‘Afwan Akhii, Kau Saudaraku Tapi Bukan Mahramku…

Akhii, kutuliskan risalah ini bagimu. Bukan karena apa. Kau adalah saudaraku, Akhii fillah. Karena Allah Ta’ala, bukan Akhii fii nasab yang mengharamkan pernikahan dan menghalalkan hubungan mahram.1

Akhii, sesungguhnya hati manusia ada di antara jari-jemari Ar Rahman. Maka beruntunglah orang yang dihadapkan hatinya pada ketaatan pada Allah Ta’ala. Sungguh benarlah doa yang Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam panjatkan, “Allahumma musharrifal quluub, sharrif quluubanaa ‘alaa tha’atika” (Ya Allah, Dzat Yang Memalingkan Hati, palingkan hati kami di atas ketaatan pada-Mu)2

Akhii, sesungguhnya manusia diciptakan dalam keadaan lemah3. Manusia, ya Akhii. Tak terkecuali. Laki-laki maupun wanita.
Tahukah kau wahai Akhii, panutan kita Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah mengingatkan kita dalam sabdanya yang artinya, “Aku tidak meninggalkan fitnah yang lebih membahayakan kaum laki-laki daripada fitnah wanita.”4

Dan agama kita yang mulia juga telah mengajarkan adab-adab bergaul dengan lawan jenis yaa, Akhii. Bila kita tapaki perjalanan salaful ummah, kita akan temukan betapa mereka menjaga adab-adab tersebut.

Maka tidak layak bagi kita untuk bermudah-mudah dalam bergaul dengan lawan jenis. Janganlah bermain-main dengan kehormatan, yaa Akhii. Allah Ta’ala selalu mengawasi kita di manapun dan kapanpun. Apatah itu dalam kamar tertutup rapat, ketika kau sedang asik ber-SMS dengan wanita yang bukan mahrammu tanpa keperluan yang mendesak. Sama sekali bukan untuk hal yang membawa mashlahat, hanya untuk mengatakan,
“Ap kbr, Ukhti? Lg sbk ap skrng?”
“Smgt ^_^”
“Ttp senyum nggih :-)

Atau untuk sekadar mengirimkan nasehat. Entah itu terjemah Al Qur’an, potongan hadits, atau perkataan ulama. Apa maksud yang ada dalam hatimu, yaa Akhii? Banyak teman-teman ikhwan yang lebih berhak kau beri perhatian dan nasehat. Na’am, murni perhatian dan nasehat, tanpa tendensi apapun.

‘Afwan ‘Akhii, bukannya kami terlalu sombong untuk menerima nasehat darimu. Akan tetapi, bagi kami, cukup teman-teman shalihah tempat untuk berbagi rasa. Cukup bagi kami, para asatidz dan asatidzah5 yang mendakwahi kami. Cukuplah majelis-majelis ilmu dan buku-buku dari para ulama tempat kami mencari tahu tentang agama.

Tahukah yaa Akhii, terkadang syaithan menghiasi keburukan sehingga menjadi tampak indah. Bahkan terkadang syaithan membuka sembilan puluh sembilan pintu kebaikan untuk menjerumuskan manusia kepada satu pintu keburukan.6

Akhii, Ibnu Taimiyah pernah berkata yang artinya, “Kesabaran Yusuf menghadapi rayuan istri tuannya lebih sempurna daripada kesabaran beliau saat dimasukkan ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya, saat dijual dan saat berpisah dengan bapaknya. Sebab hal-hal ini terjadi di luar kehendaknya, sehingga tidak ada pilihan lain bagi hamba kecuali sabar menerima musibah. Tapi kesabaran yang memang beliau kehendaki dan diupayakannya saat menghadapi rayuan istri tuannya, kesabaran memerangi nafsu, jauh lebih sempurna dan utama, apalagi di sana banyak faktor yang sebenarnya menunjang untuk memenuhi rayuan itu, seperti keadaan beliau yang masih bujang dan muda, karena pemuda lebih mudah tergoda oleh rayuan. Keadaan beliau yang terasing, jauh dari kampung halaman, dan orang yang jauh dari kampung halamannya tidak terlalu merasa malu. Keadaan beliau sebagai budak, dan seorang budak tidak terlalu peduli seperti halnya orang merdeka. Keadaan istri tuannya yang cantik, terpandang dan tehormat, tanpa ada seorang pun yang melihat tindakannya dan dia pula yang menghendaki untuk bercumbu dengan beliau. Apalagi ada ancaman, seandainya tidak patuh, beliau akan dijebloskan ke dalam penjara dan dihinakan. Sekalipun begitu beliau tetap sabar dan lebih mementingkan apa yang ada di sisi Allah.”7

Yaa Akhii, tidakkah kau ingin meneladani Yusuf ‘Alaihis Salam? Seorang pemuda yang menjaga iffah-nya yang dijanjikan mendapatkan perlindungan Allah Ta’ala di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada lagi naungan selain naungan-Nya.8

Yaa Akhii, mungkin kau sudah pernah mendengar sebuah hadits dari Nawas Ibni Sam’an radiyyallahu anhu yang artinya, “Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam tentang kebaikan dan kejahatan. Beliau bersabda: “Kebaikan ialah akhlak yang baik dan kejahatan ialah sesuatu yang tercetus di dadamu dan engkau tidak suka bila orang lain mengetahuinya.”9

Yaa Akhii, kebahagiaan sejati tidak akan diperoleh dengan cara yang haram. Percayalah itu. Cara ini hanya akan menimbulkan kesusahan dan kerusakan pada diri serta terbuangnya harta dengan sia-sia. Barangsiapa meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik darinya.10

Terakhir yaa Akhii, saya akan nukilkan perkataan Salman Al Farisi radiyyallahu ‘anhu dari Ja’far bin Burqan yang artinya, “Ada tiga orang yang membuatku menangis dan tiga orang lagi membuatku tertawa. Aku tertawa melihat orang mengejar dunia sedangkan kematian telah mengintainya, orang berbuat lalai berbuat padahal dirinya tak pernah dilupakan, dan orang banyak tertawa, sedangkan ia tidak tahu apakah Allah murka ataukah ridha kepadanya. Dan aku menangis karena kepergian orang-orang yang dicintai, yaitu kepergian Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan pengikutnya, kedahsyatan yang sangat mengerikan saat berada di pintu kematian, dan saat berdiri di hadapan Rabb semesta alam, yaitu ketika aku tidak mengetahui apakah aku akan dikembalikan ke surga atau ke neraka.”11

Kuharap risalah ini memperberat timbangan amal kebaikanku kelak. Pada hari di mana harta dan anak takkan berguna kecuali orang yang menghadap Allah Ta’ala dengan hati yang selamat.12
Wallahul musta’an.

1. Mahram adalah orang-orang yang haram dinikahi, bisa karena nasab, persusuan, atau pernikahan. Di Indonesia, istilah ini rancu dengan muhrim. Padahal istilah yang tepat adalah mahram, karena muhrim berarti orang yang sedang berihram (-pen).
2. HR Muslim no. 2654 dari Shahabat ‘Abdullah bin’Amr bin Al Ash Radiyallahu ‘Anhuma
3. Lihat QS An Nisaa: 28
4. HR. Al-Bukhari dalam An-Nikah (5096), Muslim dalam Adz-Dzikr (2740)
5. Jamak dari ustadz dan ustadzah (-pen)
6. Perkataan Hasan bin Shalih rahimahullah
7. Perkataan ini dinukil oleh Ibnu Qayyim Al Jauziyah rahimahullah dalam Madarijus Salikin
8. Lihat HR Bukhari no 660, Muslim 1031 dari Abu Hurairah radiyyallahu anhu, yang artinya, “Tujuh golongan yang kelak akan dilindungi oleh Allah di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada lagi naungan kecuali naungan-Nya: imam yang adil, pemuda yang tumbuh dengan beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, seseorang yang hatinya selalu terpaut dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah, keduanya bertemu dalam keadaan demikian dan berpisah pun dalam keadaan demikian pula, laki-laki yang diajak (berzina) oleh wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan, namun ia mengatakan: ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah’, seseorang yang bersedekah namun ia menyembunyikan sedekahnya, hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya, dan seseorang yang mengingat Allah dalam kesendiriannya, hingga kedua matanya bercucuran air mata.”
9. HR Muslim, dimuat dalam Bulughul Maram, Kitabul Jami’ bab adab
10. Terjemah HR Ahmad V/78,79
11. Atsar ini tercantum dalam kitab Rauhuz Zaahidiin yang merupakan ringkasan dari kitab Hilyatul Auliyaa’
12. Lihat QS Asy Syu’aara’: 88-89

Sedikit koreksi:

Perkataan Al-Hasan bin Shalih yang dinukil di atas secara makna mungkin sudah bisa dipahami, namun yang lebih tepat adalah yang sesuai teks Aslinya (dinukil Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’ wa Thabaqatul Ashfiya’, jilid V, hal 331), sebagai berikut:

إن الشيطان ليفتح للعبد تسعة و تسعين بابا من الخير يريد به بابا من السوء

artinya:

“Sesunggunya setan benar-benar akan membukakan 99 pintu kebaikan bagi seorang hamba, untuk tujuan membuka satu pintu keburukan”

Menggendong Anak Yang Memakai Diapers Ketika Shalat

diambil dari http://tanyajawabagamaislam.blogspot.com

Tanya: Assalamu’alaikum. Ustadz,apa hukum menggendong bayi yang memakai diapers saat shalat? Mohon penjelasan beserta dalilnya, jazakumullahu khairan. (Ummu Fathimah)

Jawab (oleh Ustad Abdulloh Roy):
Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuhu.
Alhamdulillahi rabbil ‘aalamiin, washshalaatu wassalaamu ‘alaa rasulillaah khairil anbiyaa’I wal mursaliin wa ‘alaa ‘aalihii wa shahbihii ajma’iin. Amma ba’du:
Apabila diapers tersebut suci maka tidak ada masalah menggendong bayi tersebut ketika shalat. Namun apabila di dalamnya ada najis, maka para ulama telah berbeda pendapat dalam masalah orang shalat membawa najis yang tertutup tidak di tempat asalnya (perut), misalnya orang shalat membawa botol yang berisi najis. Sebagian ulama berpendapat shalatnya sah karena najisnya tidak keluar, adapun yang lain mengatakan tidak sah karena dia membawa najis yang tidak dimaafkan di luar tempat asalnya (yaitu perut).(Lihat Al-Bahr Ar-Raa’iq 1/240, Al-Majmu’ 3/157, Al-Mughny 2/467-468)
Yang serupa dengan permasalahan ini adalah orang shalat menggendong anak yang memakai diapers yang berisi najis. Diantara yang mengatakan sah adalah Syeikh Abdul Muhsin Al-‘Abbaad hafizhahullah, dengan syarat najis tersebut tidak nampak dan tidak merembes keluar, beliau berkata:
فإذا كان الولد أو الجارية التي يحملها الشخص في الصلاة عليها حفاظة، وفيها شيء من النجاسة، فإن كانت النجاسة ظاهرة، ويمكن أن تؤثر، فلا يجوز له أن يحملها، وأما إذا كان هناك نجاسة ولكنها ليست ظاهرة ولا تصل إليه فليس هناك بأس. والطواف بالأطفال من جنسه، فإذا دعت الحاجة إلى حمل الأطفال فالأصل هو طهارة ثيابهم وأبدانهم، إلا إذا وجدت النجاسة وظهرت، وغالباً أن النجاسات إذا وجدت في الحفائظ من الداخل فإنها تتشربها؛ لأن فيها مانعاً يمنعها من أن تظهر، فما دام أن النجاسة لم تظهر وأمنت ناحية تنجيسها لما حولها فلا بأس
“Apabila anak atau anak wanita yang digendong tersebut memakai diapers yang di dalamnya ada najis yang nampak dan mungkin mempengaruhi maka tidak boleh menggendongnya, adapun apabila najis tersebut tidak nampak dan tidak sampai kepadanya maka tidak mengapa. Dan hukum thawaf dengan menggendong anak sama dengan masalah ini. Bila diperlukan menggendong anak maka pada asalnya pakaian dan badan mereka suci kecuali jika ditemukan najis dan nampak. Dan kebanyakan najis-najis yang terdapat di dalam diapers diserap oleh diapers tersebut, karena di dalamnya ada yang mencegah najis tersebut nampak, oleh karena itu selama najis tersebut tidak nampak dan tidak menajisi apa yang ada di sekitarnya maka tidak mengapa” (Syarh Sunan Abi Dawud, ketika beliau mensyarh hadist Abu Qatadah Al-Anshary radhiyallahu ‘anhu yang berisi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggendong Umamah bintu Abu Al-‘Ash ketika shalat)
Namun yang lebih kuat –wallahu a’lam- adalah pendapat yang mengatakan tidak sah shalatnya apabila tahu di dalamnya ada najis, karena termasuk syarat sahnya shalat adalah bersihnya orang yang shalat dari najis baik najis di badan, pakaian, maupun tempat shalat. Apabila dia mengetahui di dalamnya ada najis, atau mengetahui tapi lupa melepasnya maka tidak mengapa. Sedangkan apabila dia mengetahui akan tetapi tetap menggendongnya maka shalatnya tidak sah.
Dalilnya adalah hadist Abu Sa’id Al-Khudry radhiyallahu ‘anhu:
عن أبي سعيد الخدري قال : بينما رسول الله صلى الله عليه و سلم يصلي بأصحابه إذ خلع نعليه فوضعهما عن يساره فلما رأى ذلك القوم ألقوا نعالهم فلما قضى رسول الله صلى الله عليه و سلم صلاته قال ” ما حملكم على إلقائكم نعالكم ” ؟ قالوا رأيناك ألقيت نعليك فألقينا نعالنا فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم ” إن جبريل صلى الله عليه و سلم أتاني فأخبرني أن فيهما قذرا ” أو قال أذى وقال ” إذا جاء أحدكم إلى المسجد فلينظر فإن رأى في نعليه قذرا أو أذى فليمسحه وليصل فيهما ”
“Dari Abu Sa’id Al-Khudry berkata: Saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang mengimami para sahabat dalam shalat tiba-tiba beliau melepas kedua sandalnya, kemudian langsung meletakkannya di sebelah kiri beliau. Ketika para sahabat melihat yang demikian maka mereka melempar sandal-sandal mereka. Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai shalat beliau bertanya: Apa yang membuat kalian melempar sandal-sandal kalian? Mereka menjawab: Kami melihatmu melempar sandal, maka kamipun melempar sandal. Beliau berkata: Sesungguhnya Jibril mendatangiku dan mengabarkan bahwa di dalam kedua sandalku ada kotoran (najis), apabila salah seorang dari kalian mendatangi masjid maka hendaklah melihat sandalnya, apabila melihat kotoran (najis) maka hendaklah mengusapnya dan shalat dengan kedua sandal tersebut” (HR. Abu Dawud dan dishahihkan Syeikh Al-Albany)
Dalam hadist ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melepas sandal yang yang ada najisnya setelah diberitahu oleh Jibril, ini menunjukkan tidak sahnya shalat setelah mengetahui ada najis di sandalnya, dan beliau tidak mengulangi shalatnya, ini menunjukkan sahnya shalat orang yang membawa najis tetapi tidak mengetahuinya. Dan ini adalah pendapat jumhur ulama. (Lihat Al-Majmu’ 3/163)
Berkata Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu:
فإن صلى وبدنه نجس أي قد أصابته نجاسة لم يغسلها أو ثوبه نجس ، أو بقعته نجسة فصلاته غير صحيحة عند جمهور العلماء ، لكن لو لم يعلم بهذه النجاسة ، أو علم بها ثم نسي أن يغسلها حتى تمت صلاته ، فإن صلاته صحيحة ولا يلزمه أن يعيد
“Apabila shalat dengan badan yang najis yaitu sudah terkena najis dan tidak mencucinya atau bajunya najis atau tempat dia shalat najis maka shalatnya tidak sah menurut jumhur ulama, akan tetapi apabila tidak mengetahui keberadaan najis ini atau mengetahuinya tapi lupa mencucinya sampai selesai shalat maka shalatnya shahih dan dia tidak wajib mengulangi shalatnya” (Majmu’ Fataawaa wa Rasaa’il Syeikh Al’Utsaimin 12/471 )

Dan pendapat ini yang dikuatkan oleh Syeikh Sulaiman Ar-Ruhaily sebagaimana ketika saya ajukan pertanyaan penanya di atas kepada beliau malam Kamis, 19 Shafar 1431, di Kuliah Dakwah wa Ushuuluddin , Al-Jami’ah Al-Islamiyyah.
Wallahu a’lam.

Perkara-perkara yang menyebabkan dosa kecil menjadi besar

kerikilKarena gunung yang besar berasal dari kerikil2 yang kecil

Terkadang kita menganggap remeh suatu hal yang kecil, tetapi kita tidak sadar bahwa suatu yang yang kecil tersebut akan membawa bencana yang besar bagi kita. Sebagaimana gunung yang besar itu ternyata terdiri dari kerikil-kerikil yang kecil, demikian pula dosa yang besar itu bisa disebabkan karena dosa kecil yang kita lakukan. Berikut ini adalah beberapa perkara yang menyebabkan dosa kecil menjadi besar[1], wabillahit taufiq


1. Berulang-ulang dan terus menerus dilakukan

Oleh sebab itulah, ada yang mengatakan bahwa tidak ada dosa kecil apabila dilakukan terus menerus dan tidak ada dosa besar apabila diikuti dengan istighfar.

Ampunan terhadap dosa besar yang dilakukan seorang hamba lebih mudah daripada dosa kecil yang ia lakukan secara berkesinambungan.

Sama seperti air yang terus menerus menetes menimpa sebuah batu, bagaimana pun kerasnya batu itu, lama-kelamaan tetesan-tetesan itu akan memberi bekas padanya. Seandainya engkau mengumpulkan semua tetesan itu tadi, kemudian menuangkannya pada batu itu sekaligus, tentu air itu tidak akan memberi bekas sama sekali

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

اَحَبُّ اْلأَعْمَالِ إِلَى اللهِ أَدْوَمُهَا وَ إِنْ قَلَّ

”Amal-amal yang baik dan paling dicintai Allah adalah yang dilakukan terus menerus walaupun sedikit.” (HR. Bukhori [43] dan Muslim [782])

2. Menganggap remeh suatu dosa

Setiap kali seorang hamba menganggap besar suatu dosa maka semakin kecil dosa tersebut disisi Allah ta’ala. Demikian sebaliknya, setiap kali seorang hamba menganggap kecil suatu dosa, maka semakin besar dosa itu disisi Allah ta’ala. Anggapan seseorang terhadap besarnya dosa kecil muncul karena kebencian hati terhadap dosa dan keinginan untuk terus menerus menghindar dari dosa tersebut. Suatu dosa menjadi besar bagi seorang mukmin karena ia mengetahui keagungan Allah ta’ala. Apabila ia melihat sebagai dosa besar baginya.

Dalam kitab shahihul Bukhori disebutkan dari hadits Anas radliyallahu’anhu:

”Sungguh kalian akan melakukan berbagai amal yang dalam pandangan kalian amal-amal tersebut lebih rendah daripada rambut, sedangkan pada masa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, kami menganggapnya sebagai salah satu yang dapat membinasakan”. (HR. Bukhori, 6492)

Bilal bin Sa’ad radliyallahu’anhu berkata: ”Janganlah engkau melihat kecil kemaksiatan yang engkau lakukan, tetapi lihatlah keagungan Dzat yang engkau maksiati”.[2]

Al-Fudhail bin ’Iyadh rahimahullah berkata: ”Setiap kali engkau menganggap kecil suatu dosa maka ia menjadi besar di sisi Allah ta’ala. Sebaliknya, setiap engkau menganggap besar suatu dosa maka ia menjadi kecil di sisi Allah ta’ala.”[3]

Selain mereka, al-Auza’i rahimahullah berkata: ”Disebutkan bahwa yang termasuk dosa besar adalah seseorang yang melakukan suatu dosa, kemudian ia meremehkannya”.[4]

3. Merasa bangga dengan kemaksiatan

Senang dengan kamaksiatan seperti kesenangannya melakukan kemaksiatan itu, bahkan ia merasa bangga telah melakukannya. Sebagaimana dikatakan, misalnya:

’Tidakkah engkau lihat bagaimana aku mencabik-cabik kehormatan fulan dan aku bongkar semua kejelekannya, sampai-sampai mukanya menjadi merah karena malu’.

Semisal dengan itu pula perkataan seorang pedagang kepada yang lainnya:

’Tidakkah engkau lihat bagaimana aku menyiasati dan mengakalinya’.

Kalimat-kalimat seperti ini dan yang lainnya menjadikan suatu dosa kecil menjadi besar. Setiap kali manisnya kemaksiatan mendominasi seorang hamba maka semakin besar dan semakin agunglah pengaruhnya.

4. Tertipu dengan kebaikan Allah

Ada hamba yang tertipu dengan kebaikan Allah, perlindungan-Nya kepada hamba dan penundaan-Nya terhadap hamba itu, sementara ia tidak mengetahui bahwa bisa jadi hal itu merupakan kebencian-Nya, sehingga setiap kali hukumannya ditunda maka semakin besar dosa yang dilakukannya.

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

”Apabila engkau melihat Allah azza wa jalla memberikan seorang hamba setiap kenikmatan dunia yang diinginkannya, padahal dia terus melakukan kemaksiatan, maka ketahuilah bahwa hal itu adalah istidraj”.(HR. Ahmad IV/ 145)

Ibnul Jauzi rahimahullah berkata: ”Tidak seorangpun yang menceburkan dirinya dalam kemaksiatan –sekecil apapun ia- kecuali ia akan mendapatkan balasannya, cepat atau lambat.

Salah satu bentuk tipudaya-Nya adalah engkau melakukan kemaksiatan, namun engkau melihatnya sebagai suatu kebaikan. Engkau mengira bahwa engkau sudah dimaafkan dan dilupakan.

…. مَن يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَبِهِ….

”…Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu…” (QS. An-Nisaa’: 123)[5]

Beliau rahimahullah juga berkata: ”Ketahuilah, salah satu bentuk ujian yang paling besar adalah tertipunya seorang hamba dengan merasa aman dan selamat dari adzab setelah ia melakukan dosa. Sesungguhnya balasan itu datang kemudian. Salah satu balasan yang paling besar adalah ketidaktahuan seseorang terhadap balasan itu, menganggap remeh terhadap agama, kebutaan mata hati, dan ketidakmampuan dalam menentukan pilihan yang baik untuk dirinya sendiri sehingga dapat mempengaruhi keselamatan badan dan timbulnya kebosanan.”[6]

Al-Ghazali rahimahullah berkata: ”Ketahuilah bahwa tidak seorang pun yang melakukan suatu dosa kecuali permukaan hatinya menjadi hitam. Apabila hamba tu termasuk orang yang selamat (di akhirat), maka tampaklah noda hitam itu pada permukaan hatinya agar ia dapat lari menghindarinya. Sebaliknya, apabila ia termasuk seorang yang sengsara (di akhirat), maka noda hitam itu pun tidak tampak pada dirinya sendiri sehingga ia tetap asyik melakukannya, sampai ia masuk Neraka.”[7]

5. Orang yang berdosa termasuk salah seorang yang dihormati (tokoh)

Apabila salah satu dosa itu berasal dari seorang tokoh, maka kedudukan dosa tersebut besar disisi Allah sebab pengikutnya juga akan mengikuti dosa tersebut. Jika orang itu mati, niscaya bahaya dosa itu masih tetap ada; maka beruntunglah mereka yang meninggal dunia sedang dosa-dosanya pun mati bersamanya. Oleh karena itu, mereka yang menjadi panutan orang banyak hendaklah melakukan dua hal, yaitu meninggalkan dosa dan menyembunyikan dosa apabila ia melakukannya.

Sebagaimana dosa-dosa orang tersebut bertambah karena kemaksiatan mereka diikuti oleh para pengikutnya, maka demikian juga pahala dan kebaikan mereka akan tambah karena perbuatan baik yang diikuti oleh para pengikutnya.

Allah ta’ala berfirman:

يَانِسَآءَ النَّبِيِّ مَن يَأْتِ مِنكُنَّ بِفَاحِشَةٍ مُّبَيِّنَةٍ يُضَاعَفْ لَهَا الْعَذَابُ ضِعْفَيْنِ وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيرًا {30} وَمَن يَقْنُتْ مِنكُنَّ لِلَّهِ وَرَسُولِهِ وَتَعْمَلْ صَالِحًا نُؤْتِهَآ أَجْرَهَا مَرَّتَيْنِ وَأَعْتَدْنَا لَهَا رِزْقًا كَرِيمًا {31}

”Hai isteri-isteri Nabi, siapa-siapa di antaramu yang mengerjakan perbuatan keji yang nyata, niscaya akan di lipat gandakan siksaan kepada mereka dua kali lipat. Dan adalah yang demikian itu mudah bagi Allah. Dan barang siapa diantara kamu sekalian (isteri-isteri Nabi) tetap taat kepada Allah dan rasul-Nya dan mengerjakan amal yang saleh, niscaya Kami memberikan kepadanya pahala dua kali lipat dan Kami sediakan baginya rizki yang mulia.” (QS. Al-Ahzab: 30-31)

—-diambil dari http://maramissetiawan.wordpress.com

Footnote


[1] Penjelasan ini dinukil dari buku “Cara Bertaubat Menurut al-Qur’an dan as-Sunnah” karya Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Hamd, penerbit: pustakan Imam Syafi’i cet. Pertama/ 2007, hlm. 169-173.[2] Minhajul Qaashidiin, hlm. 282

[3] Dzammul Hawa karya Ibnul Jauzi, hlm. 184

[4] At-Taubah karya Ibnu Abid Dunya, hlm 78

[5] Shaidul khaathir (hlm. 313).

[6] Ibid. (hlm. 314-315)

[7] Ihyaa-u ‘Uluumiddiin (IV/ 54)

Untuk yang Sehati

Bercita-cita mengamalkan Islam secara utuh adalah suatu hal yang wajib bagi setiap muslim....
Namun bila belum mampu seluruhnya, jangan ditinggalkan semuanya....Karena Alloh Subhanahu wata'ala tidak membebani seseorang kecuali sesuai kemampuan maksimal yang dimiliki...

Buat diriku & dirimu

....Jangan pernah merasa cukup untuk belajar Islam, karena semakin kita tahu tentang Islam, semakin kita tahu tentang diri kita (...seberapa besar iman kita, ...seberapa banyak amal kita,....seberapa dalam ilmu kita, dan sebaliknya...seberapa besar kemunafikan kita, ...seberapa banyak maksiat kita, ...seberapa jauh kedunguan kita)
....Barangsiapa mengenal dirinya, maka semakin takut ia kepada Alloh Subhaanahu wata'ala

Do’a kita

Semoga Alloh Subhaanahu wata'ala meneguhkan hati kita dalam Islam hingga maut menjemput kita,...aamiin

Kalender

Februari 2010
S M S S R K J
« Jan   Mar »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728  

Total Pengunjung

  • 207,978 klik