6 Kerusakan Valentine’s Day

6 Kerusakan Valentine’s Day

Alhamdulillahilladzi hamdan katsiron thoyyiban mubarokan fih kama yuhibbu robbuna wa yardho. Allahumma sholli ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Banyak kalangan pasti sudah mengenal hari valentine (bahasa Inggris: Valentine’s Day). Hari tersebut dirayakan sebagai suatu perwujudan cinta kasih seseorang. Perwujudan yang bukan hanya untuk sepasang muda-mudi yang sedang jatuh cinta. Namun, hari tersebut memiliki makna yang lebih luas lagi. Di antaranya kasih sayang antara sesama, pasangan suami-istri, orang tua-anak, kakak-adik dan lainnya. Sehingga valentine’s day biasa disebut pula dengan hari kasih sayang.
Cikal Bakal Hari Valentine

Sebenarnya ada banyak versi yang tersebar berkenaan dengan asal-usul Valentine’s Day. Namun, pada umumnya kebanyakan orang mengetahui tentang peristiwa sejarah yang dimulai ketika dahulu kala bangsa Romawi memperingati suatu hari besar setiap tanggal 15 Februari yang dinamakan Lupercalia. Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari). Dua hari pertama, dipersembahkan untuk dewi cinta (queen of feverish love) Juno Februata. Pada hari ini, para pemuda mengundi nama–nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk senang-senang dan dijadikan obyek hiburan. Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan dewa Lupercalia dari gangguan srigala. Selama upacara ini, kaum muda melecut orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dilecut karena anggapan lecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur.

Ketika agama Kristen Katolik menjadi agama negara di Roma, penguasa Romawi dan para tokoh agama katolik Roma mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I (The Encyclopedia Britannica, sub judul: Christianity). Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St. Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (The World Book Encyclopedia 1998).

Kaitan Hari Kasih Sayang dengan Valentine

The Catholic Encyclopedia Vol. XV sub judul St. Valentine menuliskan ada 3 nama Valentine yang mati pada 14 Februari, seorang di antaranya dilukiskan sebagai yang mati pada masa Romawi. Namun demikian tidak pernah ada penjelasan siapa “St. Valentine” yang dimaksud, juga dengan kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung-pangkalnya karena tiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda.

Menurut versi pertama, Kaisar Claudius II memerintahkan menangkap dan memenjarakan St. Valentine karena menyatakan Tuhannya adalah Isa Al-Masih dan menolak menyembah tuhan-tuhan orang Romawi. Orang-orang yang mendambakan doa St.Valentine lalu menulis surat dan menaruhnya di terali penjaranya.

Versi kedua menceritakan bahwa Kaisar Claudius II menganggap tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan daripada orang yang menikah. Kaisar lalu melarang para pemuda untuk menikah, namun St.Valentine melanggarnya dan diam-diam menikahkan banyak pemuda sehingga iapun ditangkap dan dihukum gantung pada 14 Februari 269 M (The World Book Encyclopedia, 1998).

Versi lainnya menceritakan bahwa sore hari sebelum Santo Valentinus akan gugur sebagai martir (mati sebagai pahlawan karena memperjuangkan kepercayaan), ia menulis sebuah pernyataan cinta kecil yang diberikannya kepada sipir penjaranya yang tertulis “Dari Valentinusmu”. (Sumber pembahasan di atas: http://id.wikipedia.org/ dan lain-lain)

Dari penjelasan di atas dapat kita tarik kesimpulan:

  1. Valentine’s Day berasal dari upacara keagamaan Romawi Kuno yang penuh dengan paganisme dan kesyirikan.
  2. Upacara Romawi Kuno di atas akhirnya dirubah menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day atas inisiatif Paus Gelasius I. Jadi acara valentine menjadi ritual agama Nashrani yang dirubah peringatannya menjadi tanggal 14 Februari, bertepatan dengan matinya St. Valentine.
  3. Hari valentine juga adalah hari penghormatan kepada tokoh nashrani yang dianggap sebagai pejuang dan pembela cinta.
  4. Pada perkembangannya di zaman modern saat ini, perayaan valentine disamarkan dengan dihiasi nama “hari kasih sayang”.

Sungguh ironis memang kondisi umat Islam saat ini. Sebagian orang mungkin sudah mengetahui kenyataan sejarah di atas. Seolah-olah mereka menutup mata dan menyatakan boleh-boleh saja merayakan hari valentine yang cikal bakal sebenarnya adalah ritual paganisme. Sudah sepatutnya kaum muslimin berpikir, tidak sepantasnya mereka merayakan hari tersebut setelah jelas-jelas nyata bahwa ritual valentine adalah ritual non muslim bahkan bermula dari ritual paganisme.

Selanjutnya kita akan melihat berbagai kerusakan yang ada di hari Valentine.

Kerusakan Pertama: Merayakan Valentine Berarti Meniru-niru Orang Kafir

Agama Islam telah melarang kita meniru-niru orang kafir (baca: tasyabbuh). Larangan ini terdapat dalam berbagai ayat, juga dapat ditemukan dalam beberapa sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan hal ini juga merupakan kesepakatan para ulama (baca: ijma’). Inilah yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab beliau Iqtidho’ Ash Shiroth Al Mustaqim (Ta’liq: Dr. Nashir bin ‘Abdil Karim Al ‘Aql, terbitan Wizarotusy Syu’un Al Islamiyah).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar kita menyelisihi orang Yahudi dan Nashrani. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى لاَ يَصْبُغُونَ ، فَخَالِفُوهُمْ

“Sesungguhnya orang Yahudi dan Nashrani tidak mau merubah uban, maka selisihlah mereka.” (HR. Bukhari no. 3462 dan Muslim no. 2103) Hadits ini menunjukkan kepada kita agar menyelisihi orang Yahudi dan Nashrani secara umum dan di antara bentuk menyelisihi mereka adalah dalam masalah uban. (Iqtidho’, 1/185)

Dalam hadits lain, Rasulullah menjelaskan secara umum supaya kita tidak meniru-niru orang kafir. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ [hal. 1/269] mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaiman dalam Irwa’ul Gholil no. 1269). Telah jelas di muka bahwa hari Valentine adalah perayaan paganisme, lalu diadopsi menjadi ritual agama Nashrani. Merayakannya berarti telah meniru-niru mereka.

Kerusakan Kedua: Menghadiri Perayaan Orang Kafir Bukan Ciri Orang Beriman

Allah Ta’ala sendiri telah mencirikan sifat orang-orang beriman. Mereka adalah orang-orang yang tidak menghadiri ritual atau perayaan orang-orang musyrik dan ini berarti tidak boleh umat Islam merayakan perayaan agama lain semacam valentine. Semoga ayat berikut bisa menjadi renungan bagi kita semua.

Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا

“Dan orang-orang yang tidak menyaksikan perbuatan zur, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al Furqon [25]: 72)

Ibnul Jauziy dalam Zaadul Maysir mengatakan bahwa ada 8 pendapat mengenai makna kalimat “tidak menyaksikan perbuatan zur”, pendapat yang ada ini tidaklah saling bertentangan karena pendapat-pendapat tersebut hanya menyampaikan macam-macam perbuatan zur. Di antara pendapat yang ada mengatakan bahwa “tidak menyaksikan perbuatan zur” adalah tidak menghadiri perayaan orang musyrik. Inilah yang dikatakan oleh Ar Robi’ bin Anas.

Jadi, ayat di atas adalah pujian untuk orang yang tidak menghadiri perayaan orang musyrik. Jika tidak menghadiri perayaan tersebut adalah suatu hal yang terpuji, maka ini berarti melakukan perayaan tersebut adalah perbuatan yang sangat tercela dan termasuk ‘aib (Lihat Iqtidho’, 1/483). Jadi, merayakan Valentine’s Day bukanlah ciri orang beriman karena jelas-jelas hari tersebut bukanlah hari raya umat Islam.

Kerusakan Ketiga: Mengagungkan Sang Pejuang Cinta Akan Berkumpul Bersamanya di Hari Kiamat Nanti

Jika orang mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka dia akan mendapatkan keutamaan berikut ini.

Dari Anas bin Malik, beliau mengatakan bahwa seseorang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَتَّى السَّاعَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ

“Kapan terjadi hari kiamat, wahai Rasulullah?”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

مَا أَعْدَدْتَ لَهَا

“Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?”

Orang tersebut menjawab,

مَا أَعْدَدْتُ لَهَا مِنْ كَثِيرِ صَلاَةٍ وَلاَ صَوْمٍ وَلاَ صَدَقَةٍ ، وَلَكِنِّى أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

“Aku tidaklah mempersiapkan untuk menghadapi hari tersebut dengan banyak shalat, banyak puasa dan banyak sedekah. Tetapi yang aku persiapkan adalah cinta Allah dan Rasul-Nya.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ

“(Kalau begitu) engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain di Shohih Bukhari, Anas mengatakan,

فَمَا فَرِحْنَا بِشَىْءٍ فَرَحَنَا بِقَوْلِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – « أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ » . قَالَ أَنَسٌ فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّى إِيَّاهُمْ ، وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ

“Kami tidaklah pernah merasa gembira sebagaimana rasa gembira kami ketika mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Anta ma’a man ahbabta (Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai).”

Anas pun mengatakan,

فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّى إِيَّاهُمْ ، وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ

“Kalau begitu aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan ‘Umar. Aku berharap bisa bersama dengan mereka karena kecintaanku pada mereka, walaupun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka.”

Bandingkan, bagaimana jika yang dicintai dan diagungkan adalah seorang tokoh Nashrani yang dianggap sebagai pembela dan pejuang cinta di saat raja melarang menikahkan para pemuda. Valentine-lah sebagai pahlawan dan pejuang ketika itu. Lihatlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas: “Kalau begitu engkau bersama dengan orang yang engkau cintai”. Jika Anda seorang muslim, manakah yang Anda pilih, dikumpulkan bersama orang-orang sholeh ataukah bersama tokoh Nashrani yang jelas-jelas kafir?

Siapa yang mau dikumpulkan di hari kiamat bersama dengan orang-orang kafir[?] Semoga menjadi bahan renungan bagi Anda, wahai para pengagum Valentine!

Kerusakan Keempat: Ucapan Selamat Berakibat Terjerumus Dalam Kesyirikan dan Maksiat

“Valentine” sebenarnya berasal dari bahasa Latin yang berarti: “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi. (Dari berbagai sumber)

Oleh karena itu disadari atau tidak, jika kita meminta orang menjadi “To be my valentine (Jadilah valentineku)”, berarti sama dengan kita meminta orang menjadi “Sang Maha Kuasa”. Jelas perbuatan ini merupakan kesyirikan yang besar, menyamakan makhluk dengan Sang Khalik, menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala.

Kami pun telah kemukakan di awal bahwa hari valentine jelas-jelas adalah perayaan nashrani, bahkan semula adalah ritual paganisme. Oleh karena itu, mengucapkan selamat hari kasih sayang atau ucapan selamat dalam hari raya orang kafir lainnya adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan kesepakatan para ulama (baca: ijma’ kaum muslimin), sebagaimana hal ini dikemukakan oleh Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitabnya Ahkamu Ahlidz Dzimmah (1/441, Asy Syamilah). Beliau rahimahullah mengatakan, “Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal atau selamat hari valentine, pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin. Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya. Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dibenci oleh Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya.”

Kerusakan Kelima: Hari Kasih Sayang Menjadi Hari Semangat Berzina

Perayaan Valentine’s Day di masa sekarang ini mengalami pergeseran. Kalau di masa Romawi, sangat terkait erat dengan dunia para dewa dan mitologi sesat, kemudian di masa Kristen dijadikan bagian dari simbol perayaan hari agama, maka di masa sekarang ini identik dengan pergaulan bebas muda-mudi. Mulai dari yang paling sederhana seperti pesta, kencan, bertukar hadiah hingga penghalalan praktek zina secara legal. Semua dengan mengatasnamakan semangat cinta kasih.

Dalam semangat hari Valentine itu, ada semacam kepercayaan bahwa melakukan maksiat dan larangan-larangan agama seperti berpacaran, bergandeng tangan, berpelukan, berciuman, bahkan hubungan seksual di luar nikah di kalangan sesama remaja itu menjadi boleh. Alasannya, semua itu adalah ungkapan rasa kasih sayang. Na’udzu billah min dzalik.

Padahal mendekati zina saja haram, apalagi melakukannya. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isro’ [17]: 32)

Dalam Tafsir Jalalain dikatakan bahwa larangan dalam ayat ini lebih keras daripada perkataan ‘Janganlah melakukannya’. Artinya bahwa jika kita mendekati zina saja tidak boleh, apalagi sampai melakukan zina, jelas-jelas lebih terlarang.

Kerusakan Keenam: Meniru Perbuatan Setan

Menjelang hari Valentine-lah berbagai ragam coklat, bunga, hadiah, kado dan souvenir laku keras. Berapa banyak duit yang dihambur-hamburkan ketika itu. Padahal sebenarnya harta tersebut masih bisa dibelanjakan untuk keperluan lain yang lebih bermanfaat atau malah bisa disedekahkan pada orang yang membutuhkan agar berbuah pahala. Namun, hawa nafsu berkehendak lain. Perbuatan setan lebih senang untuk diikuti daripada hal lainnya. Itulah pemborosan yang dilakukan ketika itu mungkin bisa bermilyar-milyar rupiah dihabiskan ketika itu oleh seluruh penduduk Indonesia, hanya demi merayakan hari Valentine. Tidakkah mereka memperhatikan firman Allah,

وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’ [17]: 26-27). Maksudnya adalah mereka menyerupai setan dalam hal ini. Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Tabdzir (pemborosan) adalah menginfakkan sesuatu pada jalan yang keliru.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim)

Penutup

Itulah sebagian kerusakan yang ada di hari valentine, mulai dari paganisme, kesyirikan, ritual Nashrani, perzinaan dan pemborosan. Sebenarnya, cinta dan kasih sayang yang diagung-agungkan di hari tersebut adalah sesuatu yang semu yang akan merusak akhlak dan norma-norma agama. Perlu diketahui pula bahwa Valentine’s Day bukan hanya diingkari oleh pemuka Islam melainkan juga oleh agama lainnya. Sebagaimana berita yang kami peroleh dari internet bahwa hari Valentine juga diingkari di India yang mayoritas penduduknya beragama Hindu. Alasannya, karena hari valentine dapat merusak tatanan nilai dan norma kehidupan bermasyarakat. Kami katakan: “Hanya orang yang tertutup hatinya dan mempertuhankan hawa nafsu saja yang enggan menerima kebenaran.”

Oleh karena itu, kami ingatkan agar kaum muslimin tidak ikut-ikutan merayakan hari Valentine, tidak boleh mengucapkan selamat hari Valentine, juga tidak boleh membantu menyemarakkan acara ini dengan jual beli, mengirim kartu, mencetak, dan mensponsori acara tersebut karena ini termasuk tolong menolong dalam dosa dan kemaksiatan. Ingatlah, Setiap orang haruslah takut pada kemurkaan Allah Ta’ala. Semoga tulisan ini dapat tersebar pada kaum muslimin yang lainnya yang belum mengetahui. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah kepada kita semua.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shollallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Panggang, Gunung Kidul, 12 Shofar 1430 H
Yang selalu mengharapkan ampunan dan rahmat Rabbnya

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
diambil dari Artikel www.muslim.or.id

Kabut Beracun itu bernama Valentine’s Day

Oleh Ustad Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar As-Sidawi -hafdhohulloh

14 Februari adalah hari yang sangat istimewa bagi para pendewa Valentine’s Day. Pada hari itu mereka mengungkapkan rasa cinta dan kasih saying kepada orang yang diinginkan. Ada yang menyatakan perasaannya kepada teman, guru, orang tua, kakak atau adik, dan yang paling banyak adalah yg menyatakan kepada kekasihnya. Pada hari itu pula mereka mengirimkan kartu atau hadiah bertuliskan “Be my Valentine” (jadilah Valentine-ku) atau sana artinya “Jadilah kekasihku”

Di Indonesia, sejak era 1980-an, perayaan Hari Valentine ini makin memprihatinkan. Jika kita masuk took buku atau semisalnya di bulan Februari, akan tampak rak-rak yang berjajar berisikan beragam kartu ucapan Valentine’s Day. Tak mau kalah, took-toko souvenir pun mulai menjajakan aneka kado bertema Valentine’s Day. Mal dan supermarket juga menghias seluruh ruangan dengan warna-warni pink dan biru lembut, dengan hiasan-hiasan berbentuk hati dan pita di mana-mana. Hamper semua media cetak dan elektronik pun menjadi penggesa program misterius ini.

Dengan berpikir sedikit saja kita dapat mengetahui bahwa perayaan aneh ini tidak lepas dari trik bisnis para pengusaha tempat hiburan, pengusaha hotel, perangkai bunga, dan lainnya. Akhirnya jadilah perayaan Valentine sebagai perayaan bisnis yang bermuara pada perusakan aqidah dan akhlak pemuda islam (khususnya). Saatnya kita bertanya pada diri kita masing-masing, apa yang sudah kita lakukan dalam penyelamatan generasi penerus kita?

Sekilas Sejarah Valentine’s Day

Ribuan literature yang menyebutkan sejarah hari Valentine masih berbeda pendapat. Ada banyak versi tentang asal-usul perayaan Valentine ini. Yang paling popular adalah kisah Valentinus (St. Valentine) yang diyakini hidup pada masa Claudius II yang kemudian menemui ajal pada 14 Februari 269 M. Namun kisah ini ada beberapa versi lagi.

Yang jelas dan tidak memiliki silang pendapat adalah kalau kita menilik lebih jauh lagi ke dalam tradisi paganism (dewa-dewi) Romawi Kuno. Pada waktu itu ada sebuah perayaan yang disebut Lupercalia. Didalamnya terdapat rangkaian upacara penyucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari). Dua hari pertama dipersembahkan untuk Dewi Cinta, Juno Februata. Pada hari ini, para pemuda mengundi nama-nama gadis dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk bersenang-senang dan menjadi objek hiburan.

Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan Dewa Lupercalia terhadap gangguan srigala. Selama upacara ini, kaum muda memecut orang dengankulit binatang dan wanita berebut untuk di pecut karena menganggap pecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur. Ketika agama Kristen Katolik masuk Roma, mereka mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Diantara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I. Kemudian agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Galasius menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’ Day untuk menghormati St. Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari.

Jadi diri St.Valentine sendiri masih diperdebatkan para sejarawan. Saat ini, sekurang-kurangnya ada tiga nama Valentine yang meninggal opada tanggal 14 Februari. Diantaranya ada kisah menceritakan bahwa kaisar Claudius II menganggap tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat didalam medan peperangan daripada yang menikah. Kaisar lalu melarang para pemuda menikah. Tindakan Kaisar itu mendapatkan tantangan dari St.Valentinenyang secara diam-diam menikahkan banyak pemuda sehingga ia pun ditangkap dan di hokum gantung pada 14 Februari 269 M.

Dapat kita tarik kesimpulan :

1. Valentine’s Day berakat dari upacara keagamaan ritual Romawi Kuno untuk menyembah dewa mereka yang dilakukan dengan penuh kesyirikan.

2. Upacara yang biasa dilaksanakan pada 15 Februari tersebut, pada tahun 496 oleh Paus Galasius I diganti menjadi 14 Februari.

3. Agar dunia menerima, hari itu disamarkan dengan nama “hari kasih saying” yang kini telah tersebar di berbagai negeri, termasuk negeri-negeri Islam.

Jangan Ikuti Budaya Kafir

Begitulah wahai saudaraku seiman, Hari Valentine berasal dari mitos zaman Romawi yang seluruhnya tidak lain adalah bersumber dari paganism syirik, penyembahan berhala dan penghormatan kepada Pastor. Selain itu, perayaan Valentine’s Day adalah salah satu maker orang-orang Yahudi yang diseludupkan kedalam tubuh umat islam supaya diikuti. Jadi, perayaan Valentine’s Day adalah salah satu upacara yang diadakan orang kafir dan orang-orang bergelimang dosa dalam rangka berbuat maksiat, mengumbar syahwat dan memenuhi hawa nafsu belaka.

Di Bandung, 12 Februari 2005, Studio Carton Multi Kreasi menggelar acara lomba menjijikkan yang diadopsi dari amerika [1]. Arini dari Muri menyatakan bahwa lomba serupa pernah digelar pada Desember 2001 di New York AS. Mengapa masih banyak pemuda-pemudi Islam tertipu dan ikut-ikutan membeo budaya orang-orang kafir tersebut? Ingatlah wahai kaum muslimin, musuh-musuh Islam selalu berusaha sekuat tenaga untuk mengeluarkan kalian dari ajaran agama kalian!

Alloh Ta’ala berfirman :

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah : “Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)”….(QS.Al-Baqoroh [2]:120)

Dari Abu Sa’id Al-Khudri Rahimahullau Ta’ala dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam :

“Sungguh kalian akan mengikuti sunnah perjalanan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehingga mereka memasuki lubang dhab (hewan sejenis biawak di Arab) mereka berkata, “Wahai Rasulullah apakah mereka Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab, “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR.Bukhari 7325 dan Muslim 2669)

Syaikh Sulaiman bin Abdullah Alu Syaikh Rahimahullahu Ta’ala berkata “hadist ini merupakan mukjizat Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam karena sungguh mayoritas umatnya kini telah mengikuti sunnah perjalanan kaum Yahudi dan Nasrani dalam gaya hidup, berpakaian, Syi’ar-Syi’ar agama, dan adat-istiadat. Dan hadist ini lafazhnya berupa kabar yang berarti larangan mengikuti jalan-jalan selain agama Islam[2].

Menyoroti Valentine’s Day

Setiap Februari menjelang, banyak remaja Indonesia yang notabene mengaku beragama Islam ikut-ikutan sibuk mempersiapkan perayaan Valentine. Walau sudah banyak yang mendengar bahwa Valentine adalah salah satu hari raya umat kristiani yang mengandung nilai-nilai akidah Kristen, namun hal ini tidak mereka pedulikan. Bisakah dibenarkan sikap dan pandangan sperti itu?

Lajnah Da’imah Arab Saudi pernah ditanya tentang perayaan Valentine’s Day, mengucapkan ucapan tentang Valentine’s Day, memberikan hadiah dan menyediakan alat-alat untuknya, lantas dijawab oleh lajnah :

“Dalil-dalil yang jelas dari Al Qur’an dan Sunnah serta kesepakatan Ulama salaf telah menegaskan bahwa perayaan dalam Islam hanya ada dua, Idul Fitri dan Idul Adha. Adapun perayaan-perayaan lainnya yang berkaitan dengan tokoh, kelompok, atau kejadian tertentu adalah perayaan yang diada-adakan[3]. Tidak boleh umat Islam merayakannya, menyetujuinya, menampakkan kegembiraan padanya, atau membantu kelancarannya karena hal itu berarti melanggar hokum Allah yang merupakan suatu tindak kedzaliman. Dan bila perayaan tersebut merupakan perayaan orang kafir maka makin parah dosanya sebab hal itu termasuk tasyabuh (menyerupai) mereka dan termasuk bentuk loyalitas kepada mereka, sedangkan Allah dalam Al Qur’an yang mulia telah melarang kaum mukminin menyerupai orang-orang kafir dan loyal kepada mereka. Juga , telah shohih bahwa Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda :

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dari kaum tersebut.” (HR.Abu Dawud : 4031, Ahmad : 2/50, 92 dan dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwa’ul-Gholil : 1269)

Perayaan Valentine’s Day termasuk hal yang diatas karena termasuk perayaan penyembah berhala dan umat Nasrani. Maka tidak boleh umat islam yang beriman kepada Allah dan hari akhir ikut merayakannya, menyetujuinya, dan mengucapkan selamat untuknya. Bahkan yang wajib adalah meninggalkannya dan menjauhinya sebagai ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya serta menjauhi sebab kemurkaan Allah. Sebagaimana pula diharamkan membantu semaraknya acara ini atau perayaan-perayaan haram lainnya baik dalam jual beli, mengirim kartu, mencetak, mensponsori, dan sebagainya karena semua itu termasuk tolong-menolong dalam dosa dan kemaksiatan.

Allah berfirman :

“….Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran…..” (QS.Al-Maidah [5]:2) [4]

Syaikh Muhammad Al-‘Utsaimin rahimahullu menyebutkan beberapa dampak negative perayaan Valentine’s Day. Beliau berkata dalam fatwa yang beliau tanda tangani bertanggal 5 Dzulqo’dah 1420H :

“Perayaan ini tidak boleh karena alasan berikut :

Pertama. Valentine’s Day hari raya bid’ah yang tidak ada dasar hukumnya di dalam syariat Islam.

Kedua. Merayakan Valentine’s Day dapat menyebabkan cinta yang semu.

Ketiga. Menyebutkan hati sibuk dengan perkara-perkara rendahan seperti ini yang sangat bertentangan dengan petunjuk para shalafus shalih.

Maka tidak halal melakukan ritual hari raya dalam bentuk makan-makan, minum-minum, berpakaian, saling tukar hadiah, ataupun yang lainnya. Hendaklah setiap muslim merasa bangga dengan agamanya, bukan malah menjadi orang yang tidak mempunyai pegangan dan ikut-ikutan.” [5]

Dampak buruk lainnya, terhapuslah nilai-nilai Islam serta memperbanyak jumlah mereka dengan mendukung dan mengikuti agama mereka.

Alhasil, hendaklan kaum muslimin sekarang ini mengetahui dan berhati-hati terhadap propaganda yang diserukan oleh orang-orang kafir yang berusaha menjauhkan kaum muslimin dari ajaran Islam dan melegalkan ajarannya yang sesat lagi menyesatkan.

Valentine, Hari Cinta?

Dikatakan, Valentine itu hari untuk menyebarkan kasih saying dan cinta. Benarkah demikian? Salah, bahkan pernyataan itu sangat memprihatinkan! Bukankah dengan demikian seolah-olah Islam tidak mengenal cinta kasih, padahal dalam Islam ajaran cinta kasih memiliki kedudukan tersendiri dengan skala prioritas sebagaimana tercantum dalam QS. Al-Baqoroh [2]:165, At-Taubah [9]-24, Al-Fath [48]:29, dan Al-Ma’idah [5]:54.

Kelihaian dan kelicikan musuh Islam untuk menipu umat islam patut diacungi jempol. Valentine’s Day yang berbau syirik pun bias terbungkus dan terpoles rapi hingga diminati dan digandrungi oleh generasi muda Islam yang tidak memiliki kekuatan ilmu agama.

Sesungguhnya cinta dalam Valentine’s Day hanyalah cinta semua yang akan merusak akhlak dan norma-norma agama. Oleh karenanya, perhatikanlah bagaimana Valentine’s Day bukan hanya diingkari oleh pemuka Islam melainkan juga oleh pemuka agama-agama lainnya. Di India misalnya, pernah diberitakan bahwa sejumlah aktivis dan pemuka agama hindu berkumpul di Bombay pada Sabtu, 14 Februari 2004. Dengan lantang mereka menyerukan agar tidak ikut-ikutan merayakan Valentine’s Day yang menganjurkan dekadensi moral dan merusak tradisi India. Seorang aktivis berteriak : ‘Valentine’s Day bukan bagian dari kepribadian dan tradisi agama kita. Selain itu, apa yang diajarkan oleh Valentine’s Day itu sungguh-sungguh akan merusak tatanan nilai dan norma kehidupan bermasyarakat warga India. Janganlah ikut-ikutan barat!!” [6]

Kesimpulan

Valentine’s Day merupakan hari raya orang kafir yang penuh kesyirikan. Tidak boleh umat Islam ikut-ikutan merayakannya, mengucapkan selamat kepada yang merayakannya dan membantu memeriahkannya dengan memperdagangkan alat-alat yang digunakan. Wajib umat Islam menghindari kemurkaan Allah. Allahu A’lam.[]

Referensi :

1. Fataw ulama’ Baladil Haram, dikumpulkan oleh Kholid bin Abdurrahman Al-Juraisi, cet. Ke-1, 1420 H

2. Valentine’s Day, Rizki Ridyasmara, pustaka Al-Kautsar, cet.ke-4, Februari 2008

3. Fikih Konteporer, Dr,Setiawan Budi Utomo, Pustaka Saksi, cet,ke-1, Oktober 2000

4. Buletin Al Furqon, Th.2 Vol.10.No.1/Shofar 1429H

Note :

[1] Harian Pikiran Rakyat 13 Februari 2005

[2] Taisir Aziz Al Hamid hlm.32

[3] Al-Hafizh Ibnu Rajab Rahimahullah berkata : “Sesungguhnya perayaan tidaklah diadakan berdasarkan logika dan akal sebagaimana dilakukan oleh ahli kitab sebelum kita melainkan berdasarkan syari’at dan dalil.” (Fathul-Bari : 1/159, Tafsir Ibnu Rojab : 1/390)

[4] Fatawa Lajnah Da’imah Lil-Buhuts Ilmiyah Wal-Ifta’ : 21203 tgl.22/11/1420

[5] Majmu’ Fatawa Wa Rosa’il kar.Syaikh Ibnu ‘Utsaimin : 16/199-200. Lihat pula Fatawa Ulama’ Baladil-Haram hlm.1022-1024 dan As-Sunan Wal-Mubatada’at Fil-A’yad hlm.52 kar.Dr.Abdurrohman bin Sa’ad Asy-Syisyri

[6] Kantor Berita Reuters 12 Februari 2005

Sumber :

Diketik ulang dari Majalah Al Furqon Edisi 06 th.ke-8 Muharrom 1430 / Jan 2009 hlm.37-39

Artikel Terkait:

  1. 6 Kerusakan Valentine’s Day – Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal Hafizhahullah

Diambil dari : http://alqiyamah.wordpress.com

Sholat, Mengapa masih banyak yang Meninggalkannya?

Oleh: Ustadz Abu Abdillah Syahrul Fatwa bin Lukman Hafizhahullah

Allah azza wa jalla mewajibkan umat islam melaksanakan sholat lima waktu. Setiap muslim pasti mengetahui kewajiban ini, karena sholat merupakan rukun islam kedua dan tiangnya agama.
Keislaman seseorang tak akan tegak kecuali dengan sholat. Jika demikian masalahnya, mengapa masih banyak di antara orang-orang yang mengaku Islam, namun masih menyepelekan bahkan meninggalkan shalat!!?

Urgensi Shalat Dalam Islam
Shalat mempunyai kedudukan yang tinggi dalam agama Islam. Tidak ada satu ibadah pun yang bisa menandinginya. Hal tersebut karena shalat adalah:

1. Tiangnya agama
Tidak akan tegak agama Islam kecuali dengan shalat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Pokok segala urusan adalah Islam, tiangnya adalah sholat dan puncaknya adalah jihad.” [1]

2. Kewajiban yang abadi
Kewajiban shalat tidak gugur selama akal masih ada, walaupun dalam keadaan mencekam. Allah azza wa jalla berfirman:
Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat Wustso. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyuk. Jika kamu dalam keadaan takut (bahaya), maka shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan. Kemudian apabila kamu telah aman, maka sebutlah Allah (shalatlah), sebagaimana Allah telah mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” [QS.al-Baqarah/2:238-239]

3. Ibadah yang pertama kali dihisab
Shalat merupakan ibadah yang pertama kali ditanyakan oleh Allah azza wa jalla kepada seorang hamba. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Pertama kali yang akan dihisab pada hari kiamat dari seorang hamba adalah shalat. Jika shalatnya baik, maka baik pula seluruh amalannya, jika jelek maka jelek pula seluruh amalannya.” [2]

4. Akhir perkara yang akan hilang dari agama Islam
Apabila shalat telah hilang, maka hilang pula agama Islam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Akan terlepas tali Islam seutas demi seutas. Acap kali satu tali Islam terlepas, maka manusia akan berpegang dengan tali berikutnya. Yang pertama kali akan terlepas dari Islam ini adalah hukum dan yang terakhir shalat.” [5]

5. Wasiat terakhir Nabi kepada umat
Wasiat terakhir Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada umatnya sebelum beliau wafat adalah shalat. Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu berkata:
Adalah ucapan terakhir yang disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: Shalat..shalat..dan takut lah kepada Allah dari budak-budak yang kalian miliki.” [4]

Hukumnya
Tidak diragukan lagi bahwa shalat hukumnya wajib. Berdasarkan nash al-Qur’an, Hadits dan kesepakatan ulama. Kewajiban ini bagi seluruh kaum muslimin yang telah baligh, kecuali wanita yang sedang haid atau nifas. Allah azza wa jalla berfirman:
Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang beriman.” [QS.an-Nisa’/4:103]

Adapun dalil dari Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di antaranya hadits dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutusnya pergi ke Yaman, beliau bersabda:
Ajarkanlah mereka bahwa Allah telah mewajibkan shalat lima waktu setiap hari dan malam.” [HR.al-Bukhari:1395 dan Muslim:29]

Dan umat ini pun telah sepakat akan kewajiban shalat lima waktu dalam sehari semalam.[5]

Barangsiapa yang mengingkari kewajiban shalat ini, maka dia telah keluar dari agama Islam alias kafir tanpa ada keraguan karena dia telah mendustakan Allah azza wa jalla dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.

Imam Qodhi Iyadh rahimahullah berkata: “Demikian pula kita dapat memastikan kekafiran orang yang mendustakan dan mengingkari pondasi dari pondasi-pondasi agama, dan apa yang telah diketahui dengan yakin melalui dalil yang mutawatir berupa perbuatan rosul atau adanya ijma’, seperti orang yang mengingkari kewajiban shalat atau mengingkari jumlah raka’at dan sujudnya.” [6]

Hikmah dan Rahasia Shalat
Imam Ibnu Qoyyim rahimahullah berkata: “Shalat itu diwajibkan dalam bentuk yang paling sempurna dan paling bagus, sehingga menjadi perantara seorang hamba kepada Robbnya. Di dalam shalat terkandung pengagungan kepada Allah dengan seluruh anggota badan. Ucapan lisan, perbuatan kedua tangan dan kaki, kepala dan indera peraba dan seluruh bagian badan. Semuanya mengambil hikmah dalam ibadah yang agung ini. Di dalam shalat juga ada tahmid, tasbih dan takbir, persaksian yang benar dan berdiri di hadapan Sang Pencipta dengan status hamba yang rendah dan tunduk. Ketundukan ini dapat terlihat dengan ucapan orang yang shalat, punggung yang membungkuk sebagai tanda kerendahan dan khusyuk kepada Allah. Kemudian bangkit dari ruku’ sebagai persiapan untuk lebih tunduk lagi pada posisi berikutnya yaitu sujud. Maka dalam sujud dia meletakkan bagian tubuhnya yang mulia di atas tanah, ini sebagai bentuk ketundukan dan kerendahan diri kepada Allah.”[7]

Keutamaan Dan Manfaat Mengerjakan Shalat

1. Mencegah Perbuatan Keji dan Munkar
Allah azza wa jalla berfirman:
Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar.” [QS.al-Ankabut/29:45]

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata: “Barangsiapa yang shalatnya tidak dapat memerintahkan kepada yang ma’ruf dan tidak bisa mencegah dari yang munkar, maka tidaklah shalat melainkan menjadikan bertambah jauh kepada Allah.”[8]

Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengomentari ayat diatas: “Dalam shalat terkandung dua perkara yaitu meninggalkan perbuatan keji dan perbuatan mungkar. Sesungguhnya menekuni shalat akan membawa untuk meninggalkan perbuatan tersebut.”[9]

2. Penghapus Dosa dan Kesalahan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Permisalan shalat lima waktu bagaikan sungai mengalir yang banyak airnya, berada di depan pintu salah seorang di antara kalian. Dia akan mandi di dalamnya sebanyak lima kali dalam sehari.” [HR.Muslim: 668]

3. Cahaya di Dunia dan Akhirat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Barangsiapa yang menjaga shalat, maka baginya cahaya, dalil dan keselamatan pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang tidak menjaganya, maka dia tidak memiliki cahaya, dalil dan ke selamatan. Dia pada hari kiamat akan berkumpul bersama Qorun, Fir’aun, Haman dan Ubay bin Kholaf.”[10]

4. Pahala dan Meninggikan Derajat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Barangsiapa yang bersuci dari rumahnya kemudian berangkat ke rumah Allah untuk menunaikan kewajiban yang Allah wajibkan, maka kedua langkah kakinya: satu langkah menghapus kesalahan dan yang lainnya meninggikan derajat.” [HR.Muslim: 666]

Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: “Sesungguhnya shalat itu bisa menghapus kejelekan bagi orang yang menunaikan hak-hak shalat, dia menyempurnakan kekhusyukan shalat. Dia berdiri dihadapan Allah dengan hati yang hadir dan berfikir. Orang yang semacam ini jika selesai shalat akan menjumpai keringanan shalat, menjumpai semangat dan kelapangan hati setelah shalat.”[11]

5. Solusi dari berbagai permasalahan
Permasalahan dunia yang berat akan terasa ringan jika kita mengerjakan shalat. Karena shalat adalah penghibur dan penyejuk hati. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Bangkitlah wahai Bilal, hiburlah kami dengan shalat.” ”[12]

Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam setiap kali dirundung masalah, beliau melaksanakan shalat. Sahabat mulia Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata:
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apabila dirundung masalah beliau mengerjakan shalat.” [13]

Hal itu tiada lain karena shalat adalah komunikasi antara hamba dengan Robbnya. Berdiri di hadapan Allah azza wa jalla dengan shalat shalat memiliki pengaruh kuat dalam memperbaiki jiwa orang yang shalat bahkan seluruh manusia. Karena shalat adalah penyejuk mata. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Telah dijadikan kesejukan mataku di dalam shalat.” [14]

Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: “Ketahuilah, tidak ada keraguan bahwa shalat adalah penyejuk mata orang-orang yang tercinta, kelezatan jiwa-jiwa orang yang bertauhid, tamannya orang-orang yang beribadah, kelezatan hati orang yang khusyuk. Dia adalah rahmat Allah yang dihadiahkan kepada hambanya yang beriman.”[13]

6. Sehat dengan shalat
Ini termasuk manfaat shalat yang tersembunyi. Karena di dalam shalat terdapat gerakan badan yang bermanfaat, menguatkan anggota tubuh. Hal itu dilihat dari dua sisi[16]:

Pertama: Apa yang ada di dalam shalat dan sarana menuju shalat, dari mulai berjalan dan pergi menuju shalat, saat pulangnya kembali, gerakan bangun, duduk, ruku’ dan sujud yang berulang-ulang, demikian pula berwudhu yang berulang-ulang, semua pergerakan ini bermanfaat bagi kebugaran badan.

Kedua: Bahwa maksud yang paling besar adalah menghadirkan hati, bermunajat kepada Allah azza wa jalla, tunduk dan berdoa kepada-Nya. Dan hal itu tanpa ada keraguan menyebabkan hati bersinar. Melapangkan dada dan membuat jiwa bertambah lapang. Dan telah diketahui oleh seluruh dokter bahwa usaha untuk menyenangkan hati ini, membuat jiwa senang adalah termasuk cara jitu untuk meraih kesehatan yang dapat mencegah penyakit, meringankan beban penyakit yang dirasa. Hal ini terbukti dan mujarab, terutama shalat malam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Apabila seorang hamba bangun malam, kemudian dzikir kepada Allah, terlepaslah satu ikatan. Apabila dia berwudlu terlepaslah satu ikatan lagi, jika dia shalat maka akan terlepas seluruh ikatan. Maka pagi harinya jiwanya akan semangat dan bagus, jika tidak bangun, jadilah jiwanya jelek dan malas.” [HR.al-Bukhari: 1142 dan Muslim: 776]

Ancaman Bagi Yang Meninggalkan Shalat

Kaum muslimin tidak berselisih bahwa meninggalkan shalat fardhu secara sengaja merupakan dosa yang paling besar. Dosanya di sisi Allah azza wa jalla lebih besar daripada dosa membunuh jiwa atau merampas harta. Lebih besar daripada dosa zina, mencuri atau meminum khomr. Orang yang meninggalkan shalat terancam siksa Allah azza wa jalla dan murka-Nya, menderita di dunia dan akhirat. [17]

Sungguh banyak sekali dalil-dalil yang menegaskan ancaman yang sangat keras bagi orang yang meninggalkan sholat. Diantaranya:

1. al-Qur’an
Allah azza wa jalla berfirman:
Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” [QS.Maryam/19:59]

Perhatikanlah ayat ini, Allah azza wa jalla memberi ancaman berupa kesesatan bagi yang menyia-nyiakan shalat!!.

Demikian pula firman Allah azza wa jalla:
Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui.”[QS-at-Taubah/9:11]

Dalam ayat ini Allah azza wa jalla mengaitkan peraudaraan agama di antara kaum” muslimin dengan mengerjakan shalat!!

Kemudian Allah azza wa jalla mengisahkan tentang penduduk neraka dalam firman-Nya:
Apakah yang memasukkan kamu kedalam Saqor (neraka)?. Mereka menjawab: Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat.” [QS.al-Muddatsir/74:42-43]
Sungguh ayat semacam ini sangat tegas memberi ancaman bagi yang meninggalkan shalat.!

2. al-Hadits
Jabir Abdullah radhiyallahu ‘anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Perbedaan antara seseorang dengan kesyirikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat.” [HR.Muslim: 76]

Abdullah bin Syaqiq berkata: “Adalah para sahabat Rasulullah tidak memandang sesuatu dari amalan yang bila di tinggalkan menyebabkan kafir selain shalat.” [HR.Tirmidzi: 2622]

Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata: “Sesungguhnya perkara terpenting dalam agama kalian adalah shalat. Barangsiapa yang menjaga shalat, sungguh dia telah menjaga agamanya. Barangsiapa yang menyia-nyiakan shalat, sungguh dia akan lebih mudah menyia-nyiakan perkara yang lain. Tidak ada bagian dalam agama Islam bagi yang meninggalkan shalat.” [18]

Imam Ahmad berkata: “Shalat kita adalah akhir agama kita, dia adalah perkara yang pertama kali akan ditanyakan kepada kita pada hari kiamat. Maka tidak ada lagi Islam dan agama bila shalatnya hilang.” [19]

Maka wahai saudaraku yang meninggalkan shalat, berhentilah sekarang juga untuk menyepelekan shalat, bangkitlah dari mimpi burukmu, karena perkara meninggalkan shalat bukan perkara yang ringan, bisa membawa seseorang kepada kekafiran!! Allahul musta’an.

Jagalah shalat anda

Allah memerintahkan seluruh seluruh hamba yang beriman untuk menjaga shalat-shalat mereka. Firman-Nya:
Peliharalah semua sholat(mu), dan (peliharalah) sholat Wustho dan berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyuk.” [QS.al-Baqarah/2:238]

Termasuk menjaga shalat adalah dengan memperhatikan waktu shalat, batasannya dan selalu koreksi terhadap rukun, kewajiban serta selalu semangat untuk menunaikan dengan optimal. Mengerjakan tepat pada waktunya, segera menunaikan dan merasa sedih jika ada bagian hak shalat yang tertinggal, dia memahami andaikan shalat berjama’ahnya ditinggal, maka hilanglah bagiannya dua puluh lipat shalat.[20]

Sungguh kaum muslimin sejak zaman sahabat sangat perhatian terhadap shalat, mereka selalu menjaga shalat dengan perhatian khusus, teladan mereka adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:
Adalah Rasulullah mengajak kami berbicara dan kami berbicara kepadanya. Apabila telah hadir waktu shalat, seolah-olah beliau tidak mengenal kami dan kami tidak mengenal beliau.”[21]

Demikian pula generasi setelah para sahabat, mereka berjalan di atas manhaj nabawi. Mereka selalu menjaga shalat.

1. Sa’id bin Musayyib rahimahullah karena semangatnya untuk shalat beliau selalu menjaga diri untuk berada di masjid sebelum adzan berkumandang. Hal ini berlangsung selama empat puluh tahun. Bard Maula Sa’id bin Musayyib rahimahullah berkata: “Tidaklah adzan shalat berkumandang sejak empat puluh tahun melainkan Sa’id sudah berada didalam masjid.” [22]
2. Sufyan bin Uyainah rahimahullah berkata: “Janganlah engkau seperti hamba yang jelek, engkau tidak datang kecuali hingga dipanggil, datangilah shalat sebelum adzan.”[23]
3. Ami bin Abdullah rahimahullah sedang sakit sementara rumahnya dekat masjid, ketika adzan berkumandang dia berkata: “Ambillah tanganku bawa ke masjid.” dikatakan padanya: “Engkau ini sedang sakit.” Amir bin Abdullah rahimahullah berkata: “Aku mendengar panggilan Allah kemudian aku tidak menjawabnya?!” Mereka akhirnya membawanya ke masjid, kemudian beliau shalat maghrib dan mendapati satu raka’at bersama imam kemudian meninggal dunia.” [24]

Allahu Akbar!, begitu indah peri kehidupan mereka!, sampai dalam keadaan sakit sekalipun mereka tetap memperhatikan shalat. Lalu bagaimana dengan keadaan orang-orang sekarang yang sangat malas mengerjakan shalat padahal mereka dalam keadaan sehat. Kemudian yang menyedihkan pula, kaum muslimin meninggalkan shalat karena alasan safar (bepergian jauh). Padahal Allah azza wa jalla memerintahkan shalat sekalipun dalam keadaan mencekam!!. Allohul musta’aan.

Terakhir, wahai orang yang meninggalkan shalat, ambillah bagian dari umurmu dengan amal shalih. Segeralah bangkit dari kelalaianmu dengan menjaga shalat. Kamu tidak mengetahui berapa lama lagi yang tersisa dari umurmu, apakah sebulan, seminggu atau bahkan sehari atau sesaat.?! Ingatlah selalu firman Allah azza wa jalla yang berbunyi:
Sesungguhnya barangsiapa datang kepada Rabbnya dalam keadaan berdosa, maka sesungguhnya baginya neraka Jahannam. Ia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup.” [QS.Thoha/20:74]

Adapun orang yang melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia. Maka sesungguhnya neraka lah tempat tinggalnya.” [QS.an-Nazi’at/79:37-39]

Allahu a’lam.

Note:
[1] HR.Tirmidzi: 2616, Ibnu Majah: 3973, Ahmad: 7/31 dan selainnya. Dishohihkan oleh al-Albani dalam ash-Shohihah no.1122]
[2] HR.ath-Thobroni dalam al-Ausath: 1/409. al-Albani berkata dalam ash-Shohihah: 3/346: “Walhasil, hadits ini shohih dengan terkumpulnya jalan yang sangat banyak.”
[3] HR.Ahmad: 5/251. dishohihkan al-Albani dalam Shohih at-Targhib: 1/229
[4] HR.Ahmad: 6/290. Dishohihkan oleh al-Albani dalam al-Irwaa: 7/238
[5] al-Mughni: 3/6, Ibnu Qodamah
[6] as-Syifa: 2/1703, Qodhi Iyadh
[7] Miftah Daar as-Sa’adah: 2/320, Ibnul Qoyyim
[8] Tafsir ath-Thobari: 20/99
[9] Tafsir Ibnu Katsir: 6/28
[10] HR.Ahmad: 2/169. ad-Darimi: 2/301, Imam al-Mundzir berkata: “Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan sanad yang bagus.” Targhib wa Tarhib: 1/440
[11] al-Wabilus Shoib hal.46, Ibnul Qoyyim
[12] HR.Abu Dawud: 4986 dan Ahmad: 5/371. dishohihkan oleh al-Albani dalam al-Misykah: 1253
[13] HR.Abu Dawud: 1319, Ahmad 5/388. hadits ini dinyatakan hasan oleh al-Albani dalam Shohih Abu Dawud: 1319
[14] HR.an-Nasai: 3949, Ahmad: 4/330, Hakim: 2/160. dihasankan oleh Ibnu Hajar dalam al-Talkhis: 3/133. Lihat takhrij lengkapnya dalam as-Shohihah: 1809, oleh al-Albani
[15] Asror as-Sholat hal.55-56, Ibnul Qoyyim, Dar.Ibn Hazm
[16] ar-Riyadh an-Nadhiroh hal.17-18, Abdurrahman as-Sa’di
[17] As-Sholat wa Hukmu Tarikiha hal.29, Ibnul Qoyyim
[18]  As-Sholat wa Hukmu Tarikiha hal.34
[19] Idem hal.35
[20] al-Wabilus Shoib hal.16
[21] Aina Nahnu min Haaulaa hal.165, Abdul Malik al-Qoshim
[22] Thobaqot Hanabilah: 1/141, Hilyah Auliya: 2/163
[23] At-Tabshiroh: 1/137
[24] Siyar A’lam Nubala: 5/220, adz-Dzahabi

Sumber: Diketik ulang dari Majalah AL FURQON Edisi 7 Th.ke-9 1431/2010 hal.50-54

Semoga bermanfaat bagi kami dan kaum muslimin..

Dipublikasikan kembali oleh : http://alqiyamah.wordpress.com

Perbuatan yang Dibolehkan dalam Sholat

Oleh Ustad Abdul Kholiq hafodhohulloh

Sebagaimana kita fahami bahwa shalat maknanya beribadah kepada Allah dengan gerakan-gerakan dan perkataan-perkataan tertentu yang diawali dengan takbiratul ihrom dan diakhiri dengan salam. Sehingga dari sini kita memahami bahwa gerakan-gerakan di dalam shalat telah ditentukan.

Karena itu, hukum asalnya kita dilarang melakukan gerakan-gerakan apa pun selain gerakan shalat, kecuali ada dalil yang menunjukkan kebolehannya, diantaranya:

1. Menggendong anak kecil
Dari Abu Qotadah radhiyallahu ‘anhu (berkata): “ Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat sambil menggendong Umamah binti Zaenab binti Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam. Apabila sujud beliau meletakkannya, dan apabila berdiri beliau menggendongnya kembali.” [HR.al-Bukhari 516 dan Muslim 543]

2. Sedikit melangkah untuk suatu keperluan
Dari Aisyah dia berkata: “Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam shalat di dalam rumah dan (saat itu) pintu dalam keadaan tertutup, kemudian saya datang dan minta supaya dibukakan. Lalu beliau berjalan dan membukakan pintu, kemudian kembali ke tempat shalatnya.” [HR.Abu Dawud 910]

3. Mencegah atau menahan orang yang lewat di depannya
Dari Abu Said radhiyallahu ‘anhu dia berkata: Saya mendengar Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian shalat menghadap sesuatu yang menutupinya (membatasinya) dari manusia, lalu ada seorang yang ingin melintas di depannya, maka hendaknya dia menahan (orang itu) di lehernya. Apabila menolak (tidak mau ditahan), maka hendaknya dia memeranginya karena sesungguhnya dia adalah setan.” [HR.Muslim 505]

4. Membunuh ular, kalajengking atau yang semisalnya dari binatang yang menggangu
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu (berkata): “Sesungguhnya Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk membunuh dua binatang hitam ketika shalat, (yaitu) kalajengking dan ular.” [HR.Abu Dawud 921]

5. Menggeser kaki orang tidur yang ada di depannya.
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha dia berkata: “Saya meluruskan kaki saya di arah kiblatnya Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam ketika shalat. Maka ketika beliau sujud, beliau menggesernya. Dan apabila beliau berdiri, saya meluruskannya.” [HR.al-Bukhari 1209 dan Muslim 512]

6. Melepas sandal di tengah shalat.
Dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu dia berkata: Ketika Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam shalat dengan para sahabatnya, tiba-tiba beliau melepas dua sandalnya lalu meletakkannya di sebelah kirinya. Tatkala para sahabat melihat hal tersebut, mereka pun ikut melepas sandal-sandal mereka. Lalu ketika Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam selesai shalat, beliau bertanya: “Apa yang menyebabkan kalian melepas sandal-sandal kalian?” Mereka menjawab: “Kami melihat engkau melepas sandal, maka kami pun melepas sandal-sandal kami. Lalu Nabi  shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan: “Sesungguhnya tadi malaikat Jibril datang kepada saya dan mengabarkan bahwa pada dua sandal saya ada kotoran.” [HR.Abu Dawud 555]

7. Meludah pada baju atau sapu tangan
Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Ketika salah seorang di antara kalian berdiri melaksanakan shalat, sesungguhnya Allah berada di hadapannya. Karena itu janganlah dia meludah ke arah depan atau kananya, tapi hendaknya meludah ke arah kirinya di bawah kakinya. Apabila (terpaksa) tidak bisa menahan ludahnya, maka hendaknya ia melakukan (meludah) di bajunya (dengan cara) seperti ini,”. Kemudian beliau melipatkan sebagian bajunya terhadap sebagian yang lain.“ [HR.Muslim 3008]

8. Membetulkan pakaian dan menggaruk badan.
Dari Jarir adh-Dhobbi radhiyallahu ‘anhu dia berkata: “Adalah Ali, apabila berdiri melaksanakan shalat, dia meletakkan tangan kanannya di atas pergelangan tangan kirinya. Dia senantiasa melakukannya hingga rukuk, kecuali untuk membetulkan pakaian atau menggaruk badan.” [HR.Ibnu Abi Syaibah 1/391]

9. Menjawab salam dengan isyarat tangan.
Ketika seorang sedang shalat, lalu ada orang yang  mengucapkan salam padanya, maka ia tidak boleh menjawabnya dengan lisan, namun hendaknya menjawab dengan isyarat tangan.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam keluar menuju Quba untuk shalat di dalamnya. Kemudian datanglah sahabat-sahabat al-Anshor mengucapkan salam kepada beliau ketika beliau sedang shalat. Ibnu Umar berkata: lalu aku bertanya kepada Bilal, “Bagaimana engkau melihat Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab salam mereka ketika mereka mengucapkan salam kepada beliau sedangkan beliau sedang shalat?” Bilal menjawab, “Menjawab demikian.” Ja’far bin Aun (Salah seorang rawi) membuat telapak tangannya, dan menjadikan perut telapak tangannya di bawah dan punggung telapak tangannya di atas.” [HR.Abu Dawud 915]

10. Mengangkat kepala ketika sujud untuk memastikan keadaan imam ketika imam memanjangkan sujud.
Dari Abdullah bin Syaddad radhiyallahu ‘anhu dari bapaknya dia berkata: Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam keluar kepada kami dalam salah satu shalat Isya’ sambil menggendong Hasan atau Husain. Maka Nabi  shallallahu ‘alaihi wasallam maju dan meletakkan gendongannya, lalu bertakbir mengawali shalat. Kemudian beliau sujud di tengah shalatnya dengan sujud yang panjang. Berkata bapakku (Syaddad): lalu saya mengangkat kepala, ternyata ada anak kecil yang naik ke punggung Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam ketika sujud, lalu saya kembali sujud…” [HR.an-Nasa’i 1149]

11. Bertepuk tangan bagi wanita untuk mengingatkan imam ketika terjadi kelupaan
Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kenapa saya melihat kalian banyak bertepuk tangan?! Jika terjadi sesuatu dalam shalat seseorang, hendaknya dia bertasbih. Sesungguhnya apabila dia bertasbih maka (imamnya) menoleh kepadanya. Sesungguhnya bertepuk tangan (dalam shalat) itu bagi wanita.” [HR.Muslim 421]

12. Membawa dan membaca al Qur’an ketika shalat sunnah
Ketika seseorang ingin memanjangkan shalat sunnahnya, sementara dia tidak memiliki banyak hafalan al Qur’an, maka boleh baginya membawa al Qur’an dan membacanya, sebagaimana dijelaskan dalam atsar dari A’isyah bahwasanya dia pernah shalat diimami budak laki-lakinya yang bernama Dzakwan dengan memegang mushaf. [Lihat Shohih Bukhari, kitabul adzan, bab imamatul ‘abdi, beserta syarahnya Fathul Bari]

13. Menoleh ke kiri atau ke kanan ketika ada perlu
Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu dia berkata: “(Suatu hari) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengeluh, maka kami pun shalat di belakang beliau dan beliau dalam keadaan duduk. Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu memperdengarkan takbirnya kepada manusia, lalu Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam menoleh kepada kami. Beliau  melihat kami dalam keadaan berdiri lalu berisyarat agar kami duduk. Maka kami pun shalat dengan shalatnya beliau (yaitu) dalam keadaan duduk…” [HR.Muslim 413]

Demikian pembahasan kita kali ini, mudah-mudahan bermanfaat. Amin.

Sumber: diketik ulang dari Majalah al-Mawaddah, Edisi Ke-6, Tahun Ke-3, Muharrom-Shofar 1431H, Januari 2010 hal.18-20

Diambil dari : http://alqiyamah.wordpress.com

Hukum Merayakan Hari Lahir (ulang tahun) Seseorang.

Hukum Merayakan Hari Lahir (ulang tahun) Seseorang.

Apa hukum merayakan berlalunya satu atau dua tahun atau lebih atau kurang dari dua tahun dari kelahiran seseorang yang biasa disebut ulang tahun atau meniup lilin. Dan apa hukumnya menghadiri pesta perayaan ini. Apakah bila seseorang diundang pada acara tersebut wajib menghadirinya ataukah tidak. Berilah kami jawaban. Dan semoga Allah memberi pahala bagi Anda.

Alhamdulillah. Dalil-dalil syariat dari kitab dan sunnah menunjukkan bahwa perayaan hari ulang tahun termasuk bid’ah yang diada-adakan dalam agama yang tidak ada asalnya dalam syariat yang suci dan tidak boleh memenuhi undangan tersebut karena hal itu berarti mendukung dan mendorong kepada kebid’ahan dan Allah Ta’ala berfirman:”Atau apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu yang menetapkan syariat bagi mereka berupa agama yang tidak diizinkan oleh Allah.”

Dan firman Allah:

“Kemudian Kami jadikan kamu di atas syariat dari urusan itu maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya mereka tidak akan dapat menolak dari kamu dari siksa Allah sedikitpun. Dan sesungguhnya orang-orang yang dhalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Dan Allah adalah Pelindung bagi orang-orang yang bertaqwa.” (Q.S Al Jatsiyah : 18).

Dan Allah berfirman:

“Ikutilah olehmu apa-apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu. Dan janganlah kamu mengikuti penolong lain selain-Nya. Sedikit sekali di antaramu yang mengambil pelajaran.”

Ada hadits yang shahih dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bahwa sesungguhnya beliau bersabda:

“Barangsiapa yang mengamalkan satu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami maka dia tertolak.”

Dikeluarkan oleh Muslim di dalam shahihnya.

Dalam hadits lain beliau bersabda:

“Sebaik-baik ucapan adalah kitab Allah dan sebaik baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam . Dan sejelek-jelek urusan adalah hal yang diada-adakan dan setiap kebid’ahan adalah sesat.”

Hadits-hadits yang semakna dengan ini sangat banyak.

Kemudian perayaan ini selain bid’ah munkaroh yang tidak ada asalnya dari syariat juga di dalamnya terkandung tasyabbuh (menyerupai) dengan Yahudi dan Nashara tentang peringatan hari lahir. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam telah bersabda mewanti-wanti dari sunnah dan jalan hidup mereka:

“Kalian pasti akan mengikuti sunnah orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal sehingga seandainya mereka masuk ke lubang biawak pun pasti kalian akan memasukinya.” Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu Yahudi dan Nashara ?” Beliau menjawab: “Siapa lagi ?” Dikeluarkan oleh Bukhari Muslim daalam Shahihain.

Dan makna ” Siapa lagi ?” artinya merekalah orang-orang yang dimaksud dengan perkataan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam ini. Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wasallam pun bersabda:

“Siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk kaum itu.”

Fatawa Islam 1/115.

Untuk yang Sehati

Bercita-cita mengamalkan Islam secara utuh adalah suatu hal yang wajib bagi setiap muslim....
Namun bila belum mampu seluruhnya, jangan ditinggalkan semuanya....Karena Alloh Subhanahu wata'ala tidak membebani seseorang kecuali sesuai kemampuan maksimal yang dimiliki...

Buat diriku & dirimu

....Jangan pernah merasa cukup untuk belajar Islam, karena semakin kita tahu tentang Islam, semakin kita tahu tentang diri kita (...seberapa besar iman kita, ...seberapa banyak amal kita,....seberapa dalam ilmu kita, dan sebaliknya...seberapa besar kemunafikan kita, ...seberapa banyak maksiat kita, ...seberapa jauh kedunguan kita)
....Barangsiapa mengenal dirinya, maka semakin takut ia kepada Alloh Subhaanahu wata'ala

Do’a kita

Semoga Alloh Subhaanahu wata'ala meneguhkan hati kita dalam Islam hingga maut menjemput kita,...aamiin

Kalender

Februari 2010
S M S S R K J
« Jan   Mar »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728  

Total Pengunjung

  • 207,978 klik