh oleh setan untuk menjerumuskan manusia ke dalam kebathilan dan menghalangi manusia dari al haq (kebenaran). Dan setan ini sering berhasil menjadikan manusia sebagai pengikutnya. Hanya orang-orang ikhlas dalam ibadahnya yang selamat dari makar dan tipu daya setan. Hanya orang-orang beriman yang bisa menjadikan setan sebagai musuhnya. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang beriman yang iikhlas dalam beribadah kepada Allah Azza wa Jalla.

Di awal kitab Madarijus Salikin dan al Bada-i, pada akhir pembahasan tafsir surat al Mu’awwidzatain (surat an Nas dan al Falaq), Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan cara-cara dan tahapan setan dalam menghembuskan kejahatan dan tipuan kepada manusia.

Tahapan Pertama : Setan mengajak manusia melakukan perbuatan kufur dan syirik, menentang Allah dan RasulNya. Inilah yang paling diinginkan oleh setan. Dengan cara ini, setan telah berhasil menyesatkan banyak orang. Dengan cara ini, manusia dijadikan sebagai tentara dan para abdinya. Jika setan putus asa dan tidak mampu menyeret manusia ke dalam perbuatan kufur, maka setan akan menggodanya dengan tahapan berikutnya.

Tahapan Kedua : Setan mengajak manusia untuk mengamalkan perbuatan bid’ah dalam agama, baik bid’ah dalam masalah aqidah maupun amal perbuatan.

Bid’ah merupakan perbuatan dosa, yang pelakunya sulit diharapkan bertaubat. Setan memberi gambaran yang indah dalam benak manusia, bahwa apa yang dilakukan itu merupakan kebenaran, dan ahli bid’ah mempercayai bisikan setan ini. Karena anggapan yang baik atas perbuatan bid’ah, membuat pelakunya susah melepaskan diri dan bertaubat dari perbuatan yang dianggap baik ini, padahal sebenarnya menyesatkan.

Ketika berhasil menyeret seseorang ke dalam tahapan ini, maka setan akan merasa lega. Karena perbuatan bid’ah merupakan gerbang menuju kekufuran. Dan para pembuat bid’ah menjadi salah satu corong di antara propaganda iblis.

Jika setan tidak mampu menyeretnya ke dalam perbuatan bid’ah, maka dia akan menjebak dan menggiring manusia kepada Tahapan Ketiga : Yaitu perbuatan dosa besar dengan berbagai macam variasinya.

Dosa-dosa besar ini juga merupakan gerbang menuju kekufuran. Setan berhasil menjerumuskan banyak orang dalam dosa besar. Manusia tenggelam dalam perbuatan maksiat, sehingga hatinya menjadi membatu, terhalang dari kebenaran. Kemudian setan menyebarkan berita tentang mereka ini di tengah masyarakat. Setan memanfaatkan tentara dan para abdinya untuk menyebarkan perbuatan dosa ini, terutama jika perbuatan dosa ini dilakukan oleh penguasa atau orang yang diidolakan. Tujuannya, supaya perbuatan-perbuatan mereka dijadikan argumen.

Sebagai misal, yaitu makan riba, mendengarkan musik, menikmati alat-alat musik dan permainan, menyetujui perbuatan bersolek, membuka wajah dan ikhtilath (campur baur) laki-laki dan perempuan, loyal dan suka kepada orang-orang kafir, homoseks, meminum khamr, dan lain sebagainya.

Dalam tahapan ini, setan berhasil menyesatkan banyak orang. Banyak manusia berkubang dalam kemungkaran-kemungkaran. Setan menghiasi amal-amal para idola ini, sehingga mereka menjadi pioner yang mengajak ke perbuatan maksiat secara nyata, atau mungkin dengan ucapan.

Sedangkan orang yang tidak mampu digoda setan dan dijaga oleh Allah dari perbuatan dosa-dosa besar, maka setan berusaha menyeretnya ke Tahap Keempat : Yaitu melakukan dosa-dosa kecil, sebagai gerbang memasuki dosa-dosa besar. Dosa-dosa kecil ini terkadang dianggap remeh oleh manusia dan tidak peduli dengan pelakunya. Padahal, dosa-dosa kecil itu menyeret untuk melakukan dosa berikutnya.

Diceritakan dalam sebuah hadits dari Sahl bin Sa’d, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ فَإِنَّهُنَّ يَجْتَمِعْنَ عَلَى الرَّجُلِ حَتَّى يُهْلِكْنَهُ

“Jauhilah dosa-dosa kecil, karena jika dosa-dosa itu berkumpul pada diri seseorangو akhirnya akan membuatnya binasa (celaka)”

Maka, tidak diragukan lagi, meremehkan perbuatan dosa kecil, bisa merubah dosa kecil menjadi besar. Sebagaimana perkataan ulama Salaf, tidak ada dosa kecil jika dilakukan terus-menerus, dan tidak dosa besar bila diiringi dengan istighfar.

Sebagian yang lain mengatakan, janganlah kalian memandang kecil sebuah dosa, akan tetapi pandanglah keagungan Dzat yang kalian durhakai.

Jika setan merasa lemah dan tidak mampu menjerumuskan manusia ke dalam perbuatan-pebuatan dosa ini, maka setan menggoda manusia dengan tahapan kelima. Yaitu menyibukkan manusia dengan perkara-perkara mubah yang tidak mendatangkan pahala, dan juga tidak mengakibatkan dosa. Menyibukkan perkara-perkara mubah, berarti menyia-nyiakan waktu dan usia, tidak memanfaatkankanya dengan kebaikan dan perbuatan shalih.

Betapa banyak manusia tertipu dengan perkara-perkara mubah, berlebih-lebihan dalam makanan, minum, rumah, pakaian. Demi keperluan ini, manusia telah menyia-nyiakan sejumlah harta, usia dan waktu, lalai dengan kebaikan, tidak berlomba-lomba dalam kebaikan. Sehingga, perbuatan mubah ini bisa menjadi penyebab seseorang lupa kepada akhirat, dan lupa melakukan persiapan untuk menyongsongnya.

Sedangkan manusia yang tidak bisa dijerumuskan dengan tahapan ini, maka setan akan mengganggunya dengan Tahapan Keenam, yaitu mengalihkan perhatian manusia dari amalan-amalan yang lebih baik kepada amalan yang di bawahnya. Sebagai misal, seseorang akan menggunakan harta untuk hal-hal yang bernilai baik tetapi kurang. Disibukkan dengan amalan-amalan marjuh (bernilai baik tetapi kurang), sehingga (salah satu wujudnya) mempelajari ilmu-ilmu yang tidak memiliki urgensitas dan kehilangan ilmu yang bermanfaat.
Atau seseorang itu lebih memilih melakukan usaha-usaha yang masih memiliki syubhat daripada usaha yang jelas-jelas halal. Lebih mengutamakan ibadah-ibadah qashirah (yaitu manfaat ibadahnya hanya sebatas untuk si pelaku saja, seperti shalat sunnah) daripada ibadah muta’addiyah (ibadah yang manfaatnya juga akan dirasakan oleh orang lain) seperti jihad, mengajarkan ilmu, memerintahkan kepada yang ma’ruf, mencegah dari kemungkaran. Akibatnya, dia akan kehilangan kebaikan yang banyak.
Inilah tipu daya musuh setan. Saat setan merasa lemah dan tidak mampu menjerat sebagian manusia dalam perangkap-perangkap ini, maka setan memberikan kuasa kepada wali-walinya dan para abdinya dari kalangan jin dan manusia, serta orang yang tertipu dengan bisikannya. Lalu mereka menghina orang-orang baik ini dengan tujuan menyakiti wali dan para kekasih Allah k . Mereka menyiksanya dengan siksa yang buruk, seperti pembunuhan, pengusiran, penahanan, penyiksaan, penghinaan, pelecehan terhadap amalan-amalan orang-orang baik ini, sebagaimana kejadian yang dialami oleh para nabi Allah dan pengikutnya pada setiap waktu dan di semua tempat.
Semoga Allah melindungi kita dari semua makar dan tipu daya setan.

Ikhwani a’azzanillahu wa iyyakum jami’an,
Musuh manusia yang kedua, adalah nafsu yang senantiasa mengajak kepada keburukan.
Hawa nafsu ini cendrung kepada kebathilan, menghalangi manusia agar tidak menerima kebenaran dan tidak mengamalkannya. Jika jiwa ini muthmainnah (tenang dalam kebenaran), lebih mengutamakan yang hak, maka dia akan membimbing manusia ke arah yang benar dan berjalan di atas jalan keselamatan.
Musuh manusia yang ketiga, adalah menjadikan hawa nafsu ini sebagai ilah, yaitu menjadikan hawa nafsu sebagai sesembahan selain Allah. Disebutkan dalam firman Allah :

Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilahnya (sesembahannya). Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? (QS al Furqon : 43).

Seseorang yang selalu memperturutkan segala keinginannya, ia tidak akan peduli dengan akibat buruknya. Dalam sebuah atsar diriwayatkan, di bawah kolong langit ini, tidak ada yang lebih jelek dibandingkan hawa nafsu yang diperturutkan.
Adapun musuh manusia yang keempat adalah gemerlap dunia, kenikmatan dan hiasannya. Keindahan dunia dan berbagai kenikmatan semunya, telah menipu banyak orang, membuat manusia lupa kepada tujuan hidupnya yang hakiki. Padahal kehidupan akhirat dan segala isinya jauh lebih baik dibandingkan dengan kehidupan dunia yang fana. Allah k berfirman:

Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah, adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya? (QS al Qashash : 60).

Allah k juga berfirman :

Tetapi kamu (orang-orang) kafir lebih memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. (QS al A’la : 16-17).

Ikhwani a’azzanillahu wa iyyakum jami’an,
Demikian beberapa musuh yang sering menghalangi manusia dari berbuat amal shalih. Semoga Allah melindungi kita dari semua makar dan tipu daya yang menyesatkan.

KHUTBAH KEDUA

Khat pembuka

Jika musuh-musuh bisa menguasai diri seorang manusia, maka dampak yang terlihat adalah tidak semangat dalam melakukan ketaatan. Dan sebaliknya, ia justru semangat dan tidak takut melakukan perbuatan maksiat.
Meski begitu, Allah k yang Maha Rahim tidak membiarkan para hambaNya untuk menghadapi musuhnya seorang diri. Allah k berjanji akan menolong manusia dalam menghadapi musuh-musuhnya ini. Allah memerintahkan kepada kita agar memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk, serta memerintahkan manusia agar memohon pertolongan kepada Allah k dalam melakukan amalan yang susah ataupun berat baginya.
Allah k juga memerintahkan kepada para hambaNya agar ikhlas dalam melakukan ketaatan. Dengan demikian, dia akan termasuk hamba-hamba pilihan. Hamba-hamba yang ikhlas akan dibentengi Allah k dari kekuasaan musuh. Allah k berfirman :

Sesungguhnya hamba-hambaku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Rabb-mu sebagai Penjaga. (QS al Israa` : 65).

Semoga Allah senantiasa menolong kita dalam menghadapi godaan musuh-musuh, yang senantiasa menghalangi manusia dari jalan ketaatan. Dan semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hambaNya yang ikhlas, dan senantiasa mengikuti petunjuk Raslullah n .

*) Diangkat dari Minhajul Muslim Bainal ‘Ilmi wal ‘Amal, karya Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman al Jibrin, hlm. 175-180
Penutup

Romantisme dan Valentine’s Day

Oleh Al Ustadz Abu Umar Basyir

diambil dari http://salafiyunpad.wordpress.com

Ada semangat baru yang berusaha ‘disembulkan’ generasi muda belakangan ini, terkait dengan romantisme cinta di kalangan muda-mudi, atau di kalangan pria dan wanita, yang sudah atau belum menikah. Semangat itu berpangkal dari sebuah sumber kekuatan cinta yang dianggap sangat hebat, penuh inspirasi dan sangat tulus. Sumber kekuatan cinta itu adalah kisah-kisah yang akhirnya melahirkan hari yang dipandang ama bersejarah, Valentine Day.

Boleh jadi tanggal 14 Februari setiap tahunnya merupakan hati yang ditunggu-tunggu oleh banyak remaja, baik di negeri ini maupun di berbagai belahan bumi, khususnya belakangan ini. Sebab hari itu banyak dipercaya orang sebagai hari untuk mengungkapkan rasa kasih sayang. Itulah hari valentine, sebuah hari di mana orang-orang penting untuk mengungkapkan rasa kasih sayang.
Dan seiring dengan masuknya beragam gaya hidup barat ke dunia Islam, perayaan hari valentine pun ikut mendapatkan sambutan hangat, terutama dari kalangan remaja ABG. Bertukar bingkisan valentine, semarak warna pink, ucapan rasa kasih sayang, ungkapan cinta dengan berbagai ekspresinya, menyemarakkan suasana valentine setiap tahunnya, bahkan dikalangan remaja muslim sekalipun. Dan itu belum seberapa, dibandingkan dengan berbagai trend lain yang kemudian bermunculan sebagai aplikasi merayakan hari keramat itu. Mulai dari berjoget semalaman, hingga seks bebas yang dilakukan secara kolektif, dengan mengenakan topeng untuk menutupi identitas diri. Sehingga, perayaan yang sungguh sudah demikian hingar-bingar dengan pesta maksiat itu semakin berubah wujud menjadi ajang dosa-dosa besar.

Perayaan Valentine’s Day adalah Bagian dari Syiar Agama Nasrani

Valentine’s Day menurut literatur ilmiah yang diperoleh sebagian pakar menunjukkan bahwa perayaan itu bagian dari simbol agama Nasrani. Bahkan kalau mau dirunut ke belakang, sejarahnya berasal dari upacara ritual agama Romawi kuno. Konon, Paus Gelasius I pada tahun 496 yang memasukkan upacara ritual Romawi kuno ke dalam agama Nasrani, sehingga sejak itu secara resmi agama Nasrani memiliki hari raya baru yang bernama Valentine’s Day.

The Encyclopedia Britania, vol. 12, sub judul Crhistiany, menuliskan penjelasan sebagai berikut, “Agar lebih mendekatkan lagi kepada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi kuno ini menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St. Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari.”

Keterangan seperti ini bukan keterangan yang mengada-ada, sebab rujukannya bersumber dari kalangan barat sendiri. Dan keterangan ini menjelaskan kepada kita, bahwa perayaan hari valentine itu berasal dari ritual agama nasrani secara resmi. Dan sumber utamanya berasal dari ritual Romawi kuno. Sementara di dalam tatanan akidah Islam, seorang muslim diharamkan ikut merayakan hari besar pemeluk agama lain, baik agama Nasrani ataupun agama paganis (penyembah berhala) dari Romawi kuno.
Firman Allah,
Katakanlah, ‘Hai orang-orang kafir, Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang Aku sembah. Dan Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang Aku sembah. Untukmuj agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (Al-Kafirun: 1-6)

Kalau dibanding dengan perayaan natal, sebenarnya nyaris tidak ada bedanya. Natal dan Valentine sama-sama sebuah ritual agama milik umat Kristiani. Sehingga sudah selayaknya para ulama mengharamkan perayaan Valentine ini, seperti dinukil dari fatwa-fatwa Lajnah Daimah, atau fatwa-fatwa yang dikumpulkan oleh Syaikh Shalih Al-Munajjid dalam IslamQA.com atau Islamcselect.com. tak ubahnya perayaan Natal yang sudah jelas-jelas haram. Majelis Ulama Indonesia  pun layak mengambil sikap yang sama, seperti yang mereka tetapkan tentang haramnya umat Islam ikut menghadiri perayaan Natal, yang masih jelas dan tetap berlaku hingga kini. Maka seharusnya juga ada fatwa yang mengharamkan perayaan valentine khusus buat umat Islam.
Mengingat bahwa masalah ini bukan semata-mata budaya, melainkan terkait dengan masalah akidah, di mana umat Islam diharamkan merayakan ritual agama dan hari besar agama lain.

Valentine Berasal dari Budaya Syirik

Ken Swiger dalam artikelnya “Should Biblical Christians Observe It?” mengatakan, “Kata ‘valentine’ berasal dari bahasa Latin yang berarti, ‘Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Maha Kuasa’. Kata ini ditujukkan kepada Nimroe dan Lupercus, tuhan orang Romawi.”

Disadari atau tidak ketika kita meminta orang menjadi “to be my valentine”, berarti sama dengan kita meminta orang menjadi “Sang Maha Kuasa”. Jelas perbuatan ini merupakan kesyirikan yang besar, menyamakan makhluk dengan Sang Khalik, menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala. Icon si “Cupid (bayi bersayap dengan panah)” itu adalah putra Nimrod “the hunter” dewa matahari. Disebut tuhan cinta, karena ia rupawan sehingga diburu wanita bahkan ia pun berzina dengan ibunya sendiri. Islam mengharamkan segala hal yang berbau syirik, seperti kepercayaan adanya dewa dan dewi. Dewa cinta yang sering disebut-sebut sebagai Dewa Amor, adalah cerminan akidah syirik yang di dalam Islam harus ditinggalkan jauh-jauh. Padahal atribut dan aksesoris hari valentine sulit dilepaskan dari urusan dewa cinta ini.

Wal hasil, semangat valentine ini tidak lain adalah semangat yang bertabur daengan simbol-simbol yang bertabur dengan simbol-simbol syirik yang hanya akan membawa pelakunya masuk neraka, wal ‘iyadzu billah.

Semangat Valentine adalah Semangat Berzina

Perayaan Valentine’s Day di masa sekarang ini mengalami pergeseran sikap dan semangat. Kalau di masa Romawi, sangat terkait erat dengan dunia para dewa dan mitoligi sesat, kemudian di masa Kristen dijadikan bagian dari simbol perayaan hari agama, maka di masa sekarang ini identik dengan pergaulan bebas muda-mudi. Mulai dari yang paling sederhana seperti pesta, kencan, bertukar hadiah hingga penghalalan praktek zina secara legal. Semua dengan mengatasnamakan semangat cinta kasih. Dalam semangat hari valentine itu, ada semacam kepercayaan bahwa melakukan maksiat dan larangan-larangan agama seperti berpacaran, bergandengan tangan, berpelukan, berciuman, petting bahkan hubungan seksual di luar nikah di kalangan sesama remaja itu menjadi boleh. Alasannya, semua itu adalah ungkapan rasa kasih sayang, bukan mafsu libido biasa.

Bahkan tidak sedikit para orang tua yang merelakan dan memaklumi putra-puteri mereka saling melampiaskan nafasu biologis dengan teman lawan jenis mereka, hanya semata-mata karena beranggapan bahwa hari valentine itu adalah hari khusus untuk mengungkapkan kasih sayang.

Padahal kasih sayang yang dimaksud adalah zina yang diharamkan. Orang barat memang tidak bias membedakan antara cinta dan zina. Ungkapan make love yang artinya bercinta, seharusnya sekadar cinta yang terkait dengan perasaan dan hati, tetapi setiap kita tahu bahwa makna make love atau bercinta adalah melakukan hubungan kelamin alias zina. Istilah dalam bahasa Indonesia pun mengalami distorsi parah.

Misalnya, istilah penjaja cinta. Bukankah penjaja cinta tidak lain adalah kata lailn dari pelacur atau menjaja kenikmatan seks? Sejarah kita sudah dipenuhi dengan berbagai terminologi atau peristilahan yang bertujuan mengaburkan kebenaran, meski diembel-embeli dengan kesatuan berbahasa. Istilah pelacur, terkadang disebut WTS alias wanita tuna susila, kadang disebut wanita malam, gadis telepon, lalu diperlembut lagi menjadi ‘kupu-kupu malam’. Masih kurang lembut? Muncul lagi istilah PSK, alias pekerja seks komersial!

Di dalam syair lagu romantis barat yang juga melanda begitu banyak lagu pop di negeri ini, ungkapan making love ini bertaburan di sana-sini. Buat orang barat, berzina memang salah satu bentuk pengungkapan rasa kasih sayang. Bahkan berzina di sana merupakan hak asasi yang dilindungi undang-undang.

Bahkan para orang tua pun tidak punya hak untuk menghalangi anak-anak mereka dari berzina dengan teman-temannya. Di barat, zina dilakukan oleh siapa saja. Allah berfirman tentang zina, bahwa perbuatan itu bukan hanya dilarang, bahkan sekedar mendekatinya pun diharamkan.
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatuperbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (Al-Isra’: 32)

Dengan demikian, sama sekali tidak ada hubungan antara romantisme dengan valentine days. Bahkan, bagi suami istri Islam, memasukkan peringatan valentine days sebagai bagian dari implementasi kasih sayang, justru membuat cacat romantisme itu sendiri. Bagaimana mungkin, kisah kasih di jalan Allah yang penuh dengan sentuhan iman, dilumuri dengan budaya kafir dan musyrik seperti valentine days dan sejenisnya?

[Sutra Romantika, hal. 127-134. Lihat pembahasan lengkap seputar Romantisme di buku Sutra Romantika; Meneladani Perilaku Nabi shallallahu ‘alaihi wasallami yang Romantis Agar Pasutri Selalu Harmonis]

Menyorot Perayaan Valentine’s Day

diambil dari http://almakassari.com

Cinta adalah sebuah kata yang indah dan mempesona yang hingga sekarang belum ada yang bisa mendefinisikan kata cinta itu sendiri. Meskipun demikian setiap insan yang memiliki hati dan pikiran yang normal tahu apa itu cinta dan bagaimana rasanya. Maha suci Dzat Yang telah menciptakan cinta.

Jika kita berbicara tentang cinta, maka secara hakikat kita akan berbicara tentang kasih sayang; jika kita berbicara tentang kasih sayang, maka akan terbetik dalam benak kita akan suatu hari yang setiap tahunnya dirayakan, hari yang selalu dinanti-nantikan oleh orang-orang yang dimabuk cinta, dan hari yang merupakan momen terpenting bagipara pemuja nafsu.

Sejenak membuka lembaran sejarah kehidupan manusia, maka disana ada suatu kisah yang konon kabarnya adalah tonggak sejarah asal mula diadakannya hari yang dinanti-nantikan itu. Tentunya para pembaca sudah bisa menebak hari yang kami maksud. Hari itu tak lain dan tak bukan adalah “Valentine Days” (Hari Kasih Sayang?).

  • Definisi Valentine Days

Para Pembaca yang budiman, mari kita sejenak menelusuri defenisi Valentine Days dari referensi mereka sendiri! Kalau kita membuka beberapa ensiklopedia, maka kita akan menemukan defenesi Valentine di tiga tempat :

  • Ensiklopedia Amerika (volume XIII/hal. 464) menyatakan, “Tanggal 14 Februari adalah hari perayaan modern yang berasal dari dihukum matinya seorang pahlawan kristen yaitu Santo Valentine pada tanggal 14 Februari 270 M”.
  • Ensiklopedia Amerika (volume XXVII/hal. 860) menyebutkan, “Yaitu sebuah hari dimana orang-orang yang sedang dilanda cinta secara tradisional saling mengirimkan pesan cinta dan hadiah-hadiah. Yaitu hari dimana Santo Valentine mengalami martir (seorang yang mati sebagai pahlawan karena mempertahankan kepercayaan/keyakinan)”.
  • Ensiklopedia Britania (volume XIII/hal. 949), “Valentine yang disebutkan itu adalah seorang utusan dari Rhaetia dan dimuliakan di Passau sebagai uskup pertama”.
  • Sejarah Singkat Valentine Days

Konon kabarnya, sejak abad ke-4 SM, telah ada perayaan hari kasih sayang. Namun perayaan tersebut tidak dinamakan hari Valentine. Perayaan itu tidak memiliki hubungan sama sekali dangan hari Valentine, akan tetapi untuk menghormati dewa yang bernama Lupercus. Acara ini berbentuk upacara dan di dalamnya diselingi penarikan undian untuk mencari pasangan. Dengan menarik gulungan kertas yang berisikan nama, para gadis mendapatkan pasangan. Kemudian mereka menikah untuk periode satu tahun, sesudah itu mereka bisa ditinggalkan begitu saja. Dan kalau sudah sendiri, mereka menulis namanya untuk dimasukkan ke kotak undian lagi pada upacara tahun berikutnya.

Sementara itu, pada 14 Februari 269 M meninggalkan seorang pendeta kristen yang bernama Valentine. Semasa hidupnya, selain sebagai pendeta ia juga dikenal sebagai tabib (dokter) yang dermawan, baik hati dan memiliki jiwa patriotisme yang mampu membangkitkan semangat berjuang. Dengan sifat-sifatnya tersebut, nampaknya mampu membangkitkan kesadaran masyarakat terhadap penderitaan yang mereka rasakan, karena kezhaliman sang Kaisar. Kaisar ini sangat membenci orang-orang Nashrani dan mengejar pengikut ajaran nabi Isa. Pendeta Valentine ini dibunuh karena melanggar peraturan yang dibuat oleh sang Kaisar, yaitu melarang para pemuda untuk menikah, karena pemuda lajang dapat dijadikan tentara yang lebih baik daripada tentara yang telah menikah. Valentine sebagai pendeta, sedih melihat pemuda yang mabuk asmara. Akhirnya dengan penuh keberanian, ia melanggar perintah sang Kaisar. Dengan diam-diam ia menikahkan sepasang anak muda. Pendeta Valentine berusaha menolong pasangan yang sedang jatuh cinta dan ingin membentuk keluarga. Pasangan yang ingin menikah lalu diberkati di tempat yang tersembunyi. Namun rupanya, sang Kaisar mengetahui kegiatan yang dilakukan oleh pendeta tersebut, dan kaisar sangat tersinggung hingga sang Pendeta diberi hukuman penggal oleh Kaisar Romawi yang bergelar Cladius II. Sejak kematian Valentine, kisahnya menyebar dan meluas, hingga tidak satu pelosok pun di daerah Roma yang tak mendengar kisah hidup dan kematiannya. Kakek dan nenek mendongengkan cerita Santo Valentine pada anak dan cucunya sampai pada tingkat pengkultusan !!

Ketika agama Katolik mulai berkembang, para pemimipin gereja ingin turut andil dalam peran tersebut. Untuk mensiasatinya, mereka mencari tokoh baru sebagai pengganti Dewa Kasih Sayang, Lupercus. Akhirnya mereka menemukan pengganti Lupercus, yaitu Santo Valentine.

Di tahun 494 M, Paus Gelasius I mengubah upacara Lupercaria yang dilaksanakan setiap 15 Februari menjadi perayaan resmi pihak gereja. Dua tahun kemudian, sang Paus mengganti tanggal perayaan tersebut menjadi 14 Februari yang bertepatan dengan tanggal matinya Santo Valentine sebagai bentuk penghormatan dan pengkultusan kepada Santo Valentine. Dengan demikian perayaan Lupercaria sudah tidak ada lagi dan diganti dengan “Valentine Days”

Sesuai perkembangannya, Hari Kasih Sayang tersebut menjadi semacam rutinitas ritual bagi kaum gereja untuk dirayakan. Biar tidak kelihatan formal, mereka membungkusnya dengan hiburan atau pesta-pesta.

  • Hukum Islam tentang Perayaan Valentine Days

Dalam Islam memang disyari’atkan berkasih sayang kepada sesama muslim, namun semuanya berada dalam batas-batas dan ketentuan Allah -Ta’ala- . Betapa banyak kita dapatkan para pemuda dan pemudi dari kalangan kaum muslimin yang masih jahil (bodoh) tentang permasalahan ini. Lebih parah lagi, ada sebagian orang yang tidak mau peduli dan hanya menuruti hawa nafsunya. Padahal perayaan Hari Kasih Sayang (Valentine Days) haram dari beberapa segi berikut :

  • Tasyabbuh dengan Orang-orang Kafir

Hari raya –seperti, Valentine Days- merupakan ciri khas, dan manhaj (metode) orang-orang kafir yang harus dijauhi. Seorang muslim tak boleh menyerupai mereka dalam merayakan hari itu.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Ad-Dimasyqiy-rahimahullah- berkata, “Tak ada bedanya antara mengikuti mereka dalam hari raya, dan mengikuti mereka dalam seluruh manhaj (metode beragama), karena mencocoki mereka dalam seluruh hari raya berarti mencocoki mereka dalam kekufuran. Mencocoki mereka dalam sebagaian hari raya berarti mencocoki mereka dalam sebagian cabang-cabang kekufuran. Bahkan hari raya adalah ciri khas yang paling khusus di antara syari’at-syari’at (agama-agama), dan syi’ar yang paling nampak baginya. Maka mencocoki mereka dalam hari raya berarti mencocoki mereka dalam syari’at kekufuran yang paling khusus, dan syi’ar yang paling nampak. Tak ragu lagi bahwa mencocoki mereka dalam hal ini terkadang berakhir kepada kekufuran secara global”.[Lihat Al-Iqtidho’ (hal.186)].

Ikut merayakan Valentine Days termasuk bentuk tasyabbuh (penyerupaan) dengan orang-orang kafir. Rasululllah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk kaum tersebut”. [HR. Abu Daud dalam Sunan-nya (4031) dan Ahmad dalam Al-Musnad (5114, 5115, & 5667), Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf (19401 & 33016), Al-Baihaqiy dalam Syu’ab Al-Iman (1199), Ath-Thobroniy dalam Musnad Asy-Syamiyyin (216), Al-Qudho’iy dalam Musnad Asy-Syihab (390), dan Abd bin Humaid dalam Al-Muntakhob (848). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Takhrij Musykilah Al-Faqr (24)].

Seorang Ulama Mesir,Syaikh Ali Mahfuzh-rahimahullah- berkata dalam mengunkapkan kesedihan dan pengingkarannya terhadap keadaan kaum muslimin di zamannya, “Diantara perkara yang menimpa kaum muslimin (baik orang awam, maupun orang khusus) adalah menyertai (menyamai) Ahlul Kitab dari kalangan orang-orang Yahudi, dan Nashrani dalam kebanyakan perayaan-perayaan mereka, seperti halnya menganggap baik kebanyakan dari kebiasaan-kebiasaan mereka. Sungguh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- dahulu membenci untuk menyanai Ahlul Kitab dalam segala urusan mereka…Perhatikan sikap Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- seperti ini dibandingkan sesuatu yang terjadi pada manusia di hari ini berupa adanya perhatian mereka terhadap perayaan-perayaan, dan adat kebiasaan orang kafir. Kalian akan melihat ,ereka rela meninggalkan pekerjaan mereka berupa industri, niaga, dan sibuk dengan ilmu di musim-musim perayaan itu, dan menjadikannya hari bahagia, dan hari libur; mereka bermurah hati kepada keluarganya, memakai pakaian yang terindah, dan menyemir rambut anaka-anak mereka di hari itu dengan warna putih sebagaimana yang dilakukan oleh Ahlul Kitab dari kalangan Yahudi, dan Nashrani. Perbuatan ini dan yang semisalnya merupakan bukti kebenaran sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- dalam sebuah hadits shohih, “Kalian akan benar-benar mengikuti jalan hidup orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta sehingga andai mereka memasuki lubang biawak, maka kalian pun mengikuti mereka”. Kami (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah mereka adalah orang-orang Yahudi, dan Nashrani”. Beliau menjawab, “Siapa lagi kalau bukan mereka”. [HR. Al-Bukhoriy (3456) dari Abu Sa’id Al-Khudriy -radhiyallahu ‘anhu-]”.[Lihat Al-Ibda’ fi Madhorril Ibtida’ (hal. 254-255)]

Namun disayangkan, Sebagian kaum muslimin berlomba-lomba dan berbangga dengan perayaan Valentine Days. Di hari itu, mereka saling berbagi hadiah mulai dari coklat, bunga hingga lebih dari itu kepada pasangannya masing-masing. Padahal perayaan seperti ini tak boleh dirayakan.Kita Cuma punya dua hari raya dalam Islam. Selain itu, terlarang !!.

  • Pengantar Menuju Maksiat dan Zina

Acara Valentine Days mengantarkan seseorang kepada bentuk maksiat dan yang paling besarnya adalah bentuk perzinaan. Bukankah momen seperti ini (ValentineDays) digunakan untuk meluapkan perasaan cinta kepada sang kekasih, baik dengan cara memberikan hadiah, menghabiskan waktu hanya berdua saja? Bahkan terkadang sampai kepada jenjang perzinaan.

Allah -Subhanahu wa Ta’la- berfirman dalam melarang zina dan pengantarnya (seperti, pacaran, berduaan, berpegangan, berpandangan, dan lainnya),

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk”. (QS. Al-Isra’ : 32)

Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

لَايَخْلُوَنَّ أَحَدُكُمْ بِاِمْرَأَةٍ إِلَّا مَعَ ذِيْ مَحْرَمٍ

“Jangan sekali-sekali salah seorang kalian berkhalwat dengan wanita, kecuali bersama mahram”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (4935), dan Muslim dalam Shohih-nya (1241)] .

Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

لَأَنْ يُطْعَنَ فِيْ رَأْسِ أَحَدِكُمْ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيْدٍ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يِمَسَّ امْرَأَةً لَاتَحِلُّ لَهُ

“Demi Allah, sungguh jika kepala salah seorang dari kalian ditusuk dengan jarum dari besi, maka itu lebih baik daripada ia menyentuh wanita yang tidak halal baginya”. [HR. Ath-Thabrani dalam Al-Kabir (486). Di-shahih-kan oleh syaikh Al-Albany dalam Ash-Shahihah (226)]

  • Menciptakan Hari Rari Raya

Merayakan Velentine Days berarti menjadikan hari itu sebagai hari raya. Padahal seseorang dalam menetapkan suatu hari sebagai hari raya, ia membutuhkan dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Karena menetapkan hari raya yang tidak ada dalilnya merupakan perkara baru yang tercela. Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Siapa saja yang mengada-adakan dalam urusan (agama) kami sesuatu yang tidak ada di dalamnya, maka itu tertolak” [HR. Al-Bukhariy dalam Shahih -nya (2697)dan Muslim dalam Shahih -nya (1718)]

Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka amalan tersebut tertolak”. [HR. Muslim dalam Shahih -nya (1718)]

Allah -Ta’ala- telah menyempurnakan agama Islam. Segala perkara telah diatur, dan disyari’atkan oleh Allah. Jadi, tak sesuatu yang yang baik, kecuali telah dijelaskan oleh Islam dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Demikian pula, tak ada sesuatu yang buruk, kecuali telah diterangkan dalam Islam. Inilah kesempurnaan Islam yang dinyatakan dalam firman-Nya,

“Pada hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”. (QS.Al-Maidah :3 ).

Di dalam agama kita yang sempurna ini, hanya tercatat dua hari raya, yaitu: Idul Fitri dan Idul Adha. Karenanya, Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam– mengingkari dua hari raya yang pernah dilakukan oleh orang-orang Madinah. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda kepada para sahabat Anshor,

قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ وَلَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُوْنَ فِيْهِمَا فِيْ الجَاهِلِيَةِ وَقَدْ أَبْدَلَكُمُ اللهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا: يَوْمَ النَّحَرِ وَيَوْمَ الْفِطْرِ

“Saya datang kepada kalian, sedang kalian memiliki dua hari, kalian bermain di dalamnya pada masa jahiliyyah. Allah sungguh telah menggantikannya dengan hari yang lebih baik darinya, yaitu: hari Nahr (baca: iedul Adh-ha), dan hari fithr (baca: iedul fatri)”. [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (1134), An-Nasa`iy dalam Sunan-nya (3/179), Ahmad dalam Al-Musnad (3/103. Lihat Shahih Sunan Abi Dawud (1134)] .

Syaikh Amer bin Abdul Mun’im Salim-hafizhahullah- berkata saat mengomentari hadits ini, “Jadi, Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- melarang mereka -dalam bentuk pengharaman- dari perayaan-perayaan jahiliyyah yang dikenal di sisi mereka sebelum datangnya Islam, dan beliau menetapkan bagi mereka dua hari raya yang sya’i, yaitu hari raya Idul Fithri, dan hari raya Idul Adh-ha. Beliau juga menjelaskan kepada mereka keutamaan dua hari raya ini dibandingkan peryaan-perayaan lain yang terdahulu “.[Lihat As-Sunan wa Al-Mubtada’at fi Al-Ibadat (hal.136), cet. Maktabah Ibad Ar-Rahman, 1425 H]

Sungguh perkara yang sangat menyedihkan, justru perayaan ini sudah menjadi hari yang dinanti-nanti oleh sebagian kaum muslimin terutama kawula muda. Parahnya lagi, perayaan Valentine Days ini adalah untuk memperingati kematian orang kafir (yaitu Santo Valentine). Perkara seperti ini tidak boleh, karena menjadi sebab seorang muslim mencintai orang kafir.

Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 51 Tahun I. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi : Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Dzikro. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp)

Untuk yang Sehati

Bercita-cita mengamalkan Islam secara utuh adalah suatu hal yang wajib bagi setiap muslim....
Namun bila belum mampu seluruhnya, jangan ditinggalkan semuanya....Karena Alloh Subhanahu wata'ala tidak membebani seseorang kecuali sesuai kemampuan maksimal yang dimiliki...

Buat diriku & dirimu

....Jangan pernah merasa cukup untuk belajar Islam, karena semakin kita tahu tentang Islam, semakin kita tahu tentang diri kita (...seberapa besar iman kita, ...seberapa banyak amal kita,....seberapa dalam ilmu kita, dan sebaliknya...seberapa besar kemunafikan kita, ...seberapa banyak maksiat kita, ...seberapa jauh kedunguan kita)
....Barangsiapa mengenal dirinya, maka semakin takut ia kepada Alloh Subhaanahu wata'ala

Do’a kita

Semoga Alloh Subhaanahu wata'ala meneguhkan hati kita dalam Islam hingga maut menjemput kita,...aamiin

Kalender

Desember 2018
S M S S R K J
« Mei    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Total Pengunjung

  • 232.922 klik