Mr. R.I. Mellema (Belanda)

Mr. R.I. Mellema (Belanda)
Anthropologist, Penulis dan Guru

……………………………………………..
Apakah bagi saya yang baik dalam Islam?
Apakah yang telah menarik saya untuk memeluk agama ini?
Saya mulai belajar bahasa-bahasa Timur di Universitas Leiden pada tahun 1919. Saya menghadiri
ceramah-ceramah Prof. C. Snouck Horgronye, seorang ahli bahasa Arab terkenal. Lalu saya belajar
bahasa Arab. Kemudian saya baca dan saya terjemahkan Tafsir Baidlawy dan kitab-kitab imam
Ghazali tentang hukum/syari’at. Kemudian saya baca sejarah dan lembaga-lembaga Islam yang
ditulis dalam buku-buku orang Eropa, sebagaimana biasanya pada waktu itu.
Pada tahun 1921 saya tinggal di Kairo selama sebulan dan mengunjungi Al-Azhar.
Di samping bahasa Arab, saya juga mempelajari bahasa Sanskrit, Melayu dan Jawa. Pada tahun
1927 saya mengunjungi pulau-pulau Hindia Belanda (Indonesia) untuk mempelajari bahasa Jawa
dan sejarah kebudayaan Hindu pada sebuah sekolah menengah di Jogyakarta. Selama 15 tahun
saya telah mengkhususkan diri belajar bahasa dan kebudayaan Jawa modern dan kuno. Waktu itu
hubungan saya dengan Islam sedikit sekali, bahkan terputus sepenuhnya dari bahasa Arab.
Sesudah mengalami masa sulit sebagai tawanan perang Jepang, saya kembali ke Belanda pada
tahun 1942 dan mendapat tugas baru pada Royal Tropical Institut di Amsterdam. Di sinilah saya
berkesempatan untuk mengulangi pelajaran saya tentang Islam, sesuai dengan instruksi yang
diberikan kepada saya untuk menulis buku pegangan (guid) tentang Islam di Jawa.
Saya mulai mempelajari Negara Islam baru, Pakistan, dan saya selesaikan dalam kepergian saya
ke Pakistan di musim dingin tahun 1954-1955. Sedangkan pengetahuan saya tentang Islam
sebelum itu, terbatas pada yang ditulis oleh orang-orang Eropa sendiri. Setelah saya datang di
Lahore, saya menemukan aspek-aspek lain lagi yang baru bagi saya tentang Islam. Kepada
sahabat-sahabat saya orang Islam, saya minta supaya saya diperbolehkan menyertai mereka
bersembahyang Jum’at di mesjid-mesjid. Saat itulah terbuka bagi saya nilai-nilai besar dalam
agama Islam. Mulailah saya merasakan bahwa saya adalah orang Islam, sewaktu saya diminta
untuk berbicara di muka orang banyak dalam salah sebuah mesjid di Lahore , dan sejak waktu itu
saya telah mempunyai saudara dan sahabat yang tidak terhitung banyaknya. Tentang kejadian ini
saya tulis dalam majalah Pakistan Quarterly, jilid V No. 4 tahun 1955 yang antara lain berbunyi
sebagai berikut:
Kemudian saya sering datang ke sebuah mesjid. Di sana Khatib Jum’atnya adalah seorang Ulama
yang sudah biasa berbahasa Inggris dengan lancar, dan mempunyai kedudukan yang terpandang
pada Universitas Punjab. Beliau mengatakan kepada para jema’ah bahwa beliau sengaja
mengemukakan Khutbahnya yang berbahasa Urdu itu dengan kata-kata Inggris lebih banyak dari
biasanya, maksudnya ialah supaya dapat dimengerti oleh saudara mereka yang datang dari Negeri
yang jauh di Belanda. Selesai Khutbah, lalu hadirin bersembahyang dua rak’at di belakang imam.
Sesudah itu ada beberapa orang yang bersembahyang lagi dua rak’at.
Pada waktu saya akan pulang, Ulama sahabat saya (Imam) itu menoleh kepada saya dan
mengatakan bahwa para jema’ah menunggu saya untuk memberikan sepatah kata nasehat, dan
beliau senairi akan menterjemahkannya ke dalam bahasa Urdu. Lalu saya menghadapi mikrofon
dan mulailah saya berbicara secara tenang. Saya katakan bahwa saya datang dari Negeri yang
jauh, di mana tidak ada orang Islam, kecuali sedikit saja. Mereka –kata saya– menyampaikan
salam kepada saudara-saudara yang hadir yang telah mengambil kesempatan mendirikan
Pemerintahan Islam sejak 7 tahun yang lalu, dan dalam waktu singkat telah dapat memperkuat
posisinya serta dapat mengatasi berbagai kesulitan dan tantangan yang dihadapi menjelang masa
depan yang cerah.
Saya berjanji kepada hadirin, bahwa saya akan menjadi juru bicara yang benar, bila nanti saya
kembali ke negeri saya tentang keramahan dan kehormatan yang saya terima dari seluruh Pakistan
Muslim.
Para jema’ah dengan penuh minat mengikuti terjemahan kata-kata saya dalam bahasa Urdu,
sehingga tampak pengaruhnya yang kuat dan mengagumkan pada hadirin. Sebelum saya tahu apa
yang terjadi pada mereka, saya melihat beratus-ratus jema’ah itu bergegas mendekati saya.
Mereka memegang tangan saya erat-erat dan gembira, dan pada wajah mereka tampak tandatanda
rasa cinta yang mendalam, di samping yang paling menggembirakan hati dan lubuk jiwa
saya adalah bahwa kegembiraan yang mendalam itu terpancar dari sorot mata hadirin. Dalam
peristiwa itu saya merasakan bahwa saya telah menjadi salah seorang anggota masyarakat Islam
yang besar dan tersebar di seluruh dunia. Waktu itu saya merasakan kebahagiaan yang tidak dapat
saya terangkan dengan kata-kata.
Begitulah bangsa Pakistan telah menyebabkan saya mengerti bahwa Islaim itu bukan hanya ilmu
tentang perincian-perincian hukum/syari’at, bahwa percaya kepada ketinggian nilai jiwa ke-Islaman
itu datang terlebih dahulu dan bahwa ilmu wajib dimiliki untuk sampai kepada kepercayaan itu.
Sekarang kita sampai kepada pertanyaan: Apakah yang terpenting yang telah menyebabkan saya
masuk Islam? Dan apakah itu –yang pasti– yang telah menyebabkan saya tertarik oleh Islam?
Tentang kedua pertanyaan itu, saya mencoba memberikan jawaban singkat dalam 6 hal seperti
di.bawah ini:
1. Percaya (Iman) kepada adanya satu Tuhan Yang Berkuasa Mutlak itu adalah hal yang bisa
diterima oleh semua pikiran yang kreatif logis, dan bahwa Allah s.w.t. yang dibutuhkan
oleh semua makhluk itu tidak melahirkan anak dan tidak dilahirkan sebagai anak. dan tidak
ada yang menyerupai-Nya; Dia yang bersifat Maha Sempurna dalam kebijaksanaan,
kekuatan dan kebaikan; Kebaikan dan rahmat-Nya tidak terbatas.
2. Hubungan antara Khalik dengan makhluknya (manusia) yang diistimewakan Allah atas
segala makhluk yang lain, adalah hubungan yang langsung. Seorang mukmin itu tidak
memerlukan seorang perantara, sebagaimana juga Islam tidak memerlukan kependetaan
(priesthood). Dan sebagian dari pada ajaran Islam ialah bahwa hubungan dengan Allah itu
terserah kepada manusia itu sendiri, bahwa manusia wajib beramal dalam hidupnya di
dunia untuk bekal hidupnya di akhirat, bahwa manusia bertanggung jawab atas segala
amal perbuatan yang dilakukannya dan doss-dosanya tidak bisa ditutup oleh pengorbanan
orang lain sebagai penebus, dan bahwa Allah s.w.t. tidak memerintahkan kepada
seseorang melainkan seukuran kemampuannya.

<<sebelumnya …. Daftar Isi …. Selanjutnya>>

Iklan

Kolonel Donald S. Rockwell

Kolonel Donald S. Rockwell
Penyair, Kritikus dan Pengarang

………………………………………..
Kemudahan ajaran-ajaran Islam, daya tarik dan keagungan suasana mesjid-mesjid kaum Muslimin,
kesungguhan kaum Muslimin memegang kepercayaan, kepercayaan/iman yang mempengaruhi
amal perbuatan dari bermiliun-miliun kaum Muslimin yang tersebar di seluruh dunia yang
memenuhi panggilan sembahyang lima kali sehari semalam, semua faktor itulah yang mula-mula
menarik perhatian saya.
Akan tetapi sesudah saya memutuskan untuk menjadi pemeluk agama Islam, saya masih
menemukan lagi banyak sebab-sebab lain yang lebih penting dan lebih dalam untuk memperkuat
keputusan saya. Suatu konsep hidup yang matang dari Nabi s.a.w. yang dipadu dengan praktek,
suatu pengarahan yang bijaksana, anjuran berbuat baik dan berkasih sayang, cinta kasih
kemanusiaan yang luas dan perintis deklarasi hak-hak kaum wanita, semua itu dan masih banyak
lagi yang lain-lain, bagi saya merupakan saksi-saksi hidup atas kebolehan agama ini yang
dibawakan oleh orang Mekah dalam sabdanya yang singkat, bijaksana dan berpengaruh.
“Percayalah kepada Tuhan dan ikatlah untamu.” Begitulah sabda Rasulullah s.a.w. Dengan katakatanya
ini, beliau memberikan sistem keagamaan dalam perbuatan biasa. Jadi beliau itu tidak
menyuruh kita percaya kepada adanya kekuasaan gaib yang menjaga, pada hal kita sendiri
bersikap lengah. Beliau mengajarkan bahwa jika kita telah berbuat secara benar menurut
kemampuan kita, kita boleh percaya atas apa yang akan terjadi sebagai Kehendak Allah s.w:t.
Keluasan toleransi Islam terhadap agama-agama lain, telah menyebabkan agama ini lebih dekat
kepada orang-orang yang mencintai kebebasan. Muhammad s.a.w. telah menyerukan kepada para
pengikutnya supaya bergaul dengan baik dengan para penganut Perjanjian Lama (Old Testament
atau Taurat) dan Perjanjian Baru (New Testament atau Injil), dan Ibrahim, Musa dan Isa (Yesus)
dipercayai sebagai Nabi-nabi yang diutus oleh Tuhan Yang SATU. Ini jelas merupakan sikap Islam
yang toleran, berbeda dengan agama-agama lain.
Pembebasan sepenuhnya dari penyembahan patung-patung berhala merupakan bukti atas sehat
dan bersihnya pokok-pokok ajaran Islam.
Ajaran-ajaran asli yang diberikan oleh Muhammad s.a.w. tidak bisa diubah atau ditambah oleh
mereka yang menjadi sarjana hukum. Itulah Al-Qur’an yang tetap seperti keadaannya sewaktu
diturunkan kepada Muhammad s.a.w. untuk memberi petunjuk kepada kaum musyrikin waktu itu.
Tidak berubah, sama seperti sucinya jiwa Islam sendiri.
Kesederhanaan dalam segala hal, merupakan pokok dasar Islam yang telah merebut seluruh rasa
kekaguman saya.
Rasulullah s.a.w. juga sangat memperhatikan kesehatan para pengikutnya. Beliau memerintahkan
supaya selalu memperhatikan kebersihan sejauh-jauhnya, sebagaimana beliau menyuruh mereka
berpuasa dan menguasai syahwat jasmani. Saya ingat pada waktu saya ada di mesjid-mesjid
Istambul, Damsyik, Baitul-Mukaddas, Kairo, Al-Jazair, Fez dan lain-lain saya menginsyafi sedalamdalamnya
kemampuan Islam dengan kesederhanaannya untuk mengangkat jiwa rendah
kemanusiaan ke langit ketinggian tanpa membutuhkan perhiasan-perhiasan yang rapi, patungpatung,
gambar-gambar, musik-musik atau upacara-upacara resmi. Sebab mesjid adalah tempat
untuk bertafakkur, melupakan diri dan mencampurkannya kepada hakikat besar dalam ingat
kepada Allah Yang Esa.
Sifat demokratis Islam jelas mempengaruhi rasa kekaguman saya dalam persamaan hak antara
raja-raja yang berkuasa dan kaum fakir miskin dalam Mesjid, semuanya bersujud kepada Allah
s.w.t. Tidak tersedia tempat yang khusus untuk sesuatu golongan.
Seorang Mukrnin itu tidak mengakui adanya perantara antara dirinya dengan Tuhan. Dia
menghadap langsung kepada Tuhan –yang tidak dilihatnya– Allah pencipta semua makhluk dan
pemberi hidup, tanpa paksaan untuk memohon ampun atau untuk mempercayai kekuasaan
seorang guru untuk memberi kebebasan dari dosa.
Dan persaudaraan seluruh dunia dalam ajaran Islam menentang perbedaan ras, politik, warna kulit
dan daerah/negeri telah mantap dalam jiwa dan rasa saya berulang kali dengan sepenuh keyakinan
dan kesungguhan. Ini adalah kenyataan-kenyataan lain yang telah mendorong dan membimbing
saya memeluk agama Islam

<<sebelumnya …. Daftar Isi …. selanjutnya>>

William Burchell Basyir Pickard

William Burchell Basyir Pickard
Pengarang, Penyair dan Pengarang Cerita

…………………………………………….
“Semua anak dilahirkan disertai kecenderungan kepada agama fithrah (Islam). Lalu
ibu bapaknyalah yang menyebabkan anak menjadi Yahudi, Nasarani atau Majusi.”
Hadits riwayat Bukhari dan Muslim.
Dilahirkan sebagai orang Islam itu adalah suatu hakikat yang tidak saya sadari, kecuali sesudah
beberapa tahun kemudian. Di sekolah dan di universitas, saya selalu sibuk, mungkin karena terlalu
giat dengan soal-soal dan tuntutan-tuntutan masa lalu. Saya tidak memperdulikan pengalaman
saya pada waktu-waktu yang sangat berharga itu, akan tetapi pengalaman itu terus maju.
Dalam lingkungan masyarakat Kristen-lah saya mempelajari kehidupan yang baik, berpikir tentang
Tuhan, tentang ibadat dan tentang hidup yang lurus. Jika saya waktu itu menilai sesuatu yang
paling suci, maka saya menganggap suci kepada keturunan dan keberanian.
Setelah lulus dari Cambridge University, saya pergi ke Afrika Tengah bertugas sebagai pimpinan
dalam Protectorat Uganda. Di sanalah saya menemukan kehidupan yang baik dan cemerlang dan
sepenuhnya bertentangan dengan apa yang saya bayangkan pada waktu saya masih ada di
Inggris. Kebetulan tugas saya waktu itu mengharuskan saya hidup di tengah-tengah saudarasaudara
kita orang-orang kulit hitam yang dalam segala pekerjaan saya tergantung kepada
mereka, suatu kesempatan yang menyebabkan saya bisa melihat pandangan hidup mereka yang
luas tetapi mudah.
Dunia Timur selalu menarik perhatian saya, dan di Cambridge saya membaca cerita 1001 malam.
Di Afrika sewaktu saya sedang duduk sendirian, saya membacanya sekali lagi. Kehidupan saya
yang berpindah-pindah di Uganda, tidak mengurangi perhatian saya kepada dunia Timur.
Sewaktu saya mengalami waktu-waktu yang penting dalam kehidupan ini, pecahlah perang dunia
pertama, sehingga saya terpaksa pulang dengan tergesa-gesa ke negeri saya di Eropa, di mana
kesehatan saya menjadi lemah. Setelah sembuh, saya melamar pekerjaan dalam ketentaraan,
akan tetapi sayang lamaran saya ditolak, karena alasan kesehatan. Lalu saya datang ke barisan
berkuda sukarela dan saya berhasil mengatasi rintangan-rintangan kesehatan dengan satu dan lain
cara. Sewaktu saya mengenakan selempang barisan berkuda, saya merasa senang sekali. Di
Perancis sebelah barat saya ikut bertempur di medan Somme pada tahun 1917, di mana saya
mendapat luka dan ditangkap sebagai tawanan perang.
Saya pergi ke Belgia, kemudian ke Jerman, di mana saya berbaris di rumah sakit. Di Jerman saya
melihat banyak orang yang menderita luka-luka, terutama di kalangan orang-orang Rusia yang
menderita disentri. Saya hampir mati kelaparan, ketika saya tidak berguna buat orang-orang
Jerman, sedangkan tulang lengan kanan saya patah dan hanya mengalami kemajuan sedikit saja.
Lalu mereka mengirim saya ke sebuah rumah sakit di Swiss.
Saya ingat benar pada waktu itu nilai Al-Qur’an tidak mengecil dalam jiwa saya. Pada waktu saya
berada di Jerman, saya telah menulis surat minta dikirim sebuah terjemahan Al-Qur’an dari Sale.
Beberapa tahun kemudian, tahulah saya bahwa terjemahan yang dimaksud telah dikirim kepada
saya tepat pada waktunya, akan tetapi tidak pernah sampai kepada saya.
Di Swiss kesehatan saya pulih kembali, sesudah mengalami operasi pada lengan dan betis saya,
sehingga saya bisa ke luar untuk berjalan jalan. Lalu saya membeli satu terjemahan Al-Qur’an
dalam bahasa Perancis, hasil karya Sayary. Naskah itu pada saya sekarang merupakan sesuatu
yang amat berharga. Di dalamnya saya menemukan kebahagiaan, dan cahaya jiwa saya memancar
memenuhi hati saya dengan keberkahan.
Waktu itu tangan kanan saya masih lemah, sehingga terpaksa saya menulis Al-Qur’an itu dengan
tangan kiri.
Ketergantungan saya kepada Al-Qur’an terbukti kalau saya katakan bahwa salah satu kenangan
yang paling berkesan pada jiwa saya ialah cerita 1001 malam mengenai seorang pemuda yang
kedapatan hidup menyendiri di tengah kota mati. Dia membaca Al-Qur’an tanpa memperdulikan
sekitarnya. Waktu itulah di Swiss saya benar-benar telah menyerah kepada kehendak Allah s.w.t.
Tegasnya saya telah menjadi orang Islam.
Sesudah perang selesai, saya kembali ke London pada bulan Desember 1918, dan kurang lebih tiga
tahun kemudian, yakni pada tahun 1921 saya mengikuti kuliah sastra pada London University. Di
antara mata kuliah yang banyak itu, saya pilih sastra Arab yang saya pernah ikuti kuliahnya di
King’s College. Di sinilah pada suatu hari profesor saya dalam bahasa Arab, alm. Mr. Belshah dari
Irak menerangkan tentang Al-Qur’an. Beliau berkata: “Tuan percaya atau tidak, pasti Tuan akan
menemukan Al-Qur’an sebagai Kitab yang menarik dan patut dipelajari.”
Saya menjawab: “Tapi saya sungguh-sungguh percaya kepadanya.”
Pernyataan saya ini telah mengagetkan dan sungguh-sungguh menarik perhatian Guru Besar saya
itu. Setelah berbicara sebentar, beliau mengajak saya untuk bersamanya pergi ke Mesjid London di
Notting Hill Gate. Sesudah itu, saya berulang kali datang ke Mesjid itu, sehingga pengetahuan saya
tentang peribadatan Islam semakin bertambah, dan sampailah saatnya pada permulaan tahun
1922 saya mengumumkan ke-Islaman saya dan menggabungkan diri dengan masyarakat Islam.
Hal itu telah berlalu lebih dari seperempat abad, dan sejak saat itulah saya hidup sebagai orang
Islam, baik secara teori maupun praktek, sekuat kemampuan saya dalam hidup ini. Kekuasaan,
Hikmat dan Rahmat Allah s.w.t. meliputi segala-galanya. Dan lapangan ilmu pengetahuan
terbentang luas tanpa batas di hadapan saya, dan saya yakin bahwa “pakaian” yang paling cocok
untuk dikenakan sepanjang hidup saya ini ialah penyerahan diri kepada Allah, kepala saya
berserbankan tasbih dan tahmid dan hati saya penuh dengan rasa cinta kepada SATU PENGUASA
TERTINGGI.
Wal-hamdu lillaahi Rabbil-‘aalamiin!
Tentang Pengarang : William Burchell Basyir Pickard
Beliau adalah Doktor dalam ilmu sastra dari London University. Beliau seorang pengarang terkenal,
dan salah satu karangannya ialah “Laila and Majnun”, “The Adventures of Alcassim”, “A New World”
dan lain-lain.

<<sebelumnya …. Daftar Isi …. selanjutnya>>

Dr. Hamid Marcus (Jerman)

Dr. Hamid Marcus (Jerman)
Ahli Pengetahuan, Pengarang dan Wartawan

…………………………………………………….
Sejak saya masih kanak-kanak, saya merasa ada dorongan dalam jiwa saya untuk mempelajari
Islam. Akan tetapi kesempatan atau jalan untuk itu tidak saya temui. Saya membaca naskah
terjemahan Al-Qur’an yang saya dapati di Perpustakaan kota kelahiran saya, yang bertanggal
tahun 1750, suatu naskah yang telah memberikan kepada Goethe pengetahuan tentang Islam.
Saya sungguh kagum demi melihat susunan yang rasional, sekaligus memberikan kerangka
komposisi ajaran-ajaran Islam. Saya juga sangat tertarik dengan dasar revolusi kejiwaan yang
telah dialami kaum Muslimin dahulu kala berkat ajaran-ajaran ini.
Kemudian di Berlin saya berkesempatan untuk bekerjasama dengan kaum Muslimin sambil
mendengarkan dengan antusias segala komentar tentang Al-Qur’an yang diberikan oleh pendiri
Jam’iyyah Islam di Berlin dan pembangun Mesjid Berlin. Sesudah beberapa tahun aktif bekerjasama
dengan pribadi yang penting dan tenaga rohaniwan ini, saya langsung memeluk Islam,
karena dasar-dasarnya yang tinggi mengatasi sejarah pemikiran manusia telah melengkapi pikiranpikiran
saya sendiri.
Percaya atau iman kepada Allah adalah akidah pokok dalam agama Islam. Akan tetapi Islam tidak
memberikan ajaran-ajaran yang bertentangan dengan ilmu pengetahuan modem, sehingga tidak
ada pertentangan antara keduanya. Inilah salah satu keistimewaan besar tersendiri dalam
pandangan orang yang turut serta dengan sepenuh kernampuannya dalam penyelidikan ilmu
pengetahuan.
Keistimewaan lainnya lagi ialah bahwa ajaran-ajaran Islam itu tidak idealistis buta yang
mengesampingkan kewaspadaan terhadap kenyataan-kenyataan hidup. Islam menyerukan system
yang aktual meliputi segala segi kehidupan manusia. Syari’at Islam bukanlah hukum paksaan yang
mengekang kebebasan pribadi, tapi merupakan bimbingan dan petunjuk yang mengarah kepada
kebebasan pribadi yang teratur.
Bersamaan dengan berlalunya waktu dari tahun ke tahun, saya bertambah erat memegang dalildalil
yang jelas bagi saya menunjukkan bahwa Islam menempuh jalan yang paling lurus dalam
keseimbangan antara kepribadian perseorangan dan kepribadian masyarakat, serta
mempersatukannya dengan tali hubungan yang kuat.
Sesungguhnya Islam itu adalah agama lurus dan toleran. Islam selalu menyerukan kebaikan,
menganjurkannya dan mempertinggi derajatnya dalam segala hal dan segala kesempatan.
Tentang Pengarang: Dr. Hamid Marcus
Dr. Hamid Marcus adalah seorang redaktur majalah Mosleimche Revue di Berlin.

<<sebelumnya …. Daftar Isi …. selanjutnya>>

Dr. Abdul-Karim Germanus

Dr. Abdul-Karim Germanus
Guru Besar Ahli Ketimuran (Orientalist)

………………………………………………….
Sore itu hari turun hujan, usia saya menjelang akil balig ketika saya membalik-balik lembaranlembaran
majalah bergambar terbitan lama. Isinya campuran antara kejadian-kejadian baru,
cerita-cerita fiktif dan keterangan tentang beberapa negeri yang jauh-jauh. Saya terus membolakbalik
halaman demi halaman tanpa perhatian. Tiba-tiba mata saya tertumbuk pada sebuah gambar
ukiran kayu berbentuk rumah-rumah beratap datar, dan di sana-sini diselang-seling dengan kubahkubah
bundar menyulang ke langit yang gelap-gulita, di mana secercah cahaya bulan sabit.nampak
dengan indahnya. Di atas salah satu atap itu kelihatan beberapa orang duduk dalam barisanbarisan
yang teratur, mengenakan pakaian yang indah-indah coraknya.
Gambar itu telah menangkap daya khayal saya, karena keadaannya berbeda dengan yang biasa
kita lihat di Eropa, sebuah pemandangan di tanah Timur, di sebuah tempat di negeri Arab yang
menggambarkan seseorang yang sedang menceritakan beberapa hikayat yang menarik bagi
sekumpulan pendengar yang mengenakan jubah berkerudung. Gambar itu seakan-akan berbicara,
hingga saya seakan-akan mendengar suara seorang laki-laki yang menghibur diri saya dengan
ceritanya, dan saya seakan-akan termasuk salah seorang Arab yang mendengarkannya di atas
bangunan itu. Pada hal saya ini seorang pelajar yang belum melebihi umur 16 tahun dan sedang
duduk di atas kursi di Hungaria. Kemudian saya merasa sangat berhasrat untuk mengetahui arti itu
cahaya yang memecah kegelapan di atas papan ukiran itu. .
Mulailah saya belajar bahasa Turki. Akan tetapi segeralah ternyata bahwa bahasa Turki tertulis itu
hanya mencakup sedikit kata-kata Turki. Puisi (sya’ir) Turki penuh dengan bunga-bunga bahasa
Persi, sedangkan prosesnya terdiri dari elemen-elemen bahasa Arab. Oleh karena itu, saya
berusaha memahami ketiga bahasa ini, sehingga saya mampu menyelami dunia kerohanian yang
telah memancarkan cahaya yang gemerlapan di atas persada alam kemanusiaan.
Pada waktu liburan musim panas, saya pergi ke Bosnia, suatu negeri Timur yang terdekat dari
negeri saya. Saya tinggal di sebuah hotel, dari mana saya dapat segera pergi untuk menyaksikan
kenvataan hidup kaum Muslimin di sana. Akan bahasa Turki mereka telah menyulitkan saya,
karena saya mulai mengetahuinya dari celah-celah tulisan Arab dalam kitab-kitab ilmu Nahwu
(Grammar).
Pada suatu malam, saya turun ke jalan-jalan yang diterangi lampu remang-remang. Segera saya
sampai di sebuah warung kopi sederhana, di mana dua orang pribumi sedang duduk-duduk di kursi
yang agak tinggi sambil memegang kayf. Kedua orang itu mengenakan celana adat yang lebar dan
di tengahnya diikat dengan sebuah sabuk lebar yang diselipi sebuah golok, sehingga dengan
pakaian yang aneh semacam itu mereka nampaknya galak dan kasar. Dengan hati yang berdebardebar
saya masuk ke dalam “kahwekhame” itu dan duduk bersandar di sebuah sudut. Kedua orang
itu melihat kepada saya dengan pandangan yang aneh. Ketika itu teringatlah saya kepada ceritacerita
pertumpahan darah yang saya baca dalam buku-buku yang tidak benar tentang kefanatikan
kaum Muslimin. Mereka berbisik-bisik, dan apa yang mereka bisikkan itu jelas tentang kehadiran
saya yang mungkin tidak mereka inginkan. Bayangan kekanak-kanakan say~ menunjukkan akan
adanya tindakan kekerasan; kedua orang itu pasti akan menghunjamkan goloknya masing-masing
atas dada saya yang kafir ini. Kalau bisa, saya ingin keluar dari tempat ini dan bebas dari
ketakutan, akan tetapi badan saya menjadi lemas dan tidak dapat bergerak.
Beberapa saat kemudian, seorang pelayan datang menghidangkan secangkir kopi yang berbau
harum sambi menoleh kepada kedua orang yang menakutkan itu. Sayapun menoleh kepada
mereka dengan muka ketakutan Akan tetapi ternyata mereka mengucapkan salam kepada saya
dengan suara yang ramah dan tersenyum tipis. Dengar sikap ragu-ragu, saya mencoba berpurapura
senyum, dan kedua orang “musuh” itupun berdiri mendekati saya sehingga jantung saya
terasa berdebar lebih keras, membayangkan kemungkinan orang-orang itu akan mengusir saya.
Akan tetapi ternyata bahwa kedua orang itu mengucapkan salam kepada saya untuk kedua kalinya
dan mereka duduk di dekat saya. Seorang di antaranya menyodorkan rokok kepada saya dan
menyulutkannya sekali. Ternyata bahwa di balik lahiriahnya yang kasar dan menakutkan itu
terdapat jiwa yang halus dan mulia. Saya kumpulkan kembali keberanian saya dan saya bercerita
kepada mereka dengan bahasa Turki yang patah-patah. Kata-kata saya itu ternyata telah menarik
perhatian mereka dan tampak dalam kehidupan mereka jiwa persahabatan dan cinta kasih. Kedua
orang itu mengundang saya supaya berkunjung ke rumah mereka, kebalikan dari permusuhan
yang saya duga semula. Mereka telah menunjukkan kasih sayang kepada saya, kebalikan dari
penghunjaman golok yang saya bayangkan semula.
Itulah perjumpaan saya yang pertama dengan kaum Muslimin.
Beberapa tahun telah lewat dalam perjalanan hidup saya, yang penuh dengan perjalanan dan
studi. Semua itu telah membuka mata saya ke arah pandangan baru yang mentakjubkan.
Saya telah berkunjung ke semua negeri di Eropa, telah mengikuti kuliah di Universitas Istambul,
menikmati keindahan bersejarah Asia Kecil dan Syria, belajar babasa Turki, bahasa Persi, bahasa
Arab dan mengikuti kuliah ilmu-ilmu ke-Islaman di Universitas Budapest. Segala ilmu pengetahuan
yang tersimpan dalam buku-buku yang dikarang beberapa abad berselang telah saya baca dengan
pandangan kritis, tapi juga dengan jiwa yang kehausan. Dalam bermacam-macam buku itu saya
telah menemukan titik-titik terang tentang berbagai lapangan ilmu pengetahuan Dalam pada itu
saya merasakan kenikmatan bernaung di bawah kehidupan beragama. Otak saya menjadi beku,
akan tetapi jiwa saya tetap kehausan. Karena itu saya mencoba melepaskan diri dari segala ilmu
pengetahuan yang selama ini saya kumpulkan, agar saya dapat kembali menguji kebenarannya
dengan kemampuan saya sendiri, bebas dari segala kekotoran dalam semangat mencari
kebenaran. Bagaikan besi mentah yang menjadi baja yang keras dengan cara dilebur dan diberi
temperatur rendah secara tiba-tiba.
Pada suatu malam saya bermimpi, seakan-akan Muhammad Rasulullah s.a.w. dengan jenggotnya
yang panjang berwarna henna, jubahnya yang besar dan rapi menyebarkan bau wangi harum
semerbak dan cahaya kedua belah matanya mengkilat penuh wibawa itu tertuju kepada saya.
Dengan suara yang lemah lembut beliau bertanya kepada saya: “Kenapa engkau bingung?
Sebenarnya jalan yang lurus telah terbentang di hadapanmu, aman terbentang bagaikan
permukaan bumi. Berjalanlah di atasnya dengan langkah yang mantap dan dengan kekuatan
iman,”
Dalam mimpi ajaib ini, saya menjawab dengan bahasa Arab: “Ya Rasulallah! Memang itu mudah
buat Tuan. Tuan adalah perkasa. Tuan telah dapat menundukkan setiap lawan pada waktu Tuan
memulai perjalanan Tuan dengan bimbingan dan pertolongan Tuhan. Bagi saya tetap sulit.
Siapakah yang tahu kapan saya dapat menemukan ketenangan?”
Beliau menatap tajam kepada saya dengan penuh pengertian. Sejenak beliau berpikir, kemudian
kembali beliau bersabda dalam bahasa Arab yang jelas, yang setiap katanya berdentang bagaikan
suara lonceng perak. Dengan lisannya yang mulia yang mengemban perintah Tuhan itu meresap ke
dalam jiwa saya, beliau membacakan ayat 6 s/d 9 Surat Ar-Naba’:
Tidakkah Aku jadikan bumi ini terhampar, dan gunung-gunung bagaikan tiangtiang?
Dan Aku telah menciptakan kamu berpasang-pasang, dan Aku jadikan tidur
kamu istirahat? — An-Naba’ 6-9.
Dalam kepeningan saya berkata: “Saya tidak bisa tidur. Saya tidak mampu menembus segala
misteri yang meliputi segala rahasia yang tebal ini. Tolonglah saya Muhammad! Tolonglah saya
Rasulullah!” Begitulah keluar dari kerongkongan saya suara teriakan yang terputus-putus, seakanakan
saya tercekik dengan beban yang berat ini. Saya takut kalau Rasulullah s.a.w. marah kepada
saya. Kemudian saya merasa seakan-akan saya terjatuh ke sebuah tempat yang amat dalam. Tibatiba
terbangunlah saya dari mimpi itu dengan badan bercucuran keringat yang hampir-hampir
bercampur darah. Seluruh anggota badan terasa sakit. Sesudah itu. saya terdiam seperti diamnya
kuburan. Saya menjadi sangat sedih yang senang menyendiri.
Pada hari Jum’at berikutnya, terjadilah suatu peristiwa besar dalam Mesjid Jami New Delhi.
Seorang asing berwajah lesu dan rambut beruban menerobos masuk disertai beberapa orang
pemuda di antara para jema’ah yang beriman. Saya mengenakan pakaian India dan berkofiyah
Rampuri, sedang di dada saya terpampang medali-medali Turki yang telah dianugerahkan oleh
para Sultan Turki terdahulu kepada saya. Kaum Muslimin dalam Mesjid itu pada melihat kepada
saya dengan keheranan. Rombongan saya mengambil tempat di dekat Mimbar, tempat para Ulama
dan para terkemuka duduk. Mereka mengucapkan salam kepada saya dengan suara yang tinggi
melengking.
Saya duduk di dekat mimbar yang penuh perhiasan, sedangkan pada tiang-tiang di tengah Mesjid
penuh dengan sarang laba-laba sekelilingnya dengan aman. Terdengarlah suara Adzan, sedang
para Mukabbir berdiri di berbagai tempat dalam Mesjid untuk meneruskan suara Adzan ke tempat
sejauh dapat dicapainya. Selesai Adzan, maka berdirilah orang-orang yang bersembahyang yang
jumlahnya hampir 4000, seakan-akan barisan tentara, memenuhi seruan Tuhan dengan berjajar
rapat dan dengan tekun dan khusyuk. Saya sendiri termasuk salah seorang yang khusyuk itu.
Kejadian itu sungguh-sungguh merupakan momentum yang agung.
Selesai sembahyang, Abdul-Hay memegang tangan saya untuk berdiri di muka Mimbar. Saya
berjalan hati-hati agar tidak menyentuh orang yang sedang duduk berbaris. Waktu peristiwa besar
sudah dekat. Saya berdiri dekat tangga-tangga Mimbar, lalu saya berjalan di antara orang banyak
yang saya lihat beribu-ribu kepala bersorban, seakan-akan sebuah kebun bunga. Mereka semua
pada melihat dengan penuh perhatian kepada saya. Saya berdiri dikelilingi para Ulama dengan
jenggot jenggot mereka yang kelabu dan dengan penglihatan mereka yang memberi kekuatan.
Lalu mereka mengumumkan tentang diri saya, suatu hal yang tidak dijanjikan sebelumnya. Tanpa
raga-ragu saya naik ke Mimbar sampai tangganya yang ketujuh, lalu saya menghadap kepada
orang banyak yang seakan-akan tidak ada ujungnya dan seakan-akan lautan yang berombak.
Semua tunduk merunduk kepada saya, di halaman Mesjid semua orang bergerak. Saya mendengar
orang yang dekat kepada saya mengucapkan “Maa syaa Allah” berkali-kali disertai pandangan yang
memancarkan rasa cinta kasih. Kemudian mulailah saya berbicara dalam bahasa Arab:
“Tuan-tuan yang terhormat! Saya datang dari negeri yang jauh untuk mencari ilmu yang tidak bisa
didapat, di negeri saya Saya datang untuk memenuhi hasrat jiwa saya, dan Tuan-tuan telah
mengabulkan harapan saya itu.” Lalu saya berbicara tentang peredaran zaman yang dialami oleh
Islam dalam sejarah dunia dan tentang beberapa mu’jizat yang Allah pergunakan untuk
memperkuat Rasul-Nya s.a.w. Saya juga kemukakan tentang keterbelakangan kaum Muslimin pada
zaman akhir-akhir ini, tentang cara-cara yang mungkin bisa mengembalikan kebesaran mereka
yang telah hilang dan tentang adanya sebagian orang Islam yang mengatakan bahwa segala
sesuatu tergantung sepenuhnya kepada kehendak Allah s.w.t. Pada hal Allah s.w.t. telah berfirman
dalam Al-Qur’anul-Karim:
Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan sesuatu kaum kecuali jika
mereka sendiri mau mengubah keadaan dirinya.
Saya memusatkan pembicaraan saya kepada persoalan ini dengan mengemukakan ayat-ayat
Kitabullah. Kemudian tentang peningkatan hidup yang suci atau taqwa dan perlunya memerangi
perbuatan dosa/ma’siat.
Selesai berbicara, lalu saya duduk. Saya berbicara dengan sepenuh perasaan, dan saya dengar
orang-orang di seluruh pelosok mesjid pada berteriak: Allaahu Akbar!!! Terasalah pengaruh dan
semangatnya yang merata ke seluruh tempat, dan saya tidak bisa mengingat-ingat lagi apa yang
terjadi kemudian pada waktu itu, selain di atas mimbar Aslam memanggil dan memegang
pergelangan tangan saya keluar dari Mesjid.
Saya bertanya kepadanya: “Mengapa terburu-buru?”
Orang-orang pada berdiri dan memeluk saya. Berapa banyak orang-orang miskin yang melihat
dengan mata sayu kepada saya, meminta do’a restu dan mereka menginginkan dapat mencium
kepala saya. Saya berseru kepada Allah supaya tidak membiarkan jiwa-jiwa yang tidak berdosa ini
melihat kepada saya seakan-akan saya berderajat lebih tinggi dari pada mereka. Pada hal saya ini
tidak lebih dari salah satu binatang yang melata di bumi, atau seorang yang sedang kebingungan
mencari kebenaran. Saya tidak berdaya dan tidak mampu, sama seperti makhluk-makhluk yang
lain. Saya merasa malu menghadapi harapan-harapan orang-orang suci itu, dan saya merasa
seakan-akan saya telah menipu mereka. Alangkah beratnya beban yang numpuk pada bahu
penguasa dan Sultan. Orang-orang pada menaruh kepercayaan dan minta pertolongan kepadanya
dengan perkiraan bahwa penguasa itu dapat mengerjakan apa yang mereka sendiri tidak mampu.
Aslam mengeluarkan saya dari kerumunan dan pelukan saudara-saudara saya yang baru dan
mendudukkan saya pada sebuah tonga (kendaraan beroda dua di India) dan membawa saya
pulang ke rumah. Pada hari-hari berikutnya, orang berbondongbondong menemui saya untuk
menunjukkan suka cita, dan saya merasakan kecintaan dan kebaikan mereka itu cukup mejadi
bekal selama hidup saya.
Tentang Pengarang : Dr. Haji Abdul-Karim Germanus
Dr. Haji Abdul-Karim Germanus adalah seorang ahli Ketimuran yang terkenal dari Hongaria,
seorang ahli pengetahuan yang terkenal di seluruh dunia. Beliau datang di India pada zaman
antara perang dunia I dan II dan beberapa waktu lamanya memberi kuliah pada Tagor’s University
Shanti Naketan. Akhirnya beliau memberi kuliah pada Jami’a Millie Delhi, dan di sanalah beliau
memeluk agama Islam. Dr. Germanus adalah seorang ahli bahasa-bahasa dan menguasai bahasa
Turki serta kesusastraannya. Melalui penyelidikan-penyelidikan ketimurannya itulah beliau akhimya
memeluk agama Islam.
Pada waktu ini, Dr. Haji Abdul Karim Germanus bekerja sebagai Profesor dan Kepala Bagian
Ketimuran dan ilmu-ilmu ke-Islaman pada Budapest University, Hongaria

<<sebelumnya …. Daftar Isi …. selanjutnya>>

Dr. Umar Rolf Baron Ehrenfels (Austria)

Dr. Umar Rolf Baron Ehrenfels (Austria)
Gurubesar Antropologi

……………………………………………….
Penggugah terpenting atas kesadaran saya tentang kebenaran agama Islam, agama besar yang
sangat berpengaruh atas jiwa saya, ialah bahwa Islam itu menonjol dalam hal-hal sebagai berikut:
1. Ajaran-ajaran Islam yang diwahyukan berangsur-angsur itu menurut pikiran saya
menunjukkan bahwa agama-agama besar keluar dari hanya satu sumber, bahwa orangorang
yang membawa ke-Rasulan besar itu hanya membawa ajaran-ajaran Tuhan yang
Satu, dan bahwa beriman kepada salah satu ke-Rasulan ini berarti mencari Iman dalam
Cinta kasih.
2. Islam, pada pokoknya berarti aman atau selamat dengan cara tunduk kepada hukum yang
abadi.
3. Islam ditinjau dari sudut sejarah adalah agama besar terakhir di atas planet bumi ini.
4. Nabi Muhammad s.a.w. adalah Rasul Islam dan mata rantai terakhir dalam rangkaian para
Rasul yang membawa risalah-risalah besar.
5. Penerimaan agama Islam dan cara hidup kaum Muslimin oleh orang yang menganut agama
yang terdahulu, berarti dia melepaskan diri dari agamanya yang dahulu. Sama seperti
memeluk ajaran-ajaran Budha itu berarti melepaskan diri dari ajaran-ajaran Hindu. Agamaagama
yang berbeda-beda itu sebenarnya hanya buatan manusia, sedangkan kesatuan
agama itu dari dan bersifat ke-Tuhanan. Ajaran-ajaran Al-Qur’an menekankan atas prinsip
kesatuan ini. Dan percaya atas kesatuan agama berarti menerima satunya fakta kejiwaan
yang umum diterima oleh semua orang, pria dan wanita.
6. Jiwa persaudaraan kemanusiaan yang meliputi semua hamba Allah, selalu ditekankan oleh
Islam, berbeda dengan konsep rasialisme atau sukuisme yang berdasarkan perbedaan
bahasa, warna kulit, sejarah tradisional dan lain-lain dogma alami.
7. Konsep cinta kasih kebapakan Tuhan, dengan sendirinya mengandung konsep cinta keibuan
Tuhan sebagai dua prinsip gelar Tuhan Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Kedua kata ini berasal
dari kata “rahima” dalam bahasa Arab. Pengertian pokok simbolis ini sama dengan
pengertian “Goethe’s Das Ewing-Weibliche Zieht uns himan” yang arti harfiahnya ialah
“rahim” (dari wanita).
Berdasarkan pengertian ini, maka Gereja Aya Shofia di Istambul telah dibangun menurut prinsip
arsitek besar Muslim di Timur Dekat yang diilhami oleh bangunan Mesjid Sultan Ahmad atau
Muhammad Al-Fatih di Istambul.
Dalam pengertian dan jiwa inilah Rasulullah s.a.w. bersabda dalam kata-katanya yang tidak bisa
dilupakan oleh para pengikutnya:
Syurga itu di bawah telapak kaki kaum ibu.
Tentang Pengarang : Doktor Umar Rolf Baron Ehrenfels
Beliau adalah anak satu-satunya dari Alm. Baron Christian Ehrenfels, pembangun teori structure
Psychology modern di Austria.
Rolf Freiherr von Ehrenfels sudah sejak masa anak-anak tertarik oleh dunia Timur umumnya, dunia
Islam khususnya. Saudaranya perempuan, seorang penyair bangsa Austria, Imma von Bedmarhof
telah menceritakan hal itu dalam sebuah artikelnya dalam majalah sastra Islam Lahore pada tahun
1953. Pada waktu Rolf meningkat dewasa, dia pergi ke negara-negara Balkan dan Turki, di mana
dia ikut bersembahyang di mesjid-mesjid (walaupun dia masih seorang Nasrani) dan mendapat
sambutan baik dari kaum Muslimin Turki, Albania, Yunani dan Yugoslavia. Sesudah itu perhatiannya
terhadap Islam semakin bertambah, hingga akhirnya dia menyatakan masuk Islam pada tahun
1927 dan memilih Umar sebagai nama Islamnya. Pada tahun 1932, beliau mengunjungi anak
benua India/Pakistan dan sangat tertarik oleh soal-soal kebudayaan dan sejarah yang berhubungan
dengan kedudukan wanita dalam Islam. Sekembalinya di Austria, Baron mengkhususkan diri dalam
mempelajari soal-soal antropologi dari Matilineal Civilisation di India. The Oxford University Press
telah menerbitkan buku antropologinya yang pertama (Osmania University series, Hyderabad,
Deccan 1941) mengenai topik ini.
Pada waktu Austria diduduki oleh Jerman Nazi tahun 1938, Baron Umar pergi lagi ke India, dan
beker.ja di Hyderabad atas undangan alm. Sir Akbar Hydari sambil tetap mempelajari soal-soal
antropologi di India Selatan dengan mendapat bantuan dari Wenner Gern Foundation New York di
Assam. Sejak tahun 1949 beliau menjadi Kepala Bagian Antropologi pada University of Madras.
Pada tahun itu juga beliau mendapat medali emas S.C. Roy Golden Medal atas jasa-jasanya dalam
bidang Sosial and Cultural Antropology dari Royal Asiatic Society of Bengal.
Di antara sekian banyak karangan-karangannya tentang Islam dan ilmu pengetahuan, ada dua jilid
buku tentang antropologi India dan dunia, “Ilm-ul-Aqwam” (Anjuman Taraqqi-Delhi 1941) dan
sebuah risalah tentang suku bangsa Cochin dengan nama “Kadar of Cochin” (Madras 1952).

<<sebelumnya …. Daftar Isi …. selanjutnya>>

Prof. Haroon Mustapha Leon

Prof. Haroon Mustapha Leon
Ahli bahasa, ahli geologi dan pengarang

…………………………………….
Salah satu keagungan Islam ialah bahwa Islam itu berdiri di atas akal dan pikiran, dan tidak
menuntut supaya para penganutnya membekukan kemampuan mereka berpikir. Dalam hal ini
Islam berbeda dengan kepercayaan-kepercayaan lain yang mengharuskan kepada para
pengikutnya supaya percaya saja secara membuta kepada aliran-afiran dan dogma-dogma
tertentu, cukup dengan menyerahkan diri kepada kekuasaan Gereja. Sedangkan Islam
menganjurkan supaya orang berpikir lebih dahulu sebelum sampai kepada iman.
Rasulullah s.a.w. yang mulia telah bersabda: “Allah tidak mencipta sesuatu yang
lebih baik dari pada akal. Keuntungan yang Allah berikan adalah atas perhitungan
akal, dan ilmu pengetahuan/pengertian adalah ‘anak’ dari akal.”
Di lain kesempatan, beliau telah bersabda: “Sungguh saya katakan kepadamu
bahwa orang yang melakukan sembahyang, puasa, membayar zakat, haji dan lainlain
amal salih, tidak akan diberi pahala lebih dari kekuatan akal dan pikirannya.”
Perumpamaan tentang talent/bakat yang dikemukakan oleh Sayidina Isa a.s. (Yesus) cocok
sepenuhnya dan sejalan tepat dengan ajaran Islam yang selengkapnya berbunyi: “Cobalah dulu
segala sesuatu, dan peganglah kuat-kuat sesuatu yang baik.” Dalam Al-Qur’an Surah Jum’at,
“Allah Yang memberi segala kebaikan dan ni’mat telah memberikan perumpamaan tentang orangorang
yang tidak menggunakan akal dan pikirannya dan bertaklid buta, bahwa mereka itu “seperti
himar membawa buku”:
Perumpamaan mereka yang diberi Taurat, kemudian tidak mengamalkannya itu
seumpama himar membawa buku. Alangkah buruknya perumpamaan orang-orang
yang tidak mempercayai ayat-ayat Allah, dan Allah tidak akan memberi petunjuk
kepada orang-orang yang zhalim. — Al-Jumu’ah 5.
Diriwayatkan pula bahwa Khalifah Ali yang bangsawan dan terpelajar telah
bersabda: “Dunia ini gelap, dan ilmu merupakan cahaya. Akan tetapi ilmu tanpa
kepercayaan hanyalah bayangan belaka.”
Kaum Muslimin mempunyai keyakinan bahwa kata “Islam” itu synonym (sama artinya) dengan
kata “kebenaran/kepercayaan”, dan di bawah sinar Islamlah cahaya ilmu dan akal orang dapat
menemukan kebenaran. Akan tetapi untuk mengemukakan ilmu yang mengandung kebenaran itu,
orang harus mempergunakan kurnia Allah kepada dirinya yang berupa kemampuan berpikir logis.
Rasul kita yang mulia telah menunjukkan keindahan kata-katanya yang menerobos masuk ke
dalam jiwa para pendengarnya beberapa hari sebelum beliau wafat. Pada waktu Rasul Agung
Penutup semua Nabi dan Rasul, yang atas kebijaksanaan Allah yang bersifat Welas Asih diutus
untuk memberi petunjuk kepada ummat manusia ke jalan yang benar dan lurus, sewaktu beliau
menelentang di atas pangkuan Siti Aisyah r.a. dikelilingi oleh kaum Muslimin Madinah dalam jumlah
yang amat besar, pemuda dan pemudi, pria dan wanita, bahkan anak-anakpun turut hadir, di mana
setiap wajah menunjukkan kecintaannya yang ikhlas kepada Nabi dan Rasul pilihan, dengan air
mata bercucuran, termasuk air mata para pahlawan yang tidak pernah gentar menghadapi musuh
dalam perjuangan menegakkan Islam; mereka berkerumun melihat Pemimpin, sahabat, guru yang
kekasih, bahkan seorang Rasul Allah untuk mereka, yang telah mengeluarkan mereka dari
kegelapan khurafat menuju cahaya kebenaran yang terang benderang. Beliau sedang berangsurangsur
mendekati batas perjalanan hidupnya yang telah ditentukan Allah s.w.t. dan akan
meninggalkan mereka untuk tidak kembali lagi. Tidak heran jika terjadi hujan air mata, semua hati
tertimpa kesedihan yang amat berat. Dalam suasana kesedihan yang sedang mencekam berat
itulah, salah seorang yang hadir bertanya: “Ya Rasulallah! Tuan sekarang sedang sakit yang
sebentar lagi akan mengantar Tuan ke Hadirat Tuhan. Apakah yang harus kami lakukan?”
Menjawab pertanyaan itu beliau bersabda: “Pada kamu ada Al-Qur’an.”
Para Sahabat berkata: “Benar, ya Rasulallah. Pada kami ada Kitabullah penerang
hati, dan di hadapan kami ada petunjuk yang tidak mungkin salah. Akan tetapi
selama ini setiap kali timbul persoalan, kami bisa bertanya, mohon petunjuk dan
pendapat Tuan. Sesudah nanti Tuan dipanggil Allah ke Hadirat-Nya — Ya Rasulallah
– di manakah kami dapat menemukan petunjuk?”
Sabda beliau: “Kamu harus berpegang kepada Sunnahku.”
Seorang hadirin bertanya pula: “Akan tetapi ya Rasulallah, sesudah Tuan wafat,
akan timbul beberapa kejadian atau persoalan yang tidak pernah terjadi selama
Tuan masih ada. Jika demikian, apakah yang harus kami lakukan, dan apa pula
yang harus dilakukan oleh orang-orang yang hidup sesudah kami?”
Mendengar pertanyaan ini, beliau perlahan-lahan mengangkat kepala, sedangkan
dari wajahnya memancar cahaya ke-Nabian dan dari matanya keluar sorot
semacam kilat. Lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah s.w.t. telah
memberikan petunjuk kepada setiap manusia, yaitu hatinya, dan memberikan
penunjuk jalan, yaitu akalnya. Pergunakanlah keduanya dalam segala hal, pastilah
kamu mendapat petunjuk ke jalan yang lurus, dengan karunia Allah.”
Tentang Pengarang : Prof Haroon Mustapha Leon M.A. Ph.D. LLD FSP
Prof. Haroon Mustapha Leon memeluk agama Islam pada tahun 1882. Beliau telah memperoleh
banyak gelar keilmuan. Anggota kehormatan dari bermacam-macam masyarakat kaum
cendekiawan Eropa dan Amerika. Beliau seorang ahli yang menonjol dalam bidang ilmu bahasabahasa
(Philologist) dan telah menulis beberapa artikel tentang asal-usul bahasa dari berbagai
bangsa (Etymology of The Men’s Language) yang diakui mutunya oleh lembaga-lembaga kaum
cendekiawan, sehingga The Potomac University (Amerika Serikat) telah menganugerahkan
kepadanya gelar M.A. Dr. Leon juga seorang geologist dan sering memberikan ceramah keilmuan
dan kesusasteraan di muka berbagai kalangan terpelajar. Beliau menjabat Sekretaris Jendral
Universitas “La Societe Internasionale de Philologie, Sciences et Beaux-Arts” yang didirikan pada
tahun 1875, dan redaktur majalah ilmiah “The Philomate” yang diterbitkan di London. Beliau juga
telah menerima medali dari Sultan Abdul Hamid Khan, dan Syah Iran dan dari Kaisar Austria

<<sebelumnya
…. Daftar Isi …. Selanjutnya>>

Muhammad Aman Hobohm (Jerman)

Muhammad Aman Hobohm (Jerman)
Diplomat, Missionary dan Tokoh Masyarakat

………………………………………………………
Mengapa orang-orang Barat memeluk agama Islam? Ada berbagai sebab yang mendorong mereka
berbuat demikian. Pertama ialah bahwa kebenaran itu selalu kuat. Akidah-akidah/kepercayaankepercayaan
Islam itu semuanya dapat diterima akal (rasional) dan sesuai dengan alam
kemanusiaan, dan keistimewaannya lagi ialah bahwa setiap pencari kebenaran yang jujur pasti
menerimanya.
Sebagai contoh ialah akidah Tauhid (Monotheisme). Perhatikan bagamana akidah ini menimbulkan
rasa harga diri pada manusia, membebaskan jiwa dari belenggu khurafat dan tahayul dan secara
alamiah membimbing ummat manusia kepada persamaan, karena semua manusia diciptakan oleh
Tuhan Yang Satu dan hanya mengabdi/beribadah kepada-Nya saja. Bagi orang Jerman khususnya,
beriman kepada Tuhan itu merupakan sumber ilham, sumber keberanian dan sumber
keamanan/ketenangan. Iman kepada kehidupan akhirat sesudah mati, dapat mengubah
pandangan kita terhadap kehidupan dunia, sehingga kehidupan dunia ini tidak lagi menjadi pusat
perhatian kita yang terutama, dan sebahagian besar kegiatan kita ditumpahkan dalam usaha
mencapai kebahagiaan di akhirat. Iman kepada hisab (perhitungan amal) mengajak manusia
supaya meninggalkan perbuatan-perbuatan jahat, sebab hanya kebaikanlah satu-satunya jalan ke
arah tercapainya kesenangan yang kekal kelak di akhirat, walaupun perbuatan-perbuatan
jahat/buruk itu mungkin menguntungkan di dunia yang bersifat sementara ini. Dan kepercayaan
bahwa tidak ada seorangpun yang akan mampu menghindarkan diri dari pembalasan atas segala
amal perbuatannya di hadapan keadilan Tuhan, menyebabkan orang akan berpikir dua kali sebelum
dia melakukan sesuatu kesalahan atau dosa, dan pastilah kesadaran ini lebih kuat pengaruhnya
dari pada angkatan kepolisian yang paling cakap sekalipun di dunia.
Soal lain yang menyebabkan orang-orang luar tertarik oleh Islam, ialah ketegasannya tentang
toleransi. Sembahyang lima waktu setiap hari mengajarkan/melatih supaya orang bersikap teliti,
dan puasa sebulan menyebabkan orang mampu menguasai nafsu/dirinya sendiri. Sedangkan
ketelitian dan disiplin pribadi merupakan tanda orang besar dan baik.
Sekarang datanglah soal yang menyebabkan Islam sungguh-sungguh berjaya. Islam adalah satusatunya
ideologi yang berhasil menanamkan dalam jiwa para pengikutnya semangat menguasai
batas-batas kesopanan dan moral, tanpa membutuhkan kekuatan pemaksa selain dari hati
nuraninya sendiri, sebab seorang Muslim mengetahui bahwa di manapun dia berada, tetap di
bawah pengawasan Tuhannya. Kepercayaan inilah yang menghalanginya dari perbuatan maksiat.
Dan karena tabiat manusia itu senang kepada kebaikan, maka Islam memberikan ketenangan
batin dan ketenteraman hati, dan hal inilah yang tidak ada dalam kehidupan masyarakat Barat
dewasa ini.
Saya telah merasakan hidup di bawah naungan berbagai peraturan, dan saya telah banyak
mempelajari berbagai ideologi, akan tetapi pada akhirnya saya sampai kepada kesimpulan bahwa
tidak ada satupun ideologi yang sempurna seperti Islam.
Komunisme memang mempunyai daya tarik, begitu juga demokrasi duniawi (secular democracy)
dan Nazisme. Tapi semua itu tidak ada satupun yang mempunyai peraturan/kode yang komplit
untuk mencapai kebahagiaan dan kebaikan hidup. Hanya Islam sajalah yang memberikan
peraturan/kode yang komplit/sempurna itu, dan itulah sebabnya mengapa orang-orang baik telah
memeluk agama ini.
Islam bukan hanya teori. Islam adalah praktis. Islam bukan soal-soal sebahagian. Islam berarti
penyerahan diri yang sempurna kepada kehendak Allah s.w.t. dan ajaran-ajaran-Nya.

<<sebelumnya …. Daftar Isi …. Berikutnya>>

Untuk yang Sehati

Bercita-cita mengamalkan Islam secara utuh adalah suatu hal yang wajib bagi setiap muslim....
Namun bila belum mampu seluruhnya, jangan ditinggalkan semuanya....Karena Alloh Subhanahu wata'ala tidak membebani seseorang kecuali sesuai kemampuan maksimal yang dimiliki...

Buat diriku & dirimu

....Jangan pernah merasa cukup untuk belajar Islam, karena semakin kita tahu tentang Islam, semakin kita tahu tentang diri kita (...seberapa besar iman kita, ...seberapa banyak amal kita,....seberapa dalam ilmu kita, dan sebaliknya...seberapa besar kemunafikan kita, ...seberapa banyak maksiat kita, ...seberapa jauh kedunguan kita)
....Barangsiapa mengenal dirinya, maka semakin takut ia kepada Alloh Subhaanahu wata'ala

Do’a kita

Semoga Alloh Subhaanahu wata'ala meneguhkan hati kita dalam Islam hingga maut menjemput kita,...aamiin

Kalender

Februari 2010
S M S S R K J
« Jan   Mar »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728  

Total Pengunjung

  • 213,708 klik