Awas… SETAN sedang mengintai Anda…!!

Quantcast

//

ghostbusters_1

diambil dari http://addariny.wordpress.com

Bismillah… Segala puji bagi Allah, sholawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah beserta keluarga, sahabat dan mereka yang membelanya… amma ba’du:

Yang akan kami sebutkan di sini adalah sebagian dari cara-cara yang sesuai dengan Syariat Islam, untuk membentengi rumah dan penghuninya dari gangguan setan, semoga  Alloh menjaga kita dari kejahatan dan tipu dayanya.

Berdoa ketika hendak masuk rumah dan makan

Diriwayatkan dari sahabat Jabir, ia mendengar Nabi -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Apabila seseorang hendak memasuki rumah, kemudian ia berdoa ketika masuk rumah dan berdoa ketika makan, maka setan mengatakan: ‘tidak ada tempat menginap dan makan malam untuk kalian’. Sebaliknya apabila ia memasuki rumah tanpa doa, maka setan mengatakan: ‘Ada tempat menginap bagi kalian’ , begitu pula apabila ia tidak do’a ketika makan malam, maka setan mengatakan: ‘Tersedian tempat menginap dan ada jatah makan malam untuk kalian”. (HR. Muslim)

Berdoa ketika masuk toilet

Sahabat anas berkata: dahulu Nabi –shollallohu alaihi wasallam– ketika hendak masuk toilet membaca doa:

“اللهم إني أعوذبك من الخبث والخبائث”

Artinya: semoga Alloh melindungiku dari setan laki-laki dan setan perempuan (Muttafaqun Alaih).

Membersihkan rumah dari anjing dan gambar

Diriwayatkan dari sahabat abu tholhah, bahwa Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Malaikat tidak akan masuk rumah yang ada anjing dan gambarnya. (Muttafaqun Alaih)

Nabi -shollallohu alaihi wasallam- juga bersabda: “Anjing hitam adalah setan” (HR. Muslim)

Akan tetapi ada keringanan untuk anjing pemburu dan anjing penjaga, sebagaimana sabda Rasululloh -shollallohu alaihi wasallam- : “Barangsiapa memelihara anjing –kecuali anjing pemburu dan anjing penjaga- maka pahalanya akan berkurang dua qiroth setiap harinya” (Muttafaqun Alaih)

Membersihkan rumah dari salib

Siti Aisyah mengatakan: “Nabi -shollallohu alaihi wasallam- tidak pernah membiarkan ada salib di dalam rumahnya, kecuali beliau merusaknya” (HR. Bukhori)

Membersihkan rumah dari lonceng

Lonceng di sini mencakup bel yang berbau musik, ataupun bel yang suaranya mirip lonceng gereja, karena Rasul -shollallohu alaihi wasallam- mensabdakan: “Lonceng adalah alunan setan” (HR. Muslim)

Menjauhkan rumah dari musik dan lagu

Lagu adalah suara dan alunan setan, Alloh ta’ala berfirman (ketika menyuruh setan) : “Perdayakanlah siapa saja -diantara mereka- yang kau (iblis) sanggupi dengan suaramu (yang memukau)” (al-Isro’:64)

Mujahid menerangkan bahwa yang dimaksud dengan suara setan di ayat ini adalah hiburan dan lagu.

Alloh ta’ala juga berfirman –yang artinya- : Diantara manusia (ada) orang yang mempergunakan lahwul hadits (perkataan kosong) untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah” (Luqman: 6) sahabat Ibnu Mas’ud mengatakan: maksud dari lahwul hadits adalah nyanyian

Membersihkan rumah dari gambar

Sebagaimana sabda Rasul -shollallohu alaihi wasallam- : “Para malaikat tidak akan masuk rumah yang ada gambarnya”. (HR. Muslim).

Menutup pintu, menutup wadah, dan memadamkan lentera.

Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Jabir ra: Rasululloh -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Tutuplah pintu-pintu, dan sebutlah nama Alloh, karena sesungguhnya setan tidak akan membuka pintu yang tertutup. Balikkanlah tempayan-tempayanmu dan sebutlah nama Alloh! tutuplah wadah-wadahmu dan sebutlah nama Alloh! agar tidak dimasukan apa-apa padanya, serta padamkanlah lentera-lenteramu!”. (HR. Muslim)

Memadamkan api sebelum tidur

Sebagaimana sabda Nabi -shollallohu alaihi wasallam- : “Jangan biarkan api menyala di rumah, ketika kalian sedang tidur!” (Muttafaqun Alaih)

Jangan tidur sampai pagi! (tapi bangunlah untuk sholat malam!)

Sahabat Ibnu Mas’ud t berkata: Nabi -shollallohu alaihi wasallam- pernah dilapori ada orang yang tidur malam sampai pagi (sehingga tidak sholat malam), maka beliau bersabda: “Itu adalah orang yang dikebiri setan di kedua telinganya” (Muttafaqun Alaih)

Jangan biarkan setan anda menjadi gemuk

Yaitu dengan menyia-nyiakan nikmat dan membuang makanan di sampah, karena sahabat Jabir  meriwayatkan bahwa Nabi -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Apabila suapanmu jatuh maka ambillah, singkirkan kotoran yang ada padanya kemudian makanlah, jangan sampai ia sisakan untuk makanan setan” (HR. Muslim)

Sholat sebagai pelindung dari gangguan setan

Sholat tersebut adalah sholat shubuh, karena sabda Rosul -shollallohu alaihi wasallam- : “Barangsiapa sholat shubuh maka ia dalam jaminan Alloh, maka jangan sampai Alloh menuntutmu karena kamu meninggalkan kewajiban! karena barangsiapa yang demikian, niscaya Alloh akan menemukannya dan menyungkurkan wajahnya ke dalam neraka jahannam.” (HR. Muslim)

Surat al-Baqoroh bisa mengusir setan dari rumah

Surat ini merupakan benteng yang kuat untuk mengusir setan dari rumah, sebagaimana keterangan Nabi -shollallohu alaihi wasallam- dalam sabdanya: “Janganlah kalian jadikan rumah-rumahmu seperti kuburan, karena sesungguhnya setan akan lari dari rumah yang dibacakan surat Al-baqoroh di dalamnya.” (HR. Muslim)

Rosul -shollallohu alaihi wasallam- juga bersabda: “Sesungguhnya Alloh taala telah menulis kitab-Nya sejak 2000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi, dan menurunkan dengannya dua ayat yang menjadi penutup surat Albaqoroh. Rumah yang dibacakan dua ayat tersebut tidak akan didekati oleh setan selama tiga hari.” (HR. Hakim, ia menshohihkannya dan disepakati oleh adz-dzahaby)

Membaca Ayat Kursi sebelum tidur

Barangsiapa yang membacanya (sebelum tidur) akan selalu dalam penjagaan malaikat Alloh, dan setan tidak akan mendekatinya hingga pagi tiba. (HR. Bukhori)

Perisai waktu petang

Sahabat Abu Hurairah meriwayatkan: “Pernah ada orang mendatangi Nabi -shollallohu alaihi wasallam- untuk mengadu: Wahai Rosululloh! tadi malam aku disengat kalajengking! Beliau menjawab: “Seandainya kamu di waktu sore membaca:

أعوذ بكلمات الله التامات من شر ما خلق

(aku berlindung dengan kalimat-kalimat Alloh yang sempurna dari segala keburukan yang ada) maka itu tidak akan membahayakanmu. (HR. Muslim)

Selesai di madinah, 20 11 08.
Alih bahasa oleh: Abu Abdillah Musyaffa’ Addariny
Tulisan asal oleh: bagian riset ilmiah Madarul Wathon

Ada Apa dibalik Isbal?! (pakaian yg panjang sampai di bawah mata kaki)

Esbaaaal_Allith

Oleh: Abu Abdillah ad-Dariny

diambil dari http://addariny.wordpress.com

الحمد لله وكفى, والصلاة والسلام على رسوله المصطفى, وعلى آله وصحبه ومن اهتدى, أمابعد

1.    عن أبي ذر عن النبي صلى الله عليه وسلم  قال: ثلاثة لا يكلمهم الله يوم القيامة ولا ينظر إليهم ولا يزكيهم ولهم عذاب أليم. قال فقرأها رسول الله صلى الله عليه وسلم  ثلاث مرارا. قال أبو ذر: خابوا وخسروا من هم يا رسول الله؟ قال: المسبل والمنان والمنفق سلعته بالحلف الكاذب  (رواه مسلم)

Dari Abu Dzar, dari Nabi -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Ada tiga golongan, -yang pada hari kiamat nanti- Alloh  tidak bicara dengan mereka, tidak melihat mereka, tidak membersihkan (dosa) mereka dan bagi mereka siksa yang pedih”. Rasulullah -shollallohu alaihi wasallam- mengulangi sabdanya itu tiga kali. Abu dzar mengatakan: “Sungguh celaka dan merugilah mereka! wahai Rasulullah, siapakah mereka?”. Beliau menjawab: “Orang yang isbal (dengan rasa sombong), orang yang mengungkit-ngungkit pemberiannya dan orang yang menjual barang dagangannya dengan sumpah palsu”. (HR. Muslim)

2.     عن محمد بن عقيل سمعت ابن عمر يقول: كساني رسول الله صلى الله عليه وسلم قبطية،  وكسا أسامة حلة سيراء. قال: فنظر فرآني قد أسبلت فجاء فأخذ بمنكبي, وقال: يا ابن عمر! كل شيء مس الأرض من الثياب ففي النار. قال: فرأيت ابن عمر يتزر إلى نصف الساق (رواه أحمد وقال الأرناؤوط: صحيح لغيره وهذا إسناد حسن)

Dari muhammad bin ‘aqil aku mendengar ibnu umar bercerita: Rasulullah -shollallohu alaihi wasallam- pernah memberiku baju qibtiyah[1] dan memberikan kepada usamah baju hullah siyaro[2]. Ibnu Umar mengatakan: ketika Nabi -shollallohu alaihi wasallam- melihatku isbal beliau datang dan memegang pundakku seraya berkata: “Wahai Ibnu Umar! semua pakaian yang menyentuh tanah, (nantinya) di neraka”. Ibnu Aqil berkata: “Dan (setelah itu) aku melihat Ibnu Umar selalu memakai sarungnya hingga pertengahan betis” (HR. Ahmad. al-Arnauth mengatakan: Derajat haditsnya shohih lighoirihi, sedang sanad ini hasan)

3.    عن عبد الرحمن بن يعقوب قال: سألت أبا سعيد الخدري عن الإزار, فقال: على الخبير سقطت! قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:  إزرة المسلم إلى نصف الساق ولا حرج أو لا جناح فيما بينه وبين الكعبين, ما كان أسفل من الكعبين فهو في النار, من جر إزاره بطرا لم ينظر الله إليه. (رواه أبو داود وقال الألباني صحيح)

Dari Abdur Rahman bin Ya’qub berkata: aku pernah bertanya kepada Abu Sa’id al-Khudri tentang sarung, maka dia menjawab: “Kamu menepati orang yang tahu betul masalah ini! Rasulullah –shollallohu alaihi wasallam- pernah bersabda: ‘Sarung seorang muslim adalah sebatas pertengahan betis, dan tidak mengapa sarung yang berada antara batas tersebut hingga mata kaki. Adapun yang lebih rendah dari mata kaki, ia di neraka. Dan barangsiapa yang menyeret sarungnya karena takabur, maka Allah tidak akan mau melihat kepadanya (pada hari kiamat nanti)”. (HR. Abu Dawud, dan Albany mengatakan: shohih)

4.    عن عبد الله بن عمر عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: الإسبال في الإزار والقميص والعمامة, من جر منها شيئا خيلاء لم ينظر الله إليه يوم القيامة. (رواه أبو داود وغيره وقال الألباني صحيح)

Dari Abdullah bin Umar dari Nabi -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Isbal bisa terdapat pada sarung, baju ataupun sorban. Barangsiapa menyeret salah satu darinya karena sombong, maka pada hari kiamat nanti, Allah tidak akan mau melihat kepadanya” (HR. Abu Dawud dan yang lainnya. Albany mengatakan: Hadits ini shohih)

5.    عن المغيرة بن شعبة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: يا سفيان بن سهل! لا تسبل, فإن الله لا يحب المسبلين! (رواه ابن ماجه وصححه الألباني)

Dari Mughiroh bin Syu’bah berkata: Rasulullah -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Wahai Sufyan bin Sahl, janganlah kamu isbal! Karena sesungguhnya Allah tidak suka terhadap mereka yang isbal” (HR. Ibnu Majah dan dishohihkan oleh Albany)

6.    عن أبي جري جابر بن سليم الهجيمي قال له رسول الله صلى الله عليه وسلم: ارفع إزارك إلى نصف الساق, فإن أبيت فإلى الكعبين. وإياك وإسبال الإزار, فإنها من المخيلة, وإن الله لا يحب المخيلة. (رواه أبو داود وغيره  وصححه الألباني)

Dari Abu Jari, Jabir bin Sulaim al-Hujaimy: Bahwa Rasulullah -shollallohu alaihi wasallam- menasehatinya: “Angkatlah sarungmu sampai tengah betis! Tapi jika kau tidak berkenan, maka hingga batas mata kaki. Dan jangan sekali-kali meng-isbal-kan sarungmu! Karena isbal adalah termasuk perbuatan sombong, dan Allah tidak menyukai perbuatan sombong. (HR. Abu Dawud dan yang lainnya, dishohihkan oleh Albany)

7.    عن جبير بن مطعم : أنه كان جالسا مع ابن عمر, إذا مر فتى شاب عليه حلة صنعانية يجرها مسبل قال : يا فتى هلم! قال له الفتى : ما حاجتك يا أبا عبد الرحمن؟ قال : ويحك أتحب أن ينظر الله إليك يوم القيامة؟ قال: سبحان الله وما يمنعني أن لا أحب ذلك؟ قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : لا ينظر الله إلى عبد يوم القيامة يجر إزاره خيلاء. قال : فلم ير ذلك الشاب إلا مشمّرا حتى مات بعد ذلك اليوم. (قال الألباني: رواه البيهقي بسند صحيح)

Jubair bin Muth’im mengisahkan: Dia pernah duduk bersama Ibnu Umar. Ketika ada seorang pemuda yang musbil berjalan dengan baju hullah shon’aniyah yang diseret, Ibnu Umar berkata: “Wahai pemuda, kemarilah!” Pemuda tersebut menimpali: “Apa yang engkau inginkan, wahai Abu Abdirrohman (panggilan kesayangan Ibnu Umar)?” (Ibnu Umar) menjawab: “Celakalah kamu! Tidak senangkah kau seandainya Allah melihat padamu di hari kiamat nanti?” Pemuda itu menimpali: “Subhanallah, adakah yang menghalangiku hingga aku tidak menyenanginya?!” Ibnu Umar berkata: Aku telah mendengar Rosulullah -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Pada hari kiamat nanti, Allah tidak akan melihat kepada hamba yang menyeret sarungnya karena sombong”. Jubair bin Muth’im mengatakan: “Setelah hari itu, pemuda tersebut tidak pernah terlihat, kecuali ia mengangkat pakaiannya hingga pertengahan betis, sampai meninggalnya”. (Albany mengatakan: Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dengan sanad yang shahih)

8.    عن عمرو بن فلان الأنصاري قال : بينا هو يمشي وقد أسبل إزاره إذ لحقه رسول الله صلى الله عليه وسلم وقد أخذ بناصية نفسه وهو يقول : ” اللهم عبدك وابن عبدك ابن أمتك ” قال عمرو : فقلت : يا رسول الله إني رجل حمش (دقيق) الساقين فقال : ” يا عمرو إن الله عز و جل قد أحسن كل شيء خلقه يا عمرو ” وضرب رسول الله صلى الله عليه و سلم بأربع أصابع من كفه اليمنى تحت ركبة عمرو فقال : ” يا عمرو هذا موضع الإزار ” . ثم رفعها ثم ضرب بأربع أصابع تحت الموضع الأول ثم قال : ” يا عمرو هذا موضع الإزار ” . ثم رفعها ثم وضعها تحت الثانية فقال : ” يا عمرو هذا موضع الإزار ” (رواه أحمد وصححه الألباني والأرناؤوط)

Amr bin Fulan al-Anshory mengisahkan dirinya: Ketika ia berjalan dengan meng-isbal-kan sarungnya, tiba-tiba Rasulullah -shollallohu alaihi wasallam- menghampirinya, dan beliau telah meletakkan tanganya pada permulaan kepala beliau seraya berkata: “Ya allah (lihatlah) hambamu, putra hamba laki-lakiMu dan putra hamba perempuanMu!”. ‘Amr beralasan: “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku seorang yang betisnya kurus kering”. Rasulullah -shollallohu alaihi wasallam- menimpali: “Wahai ‘Amr, sesungguhnya Allah ta’ala telah menjadikan baik seluruh ciptaan-Nya!

Maka Rasulullah -shollallohu alaihi wasallam- meletakkan empat jari dari telapak kanannya tepat di bawah lututnya ‘Amr, seraya berkata: “Wahai ‘Amr inilah tempatnya sarung”

Kemudian beliau mengangkat empat jarinya, dan meletakkannya kembali di bawah tempat yang pertama, seraya berkata: “Wahai ‘Amr inilah tempatnya sarung”

Kemudian beliau mengangkat empat jarinya lagi, dan meletakkannya kembali di bawah tempat yang kedua, seraya berkata: “Wahai ‘Amr inilah tempatnya sarung” (HR. Ahmad. Dishohihkan oleh Albany dan al-Arnauth)

9.    عن حذيفة قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : موضع الإزار إلى أنصاف الساقين و العضلة ، فإذا أبيت فمن وراء الساقين ، و لا حق للكعبين في الإزار. (رواه أحمد والنسائي وصححه الألباني)

Hudzaifah berkata, Rasulullah -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Tempat sarung adalah sampai pertengahan dua betis dan pada tonjolan dagingnya, tetapi jika kamu tidak menghendakinya maka (boleh) di bawah dua betis, dan tidak ada hak bagi mata kaki (tertutupi) sarung. (HR. Ahmad dan Nasa’i, dishohihkan oleh Albany­)

10.      عن زيد بن أسلم: كان ابن عمر يحدث أن النبي صلى الله عليه وسلم رآه وعليه إزار يتقعقع يعني جديدا, فقال: من هذا؟ فقلت: أنا عبد الله. فقال: إن كنت عبد الله فارفع إزارك! قال: فرفعته. قال: زد! قال: فرفعته حتى بلغ نصف الساق. قال: ثم التفت إلى أبي بكر فقال: من جر ثوبه من الخيلاء لم ينظر الله إليه يوم القيامة. فقال أبو بكر: إنه يسترخي [أحد شقي] إزاري أحيانا [إلا أن أتعاهد ذلك منه]. فقال النبي صلى الله عليه وسلم: لست منهم (رواه أحمد والبخاري)

Zaid bin Aslam mengatakan, Ibnu Umar pernah bercerita: Suatu ketika Nabi -shollallohu alaihi wasallam- melihatnya sedang memakai sarung baru. Beliau bertanya: “Siapakah ini?” Aku menjawab: “Aku Abdullah (Ibnu Umar)”. Kemudian Nabi -shollallohu alaihi wasallam- berkata: ”Jika benar kamu Abdullah, maka angkatlah sarungmu!”. (Ibnu Umar) mengatakan: “Aku pun langsung mengangkatnya”. (Nabi) berkata lagi: “Tambah (angkat lagi)!” (Ibnu Umar) mengatakan:  “Maka aku pun mengangkatnya hingga sampai pertengahan betis”. Kemudian Nabi -shollallohu alaihi wasallam- menoleh ke Abu Bakar, seraya mengatakan: “Barangsiapa menyeret pakaiannya karena sombong, maka pada hari kiamat nanti Allah tidak akan melihat kepadanya ”. Mendengar hal itu, Abu Bakar bertanya: “Sungguh salah satu dari sisi sarungku terkadang terjulur, akan tetapi aku selalu menjaganya agar ia tak terjulur”. Maka Nabi -shollallohu alaihi wasallam- menimpali: “Kamu bukanlah termasuk dari mereka” (HR. Ahmad dan Bukhari)

BANYAK SEKALI PELAJARAN YANG DAPAT KITA PETIK DARI HADITS-HADITS INI, diantaranya:

1. Hadits-hadits di atas, jelas sekali menggambarkan larangan keras bagi mereka yang ber-isbal. Terlebih-lebih bagi mereka yang telah mengetahui adanya larangan dalam hal ini, tapi masih saja melanggarnya… Semoga ilmu kita menjadi hujjah untuk kita, bukan malah menjadi bumerang bagi kita.

2. Kita perhatikan, hadits tentang larangan isbal ini diriwayatkan dari banyak sahabat Nabi, diantaranya adalah yang kami sebutkan di atas (tujuh sahabat): Ibnu Umar, Abu Dzar, Abu Sa’id al-Khudry, al-Mughiroh bin Syu’bah, Jabir bin Sulaim al-Hujaimy, ‘Amr bin Fulan al-Anshori dan Khudzaifah –rodhiallahu ‘anhum ajma’in-. Ini menunjukkan betapa besar perhatian Rasulullah -shollallohu alaihi wasallam- dalam masalah ini dan betapa bahayanya perbuatan isbal ini.

3. Dari hadits-hadits di atas terkumpul banyak ancaman hukuman bagi mereka yang isbal, padahal satu saja dari ancaman hukuman itu, sebenarnya telah cukup untuk mencegah insan yang beriman (akan kepedihan siksa-Nya) agar tidak terjerumus dalam perbuatan isbal ini. Diantara ancaman-ancaman hukuman tersebut adalah:

a. Allah tidak mengajak bicara dengannya pada hari kiamat. (lihat hadits pertama)

b. Allah tidak melihatnya pada hari kiamat. (lihat hadits pertama)

c. Allah tidak membersihkan (dosa)nya pada hari kiamat. (lihat hadits pertama)

d. Baginya siksa yang pedih dari Allah dzat yang paling pedih siksanya. (lihat hadits pertama)

e. Sesungguhnya Allah tidak suka terhadap orang yang musbil. (lihat hadits ke-5)

f. Sesungguhnya Allah tidak suka terhadap perbuatan menyombongkan diri. (lihat hadits 6)

g. Semakin bertambah panjang isbalnya semakin bertambah pula dosanya. (lihat hadits ke-3)

4. Perbuatan isbal tidak hanya terbatas pada sarung, tetapi juga berlaku pada segala jenis pakaian, sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah -shollallohu alaihi wasallam- (lihat hadits ke-4).

Sedangkan penyebutan kata “sarung” dalam banyak lafal hadits, itu disebabkan karena sarung merupakan pakaian yang umum dipakai orang pada masa itu, sebagaimana dijelaskan oleh amirul mukminin fil hadits Ibnu Hajar al-‘asqolany dan yang lainnya (lihat Fathul Bari, jilid 13, hal 264, syarah hadits no: 5791).

5. Dapat disimpulkan bahwa sarung (atau pakaian lainnya) memiliki 4 tempat:

a. Tepat di pertengahan betis. Inilah tempat paling baik, sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah -shollallohu alaihi wasallam-. (lihat hadits 3, 6, 8, 9)

b. Di bawah pertengahan betis hingga mata kaki. Ini merupakan tempat diperbolehkannya kita menjulurkan sarung, sebagaimana sabda Rasulullah -shollallohu alaihi wasallam- pada hadits ke-3: (ولا حرج أو لا جناح فيما بينه وبين الكعبين)

c. Berada tepat di mata kaki. Mulai batas ini kita dilarang menjulurkan sarung kita, sebagaimana sabda Rasulullah -shollallohu alaihi wasallam- pada hadits ke-9: (لاحق للكعبين في الإزار)

d. Di bawah mata kaki. Tidak diragukan lagi tempat yang terakhir ini adalah tempat paling jelas hukumnya, semakin bertambah juluran isbalnya semakin bertambah pula dosanya.

6. Letak pertengahan betis adalah sebagaimana diterangkan oleh Rasul -shollallohu alaihi wasallam- pada hadits ke-8, yaitu kira-kira empat jari di bawah lutut.

7. Orang yang musbil (sebagaimana kita pahami dari hadits ke-3) terbagi menjadi dua:

a. Orang yang musbil disertai dengan rasa sombong. Para ulama mengatakan bahwa isbal yang disertai rasa sombong adalah termasuk dosa besar, karena adanya ancaman hukuman khusus bagi mereka, sebagaimana sabda Rasulullah -shollallohu alaihi wasallam- pada hadits ke-7: (لا ينظر الله إلى عبد يوم القيامة يجر إزاره خيلاء)

b. Orang yang musbil tapi tanpa rasa sombong dalam hatinya. Orang yang keadaannya seperti ini juga mendapat ancaman hukuman (meskipun tidak termasuk dosa besar) karena ia masuk dalam sabda Rasulullah -shollallohu alaihi wasallam- pada hadits ke-3: (ما كان أسفل من الكعبين فهو في النار) Intinya kedua kelompok ini tidak lepas dari ancaman hukuman yang tidak ringan. Siapakah dari kita yang tidak ingin dirinya selamat dari ancaman siksaan Allah yang maha pedih siksanya?

8. Terdapat keterkaitan yang sangat erat antara isbal dengan rasa sombong, sebagaimana sabda Rasulullah -shollallohu alaihi wasallam- pada hadits ke-6: (وإياك وإسبال الإزار, فإنها من المخيلة, وإن الله لا يحب المخيلة)… Renungkanlah sabda beliau ini: “Karena sesungguhnya isbal adalah termasuk perbuatan sombong”, semoga Allah melapangkan hati kita, sehingga mudah menerima qoulul haq ini.

9. Bentuk betis yang kurang menarik menurut persepsi kita, bukanlah alasan untuk melanggar larangan isbal ini, sebagaimana kisah ‘Amr bin Fulan (lihat hadits ke-8).

*** Sebagian orang membolehkan isbal dengan alasan bahwa larangan tersebut adalah khusus bagi mereka yang sombong? Kita bisa sanggah dengan beberapa jawaban:

Dari sisi nash hadits: coba renungkan sabda rasulullah -shollallohu alaihi wasallam- pada hadits ke-3:  (ما كان أسفل من الكعبين فهو في النار، من جر إزاره بطرا لم ينظر الله إليه) “Apa yang lebih rendah dari mata kaki maka ia di neraka. (sedang) barangsiapa yang menyeret sarungnya karena takabur maka Allah tidak melihat kepadanya (pada hari kiamat)”. Dalam hadits ini Rasulullah -shollallohu alaihi wasallam- membedakan dua perbuatan yang berbeda dengan dua ancaman hukuman yang berbeda pula.

Hukuman Pelanggaran
Ancaman neraka Isbal dengan tanpa rasa sombong
Tidak dilihat Alloh pada hari kiamat, tidak dibersihkan dari dosanya, dan siksa yang pedih baginya Isbal dengan disertai rasa sombong

Jadi, tidak bisa kita katakan bahwa ancaman itu khusus bagi mereka yang isbal dengan rasa sombong.

Coba renungkan uraian berikut ini…!

Jika ada bapak mengatakan pada anaknya: “Janganlah sekali-kali kamu merokok! Kalau kamu ketahuan merokok, maka hukumannya adalah tidak kuberi uang jajan selama seminggu… Apalagi kalau kamu ketahuan merokok sambil mejeng di mall, maka hukumannya adalah ku usir dari rumah ini!

Apa yang kita pahami dari larangan bapak ini, bolehkah kita mengatakan bahwa hukuman merokok tersebut hanya berlaku saat si anak mejeng di mall saja? Tentunya tidak!

Kami yakin, semua orang paham, bahwa bapak ini menginginkan dua hukuman yang berbeda untuk dua pelanggaran yang berbeda pula.

Hukuman Pelanggaran
Stop uang jajan selama seminggu Merokok di tempat selain mall
Diusir dari rumah Merokok di mall

Maka terapkanlah pemahaman ini pada hadits-hadits tersebut di atas karena tidak ada perbedaan antara keduanya.

Dari uraian di atas dapat kita ambil kesimpulan bahwa:

  • Bagi mereka yang isbal dengan tanpa rasa sombong maka hukumanya adalah neraka.
  • Sedang bagi mereka yang isbal dengan rasa sombong maka hukumanya adalah Alloh tidak bicara dengan mereka pada hari kiamat, tidak melihat  mereka, tidak membersihkan dosa mereka dan siksa yang pedih untuk mereka, sebagaimana tertera pada hadits pertama.

Dari sisi logika: ketika Rasulullah -shollallohu alaihi wasallam- mengingkari perbuatan sebagian sahabatnya yang isbal.

a. Seandainya perbuatan itu diperbolehkan oleh Islam tentu saja Rasul -shollallohu alaihi wasallam- tidak mengingkarinya.

b. Rasulullah -shollallohu alaihi wasallam- langsung mengingkari perbuatan isbal tersebut, tanpa menanyakan dulu kepada sahabat yang diingkarinya, apakah ada rasa sombong dalam hatinya atau tidak? Ini menunjukkan bahwa ada dan tidaknya rasa sombong ketika isbal, tidak berpengaruh pada ke-haram-an perbuatan isbal tersebut.

c. Pantaskah kita su’udh dhon kepada para sahabat yang diingkari Rasul -shollallohu alaihi wasallam- ketika isbal, seperti ibnu umar, sufyan bin suhail dan ‘amr bin fulan, dengan mengatakan bahwa mereka semua pada saat itu melakukan isbal dengan rasa sombong! Sedang di sisi lain kita husnudh dhon kepada orang-orang zaman sekarang yang isbal ria, dengan kita katakan tidak ada kesombongan dalam hati mereka??? Wallahul musta’an.

*** Sebagian orang melegalkan isbal dengan menyamakan (baca: mensejajarkan) dirinya dengan Abu Bakar, yang sarungnya terjulur tanpa ada keinginan dari beliau sendiri.

Kita bisa sanggah ucapan ini, dengan beberapa jawaban:

1. Perbuatan beliau ini bukanlah karena keinginan beliau untuk ber-isbal. Para ulama telah menjelaskan, bahwa sebabnya adalah karena terlalu rampingnya badan beliau, hingga ikatan sarungnya selalu kendur ketika digunakan untuk berjalan atau kerja yang lainnya.

2. Juluran sarungnya Abu Bakar ini tidak terjadi pada seluruh bagian sarung, tapi hanya terjadi pada salah satu sisinya saja, sebagaimana lafal haditsnya (إنه يسترخي أحد شقي إزاري)

3. Juluran sarung Abu Bakar ini tidak terjadi secara terus-menerus, tetapi hanya terjadi kadang-kadang saja, sebagaimana lafal haditsnya (إنه يسترخي أحد شقي إزاري أحيانا)

4. Abu bakar selalu menjaga sebisa mungkin agar sarungnya tidak terjulur, sebagaimana lafal hadits tersebut [إلا أن أتعاهد ذلك منه]

5. Seandainya saja isbalnya abu bakar ini terjadi pada kedua sisi sarungnya, dilakukan terus menerus, dan atas kehendaknya (dan ini semua tidak mungkin terjadi), maka sesungguhnya istidlal dengan perbuatan Abu Bakar untuk melegalkan isbal adalah istidlal yang sangat lemah -wallahu a’lam- karena beberapa alasan:

a. Ini adalah istidlal dengan perbuatan (istidlal bil fi’li), padahal disana ada ucapan yang jelas melarang perbuatan ini, maka yang harus didahulukan adalah dalil yang berupa ucapan (dalil qouliy) yang jelas-jelas melarang isbal.

b. Banyaknya kemungkinan dan penafsiran dari para ulama yang berbeda-beda mengenai perbuatan abu bakar ini, sehingga menjadikan semakin lemahnya dalil fi’liy ini.

c. Banyaknya perbedaan antara isbalnya abu bakar -kalau bisa dikatakan seperti itu- dengan isbalnya orang di era ini.

d. Sungguh sangat sembrono orang yang mensejajarkan dirinya ketika ber-isbal, dengan umat Rasulullah -shollallohu alaihi wasallam- yang paling mulia ini. Tidakkah orang tersebut berusaha mencontoh perbuatan Abu bakar –rodhiallahu’anhu– dalam hal ibadahnya… amar ma’ruf nahi munkarnya… dakwahnya kepada tauhid… dan amal-amal ibadah lainnya???

Atau kalau mereka mau komitmen dengan keinginan mencontoh apa yang terjadi pada abu bakar ini, harusnya mereka mencontohnya dengan seratus persen, seperti: Hanya menjulurkan sebagian sisi sarung saja… hanya kadang-kadang saja dan tidak terus menerus… juga sebisa mungkin menjaganya agar sarungnya tidak terjulur…..!

e. Tak diragukan lagi, derajat kita tentunya jauh sekali di bawah generasi sahabat, apalagi dibandingkan dengan sahabat Ibnu Umar, Sufyan bin Suhail dan ‘Amr bin Fulan..! Jika kepada mereka saja Rosul -shollallohu alaihi wasallam- mengingkari perbuatan isbal itu, bagaimana seandainya perbuatan isbal itu muncul dari kita, orang yang jauh sekali di bawah mereka?! tentunya kita lebih pantas untuk tidak diperbolehkan melakukan isbal.

*** Sebab-sebab dilarangnya isbal telah dijelaskan oleh para ulama, diantaranya:

1. Karena dalam isbal terdapat isrof (mengahambur-hamburkan harta) yang dilarang.

2. Karena adanya tasyabbuh (menyerupai) wanita, dan rasul -shollallohu alaihi wasallam- melaknat laki-laki yang meniru wanita, baik dalam gaya maupun pakaiannya.

3. Karena tidak aman \ sulit menjaganya dari najis.

4. Karena isbal adalah pertanda kesombongan, dan Allah tidak menyukai perbuatan sombong.

Jika kita renungi sebab-sebab dilarangnya perbuatan isbal yang disebutkan oleh para ulama ini, ternyata kita dapati sebab-sebab tersebut tidak khusus bagi mereka yang ber-isbal dengan rasa sombong, tetapi terdapat pula pada mereka yang ber-isbal tanpa rasa sombong. Ini menunjukkan bahwa perbuatan isbal ini merupakan perbuatan yang terlarang, baik kita lakukan dengan rasa sombong atau tidak.

Dari hadits-hadits ini, kita juga dapat memetik pelajaran berharga tentang tingginya nilai-nilai Islam, ia benar-benar agama yang lengkap dan mencakup segala sisi kehidupan manusia.

Demikianlah artikel ini kami susun… Penulis yakin semua yang telah kami utarakan, telah banyak diketahui oleh para pembaca. Tapi tidak lain, tujuan kami hanya ingin mengamalkan firman ilahi  {وذكر فإن الذكرى تنفع المؤمنين} juga sabda Rasul -shollallohu alaihi wasallam- (الدين النصيحة). Semoga usaha yang sedikit ini menjadi amal yang ikhlas hanya karena wajah Allah swt, dan semoga tulisan ini bermanfaat dalam kehidupan kita semua, amin.

والحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات، وسبحانك اللهم وبحمدك، أشهد أن لا إله إلا أنت، سبحانك إني كنت من الظالمين


[1] Sejenis baju dari qibth (nama sebuah daerah di mesir) terbuat dari katun tipis dan putih (lih. An-nihayah)[2] Hullah adalah pakaian yang terdiri dari dua potong: sarung dan rida’ jika terbuat dari satu jenis. dan siyaro adalah baju yang terdapat garis-garis dari sutra (lih. An-nihayah)

Kunci Kebahagiaan

diambil dari http://addariny.wordpress.com

Bismillaah, walhamdulillaah, wash sholaatu wassalaamu alaa rosuulillaah, wa alaa aalihii wa shohbihii wa man waalaah…

Menindak lanjuti anjuran Syeikh Abdur Rozzaq –hafizhohulloh– dalam tabligh akbarnya -(di Masjid Istiqlal 1 Shofar 1431 / 17 Januari 2010)- untuk menyebarkan uraian Ibnul Qoyyim tentang kunci kebahagiaan, maka pada kesempatan ini, kami berusaha menerjemahkannya untuk para pembaca, semoga tulisan ini bermanfaat untuk kita semua…

SEBAB-SEBAB LAPANGNYA DADA

(1) Sebab utama lapangnya dada adalah: TAUHID.

Seperti apa kesempurnaan, kekuatan, dan bertambahnya tauhid seseorang, seperti itu pula kelapangan dadanya. Alloh ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: {أَفَمَن شَرَحَ اللهُ صَدْرَهُ لِلإسْلامِ فَهُوَ عَلَى نُورٍ مِّنْ رَبِّه} [الزمر: 22].

Apakah orang yang dibukakan hatinya oleh Alloh untuk menerima Islam, yang oleh karenanya dia mendapat cahaya dari Tuhannya, (sama dengan orang yang hatinya membatu?!)

Alloh juga berfirman:

وقال تعالى: {فَمَنْ يُرِدِ اللهُ أَن يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلإسْلاَمِ، وَمَن يُرِدْ أَن يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجاً كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِى السَّمَاءِ} [الأنعام: 125].

Barangsiapa dikehendaki Alloh mendapat hidayah, maka Dia akan membukakan hatinya untuk menerima Islam. Sedang barangsiapa dikehendaki-Nya menjadi sesat, maka Dia akan jadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia sedang mendaki ke langit.

Maka, petunjuk dan tauhid adalah sebab utama lapangnya dada. Sebaliknya syirik dan kesesatan, adalah sebab utama sempit dan gundahnya dada.

(2) Diantara sebab lapangnya dada adalah: Cahaya yang ditanamkan Alloh ke dalam hati hamba-Nya, yakni CAHAYA IMAN.

Sungguh cahaya itu akan melapangkan dan meluaskan dada, serta membahagiakan hati. Apabila cahaya ini hilang dari hati seorang hamba, maka hati itu akan menjadi ciut dan gundah, sehingga menjadikannya berada dalam penjara yang paling sempit dan sulit.

At-Tirmidzi meriwayatkan dalam kitab Jami’nya, bahwa Nabi -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Jika cahaya (iman) itu masuk ke dalam hati, maka ia akan menjadi luas dan lapang”. Mereka (para sahabat) bertanya: “Wahai Rosululloh, lalu apa tanda-tandanya?” Beliau menjawab: “(Tandanya adalah jika hatinya menginginkan) kembali ke rumah keabadian, menjauh dari rumah kepalsuan, dan bersiap-siap menghadapi kematian sebelum ia datang”.

Maka, seorang hamba akan mendapatkan kelapangan dadanya, sesuai bagiannya dari cahaya (iman) ini. Hal ini menyerupai cahaya dan kegelapan yang kasat mata, karena cahaya dapat melapangkan hati, sedang kegelapan bisa menciutkannya.

(3) Diantaranya lagi adalah: ILMU.

Ilmu akan melapangkan dada dan meluaskannya, hingga ia bisa menjadikannya lebih luas dari dunia. Sebaliknya kebodohan bisa menjadikan hati ciut, terkepung, dan terpenjara. Semakin luas ilmu seorang hamba, maka semakin lapang dan luas pula dadanya. Tentu, hal ini tidak berlaku untuk semua ilmu, akan tetapi hanya untuk ilmu yang diwariskan dari Rosul -shollallohu alaihi wasallam, yakni ilmu yang bermanfaat. Oleh karena itu, ahli ilmu menjadi orang yang paling lapang dadanya, paling luas hatinya, paling bagus akhlaknya, dan paling baik hidupnya.

(4) Diantaranya lagi adalah: Kembali kepada Alloh ta’ala, mencintai-Nya sepenuh hati, menghadap pada-Nya, dan mencari kenikmatan dalam mengibadahi-Nya. Karena, tidak ada sesuatu pun yang lebih mampu melapangkan dada seorang hamba melebihi itu semua, hingga kadang hati itu mengatakan: “Seandainya di dalam surga nanti, keadaanku seperti ini, maka sungguh itu berarti aku dalam kehidupan yang baik”.

Sungguh kecintaan itu memiliki pengaruh yang menakjubkan dalam melapangkan dada, membaikkan jiwa, dan menikmatkan hati. Tidak ada yang tahu hal itu, kecuali orang yang pernah merasakannya. Dan ketika cinta itu semakin kuat dan hebat, maka saat itu pula dada menjadi semakin luas dan lapang.

Dan hati ini tidak akan menciut, kecuali saat melihat para pengangguran yang kosong dari hal ini. Sungguh melihat mereka hanya akan mengotorkan mata hati, dan berkumpul dengan mereka hanya akan membuat gerah jiwa.

Diantara sebab utama ciutnya dada adalah: Berpalingnya hati dari Alloh ta’ala, bergantungnya hati pada selain-Nya, lalainya hati dari mengingat-Nya, dan kecintaan hati pada selain-Nya.

Karena, barangsiapa mencintai sesuatu selain Alloh, niscaya ia akan disiksa dengannya, dan hatinya akan terpenjara oleh kecintaannya pada sesuatu tersebut.

Sehingga tiada orang di muka bumi ini, yang lebih sengsara, lebih penat, lebih buruk, dan lebih payah hidupnya melebihinya.

Maka, di sini ada dua cinta:

(a) Cinta yang merupakan: surga dunia, kebahagiaan jiwa, dan kelezatan hati. Cinta yang merupakan kenikmatan, santapan, dan obatnya ruh. Bahkan dialah kehidupan ruh dan sesuatu yang paling disenanginya. Dialah cinta kepada Alloh semata dengan sepenuh hati, dan tertariknya semua kesenangan, keinginan, dan kecintaan hati hanya kepada-Nya.

(b) Dan cinta yang merupakan: siksaan ruh, kegundahan jiwa, penjara hati, dan sempitnya dada. Dialah sebab sakit, susah, dan beratnya jiwa. Itulah kecintaan kepada selain Alloh subhanahu wa ta’ala.

(5) Diantara sebab-sebab lapangnya dada adalah: Melanggengkan dzikir (mengingat)-Nya di segala tempat dan masa. Karena, dzikir itu memiliki pengaruh yang menakjubkan dalam melapangkan dada dan menikmatkan hati. Sebaliknya, lalai memiliki pengaruh yang menakjubkan dalam menciutkan, memenjarakan, dan menyiksa hati seorang hamba.

(6) Diantaranya lagi adalah: Membantu orang lain, dan memberikan manfaat kepada mereka, dengan apa yang ia mampui, dari hartanya, kedudukannya, badannya, dan berbagai macam kebaikan untuk orang lain.

Oleh karena itu, orang yang dermawan dan punya banyak jasa, adalah orang yang paling lapang dadanya, paling baik jiwanya, dan paling nikmat hatinya. Sedangkan si bakhil yang tidak punya jasa baik, adalah orang yang paling sempit dadanya, paling buruk hidupnya, dan paling banyak gundah gulananya.

Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- telah memberikan perumpamaan untuk si bakhil dan sang dermawan dalam sebuah hadits shohih (riwayat Muslim: 1021), yaitu: Seperti dua orang yang mempunyai baju perang dari besi. Setiap kali sang dermawan ingin bersedekah, baju besi itu menjadi tambah luas dan lebar, hingga ia menyeret bajunya dan menjadi panjang jejaknya. Sedangkan si bakhil, setiap kali ingin bersedekah, maka semua lingkaran rantai (yang menjadi penghubung rangkaian baju besi) itu menetapi tempatnya, dan tidak melebar hingga tidak cukup untuknya.

Maka, inilah perumpamaan lapang dan luasnya dada seorang mukmin yang dermawan, dan ini pula perumpamaan ciut dan sempitnya dada si bakhil.

(7) Dan diantaranya lagi adalah: Keberanian.

Makanya seorang pemberani adalah seorang yang lapang dadanya, serta luas jiwa dan hatinya.

Sedangkan pengecut, adalah seorang yang paling ciut dadanya, dan paling terbatas hatinya. Ia tidak memiliki kesenangan dan kebahagiaan. Ia juga tidak memiliki kenikmatan, kecuali kenikmatan yang dirasakan oleh hewan saja.

Adapun kebahagiaan, kelezatan, kenikmatan, dan kesenangan jiwa, maka itu tidak akan diberikan kepada mereka yang pengecut, sebagaimana ia tidak diberikan kepada mereka yang bakhil, dan mereka yang berpaling dari Alloh subhanah, lalai dari mengingat-Nya, jahil dengan-Nya, dengan nama-namaNya, dengan sifat-sifatNya, dan dengan agama-Nya, serta hatinya tergantung dengan selain-Nya.

Sungguh kenikmatan dan kebahagiaan ini, akan menjadi taman dan surga di alam kubur nanti. Sebaliknya keciutan dan kesempitan hati mereka, akan menjadi siksaan dan penjara di alam kuburnya.

Maka, keadaan hamba di alam kubur nanti, itu seperti keadaan hati di dalam dada, baik dalam hal kenikmatan, siksaan, kebebasan, maupun terpenjaranya.

Dan bukan patokan, bila ada kelapangan hati bagi si ini, dan keciutan hati bagi si itu, karena adanya sesuatu yang datang. Karena ia akan hilang dengan hilangnya sesuatu yang datang itu. Akan tetapi yang menjadi patokan adalah sifat yang menancap di hati, yang dapat membuatnya lapang atau ciut. Itulah timbangannya… Wallohul musta’an.

(8) Diantaranya lagi -bahkan ini salah satu yang utama- adalah: Membersihkan hati dari kotoran, seperti sifat-sifat tercela yang menyebabkan hati menjadi ciut, tersiksa, dan menghalangi kesehatannya.

Karena, jika sebab-sebab lapangnya hati itu datang kepada seseorang, sedang ia belum mengeluarkan sifat-sifat tercela itu dari hatinya, maka ia tidak akan mendapatkan kelapangan hati yang berarti. Hasil akhirnya adalah adanya dua materi yang memenuhi hatinya, dan hatinya akan dikuasai oleh apa yang lebih banyak menempati hatinya.

(9) Dan diantaranya lagi adalah: Meninggalkan setiap yang berlebihan, baik dalam ucapan, penglihatan, pendengaran, pergaulan, makanan, ataupun tidur. Karena sikap berlebihan dalam ini semua, dapat menyebabkan hati menjadi sakit, gundah, resah, terkepung, terpenjara, ciut, dan tersiksa karenanya. Bahkan kebanyakan siksaam dunia dan akhirat, bersumber darinya.

Maka, laa ilaaha illallooh… betapa ciutnya dada orang yang menyimpan semua penyakit ini, betapa susah hidupnya, betapa buruk keadaannya, dan betapa terkepung hatinya…

Dan Laa ilaaha illallooh… betapa nikmatnya kehidupan seseorang yang dadanya menyimpan semua sifat yang terpuji itu, serta cita-citanya berputar dan mengitari semua sifat itu. Tentulah orang ini memiliki bagian yang agung dari firman Alloh ta’ala:

{إنَّ الأَبْرَارَ لَفِى نَعِيم} [الانفطار: 13]

Sesungguhnya orang yang baik amalannya, berada dalam (surga yang penuh) kenikmatan.

Adapun yang itu, mereka memiliki bagian yang besar dari firman-Nya:

{وإنَّ الفُجَّارَ لَفِى جَحِيمٍ} [الانفطار: 14]

Sesungguhnya orang-orang yang buruk amalannya, berada dalam neraka (yang penuh kesengsaraan)

Dan diantara keduanya ada banyak tingkatan yang berbeda-beda, tiada yang dapat menghitungnya, kecuali Alloh tabaaroka wa ta’aala.

Maksud kami (membawakan pembahasan ini adalah agar kita tahu): Bahwa Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam– adalah makhluk yang paling sempurna dalam semua sifat terpuji yang bisa menjadikan kelapangan dada, keluasan hati, qurrotu ain, dan kehidupan jiwa. Oleh karena itulah, beliau menjadi makhluk yang paling sempurna dalam kelapangan dada, kehidupan hati, dan qurrotu ain. Belum lagi keistimewaan beliau dalam kelapangan hidup yang bisa dilihat mata.

Dan makhluk yang paling sempurna dalam menirunya, dialah makhluk yang paling sempurna dalam kelapangan, kelezatan, dan qurrotu ainnya. Seperti apa seorang hamba dalam meniru beliau, maka seperti itu pula ia akan mendapatkan kelapangan dada, qurrotu ain, dan kelezatan jiwanya.

Maka, beliau -shollallohu alaihi wasallam- adalah orang yang menempati posisi puncak kesempurnaan dari kelapangan dada, kemuliaan nama, dan minimnya dosa. Dan bagi pengikutnya dalam semua itu, ada bagian yang sesuai dengan kadar pengikutannya kepada beliau… wallohul musta’an.

Dan demikian pula (dalam hal lainnya), bagi pengikut beliau, ada bagian dari perlindungan, penjagaan, pembelaan, pemuliaan, pertolongan Alloh untuk mereka, tergantung porsi peneladanan mereka terhadap beliau. Ada yang dapat bagian sedikit, ada juga yang dapat bagian banyak. Maka barangsiapa yang mendapati kebaikan pada dirinya, maka hendaklah ia memuji Alloh. Adapun yang mendapati selain itu, maka janganlah ia mencela selain dirinya.

(Bagi yang ingin membaca naskah aslinya dalam bahasa arab, silahkan merujuknya ke kitab Zaadul Ma’aad, karya Ibnul Qoyyim, jilid 2, hal. 23)


Abdullah Battersbey

Abdullah Battersbey
(Mayor Tentara Inggris)

…………………………………………..
Beberapa tahun yang lalu, dalam waktu paling kurang dari seperempat abad, adalah kebiasaan
saya sehari-hari bepergian sepanjang jalan air Burma dengan menggunakan sampan.
Pengemudinya seorang Muslim, bernama Syekh Ali dari Chitagong, Bangladesh. Dia seorang
jurumudi yang mahir dan berpegang kepada ajaran-ajaran agamanya secara ikhlas, tekun
melakukan sembahyang pada waktunya. Ketaqwaannya tidak hanya menimbulkan rasa hormat
saja pada saya, tapi malahan mempengaruhi perhatian saya terhadap agama yang mampu
menguasai orang ini dan menjadikannya orang yang setia/taqwa. Di sekitar tempat tinggal saya
ada beberapa orang Burma Buddhist yang juga menunjukkan kesetiaannya, bahkan kadangkadang
mereka itu –sebagaimana yang saya saksikan– termasuk penghuni bumi yang paling
banyak kebaikan dan pengorbanannya. Akan tetapi bagi saya jelas adanya kekurangan dalam
peribadatan mereka. Saya tahu bahwa mereka melakukan sembahyang di pagoda, karena saya
melihat mereka berkumpul sambil duduk bersimpuh di sans dengan mengucapkar, bacaan-bacaan
sembahyang mereka, Buddham saranam gaccami, Dharma saranam gaccami, Sanghan saranam
gaccami.
Mereka mengatakan bahwa dengan begitu mereka telah mengikuti petunjuk-petunjuk Buddha
sebagai hukum dan peraturan untuk meningkatkan kehidupan rohani mereka. Mereka tampak
terlalu lugu, tidak bersemangat. Jauh berbeda dengan keadaan Syekh Ali pada waktu
sembahyangnya. Saya mengajaknya berbicara sepanjang perjalanan kami pada jalur-jalur jalan air
yang sempit itu. Dia tidak begitu baik berbicara selain tentang hal-hal yang memberikan dorongan
bertaqwa pada jiwanya. Dia memang seorang model dari kekuatan inspirasi Islam.
Saya telah membeli beberapa buah buku yang membahas sejarah Islam dan ajarannya. Saya juga
sedapat mungkin mempelajari sejarah hidup (biografi) Nabi Muhammad s.a.w. dengan segala
keberhasilannya yang besar-besar. Kadang-kadang saya juga berdiskusi mengenai beberapa
masalah ini bersama sahabat-sahabat saya yang beragama Islam. Tapi kemudian perang dunia ke-
I pecah, dan seperti juga banyak orang lain, saya ditugaskan pada Indian Army di Mesopotamia,
sehingga saya terjauh dari negara-negara Buddhist dan saya bergaul dengan orang-orang Arab
yang di kalangan mereka lahir seorang Rasul dan bahasa mereka menjadi bahasa Al-Qur’an.
Kehidupan saya di tengah-tengah bangsa Arab itu menyebabkan bertambahnya perhatian saya
terhadap Islam dan ajaran-ajarannya. Lalu saya belajar bahasa Arab dan bergaul lebih akrab
dengan rakyat Arab. Saya kagum atas besarnya semangat mereka menyembah Allah, sampai
akhirnya saya sendiri percaya atas ke-Esaan Tuhan, pada hal sejak kecil saya dididik untuk percaya
kepada Trinitas. Sekarang jelas bagi saya bahwa yang benar Tuhan itu Unity bukan Trinitas. Laa
llaaha illallah. Saya ingin mengumumkan diri saya sebagai orang Islam. Kenyataannya, walaupun
saya sama sekali sudah tidak lagi suka datang ke gereja dan sekali-sekali mengunjungi mesjidmesjid
manakala menjalankan tugas resmi saya sebagai opsir polisi, hanya sewaktu saya datang
ke Palestina sajalah, yakni antara tahun 1935 dan 1942 saya menemukan keberanian untuk secara
resmi mengumumkan bahwa saya telah masuk Islam, agama yang telah saya pilih beberapa tahun
lamanya.
Adalah hari besar dalam sejarah hidup saya, ketika saya mengumumkan keIslaman saya di
Mahkamah Syar’iyyah Kota Yerusalem yang dikenal di kalangan bangsa Arab dengan nama Al-Quds
atau Baitul-Mukaddas. Waktu itu saya adalah Kepala Staf Umum, dan pengumuman saya sebagai
pemeluk Islam itu telah mengundang banyak reaksi yang kurang sedap. Sejak waktu itu saya telah
hidup dan mempraktekkan kepercayaan sebagai orang Islam di Mesir dan kemudian di Pakistan.
Islam adalah suatu agama persaudaraan terbesar sekitar 500 juta orang, dan mengikuti golongan
ini berarti mengikuti petunjuk Allah.
Kalau saya sekarang mengakui kebesaran Islam dan pada tahun-tahun terakhir ini menyerahkan
tenaga untuk memajukan Islam dengan tulisan dan kehidupan saya, maka keutamaannya kembali
kepada itu orang pengemudi sampan yang ketaqwaannya telah membawa saya kembali kepada
Allah dan Islam. Sesungguhnya kita semua lahir sebagai orang Islam, hanya saya sebagai manusia
lemah telah tersesat jalan.
Sekarang, alhamdulillah, saya telah menjadi seorang anggota persaudaraan besar Islam, dan
manakala saya bersembahyang, saya merendahkan diri memohon kepada Allah untuk ruh
pengemudi sampan yang miskin itu, yang ketaqwaannya telah mendorong saya menemukan jalan
yang diilhami oleh akidahnya yang kuat dan mantap.
Allah, tidak ada Tuhan selain Dia.
Yang Hidup, Yang Kekal dan Esa.
Yang tidak diberatkan oleh sesuatu dan tidak pernah tidur.
Kepunyaan-Nya sendirilah ke-Rajaan.
Di langit dan di bumi.
Pada-Nya tersimpan kunci-kunci alam gaib,
tidak dicampuri yang lain.
Dia melihat segala yang ada di bumi, di air dan di udara. Dia melihat setiap bunga
yang berkembang dan setiap gelombang di semua lautan.

<<sebelumnya …. Daftar Isi …. selanjutnya>>

Muhammad John Webster

Muhammad John Webster
Presiden Missi Islam di Inggris

………………………………………….
Saya lahir di kota London dan saya tumbuh sebagai orang Kristen Protestan. Pada tahun 1930,
sewaktu saya masih berumur belasan tahun, saya menghadapi berbagai kesulitan yang biasa
dijumpai oleh setiap pemuda yang cerdas yang mempergunakan akal pikirannya, yaitu mengenai
beberapa persoalan hidup sehari-hari yang pada dasarnya bertalian dengan tuntutan agama.
Disinilah saya mulai menemukan kelemahan agama Kristen.
Agama Kristen adalah satu kepercayaan campuran yang menganggap dunia sebagai dosa sambil
berusaha menyesuaikan dirinya dengan kenyataan-kenyataan hidup dan menggantungkan harapan
kepada kehidupan akhirat. Sebagai hasilnya, ditetapkanlah melaksanakan keagamaan pada hari
Minggu secara khusus yang dianggap tidak ada bandingannya dalam hari-hari lain dalam
seminggu. Pada waktu Inggris menghadapi masalah-masalah kemiskinan dan ketidaktentraman
masyarakat. Agama Kristen tidak berusaha sedikitpun untuk menyelesaikannya. Karena itulah,
maka dengan semangat seorang pemuda dan pengaruh emosi yang melebihi pengaruh ilmu
pengetahuan, kepercayaan saya kepada gereja itu menjadi luntur, dan jadilah saya seorang
komunis.
Akan tetapi komunisme hanya memberi kepuasan terbatas dan tertentu kepada pemuda-pemuda
emosional berumur belasan tahun. Lalu tidak lama kemudian kelihatan tabi’atnya yang buruk
berdasarkan perjuangan klas yang tidak pernah akan berhenti. Setelah saya menolak komunisme
dengan dasar materialismenya, mulailah saya mempelajari falsafah dan agama-agama. Saya mulai
mempelajari keadaan sekeliling saya, suatu hal yang menyebabkan saya memeluk pantheisme,
suatu agama yang menganggap suci kepada alam dan menghormati undang-undangnya.
Kami orang-orang Barat menemui kesulitan untuk mengenal Islam, sebab sejak terjadinya perang
Salib ada satu komplotan tersembunyi atau pertimbangan yang keliru tentang soal-soal ke-
Islaman.
Kemudian pada waktu saya tinggal di Australia, saya telah minta satu copy Kitab Suci Al-Qur’an
pada Sydney Public Library. Akan tetapi sesudah saya membaca kata pengantar dari
penterjemahnya, saya merasa adanya fanatisme yang menentang Islam secara terang-terangan.
Oleh karena itu, lalu saya tutup saja buku itu dan saya tinggalkan. Di sana tidak ada Al-Qur’an
terjemahan seorang Muslim. Beberapa minggu kemudian pada waktu saya ada di Perth, Australia
Barat, saya sekali lagi menanyakan pada perpustakaan satu copy Al-Qur’an dengan syarat
penterjemahnya seorang Islam.
Saya tidak bisa menggambarkan dengan kata-kata tentang tanggapan saya yang langsung
sesudah saya membaca Surat pertama di dalamnya, yakni Surat Al-Fatihah dengan ayat-ayatnya
yang tujuh. Kemudian saya membaca sejarah kehidupan Rasulullah s.a.w. Saya menghabiskan
waktu beberapa jam di Perpustakaan hari itu, dan saya telah menemukan apa yang sebenarnya
saya inginkan, yakni dengan kurnia Allah s.w.t. saya telah menjadi orang Islam, pada hal sebelum
itu saya belum pernah bertemu dengan orang Islam. Hari itu saya keluar dari perpustakaan dengan
perasaan lesu, akibat kesungguhan saya berfikir dengan semangat yang meluap.
Pengalaman saya selanjutnya ialah saya masih bertanya kepada diri saya sendiri: Apakah itu
benar-benar suatu kejadian atau hanya sekedar impian? Sungguh sulit bagi saya untuk
mempercayai apa yang telah terjadi.
Saya keluar dari Perpustakaan untuk minum kopi. Di tengah perjalanan saya melihat pada sebuah
gedung tinggi ada tulisan “MUSLIM MOSQUE” Lalu saya katakan kepada diri saya waktu itu juga:
Sesudah engkau mengetahui kebenaran, engkau wajib mengikutinya segera.
LAA ILAAHA ILLALLAH, MUHAMMADUR RASULULLAH. Demikianlah dengan rahmat dan kurnia Allah
s.w.t. saya telah menjadi seorang Muslim.

<<sebelumnya …. Daftar Isi …. selanjutnya>>

Miss Amina Mosler (Jerman)

Miss Amina Mosler (Jerman)

…………………………………………
Saya mendengar anak saya menangis dengan air mata bercucuran mengatakan. “Ibu! Saya tidak
mau tetap sebagai orang Kristen sesudah ini. Saya ingin menjadi orang Islam. Ibu juga, ya Bu,
harus bersama saya masuk agama yang baru ini.”
Kejadian itu adalah pada tahun 1928. Waktu itulah untuk pertama kalinya saya merasa perlu
mempelajari Islam. Lewat beberapa tahun, sebelum saya menemui Imam Mesjid Berlin yang
menjelaskan kepada saya tentang agama ini, saya selalu meyakini bahwa Islam adalah agama
yang benar dan saya setujui.
Iman kepada Trinitas yang diajarkan oleh agama Kristen adalah suatu hal yang mustahil bagi saya.
Akhirnya pada waktu saya menginjak usia 20 tahun, dan sesudah saya mempelajari Islam, saya
berpendapat untuk tidak mengakui, tidak menganggap suci dan tidak mengakui kekuasaan Paus
yang tinggi, baptis dan lain-lain kepercayaan, jadilah saya seorang Muslimat.
Semua leluhur saya adalah orang-orang yang taat beragama. Saya sendiri tumbuh dalam
masyarakat. Karena itu saya membiasakan diri untuk melihat hidup ini dari sudut pandangan
keagamaan, dan hal itu mengharuskan saya memeluk salah satu agama. Maka adalah nasib saya
yang baik serta menyenangkan bahwa saya mengambil keputusan untuk memeluk agama Islam.
Sekarang saya merasa sangat berbahagia, dalam keadaan sudah menjadi nenek, karena saya
dapat membanggakan bahwa cucu saya telah melahirkan seorang bayi Muslim. Dan Allah s.w.t.
memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus

<<sebelumnya ….Daftar Isi …. selanjutnya>>

Miss Fatima Kazue (Jepang)

Miss Fatima Kazue (Jepang)

…………………………………………
Sejak terjadinya perang dunia ke-II, saya telah kehilangan kepercayaan kepada agama kami, yakni
sejak saya menjalankan kehidupan secara Amerika. Saya merasa ada sesuatu yang terlepas dari
jiwa saya, akan tetapi saya bisa menentukan apa yang telah hilang itu, sedangkan jiwa saya tetap
menuntut supaya saya menentukan apa yang hilang itu.
Adalah nasib baik bagi saya kenal dengan seorang Muslim yang sudah lama tinggal di Tokyo, dan
cara hidup serta ibadahnya sungguh mengagumkan saya. Lalu saya tanya dia tentang beberapa
masalah yang dijawabnya dengan jawaban yang cukup meyakinkan, memuaskan akal dan jiwa
sekaligus. Dia memberitahukan kepada saya tentang bagamana seharusnya manusia hidup sesuai
dengan hukum-hukum yang telah ditentukan Allah s.w.t. Saya tidak membayangkan sebelumnya
bahwa pandangan manusia akan berubah secepat apa yang saya alami dalam jiwa saya, ketika
saya mengikuti dan menjalankan kehidupan secara Islam. Saya merasa bahwa saya setuju dengan
Tuhan yang menciptakan saya.
Dengarlah penghormatan seorang Muslim: “Assalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh”.
Kalimat itu merupakan do’a memohonkan keselamatan dari Allah, do’a mohon kebahagiaan yang
abadi. Ini sangat berbeda dengan kata-kata “good morning” dan “good afternoon”, suatu
penghormatan yang hanya secara sederhana mengharapkan kebaikan pagi dan sore, di dalamnya
tidak terkandung harapan yang kekal, tidak pula mengandung do’a kepada Allah agar melimpahkan
rahmat dan berkah-Nya.
Sahabat saya yang Muslim itu mengajarkan kepada saya tentang banyak hal yang harus diimani
oleh setiap Muslim serta peribadatan yang harus ditunaikan. Saya.amat tertarik oleh cara hidup
menurut ajaran Islam, kebersihannya, keluasannya dan kebiasaannya mengucapkan salam.
Saya yakin sepenuhnya bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang bisa menjamin keselamatan
dan ketentraman hidup seseorang dan masyarakat secara merata. Hanya Islam sajalah yang
memberikan keselamatan hakiki kepada alam kemanusiaan, berlaku dalam waktu yang lama dan
membimbing rnereka kepada keamanan.
Berbahagialah saya, bahwa saya setuju dengan jalan keselamatan, dan saya sangat mengharap
dapat menyebarluaskan Islam di kalangan bangsa saya, manakala saya menemukan jalan untuk
itu

<<sebelumnya …. Daftar Isi …. selanjutnya>>

Mrs. Cecilia Mahmudah Cannolly (Australia)

Mrs. Cecilia Mahmudah Cannolly (Australia)

…………………………………………………….
Mengapa saya memeluk Islam?
Pertama-tama dan sebelum segala sesuatunya, saya ingin menyatakan bahwa saya memeluk
agama Islam, karena ternyata bahwa saya adalah seorang Muslim dalam lubuk jiwa saya tanpa
setahu saya.
Sudah sejak masih muda, saya telah kehilangan kepercayaan kepada agama Kristen. Sebabnya
banyak, dan yang terpenting ialah kalau saya bertanya kepada orang-orang Kristen, baik tokohtokoh
Gereja maupun orang-orang Kristen biasa, tentang sesuatu yang tidak jelas bagi saya
mengenai ajaran-ajaran Gereja, saya selalu saja mendapat jawaban: “Nona tidak akan bisa
menggali ajaran-ajaran Gereja, tapi nona wajib mempercayainya.” Waktu itu saya tidak
mempunyai cukup keberanian untuk mengatakan kepada mereka: “Saya tidak bisa mempercayai
sesuatu yang saya tidak mengerti.” Dan menurut hasil penelitian saya, tidak ada seorangpun di
kalangan mereka yang menyebut dirinya orang Kristen yang mempunyai keberanian semacam itu.
Apa yang saya lakukan selanjutnya, ialah keluar dari Gereja Roma Katolik serta ajaran-ajarannya
dan memantapkan ke-Imanan saya kepada Tuhan Yang Maha Esa, sebab beriman kepada-Nya itu
lebih mudah dari pada beriman kepada Tuhan Yang Tiga, seperti yang diajarkan oleh Gereja. Dan
berlawanan dengan ajaran-ajaran G,ereja yang tidak bisa dimengerti itu, saya mulai menemukan
kehidupan yang lebih luas, bebas dari segala dogma. Setiap kali saya menghadapkan muka, saya
menemukan bukti-bukti kekuasaan Allah s.w.t. pada makhluknya, dan saya –juga orang lain yang
kecerdasannya lebih tinggi dari pada saya– tidak bisa memahami segala mu’jizat yang terjadi di
bawah mata saya. Saya tertegun memikirkan segala kejadian/keajaiban makhluk Allah: pohonpohon,
bunga-bunga, burung-burung dan hewan-hewan sampai anak-anak yang dilahirkan, semua
itu saya rasa merupakan mu’jizat yang maha gemilang. Tidak seperti yang diajarkan oleh Gereja.
Saya ingat di waktu saya masih kecil, jika saya melihat bayi yang baru lahir yang digambarkan oleh
Gereja sebagai “tertutup dengan kehitaman dosa.” Sekarang tidak ada anggapan buruk semacam
itu lagi mendapat tempat dalam khayalan saya. Sekarang segala sesuatu menjadi indah di muka
mata saya.
Pada suatu hari, anak saya perempuan pulang ke rumah membawa sebuah buku tentang Islam.
Buku itu telah mempengaruhi jiwa saya untuk memberikan perhatian kepada agama ini, sehingga
sesudah selesai membaca buku ini, saya terus membaca buku-buku yang lain lagi tentang Islam,
dan segeralah saya mengerti bahwa Islam itu adalah justru akidah yang cocok dengan kepercayaan
saya.
Pada waktu saya masih percaya kepada agama Kristen, saya terpengaruh oleh apa yang
dimasukkan ke dalam hati saya bahwa Islam itu tidak lebih dari pada sebuah cerita lelucon. Akan
tetapi sesudah saya membaca buku-buku tersebut, hilanglah segala sangkaan buruk itu dari hati
saya, dan tidak lama kemudian saya menemui beberapa orang Islam untuk menanyakan beberapa
masalah yang belum begitu jelas sempurna bagi saya. Ketika itulah tersingkap segala tirai yang
menghalangi saya dari Islam. Setiap kali saya kemukakan pertanyaan, setiap itu pula saya
mendapat jawaban yang meyakinkan. Berlainan sepenuhnya dengan apa yang dilebih-lebihkan
pada waktu saya masih menganut agama Kristen.
Sesudah membaca-baca dan mempelajari, saya dan anak saya perempuan mengambil keputusan
untuk memeluk agama Islam dengan nama Rasyidah dan Mahmudah.
Kalau ada orang yang bertanya kepada saya tentang segi yang paling menarik bagi saya dalam
Islam, pasti akan saya jawab: Sembahyang. Karena sembahyang dalam agama Kristen, tidak lebih
dari pada do’a kepada Allah (dengan perantaraan Yesus Al-Masih) agar Dia menganugerahi kita
dengan kebaikan di dunia. Sedangkan dalam Islam, sembahyang itu ialah memanjatkan puji ke
hadirat Allah s.w.t. dan bersyukur atas segala ni’mat-Nya. Allah sendirian yang lebih mengetahui
apa yang bermanfaat bagi kita dan menganugerahi kita dengan apa yang kita perlukan tanpa
memintanya sedikitpun

<<sebelumnya …. Daftar Isi …. Selanjutnya>>

Untuk yang Sehati

Bercita-cita mengamalkan Islam secara utuh adalah suatu hal yang wajib bagi setiap muslim....
Namun bila belum mampu seluruhnya, jangan ditinggalkan semuanya....Karena Alloh Subhanahu wata'ala tidak membebani seseorang kecuali sesuai kemampuan maksimal yang dimiliki...

Buat diriku & dirimu

....Jangan pernah merasa cukup untuk belajar Islam, karena semakin kita tahu tentang Islam, semakin kita tahu tentang diri kita (...seberapa besar iman kita, ...seberapa banyak amal kita,....seberapa dalam ilmu kita, dan sebaliknya...seberapa besar kemunafikan kita, ...seberapa banyak maksiat kita, ...seberapa jauh kedunguan kita)
....Barangsiapa mengenal dirinya, maka semakin takut ia kepada Alloh Subhaanahu wata'ala

Do’a kita

Semoga Alloh Subhaanahu wata'ala meneguhkan hati kita dalam Islam hingga maut menjemput kita,...aamiin

Kalender

Februari 2010
S M S S R K J
« Jan   Mar »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728  

Total Pengunjung

  • 207,978 klik