Mohammad Alexander Russel Webb (Amerika Serikat)

Mohammad Alexander Russel Webb (Amerika Serikat)
Diplomat, Pengarang dan Wartawan

………………………………………………………
Saya telah diminta untuk menerangkan kepada anda, mengapa saya, seorang Amerika yang
dilahirkan dalam sebuah negara yang secara resmi beragama Kristen, dibesarkan dalam
lingkungan yang yang mewariskan atau lebih baik dikatakan menjalankan agama Kristen Orthodox
sekte Presbitarian, telah memilih dan memeluk Islam sebagai pembimbing saya?
Dengan kontan saya jawab dengan penuh kesadaran dan kesungguhan, bahwa saya telah
menjadikan agama ini sebagai jalan hidup saya, sebab setelah saya pelajari dalam tempo yang
cukup lama, ternyata bahwa Islam adalah agama yang terbaik dan satu-satunya agama yang dapat
mencukupi kebutuhan rohani ummat manusia.
Dan saya ingin menyatakan di sini, bahwa saya tidak lahir seperti anak-anak yang lain, yang
memiliki semangat keagamaan. Pada waktu saya mencapai usia 20 tahun dan praktis telah dapat
menguasai diri sendiri, dada saya serasa sempit melihat kebekuan Gereja yang sangat
menyedihkan, sehingga saya bertekad untuk meninggalkannya untuk selama-lamanya. Untunglah
bahwa waktu itu saya mempunyai cara berpikir yang mendalam. Saya selalu berusaha untuk
menemukan sebab dari segala sesuatu. Ternyata bahwa tidak ada seorangpun dari kalangan para
ahli pengetahuan dan ahli-ahli agama yang bisa memberikan kepada saya keterangan yang bisa
dimengerti (rasional) tentang kepercayaan Gereja itu. Kedua golongan itu hanya mengatakan
kepada saya bahwa persoalan ini termasuk misterius (pelik dan samar), atau dikatakan bahwa soal
itu di luar kemampuan saya berpikir.
Sebelas tahun yang lalu, saya tertarik untuk mempelajari agama-agama Timur. Saya telah
membaca buku-buku yang ditulis oleh Mill, Kant, Locke, Hegel, Fichte, Huxley dan lain-lain penulis
ternama yang menerangkan dengan penampilan ilmu pengetahuan yang besar tentang
protoplasma (unsur-unsur atom dalam pembentukan jasad makhutk yang hidup) dan monad
(bagian-bagian atom dalam hewan yang hidup). Akan tetapi tidak ada seorangpun dari mereka
yang bisa menerangkan kepada saya, tentang apakah jiwa/roh itu dan bagaimana atau dimana roh
itu sesudah mati?
Saya telah banyak berbicara tentang diri saya, dengan maksud untuk menjelaskan bahwa saya
masuk Islam bukan hasil pemikiran dan perasaan yang salah, bukan turut-turutan buta, dan bukan
dorongan emosi. Akan tetapi adalah hasil penelitian dan pelajaran yang sungguh-sungguh, jujur,
tekun dan bebas disertai penyelidikan serta keinginan yang sungguh-sungguh untuk mengetahui
kebenaran.
Inti akidah Islam yang murni, ialah menyerahkan diri kepada kehendak Tuhan, dan tanda
penjelmaannya ialah ibadat sembahyang. Islam mengajak kepada persaudaraan dan kecintaan
ummat manusia sedunia, dan berbuat baik kepada sesama manusia.
Islam juga menuntut kejernihan akal, kebaikan amal/perbuatan dan kebenaran dalam kata-kata,
bahkan Islam mengajak ke dalam kesucian dan kebersihan badan.
Agama ini, tidak diragukan, adalah agama yang paling mudah dan paling mampu mengangkat
derajat kemanusiaan.
Tentang Pengarang : Mohammad Alexander Russel Webb
Beliau dilahirkan di Hudson, Columbia, New York dan belajar di Hudson dan New York. Beliau
terkenal dengan tulisan cerita pendeknya. Kemudian beliau bekerja sebagai Pemimpin Redaksi
Majalah “St. Joseph Gazette” dan “Missouri Republican.” Pada tahun 1887 diangkat menjadi konsul
Amerika Serikat di Manila.
Selama menjalankan tugas itulah beliau mempelajari Islam dan menggabungkan dirinya dalam
lingkungan kaum muslimin.
Setelah menjadi muslim, beliau mengadakan perjalanan keliling dunia Islam, dan sampai akhir
hayatnya beliau mencurahkan waktu untuk melaksanakan misi Islam, dan duduk sebagai pimpinan
Islamic Propaganda Mission di Amerika Serikat.
Meninggal dunia pada awal Oktober tahun 1916.

<<sebelumnya …. Daftar Isi …. Selanjutnya>>

Sir Abdullah Archibald Hamilton

Sir Abdullah Archibald Hamilton
Negarawan dan Bangsawan Inggris

……………………………………….
Sejak saya menginjak usia dewasa, keindahan, kemudahan dan kemurnian Islam itu selalu
menarik perhatian saya. Walaupun saya dilahirkan dan dibesarkan sebagai orang Kristen,
sebenarnya saya tidak bisa percaya kepada dogma-dogma yang diajarkan oleh Gereja, dan saya
selalu menggunakan akal dan pikiran untuk mengatasi keimanan yang membuta.
Berbareng dengan majunya zaman, saya menginginkan kedamaian dengan Maha Pencipta saya,
dan ternyata bahwa baik Gereja Roma maupun Gereja Inggris, tidak ada yang bisa inemberikan
kepuasan kepada saya.
Saya memeluk agama Islam, hanyalah untuk memenuhi panggilan hati nurani saya, dan sejak itu
saya merasa telah menjadi orang yang lebih baik dan lebih benar dari pada sebelumnya.
Tidak ada satupun agama yang dimusuhi orang-orang jahil dan berprasangka seperti agama Islam.
Pada hal jika orang tahu, Islam itu adalah agama yang memberikan kekuatan kepada orang yang
lemah, dan memberikan rasa kecukupan kepada orang yang miskin. Dan ternyata bahwa alam
kemanusiaan itu terbagi menjadi tiga golongan, yaitu:
1. Golongan yang dianugerahi Tuhan dengan harta kekayaan.
2. Golongan yang harus bekerja berat untuk mencukupi keperluan hidupnya.
3. Golongan penganggur yang tidak mendapat lapangan kerja atau mereka yang jatuh pailit
bukan karena kesalahan mereka sendiri.
Islam juga mengakui bakat luar biasa dan hak-hak perseorangan. Islam itu konstruktif
(membangun) bukan destruktif (merusak). Sebagai contoh, jika seorang pemilik tanah yang kaya
dan tidak butuh untuk menanaminya, sehingga dia tidak menggarap tanahnya itu berulang kali,
maka hak miliknya itu menjadi hak milik umum dan menurut hukum Islam diberikan kepada orang
yang pertama menanaminya.
Islam melarang keras penjudian atau permainan-permainan yang berdasarkan untung-untungan.
Islam melarang segala macam minuman keras dan mengharamkan riba yang dapat menimbulkan
penderitaan hidup manusia. Jadi dalam Islam, tidak seorangpun boleh menarik untung dari
keadaan orang lain yang kebetulan kurang beruntung dalam hidupnya.
Kita (kaum Muslimin) tidak percaya kepada aliran Jabariyah (fatalism) yang hanya menunggu nasib
semata-mata, tidak pula percaya kepada aliran Qadariyah (predestination) yang menganggap
bahwa manusia menentukan nasibnya sendiri. Kita hanya percaya kepada imbalan yang diberikan
Allah s.w.t. atas perbuatan dan pemikiran kita.
Menurut kita, iman atau kepercayaan yang tanpa perbuatan itu tidak ada artinya, sebab iman itu
saja tidak cukup, kecuali jika hidup kita sesuai dengan itu. Kita percaya kepada adanya
pertanggungan jawab kita sendiri atas segala perbuatan kita di dunia dan di akhirat. Kita harus
mempertanggungjawabkan segala perbuatan kita, dan tidak ada seorangpun yang bisa memikul
dosa atau kesalahan orang lain.
Islam mengajarkan bahwa manusia diciptakan atas dasar fithrah, tanpa dosa. Islam juga
mengajarkan bahwa manusia, pria maupun wanita, berasal dari satu keturunan (Adam dan Hawa),
bahwa keadaan ruhnya sama, dan bahwa Allah s.w.t. inemberikan kekuatan yang sama agar tiaptiap
manusia dapat menempuh hidup sesuai dengan yang dikehendakinya menurut akal, jiwa dan
moral.
Saya kira saya tidak perlu berbicara banyak tentang persaudaraan ummat manusia universal dalam
ajaran Islam, sebab hal itu sudah merupakan kenyataan yang diakui oleh seluruh dunia.
Bangsawan dan rakyat biasa, kaya dan miskin semua sama. Sungguh saya telah melihat kejujuran
dan kemurahan hati Saudara-saudara saya kaum Muslimin, dan saya selalu percaya atas segala
perkataan dan janji mereka. Mereka selalu memperlakukan saya dengan adil sebagai manusia dan
sebagai saudara, dan telah membuktikan keramahan mereka kepada saya, sehingga saya tidak
merasa asing dalam lingkungan mereka.
Kesimpulan, saya ingin menyatakan bahwa pada waktu Islam membimbing ummat manusia dalam
kehidupannya sehari-hari, justru agama Kristen, dalam teori dan praktek mengajarkan kepada
para penganutnya supaya berdo’a dan bersembahyang kepada Tuhan pada hari Minggu dan
menerkam makhluk-Nya pada hari-hari selebihnya.
Tentang Pengarang : Sir Abdullah Archibald Hamilton
Sebelum memeluk agama Islam, beliau bernama Sir Charles Edward Archibald Watkin Hamilton.
Memeluk agama Islam pada tanggal 20 Desember 1923. Beliau adalah seorang negarawan Inggris
yang terkenal, mencapai tingkat kebangsawanan bermacam-macam. Beliau lahir pada tanggal 10
Desember 1876, seorang Letnan dalam Royal Defence Corp dan President Salsy Conservative
Association.

<<sebelumnya …. Daftar Isi …. Selanjutnya>>

Mohammad Asad

Mohammad Asad
Seorang Negarawan, Wartawan dan Pengarang

……………………………………..
Pada tahun 1922 saya meninggalkan tanah air saya Austria untuk melakukan perjalanan ke Afrika
dan Asia, sebagai wartawan khusus untuk beberapa harian yang besar di Eropa. Sejak itu, hampir
seluruh waktu saya habiskan di negeri-negeri Timur-Islam.
Perhatian saya terhadap bangsa-bangsa yang saya kunjungi itu mula-mula adalah sebagai orang
luar saja. Saya melihat susunan masyarakat dan pandangan hidup yang pada dasarnya berbeda
dengan susunan masyarakat dan pandangan hidup orang-orang Eropa, dan sejak pandangan
pertama, dalam hati saya telah tumbuh rasa simpati terhadap pandangan hidup yang tenang, yang
boleh saya katakan lebih bersifat kemanusiaan jika dibanding dengan cara hidup Eropa yang serba
terburu-buru dan mekanistik. Rasa simpati ini secara perlahan-lahan telah menyebabkan timbulnya
keinginan saya untuk menyelidiki sebab adanya perbedaan itu, dan saya menjadi tertarik dengan
ajaran-ajaran keagamaan orang Islam. Dengan persoalan ini, saya belum merasa tertarik cukup
kuat untuk memeluk agama Islam, akan tetapi telah cukup membuka mata saya terhadap suatu
pemandangan baru mengenai masyarakat kemanusiaan yang progresif dan teratur, dengan
mengandung hanya sedikit pertentangan, tapi dengan rasa persaudaraan yang sangat besar dan
sunguh-sungguh, walaupun kenyataan hidup orang-orang Islam sekarang masih jauh berbeda
dengan kemungkinan-kemungkinan yang dapat diberikan oleh ajaran-ajaran Islam.
Apa saja yang dalam ajaran Islam merupakan gerak dan maju, di kalangan orang Islam telah
berubah menjadi kemalasan dan kemandegan. Apa saja yang dalam ajaran Islam merupakan
kemurahan hati dan kesiapan berkorban, di kalangan muslimin sekarang telah berubah menjadi
kesempitan berpikir dan senang kepada kehidupan yang mudah, sehingga saya benar-benar
bingung memikirkannya, keadaan yang sangat bertentangan antara kaum muslimin dahulu dan
kaum muslimin yang sekarang.
Hal inilah yang telah mendorong saya untuk lebih mencurahkan perhatian terhadap persoalan yang
rumit ini. Lalu saya mencoba menggambarkan seolah-olah saya sungguh-sungguh merupakan
salah seorang anggota masyarakat Islam. Hal itu merupakan percobaan ilmiah murni yang telah
memberikan kepada saya dalam waktu yang singkat tentang pemecahannya yang tepat.
Saya telah dapat membuktikan bahwa satu-satunya sebab kemunduran sosial dan budaya kaum
Mus1mhin sekarang ialah karena mereka secara berangsur-angsur telah meninggalkan semangat
ajaran Islam. Islam masih tetap ada, tapi hanya merupakan badan tanpa jiwa. Unsur utama yang
dahulu pernah tegak berdiri sebagai penguat dunia Islam, sekarang justru menjadi sebab
kelemahannya. Masyarakat Islam sejak mulai berdirinya telah dibina atas dasar keagamaan saja,
dan kelemahan dasar ini tentu saja melemahkan struktur kebudayaan, bahkan mungkin
merupakan ancaman terhadap kehancurannya sendiri pada akhirnya.
Semakin saya mengerti bagamana ketegasan dan kesesuaian ajaran Islam dengan praktek,
semakin menjadi-jadilah pertanyaan saya, mengapa orang-orang Islam telah tidak mau
menerapkannya dalam kehidupan yang nyata? Tentang ini saya telah bertukar pikiran dengan
banyak ahli pikir kaum Muslimin di seluruh negara yang terbentang antara gurun Libia dan
pegunungan Parmir di Asia tengah, dan antara Bosporus sampai laut Arab. Suatu soal yang hampir
selalu menguasai pikiran saya melebihi pemikiran tentang lain-lain kepentingan dunia Islam. Soal
ini tetap menjadi titik berat perhatian saya, sampai akhirnya saya, seorang yang bukan Muslim,
berbicara terhadap orang-orang Islam sebagai pembela agama Islam sendiri menghadapi kelalaian
dan kemalasan mereka.
Perkembangan ini tidak terasa oleh saya, sampai pada suatu hari musim gugur tahun 1925 di
pegunungan Afganistan, seorang Gubernur yang masih muda berkata kepada saya: “Tapi Tuan
adalah seorang Muslim, hanya Tuan sendiri tidak menyadarinya.” Saya sangat kaget dengan katakatanya
itu dan secara diam-diam saya terus memikirkannya. Sewaktu saya kembali ke Eropa pada
tahun 1926, saya pikir satu-satunya konsekwensi logis dari pendirian saya ialah saya harus
memeluk agama Islam. Hal itulah yang telah menyebabkan saya menyatakan ke-Islam-an saya,
dan sejak itu pulalah datang bertubi-tubi pertanyaan-pertanyaan yang berbunyi: “Mengapa engkau
memeluk Islam? Apanya yang telah rnenarik engkau?”
Menghadapi pertanyaan-pertanyaan semacam itu saya akui bahwa saya tidak dapat memberikan
jawaban yang memuaskan selain keterangan bahwa tidak ada satu ajaran tertentu dalam Islam
yang telah merebut hati saya, sebab Islam itu adalah satu keseluruhan yang mengagumkan; satu
struktur yang tidak bisa dipisah-pisahkan tentang ajaran moral dan program praktek hidup. Saya
tidak bisa mengatakan bagian manakah yang lebih nnenarik perhatian saya.
Dalam pandangan saya, Islam itu adalah laksana sebuah bangunan yang sempurna segalagalanya.
Semua bagiannya, satu sama lain merupakan pelengkap dan penguat yang harmonis,
tidak ada yang berlebih dan tidak ada yang kurang, sehingga merupakan satu keseimbangan yang
mutlak sempurna dan perpaduan yang kuat.
Mungkin kesan saya bahwa segala sesuatu dalam ajaran Islam dan teori-teorinya itu tepat dan
sesuai, telah menciptakan kekaguman yang amat kuat pada diri saya. Mungkin memang demikian,
mungkin pula ada kesan-kesan lain yang sekarang sulit bagi saya menerangkannya. Akan tetapi
bagamanapun juga hal itu adalah merupakan bahan kecintaan saya kepada agama ini, dan
kecintaan itu merupakan perpaduan dari berbagai macam sebab; bisa merupakan perpaduan
antara keinginan dan kesepian, bisa merupakan perpaduan antara tujuan yang luhur dan
kekurangan, dan bisa merupakan perpaduan antara kekuatan dan kelemahan.
Demikianlah Islam telah masuk ke dalam lubuk hati saya, laksana seorang pencuri yang memasuki
rumah di tengah malam. Hanya saja Islam telah masuk untuk terus menetap selama-lamanya,
tidak seperti seorang pencuri yang masuk rumah untuk kemudian dengan tergesa-gesa keluar lagi.
Sejak itu saya telah bersungguh-sungguh mempelajari apa yang dapat saya pelajari tentang Islam.
Saya telah mempelajari Al-Qur’an dan Sunnah Rasul s.a.w. Saya pelajari bahasa agama Islam
berikut sejarahnya, dan saya pelajari sebahagian besar buku-buku/tulisan-tulisan mengenai ajaran
Islam dan juga buku-buku/tulisan-tulisan yang menentangnya. Semua itu saya lakukan dalam
waktu lebih dari lima tahun di Hejaz dan Najed, dan lebih banyak lagi di Madinah, sehingga saya
bisa mengalami sesuatu dalam lingkungan yang orisinal, di mana agama ini dikembangkan untuk
pertama kalinya oleh Nabi yang berbangsa Arab. Sedangkan Hejaz merupakan titik pertemuan
kaum Muslimin dari berbagai negara, dimana saya dapat membandingkan beberapa pandangan
keagamaan dan kemasyarakatan yang berbeda-beda yang menguasai dunia Islam sekarang.
Semua pelajaran dan perbandingan itu telah menanamkan kepuasan dalam hati saya, bahwa Islam
sebagai satu keajaiban rohani dan sosial masih tetap tegak, walaupun ada kemundurankemunduran
yang ditimbulkan oleh kekurangan-kekurangan kaum Muslimin sendiri. Sebegitu jauh
Islam masih tetap merupakan kekuatan terbesar yang pernah dikenal ummat manusia. Dan sejak
waktu itu perhatian saya tumpahkan untuk mengembalikan agama ini kepada kejayaannya semula.
Tentang Pengarang : Mohammad Asad
Mohammad Asad Leopold Weiss di1ahirkan di Livow, Austria pada tahun 1900. Pada umur 22
tahun, beliau mengunjungi Timur Tengah dan selanjutnya menjadi wartawan luar negeri dari harian
“Frankfurter Zeitung” Setelah masuk Islam, beliau pergi dan bekerja di seluruh dunia Islam, dari
mulai Afrika Utara sampai Afganistan di bagian Timur, dan setelah beberapa tahun mempelajari
Islam, beliau telah menjadi seorang Muslim terpelajar yang terkemuka di abad kita sekarang. Dan
setelah berdirinya negara Pakistan, beliau ditunjuk menjadi Director of the Department of Islamic
Reconstruction di Punjab Barat, kemudian diangkat sebagai wakil Pakistan di PBB.
Dua buku Mohammad Asad yang penting ialah “Islam in the Cross Roads (Islaim di Persimpangan
Jalan)” dan “Road to Mecca (Jalan ke Mekah)”. Beliau juga menerbitkan majalah bulanan “Arafat”,
dan sekarang sedang menyelesaikan terjemahan Al-Qur’an dalam bahasa Inggris. Buku “Road to
Mecca” telah diterjemahkan oleh Fuad Hasyem dan diterbitkan oleh P.T. Al Ma’arif, Bandung.

<<sebelumnya …. Daftar Isi …. Selanjutnya>>

Al-Haj Lord Headly Al-Farooq

Al-Haj Lord Headly Al-Farooq
Seorang Bangsawan, Negarawan dan Pengarang

………………………………………..
Mungkin ada kawan-kawan saya yang mengira bahwa saya telah terpengaruh oleh orang-orang
Islam. Dugaan itu tidak benar, sebab kepindahan saya kepada agama Islam adalah timbul dari
kesadaran saya sendiri, hasil pemikiran saya sendiri.
Saya telah bertukar pikiran dengan orang-orang Islam terpelajar tentang agama hanya terjadi
beberapa minggu yang lalu. Dan perlu pula saya kemukakan bahwa saya sangat bergembira
setelah ternyata bahwa semua teori dan kesimpulan saya persis seluruhnya cocok dengan Islam.
Kesadaran beragama, sebagaimana yang ditegaskan oleh Al-Qur’an, harus timbul dari kebebasan
memilih dan putusan yang spontan, dan tidak boleh ada paksaan. Mengenai hal ini, Jesus Al-Masih
menyatakan kepada para pengikutnya:
“Dan orang tidak akan dapat menerima kamu atau memperhatikan kata-kata
kamu, apabila kamu meninggalkan dia.” — Injil Markus, VI, 2.
Saya banyak mengetahui tentang aliran Protestan yang fanatik, yang berpendapat bahwa
kewajiban mereka ialah mendatangi rumah-rumah orang Katolik Roma untuk mengusahakan
supaya kawan-kawan se-“kandang”-nya itu bertaubat. Tidak bisa diragukan lagi bahwa tindakan
yarig menyolok ini, adalah suatu tindakan yang tidak jujur, bahkan setiap jiwa yang murni akan
mengutuknya, karena hal itu dapat membangkitkan pertentangan-pertentangan yang menodai
keluhuran agama. Maaf saya katakan, bahwa kebanyakan misi Nasrani juga telah mengambil
langkah-langkah yang sama terhadap saudara-saudaranya yang memeluk agama Islam. Saya tidak
habis pikir; mengapa mereka selalu berusaha memurtadkan orang-orang yang pada hakekatnya
lebih dekat kepada ajaran Jesus yang sebenarnya dari pada mereka sendiri?! Saya katakan
demikian, sebab dalam hal kebaikan, toleransi dan keluasan berpikir dalam akidah Islam lebih
dekat kepada ajaran Kristus, dari pada ajaran-ajaran sempit dari Gereja-gereja Kristen sendiri.
Sebagai contoh ialah Kredo Athanasia yang mengecam akidah Trinitas dengan keterangannya yang
sangat membingungkan. Aliran ini yang sangat penting dan berperanan menentukan dalam salah
satu ajaran pokok dari Gereja, menyatakan dengan tegas bahwa dia mewakili ajaran Katolik, dan
kalau kita tidak percaya kepadanya, kita akan celaka selama-lamanya. Tapi kita diharuskan olehnya
supaya percaya kepada akidah Trinitas. Dengan kata lain. Kita diwajibkan beriman kepada Tuhan
Yang Maha Pengasih dan Maha Agung, kemudian pada waktu yang sama kita diharuskan
menutupinya dengan kezaliman dan kekejaman, seolah-olah kita menutupi manusia paling jahat.
Sedangkan Allah swt. amat jauh dari kemungkinan bisa dibatasi oleh rencana manusia lemah yang
mempercayai akidah Trinitas atau Tatslits.
Masilh ada satu contoh lagi tentang kemauan berbuat baik. Saya pernah menerima surat –tentang
kecenderungan saya kepada Islam– dimana penulisnya menyatakan bahwa apabila saya tidak
percaya kepada ke-Tuhan-an Yesus Kristus, saya tidak akan mendapat keselamatan. Pada hal soal
ke-Tuhan-an Yesus itu menurut pendapat saya tidak sepenting soal: “Apakah Yesus Kristus telah
menyampaikan Risalah Tuhan kepada manusia atau tidak?” Jika saya meragukan soal ini, pastilah
pikiran saya akan tergoncang. Akan tetapi, alhamdulillah, saya tidak ragu-ragu sedikitpun, dan
saya harap bahwa kepercayaan saya kepada Yesus dan segala ajarannya tetap kuat seperti
keyakinan setiap orang Islam atau setiap pengikut Yesus Kristus. Sebagaimana yang sering saya
kemukakan bahwa agama Islam dan agama Kristen yang diajarkan oleh Yesus sendiri, adalah
laksana dua saudara sepupu. Antara kedua agama itu hanya berbeda dengan adanya dogmadogma
dan tatacara yang mungkin tidak diperlukan.
Sekarang ini manusia sudah mulai menjurus kepada ketiadaan iman kepada Allah s.w.t. manakala
mereka diminta supaya percaya kepada dogma-dogma dan kepercayaan-kepercayaan yang
berpandangan sempit, dan dalam waktu yang bersamaan manusia haus kepada suatu agama yang
dapat berbicara kepada akal dan athifah (sentiment) kemanusiaan.
Siapakah yang pernah mendengar bahwa seorang Muslim menjadi seorang atheist? Memang
mungkin ada beberapa kejadian, tapi saya sangat meragukannya. Saya tahu ada beribu-ribu orang
pria dan wanita, yang dalam hatinya adalah Muslim, akan tetapi secara biasa mereka tidak berani
mengemukakan isi hatinya secara terang-terangan, dengan maksud supaya bisa menghindari
gangguan-gangguan dan kesulitan-kesulitan yang akan dialami kalau mereka menyatakan ke-
Islamannya secara terbuka. Justru saya sendiri mengalami yang demikian itu selama 20 tahun
dalam keimanan saya secara terang-terangan yang telah menyebabkan hilangnya pikiran baik dari
teman-teman saya.
Saya telah menerangkan alasan-alasan saya, mengapa saya menghormati ajaran-ajaran Islam,
dan saya umumkan bahwa saya sendiri telah memeluk Islam lebih baik dari pada sewaktu saya
masih seorang Kristen. Saya hanya bisa mengharap bahwa kawan-kawan saya mau mengikuti
contoh ini yang saya tahu adalah suatu contoh yang baik, yang akan membawa kebahagiaan
kepada setiap orang yang memandang langkah hidup saya sebagai suatu kemajuan dan jauh dari
bersifat bermusuhan terhadap agama Kristen.
Tentang Pengarang : Lord Headly Al-Farooq
Lord Headly Al-Farooq dilahirkan pada tahun 1855. Beliau adalah seorang bangsawan Inggris,
negarawan dan pengarang. Belajar pada Universitas Cambridge dan menjadi seorang bangsawan
pada tahun 1877, mengabdikan diri dalam kemiliteran dengan pangkat Kapten, dan terakhir
sebagai Letnan Kolonel dalam Batalion IV Infanteri di North Minister Fusilier. Walaupun beliau
seorang insinyur, beliau berkecimpung juga dalam bidang kesusastraan. Beliau pernah menjabat
sebagai Redaktur s.k. “Salisbury Journal” dan banyak mengarang buku-buku, dan yang paling
terkenal ialah “A Western Awakening to Islam”.
Beliau telah menyatakan ke-Islaman-nya pada tanggal 16 Nopember 1913 dan berganti nama
menjadi Syaikh Rahmatullah Al-Farooq. Beliau banyak melakukan perjalanan, dan pernah
mengunjungi India pada tahun 1928.

<<sebelumnya …. Daftar Isi …. Selanjutnya>>

Ketujuh: Ajaran-ajaran Terpelihara dari Perubahan.

Ketujuh: Ajaran-ajaran Terpelihara dari Perubahan.

…………………………………………
Dan akhirnya, masih ada satu rahasia penting, ialah bahwa ajaran-ajaran Islam dalam Al-Qur’an
tetap atas dasar dan nash-nya yang semula sebagaimana yang diturunkan Allah, Tuhan semesta
alam.
Manusia tetap memperoleh petunjuk-petunjuk di dalamnya, sebagai yang dikehendaki Allah, tanpa
perubahan atau pergantian sedikitpun. Al-Qur’an tetap sebagaimana yang diturunkan Allah dan
tetap berada di tengah-tengah kita, hampir 14 abad lamanya. Kalimat Allah tetap kalimat Allah,
dalam bentuknya yang semula. Dan keterangan terperinci tentang kehidupan Nabi Islam dan
ajaran-ajarannya telah dikenal berabad-abad dalam bentuknya yang orisinal. Hal itu diakui oleh
para kritikus non Muslim. Profesor Reynold A. Nicholson dalam bukunya “Literary History of the
Arabs” menyatakan:
“Al-Qur’an adalah suatu dokumen kemanusiaan yang luar biasa, menerangkan
setiap phase hubungan Muhammad dengan segala kejadian yang dihadapinya
selama hidupnya, sehingga kita mendapat bahan yang unik dan tahan uji
keasliannya, sehingga kita dapat mengikuti perkembangan Islam sejak
permulaannya sampai sekarang. Semua itu tidak ada bandingannya dalam agamaagama
Buddha atau Kristen, maupun dalam agama-agama lainnya.” (hal. 413).
Semua itu hanyalah sebahagian saja dari tanda-tanda yang dengan jelas dan kuat menunjukkan
bahwa Islam adalah agama yang paling sempurna bagi kemanusiaan, dahulu, sekarang dan di
kemudian hari. Segi-segi itulah yang telah menarik beratus-ratus juta ummat manusia ke
dalamnya. Mereka semua yakin bahwa Islam adalah agama yang hak dan benar, jalan hidup yang
lurus yang seharusnya dilalui oleh manusia. Hal itu akan tetap menarik mereka di waktu-waktu
yang akan datang. Manusia dengan jiwanya yang bersih dan ikhlas mencari kebenaran, akan selalu
mengucapkan:
AKU BERSAKSI BAHWA TIDAK ADA YANG PATUT DISEMBAH KECUALI ALLAH YANG
SATU DAN TIDAK ADA YANG MENYEKUTUINYA DAN AKU BERSAKSI BAHWA
MUHAMMAD ADALAH HAMBANYA DAN UTUSAN-NYA.
Berikut ini adalah keterangan dan kesan-kesan beberapa tokoh ahli pikir dan cendekiawan
terkemuka mengenai sejarah keimanannya kepada Islam.
Catatan kaki:
1 Allah telah mengundangkan Agama buat kamu, seperti apa yang Dia wasiatkan kepada Nuh dan
yang Aku wahyukan kepadamu (Muhammad), dan yang Aku wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan
‘Isa, bahwa hendaklah kamu tegakkan Agama dan janganlah kamu bercerai-berai di dalamnya.
(Asy-Syura. 13)
2 Francies Mason. (Fd) “The Great Design,” Duckworth, London.
3 George Bernard Shaw dalam The Genuine Islam, Singapure, Vol. 1, No. 8. 1936. Pada waktu
terjemahan Indonesia ini sedang dikerjakan justru di London sedang berlangsung pameran
kebudayaan Islam, dan dibuka oleh Ratu Elisabeth II sendiri.
4 Nabi Muhammad saw.

<<selanjutnya …. Daftar Isi …. Berikutnya>>

Keenam: Stabil dan Berkembang

Keenam: Stabil dan Berkembang

……………………………
Justice Cardoza dengan tegas menyatakan: “Kebutuhan terbesar zaman kita sekarang adalah satu
falsafah yang bisa menengahi antara tuntutan-tuntutan yang saling bertentangan mengenai
stabilitas dan kemajuan dan memenuhi prinsip perkembangan.” Islam memberikan satu ideologi
yang memuaskan tuntutan-tuntutan stabilitas dan perkembangan/perubahan sekaligus.
Kenyataan membuktikan bahwa memang hidup itu tidak semata-mata stabil dalam arti tidak
berkembang, tidak pula berkembang dan berubah secara keseluruhan. Sebab soal-soal pokok
kehidupan itu tetap, akan tetapi cara-cara penyelesaian dan tehnik penanganannya berbeda-beda,
sesuai dengan perkembangan zaman. Islam menjamin kedua hal itu berjalan secara teratur. Al-
Qur’an dan Sunnah mengandung petunjuk-petunjuk abadi dari Tuhan Rabul’alamin, Tuhan yang
tidak dibatasi oleh zaman dan tempat memberi petunjuk-petunjuk yang bertalian dengan
kepentingan perorangan maupun yang bertalian dengan masyarakat, sesuai sepenuhnya dengan
alam yang diciptakan Allah s.w.t. Dengan demikian maka petunjuk-petunjuk itu bersifat azali dan
abadi (kekal). Akan tetapi Tuhan hanya merumuskan dasar-dasar dan pokok-pokoknya, sedangkan
manusia diberi kebebasan untuk melaksanakannya sesuai dengan perkembangan zaman yang
berbeda-beda, jiwa dan kondisinya. Untuk itu manusia melakukan ijtihad yang dilakukan oleh
tokoh-tokoh ahli setiap zaman, untuk menerapkan petunjuk-petunjuk Tuhan dalam menghadapi
segala bentuk kehidupan pada zamannya.
Jadi dasar dan pokok ajaran itu tetap tidak berubah, hanya cara-cara pelaksanaannya mungkin
berubah, sesuai dengan kebutuhan hidup pada setiap zaman. Itulah rahasianya, mengapa Islam itu
tetap segar dan modern, sesuai dengan perkembangan zaman yang mana dan kapanpun.

<<sebelumnya …. Daftar Isi …. Selanjutnya>>

Kelima: Universal dan Kemanusiaan.

Kelima: Universal dan Kemanusiaan.

…………………………………….
Risalah Islam adalah untuk seluruh ummat manusia. Tuhan, dalam ajaran Islam, adalah Tuhan
seluruh alam. Firman Allah:
Segala puji bagi Allah, Tuhan yang mengurus seluruh alam. — Al-Fatihah 2.
Dan Nabi Muhammad s.a.w. adalah seorang Rasul untuk seluruh kemanusiaan. Al-Qur’an
menyatakan:
Katakanlah: Hai sekalian manusia! Sesungguhnya aku ini adalah Utusan Allah
kepada kamu sekalian. — Al-A’raf 158.
Dan firman-Nya:
Maha Tinggi Tuhan yang telah menurunkan Al-Qur’an kepada hamba-Nya, supaya
menjadi peringatan bagi seluruh alam. — Al-Furqan 1.
Dan firiman-Nya lagi:
Tidaklah Aku mengutus engkau, melainkan sebagai rahmat untuk seluruh alam. —
Al-Anbiya 107.
Menurut ajaran Islam, manusia itu semuanya sama, walaupun berlainan warna kulit, bahasa,
keturunan dan kebangsaannya. Hal itu adalah bimbingan Allah kepada naluri kemanusiaan, dan Dia
tidak mengakui adanya perbedaan keturunan/kebangsaan, kedudukan sosial atau kekayaan. Tidak
bisa dibantah bahwa dalam kenyataan, semua perbedaan itu masih ada dalam zaman kita yang
mengaku abad ilmu dan kemajuan ini. Akan tetapi Islam tidak mengakuinya. Malah Islam
menetapkan/mengakui bahwa semua manusia itu satu keluarga, Tuhannya ialah Allah s.w.t. Dalam
hal ini Nabi Muhammad s.a.w. bersabda:
Semua makhluk itu keluarga Allah, maka mereka yang paling disenangi Allah ialah
yang paling bermanfaat untuk keluarga-Nya. — Riwayat Al-Bazar.
Dan do’a Rasulullah s.a.w.:
Ya Tuhanku! Tuhan yang mengurus segala sesuatu dan Yang Memilikinya! Aku
bersaksi bahwa hamba-hamba itu semuanya bersaudara. — Riwayat Ahmad dan
Abu Dawud.
Jadi, Islam itu berpandangan internasional dan tidak mengakui adanya garis-garis pemisah dan
perbedaan-perbedaan seperti pada zaman jahiliyah. Islam menginginkan adanya kesatuan seluruh
kemanusiaan di bawah satu bendera, dan dalam dunia yang telah dirusak dengan persainganpersaingan
dan permusuhan-permusuhan kebangsaan ini Islam merupakan tuntunan hidup dan
harapan kebahagiaan di hari yang akan datang.

<<sebelumnya …… Daftar Isi ….. Berikutnya>>

Keempat: Ada keseimbangan antara perorangan dan kemasyarakatan

Keempat: Ada keseimbangan antara perorangan dan kemasyarakatan

……………………..
Ada satu keistimewaan yang bersifat unik bagi Islam, yaitu bahwa agama ini membina
keseimbangan antara kepentingan perorangan dan kepentingan kemasyarakatan. Islam percaya
adanya kepribadian manusia dan menentukan bahwa setiap orang secara sendiri-sendiri
bertanggung jawab terhadap Tuhan. Islam menjamin hak-hak azasi manusia dan tidak
membenarkan siapapun juga untuk merobek-robek atau menguranginya. Islam juga menjamin
perkembangan yang baik kepribadian manusia, sebagai salah satu tujuan utama dari
kebijaksanaan pendidikannya.
Islam tidak setuju dengan pandangan bahwa manusia harus melenyapkan kepribadiannya,
meleburkan diri dalam masyarakat atau negara.
Al-Qur’an menyatakan:
… dan bahwa manusia tidak akan mendapat selain apa yang dia usahakan. — An-
Najm 39.
Dan musibah apa yang menimpa kamu itu disebabkan perbuatan kamu. — Asy-
Syura 30.
Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum, kecuali jika mereka
sendiri mau mengubah keadaannya. – Ar-Ra’d 11.
Bermanfaat bagi seseorang apa yang dia usahakan, dan berbahaya baginya apa
yang dia lakukan. — Al-Baqarah 286.
Mengenai sikap seorang Mukmin dalam menghadapi ajakan kaum musyrikin, Tuhan mengajarkan:
Bagi kami bermanfaat amal perbuatan kami dan bagi kamu amal perbuatan kamu.
— Al-Qashash 55.
Semua itu mengenai soal-soal perseorangan.
Di lain pihak, Islam selalu menanamkan dalam jiwa manusia rasa tanggung jawab sosial, mengatur
kehidupan manusia dalam masyarakat dan negara, dan mengikutsertakan setiap orang dalam
usaha menegakkan kemaslahatan umum.
Sembahyang dalam Islam dilakukan secara bersama-sama (berjama’ah), salah satu cara untuk
menanam rasa disiplin sosial di kalangan ummat Islam. Setiap orang diwajibkan nnembayar zakat,
sekurang-kurangnya zakat fithrah.
Al-Qur’an menyatakan:
Dan dalam harta kekayaan mereka ada bagian hak yang dibutuhkan oleh yang
meminta dan miskin. — Adz-Dzariyat 19.
Jadi zakat itu adalah sebagian harta yang menjadi hak masyarakat. Dan jihad (berjuang) dalam
Islam itu wajib. Ini berarti bahwa setiap orang diharuskan berkorban, sampai dengan jiwanya
sekalipun, untuk mempertahankan kejayaan Islam dan negaranya. Dalam hal ini Rasulullah s.a.w.
bersabda:
Semua kamu adalah pemimpin dan semua kamu akan diminta
pertanggungjawabannya. Sebab, Imam adalah pemimpin, dan dia diminta
pertanggungjawabannya. Seorang suami adalah pemimpin dalam lingkungan
keluarganya, dan dia akan diminta pertanggungjawabannya. Seorang isteri adalah
pemimpin dalam rumah suaminya, dan dia akan diminta pertanggungjawabannya.
Seorang pelayan adalah pemimpin dalam harta kekayaan majikannya, dan dia akan
diminta pertanggungjawabannya. Jadi semua kamu itu pemimpin dan semua kamu
itu akan diminta pertanggungjawabannya. – Muttafaq Alaih.
Sabdanya pula:
Kamu jangan berprasangka, sebab prasangka itu adalah ucapan yang paling
bohong. Dan janganlah kamu saling selidik menyelidik kesalahan, jangan saling
bermegahan, jangan saling benci, jangan saling belakangi. Jadilah kamu –hamba
Allah– bersaudara, sebagaimana yang diperintahkan Allah kepada kamu. —
Riwayat Bukhari dan Muslim.
Dan:
Tidaklah beriman kepadaku orang yang tidur dengan perut kenyang, sedangkan
tetangganya kelaparan, dan dia mengetahui hal itu. — Riwayat Al-Bazar.
Dan:
Orang Mukmin itu ialah orang yang boleh dipercaya atas harta dan diri/jiwa orang
lain. — Riwayat Ibnu Majah.
Singkatnya, Islam tidak hanya menegakan hak-hak perseorangan atau hanya mengakui hak-hak
masyarakat saja. Islam membina keserasian dan keseimbangan antara keduanya, dengan
memberikan batas-batas yang teliti untuk kebaikan dua-duanya.

<<sebelumnya …. Daftar Isi …. berikutnya>>

Seorang Muslim tidak Suka Debat Kusir

judul asli Ahlus Sunnah tidak menyukai debat kusir

diambil dari http://belajarislam.or.id

Di antara kebiasaan yang dilakukan generasi salafus shalih adalah menjauhi debat yang tidak bermanfaat serta menjauhi perselisihan-perselisihan atau cekcok dalam urusan agama. Mereka melarang keras perbuatan tersebut dan mengingkari orang-orang yang melakukannya. Dalam kitab Fadlu Ilmi Salaf, Ibnu Rajab berkata bahwa di antara hal-hal yang dibenci oleh generasi salaf adalah debat kusir dan cekcok dalam permasalahan-permasalahan halal dan haram. Dan hal itu bukanlah jalan yang ditempuh oleh para imam kaum muslimin, akan tetapi baru muncul pada generasi setelah mereka.

Imam Malik menegaskan hal yang penting ini, sebagaimana dinukil oleh Imam as-Satibi dalam kitab al-’Itisom bahwa debat yang tidak berguna itu tidak termasuk dalam bagian agama sama sekali (bid’ah). Imam al-Lalikai menukil perkataan Imam Malik dalam kitab Syarhul Usul I’tiqad Ahlussunnah wal Jamaah berkata,

“Aku membenci debat dalam permasalahan-permasalahan agama. Dan penduduk negri kita (Madinah) senantiasa membenci dan melarangnya, seperti berdebat seputar pemikiran Jahmiah dan Qadariah dan yang semacamnya. Dan aku membenci perbincangan, kecuali perbincangan yang akan mendatangkan manfaat berupa amal.”

Ibnu Abdil Bar menyatakan dalam kitab beliau Jami al-Bayan al-Ilmi, menukil perkataaan Imam Ahmad bahwa beliau berkata,

“Berpeganglah kalian dengan atsar sahabat dan al-hadits, dan sibukkanlah diri kalian dengan hal-hal yang bermanfaat. Jauhilah berbantah-bantahan, karena orang yang suka berdebat tak akan pernah beruntung.”

Beliau juga berkata,

“Tak akan pernah bahagia orang yang suka berdebat. Dan tidaklah engkau menjumpai seseorang yang suka berdebat kecuali di hatinya tersimpan sebuah penyakit.”

Imam al-Ajuri di dalam kitab beliau asy-Syari’ah, menyinggung pokok yang penting ini. Dia menukil perkataan Imam al-Auzai yang berkata,

“Hendaklah kalian berpegang teguh pada jejak generasi salaf walaupun kalian ditinggalkan manusia. Dan janganlah kalian tergiur oleh pendapat-pendapat orang belakangan walaupun dipoles dengan ungkapan-ungkapan indah.”

Inilah jalan para generasi Salafus shaleh. Mereka melarang manusia dari debat sia-sia tentang agama. Dan keengganan mereka untuk berdebat itu bukanlah karena mereka itu bodoh atau karena takut kepada manusia atau karena tidak mampu sebagaimana diduga oleh sebagian orang bodoh. Tetapi mereka mengekang dari hal itu semata-mata takut kepada Allah.

Sebagaimana dinukil Imam al-Ajuri dalam kitab beliau asy-Syari’ah dari Ibnu Sirrin, beliau berkata kepada seseorang yang mengajak beliau untuk berdebat,

“Aku mengerti apa yang engkau inginkan; dan sebenarnya aku lebih pandai bersilat lidah daripada kamu, tetapi aku tidak berselera untuk berdebat denganmu.”

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitab beliau Fadlu Ilmi Salaf menegaskan ketentuan ini dan membantah orang yang menuduh bahwa generasi salaf (karena tidak banyak bicara) sebagai orang yang lemah dan bodoh. Beliau berkata,

“Sungguh telah terfitnah orang banyak dari generasi kiwari ini dengan penyakit suka bedebat atau berbantah-bantahan. Mereka menyangka bahwa orang yang banyak bicara dan berdebat dalam masalah agama adalah lebih alim dari orang yang tidak banyak bicara dan berdebat. Hal ini sangat bodoh karena komentar-komentar generasi tabi’in lebih banyak dari pada komentar para sahabat, padahal para sahabat lebih alim dari tabi’in; dan begitu pula komentar-komentar generasi tabiut tabi’in lebih banyak dari generasi tabi’in, padahal generasi tabi’in lebih alim dari generasi tabiut tabi’in.”

Maka banyaknya ilmu itu tidak bisa diukur dengan banyaknya komentar dan riwayat, karena ilmu itu adalah merupakan cahaya yang terpendam di hati. Dengan ilmu itu seseorang dapat memahami kebenaran dan dapat membedakan antara yang haq dan yang bathil dan kemudian dengan ilmunya dia bisa mengungkapkan secara ringkas dan mudah difahami. Rasulullah sendiri adalah orang yang diberikan oleh Allah, jawaami’ul kalim (ucapan-ucapan ringkas dan padat) dan berkata dengan perkataan yang pendek. Oleh karenanya terdapat larangan dari Rasulullah agar jangan banyak bicara dan menyibukkan diri dengan qila wa qola (yakni menyebarkan berita yang belum pasti dan tidak berguna).

Maka menjadi sebuah keharusan untuk meyakini bahwa tidak mesti orang yang lebih banyak ulasannya terhadap suatu ilmu lebih alim dari orang yang tidak banyak berkomentar. Dan sungguh sekarang ini kita telah tertimpa musibah berupa banyaknya orang-orang bodoh yang yakin bahwa sebagian orang yang banyak mengeluarkan analisa dan pendapat lebih alim daripada ulama-ulama salaf. Ini adalah merupakan pelecehan berat terhadap salafus shalih, berburuk sangka kepada mereka dan memberikan predikat buruk kepada mereka berupa kejahilan dan minimnya ilmu.

Faktor Diamnya Para Salaf Dari Perdebatan Atau Berbantah-Bantahan

Para salafus shalih senantiasa menjauhi debat atau berbantah-bantahan tentang masalah agama, karena banyak debat itu akan mendatangkan musibah berupa kegoncangan hati, sehingga hati tersebut tidak bisa kokoh untuk berpijak di atas suatu prinsip. Sebagaimana dinukil oleh Imam al-Ajuri dari Umar bin Abdul Aziz yang berkata bahwa barang siapa suka berdebat maka dia akan sering berubah prinsip.

Selain itu banyak berdebat akan membawa seseorang terjerumus ke dalam kesesatan dan kerancuan antara yang haq dan yang bathil. Sehingga Imam Abu Qilabah berkata sebagaimana dinukil oleh al-Ajuri di dalam kitab As-Syari’ah,

“Janganlah kalian berbincang-bincang tentang masalah agama dengan ahli bid’ah. Dan jangan pula melakukan perdebatan dengan mereka, karena tidak akan menjamin kalian bisa selamat dari keburukan mereka. Juga karena mereka akan berusaha membenamkan kalian kedalaam lumpur kesesatan dan membuat kalian bingung serta ragu terhadap sebagian urusan agama kalian sebagaimana halnya mereka.”

Dan begitu pula perdebatan akan mengakibatkan timbulnya rasa kebencian dan permusuhan di hati. Imam Malik menuturkan dalam kitab al-Ibanah bahwa berbantah-bantahan tentang sebuah ilmu akan menyebabkan hati menjadi keras dan memicu timbulnya kedengkian.

Perincian Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Tentang Manhaj Ini

Syaikhul Islam Ibnu Taimi menjelaskan bahwa salafus shalih adalah orang-orang yang tidak menyukai debat dan perselisihan dalam agama, namun demikian terkadang mereka mau berdebat dan adu hujjah, jika memang dibutuhkan dan terpaksa atau dalam rangka mengenyahkan kerusakan dan kebathilan.

Beliau berkata lagi di dalam kitab Darut Ta’arud an Naqli wal ‘Aqli, bahwa sesuatu yang tercela menurut kacamata syar’i adalah sesuatu yang dicela oleh Allah dan Rasul-Nya, seperti debat dalam rangka membenarkan yang bathil dan debat kusir (tanpa ilmu) dan mendiskusikan sebuah kebenaran yang jelas dan gamblang (seperti wajibnya shalat dan lain-lain).

Adapun debat yang sesuai syari’at (dalam rangka mendakwahi orang-orang jahil, atau dalam rangka sama-sama mencari kebenaran) adalah yang diperintahkan Allah seperti dalam firman-Nya,

“Mereka berkata, Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami.” (QS. Hud:32)

Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Rabbmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS. al-An’am:83)

Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Rabbnya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan)? Ketika Ibrahim mengatakan, Rabbku ialah yang menghidupkan dan mematikan, orang itu berkata, Saya dapat menghidupkan dan mematikan. Ibrahim berkata, Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat, lalu heran terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. al-Baqarah:258)

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.” (QS. an-Nahl:125)

…dan ayat-ayat lain yang semisalnya. Bahkan justru merupakan sesuatu yang wajib atau mustahab (yang dianjurkan). Jidal (adu hujjah) seperti ini tidaklah dilarang dan dicela oleh syari’at.

Beliau juga berkata,

“Jadi,yang dimaksud larangan para salaf dalam berdebat adalah yang dilakukan oleh orang yang tidak memenuhi syarat untuk melakukan perdebatan (kurang ilmu dan lain-lain) atau perdebatan yang tidak mendatangkan kemaslahatan yang pasti; berdebat dengan orang yang tidak menginginkan kebenaran, serta berdebat untuk saling unjuk kebolehan dan saling mengalahkan yang berujung dengan ujub (bangga diri) dan kesombongan.

Jidal (adu hujjah) adalah masalah yang hukumnya belum pasti; dan untuk menentukan hukum tentang masalah ini, tergantung kepada kondisi yang ada. Sedangkan debat yang sesuai dengan syari’at, maka hukumnya terkadang wajib dan terkadang mustahab.

Kesimpulannya, debat itu terkadang terpuji dan terkadang tercela; terkadang membawa mafsadat (kerusakan) dan terkadang membawa mashlahat (kebaikan); terkadang merupakan sesuatu yang haq dan terkadang merupakan sesuatu yang bathil.”

[Diringkas dan diterjemahkan dari tulisan Dr.‘Adil al-Muthayyarot dalam Majalatil Furqaan ‘adad 227]

Sumber:
http://www.mail-archive.com/fupm-ejip@usahamulia.net/msg00697.html

ETIKA BERGAUL (bag. 2 habis)

Sikap-Sikap Yang Disukai Manusia Dan Sikap-Sikap Yang Tidak Disukai Manusia

diambil dari almanhaj.or.id

Oleh
Ustadz Fariq bin Gasim Anuz
Bagian Terkahir dari Dua Tulisan 2/2

SIKAP-SIKAP YANG DISUKAI MANUSIA
[a]. Manusia Suka Kepada Orang Yang Memberi Perhatian Kepada Orang Lain.

Diantara bentuk perhatian kepada orang lain, ialah mengucapkan salam, menanyakan kabarnya, menengoknya ketika sakit, memberi hadiah dan sebagainya. Manusia itu membutuhkan perhatian orang lain. Maka, selama tidak melewati batas-batas syar’i, hendaknya kita menampakkan perhatian kepada orang lain. seorang anak kecil bisa berprilaku nakal, karena mau mendapat perhatian orang dewasa. orang tua kadang lupa bahwa anak itu tidak cukup hanya diberi materi saja. Merekapun membutuhkan untuk diperhatikan, ditanya dan mendapat kasih sayang dari orang tuanya. Apabila kasih sayang tidak didapatkan dari orang tuanya, maka anak akan mencarinya dari orang lain.

[b]. Manusia Suka Kepada Orang Yang Mau Mendengar Ucapan Mereka.

Kita jangan ingin hanya ucapan kita saja yang didengar tanpa bersedia mendengar ucapan orang lain. kita harus memberi waktu kepada orang lain untuk berbicara. Seorang suami –misalnya-ketika pulang ke rumah dan bertemu istrinya, walaupun masih terasa lelah, harus mencoba menyediakan waktu untuk mendengar istrinya bercerita. Istrinya yang ditinggal sendiri di rumah tentu tak bisa berbicara dengan orang lain. Sehingga ketika sang suami pulang, ia merasa senang karena ada teman untuk berbincang-bincang. Oleh karena itu, suami harus mendengarkan dahulu perkataan istri. Jika belum siap untuk mendengarkannya, jelaskanlah dengan baik kepadanya, bahwa dia perlu istirahat dulu dan nanti ceritanya dilanjutkan lagi.

Contoh lain, yaitu ketika teman kita berbicara dan salah dalam bicaranya itu, maka seharusnya kita tidak memotong langsung, apalagi membantahnya dengan kasar. kita dengarkan dulu pembicaraannya hingga selesai, kemudian kita jelaskan kesalahannya dengan baik.

[c]. Manusia Suka Kepada Orang Yang Menjauhi Debat Kusir.

Allah berfirman. “Artinya: “Serulah kepada jalan Rabbmu dengan hikmah, dan nasehat yang baik, dan debatlah mereka dengan cara yang baik,” Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah dalam kasetnya, menerangkan tentang ayat : “Serulah kepada jalan Rabbmu dengan hikmah”. Beliau berkata, “manusia tidak suka kepada orang yang berdiskusi dengan hararah (dengan panas). Karena umumnya orang hidup dengan latar belakang……..dan pemahaman yang berbeda dengan kita dan itu sudah mendarah daging……..sehinnga para penuntut ilmu, jika akan berdiskusi dengan orang yang fanatik terhadap madzhabnya, (maka) sebelum berdiskusi dia harus mengadakan pendahuluan untuk menciptakan suasana kondusif antara dia dengan dirinya. target pertama yang kita inginkan ialah agar orang itu mengikuti apa yang kita yakini kebenarannya, tetapi hal itu tidaklah mudah. Umumnya disebabkan fanatik madzhab, mereka tidak siap mengikuti kebenaran. target kedua, minimalnya dia tidak menjadi musuh bagi kita. Karena sebelumnya tercipta suasana yang kondusif antara kita dengan dirinya. Sehingga ketika kita menyampaikan yang haq, dia tidak akan memusuhi kita disebabkan ucapan yang haq tersebut. Sedangkan apabila ada orang lain yang ada yang berdiskusi dalam permasalahan yang sama, namun belum tercipta suasana kondusif antara dia dengan dirinya, tentu akan berbeda tanggapannya.

[d]. Manusia Suka Kepada Orang Yang Memberikan Penghargaan Dan Penghormatan Kepada Orang Lain.

Nabi mengatakan, bahwa orang yang lebih muda harus menghormati orang yang lebih tua, dan yang lebih tua harus menyayangi yang lebih muda. Permasalahan ini kelihatannya sepele. Ketika kita shalat di masjid……namun menjadikan seseorang tersinggung karena dibelakangi. Hal ini kadang tidak sengaja kita lakukan. Oleh karena itu, dari pengalaman kita dan orang lain, kita harus belajar dan mengambil faidah. Sehingga bisa memperbaiki diri dalam hal menghormati orang lain. Hal-hal yang membuat diri kita tersinggung, jangan kita lakukan kepada orang lain. Bentuk-bentuk sikap tidak hormat dan pelecehan, harus kita kenali dan hindarkan.

Misalnya, ketika berjabat tangan tanpa melihat wajah yang diajaknya. Hal seperti itu jarang kita lakukan kepada orang lain. Apabila kita diperlakukan kurang hormat, maka kita sebisa mungkin memakluminya. Karena-mungkin-orang lain belum mengerti atau tidak menyadarinya. Ketika kita memberi salam kepada orang lain, namun orang tersebut tidak menjawab, maka kita jangan langsung menuduh orang itu menganggap kita ahli bid’ah atau kafir. Bisa jadi, ketika itu dia sedang menghadapi banyak persoalan sehingga tidak sadar ada yang memberi salam kepadanya, dan ada kemungkinan-kemungkinan lainnya. Kalau perlu didatangi dengan baik dan ditanyakan,agar persoalannya jelas. Dalam hal ini kita dianjurkan untuk banyak memaafkan orang lain.

Allah berfirman.
“Artinya: “Terimalah apa yang mudah dari akhlaq mereka dan perintahkanlah orang lain mengerjakan yang ma’ruf serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” [Al-A’raaf : 199]

[e]. Manusia Suka Kepada Orang Yang Memberi Kesempatan Kepada Orang Lain Untuk Maju.

Sebagai seorang muslim, seharusnya senang jika saudara kita maju, berhasil atau mendapatkan kenikmatan, walaupun secara naluri manusia itu tidak suka, jika ada orang lain yang melebihi dirinya. Naluri seperti ini harus kita kekang dan dikikis sedikit demi sedikit. Misalnya, bagi mahasiswa. Jika di kampus ada teman muslim yang lebih pandai daripada kita. Maka kita harus senang. Jika kita ingin seperti dia, maka harus berikhtiar dengan rajin belajar dan tidak bermalas-malasan. Berbeda dengan orang yang dengki, tidak suka jika temannya lebih pandai dari dirinya. Malahan karena dengkinya itu dia bisa-bisa memboikot temannya dengan mencuri catatan pelajarannya dan sebagainya.

[f]. Manusia Suka Kepada Orang Yang Tahu Berterima Kasih Atau Suka Membalas Kebaikan.

Hal ini bukan berarti dibolehkan mengharapkan ucapan terima kasih atau balasan dari manusia jika kita berbuat kebaikan terhadap mereka. Akan tetapi hendaklah tidak segan-segan untuk mengucapkan terima kasih dan membalas kebaikan yang diberikan orang lain kepada kita.

[g]. Manusia Suka Kepada Orang Yang Memperbaiki Kesalahan Orang Lain Tanpa Melukai Perasaannya.

Kita perlu melatih diri untuk menyampaikan ungkapan kata-kata yamg tidak menyakiti perasaan orang lain dan tetapSampai kepada tujuan yang diinginkan. Dalam sebuah buku diceritakan, ada seorang suami yang memberikan ceramah dalam suatu majelis dengan bahasa yang cukup tinggi, sehingga tidak bisa dipahami oleh yang mengikuti majelis tersebut. Ketika pulang, dia menanyakan pendapat istrinya tentang ceramahnya. Istrinya menjawab dengan mengatakan, bahwa jika ceramah tersebut disampaikan di hadapan para dosen, maka tentunya akan tepat sekali.

Ucapan itu merupakan sindiran halus, bahwa ceramah itu tidak tepat disampaikan di hadapan hadirin saat itu, dengan tanpa mengucapkan perkataan demikian. Hal ini bukan berarti kita harus banyak berbasa-basi atau bahkan membohongi orang lain. Namun hal ini agar tidak melukai perasaan orang, tanpa kehilangan maksud untuk memperbaikinya.

SIKAP-SIKAP YANG TIDAK DISUKAI MANUSIA
Kita mempelajari sikap-sikap yang tidak disukai manusia agar terhindar dari sikap seperti itu. Maksud dari sikap yang tidak disukai manusia, ialah sikap yang menyelisihi syariat. berkaitan dengan sikap-sikap yang tidak disukai manusia, tetapi Allah ridho, maka harus kita utamakan. Dan sebaliknya, terhadap sikap-sikap yang dibenci oleh Allah, maka harus kita jauhi.

Adapun perbuatan-perbuatan yang tidak disukai manusia ialah sebagai berikut.

Pertama.
Memberi Nasehat Kepadanya Di Hadapan Orang Lain.

Al Imam Asy Syafii berkata dalam syairnya yang berbunyi.

Sengajalah engkau memberi nasehat kepadaku ketika aku sendirian
Jauhkanlah memberi nasehat kepadaku dihadapan orang banyak
Karena sesungguhnya nasehat yang dilakukan dihadapan manusia
Adalah salah satu bentuk menjelek – jelekkan
Aku tidak ridho mendengarnya
Apabila engkau menyelisihiku dan tidak mengikuti ucapanku
Maka janganlah jengkel apabila nasehatmu tidak ditaati

Kata nasehat itu sendiri berasal dari kata nashala, yang memiliki arti khalasa, yaitu murni. Maksudnya, hendaklah jika ingin memberikan nasehat itu memurnikan niatnya semata –mata karena Allah. Selain itu, kata nasehat juga bermakna khaththa, yang artinya menjahit. Maksudnya, ingin memperbaiki kekurangan orang lain. maka secara istilah, nasehat itu artinya keinginan seseorang yang memberi nasehat agar orang yang diberi nasehat itu menjadi baik.

Kedua.
Manusia Tidak Suka Diberi Nasehat Secara Langsung.

Hal ini dijelaskan Al Imam Ibn Hazm dalam kitab Al Akhlaq Was Siyar Fi Mudawatin Nufus, hendaklah nasehat yang kita berikan itu disampaikan secara tidak langsung. Tetapi, jika orang yang diberi nasehat itu tidak mengerti juga, maka dapatlah diberikan secara langsung.

Ada suatu metoda dalam pendidikan, yang dinamakan metoda bimbingan secara tidak langsung. Misalnya sebuah buku yang ditulis oleh Syaikh Shalih bin Humaid, imam masjidil Haram, berjudul At Taujihu Ghairul Mubasyir (bimbingan secara tidak langsung).

Metoda ini perlu dipraktekkan, walaupun tidak mutlak. Misalnya, ketika melihat banyak kebid’ahan yang dilakukan oleh seorang ustadz di suatu pengajian, maka kita tanyakan pendapatnya dengan menyodorkan buku yang menerangkan kebid’ahan-kebid’ahan yang dilakukannya.

Ketiga.
Manusia Tidak Suka Kepada Orang Yang Selalu Memojokkannya Dengan Kesalahan – Kesalahannya.

Yang dimaksud dengan kesalahan-kesalahan disini, yaitu kesalahan yang tidak fatal; bukan kesalahan yang besar semisal penyimpangan dalam aqidah. Karena manusia adalah makhluk yang banyak memiliki kekurangan-kekurangan pada dirinya.

Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alus Syaikh menjelaskan dalam ceramahnya, bahwa ada empat fenomena yang mengotori dakwah Ahlu Sunnah Wal Jamaah.

[1]. Memandang sesuatu hanya dari satu sisi, yaitu hanya dalam masalah-masalah ijtihadiyah.
[2]. Isti’jal atau terburu-buru.
[3]. Ta’ashub atau fanatik.
[4]. Thalabul kamal atau menuntut kesempurnaan.

Syaikh Shalih menjelaskan, selama seseorang berada di atas aqidah yang benar, maka kita seharusnya saling nasehat-menasehati, saling mengingati antara satu dengan yang lain. bukan saling memusuhi. Rasulullah bersabda yang artinya, “janganlah seorang mukmin membenci istrinya, karena jika dia tidak suka dengan satu akhlaknya yang buruk, dia akan suka dengan akhlaqnya yang baik.

Imam Ibn Qudamah menjelaskan dalam kitabMukhtasar Minhajul Qashidin, bahwa ada empat kriteria yang patut menjadi pedoman dalam memilih teman.

[1]. Aqidahnya benar.
[2]. Akhlaqnya baik.
[3]. Bukan dengan orang yang tolol atau bodoh dalam hal berprilaku. Karena dapat menimbulkan mudharat.
[4]. Bukan dengan orang yang ambisius terhadap dunia atau bukan orang yang materialistis.

Keempat.
Manusia Tidak Suka Kepada Orang Yang Tidak Pernah Melupakan Kesalahan Orang Lain.

Sebagai seorang muslim, kita harus bisa memafkan dan melupakan kesalahan orang lain atas diri kita. tidak secara terus-menerus mengungkit-ungkit, apalagi menyebut-nyebutnya di depan orang lain. terkadang pada kondisi tertentu, membalas kejahatan itu bisa menjadi suatu keharusan atau lebih utama. Syaikh Utsaimin dalam kitab Syarh Riyadush Shalihin menjelaskan, bahwa memaafkan dilakukan bila terjadi perbaikan atau ishlah dengan pemberian maaf itu. Jika tidak demikian, maka tidak memberi maaf lalu membalas kejahatannya.

Kelima.
Manusia Tidak Suka Kepada Orang Yang Sombong.

Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk surga, barang siapa yang di dalam hatinya ada sifat sombong, walau sedikit saja…….. ” sombong itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain. ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan manusia menjadi sombong.

[1]. Harta atau uang .
[2]. Ilmu.
[3]. Nasab atau keturunan.

Keenam
Manusia Tidak Suka Kepada Orang Yang Terburu-Buru Memvonis Orang Lain.

Dr. Abdullah Al Khatir rahimahullah menjelaskan, bahwa di masyarakat ada fenomena yang tidak baik. Yaitu sebagian manusia menyangka, jika menemukan orang yang melakukan kesalahan, mereka menganggap, bahwa cara yang benar untuk memperbaikinya, ialah dengan mencela atau menegur dengan keras. Padahal para ulama memilik kaedah, bahwa hukum seseorang atas sesuatu, merupakan cabang persepsinya atas sesuatu tersebut.

Ketujuh.
Manusia Tidak Suka Kepada Orang Yang Mempertahankan Kesalahannya, Atau Orang Yang Berat Untuk Rujuk Kepada Kebenaran Setelah Dia Meyakini Kebenaran Tersebut.

Syaikh Abdurrahman bin Yahya Al Mu’allimi rahimahullah berkata, “pintu hawa nafsu itu tidak terhitung banyaknya”. oleh karena itu, kita harus berusaha menahan hawa nafsu dan menundukkannya kepada kebenaran. Sehingga lebih mencintai kebenaran daripada hawa nafsu kita sendiri.

Kedelapan.
Manusia Tidak Suka Kepada Orang Yang Menisbatkan Kebaikan Kepada Dirinya Dan Menisbatkan Kejelekan Kepada Orang Lain.

Syaikh Utsaimin rahimahullah dalam kasetnya yang menjelaskan syarh Hilyatul ‘ilm, tentang adab ilmu. Beliau menjelaskan, bahwa jika kita mendapati atsar dari salaf yang menisbatkan kebaikan kepada dirinya, maka kita harus husnudzan. Bahwa hal itu diungkapkan bukan karena kesombongan, tetapi untuk memberikan nasehat kepada kita.

Dalam kitab Ighasatul Lahfan, Al Imam Ibn Qayyim menjelaskan, bahwa manusia diberi naluri untuk mencintai dirinya sendiri. Sehingga apabila terjadi perselisihan dengan orang lain, maka akan menganggap dirinya yang berada di pihak yang benar, tidak punya kesalahan sama sekali. sedangkan lawannya, berada di pihak yang salah. Dia merasa dirinya yang didhalimi dan lawannyalah yang berbuat dhalim kepadanya. Tetapi, jika dia memperhatikan secara mendalam, kenyataannya tidaklah demikian.

Oleh karena itu, kita harus terus introspeksi diri dan hati-hati dalam berbuat. Agar bisa menilai apakah langkah kita sudah benar. Wallahu a’lam.

[Sumber : Majalah As-Sunnah edisi 03 – 04/ V11/ 1424/ 2003 M. Diterbitkan oleh Yayasan Lajnah Istiqomah, Jl Solo Purwodadi Km 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183]

Untuk yang Sehati

Bercita-cita mengamalkan Islam secara utuh adalah suatu hal yang wajib bagi setiap muslim....
Namun bila belum mampu seluruhnya, jangan ditinggalkan semuanya....Karena Alloh Subhanahu wata'ala tidak membebani seseorang kecuali sesuai kemampuan maksimal yang dimiliki...

Buat diriku & dirimu

....Jangan pernah merasa cukup untuk belajar Islam, karena semakin kita tahu tentang Islam, semakin kita tahu tentang diri kita (...seberapa besar iman kita, ...seberapa banyak amal kita,....seberapa dalam ilmu kita, dan sebaliknya...seberapa besar kemunafikan kita, ...seberapa banyak maksiat kita, ...seberapa jauh kedunguan kita)
....Barangsiapa mengenal dirinya, maka semakin takut ia kepada Alloh Subhaanahu wata'ala

Do’a kita

Semoga Alloh Subhaanahu wata'ala meneguhkan hati kita dalam Islam hingga maut menjemput kita,...aamiin

Kalender

Februari 2010
S M S S R K J
« Jan   Mar »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728  

Total Pengunjung

  • 207,978 klik