Kedua: Bersatunya Benda dan Rohani

Kedua: Bersatunya Benda dan Rohani

Islam tidak memberikan garis pemisah antara benda dan rohani. Islam memandang hidup ini
sebagai satu kesatuan yang mencakup kedua-duanya, sehingga Islam tidak merupakan
penghalang antara manusia dan kepentingan hidupnya, bahkan Islam mengatur seluruh urusan
hidup. Islam tidak mengakui adanya larangan dan tidak menuntut supaya orang menjauhi
kehidupan materi. Bahkan Islam menunjukkan jalan ke arah kesempurnaan rohani bukan dengan
jalan menjauhi kehidupan materi. Bahkan Islam menunjukkan jalan ke arah kesempurnaan rohani
bukan dengan jalan menjauhkan diri dari kehidupan duniawi, tetapi dengan jalan taqwa kepada
Allah dalam seluruh kebutuhan hidup yang beraneka-ragam, sebagaimana dihikayatkan dalam Al-
Qur’an mengenai hamba-hamba Allah yang saleh:
Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Tuhan-Ku! Berikanlah kepada kami
kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan jagalah kami dari siksa neraka.
Mereka itulah yang mendapat bagian (pahala) dari apa yang mereka lakukan, dan
Allah itu cepat hisab-Nya — Al-Baqarah 201-202.
Malah Al-Qur’an mencela orang-orang yang tidak memanfaatkan ni’mat harta kurnia Allah:
Katakanlah, siapa yang melarang perhiasan Allah yang dikeluarkan-Nya untuk
hamba-hamba-Nya dan rizqi yang baik-baik. Katakanlah, itu untuk orang-orang
yang beriman dalam kehidupan dunia, khususnya pada hari kiamat. Begitulah Aku
menjelaskan ayat-ayat-Ku untuk orang-orang yang mengetahui — Al-A’raf 32.
Akan tetapi dalam pada itu Islam menuntut supaya para penganutnya menjadi ummat yang
sedang-sedang dalam kehidupan dunia:
Hai turunan Adam! Kenakanlah pakaian kamu pada setiap kali kamu
bersembahyang di mesjid dan makan minumlah kamu dan janganlah kamu
berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak senang kepada orang-orang yang suka
berlebih-lebihan. – Al-A’raf 31.
Dan sabda Rasulullah saw.:
Orang mukmin yang bergaul dalam masyarakat dan tabah atas segala rintangan
adalah lebih baik daripada orang mukmin yang tidak bergaul dan tidak tabah/tidak
sabar atas rintangan. – Riwayat Bukhari.
Rasulullah saw. pernah bersabda yang ditujukan kepada Abdullah bin Umar bin ‘Ash:
Aku mendapat kabar bahwa engkau berpuasa tanpa berbuka dan melakukan
sembahyang sepanjang malam. Janganlah engkau berbuat begitu, sebab matamu
juga harus dapat bagian, dirimu harus dapat bagian dan istrimu juga harus dapat
bagian. Oleh karena itu, berpuasalah dan berbuka, bersembahyanglah dan tidur. –
Riwayat Muslim.
Dalam kesempatan lain, Rasulullah saw. bersabda:
Tiga perkara termasuk Iman, memberi nafkah tanpa terlalu beririt-irit,
mengusahakan keselamatan untuk semua orang dan menginsafi dirimu sendiri. –
Riwayat Muslim.
Jadi Islam itu tidak membuat garis pemisah antara kepentingan kebendaan dan kepentingan
kerohanian dalam kehidupan manusia, bahkan Islam menjalin kedua-duanya, sehingga terbukalah
jalan hidup yang sesuai dengan kemampuan orang atas dasar yang shah dan baik. Islam
mengajarkan bahwa kebendaan dan kerohanian adalah dua hal yang selalu harus berdampingan
dan bahwasanya kesucian rohani dapat terhindar dari keburukan, apabila sumber-sumber
kebendaan dibaktikan untuk kepentingan kemanusiaan. Kesucian rohani tidak akan tercapai
dengan jalan menyiksa diri, menjauhkan diri dari kehidupan duniawi dan menekan naluri
kemanusiaan. Dunia ini telah cukup menderita, akibat ajaran-ajaran yang berat sebelah dari
agama dan ideologi lain. Ada agama yang menekankan ajarannya kepada segi kerohanian saja
dalam hidup ini, dan bersikap masa bodoh terhadap benda dan kehidupan duniawi. Mereka
memandang dunia ini sebagai khayalan penipuan dan perangkap. Di lain pihak, ada ideologi
materialistis yang sepenuhnya bersikap masa bodoh terhadap segi kerohanian dan moral serta
menganggapnya sebagai khayalan semata-mata. Kedua macam ajaran/pendirian ini telah
menimbulkan kerusakan/kehancuran. Mereka telah merampas keamanan, kepuasan dan
ketenangan manusia. Sampai sekarang tetap menimbulkan ketidak seimbangan.
Seorang sarjana Perancis Dr. De Brogbi dengan tepat menyatakan:
“Bahaya yang mengancam kebudayaan yang terlalu menitik-beratkan kebendaan
ialah kehancuran kebudayaan itu sendiri. Kebudayaan semacam itu kalau tidak
disusul dengan perkembangan kehidupan rohani, pasti gagal membuat
keseimbangan.”
Agama Kristen tersesat dengan terlalu menekankan ajarannya kepada salah satu extrimitas, yakni
kerohanian, sedangkan kebudayaan modern tersesat pada extrimitas yang lain, yakni kebendaan.
Seperti kata Lord Snell: “Kita telah mendirikan bangunan yang lahirnya memang mewah dan
megah, tapi kita tidak memperhatikan tuntutan pokok yang harus menjadi isinya. Kita dengan
sepenuh perhatian membuat rencana, dekorasi dan membersihkan semua bagian luar bangunan
kita, akan tetapi bagian dalamnya penuh dengan pemerasan dan pelanggaran. Kita telah
mempergunakan kemajuan pengetahuan dan kekuatan untuk mengatur kesenangan badan, tapi
kita telah meninggalkan segala kepentingan rohani.”
Agama Islam telah membina keseimbangan antara kedua segi kehidupan: kebendaan dan
kerohanian. Islam menyatakan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini untuk manusia, akan
tetapi manusia sendiri untuk mengabdi kepada Tuhan; tugas kehidupannya ialah melaksanakan
kehendak Tuhan. Ajaran-ajaran Islam mendorong manusia ke arah kebersihan rohani, sama seperti
dorongannya untuk mendapatkan kebutuhan hidupnya di dunia yang bersifat sementara ini. Islam
menyuruh manusia supaya membersihkan jiwanya, sekaligus membentuk atau membangun
kehidupan dunianya, perseorangan maupun masyarakat, dan supaya membina hak/kebenaran atas
kekuasaan dan kebajikan atas kejahatan. Jadi, Islam itu berdiri di atas jalan tengah.

<<sebelumnya Daftar Isi berikutnya>>

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Untuk yang Sehati

Bercita-cita mengamalkan Islam secara utuh adalah suatu hal yang wajib bagi setiap muslim....
Namun bila belum mampu seluruhnya, jangan ditinggalkan semuanya....Karena Alloh Subhanahu wata'ala tidak membebani seseorang kecuali sesuai kemampuan maksimal yang dimiliki...

Buat diriku & dirimu

....Jangan pernah merasa cukup untuk belajar Islam, karena semakin kita tahu tentang Islam, semakin kita tahu tentang diri kita (...seberapa besar iman kita, ...seberapa banyak amal kita,....seberapa dalam ilmu kita, dan sebaliknya...seberapa besar kemunafikan kita, ...seberapa banyak maksiat kita, ...seberapa jauh kedunguan kita)
....Barangsiapa mengenal dirinya, maka semakin takut ia kepada Alloh Subhaanahu wata'ala

Do’a kita

Semoga Alloh Subhaanahu wata'ala meneguhkan hati kita dalam Islam hingga maut menjemput kita,...aamiin

Kalender

Februari 2010
S M S S R K J
« Jan   Mar »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728  

Total Pengunjung

  • 203,455 klik
%d blogger menyukai ini: