Lady Evelyn Zeinab Cobbold (Inggris)

Lady Evelyn Zeinab Cobbold (Inggris)

…………………………………………
Pertanyaan terbanyak yang saya terima, ialah: Kapan dan mengapa saya memeluk agama Islam’!
Saya hanya bisa menjawab bahwa tidak mungkin saya dapat memastikan secara persis detik-detik
yang menentukan, sewaktu cahaya ke-Islaman memancar masuk ke dalam jiwa saya. Yang jelas
ialah bahwa saya sudah menjadi orang Islam. Kejadian ini bukan satu keanehan, jika orang ingat
bahwa Islam itu adalah agama fithrah (natural religion). Ini berarti bahwa seorang bayi itu akan
tumbuh menjadi seorang pemuda Islam jika dia dibiarkan hidup di atas fitrahnya sendiri. Seorang
kritikus Barat pernah membenarkannya dengan perkataan: “Islam is the relegion of common
sense” atau “Islam adalah agama akal.” Setiap bacaan dan pelajaran saya tentang Islam
bertambah, bertambah pulalah keyakinan saya bahwa Islam itu adalah suatu agama yang paling
praktis dan paling mampu menyelesaikan segala kesulitan dunia dan membawa alam kemanusiaan
ke jalan keamanan dan kebahagiaan. Karena itulah maka saya tidak ragu-ragu dalam kepercayaan
saya bahwa Allah itu SATU/ESA, dan bahwa Musa, Isa dan Muhammad s.a.w. serta Nabi-nabi lain
yang sebelumnya itu adalah para Nabi yang dituruni wahyu oleh Tuhan, bahwa kita manusia semua
tidak dilahirkan dalam dosa, dan kita tidak memerlukan seorang perantara dalam menghadap
Tuhan. Kita semua mampu menghubungkan jiwa kita dengan Dia sembarang waktu, dan manusia
itu, sampai Muhammad dan Isa sekalipun tidak ada yang bisa menjamin apa-apa untuk kita dari
Allah s.w t., dan bahwa keselamatan/kebahagiaan hidup kita itu tergantung kepada cara hidup dan
amal perbuatan kita sendiri.
“Islam” berarti tunduk dan menyerah kepada Allah. “Islam” juga berarti selamat dan aman.
Sedangkan seorang Muslim itu ialah orang yang beriman dan melaksanakan ajaran-ajaran Allah,
sehingga dia bisa hidup dengan aman di hadapan Allah dan dalam lingkungan makhluk-Nya.
Islam berdiri di atas dua pokok. Pertama ialah ke-Esaan Allah, dan kedua ialah persaudaraan yang
meliputi seluruh alam kemanusiaan. Islam bebas dari theologi dogmatis yang memberatkan. Lebih
dari itu semua, Islam adalah suatu agama yang positif.
Dalam ibadah Haji –suatu peribadatan yang tidak bisa dijelaskan pengaruhnya dengan kata-kata–
orang melihat dirinya sebagai satu anggota dalam sebuah pergumulan besar dari seluruh dunia
pada kesempatan suci di tanah suci, untuk bersama-sama dengan segala kekhusyuan
mengagungkan Allah. Dengan demikian tumbuhlah dalam jiwanya kesan tentang agungnya
idealisme Islam, yakni terbukanya kesempatan baik untuk bersama-sama masuk dalam kancah
percobaan kerohanian yang dianugerahkan Allah s.w.t. kepada alam kemanusiaan. Menziarahi
tempat kelahiran Islam, bekas-bekas perjuangan Rasulullah s.a.w. sewaktu beliau mengajak alam
kemanusiaan yang sesat supaya kembali kepada Allah s.w.t. Semua kehidupan yang penuh berkah
itu membangkitkan kesan dalam semua hati dan ingatan kepada perjuangan lama makan banyak
waktu, yang dijalankan oleh Muhammad s.a.w. dalam tahun-tahun yang penuh pengorbanan.
Semua itu berpengaruh dalam jiwa dan melebur dalam semburat cahaya langit yang menerangi
seluruh jagat raya. Bukan itu saja, dalam ibadah Haji itu masih ada yang lebih penting lagi, yaitu
membuktikan adanya persatuan di kalangan kaum Muslimin. Kalau ada suatu hal yang dapat
mempersatukan kekuatan Ummat Islam yang bercerai-berai dan memberinya corak persaudaraan
dan semangat kerjasama, maka ibadah Haji-lah yang dapat membuktikannya. Dalam
melaksanakan ibadah Haji terdapat kesempatan untuk mempertemukan semua bangsa dari
seluruh dunia untuk saling berkenalan dan bertukar pikiran tentang hal-ihwal masing-masing, dan
mempersatukan tenaga dalam usaha kemaslahatan bersama dengan mengesampingkan soal-soal
negeri tempat tinggal, perbedaan golongan dan madzhab, warna kulit atau kebangsaan. Semua
bersatu dalam satu ikatan persaudaraan besar dalam akidah yang mengilhami bahwa merekalah
sebenamya yang pantas menjadi pewaris keagungan.

<<sebelumnya …. Daftar Isi …. berikutnya>>

Iklan

Navis B. Jolly (Inggris)

Navis B. Jolly (Inggris)

…………………………..
Saya lahir dalam lingkungan masyarakat Kristen, dan saya dibaptis dalam Gereja Inggris serta
mengikuti sekolah Gereja, di mana sewaktu saya masih berumur belasan tahun telah membaca
kisah Yesus Kristus, seperti yang terdapat dalam Injil-injil. Hal itu menumbuhkan pengaruh
emosional yang mendalam pada jiwa saya, seperti juga saya merasakan hal yang sama pada waktu
setiap kali saya datang ke Gereja, melihat altar yang tinggi yang dipenuhi dengan lilin menyala,
kemenyan dan para pendeta dengan selendang-selendang adatnya, dan saya mendengar nyanyian
misterious di waktu sembahyang.
Saya yakin bahwa pada tahun-tahun yang hanya sebentar itu, saya adalah seorang Kristen yang
bersemangat. Kemudian berbareng dengan kemajuan saya dalam belajar dan hubungan saya yang
tetap dengan Injil serta segala sesuatu yang bersangkutan dengan ke-Kristenan, terbentanglah
luas di hadapan saya kesempatan berpikir mengenai apa yang saya baca dan saya saksikan,
mengenai apa yang saya lakukan dan saya percayai. Segeralah saya mulai merasa tidak puas
mengenai beberapa hal. Pada waktu itu juga saya meninggalkan sekolah gereja dan saya menjadi
seorang atheis tulen, tidak mau percaya kepada agama.
Tapi kemudian saya mulai lagi mempelajari agama-agama lain yang penting-penting di dunia. Saya
mulai mempelajari agama Buddha. Saya pelajari dengan sungguh-sungguh itu jalan yang delapan,
dan ternyata memang tujuannya baik, tapi kurang memberi petunjuk dan kurang terperinci.
Dalam agama Hindu saya dihadapkan bukan hanya kepada tiga, tetapi kepada beberapa ratus
Tuhan yang masing-masing memiliki kisah sejarah yang sangat fantastik dan tidak mungkin bisa
diterima oleh akal saya.
Kemudian saya membaca sedikit tentang agama Yahudi, tapi sebelum itu saya telah cukup banyak
membaca tentangnya dalam Perjanjian Lama yang menunjukkan bahwa agama Yahudi itu tidak
dapat memenuhi beberapa nilai yang mesti dimiliki oleh sesuatu agama.
Dengan bimbingan seorang sahabat, saya mulai mempelajari soal-soal ilmu kerohanian, dan untuk
itu saya harus menghadiri majelisnya yang dikuasai oleh roh-roh orang yang sudah mati. Tapi saya
tidak meneruskan praktek ini lebih lama, karena saya yakin sepenuhnya bahwa hal itu tidak lebih
dari sekedar dorongan kejiwaan, dan saya menjadi takut untuk melanjutkannya.
Sehabis perang dunia, saya berhasil mendapat pekerjaan pada sebuah kantor di London. Akan
tetapi pekerjaan itu tidak mengurangi perhatian saya terhadap soal-soal agama. Pada suatu hari
sebuah surat kabar lokal memuat sebuah artikel yang saya sanggah dengan sebuah tulisan, yaitu
mengenai ketuhanan Yesus sebagaimana tersebut dalam Injil. Sanggahan saya itu menghasilkan
banyak hubungan antara saya dengan para pembaca yang di antaranya terdapat seorang Muslim.
Mulai saya berbicara dan berdiskusi tentang Islam dengan kenalan saya yang baru ini. Dan pada
setiap tinjauan saya tentang macam-macam segi dari agama ini saya terjatuh. Walaupun saya pikir
hal itu tidak mungkin, saya harus mengakui bahwa yang sempurna telah sampai kepada kita
melalui seorang manusia biasa, sedangkan pemerintah-pemerintah yang paling baikpun di abad
ke-20 ini tidak mampu melebihi perundang-undangan yang diberikan wahyu itu, bahkan negaranegara
maju itu selalu mengutip susunannya dari susunan Islam.
Pada waktu itu saya bertemu dengan beberapa orang kaum Muslimin dan beberapa orang gadis
Inggris yang meninggalkan agama mereka (Kristen) dan dengan segala kemampuan mereka
membantu saya dalam mengatasi segala kesulitan yang saya hadapi. Hal itu terjadi karena
memang kami muncul/lahir dalam satu lingkungan. Tenaga/ bantuan mereka dicurahkan tanpa
pamrih.
Saya telah membaca banyak buku-buku. Saya ingat di antaranya ialah buku “The Relegion of
Islam”, “Mohammad and Christ” dan “The Sources of Christianity”. Buku yang terakhir ini banyak
menunjukkan persamaan antara agama Kristen dan cerita-cerita khayal zaman penyembahan
berhala purba. Ini sangat mengesankan saya Yang terpenting dari semua itu ialah bahwa saya
telah membaca Al-Qur’an. Pada pertama kali, nampak kepada saya seakan-akan kebanyakan isi Al-
Qur’an itu berulang-ulang dan saya belum percaya sepenuhnya atas semua isinya. Akan tetapi
saya merasa bahwa isi Al-Qur’an itu telah meresap ke dalam jiwa saya secara sedikit demi sedikit.
Selang beberapa malam, saya menemukan keinginan dalam jiwa saya untuk tidak melepaskan lagi
Al-Qur’an dari tangan saya. Kebanyakan yang menarik perhatian saya ialah itu persoalan yang
ajaib, bagamana bisa terjadi bahwa petunjuk yang demikian sempurna itu sampai kepada alam
kemanusiaan melalui manusia yang bersifat kekurangan. Kaum Muslimin sendiri selalu mengatakan
bahwa Nabi Muhxtnmad s.a.w. itu manusia biasa.
Sungguh saya mengerti bahwa menurut Islam, Rasul-rasul itu adalah orang-orang yang tidak
pernah berbuat dosa dan bahwa wahyu bukan perkara baru, sebab dahulu wahyu pernah
diturunkan kepada para Nabi Yahudi dan bahwa Isa (Yesus) adalah Nabi terakhir dari kalangan
bangsa Yahudi. Akan tetapi sebuah teka-teki selalu menggoda pikiran saya: Mengapa wahyu itu
tidak diturunkan kepada Rasul-rasul abad kedua puluh?! Jawabnya, saya pikir ialah apa yang
diterangkan oleh Al-Qur’an bahwa Muhammad s.a.w adalah Rasul Allah dan Nabi penutup. Hal itu
jawaban yang sempurna dan tidak bisa dibantah, karena bagamana bisa jadi diutus lagi Rasul-rasul
sesudah Muhammad s.a.w., sedangkan Al-Qur’anul-Majid adalah sebuah Kitab yang komplit yang
menjelaskan segala sesuatu dan membenarkan segala yang ada di hadapan kita, dan bahwa Al-
Qur’an itu kekal untuk selama-lamanya tanpa penggantian dan perubahan, sebagaimana
dinyatakan oleh Al-Qur’an dan diperkuat dengan kenyataan:
Sesungguhnya Aku telah menurunkan Al-Qur’an dan Aku menjaganya. — Al-Hijr 9.
Tidak bisa diragukan bahwa sesudah itu tidak akan ada kebutuhan lagi kepada Rasul-rasul dan
Kitab-kitab baru. Hal itu tertanam kuat dalam lubuk hati saya.
Saya baca bahwa Al-Qur’an itu petunjuk bagi mereka yang berpikir dan Al-Qur’an menantang
kepada setiap orang yang ragu-ragu, supaya mereka membuat satu surat saja yang serupa dengan
Surat Al-Qur’an:
Jika kamu berada dalam keraguan mengenai apa yang telah Aku turunkan kepada
hamba-Ku, datangkanlah satu surat yang semacamnya dan panggillah berhalaberhala
kamu, jika memang kamu benar. — Al-Baqarah 23.
Saya berpikir keras, jika ternyata pengaturan Al-Qur’an tentang hidup diberikan kepada seorang
yang lahir pada tahun 570 Masehi, maka saya merasa pasti bahwa kita yang hidup pada tahun
1944 ini akan mampu untuk mencapai ajaran yang lebih baik dari itu. Mulailah saya pelajari
kemungkinan ini, tapi ternyata saya gagal dalam segala lapangan.
Saya yakin, bahwa saya telah pernah terpengaruh dengan apa yang saya dengar dari atas mimbarmimbar
Kristen yang menentang Islam dalam soal poligami. Saya mengira bahwa saya dapat
melancarkan kritik mengenai masalah itu, karena waktu itu saya yakin bahwa teori Barat tentang
monogami itu lebih baik dari pada teori kolot yang menyerukan poligami. Soal itu saya bicarakan
dengan sahabat saya, orang Islam itu yang dengan kontan mengemukakan bantahan yang
meyakinkan bahwa bolehnya poligami itu dalam batas-batas tertentu. Poligami itu hanya satu
usaha untuk mengatasi apa yang sekarang terjadi di dunia Barat, yaitu meluasnya hubunganhubungan
gelap antara dua jenis manusia yang berbeda, dalam bentuk yang semakin beranekaragam.
Keterangan sahabat saya itu diperkuat dengan berita-berita yang tersiar dalam surat-surat
kabar yang menjelaskan sedikitnya jumlah orang-orang yang mencukupkan diri dalam praktek
dengan satu isteri saja di Inggris.
Saya sendiri melihat bahwa sesudah selesainya perang, jumlah kaum wanita dalam usia tertentu
menjadi lebih banyak dari pada pria. Keadaan ini mengakibatkan ,tidak sedikit kaum wanita yang
menghadapi kesulitan untuk menemukan kesempatan bersuami. Apakah memang Allah s.w.t.
menciptakan wanita semata-mata untuk menghadapi kesulitan?
Saya selalu ingat, bahwa dalam program siaran radio yang dikenal dengan nama “Dear Sir”,
seorang gadis Inggris yang belum pernah kawin mengajukan tuntutan supaya diadakan undangundang
yang membolehkan poligami. Dia mengatakan bahwa dirinya lebih baik hidup dalam ikatan
perkawinan bersama dengan istri-istri lain dari pada hidup menyendiri secara liar yang seolah-olah
menjadi ketentuan takdir buat dirinya.
Dalam Islam tidak ada kewajiban berpoligami, tapi jelas bahwa tanda agama yang sempurna itu
ialah memberikan kesempatan untuk itu.
Kemudian kepada sahabat saya orang Islam itu saya kemukakan masalah sembahyang wajib yang
saya kira merupakan titik kelemahan Islam, sebab melakukan sembahyang berulang-ulang sampai
5 kali itu setiap hari dan malam itu mesti hanya merupakan kebiasaan yang tidak ada artinya.
Akan tetapi sahabat saya itu kontan menjawab dengan jelas. Dia berkata: “Bagamana dengan
praktek memetik alat-alat musik? Bukankah anda menghabiskan waktu setengah jam setiap hari
untuk mengulanginya? Apakah jiwa anda terpengaruh atau tidak? Hal itu pasti hilang
keindahannya, jika hanya sekedar kebiasaan saja. Yang mempengaruhi jiwa kita itu ialah pikiran
kita tentang apa yang kita kerjakan. Demikian juga halnya dalam soal musik. Sebenarnya,
memetik saja tanpa pikiran sudah cukup berpengaruh ke dalam jiwa kita, dari pada tidak memetik
sama sekali. Begitu juga dalam hal sembahyang. Melakukan sembahyang tanpa pikiran yang
khusyuk saja sudah cukup baik pengaruhnya dalam jiwa kita, dari pada tidak sembahyang sama
sekali.”
Setiap orang yang mempelajari musik mengakui kebenaran ini. Apalagi jika kita tahu bahwa
sembahyang Islam itu hanya berguna bagi orang yang melakukannya sebagai latihan rohani,
melebihi hikmah faedahnya yang banyak. Sedangkan Allah Rabbul-‘alamin tidak butuh kepada
sembahyang makhluk-makhluk ini.
Sesudah itu, mulailah jiwa saya menjadi tenang dan berangsur-angsur dapat menerima kebenaran
yang dibawa oleh Islam. Lalu saya umumkan keimanan saya, dan saya memeluk Islam. Saya
lakukan itu dengan penuh kepuasan, dan saya buktikan bahwa hal itu bukan sekedar tindakan
emosional, tapi hasil pemikiran yang lama, terakhir hampir menghabiskan waktu dua tahun,
selama mana saya berusaha melawan segala hawa nafsu yang selalu ingin membelokkan saya ke
jalan yang lain.

<<sebelumnya …. Daftar Isi …. Selanjutnya>>

Miss Mas’udah Steinmann (Inggris)

Miss Mas’udah Steinmann (Inggris)

…………………………………………….
Saya tidak menemukan agama lain yang diakui oleh masyarakat luas, mudah dimengerti dan
bersemangat. Tidak ada jalan lain yang lebih dekat kepada ketenangan pikiran dan kepuasan
hidup, dan tidak ada harapan yang lebih besar dari pada Islam untuk mencari keselamatan hidup di
akhirat.
Alam kemanusiaan ini adalah bagian dari keseluruhan. Manusia tidak bisa merasa lebih dari sebuah
partikel dalam alam yang sempurna dan mengagumkan ini. Manusia hanya mampu sekedar
membuktikan tujuan hidupnya dengan cara memenuhi tugasnya dalam hubungan dirinya dengan
alam sebagai keseluruhan dan dalam hubungan dengan kenyataan-kenyataan hidup yang lain.
Itulah tata hubungan yang serasi antara bagian dan keseluruhan yang bisa membuat kehidupan ini
dapat mencapai tujuannya, membawa kehidupan kepada kesempurnaan dan membantu alam
kemanusiaan untuk mencapai kepuasan dan kebahagiaan. Di manakah letak posisi agama dalam
hubungan antara Allah Al-Khalik dan makhluk-Nya? Di bawah ini adalah pikiran beberapa orang
tentang agama:
“Agama seseorang itu adalah kenyataan pokok yang diakuinya, suatu kepercayaan
yang dilaksanakan dalam kenyataan hidupnya, sesuatu yang menguasai seluruh isi
hatinya. Dia tahu pasti bahwa yang mengatur/menyusun hubungan dirinya dengan
alam dan menentukan kewajiban dan tuiuannya itu adalah agama.” –Thomas
Carlyle dalam bukunya “Heroes and Heroworship”.
“Agama adalah kenyataan akhir tentang pengertian apa saja yang orang jumpai
dalam hidupnya sendiri atau dalam hidupnya sesuatu yang lain dari dirinya.” —
G.K.Chesterton -dalam bukunya “Come to think of it.”
“Agama adalah anak harapan dan kekuatiran, menjelaskan alam gaib.” – Ambrose
Bierce dalam bukunya “The Devil’s Dictionary”.
“Bentuk agama yang benar itu pasti terdiri dari kesetiaan kepada kehendak Tuhan
yang Menguasai alam, dalam mempercayai Risalah-Nya dan dalam meniru
kesempurnaan-Nya.” – Edmun Burke dalam bukunya “Reflections on the revolution
in France”.
“Semua agama berhubungan dengan kehidupan, dan kehidupan beragama ialah
berbuat baik.” – Swedenborg dalam bukunya “Doctrine of Life.”
“Semua orang memiliki semacam rasa beragama, sewaktu ketakutan atau untuk
hiburan.” – James Harrington dalam bukunya “Oceana.”
Sewaktu-waktu setiap orang menemukan dirinya berhadapan dengan Yang Gaib, Yang Tidak
dimengerti dan dengan tujuan hidupnya!! Pertanyaan dalam dirinya tentang hal itu menimbulkan
kepercayaan dan keyakinan atau “agama” dalam artinya yang pahng luas.
Mengapa saya berpendapat bahwa Islam adalah agama yang paling sempurna?
Pertama dan sebelum segala sesuatu, agama ini memperkenalkan kepada kita Penguasa Tunggal,
Tuhan Al-Khalik:
Dengan nama Allah yang Pengasih lagi Penyayang. Katakanlah: Dia itu Allah Yang
Esa, Allah yang menjadi tempat semua makhluk bergantung; Dia tidak melahirkan
anak dan tidak dilahirkan sebagai anak, dan tidak ada satu apapun yang menyamai
Nya. — Al-Ikhlash 1-4.
Kepada Allah-lah kamu akan kembali dan Dia berkuasa atas segala sesuatu. – Hud
4.
Dan di beberapa tempat Al-Qur’an menuturkan kepada kita tentang ke-Esaan Al-Khalik yang tidak
bisa terlihat dengan mata kepala; Yang Berilmu, Yang Maha Kuat, Yang Awal dan Yang Akhir, Yang
Kekal, Yang Penyayang, Yang Pengasih, Yang Pemaaf dan Pengampun, Yang Maha Bijaksana dan
Maha Adil.
Tuhan Penguasa Tunggal terbukti dalam kenyataan, dan kita berulang kali disuruh supaya membina
kesempurnaan dalam hubungan antara Dia dan kita.
Ketahuilah oleh kamu, bahwa Allah menyuburkan bumi sesudah gersangnya.
Sungguh telah Aku jelaskan kepada kamu beberapa ayat, supaya kamu mengerti.
— Al-Hadid 7.
Ucapkanlah!Aku berlindung kepada Tuhan yang mengurus manusia. — An-Nas 1.
Orang boleh berdebat bahwa untuk membuktikan pengakuan dan iman kepada Allah, dan supaya
bisa hidup bahagia dalam masyarakat itu perlu beriman dan menjalankan perintah Tuhan. Tidakkah
kita lihat seorang bapak memberi petunjuk-petunjuk kepada anak-anaknya? Tidakkah kita lihat
seorang bapak menyusun dan mengatur kehidupan keluarganya? Sehingga setiap anggota
keluarganya hidup bersama-sama secara harmonis?
Islam telah membuktikan dirinya sebagai agama yang sah dan memperkuat kebenaran yang
dibawa oleh agama-agama yang terdahulu. Islam juga mengakui bahwa bimbingan yang diberikan
Al-Qur’an itu jelas dan bisa diterima akal. Al-Qur’an memberi bimbingan ke arah kemajuan
hubungan antara Al-Khalik dan makhluk-Nya, menimbulkan kerjasama antara kekuatan-kekuatan
rohaniah dan jasmaniah guna menciptakan keseimbangan lahir dan batin dalam membina
kehidupan yang aman dan damai dengan diri kita sendiri, faktor yang sangat penting dalam
membina keserasian antara orang yang satu terhadap yang lain dan syarat mencapai
kesempurnaan.
Sedangkan agama Kristen, perhatian utamanya itu hanya bidang kerohanian. Agama Kristen
mendakwahkan semacam cinta kasih yang memberatkan pertanggungan jawab para pemeluknya.
Cinta kasih yang sempurna pasti menghadapi kegagalan, jika untuk mencapainya berada di luar
kemampuan tabiat manusia dan bertentangan dengan akal dan pengertian. Seorangpun tidak akan
ada yang mampu mendekati tingkat ajaran cinta kasih seperti yang didakwahkan oleh agama
Kristen. Hanya orang yang memiliki pengetahuan yang mendalam tentang konflik-konflik
kemanusiaan berpadu dengan rasa simpati, pengertian serta rasa tanggung jawab yang mungkin
bisa sampai mendekati kesempurnaan prinsip agama Kristen. Akan tetapi untuk itu dia harus
melepaskan diri dari pertimbangan akalnya.
Kata S.T.Coleridge dalam bukunya “Aid to Reflection”: “Orang yang mulai
menjalankan kecintaan secara Kristen melebihi cintanya kepada kebenaran, hal itu
akan membawanya kepada cinta golongannya atau Gerejanya melebihi cintanya
kepada ke-Kristenan sendiri. Kemudian akan berakhir pada cinta dirinya sendiri
melebihi segala-galanya.”
Islam mengajarkan supaya kita menghargai Tuhan dan tunduk kepada hukum-Nya, sekaligus
menyerukan dan menggalakkan kita supaya mempergunakan akal/logika disertai penjagaan
athifah cinta kasih dan saling pengertian. Al-Qur’an memerintahkan, sebagai pesan Al-Khalik,
kepada semua makhluk-Nya yang berbeda-beda bangsa, golongan dan kedudukannya dalam
masyarakat:
Katakanlah (olehmu Muhammad)!: Hai sekalian manusia! Kebenaran telah datang
kepada kamu dari Tuhan kamu. Barangsiapa yang menerima petunjuk, maka dia
memperoleh petunjuk untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa yang sesat, maka dia
menyesatkan dirinya sendiri pula. Dan tidaklah aku menguasai kamu. — Yunus
108.
Saya tidak pernah menemukan agama lain yang bisa diterima akal dan menarik begitu banyak
manusia serta mempunyai jumlah pengikut yang begitu besar. Dan jelaslah bagi saya bahwa tidak
ada yang lebih dekat kepada pennldran dan akal dan kerelaan dalam hidup, dan tidak ada harapan
yang lebih besar dari pada Islam untuk mencapai kebahagiaan hidup di akhirat.
3. Dasar-dasar toleransi Islam sebagaimana tampak dalam kalimat (tidak ada paksaan dalam
agama) dan bahwa seorang Muslim itu dituntut supaya menyelidiki kebenaran di mana saja
dia temukan dan juga dituntut supaya menghormati kebaikan-kebaikan yang ada pada
agama-agama lain.
4. Dasar-dasar persaudaraan Islam meliputi seluruh alam kemanusiaan, tanpa
memperhitungkan warna kulit, bangsa dan kepercayaan. Islam adalah satu-satunya agama
yang mampu melaksanakan ajaran ini dalam praktek, dan kaum Muslimin di mana saja di
muka bumi ini memandang yang satu sama yang lain dengan pandangan seorang saudara.
Dan persamaan semua ummat manusia di Hadrat Allah s.w.t. nampak jelas dalam pakaian
ihram Haji.
5. Islam menghormati akal/fikiran dan benda/materi menurut nilainya masing-masing, dan
pertumbuhan mental manusia itu tidak bisa dipisahkan dari kebutuhan jasmaniahnya, dan
bahwa manusia diwajibkan dalam hidupnya menempuh jalan yang dapat menguasai
kebendaan dengan akal sehat, dan bahwa benda itu harus tunduk di bawah pengaturan
akal.
6. Larangan minum arak dan minuman-minuman lain yang memabukkan, soal inilah terutama
yang memberi kemungkinan dikatakan bahwa Islam jauh ketinggalan jaman.
Tentang Pengarang: Mr. M.L. Mellema
Beliau adalah Kepala Bagian Islam pada Tropical Museum di Amsterdam. Beliau pengarang buku
“Wayang Puppets”, “Grondwet van Pakistan”, “Een Interpretatie van de Islam” dan lain-lain

<<sebelumnya …. Daftar Isi …. selanjutnya>>

Ali Selman Benoist (Perancis)

Ali Selman Benoist (Perancis)
Doktor ilmu kesehatan

……………………………………………………………………….
Saya adalah seorang Doktor dalam ilmu kesehatan, berasal dari keluarga Perancis Katolik.
Pekerjaan yang saya pilih ini telah menyebabkan saya terpengaruh oleh corak kebudayaan ilmiah
yang tidak banyak memberikan kesempatan dalam bidang kerohanian. Ini tidak berarti bahwa saya
tidak percaya atas adanya Tuhan. Yang saya maksud ialah karena dogma-dogma dan peribadatan
Kristen, khususnya Katolik, tidak membangkitkan pengertian dalam jiwa saya atas adanya Tuhan.
Karena itulah maka naluri saya atas Esanya Tuhan Allah telah menjadi penghalang antara diri saya
dan kepercayaan Trinitas, dan dengan sendirinya juga atas ketuhanan Yesus Kristus.
Sebelum saya memeluk agama Islam, saya telah percaya atas kebenaran kalimat syahadat
pertama yang berbunyi ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAH dan ayat-ayat Al-Qur’an Surat Al-
Ikhlas yang berbunyi:
Katakanlah: Dia itu Allah adalah Satu (Esa); Allah adalah Pelindung. Dia tidak
melahirkan anak dan tidak pula dilahirkan sebagai anak, dan tidak ada sesuatu
yang menyerupai Dia. — Al-Ikhlash 1-4.
Dengan demikian, maka saya menganggap bahwa percaya kepada alam gaib dan segala yang ada
di belakang kebendaan (metafisika) itulah yang menyebabkan saya memeluk agama Islam,
disamping lain-lain sebab yang membuat saya berbuat demikian. Saya tidak bisa menerima
pengakuan para pendeta Katolik yang mengatakan bahwa salah satu kekuasaan mereka ialah
“mengampuni dosa manusia” sebagai wakil Tuhan. Dan saya secara mutlak tidak percaya atas
dogma Katolik tentang “makan malam ketuhanan”‘ (rite of communion) dan “roti suci” yang
melambangkan jasad Yesus. Dogma ini menyerupai kepercayaan rakyat-rakyat pada abad primitif
yang membuat lambang-lambang suci yang tidak boleh didekati orang. Kemudian bilamana badan
lambang ini sudah mati, jiwanya mereka jadikan sebagai sumber ilham, dan jiwanya itu masuk ke
dalam lingkungan mereka.
Soal yang lain lagi yang menyebabkan saya jauh dari agama Kristen, ialah ajaran-aiarannya yang
sedikitpun tidak ada hubungannya dengan kebersihan badan, terutama sebelum melakukan
sembahyang, sehingga saya anggap hal itu merupakan pelanggaran atas kehormatan Tuhan,
karena sebagaimana Dia telah membuatkan jiwa buat kita, Dia juga telah membuatkan badan kita
Dan adalah suatu kewajiban kita untuk tidak mensia-siakan badan kita.
Saya juga menilai bahwa agama Kristen itu bersikap pasif mengenai logika kehidupan jasmani
kemanusiaan, sedangkan Islam adalah satu-satunya agama yang memperhatikan alam
kemanusiaan.
Adapun titik berat dan sebab pokok saya memeluk agama Islam ialah Al-Qur’an. Sebelum saya
memeluk Islam, saya telah mempelajarinya dengan semangat kritik intelektual Barat, dan saya
banyak terpengaruh oleh sebuah buku besar karangan Tuan Malik Bennabi yang bernama
Addzahiratul-Qur’aniyah (atau Le Phenomene Coranique), sehingga yakinlah saya bahwa Al-Qur’an
itu adalah wahyu yang diturunkan Allah. Sebahagian dari ayat-ayat Al-Qur’an yang diwahyukan
lebih dari 13 abad yang lalu mengandung beberapa teori yang sekarang diketemukan oleh
pembahasan ilmiah yang paling modern. Hal itu sudah cukup nienyebabkan saya menjadi yakin
dan percaya (Iman) kepada Syahadat bagian kedua: MUHAMMADUR’RASULULLAH.
Begitulah, maka pada tanggal 30 Pebruari 1953, saya datang ke Mesjid di Paris untuk
memberitahukan keimanan saya kepada Islam, dan Mufti Masjid Paris memasukkan saya dalam
daftar kaum Muslimin, dan saya menerima nama baru sebagai orang Islam : Ali Selman.
Saya merasa sangat puas dengan kepercayaan/akidah saya yang baru dan sekali lagi saya
kumandangkan: ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAH WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN
RASULULLAH!
Salah satu sabda Rasulullah s.a.w.:
Berpikir satu jam lebih baik dari pada beribadah 60 tahun. — Riwayat Abu Hurairah.
Pengetahuan itu milik orang Mukmin yang hilang, di mana saja dia menemukannya,
dia lebih berhak , atasnya. — Riwayat Turmudzi.

<<sebelumnya …. Daftar Isi …. Berikutnya>>

Untuk yang Sehati

Bercita-cita mengamalkan Islam secara utuh adalah suatu hal yang wajib bagi setiap muslim....
Namun bila belum mampu seluruhnya, jangan ditinggalkan semuanya....Karena Alloh Subhanahu wata'ala tidak membebani seseorang kecuali sesuai kemampuan maksimal yang dimiliki...

Buat diriku & dirimu

....Jangan pernah merasa cukup untuk belajar Islam, karena semakin kita tahu tentang Islam, semakin kita tahu tentang diri kita (...seberapa besar iman kita, ...seberapa banyak amal kita,....seberapa dalam ilmu kita, dan sebaliknya...seberapa besar kemunafikan kita, ...seberapa banyak maksiat kita, ...seberapa jauh kedunguan kita)
....Barangsiapa mengenal dirinya, maka semakin takut ia kepada Alloh Subhaanahu wata'ala

Do’a kita

Semoga Alloh Subhaanahu wata'ala meneguhkan hati kita dalam Islam hingga maut menjemput kita,...aamiin

Kalender

Februari 2010
S M S S R K J
« Jan   Mar »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728  

Total Pengunjung

  • 217,221 klik