Sarang dan Tempat TInggal Lebah

Firman Allah menyebutkan:

 

“Supaya kamu mengambil rumah (tempat tinggal) di bukit‑bukit, di pohon‑pohon dan di mana mereka tinggal.”

 

Kebanyakan ahli tafsir sepakat mengatakan bahwa Allah SWT telah menciptakan lebah dan menjadikan rumah‑rumahnya di bukit‑bukit, di pohon‑pohon kayu, di atap‑atap atau dinding‑dinding rumah dan lain‑lain. Sarang lebah dinamakan rumah adalah karena lebah mempunyai cara hidup menakjubkan yang dikendalikan pencipta‑Nya secara teliti dan rapi yang membingungkan otak manusia. Ia kadang‑kadang juga dinamakan awkar (kata jamak dari wakr), yang Juga berarti sarang atau tempat tinggal. Asal-usul rumah adalah untuk tempat tinggal manusia dan kata wakr digunakan di sini untuk tempat tinggal yang dibangun lebah sehingga ia dapat mengeluarkan madunya, yang mirip dengan rumah buatan manusia karena adanya perencanaan yang baik dan pembagian yang benar. Kalimat wa min asy‑syajari wa mimma ya’risyun di pohon-pohon dan di tempat‑tempat yang mereka tinggikan” berarti chrome yang ditinggikan atau ditempatkan di tempat tinggi oleh manusia, seperti diriwayatkan oleh Ibnu Zaid dan lain‑lain. Ia berarti atap, seperti diriwayatkan oleh ath‑Thabari dan lain‑lain. Oleh sebagian ahli tafsir kata min (dari) dalam ayat di atas berati min tab’idh (di antara, antara lain, termasuk). Sesuai individu-individu dan bagian‑bagiannya, maka lebah tidaklah membuat tempat tinggal pada setiap pohon, bukit dan tempat yang ditinggikan. la tidak membuat tempat tinggal pada setiap tempat yang disebutkan tersebut. Tafsiran rumah dengan apa. yang dibangun oleh lebah adalah tafsiran yang dipegang oleh lebih dari seorang mufassir. Abu Hayyan mengatakan bahwa yang dimaksud tampaknya adalah ruang‑ruang yang terbentuk di bukit‑bukit, dalam rongga pohon, sel‑sel yang dibuat manusia untuk lebah dan ruang‑ruang yang ada di dinding. Az-Zamakhsyari mengatakan bahwa isyarat menunjukkan bahwa rumah bukanlah ruang, tetapi tempat yang dibuat oleh lebah. Ia mengatakan: Saya menginginkan pengertian al‑ba’dhiyyah (di antaranya; antara lain) dan bahwa rumah‑rumah itu tidak dibuat pada setiap bukit, pohon dan apa yang ditinggikan. Kata yarasya berarti hayya’a (membentuk).

 

Sementara mufassir mengatakan bahwa kata anittakhidziy adalah Imma Mashdariyyah dengan takdir ba’almaalabbissaat yaitu bi anittakhidziySupaya kamu mengambil atau tafsiriyyah (menafsir)”; kata setelah itu, karena di dalamnya dengan anggapan, pengertian maknanya yang terkenal, yaitu makna ucapan tanpa hurufnya dan itu cukup menjadikan sebagal tafsiriyyah.

 

Sedangkan dalam hubungannya dengan sains dalam bidang ini, maka firman Allah dalam surat an‑Nahl ayat 68 tersebut, termasuk gaya bahasa tinggi (al‑balaghah) dan kemukjizatan yang menarik perhatian. Penggunaan kalimat anittakhidziy dalam. bentuk mu’annats karena kata nahl adalah kata benda jenis yang dapat dipandang mudzakkar dan mu’annats. Dari segi lain ungkapan dengan mu’annats di sini barangkali cocok dengan tabiat kehidupan lebah. Lebah betinalah yang melakukan segala usaha dan pekerjaan di koloni‑koloni lebah. Sedangkan lebah jantan tidak melakukan pekerjaan selain kawin saja, yang tidak muncul kecuali menjelang masa kawin, setelah itu ia mati dan punah.

 

Dalam. ayat 68 surat an‑Nahl ada ungkapan atau petunjuk kepada tempat tinggal lebah; yaitu topik besar yang membutuhkan uraian panjang. Bukit secara bahasa menunjukkan dan mengandung pengertian bumi, batu granit, bukit‑bukitan, gua dan benda‑benda yang terbentuk akibat faktor‑faktor penggundulan seperti tanah dan seterusnya. Sedangkan pohon juga menunjukkan dan memasukkan bagian‑bagian pohon seperti dahan, ranting, daun dan seterusnya. Begitu juga benda‑benda yang terbikin dari kayu seperti papan dan sebangsanya.

 

Sedangkan yang dimaksud dengan Wa maa ya’risyuun adalah benda‑benda yang digunakan dalam pekerjaan membuat atap atau sarang. Tidak ada yang lebih menunjukkan akan keajaiban ilmiah Al‑Quran dan pencakupan Al‑Qur’an terhadap semua hal yang mungkin dilakukan oleh lebah untuk membuat tempat tinggal, seperti telah disebutkan terdahulu.

 

Berdasarkan keterangan terdahulu tentang jenis‑jenis lebah tersebut mirip dengan manusia dalam kebiasaan membuat rumah. Satu kelompok lebah mem­punyai pekerjaan khusus dalam membangun rumah tanpa bantuan kelompok yang lain, namun perbedaannya dengan manusia adalah hal tabiat spesialisasi ini, dimana pada lebah merupakan instink dan pada manusia sebagai usaha berencana. Jadi tabiat membentuk manusia (setiap individu manusia) yang berisikan kesediaan fithri (alami). Kesanggupan mendapat keahlian dalam membangun dengan ilmu dan pengalaman bila ia menginginkannya. Sedangkan pada lebah, maka pada semua kelompok lebah (kecuali lebah kekanak‑kanakan) terdapat sejumlah individu khusus yang sanggup sendiri tanpa bantuan kelompok lain dalam membangun rumah untuk melayani seluruh kelompok. Spesialisasi ini sesungguhnya berasal dari tabiat instink yang tidak dimiliki kecuali oleh satu kelompok lebah saja. Setiap kelompok mempunyai gaya berbeda dalam membangun rumah yang tergantung kepada tabiat dan cara hidup serta lingkungannya. Alangkah kreatifnya ciptaan Allah Yang Maha Bijaksana, Maha Pencipta. Benar, ini adalah bukti kebenaran Allah. Apakah manusia tidak memikirkan dan mendalaminya?

 

Untuk lebih menjelaskan hal‑hal yang diterangkan oleh sains, berikut ini adalah beberapa sorotan atas setiap kelompok lebah yang mempunyai ciri dan perbedaan dalam sistem kehidupan dan perbedaan tempat tinggal. Kelompok pertama, yaitu kelompok penyendiri atau darat dan kelompok kedua, yaitu lebah bermasyarakat, mempunyai ciri dalam membuat sarang tempat tinggalnya, sedangkan kelompok ketiga, yaitu lebah kekanak‑kanakan, tidaklah membuat sarangnya karena ia hidup biasanya di atas kelompok lain. Karena itu pembicaraan akan dipusatkan pada dua kelompok pertama saja. Berikut ini adalah kajian terhadap tingkah laku berbagai jenis lebah dalam membuat sarang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Untuk yang Sehati

Bercita-cita mengamalkan Islam secara utuh adalah suatu hal yang wajib bagi setiap muslim....
Namun bila belum mampu seluruhnya, jangan ditinggalkan semuanya....Karena Alloh Subhanahu wata'ala tidak membebani seseorang kecuali sesuai kemampuan maksimal yang dimiliki...

Buat diriku & dirimu

....Jangan pernah merasa cukup untuk belajar Islam, karena semakin kita tahu tentang Islam, semakin kita tahu tentang diri kita (...seberapa besar iman kita, ...seberapa banyak amal kita,....seberapa dalam ilmu kita, dan sebaliknya...seberapa besar kemunafikan kita, ...seberapa banyak maksiat kita, ...seberapa jauh kedunguan kita)
....Barangsiapa mengenal dirinya, maka semakin takut ia kepada Alloh Subhaanahu wata'ala

Do’a kita

Semoga Alloh Subhaanahu wata'ala meneguhkan hati kita dalam Islam hingga maut menjemput kita,...aamiin

Kalender

November 2009
S M S S R K J
« Agu   Des »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Total Pengunjung

  • 215,389 klik
%d blogger menyukai ini: