Maaf, Dilarang Merokok!

Maaf, Dilarang Merokok!

diambil dari http://ahlussunnah.info

Oleh: Redaksi Majalah Fatawa

Beberapa waktu yang lalu, di DKI Jakarta, telah ditetapkan sebuah Perda tentang larangan merokok di tempat umum. Sebuah langkah yang bagus, meskipun perlu terus ditingkatkan. Sesuatu yang baik memang tidak selalu didukung semua pihak, ada saja yang protes.

Pelarangan merokok dipandang oleh sebagian orang sebagai pengekangan HAM (Hak Asasi Manusia), yang berarti pelanggaran HAM. HAM memang lagi disuarakan oleh pihak-pihak tertentu, yang mereka tentu akan mendapatkan keuntungan. Jangankan merokok, pelarangan pernikahan sejenis pun dipandang sebagai pelanggaran HAM! HAM telah dijadikan sebagai senjata utama untuk menghantam syari’at Islam, dari poligami, waris, hudud (hukum-hukum seperti qishash, rajam atau dera (cambuk)), hingga masalah pergaulan.

Kalau, misalnya, Anda merokok bisa jadi kesehatan diri diabaikan. Dalam hukum Barat yang materialistik individualistik sikap demikian tidak dianggap salah, berbeda dalam hukum Islam yang melindungi dan menghargai jiwa. Mengkonsumsi sesuatu yang membahayakan diri sendiri adalah terlarang. Rokok ternyata tidak hanya membahayakan diri sendiri, justru lebih mengganggu dan membahayakan orang lain. Dipercayai bahwa perokok pasif (orang yang menghisap asap rokok karena aktifitas merokok yang dilakukan orang lain) lebih dirugikan. Zat-zat berbahaya yang masuk ke dalam tubuhnya lewat hidung lebih banyak, karena ditambah dari tubuh perokok aktif. Berarti orang yang merokok telah melakukan kezhaliman pada orang di sekitarnya. Mungkin ini baru bisa dirasakan dalam jangka waktu yang tidak pendek. Jangka pendeknya orang yang berada di samping perokok akan merasakan udara yang tidak nyaman, tidak segar, kotor, dan apek. Orang sehat pun akan merasa tidak nyaman dan terganggu, bagaimana dengan penderita asma yang alergi terhadap asap? Ini sebuah kezhaliman yang lain lagi. Anda bisa coba berpikir jernih untuk menemukan bahaya asap rokok. Sementara manfaatnya hampir tidak ada, kalau ada pun sekadar perasaan nyaman akibat kecanduan. Sesuatu yang seimbang nilai manfaat dan bahayanya belum tentu layak dikonsumsi, apatah lagi yang bahayanya jauh lebih berat.

Islam dan Rokok

Allah ‘Azza wa Jalla mengutus Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan petunjuk-Nya dan agama yang benar, untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya dan membersihkan serta menyucikan hati mereka dari kotoran kekufuran dan kefasikan sekaligus membebaskan mereka dari belenggu penghambaan kepada selain Allah ‘Azza wa Jalla. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membersihkan manusia dari kesyirikan dan kehinaan kepada selain Allah Azza wa Jalla dan memerintahkannya untuk beribadah hanya kepada Allah Azza wa Jalla semata dengan merendahkan diri dan mencintai-Nya, meminta dan memohon kepada-Nya dengan penuh harap dan takut. Dia juga menyucikan manusia dari setiap kekotoran maksiat dan perbuatan dosa, maka dia melarang manusia atas setiap perbuatan keji dan buruk yang dapat merusak hati seorang hamba dan mematikan cahayanya dan agar menghiasinya dengan akhlak mulia dan budi perkerti luhur serta pergaulan yang baik untuk membentuk pribadi Muslim yang sempurna. Maka dari itu dia menghalalkan setiap sesuatu yang baik dan mengharamkan setiap yang keji, baik makanan, minuman, pakaian, pernikahan dan lainnya.

Lantas apakah pantas seorang Muslim merokok? Bukankah rokok tidak bisa dipungkiri lagi akan mendatangkan bahaya bagi fisik dan mengdatangkan bau yang tidak sedap, sementara Islam adalah agama yang baik, tidak memerintahkan kecuali yang baik. Seyogyanya bagi seorang Muslim untuk menjadi orang yang baik, karena sesuatu yang baik hanya layak untuk orang yang baik. Sungguh Allah Azza wa Jalla adalah Maha Baik yang tidak menerima kecuali yang baik.

Berikut beberapa fatwa dari para Ulama terkemuka tentang hukum rokok.

Fatwa 1:

“Merokok hukumnya haram, begitu juga memperdagangkannya. Karena di dalamnya terdapat sesuatu yang membahayakan. Diriwayatkan dalam sebuah hadits (yang artinya);

‘Tidak (boleh melakukan/menggunakan sesuatu yang) berbahaya atau membahayakan.’ (Riwayat Ahmad dalam al-Musnad, Malik dalam al-Muwaththa dan Ibnu Majah)1

Rokok juga termasuk sesuatu yang buruk (khabaits), sedangkan Allah ‘Azza wa Jalla ketika menerangkan sifat Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam berfrman (yang artinya);

‘Dia menghalalkan bagi mereka yang baik dan mengharamkan yang buruk.’ (QS. al-A’raf [7] : 157)”

Panitia Tetap Lembaga untuk Riset Ilmiah dan Fatwa Kerajaan Saudi Arabia.

Ketua: ‘Abdul-Aziz bin Baz.

Wakil Ketua: ‘Abdur-Razzaq Afifi.

Anggota: ‘Abdullah bin Ghudayyan – ‘Abdullah bin Qu’ud.

Fatwa 2:

“Merokok diharamkan, begitu juga halnya dengan syisyah (semacam candu, red.), dalilnya adalah frman Allah ‘Azza wa Jalla (yang artinya);

Jangan kalian bunuh diri kalian sendiri, sesungguhnya Allah Maha Penyayang terhadap diri kalian.‘ (QS. an-Nisa [4] :29)

Jangan kalian lemparkan diri kalian dalam kehancuran.‘ (QS. al-Baqarah [2] : 195)

Dunia kedokteran telah membuktikan bahwa mengkonsumsi barang ini dapat membahayakan, sesuatu yang membahayakan hukumnya haram. Dalil lainnya adalah frman Allah ‘Azza wa Jalla (yang artinya):

Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan..‘ (QS. an-Nisa [4] :5)

Kita dilarang menyerahkan harta kita kepada mereka yang tidak sempurna akalnya karena pemborosan yang mereka lakukan. Tidak diragukan lagi bahwa mengeluarkan harta untuk membeli rokok atau syisyah merupakan pemborosan dan merusak bagi dirinya, maka berdasarkan ayat ini hal tersebut dilarang. Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menunjukkan tercelanya pengeluaran harta yang sia-sia, sementara itu mengeluarkan harta untuk rokok dan syisyah termasuk menyia-nyiakan harta. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya);

‘Tidak (boleh melakukan/menggunakan sesuatu yang) berbahaya atau membahayakan.’”

Syaikh Muhammad bin Shalih bin al-‘Utsaimin.

Anggota Lembaga Majelis Ulama Kerajaan Saudi Arabia.

Fatwa 3:

Terdapat sebuah fatwa dengan nomor 1407, tanggal 9/11/1396 H, dari Panitia Tetap Lembaga untuk Riset Ilmiah dan Fatwa di Riyadh, sebagai berikut:

“Tidak dihalalkan memperdagangkan rokok dan segala sesuatu yang diharamkam, karena termasuk sesuatu yang buruk dan mendatangkan bahaya pada tubuh, rohani, dan harta.

Jika seseorang hendak mengeluarkan hartanya untuk pergi haji atau menginfakkannya pada jalan kebaikan, maka dia harus berusaha membersihkan hartanya saat untuk beribadah haji atau diinfakkan kepada jalan kebaikan, berdasarkan keumuman frman Allah ‘Azza wa Jalla (yang artinya):

‘Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata darinya.’ (QS. al-Baqarah [2] : 267)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya);

‘Sesungguhnya Allah Maha Baik, tidak akan menerima kecuali yang baik.’ (al-Hadits)2

Hanya dari Allah segala taufik, semoga shalawat dan salam tercurah untuk Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya dan Sahabatnya.

Diramu dari “Afwan Mamnu’ al-Tadkhin” oleh Thalal bin Sa’ad al-’Utaibi.

Redaksi.

Catatan Kaki:

  1. ^ Musnad Ahmad (2862), Muwaththa Malik (1461), dan Ibnu Majah (2340 & 2341).
  2. ^ Shahih Muslim (1015), Musnad Ahmad (8148), at-Tirmidzi (2989), dan Sunan al-Darimi (2717).
Sumber: Artikel ini disalin dari majalah Fatawa, volume 3, nomor 7, Juni 2007 M/ Jumadil Ula 1428 H, halaman 28-30.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Untuk yang Sehati

Bercita-cita mengamalkan Islam secara utuh adalah suatu hal yang wajib bagi setiap muslim....
Namun bila belum mampu seluruhnya, jangan ditinggalkan semuanya....Karena Alloh Subhanahu wata'ala tidak membebani seseorang kecuali sesuai kemampuan maksimal yang dimiliki...

Buat diriku & dirimu

....Jangan pernah merasa cukup untuk belajar Islam, karena semakin kita tahu tentang Islam, semakin kita tahu tentang diri kita (...seberapa besar iman kita, ...seberapa banyak amal kita,....seberapa dalam ilmu kita, dan sebaliknya...seberapa besar kemunafikan kita, ...seberapa banyak maksiat kita, ...seberapa jauh kedunguan kita)
....Barangsiapa mengenal dirinya, maka semakin takut ia kepada Alloh Subhaanahu wata'ala

Do’a kita

Semoga Alloh Subhaanahu wata'ala meneguhkan hati kita dalam Islam hingga maut menjemput kita,...aamiin

Kalender

Januari 2010
S M S S R K J
« Des   Feb »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Total Pengunjung

  • 203,765 klik
%d blogger menyukai ini: