Dasar-dasar kepercayaan Islam

Dasar-dasar kepercayaan Islam

Konsep yang pokok dalam Islam ialah bahwasanya seluruh alam ini, Tuhanlah yang telah
menjadikan, menguasai dan mengawasinya, bahwasanya Dia adalah Maha Tunggal, tidak ada yang
menyertai dalam kesucian-Nya. Dia telah menciptakan manusia dan menentukan ajalnya, dan
bahwasanya Allah s.w.t. telah menyediakan untuk seluruh alam jalan hidup yang lurus, sekaligus
memberikan kebebasan mutlak kepada hamba-Nya untuk mengikuti atau mengingkarinya. Barang
siapa yang mengikuti jalan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang Muslimin dan Mukminin,
dan barangsiapa yang tidak mengikutinya, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir yang
mengingkari kebenaran.
Orang telah memeluk Islam, apabila ia telah menyaksikan dengan sepenuh keimanan atas ke-
Esaan Allah dan bahwa Muhammad s.a.w. adalah Rasulullah. Kedua kepercayaan ini tersimpul
dalam kalimat:
Tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah Utusan Allah.
Bagian pertama kalimat ini memberikan konsep Tauhid (ke-Esaan Tuhan), dan bagian kedua adalah
kesaksian atas kerasulan Muhammad s.a.w.
Tauhid adalah akidah revolusioner yang menjiwai seluruh ajaran Islam; akidah yang meyakinkan
bahwasanya seluruh alam ini kepunyaan Tuhan Yang Maha Esa dan seluruhnya berada di bawah
kekuasaan-Nya, Dzat yang Azaly, tiada permulaan dalam wujudnya, tidak dibatasi tempat dan
waktu, mengatur seluruh dunia dengan segenap manusia yang ada di atasnya.
Sesungguhnya, adalah benar-benar merupakan keajaiban, apabila orang memperhatikan tentang
penciptaan alam yang tidak ada henti-hentinya dengan pengaturan yang pasti, terarah dan serasi,
serta kemampuannya untuk mempertahankan apa yang bermanfaat dan menghukum apa yang
berbahaya bagi kemanusiaan. Semua itu memberikan kesimpulan bahwa dibalik alam ini ada satu
Kekuatan yang terus menerus aktif menciptakan perkembangan alam tanpa pengumuman! Itu
bintang-bintang yang memenuhi angkasa luas dan pemandangan alam yang memikat hati,
perputaran matahari dan bulan yang menakjubkan, pergantian musim, pergantian siang dan
malam, sumber-sumber air yang tak kunjung kering, bunga-bunga yang halus dan cahaya bintangbintang
yang gemerlapan. Bukankah semua itu menunjukkan adanya Dzat Yang Maha Kuasa yang
telah menjadikannya dan menguasai segala keadaan? Kalau kita perhatikan alam ini secara
keseluruhan, ternyatalah kepada kita adanya tata-cara yang teratur. Apakah yang demikian itu
tidak menunjukkan atas adanya Tuhan? Dapatkah semua itu terjadi secara kebetulan?
Sungguh benar firman Allah s.w.t.:
Hai sekalian manusia! Sembahlah Tuhan kamu yang telah menjadikan kamu dan
orang-orang yang sebelum kamu, supaya kamu dapat menjaga diri. Tuhan yang
telah menjadikan buat kamu bumi yang menghampar dan langit yang memayung,
dan Dia telah menurunkan air dan langit, lalu dengan air itu Dia mengeluarkan
buah-buahan sebagai rizqi buat kamu. Maka oleh karena itu, janganlah kamu
menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui. (Al-
Baqarah 21-22)
Itulah akidah asasi (kepercayaan pokok) yang diserukan oleh Muhammad s.a.w. kepada seluruh
ummat manusia, supaya menjadi pegangan hidupnya. Akidah ini logis dan menyeluruh, dapat
memecahkan segala persoalan alam, dan menunjukkan bahwa alam ini tunduk di bawah satu
hukum kekuasaan tertinggi. Akidah ini memberikan gambaran umum yang sesuai dengan
kenyataan bahwa seluruh isi alam ini satu sama lain saling melengkapi; berbeda sepenuhnya
dengan pandangan yang sepotong-potong dari ilmuwan dan para filsuf, dan dapat menyingkap
tabir rahasia/hakikat yang sebenarnya.
Setelah berabad-abad lamanya manusianberada dalam kegelapan, mulailah sekarang manusia
dapat menemukan hakikat itu sedikit demi sedikit berdasarkan konsep akidah ini, dan pikiran
ilmiah modern pun terus bergerak kearah ini.2 Akidah ini bukan sekedar konsep metaphisic atau
kumpulan kata-kata yang tidak berarti. Akidah ini adalah suatu kepercayaan yang dynamis dan
doktrin yang revolusioner. Akidah ini mengandung pengertian bahwa semua manusia adalah
ciptaan Allah dan semua mereka adalah sama. Sikap-sikap diskriminatif berdasarkan warna kulit,
kelas-kelas sosial, suku bangsa, bangsa atau daerah asal kelahiran itu tidak ada dasarnya, dan
sikap atau pandangan seperti itu adalah warisan zaman jahiliyah yang telah mengikat manusia
kepada perbudakan.
Manusia seluruhnya merupakan satu keluarga yang diurus Allah s.w.t., sehingga tidaklah
sepatutnya ada dinding pemisah di antara sesama mereka. Manusia semuanya sama, tidak ada
perbedaan golongan borjuis atau proletar, kulit putih atau kulit hitam, bangsa Aria atau bukan Aria,
orang Barat atau orang Timur. Islam telah memberikan konsep revolusioner tentang kesatuan
ummat manusia. Dan kebangkitan Rasulullah s.a.w. itu tidak lain hanya untuk mempersatukan
seluruh alam di bawah kalimat Allah, dan untuk membangkitkan kehidupan baru di dunia yang
sudah mati.
Firman Allah s.w.t.:
Berpegang teguhlah kamu sekalian kepada agama Allah dan janganlah kamu
bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepada kamu, tatkala kamu bermusuhmusuhan,
lalu Allah melembutkan hati kamu semua sehingga atas karunia-Nya
kamu menjadi bersaudara. (Ali Imran 103)
Akidah ini juga menjelaskan tentang hakikat kedudukan manusia dalam alam ini. Allah telah
menciptakan alam serta memeliharanya, dan manusia adalah khalifah atau wakil-Nya di atas
planet bumi ini. Dengan demikian, maka derajat manusia itu cukup tinggi, seharusnya mempunyai
pimpinan dunia modern, pasti dia berhasil menyelesaikan segala persoalannya dengan cara yang
dapat membawa dunia kepada kesejahteraan dan kebahagiaan. Saya berani meramalkan, bahwa
akidah yang dibawa oleh Muhammad akan diterima baik oleh Eropa di kemudian hari, sebagaimana
sekarang sudah mulai.3

<<sebelumnya Daftar Isi selanjutnya>>

Iklan

Mukaddimah

oleh Al-Ustadh Khursyid Ahmad
Islam adalah agama dari Tuhan, berisi tuntunan hidup yang diwahyukan kepada hambaNya untuk
seluruh ummat manusia. Karena untuk tegaknya kehidupan manusia di atas planet bumi ini
diperlukan dua hal:
Pertama: Terpenuhinya kebutuhan pokok berikut sumber-sumbernya untuk menjamin
kelangsungan hidup, dan kecukupan material yang dibutuhkan oleh perseorangan dan masyarakat.
Kedua: Mengetahui dasar-dasar pengetahuan tentang tata-cara hidup perseorangan dan
masyarakat-masyarakat, agar terjamin berlakunya keadilan dan ketentraman dalam masyarakat
dan kebudayaan.
Allah Rabbul-‘alamin telah menyediakan kedua macam kebutuhan itu secukupnya untuk manusia.
Untuk kebutuhan pertama, Allah s.w.t. telah menyediakan sumber-sumber alam dan
menyerahkannya kepada manusia untuk digali dan diolah. Dan untuk kebutuhan kedua, yakni
kebutuhan kejiwaan/rohani, kemasyarakatan dan kebudayaan, Allah s.w.t. telah memilih dan
mengangkat para Rasul yang diberi wahyu tentang peraturan hidup yang dapat membimbing
manusia menempuh jalan hidup yang lurus dan benar. Peraturan hidup itu ialah yang dinamakan
ISLAM, agama yang dibawa oleh semua Rasul.1 Semua Rasul itu telah mengajak manusia ke jalan
Tuhan al-Khaliq, yakni jalan tunduk kepada Allah s.w.t. Semua Rasul telah menyampaikan risalah
yang sama dan dakwah yang sama, yaitu Islam.
Islam dalam bahasa Arab, berarti tunduk dan menyerah atau taat. Sebagai satu agama, Islam
berdiri di atas dasar menyerahan diri sepenuhnya dan taat kepada AIlah s.w.t. Itulah pula
sebabnya, makanya agama ini dinamakan Islam.
Islam juga berarti selamat dan sejahtera. Pengertian ini menunjukkan bahwa, manusia tidak akan
dapat mencapai keselamatan dan kesejahteraan yang sebenarnya, kecuali dengan jalan
menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah s.w.t. Cara hidup seperti inilah, yang tetap di bawah
naungan ketaatan kepada Allah s.w.t., hidup yang selalu diliputi ketenangan jiwa bagi
perseorangan dan kesejahteraan/ketentraman bagi masyarakat.
Orang-orang yang beriman, yang berhati tenang dengan ingat kepada Allah.
Ingatlah bahwa hati akan tenang dengan mengingat Allah. Orang-orang yang
beriman dan beramal sholeh, kebahagiaanlah untuk mereka dan tempat kembali
(Surga) yang baik. (Ar-Ra’d, 28 – 29)
Itulah pokok seruan semua Rasul Allah untuk membawa alam kemanusiaan kepada jalan
kehidupan yang lurus. Tetapi manusia tidak selalu berada dalam jalan yang benar. Mereka kadangkadang
menyimpang dari bimbingan yang diberikan oleh para Rasul itu. Itulah sebabnya, maka ada
beberapa Rasul yang diutus guna memberikan kembali seruan/risalah yang asli dan membawa
manusia ke jalan yang benar. Rasul yang terakhir ialah Muhammad s.a.w. yang telah memberikan
bimbingan Allah s.w.t. dalam bentuknya yang final dan sempurna untuk segala zaman. Bimbingan
inilah yang sekarang dikenal sebagai Islam, terkandung dalam Kitab Suci Al-Qur’an dan contoh
kehidupan Rasulullah s.a.w.

<<sebelumnya Daftar Isi selanjutnya>>

Kata Pengantar

Al-Ustadh Ibrahim Ahmad Bawani
Orang tidak perlu memiliki kecerdasan yang luar biasa untuk mengetahui bahwa dunia luar Islam,
pada waktu ini telah lebih maju dari dunia Islam, karena mereka telah bekerja lebih bersemangat
dan lebih efisien dari pada dunia Islam. Mereka telah mampu menggali sumber-sumber kekayaan
alam dan menggunakannya dalam memenuhi kebutuhan ummat manusia, dengan cara yang tidak
pernah dimimpikan oleh orang-orang yang terdahulu. Merekapun telah pula dapat memberantas
sebagian besar dari tiga kelompok “musuh”, yaitu kemiskinan, penyakit dan kebodohan. Mereka
telah dapat mencapai puncak kehidupan dengan langkah-langkah yang menggetarkan.
Akan tetapi, apakah kemajuan dunia modern sekarang ini mampu menempatkan manusia di atas
jalan kehidupan yang sempurna? Dan apakah dunia modern telah berhasil menolong ummat
manusia untuk dapat mencapai tujuan hidupnya yang sebenarnya? Apakah dunia modern telah
berhasil mendatangkan kesejahteraan dan kebahagiaan yang telah lama didambakan oleh hati
nurani ummat manusia dari abad ke abad? Apakah dunia modern mampu mengangkat derajat
ummat manusia, sehingga lebih terjamin kebutuhan hidupnya, lebih baik keadaannya dan lebih
halus perasaannya? Dan apakah dunia modern berhasil mengangkat derajat ummat manusia dari
lembah kehidupan hewan?
Memang ada segelintir orang penduduk dunia Islam yang berhubungan dengan dunia Barat, boleh
jadi karena letaknya yang jauh atau karena pandangan yang keliru, terpengaruh jalan pikiran lama
dan perasaan rendah diri, telah merasa silau dengan cemerlangnya kemajuan dunia Barat. Yang
lebih mengherankan ialah pandangan sebagian mereka, seolah-olah itulah puncak kemajuan yang
mungkin dapat dicapai oleh uniniat manusia. Pandangan yang keliru itulah yang telah
menyebabkan mereka kehilangan keyakinan atas agama mereka dan dasar-dasar ajarannya. Dan
timbullah di kalangan mereka kata-kata sanjungan yang membabi-buta terhadap segala apa yang
datang dari dunia Barat, sekaligus mengkesampingkan cara hidup yang nampak tidak cocok
dengan cara hidup orang Barat. Mereka mengira bahwa agama merekalah yang telah
menyebabkan kemunduran, tidak mengikuti kemajuan zaman. Agama, menurut pandangan
mereka yang menganggap dirinya intelek, adalah sekumpulan dogma yang tidak masuk akal dan
takhayul. Sebaliknya, mereka memandang kemajuan Barat itu sebagai hasil kemajuan akal pikiran,
tanpa mereka sendiri menggunakan otaknya untuk membedakan mana yang baik dan mana yang
buruk.
Kalau saja ada di antara mereka, orang yang mau berpikir tentang persoalan yang sebenarnya,
pastilah dia menyadari bahwa pendapat sedemikian itu, biarpun umpamanya cocok dengan agama
lain, namun tidak cocok dengan agama Islam yang telah dibina di atas pikiran yang sehat dan
murni. Kenyataan membuktikan bahwa revolusi yang dicetuskan oleh Rasulullah s.a.w. dalam
sejarah berpikir keagamaan telah dimenangkannya bukan dengan cara-cara yang ajaib, akan tetapi
dengan keterangan-keterangan yang rasional meyakinkan. Al-Qur’an tidak membiarkan otak
manusia menjadi beku dan lumpuh, bahkan Al-Qur’an menunjukkan jalan ke arah pandangan yang
luas dalam cara berpikir. Kalau saja manusia mau, membebaskan akal pikirannya dari belenggu
hawa nafsu, niscayalah dengan petunjuk Allah dia akan sampai kepada kenyataan alam yang telah
dipersiapkan untuk membuktikan kebenaran yang dicarinya. Sebab segala yang ada di alam raya
ini, pergantian siang dan malam, keajaiban langit dan bumi yang tersusun dan teratur rapi
mempersonakan, semua itu menunjukkan bahwa kejadian alam semesta ini bukan hal yang
kebetulan, tapi atas kehendak Allah Yang Maha Suci. Sedangkan akal manusia yang dapat
mencapai pengertian yang sebenarnya, hanyalah akal yang murni dan suci, bukan akal yang
diliputi nafsu kehewanan yang rendah. Sungguh kebudayaan sekarang ini berbahaya bagi
kemanusiaan; kebudayaan yang membiarkan ummat manusia berpikir secara bebas mencari
kebenaran, suatu bahaya yang merusak dan menyesatkan, malah menyebabkan alam pikiran
manusia tunduk kepada nafsu-nafsu kehewanan.
Kemajuan dunia modern tidak mau ambil pusing terhadap segala sesuatu yang akan membawa
akibat buruk. Papan-papan reklame yang terpancang di sepanjang jalan, penuh dengan tulisantulisan
yang dilihat secara moral adalah rendah dan murah. Film-film yang memperlihatkan
permainan cinta gila-gilaan, hubungan bebas antara pria dan wanita, taman-taman ria dengan
dekorasi yang mempersonakan penuh dengan adegan-adegan tari yang membangkitkan birahi,
dimana penari-penari wanita mempertontonkan tubuhnya yang telanjang, dengan cara
menanggalkan pakaian secara berangsur-angsur di muka para penonton. Pertunjukan-pertunjukan
semacam itu banyak, bertebaran di tempat-tempat hiburan dunia modern, yang kesemuanya
mengakibatkan berkecamuknya wabah hubungan bebas antara dua jenis kelamin.
Dalam suasana yang penuh dengan nafsu kehewanan itu, boleh dikatakan tidak mungkin dapat
diharapkan ada pemikiran yang bebas dari pengaruh buruk, dan tidak nanti mereka mampu
menggunakan pikiran yang sesuai dengan panggilan hati nurani yang dianugerahkan Tuhan. Akan
tetapi di balik itu ternyata masih saja ada segolongan manusia yang tetap mau mendengar
panggilan akalnya yang sehat dan hati nuraninya yang murni. Mereka memuja ketangkasan
berpikir yang memungkinkan mereka dapat menemukan kebenaran di tengah-tengah suasana
kehidupan modern yang nampak gemerlapan ini. Mereka hidup bukan dalam lingkungan Islam, di
mana Islam serta ajarannya merupakan hal yang sangat asing. Akan tetapi mereka terhindar dari
pengaruh kehidupan modern a la Barat yang telah menyebabkan banyak orang-orang kita sendiri
teperdaya. Sedangkan mereka telah berhasil mendapatkan jalan keluar dari kegelisahan jiwa;
mereka telah dapat menemukan jalan yang lurus, yaitu Islam!
Berhubung dengan itulah, maka buku ini diterbitkan dengan harapan dapat membantu mereka
yang sungguh-sungguh berusaha mencari kebenaran.
24 Pebruari 1961

<<sebelumnya Daftar Isi Selanjutnya>>

Pendahuluan

Bismillaahir Rahmaanir Rohim


Masih banyak kalangan masyarakat yang belum memahami benar akan letak dari hakekat
kebenaran Islam dan akan hikmah-hikmah ajarannya yang cocok dan serasi dengan fitrah
manusia, seolah-olah terdapat tabir tebal dimukanya dalam memandangi ajaran Islam. Bahkan
tidak sedikit orang-orang Islam sendiri terdapat di antara mereka yang tertutup tabir kegelapan
itu.
Apabila orang Islam yang menemukan dan mengemukakan hakekat kebenaran ajaran Islam dan
keserasiannya dalam mengatur kehidupan manusia pribadi dan masyarakat, maka hal itu sudah
sewajarnya akan tetapi mungkin juga dinilainya terlalu subjektip dan memihak karena mereka
dianggap intern Islam yang selalu memuji agamanya sendiri. Sebaliknya apabila penilaian terhadap
Islam itu dilakukan dan dinyatakan oleh orang-orang di luar Islam atau oleh orang-orang yang
karena keinginannya mencari kebenaran dan melakukan penyelidikan akan ajaran Islam lalu
menemui keindahan dan kebenaran ajaran Isalm, maka sungguh pengakuan dan hasil
penemuannya itu sulit dnngkari kebenaran dan kejujurannya serta patut dihargai pendapatpendapatnya
yang jujur dan ikhlas itu untuk dijadikan bahan berharga terutama bagi cerdik pandai
dalam mencari kebenaran bagi pedoman tata kehidupannya.
Tulisan-tulisan pengakuan dan ungkapan para sarjana dan cerdik pandai dari segala kalangan,
bangsa dan agama yang dikumpulkan ke dalam Buku terbitan Rabithah Alam Islamy Mekkah
Mukarromah dengan judul aslinya “Islam is Our Choice” dan diterjemahkan ke dalam bahasa Arab
dengan judul “Limadzaa Aslamnaa” sangatlah menarik perhatian Dewan Pusat Organisasi Islam
Internasional (OII) dan kiranya sangat berfaedah apabila diterjemahkan ke dalam bahasa
Indonesia untuk dapatnya menambah perbendaharaan ilmu pengetahuan bangsa Indonesia,
dengan harapan dan kepercayaan semoga mereka memperoleh Hidayah dan Taufiq Allah
Subhanahu Wa Ta’alaa, hingga menjadi manusia yang taat dan sadar akan kebenaran dan
kemuliaan ajaran Islam dan akan memperjuangkannya menjadi tatanan hidup ummat manusia.
Kepada Sdr. HT Bachtiar Affandie yang dengan ikhlas memenuhi permintaan kami untuk
menterjemahkan buku tersebut dan kepada Direksi P.T. Al Ma’arif Bandung yang bersedia
membantu pencetakan buku ini, kami sampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih sebesarbesarnya
dengan iringan do’a semoga amal baik mereka selalu mendapat limpahan pahala dan
anugerah dari Tuhan Allah Robul Alamin.
Jakarta 28 Romadhon 1396 H., 22 September 1976 M.
Dewan Pusat Organisasi Islam Internasional, Ketua, H.A. Sjaichu

<<Daftar Isi Berikutnya>>

“Mengapa Kami Memilih Islam”

Dari buku “Mengapa Kami Memilih Islam” oleh Rabithah Alam Islamy Mekah
Alih bahasa: Bachtiar Affandie
Cetakan Ketiga 1981
Penerbit: PT. Alma’arif, Bandung

kami ambil dari media.isnet.org

…………………………………………………………………..

Daftar Isi

(silahkan klik pada tulisan yg ingin anda baca)
· Pendahuluan
· Kata Pengantar
· Mukaddimah oleh Al-Ustadh Khursyid Ahmad
o Dasar-dasar kepercayaan Islam
o Pertama : Mudah, Rasional dan Praktis
Beberapa watak pokok Islam
o Kedua : Bersatunya Benda dan Rohani
o Ketiga : Jalan Hidup yang Sempurna
o Keempat : Ada keseimbangan antara perorangan dan kemasyarakatan
o Kelima : Universal dan Kemanusiaan
o Keenam : Stabil dan Berkembang
o Ketujuh : Ajaran-ajaran Terpelihara dari Perubahan
· Bagian I. Para Negarawan dan Diplomat
o Al-Haj Lord Headly Al-Farooq Seorang Bangsawan, Negarawan dan Pengarang
o Mohammad Asad Seorang Negarawan, Wartawan dan Pengarang
o Sir Abdullah Archibald Hamilton Negarawan dan Bangsawan Inggris
o Mohammad Alexander Russel Webb (Amerika Serikat) Diplomat, Pengarang dan
Wartawan

o Sir Jalaluddin Louder Brunton Negarawan dan Bangsawan Inggris
o Muhammad Aman Hobohm (Jerman) Diplomat, Missionary dan Tokoh Masyarakat
· Bagian II. Para Ahli Pengetahuan dan Pengarang
o Prof. Haroon Mustapha Leon Ahli bahasa, ahli geologi dan pengarang
o Ali Selman Benoist (Perancis) Doktor ilmu kesehatan
o Dr. Umar Rolf Baron Ehrenfels (Austria) Gurubesar Antropologi
o Dr. Abdul-Karim Germanus Guru Besar Ahli Ketimuran (Orientalist)
o Dr. Hamid Marcus (Jerman) Ahli Pengetahuan, Pengarang dan Wartawan
o William Burchell Basyir Pickard Pengarang, Penyair dan Pengarang Cerita
o Kolonel Donald S. Rockwel l Penyair, Kritikus dan Pengarang
o Mr. R.I. Mellema (Belanda) Anthropologist, Penulis dan Guru
· Bagian III . Wanita-Wanita Yang Memeluk Islam
o Miss Mas’udah Steinmann (Inggris)
o Navis B. Jolly (Inggris)
o Lady Evelyn Zeinab Cobbold (Inggris)
o Mrs. Cecilia Mahmudah Cannolly (Australia)
o Miss Fatima Kazue (Jepang)
o Miss Amina Mosler (Jerman)
· Bagian IV. Para Reformer, Pengkhotbah dan Tokoh Masyarakat
o Muhammad John Webster Presiden Missi Islam di Inggris
o Ismail Wieslaw Zejiesk i Sosiolog, Reformer dan Tokoh Masyarakat Polandia (diaslinya Ebook, terlewatkan)
o Abdullah Battersbey (Mayor Tentara Inggris)
o Husain Rofe (Reformer Inggris)
o Thomas Irving (Tokoh Masyarakat Kanada)
o Fauzuddin Ahmad Overing (Pengkhotbah dan Tokoh Masyarakat Belanda)
o Umar Mita Ahli Ekonomi, Tokoh Masyarakat dan Pengkhotbah Jepang
o Prof. Abdul-Ahad Dawud B.D . (Bekas Pendeta Tinggi pada David Bangamni Keldani,
Iran)
o Ali Muhammad Mor i (Tokoh Masyarakat/Pengkhotbah Jepang)
· Bagian V. Golongan-golongan Lain
o H.F. Fellows (Inggris)
o Muhammad Sulaiman Takeuch i Ethnolog Jepang
o S. A. Board (Amerika Serikat)
o B. Davis (Inggris)
o Thomas Muhammad Clayton (Amerika Serikat)
o J.W. Lovegrove (Inggris)
o T.H. McBarkl i (Irlandia)
o Devil Warrington Fry (Australia)
o Farouk B. Kara i (Zanzibar)
o Mu’min Abdurrazzaque Selliah (Srilangka)
o Abdullah Uemura (Jepang)
o Ibrahim Voo (Malaysia)
o Mahmud Gunnar Erikson (Sweden)
· Keterangan dalam Kitab Suci Pers i (Aslinya bahasa Pahlavi)
· Penutup
· A. Negara Muslim yang Sudah Merdeka
· B. Negara Muslim di Bawah Kekuasaan Non Muslim
· C. Muslim yang Tinggal di Negara Non Muslim
· Resume

Siapakah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah?

At Tauhid edisi V/2

Oleh: Yulian Purnama

Sungguh sayang sungguh malang, umat Islam di masa ini bak buih di lautan, banyak jumlahnya namun tercerai-berai. Heran bukan kepalang melihat fenomena ini, kita semua tahu bahwa Islam yang dibawa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam hanya 1 macam, sebagaimana firman Allah Ta’ala yang artinya: “Sesungguhnya kalian adalah umat yang satu dan Aku adalah Rabb kalian, maka beribadahlah kepada-Ku” [Al-Anbiyaa : 92]. Namun mengapa hari ini Islam menjadi bermacam-macam? Aneh bukan?

Ternyata Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam sedari dulu telah memperingatkan hal ini: “Telah berpecah kaum Yahudi menjadi tujuh puluh satu golongan ; dan telah berpecah kaum Nashara menjadi tujuh puluh dua golongan; sedang umatku akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya akan masuk neraka kecuali satu. Maka kami-pun bertanya, siapakah yang satu itu ya Rasulullah? ; Beliau menjawab: yaitu orang-orang yang berada pada jalanku dan jalannya para sahabatku di hari ini” [HR. Tirmidzi]. Namun lihatlah, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengabarkan bahwa ada 1 golongan yang selamat dari perpecahan yaitu orang-orang yang beragama dengan menempuh jalan Islam sebagaimana jalan Islam yang ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan para sahabatnya pada masa itu. Dari sinilah muncul istilah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.

Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah istilah yang dilekatkan dengan sifat-sifat golongan yang selamat yang disebutkan dalam hadist di atas. Maka tak pelak lagi, istilah Ahlus Sunnah pun menjadi rebutan. Bahkan orang-orang yang menempuh jalan yang salah pun mengaku Ahlus Sunnah. Sehingga masyarakat awam yang sedikit menyentuh ilmu agama pun dibuat bingung karenanya, dan rancu dibuatnya, tentang siapakah sebenarnya Ahlus Sunnah itu?

Makna Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

Kata “Ahlussunnah” terdiri dari dua suku kata yaitu ’ahlu’ yang berarti keluarga, pemilik, pelaku atau seorang yang menguasai suatu permasalahan, dan kata ’sunnah’. Namun bukanlah yang dimaksud di sini sunnah dalam ilmu fiqih, yaitu perbuatan yang mendapat pahala jika dilakukan, dan tidak berdosa jika ditinggalkan. Akan tetapi sunnah adalah apa yang datang dari Nabi baik berupa syariat, agama, petunjuk yang lahir maupun yang bathin, kemudian dilakukan oleh sahabat, tabiin dan pengikutnya sampai hari Kiamat. Dengan demikian definisi Ahlus Sunnah adalah mereka yang mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan sunnah para shahabatnya. Sehingga Imam Ibnul Jauzi berkata,” Tidak diragukan bahwa orang yang mengikuti atsar (sunnah) Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan para sahabatnya adalah Ahlus Sunnah” (Lihat Talbisul Iblis hal. 16)

Sedangkan kata ”Al Jama’ah” artinya bersama atau berkumpul. Dinamakan demikian karena mereka bersama dan berkumpul dalam kebenaran, mengamalkannya dan mereka tidak mengambil teladan kecuali dari para sahabat, tabiin dan ulama–ulama yang mengamalkan sunnah sampai hari kiamat. Karena merekalah orang-orang yang paling memahami agama yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Namun yang perlu digaris-bawahi di sini adalah bahwa Al Jama’ah adalah orang-orang yang berada di atas kebenaran, bukan pada jumlahnya. Jumlah yang banyak tidak menjadi patokan kebenaran, bahkan Allah Ta’ala berfirman yang artinya: ”Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah” [Al An’am: 116]. Sehingga benarlah apa yang dikatakan Ibnu Mas’ud radhiallahu’anhu: “Al-Jama’ah adalah yang mengikuti kebenaran walaupun engkau sendirian” (Syarah Usuhul I’tiqaad Al Laalika-i no. 160).

Ringkasnya, Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah orang-orang yang mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan para sahabatnya, dan dalam memahami dan mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tersebut mereka meneladani praktek dan pemahaman para sahabat, tabi’in dan orang yang mengikuti mereka. Dan makna ini sesuai dengan apa yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tentang satu golongan yang selamat pada hadits di atas: ”yaitu orang-orang yang berada pada jalanku dan jalannya para sahabatku dihari ini”.

Pemahaman Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

Mungkin setelah dijelaskan makna Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, sebagian orang masih rancu tentang siapakah sebenarnya mereka itu. Karena semua muslim, dari yang paling ’alim hingga yang paling awamnya, dari yang benar hingga yang paling menyimpang akan mengaku bahwa ia berjalan di atas jalannya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan para sahabatnya. Maka dalam kitab Ushul Aqidah Ahlis Sunnah, Syaikh Sholeh Al Fauzan hafizhahullah menjelaskan bahwa Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dapat dikenal dengan dua indikator umum:

  1. Ahlus Sunnah berpegang teguh terhadap sunnah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, berbeda dengan golongan lain yang beragama dengan berdasar pada akal, perasaan, hawa nafsu, taqlid buta atau ikut-ikutan saja.
  2. Ahlus Sunnah mencintai Al Jama’ah, yaitu persatuan ummat di atas kebenaran serta membenci perpecahan dan semangat kekelompokan (hizbiyyah). Berbeda dengan golongan lain yang gemar berkelompok-kelompok, membawa bendera-bendera hizbiyyah dan bangga dengan label-label kelompoknya.

Perlu diketahui juga bahwa istilah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah muncul untuk membedakan ajaran Islam yang masih murni dan lurus dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dengan ajaran Islam yang sudah tercampur dengan pemikiran-pemikiran menyimpang seperti pemikiran Jahmiyah, Qodariyah, Syi’ah dan Khawarij. Sehingga orang-orang yang masih berpegang teguh pada ajaran Islam yang masih murni tersebut dinamakan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Imam Malik rahimahullah pernah ditanya : “Siapakah Ahlus Sunnah itu? Ia menjawab: Ahlus Sunnah itu mereka yang tidak mempunyai laqb (julukan) yang sudah terkenal. Yakni bukan Jahmiyah, bukan Qadariyah, dan bukan pula Syi’ah”. (Lihat Al-Intiqa fi Fadlailits Tsalatsatil Aimmatil Fuqaha. hal.35 oleh Ibnu Abdil Barr).

Walaupun pada kenyataannya orang-orang yang berpemikiran menyimpang tersebut, seperti Jahmiyah, Qodariyah, Syi’ah dan Khawarij juga sebagian mengaku sebagai Ahlus Sunnah. Sehingga hal ini memicu para Imam Ahlus Sunnah untuk menjelaskan poin-poin pemahaman Ahlus Sunnah, agar umat dapat menyaring pemahaman-pemahaman yang tidak sesuai dengan Al Qur’an dan Sunnah. Salah satunya dari Imam Ahlus Sunnah yang merinci poin-poin tersebut adalah Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah dalam kitabnya Ushul As Sunnah. Secara ringkas, poin-poin yang dijelaskan Imam Ahmad tentang pemahaman Ahlus Sunnah Wal Jama’ah diantaranya adalah:

  • Beriman kepada takdir Allah,
  • Beriman bahwa Al Qur’an adalah Kalamullah (perkataan Allah), bukan makhluk dan bukan perkataan makhluk,
  • Beriman tentang adanya mizan (timbangan) di hari Kiamat, yang akan menimbang amal manusia,
  • Beriman bahwa Allah ‘Azza Wa Jalla akan berbicara dengan hamba-Nya di hari Kiamat,
  • Beriman tentang adanya adzab kubur dan adanya pertanyaan malaikat di dalam kubur,
  • Beriman tentang adanya syafa’at Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bagi ummat beliau
  • Beriman bahwa Dajjal akan muncul,
  • Beriman bahwa iman seseorang itu tidak hanya keyakinan namun juga mencakup perkataan dan perbuatan, dan iman bisa naik dan turun,
  • Beriman bahwa orang yang meninggalkan shalat dapat terjerumus dalam kekufuran,
  • Patuh dan taat pada penguasa yang muslim, baik shalih mau fajir (banyak bermaksiat). Selama ia masih menjalankan shalat dan kepatuhan hanya pada hal yang tidak melanggar syariat saja,
  • Tidak memberontak kepada penguasa muslim,
  • Beriman bahwa tidak boleh menetapkan seorang muslim pasti masuk surga atau pasti masuk neraka,
  • Beriman bahwa seorang muslim yang mati dalam keadaan melakukan dosa tetap disholatkan, baik dosanya kecil atau besar.

Jangan salah membatasi

Imam Al Barbahari berkata: ”Ketahuilah bahwa ajaran Islam itu adalah sunnah dan sunnah itu adalah Islam” (Lihat Syarhus Sunnah, no 2). Maka pada hakikatnya pemahaman Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah Islam itu sendiri dan ajaran Islam yang hakiki adalah pemahaman Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Maka Ahlus Sunnah adalah setiap orang Islam dimana saja berada yang mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dengan pemahaman para sahabatnya. Jika demikian, sungguh keliru sebagian orang yang membatasi Ahlus Sunnah dengan batas-batas yang serampangan.

Telah keliru orang yang membatasi Ahlus Sunnah dengan suatu kelompok atau organisasi tertentu, seperti perkataan: ’Ahlus Sunnah adalah NU’ atau ’Ahlus Sunnah adalah Muhammadiyah’. Telah salah orang yang membatasi Ahlus Sunnah dengan majlis ta’lim atau ustadz tertentu dengan berkata: ’Ahlus Sunnah adalah yang mengaji di masjid A’ atau ’Ahlus Sunnah adalah yang mengaji dengan ustadz B’. Keliru pula orang yang membatasi dengan penampilan tertentu, misalnya dengan berkata ’Ahlus Sunnah adalah yang memakai gamis, celana ngatung dan berjenggot lebat. Yang tidak demikian bukan Ahlus Sunnah’. Tidak benar pula membatasi Ahlus Sunnah dengan fiqih misalnya dengan berkata ’Yang shalat shubuh pakai Qunut bukan Ahlus Sunnah’ atau ’Orang yang shalatnya memakai sutrah (pembatas) dia Ahlus Sunnah, yang tidak pakai bukan Ahlus Sunnah’. Dan banyak lagi kesalah-pahaman tentang Ahlus Sunnah di tengah masyarakat sehingga istilah Ahlus Sunnah mereka tempelkan pada kelompok-kelompok mereka untuk mengunggulkan kelompoknya dan berfanatik buta terhadap kelompoknya.

Adapun Ahlus Sunnah yang sejati tidak sibuk dengan label dan pengakuan, serta benci dengan semangat kekelompokkan. Sebagaimana perkataan Ibnu Qoyyim Al Jauziyah tentang Ahlus Sunnah: ”Sesuatu yang tidak mempunyai nama kecuali Ahlus Sunnah” (Lihat Madarijus Salikin III/174). Bahkan seorang Ahlus Sunnah menyibukkan diri dengan menerapkan sunnah dalam setiap aspek kehidupannya. Dan tidak ada gunanya seseorang mengaku-ngaku Ahlus Sunnah, sementara ia sibuk dengan melakukan bid’ah dan hal-hal yang bertentangan dengan sunnah. Allah Ta’ala berfirman yang artinya ”Sesungguhnya Rabb-mu lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia juga lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk” [An Najm: 30].

Semoga Allah Ta’ala senantiasa menunjukkan kita kepada jalan yang lurus, yaitu jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang diberikan ni’mat, bukan jalannya orang-orang yang dimurkai dan orang-orang tersesat. [Yulian Purnama]

Kalimat Syahadat dalam Sorotan

diambil dari http://buletin.muslim.or.id

At Tauhid edisi VI/06

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Kalimat ‘Laa Ilaha Illallah’ merupakan harga surga: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Barang siapa yang akhir perkataannya sebelum meninggal dunia adalah ‘lailaha illallah’, maka dia akan masuk surga.”[1] Kalimat ‘Laa Ilaha Illallah’ adalah kebaikan yang paling utama: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kalimat itu (laa ilaha illallah, pen) merupakan kebaikan yang paling utama. Kalimat itu dapat menghapuskan berbagai dosa dan kesalahan.”[2]

Masih terngiang-ngiang di telinga kita apa yang dikatakan guru agama kita di bangku sekolah dasar ketika menerangkan mengenai makna kalimat tauhid ‘laa ilaha illallah’. Guru kita akan mengajarkan bahwa kalimat ‘laa ilaha illallah’ itu bermakna ‘Tiada Tuhan selain Allah’. Namun apakah tafsiran kalimat yang mulia ini sudah benar? Sudahkah penafsiran ini sesuai dengan yang diinginkan al-Qur’an dan Al Hadits? Pertanyaan seperti ini seharusnya kita ajukan agar kita memiliki aqidah yang benar yang selaras dengan al-Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman generasi terbaik umat ini (baca: salafush sholih).

Mungkin ada yang bertanya-tanya, “Mengapa sih terlalu membesar-besarkan masalah ini?” Lha wong hanya berkaitan dengan penafsiran saja kok dipermasalahkan!” Apa tidak ada pembahasan yang lain?

Ingat!! Masalah ini bukanlah masalah yang remeh karena berkaitan dengan penafsiran kalimat yang paling mulia yang merupakan kunci untuk masuk Islam dan perkataan terakhir yang seharusnya diucapkan oleh setiap muslim sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir! Masalah ini berkaitan dengan penafsiran kalimat agung ‘laa ilaha illallah’.

Tafsiran Kalimat ‘Laa Ilaha Illallah’ = ‘Tiada Tuhan Selain Allah’

Selama ini diketahui bahwa tafsiran kalimat ‘laa ilaha illallah’ yang telah diajarkan sejak bangku SD sampai perguruan tinggi adalah ‘Tiada Tuhan selain Allah’. Yang perlu kita tanyakan, apakah tafsiran ‘laa ilaha illallah’ seperti ini sudah sesuai dengan al-Qur’an dan al-Hadits ?

Makna Ilah Adalah Tuhan?

Jika kalimat ‘laa ilaha illallah’ diartikan dengan ‘Tiada Tuhan selain Allah’, maka ilah pada kalimat tersebut berarti Tuhan. Namun jika kita perhatikan kata Tuhan dalam penggunaan keseharian bisa memiliki dua makna. Makna pertama, kata Tuhan berarti pencipta, pengatur, pemberi rizki, yang menghidupkan dan mematikan (yang merupakan sifat-sifat rububiyyah Allah). Makna kedua, kata Tuhan berarti sesembahan[3]. Mari kita tinjau dua makna ini.

Ilah = Pencipta, Pemberi Rizki, dan Pengatur Alam Semesta

Pembahasan pertama, bagaimana kalau ilah pada kalimat ‘laa ilaha illallah’ bermakna Tuhan yang berarti pencipta, pemberi rizki, dan pengatur alam semesta (disebut dengan sifat Rububiyyah)?

Sebelumnya perlu kami sebutkan di sini bahwasanya keyakinan tentang Allah sebagai satu-satunya pencipta, satu-satunya penguasa, satu-satunya pemberi rezeki dan satu-satunya pengatur alam semesta adalah keyakinan yang benar dan tidak ada keraguan tentangnya. Namun, perlu diketahui bahwa keyakinan seperti ini juga diakui oleh orang-orang musyrik sebagaimana terdapat dalam banyak ayat/dalil.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah “Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?” (QS. Yunus: 31) “Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: “Allah”, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?” (QS. Az-Zukhruf: 87)

Perhatikanlah! Dalam ayat di atas terlihat bahwasanya orang-orang musyrik itu mengenal Allah, mereka mengakui sifat-sifat rububiyyah-Nya yaitu Allah adalah pencipta, pemberi rezeki, yang menghidupkan dan mematikan, serta penguasa alam semesta. Namun, pengakuan ini tidak mencukupkan mereka untuk dikatakan muslim dan selamat. Kenapa? Karena mereka mengakui dan beriman pada sifat-sifat rububiyyah Allah (yang berkaitan dengan perbuatan Allah) saja, namun mereka menyekutukan Allah dalam masalah ibadah. Oleh karena itu, Allah berfirman terhadap mereka (yang artinya), “Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).” (QS. Yusuf: 106)

Ibnu Abbas mengatakan, “Di antara keimanan orang-orang musyrik: Jika dikatakan kepada mereka, ‘Siapa yang menciptakan langit, bumi, dan gunung?’ Mereka akan menjawab, ‘Allah’. Sedangkan mereka dalam keadaan berbuat syirik kepada-Nya.”[4]

Dari sini terlihat jelas bahwa keyakinan tentang Allah sebagai pencipta, pemberi rizki, pengatur alam semesta, yang menghidupkan dan mematikan juga merupakan keyakinan orang-orang musyrik. Bagaimana jika kalimat ‘laa ilaha illallah’ diartikan dengan tidak ada Tuhan selain Allah yang bisa bermakna ‘tidak ada pencipta selain Allah’ atau ‘tidak ada penguasa selain Allah’ atau ‘tidak ada pemberi rezeki selain Allah’?

Kalau diartikan demikian, lalu apa yang membedakan seorang muslim dan orang-orang musyrik? Apa yang membedakan orang-orang musyrik sebelum mereka masuk Islam dan setelah masuk Islam? Dan perhatikanlah tafsiran semacam ini akan membuka berbagai pintu kesyirikan di tengah-tengah kaum muslimin. Kenapa demikian?

Karena kaum muslimin akan menyangka bahwa ketika seseorang sudah mengakui ‘tidak ada pencipta selain Allah’ atau ‘tidak ada pemberi rezeki selain Allah’, maka mereka sudah disebut muwahhid (orang yang bertauhid). Walaupun mereka berdoa dengan mengambil perantaraan selain Allah, bernazar dengan ditujukan kepada kyai fulan, itu tidaklah mengapa. Ini sungguh kekeliruan yang sangat fatal. Berarti keyakinan mereka sama saja dengan keyakinan orang-orang musyrik dahulu yang mengakui sifat-sifat rububiyyah Allah, namun mereka menyekutukan Allah dalam ibadah seperti doa dan nazar. Orang-orang musyrik tidak mengingkari sifat rububiyyah semacam ini sebagaimana terdapat pada ayat-ayat di atas.

Jelaslah pada pembahasan pertama ini kesalahan tafsiran ‘laa ilaha illallah’ dengan tiada Tuhan selain Allah yang bermakna tidak ada pencipta selain Allah atau tiada penguasa selain Allah.

Hanya Allah Saja Sesembahan Yang Benar

Pembahasan kedua adalah bagaimana jika ‘laa ilaha illallah’ ditafsirkan dengan pengertian Tuhan yang kedua yaitu sesembahan, maka makna ‘laa ilaha illallah’ menjadi ‘tidak ada sesembahan selain Allah’.

Sebenarnya pengertian ilah pada tafsiran kedua sudah benar karena kata ‘ilah‘ secara bahasa berarti sesembahan (ma’bud atau ma’luh). Dan para ulama juga menafsirkan kata ilah juga dengan sesembahan.[5]

Jika kalimat ‘laa ilaha illallah’ diartikan dengan ‘tidak ada sesembahan selain Allah’ masih ada kekeliruan karena dapat dianggap bahwa setiap sesembahan yang ada adalah Allah. Maka Isa putra Maryam adalah Allah karena merupakan sesembahan kaum Nashrani. Patung-patung kaum musyrikin yaitu Lata, Uzza dan Manat adalah Allah karena merupakan sesembahan mereka sebagai perantara kepada Allah. Para wali yang dijadikan perantara dalam berdo’a juga Allah karena merupakan sesembahan para penyembah kubur. Ini berarti seluruh sesembahan yang ada adalah Allah. Maka tafsiran yang kedua ini jelas-jelas merupakan tafsiran yang bathil dan keliru.

Penjelasan di atas bukan kami rekayasa. Sebagai bukti, pembaca dapat melihat apa yang dikatakan Al Hafizh Al Hakami berikut.

“Jika ada yang mengatakan bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang ada kecuali Allah, maka hal ini mengonsekuensikan seluruh sesembahan yang benar dan bathil (salah dan keliru) adalah Allah. Maka jadilah segala yang disembah kaum musyrik baik matahari, rembulan, bintang, pohon, batu, malaikat, para nabi, orang-orang sholih dan selainnya adalah Allah. Dan bisa jadi dengan menyembahnya dikatakan telah bertauhid. Dan ini –wal’iyadzu billah (kita berlindung kepada Allah dari keyakinan semacam ini)- adalah kekufuran yang paling besar dan paling jelek secara mutlak. Keyakinan semacam ini berarti telah membatalkan risalah (wahyu) yang dibawa oleh seluruh rasul, berarti telah kufur (mengingkari) seluruh kitab dan menentang/ mendustakan seluruh syari’at. Ini juga berarti telah merekomendasi seluruh orang kafir karena segala makhluk yang mereka sembah adalah Allah. Maka tidak ada lagi pada embel-embel syirik tetapi sebaliknya mereka bisa disebut muwahhid (orang yang bertauhid). Maha Tinggi Allah atas apa yang dikatakan oleh orang-orang zholim dan orang-orang yang menentang ini.

Jika kita sudah memahami demikian, maka tidak boleh kita katakan ‘tidak ada sesembahan yang ada kecuali Allah.”Kecuali kita menambahkan kalimat ‘dengan benar’ pada tafsiran tersebut maka ini tidaklah mengapa. Jadi tafsiran laa ilaha illallah (yang tepat) menjadi ‘tidak ada sesembahan yang disembah dengan benar kecuali Allah’.” -Demikian yang dikatakan Al Hafizh Al Hakami dengan sedikit perubahan redaksi-[6]. Di samping itu, pemaknaan di atas adalah keliru karena tidak sesuai dengan kenyataan. Realita menunjukkan terdapat banyak sesembahan selain Allah. Maka bagaimana mungkin kita katakan tidak ada sesembahan melainkan Allah?! Sungguh ini adalah kebohongan yang sangat-sangat nyata.

Sebagaimana telah diisyaratkan oleh Al Hafizh di atas, makna laa ilaha illallah yang tepat adalah ‘tidak ada sesembahan yang disembah dengan benar kecuali Allah’. Kenapa perlu ditambahkan kalimat ‘yang disembah dengan benar’?

Jawabnya, karena kenyatannya banyak sesembahan selain Allah di muka bumi ini. Akan tetapi, sesembahan-sesembahan itu tidak ada yang berhak untuk disembah melainkan hanya Allah semata.

Bukti harus ditambahkan kalimat ‘yang disembah dengan benar’ dapat dilihat pada firman Allah ta’ala, “Yang demikian itu dikarenakan Allah adalah (sesembahan) yang Haq (benar), adapun segala sesuatu yang mereka sembah selain-Nya adalah (sesembahan) yang Bathil.” (QS. Luqman: 30). Oleh karenanya, tafsiran ‘laa ilaha illallah’ yang benar adalah ‘laa ma’buda haqqun illallah’ [tidak ada sesembahan yang berhak disembah/diibadahi kecuali Allah].

Merujuk Tafsiran Para Ulama

Jika kita merujuk tafsiran para ulama, kita akan mendapati tafsiran laa ilaha illallah sebagaimana yang dikemukakan di atas.

Ath Thobary tatkala menafsirkan firman Allah ta’ala (yang artinya), “Ikutilah apa yang telah diwahyukan kepadamu dari Tuhanmu; tidak ada ilah selain Dia; dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.” (QS. Al An’am: 106). Pada kalimat tidak ada ilah selain Dia beliau mengatakan, ‘Tidak ada sesembahan yang berhak bagimu untuk mengikhlaskan ibadah kecuali Allah’.[7]

Ibnu Katsir mengatakan tentang tafsir firman Allah (yang artinya), “Dan Dialah Allah, tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) melainkan Dia.” (QS. Qashash: 70) “Maksudnya adalah Allah bersendirian dalam uluhiyyah, tidak ada sesembahan selain Dia, sebagaimana tidak ada pencipta selain Dia.”[8]

Asy Syaukani mengatakan tentang firman Allah pada awal ayat kursi (Al Baqarah ayat 255), “Laa ilaha illa huw’ bermakna ‘laa ma’buda bihaqqin illa huw’ [tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah], beliau menafsirkan ilah adalah, “Ma’bud (sesembahan) atau yang berhak diibadahi.”[9]

Fakhruddin Ar Rozi -yang merupakan ulama Syafi’iyyah-, dalam Mafatihul Ghoib mengatakan tentang tafsir ayat, “(Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Rabb kamu; tidak ada ilah selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia.” (QS. Al An’am: 102), di mana tidak ada ilah selain Dia adalah, “Tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah, sedangkan yang dimaksudkan oleh ayat ‘maka sembahlah Dia’ adalah jangan menyembah kepada selain-Nya.”[10]

As Suyuthi dalam Tafsir Al Jalalain ketika menafsirkan ayat kursi (surat Al Baqarah ayat 255), “Allah, tidak ada ilah melainkan Dia.” Beliau langsung menafsirkannya dengan berkata, “Tidak ada sesembahan yang berhak disembah di alam semesta ini selain Allah.”

Itulah tafsiran para ulama yang sangat mendalam ilmunya. Tafsiran mereka terhadap kalimat yang mulia ini walaupun dengan berbagai lafadz, namun kembali pada satu makna. Kesimpulannya, makna ‘laa ilaha illallah’ adalah tidak ada sesembahan yang disembah dengan benar kecuali Allah. Hanya Allah yang memberi taufik. [Muhammad Abduh Tuasikal]

_____________

[1] HR. Abu Daud. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Misykatul Mashobih no. 1621
[2] Dinilai hasan oleh Syaikh Al Albani dalam tahqiq beliau terhadap Kalimatul Ikhlas, 55
[3] Lihat Sucikan Iman Anda, Abu Isa ‘Abdullah bin Salam, hal. 17, Pustaka Muslim
[4] Lihat Al-Mukhtashor Al-Mufid, Abdur Rozaq bin Abdul Muhsin Al Badr, hal. 10-11, Dar Al Imam Ahmad
[5] Lihat penjelasan Ibnul Jauziy dalam Zaadul Masir, tafsir basmalah dan Al A’raf ayat 127, begitu pula penjelasan Syaikh Sholih Alu Syaikh dalam At Tamhid hal. 74-75
[6] Lihat Ma’arijul Qobul, Asy Syaikh Hafizh bin Ahmad Hakamiy, 1/325, Darul Hadits Al Qohiroh
[7] Tafsir Ath Thobari (Jaami’ul Bayan fii Ta’wili Ayil Qur’an), Ibnu Jarir Ath Thobari, 9/479, Dar Hijr
[8] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 10/479, Muassasah Qurthubah.
[9] Fathul Qodir, Asy Syaukani, 1/366, Mawqi’ At Tafasir
[10] Mafaatihul Ghoib, Fakhrudin Ar Rozi, 6/412, Mawqi’ At Tafasir.

FIQHUL JIHAD (2)

Mukaddimah Penulis

بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji bagi Allah yang kami senantiasa memuji, minta tolong, dan minta ampun kepada-Nya; sebagaimana kami senantiasa berlindung kepada-Nya dari kejahatan diri kami dan kejelekan amalan kami. Barangsiapa diberi hidayah oleh Allah maka tak seorang pun bisa menyesatkannya; dan barangsiapa disesatkan oleh Allah maka tak seorang pun yang dapat memberinya hidayah. Aku bersaksi bahwa tiada ilah melainkan Allah; dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad e adalah hamba Allah dan utusan-Nya; yang diutus kepada manusia dengan membawah petunjuk dan agama yang haq, agar Allah memenangkan agama itu diatas seluruh agama lainnya, dan cukuplah Allah sebagai saksinya. Semoga Allah senantiasa mencurahkan shalawat dan salam-Nya kepada beliau.

‘Amma ba’du:

Ini merupakan suatu masalah yang perlu diketahui oleh kaum mukminin pada umumnya, dan khususnya para mujahidin; meskipun iman itu sendiri tidak akan sempurna tanpa adanya jihad[1]. Sebagaimana firman Allah ta’ala:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah mereka yang mempercayai Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak ragu sedikitpun; kemudia mereka berjihad di jalan Allah…” (Al Hujurat:15).

Namun demikian, jihad selain ditujukan kepada orang-orang kafir, juga ditujukan kepada orang-orang munafik. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Hai Nabi, berjihadlah melawan orang-orang kafir dan munafikin, dan berlaku keraslah terhadap mereka”, yang termaktub dalam dua tempat dalam kitab-Nya (At Taubah:73 dan At Tahrim:9).

Jihad dapat dilakukan baik dengan harta maupun jiwa[2], sebagaimana firman Allah U : “Dan berjihadlah kamu dengan harta dan jiwamu di jalan Allah” (At Taubah:41). Dan bisa juga dengan selain itu; dengan mensuplai kebutuhan para mujahid misalnya. Sebagaimana yang terdapat dalam Shahihain, dari Nabi e bahwa beliau bersabda:

مَنْ جَهَّزَ غَازِيًا فَقَدْ غَزَا, وَمَنْ خَلَفَهُ فيِ أَهْلِهِ بِخَيْرٍ فَقَدْ غَزَا .

“Barang siapa menyiapkan keberangkatan seorang tentara Islam, berarti ia ikut berperang; dan barang siapa menjamin kebutuhan keluarga yang ditinggalnya dengan baik, berarti ia juga ikut berperang”.[3]

Selain dari itu, jihad juga bisa dilakukan dengan tangan, hati, maupun lisan. Sebagaimana sabda Rasulullah e:

جَاهِدُوْا الْمُشْرِكِيْنَ بِأَيْدِيْكُمْ وَأَلْسِنَتِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ.

“Berjihadlah kamu melawan orang-orang musyrik dengan tangan, lisan dan harta kalian” [4]. Dan sebagaimana sabda beliau e lainnya dalam sebuah hadits shahih:

إِنَّ بِالْمَدِيْنَةِ لَرِجَالاً مَا سِرْتُمْ مَسِيْرًا وَلاَ قَطَعْتُمْ وَادِياً إِلاَّ كَانـُوا مَعَكُمْ حَبَسَهُمُ الْعُذْرُ.

“Sesungguhnya, di Madinah ada orang-orang yang kemana pun kalian pergi mengarungi lembah dan sahara, mereka selalu menyertai kalian; mereka tertahan oleh suatu udzur” [5]. Mereka semua jihadnya ialah dengan hati dan doa mereka.

Allah U berfirman dalam Al Qur’an:

“Tidaklah sama antara mukmin yang tidak ikut berjihad tanpa udzur, dengan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwa mereka. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya satu deRajat di atas orang-orang yang tidak ikut berjihad. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga), dan Allah melebihkan para mujahidin dengan pahala yang besar di atas orang yang tidak berjihad” (An Nisa’:95).

Rasulullah e juga bersabda:

السَّاعِي فِي الصَّدَقَةِ بِالْحَقِّ كَالْمُجَاهِدِ فيِ سَبِيْلِ اللهِ.

“Orang yang berusaha mengumpulkan zakat dengan cara yang haq itu laksana mujahid fi sabilillah”[6]. Beliau e juga bersabda:

«الْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي اللَّهِ».

“Seorang mujahid ialah orang yang melawan hawa nafsunya karena Allah” [7]. Demikian pula sabda beliau e lainnya yang berbunyi:

الْمُؤْمِنُ مَنْ أَمِنَهُ النَّاسُ عَلَى دِمَائِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ ْ. وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ, وَالْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ.

“Seorang mukmin ialah orang yang manusia merasa bahwa harta dan jiwa mereka aman darinya, dan seorang muhajir ialah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah, sedang seorang muslim ialah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya” [8].

Jihad fi sabilillah bisa bermacam-macam bentuknya, yang membedakan satu sama lain adalah ketulusan niat dan sejauh mana keselarasannya dengan syari’at. Sebagaimana yang diriwayatkan dalam As Sunan, dari Muadz t bahwa Rasulullah e bersabda:

الْغَزْوُ غَزْوَانِ فَأَمَّا مَنِ ابْتَغَى وَجْهَ اللَّهِ وَأَطَاعَ الإمَامَ وَأَنْفَقَ الْكَرِيمَةَ وَاجْتَنَبَ الْفَسَادَ كَانَ نَوْمُهُ وَنُبْهُهُ أَجْرًا كُلُّهُ وَأَمَّا مَنْ غَزَا فَخْرًا وَرِيَاءً وَسُمْعَةً وَعَصَى الإمَامَ وَأَفْسَدَ فِي الأَرْضِ فَإنَّهُ لاَ يَرْجِعُ بِالْكَفَافِ.

“Perang itu ada dua; orang yang berperang karena mencari ridha Allah, kemudian ia taat kepada komandannya, menginfakkan yang paling berharga, dan menghindari kerusakan, maka baik tidur maupun terjaganya akan mendapat pahala; adapun orang yang berperang karena ketenaran, riya’, dan sum’ah, kemudian membangkang kepada komandan serta berbuat kerusakan di muka bumi, maka ia tidak akan pulang tanpa memikul dosa” [9].

Dalam Ash Shahihain dari Abu Musa Al Asy’ari t katanya; Rasulullah e pernah ditanya: “Ya Rasulullah, ada orang yang berperang karena keberaniannya, dan ada yang berperang karena membela sukunya; mana diantara mereka yang perangnya fi sabilillah?” jawab beliau: “Siapa saja yang berperang demi meninggikan kalimat Allah, maka dia berperang fi sabilillah” [10]. Allah U berfirman yang artinya: “Dan perangilah mereka hingga tidak ada lagi fitnah yang tersisa, dan hingga agama itu semata-mata untuk Allah” (Al Baqarah:193).

Sampai kepada akar permasalahan, yaitu berkenaan dengan seseorang atau sekelompok orang yang berperang melawan musuh, yang jumlahnya lebih dari dua kali lipat jumlah mereka, akan tetapi peperangan tersebut membawa kemaslahatan bagi Islam; padahal mereka berasumsi kuat bahwa mereka akan terbunuh.

Seperti seseorang yang menerobos ke barisan musuh seorang diri; yang dinamakan oleh para ulama dengan ‘Meleburkan diri ke tengah-tengah musuh’. Dalam kondisi seperti ini, orang tadi pasti akan diluluh-lantakkan musuhnya, sebagaimana luluhnya larutan dalam pelarutnya…

Atau seseorang yang berhasil membunuh beberapa pentolan kekafiran di tengah-tengah para pengawalnya; misalnya dengan menyergapnya secara terang-terangan, dan ia menduga kuat akan berhasil menewaskannya dan tidak mempedulikan lagi nasibnya setelah itu…

Atau seseorang yang pasukannya mengalami kekalahan, kemudian ia bertempur seorang diri, atau bersama sekelompok orang melawan musuhnya sampai dapat menimpakan kerugian (nikayah)[11] bagi musuh tadi; meski mereka mengira bahwa mereka akan mati karenanya… Ini semuanya dibolehkan menurut sebagian besar ulama, baik dari mazhab yang empat maupun yang lainnya. Dan tidak ada khilaf dalam masalah ini, kecuali khilaf yang syadz (nyeleneh) [12]. Adapun para Imam yang menjadi panutan seperti Imam Asy Syafi’ie[13], Imam Ahmad[14], dan yang lainnya, maka mereka terang-terangan menyatakan bolehnya hal ini; demikian pula mazhab Imam Abu Hanifah[15], Imam Malik[16] dan yang lainnya.

Dalil-dalil untuk permasalahan ini terdapat dalam Al Qur’an, As Sunnah, dan ijma’ para salaf.


[1] Syaikhul Islam –rahimahullah– berkata: “Jihad adalah kesempurnaan iman dan puncak ketinggian dalam beramal” (Majmu’ Fatawa 15/401).[2] Syaikhul Islam –rahimahullah– berkata: “Peperangan memang membutuhkan pengorbanan jiwa raga, dan pengorbanan harta. Jika ada orang yang siap berkorban dengan badannya, kemudian orang lain siap dengan hartanya, diiringi tekad bulat masing-masing dari mereka; maka keduanya dianggap sebagai mujahid sesuai dengan kebulatan tekad dan batas kemampuannya. Sebagaimana orang yang berangkat perang harus meninggalkan pengganti yang mengurus keluarganya, sehingga apabila ada orang yang siap menjamin keluarga si mujahid tadi, ia pun dianggap sebagai mujahid” (Majmu’ Fatawa 10/722).

[3] Diriwayatkan oleh Al Bukhari (2843) dan Muslim (135 dan 1895), dari hadits Zaid bin Khalid Al Juhany t. Imam An Nawawi –rahimahullah– mengatakan: “Maksudnya: ia mendapat pahala akibat jihad orang tadi, dan pahala ini akan didapatkan pada setiap jihad, baik sedikit maupun banyak. Pahala tersebut juga diberikan bagi setiap orang yang menjamin kebutuhan keluarga si mujahid dengan baik; seperti menafkahi mereka atau membantu urusan mereka. Dan besar kecilnya pahala tersebut tergantung dari sedikit banyak bantuannya. Dalam hadits ini terkandung anjuran untuk membalas kebaikan orang yang berjasa terhadap Islam dan kaum muslimin, atau orang yang mengemban suatu tugas penting untuk mereka.

Al Hafizh Ibnu Hajar –rahimahullah– berkata: “Sabda Nabi yang bunyinya (…berarti ia ikut berjihad), menurut Ibnu Hibban maknanya ialah bahwa orang itu mendapat pahala yang sama, meskipun tidak terjun langsung ke medan jihad. Kemudia beliau menyitir hadits ini lewat jalur lain dari Busr bin Sa’id dengn lafazh: (كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِهِ شَيْئاً) yang artinya: “Dicatat baginya pahala seperti pahala si mujahid tadi, tanpa mengurangi pahala mujahid itu sedikitpun”. Ibnu Majah dan Ibnu Hibban juga meriwayatkan hadits semakna dari Umar t yang lafazhnya:

مَنْ جَهَّزَ غَازِياً حَتىَّ يَسْتَقِلَّ كَانَ لَهُ مِثْلَ أَجْرِه ِحَتىَّ يَمُوْتَ أَوْ يَرْجِعَ .

“Barangsiapa mempersiapkan segala keperluan seorang mujahid hingga ia bisa menutup seluruh kebutuhannya, maka baginya paha seperti pahala mujahid tersebut sampai ia pulang atau gugur”. Dan hadits ini mengandung dua faedah; pertama: janji yang disebutkan tadi merupakan imbalan atas persiapan terbaik yang diberikan, dan inilah yang dimaksud dengan kata-kata (hingga ia bisa menutup seluruh kebutuhannya), kedua: pahala mereka berdua sama besarnya hingga peperangan tadi usai. (Fathul Baari 6/50).

[4] Diriwayatkan oleh Abu Dawud (2504), Ad Darimi (2/280), Ahmad (3/124,251), Al Baihaqy (2/6, 9/20), dan Al Hakim (2/91) dan katanya: “Shahih sesuai dengan syarat Muslim”, dari sahabat Anas bin Malik t, dengan lafazh:  yang artinya: (بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَأَلْسِنَتِكُمْ)“Dengan harta, jiwa, dan lisan kalian”. Sedang salah satu lafazh Ahmad (3/153) bunyinya: (بِأَلْسِنَتِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وأَمْوَالِكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ) yang berarti: “Dengan lisan, jiwa, harta dan tangan kalian”. Sedang An Nasa’i meriwayatkan dalam As Sunanul Kubra (3/6) dan Al Mujtaba (6/7) dengan lafazh: (جَاهِدُوْا الْمُشْرِكِيْنَ بِأَمْوَالِكُمْ ِوَأَيْدِيْكُمْ وَأَلْسِنَتِكُمَْ)  yang artinya: “Berjihadlah kalian melawan orang-orang musyrik dengan harta, tangan, dan lisan kalian”, sedang Ibnu Hibban (4708) meriwayatkannya dengan lafazh: (بِأَيْدِيَكُمْ وَ أَلْسِنَتِكُمْ). yang berarti: “Dengan tangan dan lisan kalian”.

* Faedah:

Al Mundziri –rahimahullah– berkata: “Mungkin yang dimaksudkan oleh ungkapan  (dengan lisan kalian) ialah sindiran lewat syair, karena Nabi e bersabda yang artinya: “Sungguh, sindiran lewat syair itu lebih cepat mengena dari pada lesatan anak panah”, tapi mungkin juga maksudnya menyeru dan menghimbau manusia supaya berangkat jihad dengan menjelaskan keutamaan-keutamaan jihad tersebut” (Syarhus Suyuthi lin Nasa’i, 6/7).

Al ‘Allaamah Syamsul Haq Al Abadi –rahimahullah– berkata: “Dalam subulus salam disebutkan bahwa hadits ini merupakan dalil atas wajibnya jihad dengan jiwa, yaitu terjun langsung ke medan perang melawan orang kafir; dan dengan harta, yaitu mendermakannya untuk urusan logistik dan persenjataan bagi mujahidin; dan dengan lisan, yaitu dengan menegakkan hujjah atas orang kafir dan menyeru mereka pada ajaran Allah, atau menggertak mereka, dan lain sebagainya yang intinya dapat menimpakan bencana terhadap musuh, Allah berfirman: “…dan tidaklah mereka menimpakan suatu bencana pun terhadap musuh, melainkan hal itu dicatat sebagai kebaikan bagi mereka”(At Taubah:120) (‘Aunul Ma’bud 7/182).

[5] Diriwayatkan oleh Al Bukhari (4423) dan  Muslim (1911, 159) dari Anas bin Malik t. Syaikhul Islam berkata: “Allah mengabarkan bahwa orang yang tetap tinggal di Madinah, yang terhalang oleh suatu udzur, adalah seperti mereka yang ikut serta dalam peperangan tersebut. Padahal kita semua tahu bahwa mereka yang berangkat perang, masing-masing akan mendapat pahala seorang mujahid fi sabilillah sesuai dengan kadar keikhlasannya; maka demikianlah orang yang tidak ikut berperang di jalan Allah yang terhalang oleh suatu udzur. Mirip dengan masalah ini, ada sebuah hadits yang terdapat dalam shahihain dari Abu Musa t, bahwa Rasulullah e bersabda:

« إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيْماً صَحِيْحاً»

“Pabila seorang hamba ditimpa sakit atau sedang bepergian, maka akan ditulislah baginya amalan-amalan yang biasa dikerjakannya sewaktu sehat dan menetap”. Itu karena seseorang yang biasa melakukan suatu amalan ketika sehat dan menetap, dan tidak pernah meninggalkannya kecuali karena sakit atau safar; berarti memang ia meninggalkannya karena tidak berdaya dan kesulitan, bukan karena lemahnya motivasi. Sebab ia memiliki kebulatan tekad dan semangat yang kuat sebagaimana mereka yang beramal, hanya saja kondisinya tidak mendukungnya untuk beramal. Sama halnya dengan mereka yang safar atau menderita penyakit-penyakit tertentu; walaupun keduanya tetap bisa beramal meski dengan susah payah, akan tetapi standar kemampuan seseorang menurut syari’at ialah pabila ia mampu mengamalkan sesuatu tanpa harus menimbulkan bahaya yang berarti bagi dirinya; sebagaimana firman Allah U: ( وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً) (آل عمران: من الآية 97) yang artinya: “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia kepada Allah, yaitu bagi orang yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah” (Ali Imran:97), juga firman-Nya: (فَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَإِطْعَامُ سِتِّينَ مِسْكِيناً) (المجادلة: من الآية 4)yang artinya: “…dan barang siapa tidak sanggup, maka hendaklah ia memberi makan 60 orang miskin” (Al Mujadilah:4), dan ayat-ayat lain yang senada. Jadi, yang jadi tolok ukur dalam syari’at bukanlah kemampuan untuk mewujudkan suatu amalan bagaimanapun bentuknya, akan tetapi kemampuan tadi harus bebas dari efek samping, baik yang lebih buruk (dari amal itu sendiri), atau bahkan yang setara sekalipun” (Majmu’ Fatawa 10/722).

An Nawawi –rahimahullah– berkata: “Hadits ini menjelaskan tentang keutamaan berniat baik, dan barangsiapa berniat untuk ikut perang atau ibadah lainnya kemudian terhalang oleh suatu udzur, maka ia akan mendapat pahala tersebab niatnya. Dan semakin besar penyesalannya atas luputnya kebaikan yang selalu diangan-angankan –yaitu ikut serta memanggul senjata bersama para mujahidin—akan semakin besar pula pahalanya, wallahu a’lam” (Syarh Shahih Muslim 5/75).

[6] Diriwayatkan oleh Abu Dawud (2936), Ibnu Majah (1809), dan Tirmidzi (645), lalu katanya: “Hadits (ini) hasan shahih”, sebagaimana dishahihkan pula oleh Ibnu Khuzaimah (2334) dan Al Hakim (1/564), dan komentarnya: “(Hadits ini) shahih sesuai syarat imam Muslim”; dari hadits Rafi’ bin Khadiej t dengan lafazh:   «العَامِلُ فِي الصَّدَقَةِ بِالحَقِّ كَالْغَازِي فِي سَبِيلِ الله عَزَّ وَجَلَّ حَتَّى يَرْجِعَ إِلَى أَهْلِهِ»yang artinya: “Seorang pengumpul zakat (‘amil) yang bekerja dengan haq itu seperti seseorang yang sedang bertempur di jalan Allah hingga ia kembali menemui keluarganya”.

[7] Diriwayatkan oleh Ahmad (20,22), At Tirmidzi (1621) dan katanya hadits ini: “Hasan Shahih”, kemudian Ibnu Hibban (4706), Ath Thabarani (18/309) nomor 797, dan Al Qudha’iy dalam Musnad Asy Syihab (184), dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam Al Jihad (175), dari Fadhalah bin ‘Ubeid t. Redaksi hadits ini juga termuat dalam hadits Fadhalah bin ‘Ubeid berikutnya, yang diriwayatkan oleh Ahmad (3/154) dan Ibnu Hibban (510).

[8] Hadits dengan lafazh tersebut deRajatnya shahih, sebahagiannya ada dalam shahihain dan sisanya dishahihkan oleh At Tirmidzi, seperti yang diungkapkan oleh penulis dalam kitabnya yang berjudul As Siyasatus Syar’iyyah hal 42. Diriwayatkan oleh Al Bukhari (10) dari Abdullah bin ‘Amer t dengan lafazh: المُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُونَ مِنْ لِسانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ  dan Muslim (41) dari Jabir t dengan lafazh: المُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ , juga At Tirmidzi (2627) dari Abu Hurairah t dengan lafazh: المُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، وَالمُؤْمِنُ مَنْ أَمنهُ النَّاسُ عَلَى دِمَائِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ  lalu katanya: “Hadits (ini) hasan shahih”. Juga diriwayatkan oleh Ahmad (6/21,22), Al Hakim (1/10,11), Ibnu Hibban (4862), Abu Ya’la (7/199) nomor 4187 dari Fadhalah bin ‘Ubeid katanya; Rasulullah e bersabda ketika haji wada’:

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بالمُؤْمِنِ مَنْ أَمِنَهُ النَّاسُ عَلىَ أَمْوَالِهِمْ وأَنْفُسِهِمْ، والمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ النَّاسُ مِنْ لِسَانِهِ ويَدِهِ، والمجُاَهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ في طَاعَةِ اللَّهِ، والمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ الخَطَاياَ وَالذُّنـُوبَ.

“Mahukah kalian kuberi tahu tentang seorang mukmin (yaitu); orang yang manusia merasa bahwa harta dan jiwa mereka aman darinya, dan seorang seorang muslim (yaitu); orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya, dan seorang mujahid (yaitu); orang yang melawan hawa nafsunya demi menaati Allah, dan seorang muhajir (yaitu); orang yang meninggalkan setiap yang dosa dan kesalahan”. Demikian pula diriwayatkan oleh Ibnu Hibban (510), Al Hakim (1/11) dan dishahihkan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari (1/54) dari Anas t dengan lafazh:

الْمُؤْمِنُ مَنْ أَمِنَهُ النَّاسُ عَلىَ أَمْوَالِهِمْ وأَنْفُسِهِمْ ، وَالْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ السُّوءِ.

“Seorang mukmin ialah orang yang manusia merasa bahwa harta dan jiwa mereka aman darinya, dan seorang muslim ialah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya sedang seorang muhajir ialah orang yang meninggalkan segala kejahatan”.

[9] Diriwayatkan oleh Ahmad (5/234), Abu Dawud (2515), An Nasa’i dalam As Sunanul Kubra (8730), dan dalam Al Mujtaba (6/49, 7/155), Ath Thabarani dalam Al Mu’jamul Kabir (20/91-92) dan dalam Musnad Asy Syamiyyin (1159), juga Al Hakim (8512), Al Baihaqy dalam Sunannya (9/168), dan dalam Syu’abul Iman (4265), dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam Al Jihad (133). Malik juga meriwayatkannya dalam Al Muwaththa’ (2/466) nomor 998, dari Yahya bin Sa’id dari Muadz bin Jabal secara mauquf. Hadits ini dihasankan oleh Al Albani dalam Silsilatus Shahihah nomor 1990.

* Faedah:

Al ‘Allaamah Az Zarqani –rahimahullah– berkata: “menginfakkan yang paling berharga” yakni dari hartanya yang paling bernilai, tapi mungkin juga yang dimaksud adalah harta yang halal tanpa tercampuri yang haram, termasuk yang syubhat. Atau boleh jadi maksudnya harta yang banyak, kalau infak di sini adalah infak dan sedekah bagi diri sendiri. Mungkin juga maksudnya adalah barang yang paling bagus, seperti berperang dengan mengendarai kuda yang paling cepat dan tangkas, yang sengaja ia pelihara untuk itu; atau mempersenjatai diri dengan senjata dan mesin perang paling canggih; jadi ia membelanjakan hartanya di jalan Allah guna membeli barang-barang tadi, kemudian ia menunggangi kudanya hingga lelah, atau memakai senjata dan mesin perangnya hingga rusak. Atau bisa juga maksudnya ketika seorang mujahid senantiasa memakai perlengkapan perangnya yang terbaik selama ia berjihad” (Al Muntaqa Syarhul Muwaththa’).

[10] Diriwayatkan oleh Al Bukhari (7458), dan Muslim (150, 1904).

*Faedah: Ibnu Taimiyyah –rahimahullah– berkata: “Manusia itu ada empat macam;

1.  Orang yang beramal untuk Allah diiringi keberanian dan kedermawanan; maka mereka itulah orang-orang mukmin yang pantas mendapatkan jannah.

2.  Orang yang beramal untuk selain Allah diiringi keberanian dan kedermawanan; maka manusia tipe ini hanya merasakan manfaat amalnya ketika di dunia saja, sedang di akherat ia tidak akan mendapat apa-apa.

3.  Orang yang beramal untuk Allah, tapi tidak diiringi keberanian dan kedermawanan; maka orang seperti ini menderita kemunafikan dan lemah iman sesuai dengan kadar kepengecutan dan kebakhilannya.

4.  Orang yang tidak beramal untuk Allah sekaligus tidak bersifat pemberani maupun dermawan; maka orang model ini tak akan beruntung di dunia dan akherat” (Majmu’ Fatawa 28/147).

[11] An Nikayah; dikatakan kamu berbuat nikayah jika kamu berhasil mencederai dan membunuh banyak musuhmu, hingga mereka menjadi lemah karenanya, (An Nihayah fi Gharibil Hadits, oleh Ibnul Atsier 5/117)

[12] Syaikhul Islam –rahimahullah– berkata: “Imam Muslim meriwayatkan dalam shahihnya dari Rasulullah e, tentang cerita Ashabul Ukhdud (orang-orang yang menggali parit), yang dikisahkan di sana bahwa si Bocah itu memerintahkan agar dirinya dibunuh, karena hal itu membawa maslahat berupa kejayaan agama. Oleh karenanya, para ulama menyatakan bolehnya seorang muslim meleburkan diri ke tengah-tengah musuh –meskipun ia mengira bahwa mereka pasti menghabisinya– apabila hal itu mendatangkan kemaslahatan bagi umat Islam. Dan masalah ini telah kita bahas secara panjang lebar di tempat yang lain. Seandainya seseorang boleh melakukan sesuatu yang diyakini akan menyebabkan dirinya terbunuh demi kemaslahatan jihad, –padahal praktek membunuh diri sendiri itu lebih besar dosanya dibanding membunuh orang lain– maka terbunuhnya orang lain demi kemaslahatan dien yang tidak mungkin dicapai selain dengan cara itu, adalah lebih boleh lagi. Seperti ketika seseorang hendak menghentikan serbuan musuh yang merusak tatanan dunia dan agama, yang tidak bisa ditanggulangi kecuali dengan menyerang mereka” (Majmu’ Fatawa 28/540).

[13] Imam Asy Syafi’ie –rahimahullah– mengatakan: “Kurasa tidak mengapa, jika seseorang menye-rang sekawanan musuhnya seorang diri, atau menyergap salah seorang musuhnya, meskipun ia mengira bahwa kemungkinan besar ia akan terbunuh; karena Nabi e pernah menyaksikan penyergapan di hadapan beliau, demikian pula halnya dengan salah seorang anshar yang menyerang kaum musyrikin pada perang badar tanpa baju besi, yaitu setelah Nabi mengabarkan tentang keutamaan perbuatan tersebut; hingga akhirnya ia pun terbunuh” (Al Umm 4/92).

[14] Imam Ahmad –rahimahullah– pernah ditanya: “Seorang tawanan yang mendapati sebilah pedang atau senjata lain, kemudian ia nekad menyerang musuhnya padahal ia tidak tahu apakah bisa selamat nantinya atau tidak; apakah berarti ia mencelakai diri sendiri?” jawab beliau: “Tidakkah kamu mendengar apa jawaban Umar t ketika ada orang yang mengatakan kepadanya: “Sesungguhnya ayahku atau pamanku telah mencampakkan diri mereka pada kebinasaan…?”maka sahut Umar: “Justeru itulah orang yang membeli akherat dengan imbalan dunia mereka” (Masaail Imam Ahmad, menurut riwayat  Shaleh putera beliau 2/469).

Abu Dawud mengatakan: Aku mendengar Imam Ahmad pernah berkata: “Kalau ia tahu bakal ditawan, maka ia harus melawan meski akhirnya terbunuh; itu lebih aku sukai”, beliau juga mengatakan: “Jangan sampai ia jatuh sebagai tawanan, karena jadi tawanan itu amatlah berat…”. Abu Dawud melanjutkan: Aku mendengar bahwa Ahmad bin Hambal pernah ditanya tentang seorang tawanan yang sudah jatuh ke tangan musuh, bolehkah ia nekad melawan mereka?” jawab beliau: “Ya, kalau ia merasa mampu melawan mereka” (Masaail Imam Ahmad, oleh Abu Dawud 247), baca juga: Al Mughni (9/176), dan Kasysyaaful Qinaa’ (3/70).

* Al Mawardy –rahimahullah– berkata: Imam Ahmad mengatakan: “Aku tidak suka ada orang yang tunduk dijadikan tawanan; kalau ia melawan adalah lebih kusukai. Ditawan itu berat, sedangkan maut itu pasti akan datang juga”. ‘Ammar bin Yasir t pernah berkata: “Orang yang menyerah untuk ditawan, berarti ia menanggalkan perlindungan (Allah) atas dirinya”. Karenanya Al Ajurry mengatakan: “Ia berdosa karenanya, demikianlah pendapat Imam Ahmad”. Syaikh Taqiyyuddien menyebutkan bahwa: “Disunnahkan untuk meleburkan diri ke tengah-tengah musuh selama menguntungkan kaum muslimin; namun kalau tidak, maka haram baginya dan itu termasuk membinasakan diri sendiri” (Al Inshaf 4/125).

[15] Abu Bakar Al Jashshaash Al Hanafy (w. 370 H) –rahimahullah– berkomentar tentang firman Allah:

( وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ) (البقرة: من الآية 195)

“Berinfaklah kamu di jalan Allah, dan janganlah kamu menjerumuskan dirimu dalam kebinasaan” (Al Baqarah:195). Beliau menyebutkan beberapa kondisi, di antaranya; “Orang yang nekad terjun ke kancah pertempuran tanpa menimpakan kerugian yang berarti di pihak musuh (nikayah); dan inilah asumsi sementara orang yang akhirnya dibantah oleh Abu Ayyub t (lihat hal 31), kemudian ia menceritakan tentang sebab turunnya ayat itu. Beliau –rahimahullah– melanjutkan: “Adapun menerapkan kondisi ini terhadap seseorang yang menyerang sepasukan musuhnya, maka Muhammad ibnul Hasan –sahabat dekat Abu Hanifah– menyebutkan dalam Asy Syarhul Kabir bahwa: “Bila ada seseorang yang nekad menyerang seribu orang musuhnya padahal ia seorang diri, maka hal itu tak mengapa selama ia optimis bisa selamat atau menimbulkan nikayah bagi musuhnya; namun jika ia tidak optimis bisa selamat atau menimbulkan nikayah, maka itu makruh menurutku; karena hal itu termasuk membinasakan diri sendiri tanpa ada manfaatnya bagi kaum muslimin”.

Seyogyanya, hal ini dilakukan seseorang ketika ia beranggapan kuat bisa menyelamatkan diri atau memberi suatu manfaat bagi kaum muslimin; jika ia tidak beranggapan kuat bisa selamat atau menimbulkan nikayah bagi musuhnya, namun sekedar membakar semangat kaum muslimin, hingga mereka terdorong untuk menirunya kemudian bertempur habis-habisan hingga gugur setelah menimbulkan nikayah bagi musuhnya; maka hal ini tidak mengapa insya Allah. Karena menurutku, kalau ia yakin bisa menimbulkan nikayah bagi musuhnya meskipun ia sangsi atas keselamatan dirinya, ia boleh untuk nekad menyerang; demikian pula jika ia yakin bisa memancing orang lain untuk menimbulkan nikayah bagi musuh setelah menyaksikan kenekadannya tadi… hal ini juga tak mengapa, bahkan aku berharap ia mendapatkan pahala karenanya. Sedang yang makruh baginya ialah jika perbuatannya itu tidak mendatangkan manfaat sama sekali. Meskipun ia sangsi bisa selamat atau menimbulkan nikayah, tapi jika perbuatannya itu menggentarkan musuh, maka ini juga tak mengapa; karena ini merupakan nikayah yang paling afdhal dan mengandung manfaat bagi kaum muslimin.

Kondisi-kondisi yang disebutkan oleh Muhammad tadi adalah benar, dan selain itu tidak boleh. Dan kepada makna-makna yang seperti inilah kita membawa pemahaman mereka yang menyangka bahwa temannya telah menjerumuskan dirinya sendiri dalam kebinasaan, yaitu ketika nekad menyerang musuh sendirian seperti dalam hadits Abu Ayyub t (lihat hal 31); itu dikarenakan perbuatannya tidak mendatangkan manfaat apa pun, dan jika memang demikian halnya, maka tidak boleh baginya untuk membinasakan diri tanpa mendatangkan manfaat bagi Islam dan kaum muslimin. Akan tetapi kalau kebinasaan dirinya akan mendatangkan manfaat bagi Islam dan kaum muslimin, maka inilah kedudukan yang mulia, yang karenanya Allah memuji para sahabat dalam firman-Nya: “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, jiwa dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah; lalu mereka membunuh atau dibunuh…” (At Taubah:111), dan firman-Nya: “Dan janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati, bahkan mereka hidup di sisi Tuhannya sambil diberi rezeki” (Ali Imran:169), juga firman-Nya: Dan diantara manusia ada orang-orang yang menjual dirinya demi mencari keridhaan Allah…” (Al Baqarah:207). Dan masih banyak lagi ayat-ayat lain yang di sana Allah U memuji seseorang yang rela mengorbankan dirinya karena-Nya… (Ahkaamul Qur’an 3/360), lihat juga: Haasyiyah Ibnu ‘Abidin 4/127.

[16] Al ‘Allaamah Al Qurthuby Al Maliky –rahimahullah– mengatakan: “Para ulama berbeda pendapat mengenai seseorang yang menerobos barisan musuh, dan menyerang mereka seorang diri; menurut Al Qasim bin Mukhaimarah, Al Qasim bin Muhammad dan Abdul Malik dari ulama mazhab kami: Tidak mengapa jika seseorang menyerang pasukan musuh yang berjumlah besar seorang diri, kalau ia memiliki kekuatan untuk itu dan niatnya ikhlas karena Allah. Namun tanpa adanya kekuatan, hal itu berarti menjerumuskan diri dalam kebinasaan.

Pendapat lain mengatakan: Kalau ia mencari syahadah (mati syahid) dan niatnya ikhlas untuk itu, silakan ia melakukannya; karena targetnya adalah salah satu dari mereka, dan hal ini jelas sekali dalam firman Allah:Dan diantara manusia ada orang-orang yang menjual dirinya demi mencari keridhaan Allah…” (Al Baqarah:207).

Ibnu Juwaiz Mandad berkata: “Kalau ada seseorang melawan seratus orang, atau sepasukan musuh, atau segerombolan penyamun, atau kaum pemberontak dan orang-orang khawarij; maka ia tidak lepas dari dua kondisi: kalau ia tahu dan beranggapan kuat bisa menghabisi targetnya kemudian meloloskan diri, maka hal ini baik. Demikian halnya kalau menurut perkiraan ia akan tewas setelah menimbulkan nikayah dan bencana bagi musuh yang sangat bermanfaat bagi kaum muslimin, maka hal ini pun boleh. Ada kabar yang sampai kepadaku bahwa ketika pasukan Islam menghadapi tentara Persia, kuda-kuda mereka lari ketakutan melihat gajah yang ditunggangi pihak Persia. Akhirnya ada salah satu tentara Islam yang membuat patung gajah dari tanah, dan menjinakkan kudanya dengan patung gajah itu sampai kudanya tidak takut lagi melihatnya. Keesokan harinya, kuda tunggangannya itu tidak lagi lari ketakutan sebagaimana kuda kaum muslimin lainnya, maka ia pun dengan gagah berani menyerang gajah yang paling depan… Orang-orang pun berteriak kepadanya: “Hei… ia pasti membunuhmu!!” tapi jawabnya: “Biarlah aku mati, asal kaum muslimin menang…”. Begitu juga yang terjadi pada perang Yamamah ketika Bani Hanifah bertahan pada sebuah benteng di dalam kebun… maka salah seorang kaum muslimin mengatakan: “Taruhlah aku di atas mesin lontar dan lontarkan aku ke dalam kebun itu”, mereka pun melakukannya dan orang tadi akhirnya berhasil membuka pintu setelah bertempur mati-matian seorang diri.

Aku berpendapat: di antara dalil dalam masalah ini ialah ketika salah seorang berkata kepada Nabi e: “Bagaimana menurut anda kalau aku terbunuh fi sabilillah dalam keadaan sabar dan penuh harap?” jawab beliau: “Kamu mendapatkan surga”, maka orang itu pun meleburkan dirinya ke tengah-tengah musuh sampai terbunuh.

Disebutkan dalam Shahih Muslim, dari Anas bin Malik t bahwa Rasulullah e dalam perang Uhud sempat terdesak bersama tujuh orang anshar dan dua orang Quraisy. Ketika musuh terus mendesak beliau, beliau berseru: “Siapa yang bisa memukul mundur mereka dariku, dan baginya surga…?!”, atau katanya: “… ia akan menjadi pendampingku di surga?!”. Maka salah seorang dari kaum anshar maju menyerang hingga ia terbunuh… kemudian mereka mendesak lagi dan beliau kembali berseru: “Siapa yang bisa memukul mundur mereka dariku, dan baginya surga…?!”, atau katanya: “… ia akan menjadi pendampingku di surga?!”. Maka maju lagi salah seorang anshar yang lain, dan ia bertempur hingga akhirnya terbunuh; dan demikian seterusnya hingga ketujuh orang tadi gugur semuanya. Maka Rasulullah bersabda (dalam riwayat ini): مَا أَنْصَـفْـناَ أَصْحَابَـنَا –(dengan sukun pada fa’ dalam kata anshafna, dan fathah pada ba’ dalam kata ashaabana)– yang artinya: “Kita belum mengajari mereka cara berperang, hingga mereka gugur semua”. Hadits tadi juga diriwayatkan dengan lafazh: مَا أَنْصَـفَـناَ أَصْحَابـُناَ (dengan fathah pada  fa’ –anshafana dan dhammah pada ba’-ashaabuna)—yang artinya: “Sahabat-sahabat kita (hari ini) sungguh tidak adil kepada kita”, maksud beliau ialah sebagian sahabat yang lari meninggalkan beliau, wallaahu a’lam.

Muhammad ibnul Hasan berkata: “Kalau seseorang menyerang seribu orang tentara musyrik seorang diri, itu tidak mengapa, selama ia optimis bisa selamat atau menimbulkan nikayah bagi musuh; tapi kalau tidak begitu maka hukumnya makruh, karena ia membahayakan dirinya sendiri tanpa suatu manfaat. Kalau ia bermaksud agar kaum muslimin menjadi berani kepada musuhnya, hingga mereka berbuat yang serupa dengannya, maka ini pun dibolehkan, karena masih mengandung manfaat dari beberapa sisi. Atau jika ia bermaksud menggentarkan musuh, agar mereka mengetahui kegigihan kaum muslimin, ini juga masih dibolehkan. Dan jika akhirnya ia binasa demi kejayaan agama dan berhasil mendatangkan manfaat bagi kaum muslimin, maka itulah kedudukan mulia yang Allah sebut-sebut dalam firman-Nya: “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, jiwa dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka…” (At Taubah:111), dan masih banyak lagi ayat-ayat pujian lainnya terhadap orang yang mengorbankan dirinya” (Tafsir Al Qurthuby 2/363,364).

bersambung…

FIQHUL JIHAD (1)

diambil dari http://basweidan.wordpress.com

Mukaddimah muhaqqiq

Segala puji bagi Allah yang kami senantiasa memuji, minta tolong, dan minta ampun kepada-Nya; sebagaimana kami senantiasa berlindung kepada-Nya dari kejahatan diri kami dan kejelekan amalan kami. Barangsiapa diberi hidayah oleh Allah maka tak seorang pun bisa menyesatkannya; dan barangsiapa disesatkan oleh Allah maka tak seorang pun yang dapat memberinya hidayah. Aku bersaksi bahwa tiada ilah melainkan Allah yang tiada sekutu bagi-Nya; dan bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

Amma ba’du: inilah kitab baru dan karya nan berharga yang diterbitkan untuk pertama kalinya; tulisan Al ‘Allaamah, Seorang mujahid yang Qur’ani dan rabbani; Syaikhul Islam wal muslimin, Abul ‘Abbas Ahmad ibnu Taimiyyah rahimahullah. Kami persembahkan karya ini kepada kaum muslimin di sebuah zaman, yang mana kaum muslimin amat membutuhkan keberanian dan pengorbanan, untuk maju dan tegar dalam menghadapi serangan keras kaum zionis yang menyimpan dendam kesumat terhadap Islam dan kaum muslimin.

Dialah Syaikhul Islam yang telah berjihad melawan bangsa Tartar (bangsa Mongol yang terkenal kejam dan bengis) melalui pedang dan goresan penanya, beliau pun tidak ketinggalan dalam mencurahkan segenap kemampuannya untuk mengajarkan kaum muslimin setiap hal yang bermanfaat bagi mereka, yang berkenaan dengan agama dan dunia mereka; lebih-lebih yang berkaitan dengan jihad dan mujahidin yang merupakan puncak ketinggian Islam.

Seorang mujahid sejati; ialah mereka yang senantiasa ittiba’ dan mendapat petunjuk, Allah berfirman: “Dan orang-orang yang berjihad untuk Kami, pastilah Kami akan menunjukki mereka kepada jalan-jalan Kami” (Al Ankabut:69). Jadi, ia tidak akan melangkah untuk berbuat sesuatupun tanpa dilandasi ilmu; agar tidak menimbulkan kerusakan yang lebih besar dari pada manfaatnya.

Karena ikut serta dalam amaliyah-amaliyah jihadiyah dengan dasar kejahilan, hanyalah akan merubah jihad menjadi kerusakan; bahkan akan berbalik menjadi fitnah dan kejelekan bagi Islam dan kaum muslimin.

Seorang mujahid yang mukhlis; ialah mereka yang tidak menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di muka bumi; tidak berlaku aniaya, melampaui batas, atau melanggar perjanjian. Karena setiap kezaliman dan ingkar janji, adalah salah satu penyebab menangnya mereka yang dizalimi atas yang zalim; Allah berfirman: “Demikianlah, dan barangsiapa membalas seimbang dengan penganiayaan yang pernah ia derita, kemudian ia dianiaya lagi, pasti Allah akan menolongnya” (Al Hajj:60).

Seorang mujahid muslim, tidaklah berjihad dijalan Allah karena hobi membunuh dan menumpahkan darah, atau menghabisi etnis lain. Bahkan ketika ia bertemu musuhnya ia berada di antara dua misi; antara meninggikan kalimat Tauhid sembari bersikap keras terhadap para penentangnya, yang menghalang-halangi kaum muslimin untuk menegakkannya; dan sekaligus kasihan jikalau orang-orang kafir itu sampai terkena ‘sabetan pedang’–di dunia–dan siksa neraka –di akherat kelak–, sehingga ia justeru lebih merasa gembira dengan keislaman mereka daripada jika mereka mati terbunuh atau jatuh dalam tawanan. Karena bagaimana pun mereka juga  hamba Allah; Allah U berfirman: “Seperti itulah keadaan kalian sebelumnya, lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya kepada kalian” (An Nisa’:94)[1].

Mengenai penisbatan kitab ini kepada penulisnya (Ibnu Taimiyyah)

Ibnu Taimiyyah sendiri mengisyaratkan akan keberadaan kitab ini ketika beliau menjelaskan masalah yang serupa, katanya: “Oleh karena itulah, para Imam yang empat sepakat atas bolehnya seorang muslim meleburkan dirinya ke tengah-tengah barisan orang kafir, meski ia berasumsi kuat bahwa mereka akan membunuhnya; jika pada yang demikian itu terdapat kemaslahatan bagi kaum muslimin. Dan masalah ini telah kita kaji secara panjang lebar di tempat lain[2] ”. Yang beliau maksudkan dengan ‘tempat lain’ itu ialah kitab ini.

Sebagaimana Al ‘Allaamah Ibnu ‘Abdil Hadi –murid Syaikhul Islam, dan penulis biografi beliau– pernah menyinggung kitab ini dalam tulisannya yang berjudul “Al ‘Uquudud Durriyyah” dan mengatakan bahwa judulnya: “Qaa-‘idatun fil in-ghimaas fil ‘aduwwi, wahal yubaah?” yang versi Indonesianya berarti: “Kaidah mengenai meleburkan diri ke tengah-tengah musuh, bolehkah hal itu?”. Dan judul inilah yang kuambil sebagai rujukan utama dalam menahqiq kitab ini.

Penulis menyebutkan dalam bagian awal kitabnya bahwa permasalahan ini berkenaan dengan seseorang atau sekelompok orang yang berperang melawan musuh, yang jumlahnya lebih dari dua kali lipat jumlah mereka, akan tetapi peperangan tersebut membawa kemaslahatan bagi Islam; sedangkan mereka berasumsi kuat bahwa mereka akan binasa.

Sekilas mengenai naskah asli (manuskrip):

Dalam hal ini saya merujuk kepada satu-satunya naskah (manuskrip) yang termuat dalam Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam, yang tersimpan dalam perpustakaan “Daarul Kutubil Mishriyyah” dengan nomor 444 Fiqh Taimur. Naskah ini berjumlah 48 lembar, sesuai dengan nomor halaman yang tertulis di naskah aslinya. Setiap halaman terdiri dari 13 baris, yang ditulis dengan khath req’ah yang jelas. Penyalinan naskah ini selesai pada tahun 1319 Hijriyah, dan penyalinnya tidak dikenal.

Yang kami lakukan dalam mentahqiq kitab ini:

  • Saya menjadikan naskah tadi sebagai rujukan utama, sambil mengoreksi kesalahan-kesalahan yang ada dengan merujuk kepada perkataan-perkataan Syaikhul Islam dalam kitab-kitab beliau yang lain.
  • Saya berusaha merumuskan setiap pokok masalah dalam kitab ini seluruhnya, kemudian menyesuaikan satu ungkapan dengan ungkapan lainnya, dan menomori tiap-tiap pokok masalah tadi secara urut[3], lalu memberinya judul pinggir.
  • Sebagaimana saya juga mencantumkan nama surat dan nomor ayat di belakang tiap ayat, dan mentakhrij hadits-hadits dan atsar-atsar sekaligus menghukumi derajatnya masing-masing (shahih, hasan, dha’if, dst).
  • Di samping itu saya juga mencantumkan beberapa ta’liq (catatan kaki) penting, yang kebanyakan kuambil dari perkataan Syaikhul Islam dari kitab-kitabnya yang lain; sedang sisanya dari beberapa kitab fiqh lainnya.
  • Kemudian aku membikin daftar isi bagi tiap ayat, hadits, atsar, dan pokok-pokok bahasan [4]. Demikianlah, dalam hal ini saya telah berusaha sekuat tenaga untuk mencurahkan segenap kemampuan saya.

Akhirnya, kepada Allah lah aku memohon agar menjadikan amalku ini benar-benar ikhlas karena-Nya, dan semoga Allah memelihara kita semua dari setiap fitnah baik yang dhahir maupun yang bathin, sesungguhnya Ia Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan permintaan.

Walaa haula walaa quwwata illa billaah, cukuplah Allah sebagai penolongku dan Dialah sebaik-baik penolong.

Al Isma’iliyyah, 11 Muharram 1422 H

Al Muhaqqiq: Abu Muhammad, Asyraf bin Abdul Maqshud

Translated by: Abu Hudzaifah Al Atsary, Lc

lanjut>>


[1] Silakan merujuk ke: “Asbaabun Nashri wal Intishaar” karya Ibnul Hambaly (wafat th 536H), –masih berupa manuskrip– hal 3 dan 4.[2] Majmu’ Fatawa 28/540.

[3] Akan tetapi kami –penerjemah—sengaja tidak mencantumkannya, karena cara seperti ini tidak lazim digunakan dalam buku-buku terjemahan, namun kami akan mengaturnya dalam bentuk paragraf-paragraf kecil sesuai dengan topik bahasan tiap masalah –pent).

[4] Namun disini kami hanya mencukupkan dengan daftar isi yang berkenaan dengan pokok-pokok bahasan saja –pent).

UIM Bersama Gontor Gelar “Dauroh Tadribiyyah dan Muqobalah”

UIM Bersama Gontor Gelar “Dauroh Tadribiyyah dan Muqobalah”

DARUSSALAM — Universitas Islam Madinah (UIM) menjalin kerjasama dengan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) Ponorogo dalam menyelenggarakan “Dauroh Tadribiyyah dan Muqobalah” yang akan dibuka Sabtu (6/2) mendatang. Acara yang diketuai Ustadz Sunan Autad Sarjana, Lc. dan Ustadz Azmi Syukri Zarkasyi, Lc. ini akan berlangsung selama kurang lebih 10 hari, Sabtu-Selasa, 6-16 Februari 2010, bertempat di Kampus Pondok Modern Gontor 2, Madusari, Siman, Ponorogo.

Menurut penuturan Ustadz Yadi Nur Alami, Sekretaris Panitia “Daurah Tadribiyyah dan Muqobalah”, ketika dikonfirmasi Gontor Online di tempatnya, Rabu (27/1) malam, acara tersebut direncanakan menggunakan lima lokal kelas yang ada di Gontor 2. Pada saat yang bersamaan, di Gontor sedang berlangsung Ujian Pertengahan Tahun 1431/2010. Oleh karena itu, Ustadz Yadi mengungkapkan, seluruh kegiatan terkait acara di atas dipusatkan di Gontor 2, sehingga tidak mengganggu suasana belajar santri se-Darussalam.

Ustadz yang berasal dari Majalengka ini menambahkan, secara umum, acara dauroh ini terbagi menjadi dua, yakni Kegiatan Dauroh dan Kegiatan Muqobalah. Kegiatan Dauroh merupakan kegiatan belajar mengajar bersama para dosen dari Madinah. Kegiatan ini, rencananya akan dilaksanakan pada pagi hingga siang hari. Sedangkan Kegiatan Muqobalah adalah praktek interview dengan para dosen tersebut bagi mereka yang ingin mendaftarkan diri menjadi mahasiswa UIM. “Kegiatan Muqobalah ini dilaksanakan pada sore dan malam hari. Tidak semua peserta dauroh berhak mengikutinya,” tutur Ustadz Yadi. Mereka disyaratkan memiliki nilai ijazah dengan predikat “Jayyid Jiddan” atau “Mumtaz”.

Para dosen yang akan datang dari Madinah berjumlah 11 orang. Sembilan orang di antara mereka aktif mengajar pada Kegiatan Dauroh dan sisanya sebanyak dua orang berencana mengadakan acara keliling ke beberapa Pondok Pesantren Mu’adalah Madinah. Di samping itu, dosen-dosen yang ada tersebut juga akan memberikan pengarahan bagi para imam dan khotib di masjid-masjid sekitar. Pengarahan ini akan dilaksanakan setiap hari seusai shalat Maghrib tepat. Menurut jadwal, kata Ustadz Yadi, sebagian dosen akan tiba di Gontor pada Senin (1/2) ini. Selanjutnya akan disusul dosen lainnya tiga hari kemudian, Kamis (4/2) nanti. Mereka akan kembali ke Madinah pada Kamis (18/2), dua hari setelah acara terlaksana.

Adapun peserta acara “Dauroh Tadribiyyah dan Muqobalah” terbatas, berjumlah 200 orang berasal dari Pondok Modern Darussalam Gontor, pondok pesantren (ponses) sekitar yang diajukan panitia dari Madinah sebanyak 22 ponpes, beberapa Pondok Pesantren Alumni dan ponpes non alumni yang mendapatkan undangan dari panitia untuk mengikuti acara tersebut dengan utusan maksimal sebanyak dua orang. Peserta dari ponpes yang mendapatkan undangan dari panitia diwajibkan membawa serta surat tugas dari pesantren yang bersangkutan. Untuk biaya, Ustadz Yadi menyatakan, selama acara ditanggung panitia, namun biaya transportasi pulang-pergi peserta ditanggung masing-masing. “Perlu diketahui, Kegiatan Muqobalah bisa diikuti siapa saja walaupun tidak menjadi peserta Kegiatan Dauroh dengan syarat memenuhi kriteria yang telah ditentukan UIM,” tegas Ustadz Yadi.

Persyaratan untuk Peserta Kegiatan Muqobalah
Persyaratan umum:
1. Beragama Islam dan berkelakuan baik.
2. Komitmen mentaati aturan UIM.
3. Sehat jasmani.
4. Lulus ujian atau muqabalah yang dilakukan pihak UIM.
5. Memiliki ijazah dari sekolah negeri atau swasta yang mendapat akreditasi (mu’adalah) dari UIM. Berarti, ijazah dari sekolah negeri di Indonesia tidak perlu akreditasi.
6. Siap belajar sepenuhnya.
7. Memenuhi setiap persyaratan yang mungkin ditentukan UIM saat mengajukan
permohonan beasiswa.

Persyaratan masuk program S1:
1. Memiliki ijazah SMA atau sederajat.
2. Minimal nilai ijazah ”Jayyid Jiddan” (Baik Sekali)/rata-rata minimal 7,7.
3. Hafalan al Qur’an minimal 3 Juz
4. Usia ijazah tidak lebih dari 5 tahun.
5. Tidak pernah drop out (DO) dari universitas lain karena sebab akademis atau hukuman.
6. Usia pemohon beasiswa tidak lebih dari 25 tahun.
7. Peminat Fakultas Quran harus memiliki hafalan 30 juz.

Berkas yang diperlukan:
1. Ijazah.
2. Daftar nilai ijazah/rapor tahun terakhir.
3. Syahadah husni sirah wa suluk (Surat Keterangan Berkelakuan Baik), diutamakan dari sekolah asal/ SKCK dari kepolisian.
4. Akte kelahiran.
5. Surat keterangan sehat dari penyakit menular dari dokter.
6. Enam lembar pas foto ukuran 4 x 6.
7. Tazkiyah (rekomendasi) dari 1 lembaga keislaman di negara asal, atau dari 2 tokoh agama yang dikenal, berisi keterangan komitmen menjalankan kewajiban agama dan berpegang kepada adab-adab Islam.

Untuk yang Sehati

Bercita-cita mengamalkan Islam secara utuh adalah suatu hal yang wajib bagi setiap muslim....
Namun bila belum mampu seluruhnya, jangan ditinggalkan semuanya....Karena Alloh Subhanahu wata'ala tidak membebani seseorang kecuali sesuai kemampuan maksimal yang dimiliki...

Buat diriku & dirimu

....Jangan pernah merasa cukup untuk belajar Islam, karena semakin kita tahu tentang Islam, semakin kita tahu tentang diri kita (...seberapa besar iman kita, ...seberapa banyak amal kita,....seberapa dalam ilmu kita, dan sebaliknya...seberapa besar kemunafikan kita, ...seberapa banyak maksiat kita, ...seberapa jauh kedunguan kita)
....Barangsiapa mengenal dirinya, maka semakin takut ia kepada Alloh Subhaanahu wata'ala

Do’a kita

Semoga Alloh Subhaanahu wata'ala meneguhkan hati kita dalam Islam hingga maut menjemput kita,...aamiin

Kalender

Februari 2010
S M S S R K J
« Jan   Mar »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728  

Total Pengunjung

  • 213,708 klik