Husnul Khatimah


Husnul Khatimah
Segala puji bagi Allah, yang rahmat-Nya meliputi segala sesuatu dan yang
membuat perhitungan dengan segala sesuatu (yakni Dia megetahui
bilangan segala sesuatu dengan pasti). Dia merahmati siapa yang Dia
kehendaki, yang melalui rahmat itu Dia menyuruh (kepada mereka untuk
melaksanakan) di dunia ini yang (jika mereka lakasanakan) konsekuensinya
akan menaikkan derajat mereka di Hari Kiamat, maka mereka (Muslimin) selalu
dalam ketaatan kepada-Nya dan beribadah kepada-Nya, jika mereka ditimpa
musibah dan bersabar maka akan baik bagi mereka (di Hari Kiamat), dan jika
nikmat diberikan kepada mereka (oleh Allah) dan mereka berterima kasih dan
bersyukur (kepada Allah) maka akan baik bagi mereka di Hari Kiamat, dan
mengenai mereka Allah berfirman:
       

       
      
     !
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala
mereka tanpa batas..” (QS Az zumar [39] : 10)
Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang diibadahi dengan benar kecuali
Allah, Maha Esa Dia dan tiada sekutu bagi-Nya, dan saya bersaksi bahwa
Muhammad  adalah hamba dan rasul-Nya yang diutus kepada kita sebagai
rahmat bagi semesta alam, semoga shalawat dan salam dilimpahkan
kepadanya, keluarganya, dan para sahabatnya.
Bagian dari kebaikan seseorang di dunia ini adalah kehidupannya; jika dia
menggunakannya dalam hal-hal yang bermanfaat baginya di persinggahan
terakhir yang abadi (Surga), maka perdagannya memberikan keuntungan yang
besar. Namun jika dia menyalahgunakannya dengan melakukan dosa-dosa dan
kemaksiatan hingga dia bertemu Allah dalam keadaan yang demikian, maka dia
pastilah termasuk orang-orang yang merugi; berapa banyak diantara mereka
yang berada di kubur? Seseorang yang berpikiran sehat menyeru dirinya untuk
melakukan perhitungan sebelum Allah memanggilnya untuk melakukan
perhitungan (pada Hari Perhitungan), dan takut kepada dosa-dosanya (dan
konsekuensinya menjauh dari dosa-dosa tersebut) sebelum dosa-dosa itu
membawanya kepada kehancuran (yakni api Neraka). Ibnu Mas’ud  berkata:

“Orang Mu’min sejati melihat dosa-dosanya seolah-olah dia duduk di sisi
sebuah gunung yang dia takut gunung itu akan segera menimpanya.” [HR
Bukhari (11/88-89) dan Muslim].
Berapa banyak orang yang terus-menerus melakukan dosa-dosa kecil dan
terbiasa dengannya dan menganggapnya sepele, dan tidak pernah berpikir
mengenai kebesaran Dia yang dikhianati dan bahwa dosa-dosa kecil itu
merupakan su’ul khatimah (akhir yang buruk dari kehidupannya hingga
dijebloskan ke dalam neraka). Anas bin Malik  berkata:
“Engkau melakukan dosa-dosa yang engkau anggap lebih ringan daripada
sehelai rambut (sesuatu) yang kami anggap sebagai dosa besar di masa
Nabi .” [HR Bukhari (11/283)
Allah Ta’ala menarik perhatian orang-orang beriman di dalam Al-Qur’anul
Karim terhadap pentingnya husnul khatimah (akhir yang baik dari kehidpuan
dan amalan seseorang); Dia berfirman:
” #$%$ & #'( )*%$ )+,-   (
1, 2  ”! .$ $ ./  0 1 
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar
takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam
keadaan beragama Islam.” (QA Al-Imran [3] : 102)
Dan Dia berfirman:
3 % ) 4 $5) 2 4 
6 7
89

“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).”(QS
[15] : 99)
Perintah (pada ayat sebelumnya) untuk bertakwa kepada Allah dan beribadah
hanya kepada-Nya saja terus berlangsung sampai seseorang mati, sehingga
husnul khatimah dapat diraih. Nabi  mengabarkan kepada kita bahwa ada
sebagian orang yang tetap dalam ketaatan selama masa hidupnya namun sesaat
sebelum meninggal mereka mati dalam keadaan berbuat dosa dan kemaksiatan
dan mengakhiri kehidupannya dalam keadaan yang demikian (dan sebagai
akibatnya mereka dilemparkan ke dalam Neraka). Nabi  bersabda:

:6+ ;
 ;<
*;
< ;     
*=7 ! :>
 ?

@ 0+

 #+

*
*A , 2
&8
  :?6B 0*(C
7  D+E) ;
 ;<
*;
<  :2A) ;  <
 ;*  <
 :;       ! . #
F(9
*
*A , 2 :D+E) ;
 #
(9 &8
  :.
96B
 ?6B 
@ 0+

 #+

*;
<  :2A)
0*(C
7  6+ ;
 ;<
.
“Demi Allah, sesungguhnya seorang dari kalian atau seorang laki-laki beramal
dengan amalan ahli Neraka, sehingga jarak antara dirinya dengan Neraka hanya
sedepa atau sehasta lagi, tetapi telah berlaku ketetapan sebelumnya atasnya,
lalu dia beramal dengan ahli Surga, sehingga dia pun masuk ke dalam Surga.
Dan seseorang benar-benar beramal dengan amalan ahli Surga, sehingga jarak
antara dirinya dengan Surga hanya sehasta atau dua hasta lagi, tetapi telah
berlaku ketetapan atasnya, lalu dia beramal dengan amalan ahli Neraka,
sehingga dia pun masuk Neraka.” (Bukhari, 11/417; dan Muslim, 2643).
Sahl Ibnu Sa’ad As-Saidi , meriwayatkan bahwa dalam salah satu peperangan,
Nabi  berhadapan dengan kaum musyrikin, dan kedua pasukan bertempur,
kemudian kedua pasukan kembali ke tendanya masing-masing. Diantara
pasukan Muslimin ada seorang pemuda yang selalu mengikuti seorang Musyrikin
yang sendirian dan menebasnya dengan pedangnya. Dikatakan, “Ya Rasulullah!
Tidak seorang pun berperang dengan gagah berani kecuali si fulan.” Nabi 
bersabda: “Dia dari penduduk neraka.” Kemudian salah seorang diantara
mereka berkata, “Aku akan mengikutinya dan bersamanya dalam setiap
peperangan.” Pemuda (yang gagah berani tadi) terluka, dan ingin mengakhiri
hidupnya, dia menempatkan pegangan pedangnya di atas tanah dan ujungnya
ke dadanya, dan menjatuhkan dirinya di atasnya, melakukan bunuh diri. Lalu
orang yang mengikutinya itu datang kepada Nabi  dan berkata: “Aku bersaksi
bahwa engkau adalah Rasulullah.” Nabi  bertanya. “Apa yang terjadi?” Lakilaki
itu menceritakan seluruh kejadiannya. Lalu Nabi  bersabda:
;

., # ! 6+ ;
 ;9 *;
<  7
8<) ! ; 
 .
, # ! D+E ) ; 
 ;  9 ;* 
< :D+E )
:6+ 
$G)
*H
9IJ)  ! .
“Seorang hamba benar-benar beramal dengan amalan ahli Neraka padahal
sesungguhnya dia termasuk ahli Surga, dan seseorang benar-benar beramal
dengan amalan ahli Surga padahal sesungguhnya dia termasuk ahli Neraka,
sesungguhnya perbuatan itu tergantung pada akhir penutupnya.” (Fath al-Bari,
penjelasan Shahih Bukhari 7/538-4202 hal. 538, Edisi Pertama, Dar Ar-Rayan,
1988).

Allah Ta’ala menggambarkan hamba-Nya yang beriman sebagai orang yang
menggabungkan antara rasa takut akan siksa Allah dan keikhlasan dalam
beribadah di dalam hatinya. Allah Ta’ala berfirman:
*%K
L1, 0M
6 D
LC
.M,  ./ ! +,
N
0M
6 OP
 ./
0M
    
 ./
*=
L  !
0  QD(
0
*(*R $- , $
N ./ <6
0 9 6   4 S
* M
6
 %*
T 0  
  O     
G ) U
“Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan
mereka, Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka, Dan
orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu
apapun), Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan,
dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka
akan kembali kepada Tuhan mereka, mereka itu bersegera untuk mendapat
kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.”
(QS Al-Mu’minun [23] : 57-61)
Inilah keadaan para sahabat yang mulia. Ahmad meriwayatkan dari Abu Bakar
As-Siddiq  bahwa ia berkata:
“Sekiranya aku adalah sehelai rambut dari tubuh orang Mu’min”
Dan dia  biasa memegang lidahnya dan berkata:
“Inilah sesuatu yang membawaku kepada kehancuran.”
Ali bin Abi Thalib  takut kepada dua hal: panjang angan-angan dan mengikuti
hawa nafsu. Dia  berkata:
“Panjang angan-angan membuat lupa akan akhirat, dan mengikuti hawa
nafsu menghalangi dari jalan kebenaran.”
Ali  juga berkata:
“Sesungguhnya dunia ini akan segera pergi dan akhirat akan datang
dengan cepat. Dan masing-masing dari keduanya mempunyai anak-anak,
maka jadilah anak-anak akhirat (yakni orang-orang yang mencintai
akhirat dan mengerjakan amalan yang baik yang Allah perintantahkan
sehingga Dia memasukkanmu ke dalam Surga), dan janganlah menjadi
anak-anak dunia (yakni orang-orang mencintai dunia dan menjalani
hidupnya dengan berbuat dosa dan kemaksiatan, dan lain-lain) karena
dunia ini adalah tempat beramal bukan perhitungan sedangkan esok
adalah hari perhitungan dan bukan amalan.”

Kematian mendadak merupakan sesuatu yang tidak disukai di dalam Islam
karena ia datang kepada seseorang secara tiba-tiba dan tidak memberi
kesempatan (untuk bertaubat), dia mungkin melakukan suatu kejahatan
sehingga hidupnya berakhir dalam keadaan yang demikian.
Para salaf takut terhadap su’ul khatimah dengan ketakutan yang besar. Sahl At-
Tusturi berkata: “Para Siddiqin takut akan su’ul khatimah dalam kehidupan
seseorang dalam setiap gerakan atau setiap saat dan mereka digambarkan oleh
Allah di dalam Al-Qur’anul Karim: “…dengan hati yang takut” (QS Al-Mu’minun
[23] : 60).
Ketakutan akan akhir yang buruk (su’ul khatimah) dari kehidupan seseorang
harus dinampakkan pada mata seseorang setiap saat karena ketakutan akan
mempengaruhinya dalam beramal (yakni melakukan amal kebajikan). Nabi 
bersabda:
“Barangsiapa yang takut hendaklah berjalan di malam hari dan barangsiapa
yang berjalan di malam hari akan sampai ke rumahnya (Surga). Barang
dagangan Allah sangat mahal, dan barang dagangan Allah adalah Surga.” (At-
Tirmdizi no. 2450)1) dishahihkan oleh Syaikh Albani).
Namun ketika kematian seseorang sangat dekat dan dia dalam keadaan sekarat,
dia hendaknya mempunyai lebih banyak harapan kepada Allah dan menantikan
pertemuan dengan-Nya karena barangsiapa yang mencintai pertemuan dengan
Allah, Allah mencintai pertemuan dengannya. Nabi  bersabda:
“Janganlah sekali-kali salah seorang dari kalian mati kecuali dengan bersangka
baik kepada Allah Azza wa Jalla.”2)
Namun sebagian masyarakat Muslim yang awam bergantung kepada rahmat
Allah yang luas, maaf dan ampunan-Nya dan tetap melakukan kemaksiatan dan
tidak menjauhkan diri dari perbuatan dosa, sebaliknya, pengetahuan mereka
akan sifat-sifat Allah (Maha Pengampun, Maha Penyayang, dan lain-lain),
membuat mereka melakukan lebih banyak perbuatan dosa dan ini adalah
kesalahan yang membinasakan, sebuah kesimpulan rusak (atas sifat-sifat Allah)
karena Allah adalah Maha Penyayang, Maha Pengampun dan Allah Maha keras
siksa-Nya, sebagaimana Allah Ta’ala firmankan didalam banyak ayat-ayat-Nya
yang suci; Allah berfirman:

      6*K )   UM  VW89 )XM8   IJ /<)  U
/9  
“Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa sesungguhnya azab-Ku
adalah azab yang sangat pedih..” (QS Al-Hijr [15] : 49-50)
Dan Dia juga berfirman:
  (<) YY<) #( ., 2A) *;Z$ %<) 77[ 
2 ;
R \  /      @
“Haa Miim. Diturunkan Kitab ini (Al Qur’an) dari Allah Yang Maha Perkasa lagi
Maha Mengetahui, Yang Mengampuni dosa dan Menerima taubat lagi keras
hukuman-Nya….” (QS Al-Mu’min [40] : 1-3)
Ma’ruf Al-Karkhi berkata: “Harapanmu atas rahmat Dia yang tidak engkau taati
adalah kebodohan dan kekecewaan (bagimu).” Sebagaian ulama berkata: “Dia
yang memerintahkan untuk memotong anggota tubuhmu (yakni tangan) karena
mencuri 3 dirham (1/4 dinar), janganlah merasa aman dari hukuman-Nya di
hari kiamat bahwa (hukuman) itu akan seperti demikian.”
Seorang Muslim hendaknya bersemangat untuk membayar utangnya terhadap
orang lain dan memberikan mereka haknya, hak apapun yang ditahan seseorang
atas saudara Muslimnya, yang terakhir tentu saja akan mengambilnya kembali
pada Hari Kebangkitan. Jika dia (orang yang berutang atau menahan hak
saudaranya pent.) tidak mempunyai pahala dalam timbangannya, dan dosa
orang (yang memberikan piutang atau haknya ditahan –pent.) akan ditempatkan
pada timbangan orang yang pertama (sehingga akhirnya dia dimasukkan ke
dalam neraka). Nabi  mengabarkan kepada kita bahwa jiwa orang Mu’min
tertahan (dari masuk ke dalam Surga) oleh utang-utangnya sampai dilunasi
kepada pemiliknya.

……………………………………………………………………………………………………

1. Dishahihkan oleh Syaikh Albani
2. HR Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan lain-lain.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Untuk yang Sehati

Bercita-cita mengamalkan Islam secara utuh adalah suatu hal yang wajib bagi setiap muslim....
Namun bila belum mampu seluruhnya, jangan ditinggalkan semuanya....Karena Alloh Subhanahu wata'ala tidak membebani seseorang kecuali sesuai kemampuan maksimal yang dimiliki...

Buat diriku & dirimu

....Jangan pernah merasa cukup untuk belajar Islam, karena semakin kita tahu tentang Islam, semakin kita tahu tentang diri kita (...seberapa besar iman kita, ...seberapa banyak amal kita,....seberapa dalam ilmu kita, dan sebaliknya...seberapa besar kemunafikan kita, ...seberapa banyak maksiat kita, ...seberapa jauh kedunguan kita)
....Barangsiapa mengenal dirinya, maka semakin takut ia kepada Alloh Subhaanahu wata'ala

Do’a kita

Semoga Alloh Subhaanahu wata'ala meneguhkan hati kita dalam Islam hingga maut menjemput kita,...aamiin

Kalender

Desember 2009
S M S S R K J
« Nov   Jan »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Total Pengunjung

  • 210,890 klik
%d blogger menyukai ini: