Saudariku, Apa yang Menghalangimu untuk Berhijab? bag.6

………………………..

Oleh: Syaikh Abdul-Hamid al-Bilaly

diambil dari http://ahlussunnah.info

I. Syubhat Kedelapan: Menghalangi Berhias

Syubhat ini –sebagaimana yang terdahulu– lebih tepat disebut syahwat daripada syubhat. Ia adalah nafsu buruk, sehingga menghalangi para wanita ber-hijab.

Tetapi wanita yang menurutkan dirinya di belakang nafsu ini. Patut kita pertanyakan; “Untuk siapa engkau pamer aurat? Untuk siapa engkau berhias?

Jika jawabannya; “Aku memamerkan tubuhku dan bersolek agar semua orang mengetahui kecantikan dan kelebihan diriku,” maka kembali kita perlu bertanya:

Apakah kamu rela, kecantikanmu itu dinikmati oleh orang yang dekat dan yang jauh darimu?

Relakah kamu menjadi barang dagangan yang murah, bagi semua orang, baik yang jahat maupun yang terhormat?

Bagaimana engkau bisa menyelamatkan dirimu dari mata para serigala yang berwujud manusia?” “Maukah kamu, jika dirimu dihargai serendah itu?

1. Kisah Nyata

Seorang artis terkenal, mengadakan lawatan di salah satu negara Teluk, untuk memeriahkan sebuah pesta malam kolosal di negara tersebut. Bersama grupnya, ia akan menggelar konser spektakuler.

Salah seorang wanita shalihah menghubungi artis tersebut via telepon. Ia akan melaksanakan tugas amar ma’ruf nahi munkar. Segera ia mencari nomor telepon kamar di hotel tempat artis itu menginap. Setelah menemukannya, ia segera menghubungi. Selanjutnya terjadilah dialog seperti di bawah ini:

Ukhti:Kami ucapkan selamat atas kedatangan anda di negeri kami. Kami senang sekali atas kehadiran anda disini. Kami ingin mengajukan beberapa pertanyaan kepada Anda, saya harap Anda sudi menjawabnya.

Artis:Dengan segala senang hati, silahkan anda bertanya!

Ukhti:Jika anda memiliki barang yang berharga, dimana Anda akan meletakkannya?

Artis:Di tempat yang khusus, aku akan menguncinya sehingga tidak seorangpun bisa mengambil.

Ukhti:Jika sesuatu itu barang yang amat berharga sekali, di mana Anda akan menyembunyikannya?

Artis:Di tempat yang sangat khusus, sehingga tak ada satu tangan pun bisa menyentuhnya.

Ukhti:Apakah sesuatu yang paling berharga yang dimiliki oleh seorang wanita?

Artis: (Lama tidak ada jawaban)

Ukhti:Bukankah kesucian dirinya sesuatu yang paling berharga yang ia miliki?

Artis:Benar… Benar, sesuatu yang paling berharga dari milik wanita adalah kesuciannya.

Ukhti:Apakah sesuatu yang amat berharga itu boleh dipertontonkan dimuka umum?

Dari sini artis itu mengetahui kemana arah pembicaraan selanjutnya. Ia tercenung beberapa saat, lalu berteriak riang, seakan suara itu dari lubuk fithrahnya. Ia tersadarkan.

Artis:Ini sungguh ucapan yang pertama kali kudengar selama hidupku. Saya harus bertemu Anda, sekarang juga! Saya ingin lebih banyak mendengarkan petuah-petuah Anda.

Wahai ukhti, jika engkau menampakkan auratmu dan bersolek demi suamimu atau di depan sesama kaummu maka hal itu tidak mengapa, selama tidak keluar dari rumah. Jika antar sesama wanita, maka hendaknya engkau tidak menampakkan aurat yang tidak boleh dilihat sesama wanita, yakni antara pusar dengan lutut.

2. Perumpamaan

Saudariku, engkau amat mahal dan berharga sekali. Pernahkah terlintas dalam benakmu, bagaimana seorang pembeli membolak-balik barang yang ingin dibelinya? Jika ia tertarik dan berniat membelinya, ia akan meminta kepada sang penjual agar ia diambilkan barang baru sejenis yang masih tersusun di atas rak. Ia ingin agar yang dibelinya adalah barang yang belum pemah tersentuh oleh tangan manusia.

Renungkanlah perumpamaan ini baik-baik. Dari sini, engkau akan tahu betapa berharganya dirimu, yakni jika engkau menyembunyikan apa yang harus engkau sembunyikan sesuai dengan perintah Allah kepadamu.

J. Syubhat Kesembilan: Hijab Menciptakan Pengangguran Sebagian SDM di Masyarakat

Syubhat ini tidak begitu populer di kalangan wanita tak ber-hijab, tetapi ia amat sering dilontarkan oleh orang-orang sekuler dan para pendukungnya. Menurut mereka, hijab wanita akan menciptakan pengangguran sebagian dari SDM (Sumber Daya Manusia) yang dimiliki oleh masyarakat. Padahal Islam menyuruh para wanita agar tetap tinggal di rumah.

Syubhat yang sering kita dengar ini, dapat kita sanggah dengan beberapa argumentasi:

Pertama, pada dasarnya wanita itu memang harus tetap tinggal di rumahnya. Allah berfirman:

Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah terdahulu.” (QS. al-Ahzab [33] : 33)

Ini bukan berarti melecehkan keberadaan wanita, atau tidak mendayagunakan SDM-nya, tetapi hal itu merupakan penempatan yang ideal sesuai dengan kodrat dan kemampuan wanita.

Kedua, Islam memandang bahwa pendidikan anak, penanaman nilai-nilai akhlak dan bimbingan terhadap mereka sebagai suatu kewajiban wanita yang paling hakiki. Berbagai hasil penelitian, yang dikuatkan oleh data stastitik, baik yang berskala internasional maupun nasional menunjukkan berbagai penyimpangan anak-anak muda, faktor utamanya adalah “broken home” (keruntuhan rumah tangga) serta kurangnya perhatian orang tua terhadap anak-anaknya.

Ketiga, Islam tidak membebani wanita mencari nafkah. Mencari nafkah adalah tugas laki-laki. Karena itu, secara alamiah, yang paling patut keluar rumah untuk bekerja adalah laki-laki, sehingga wanita bisa sepenuhnya mengurus pekerjaan yang justru lebih penting daripada jika ia bekerja di luar rumah, yaitu mendidik generasi muda. Dan sungguh, tugas paling berat dalam masyarakat adalah mendidik generasi muda. Sebab, daripadanya akan lahir tatanan masyarakat yang bak.

Keempat, Islam sangat memperhatikan perlindungan terhadap masyarakat dari kehancuran. Pergaulan bebas, (bercampurnya laki-laki dengan perempuan tanpa hijab) dan sebagainya menyebabkan lemahnya tatanan masyarakat serta menjadikan wanita korban pelecehan oleh orang-orang yang lemah jiwanya. Dan dengan pergaulan yang serba boleh itu, masing-masing lawan jenis akan disibukkan oleh pikiran dan perasaan yang sama sekali tak bermanfaat, apalagi jika ikhtilath itu oleh pihak wanita sengaja dijadikan ajang pamer kecantikan dan perhiasannya.

Kelima, Islam tidak melarang wanita bekerja. Bahkan dalam kondisi tertentu, Islam mewajibkan wanita bekerja.

Yakni jika pekejaan itu memang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat demi mencegah madharat. Seperti profesi dokter spesialis wanita, guru di sekolah khusus wanita, bidan serta profesi lain yang melayani berbagai kebutuhan khusus wanita.

Keenam, dalam kondisi terpaksa, Islam tidak melarang wanita bekeja, selama berpegang dengan tuntunan syari’at.

Seperti meminta izin kepada walinya, menjauhi ikhtilath, khalwat (berduaan dengan selain mahram), profesinya bukan jenis pekerjaan maksiat, jenis pekerjaan itu dibenarkan syariat, tidak keluar dari kebiasaan dan tabiat wanita, tidak mengganggu tanggung jawab pokoknya sebagai ibu rumah tangga serta syarat-syarat lain yang diatur oleh agama.***

K. Syubhat Kesepuluh: Hijab Bukan Fenomena Budaya

Banyak orang berkata: “Hijab merupakan fenomena keterbelakangan bagi masyarakat, hijab tidak menunjukkan budaya modern dan maju. Wanita yang ber-hijab laksana tenda hitam yang bejalan, sangat aneh dan mengembalikan masyarakat pada kehidupan primitif.

1. Kerancuan Istilah

Syubhat ini langsung gugur karena kesalahan fatal dari argumentasi itu sendiri. Kemajuan budaya bukanlah diukur dengan simbol-simbol fisik dan materi, seperti pakaian, bangunan, kendaraan, perhiasan dan hal-hal lahiriah lainnya. Orang yang mengukur kemajuan budaya masyarakat dengan simbol-simbol fisik adalah orang yang tidak memahami masalah dan tidak bisa berfikir secara logis.

Kebudayaan adalah istilah. Ia merupakan kumpulan nilai-nilai, akhlak dan perilaku dalam suatu masyarakat. Adapun fenomena fisik atau material –seperti dicontohkan di atas– semua itu tidak masuk dalam lingkup budaya, tetapi wujud dari peradaban.

2. Penjelasan dari Sisi Empiris

Sebagai contoh, jika seseorang melawat ke Amerika, ia akan merasakan dan menyaksikan kebebasan sangat dijunjung tinggi oleh setiap orang di sana, baik pejabat pemerintah atau rakyat biasa. Sebagai simbol kebebasan tersebut, mereka membangun patung Liberty (kebebasan) di jantung kota terbesar di negara adidaya tersebut.

Karena itu, Amerika tidak saja menjadi pelopor dunia di bidang teknologi semata, tetapi juga di bidang nilai-nilai kemanusiaan. Pemerintah yang sangat berkuasa itu begitu menjaga nilai-nilai tersebut untuk kepentingan rakyatnya.

Negara-negara lain, ukuran keberhasilan dan kemundurannya juga dilihat dari seberapa jauh mereka menghormati nilai-nilai tersebut, berikut penerapannya.

Contoh lain, ketika Anda pergi ke stasiun kereta api, di negara mana pun di Eropa, tentu Anda akan mendapati jadwal keberangkatan dan kedatangan kereta api selama sepekan, lengkap dengan jam dan menitnya.

Misalnya, dalam jadwal tertulis, hari Senin, kereta api pertama tiba pada pukul 06.40 pagi. Jika Anda menunggu di stasiun, Anda akan mendapati kereta api datang tepat pada waktunya, tidak terlambat meskipun hanya satu menit. Seandainya terjadi keterlambatan sedikit saja, maka di mana-mana Anda akan melihat pengaduan, bahkan petugas yang menyebabkan keterlambatan tersebut, dapat dipecat dari tugasnya. Mungkin juga akan menimbulkan gejolak baik lewat media massa atau unjuk rasa.

“Menghormati waktu” adalah satu di antara nilai-nilai yang dimiliki oleh Eropa. Maka, ukuran kemajuan Eropa dan peradabannya tidak semata karena teknologinya, tetapi juga karena mereka memiliki nilai-nilai yang seialu dijunjung tinggi.15

Sebaliknya, masyarakat kita tergolong masyarakat terbelakang, bukan karena tidak memiliki teknologi semata, tetapi karena kita menjauhi nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang kita miliki. Padahal nilai-nilai kita bersumber dari agama Islam kita yang agung. Dari sinilah, lalu masyarakat kita tergolong masyarakat yang paling banyak pelanggarannya terhadap hak-hak asasi manusia (HAM), kezhaliman merajalela di mana-mana, marak berbagai pelecehan terhadap hukum dan peraturan, jarang mengikut-sertakan aspirasi rakyat, tidak suka mendengarkan pendapat orang lain serta berbagai tindak pelecehan lainnya.

Berdasarkan penjelasan diatas, maka mengenakan hijab Islami terhitung satu langkah maju untuk membangun budaya masyarakat, sebab ia adalah cerminan akhlak, perilaku dan nilai yang berdasarkan agama kita yang lurus. Tidak seperti tuduhan mereka, ber-hijab bukan fenomena budaya.

L. Syubhat Kesebelas: Orangtua dan Suamiku Melarang Ber-Hijab

Dasar permasalahan ini adalah, bahwa ketaatan kepada Allah harus didahulukan daripada ketaatan kepada makhluk, siapapun dia. Setelah ketaatan kepada Allah, kedua orangtua lebih berhak untuk ditaati dari yang lainnya, selama keduanya tidak memerintahkan pada kemaksiatan.

Masalah lain, bahwa menyelisihi wali karena melaksanakan perintah Allah adalah di antara bentuk taqarrub kepada Allah yang paiing agung, dan itu sekaligus termasuk bentuk dakwah kepada wali.

Masalah ketiga, jika walil, baik ayah atau suami melihat orang yang berada di bawah tanggung jawabnya bersikeras, biasanya wali akan mengalah dan menghormati pilihan orang yang berada di bawah tanggung jawabnya.

Kecuali jika wali itu tidak memiliki rasa cinta hakiki kepada orang yang berada di bawah tanggung jawabnya.

Berikut kami turunkan beberapa fatwa ulama besar seputar masalah ini.

Soal:Bagaimana hukum orang yang menentang ibunya dengan tidak mentaatinya karena ibu tersebut menganjurkan sesuatu yang didalamnya terdapat maksiat kepada Allah? Seperti, sang ibu menganjurkannya ber-tabarruj, bepergian jauh tanpa mahram. Ia berdalih bahwa hijab itu hanyalah khurafat dan tidak diperintahkan oleh agama. Karena itu ibu meminta agar saya menghadiri berbagai pesta dan mengenakan pakaian yang menampakkan apa yang diharamkan Allah bagi wanita. Ia amat marah jika melihat saya mengenakan hijab.

Jawab:Tidak ada ketaatan kepada makhluk, Baik ayah, ibu atau selain keduanya dalam hal-hal yang di dalamnya terdapat maksiat kepada Allah. Dalam sebuah hadits shahih disebutkan;

‘Sesungguhnya ketaatan itu hanyalah dalam kebaikan.’ (HR. al-Bukhari dan Muslim)

‘Dan tidak boleh ta’at kepada makhluk dengan mendurhakai (bermaksiat) kepada al-Khaliq.’16

Hal-hal yang dianjurkan oleh ibu sang penanya di atas termasuk kemaksiatan terhadap Allah, karena itu ia tidak dibenarkan mentaatinya.” (Syaikh bin Baz)17

Soal:Beberapa lembaga tinggi di negara kami yang termasuk negara Islam mengeluarkan peraturan yang intinya memaksa para wanita Muslimah agar melepas hijab, khususnya tutup kepala (kerudung). Bolehkah saya mentaati peraturan tersebut? Perlu diketahui, jika ada yang berani menentangnya maka ia akan mendapat sanksi besar. Misalnya dikeluarkan dari tempat kerja, dari sekolah atau bahkan dipenjara?

Jawab:Kejadian di negara Anda tersebut merupakan ujian bagi setiap hamba. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya):

‘Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan; ‘Kami telah beriman,’ sedang mereka tidak diuji lagi? Dan, sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang berdusta.’ (QS. al-Ankabut [29] : 1-3)

Menurut hemat kami, semua Muslimah di negara itu wajib tidak menta’ati ulil-amri (penguasa) dalam perkara yang mungkar tersebut. Karena ketaatan kepada ulil-amri menjadi gugur kalau ia memerintahkan perbuatan yang mungkar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya):

‘Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan uIil-amri di antara kamu.’ (QS. an-Nisa [4] : 59)

Jika kita perhatikan ayat diatas, kita tidak mendapati perintah taat untuk ketiga kalinya. Hal ini menunjukkan bahwa ketaatan kepada ulil-amri harus mengikuti (sesuai) dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, jika perintah mereka bertentangan dengan perintah Allah dan Rasul-Nya, maka perintah itu tidak boleh dituruti dan ditaati.

‘Dan tidak boleh ta’at kepada makhluk dengan mendurhakai (bermaksiat) kepada aI-Khaliq.’18

Resiko yang mungkin menimpa para wanita dalam masalah ini, hendaknya dihadapi dengan sabar dan dengan memohon pertolongan kepada Allah. Kita semua berdo’a, semoga para penguasa di negara tersebut segera mendapat petunjuk dari Allah.

Tapi, menurut hemat kami, pemaksaan tersebut tidak akan terjadi manakala wanita tidak keluar dari rumah.

Jika mereka berada di rumah masing-masing, tentu dengan sendirinya pemaksaan itu tidak ada artinya sama sekali.

Para wanita Muslimah hendaknya tetap tinggal di rumah masing-masing sehingga selamat dari peraturan tersebut.

Adapun belajar yang di dalamnya terdapat kemaksiatan, misalnya ikhtilath, maka hal itu tidak dibenarkan.

Memang, para wanita harus belajar sesuai dengan kebutuhannya, baik di bidang agama maupun masalah dunia.

Tetapi biasanya, hal ini bisa dilakukan di dalam rumah. Secara ringkas, dapat saya katakan, kita tidak boleh mentaati ulil amri dalam perkara yang mungkar.19 (Syaikh Ibnu ‘Utsaimin)

<<sebelumnya …………  selanjutnya>>

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Untuk yang Sehati

Bercita-cita mengamalkan Islam secara utuh adalah suatu hal yang wajib bagi setiap muslim....
Namun bila belum mampu seluruhnya, jangan ditinggalkan semuanya....Karena Alloh Subhanahu wata'ala tidak membebani seseorang kecuali sesuai kemampuan maksimal yang dimiliki...

Buat diriku & dirimu

....Jangan pernah merasa cukup untuk belajar Islam, karena semakin kita tahu tentang Islam, semakin kita tahu tentang diri kita (...seberapa besar iman kita, ...seberapa banyak amal kita,....seberapa dalam ilmu kita, dan sebaliknya...seberapa besar kemunafikan kita, ...seberapa banyak maksiat kita, ...seberapa jauh kedunguan kita)
....Barangsiapa mengenal dirinya, maka semakin takut ia kepada Alloh Subhaanahu wata'ala

Do’a kita

Semoga Alloh Subhaanahu wata'ala meneguhkan hati kita dalam Islam hingga maut menjemput kita,...aamiin

Kalender

Maret 2010
S M S S R K J
« Feb   Apr »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Total Pengunjung

  • 203,455 klik
%d blogger menyukai ini: