Faktor faktor yang berhubungan dengan penggunaan sel sel

1. Pemilihan bahan

 

Setelah pengkajian mendalam terhadap sel‑sel tradisional di berbagai tempat berbeda di dunia, diketahui bahwa bumi dengan berbagai bentuknya (tanah, tanah liat, batu‑batuan) merupakan bahan untuk membuat sel‑sel lebah di negeri-negeri yang kering di mana tidak tersedia kayu.

Orang Inggris berusaha membuat sel‑sel dari kayu dan bahan‑bahan yang berasal dari tumbuh‑tumbuhan di mana pada masa lalu sel‑sel dibuat dari cabang-cabang pokok kayu yang gembur karena mudah untuk menghancurkan dan melumatkannya.

 

2. jenis

 

Tujuan dari membangun sel, khususnya jenis Apis mellifera (lebah madu), harus dapat menyiapkan yang berikut ini:

a.  Bahan baku pembuatan, komposisi dan kekerasannya yang bertujuan menjaga lebah dari kondisi‑kondisi udara, yang ia buat dari bahan selain metal.

b.  Volume, volume sel-sel berkisar antara 40‑50 liter, sekalipun sebagian volume sel mencapai separuhnya, yang digunakan untuk menarik buangan.

  1. Bukaan pintu. masuk lebah: Biasanya antara 1‑2 cm dan ini barangkali pada sel atau pada penyanggah yang digunakan untuk menutup mulut bukaan. Barangkali juga terdapat bukaan untuk ventilasi. Lebah membutuhkan sebuah bukaan yang tidak kurang dari 8 cm2.

c.

Sedangkan lebah jenis Apis cerana, maka sel‑selnya berciri mirip dengan sel‑sel terdahulu, khususnya jenis Apis mellifera, namun ia mempunyai volume lebih kecil mencapai dua pertiga volume sel terdahulu dan isinya antara 10‑15 liter.

Dari uraian terdahulu dapat dikatakan bahwa sel‑sel pertama yang menyiapkan untuk menempatkan lebah madu adalah sel‑sel sangat sederhana yang mirip dengan sarang alaminya, yang dibuat adakalanya dari dahan pohon setelah membuat rongga di dalamnya dan menutupnya dengan tutup yang tidak rapi dari atas, di mana terdapat bukaan untuk keluar masuk lebah, atau ia membuat dalam bentuk pipa‑pipa dari bahan porselin atau tanah liat dan biasanya tanah. Lalu sel‑sel ini berkembang menjadi sel‑sel berbentuk kotak yang tertutup yang bekerja seperti dalam bentuk dahan kayu, tetapi terdiri dari empat dinding. Kemudian digunakan skep yang terbuat dari jerami yang dijalin atau dahan‑dahan lunak dari tumbuh‑tumbuhan semak‑semak. Dalam beberapa arah untuk tujuan itu sendiri, lebah sampai menggunakan sel kayu yang mempunyai kamar‑kamar yang berisikan roda‑roda yang bergerak. Kemajuan perhatian petemak lebah sampai dengan membangun sel dengan rekor intemasional untuk penggunaan runggal dalam semua koloni. Sel‑sel juga dibuat dari sisa‑sisa pertanian seperti jerami, serpihan tebu dan lain‑lain.

 

Juga dalam sarang lilin yang dibangun lebah di dalam tempat tinggalnya untuk meletakkan telur dan menyimpan bahan makanan merupakan contoh atas kecanggihan penciptaan Maha Pencipta yang dianugerahkan‑Nya kepada lebah. Sarang lilin yang berisikan ribuan lubang bersegi enam digunakan sebagai tipuan untuk mengasuh anak‑anak lebah atau gudang‑gudang untuk menyimpan madu dan bibit pembuah. Suatu yang menakjubkan, bahwa di samping ia disiapkan betul‑betul untuk pekerjaan ini, maka yang lebih menakjubkan lagi adalah bentuk persegi enam dari lubang yang membutuhkan jumlah bahan bangunan yang lebih sedikit, selain juga ia cocok untuk pertumbuhan anak lebah yang dipelihara dalam lubang‑lubang ini. Bentuk segi enam adalah bentuk geometrik yang terbaik yang menghasilkan kekosongan‑kekosongan perantara dan bahwa jumlah lubang dari kekosongan‑kekosongan ini pada luas tertentu melebihi jumlah bentuk‑bentuk lain pada luas yang sama.

 

Kita tidak mempunyai sikap lain kecuali tertegun menyerah di depan kemampuan I’jaz (kemukjizatan) Al‑Qur’an ini, sewaktu kita menemukan bahwa lebah madu membangun berbagai lubang di mana terdapat lubang‑lubang kecil yang dalam satu inci persegi berisikan 28,27 lubang persegi enam. Ini digunakan untuk anak lebah pekerja dan penyimpan madu. Ada juga yang sedikit lebih besar yang digunakan untuk menjaga bibit jantan yang dalam satu inci persegi terdapat 18,84 lubang bersegi enam.

 

Maha Suci Engkau, wahai Tuhanku. ‑Engkau memberi ilham kepada dunia yang telah dan masih saja menakjubkan makhluk Engkau yang paling canggih. Ilmu Engkau Maha Mendahului ilmu manusia, makhluk Engkau yang paling lemah. Bukankah pada tempat tinggal Lebah terdapat krcasi dan Ilham? Siapakah yang mengajarkan kepada setiap jenis lebah supaya mengambil bahan baku tertentu sebagai tempat tinggal dan tidak suka dengan bahan pengganti yang lain? Ia adalah Allah, Tuhan seluruh alam, pencipta langit dan bumi. Maha benar Allah dengan firmannya:

 

Itu adalah Allah, Tuhan seluruh alam, Pencipta segala sesuatu. Karena itu, sembahlah Ia!” (QS 6:102).

 

Tidakkah mereka memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah? …. ” (QS 7: 185).

 

Tidakkah mereka mendalami Al‑Qur’an. Sekiraranya berasal dari selain Allah, tentu mereka akan banyak menemukan berbagai kontradiksi di dalamnya!” (QS 4:82).

 

Terakhir sekali, pada rumah‑rumah lebah dan pada dunia lebah terdapat keajaiban dan kreativitas yang menyingkap rahasia kemukjizatan ilmiah yang diturunkan dalam Al‑Qur’an Al‑Karim, yang merupakan mukjizat Islam yang abadi dan kekal, yang berisikan ayat‑ayat dan petunjuk‑petunjuk yang selalu mengarahkan manusia kepada iman dengan Allah, Tuhan seluruh alam, dan kepada Islam yang cocok untuk segala ruang dan waktu.

 

Maha Suci Allah yang telah mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Pujian bagi Allah, Tuhan seluruh alam, dan shalawat atas junjungan kita Muhammad, Nabi yang ummi, serta atas keluarga dan Seluruh sahabat beliau.

Fakta tentang Sel sel yang masih digunakan sampal sekarang

Yang menimbulkan ketakjuban adalah sel‑sel itu tetap atau tidak berubah atau sel‑sel tradisional yang berjalan selama beratus‑ratus tahun, barangkali beribu‑ribu tahun. Cara penyusunan, bahan besar dan bentuknya umumnya tidak mengalami perubahan selama berabad‑abad. Sel‑sel dari tanah liat biasanya digunakan pada berbagai daerah di Timur jauh seperti di Mesir pada zaman kuno, seperti juga pada masa sekarang.

 

Orang Romawi menyebutkan sembilan macam sel yang segi‑seginya banyak mereka terangkan. Mereka juga menerangkan bagaimana sel‑sel ini dibuat, yang semuanya berdasarkan sistem horisontal yang sering diletakkan di atas mastaba (ban luar) atau dipahatkan ke dalam dinding, kadang‑kadang ditempatkan dua baris atau tiga baris bertingkat. Daftar yang dibuat oleh Crane (1983) berikut ini menjelaskan hal itu:

  1. Sel‑sel terbuat dari pohon kayu yang berlubang
  2. Sel‑sel dari pohon quercus suber
  3. Sel‑sel dari kayu papan
  4. Sel‑sel dari ranting‑ranting yang dijalin
  5. Sel‑sel dari pokok tumbuh‑tumbuhan yang kokoh di samping pokok yang lain
  6. Sel‑sel terbuat dari kotoran hewan
  7. Sel‑sel dari tanah yang dihaluskan (bahan porselin atau bahan tanah liat)
  8. Sel‑sel dari batu merah
  9. Sel‑sel transparan dari bahan tanduk dan mika

Sel‑sel dari tanah yang tidak dihaluskan. Sel‑Sel jenis ini tidak diterangkan dalam tulisan‑tulisan orang Romawi.

Lebah Madu

Sebelum manusia memanfaatkan lebah, lebah madu membuat sarangnya di celah‑celah yang ada antara batu‑batuan dan pohon‑pohon yang berlubang. Ini diterangkan oleh gambar yang menceritakan tentang batu‑batuan yang mempunyai celah sebagai tempat tinggal lebah di salah satu dataran tinggi di sebelah timur Spanyol pada masa batu pertengahan Hal itu lebih kurang 700 tahun sebelum masehi. Lebah sering sekali membuat sarang‑sarang lilinnya di tempat terbuka, dengan mengambil tempat‑tempat yang mudah untuk menjaganya dari faktor‑faktor alam. Di sini ia beranak pinak dan mengumpulkan madu. Sel‑selnya terbuat dari bahan‑bahan sederhana yang dapat dijangkau dan sesuai dengan keahlian‑keahlian lokal berbagai masyarakat Lebah. Ini menunjukkan bahwa sel‑sel lebah tidak mempunyai satu asal-usul.

 

Di hutan‑hutan besar di Eropa pada masa lalu, sel kuno merupakan kayu-kayu berongga yang berjatuhan yang dihuni oleh lebah madu liar Kebanyakan petunjuk yang dikenal tentang Lebah madu pada zaman kuno adalah lebah mesir lebih kurang 3.400 sampai 600 tahun sebelum masehi. Hal‑hal yang ditemukan tentang Lebah Mesir Kuno mempunyai urgensi penting karena kelangkaannya dan karena ia adalah peninggalan sejarah.

 

 

Sel‑sel Lebah Madu

Sel yang digunakan oleh lebah adalah bidang sempit rongga kosong yang mempunyai pintu masuk di tengah‑tengah antara kedua ujungnya. Kedua ujung barangkali ditutup dengan dua penyanggah yang cocok terbuat dan kayu. Bila terdapat keretakan‑keretakan maka ditutup dengan plester dari tanah. Pada beberapa daerah, sebagai pengganti sanggahan dari kayu digunakan bulatan‑bulatan batu yang disiapkan sesuai besar lubang. Bulatan‑bulatan batu ini ditemukan sewaktu dilakukan pekerjaan penggalian di berbagai daerah di kota Maya.

 

Sel sel terbuat dari tanah yang tidak dihancurkan yang berasal antara 2.400 sampai 2.133 tahun sebelum masehi. Terdapat juga sel‑sel yang terbuat dari tanah‑tanah yang sudah dihancurkan berbentuk wadah sedang dengan panjang 36 cm dan rata‑rata garis tengahnya pada kebanyakan potongan 14 cm di mana terdapat bukaan dengan garis tengah 2 cm pada lingkaran dengan ujung yang berhadapan dengan mulut bukaannya. Akan tetapi wadah wadah ini barangkali digunakan untuk mengumpulkan buangan karena ia kecil dan tidak cocok menjadi sel yang sebenamya.

 

Ditemukan sel‑sel yang tidak cocok menjadi sel yang sebenamya. Ditemukan sel‑sel yang merupakan wadah‑wadah besar yang terbuat dari tanah liat yang tidak dihaluskan (coarse pottary) yang mempunyai bukaan yang luas yang dinamakan sel‑sel tanah liat (pottary hives), berasal dari 500 sampai 600 tahun sebelum masehi.

Sel‑sel yang ditemukan di utara Eropa bersifat tradisional, merupakan keranjang‑keranjang terbuat,dari ranting‑ranting yang dijalin, kemudian dari jerami yang dijalin atau pokok rumbuh‑tumbuhan lainnya yang dkenal dengan nama skeps, berasal dari abad pertama sampai abad ketiga sebelum Masehi.

Pekerjaan Tutup Sarang

Jenis tutup sarang yang tidak kokoh terbuat dari bahan‑bahan yang diambil dari saluran gerbang masuk. Sedangkan bagian yang tidak kokoh pada jenis tutup campuran dibuat bahan‑bahan yang sama yang menjadi komposisi sel, seperti pada lebah Osmia parvols. Ia membuat onggokan‑onggokan antara sel-sel dan partikel‑partikel sumsum betis yang juga digunakan untuk pembuatan sarang.

 

Sementara bagian yang tidak kokoh berisikan partikel‑partikel sumsum kaki, butir‑butir pasir dan lain‑lain. Bagian dari tutup sarang tetap tidak kokoh, sekalipun tidak terdapat onggokan di depan setiap sel, seperti pada lebah Anthidium. Komposisi‑komposisinya diambilkan dari luar sarang. Begitu juga halnya dengan dinding sel. Bila sel‑sel sarang dibangun dari bahan‑bahan yang masuk padanya peralatan lebah dan mengeluarkannya, maka bagian yang kokoh atau tutup yang kokoh dibangun dari bahan yang sama. Sebaliknya juga betul, bila sarang dibuat dari bahan‑bahan yang tidak termasuk peralatan lebah, tutupnya juga demikian. Sedangkan selain itu, adalah akibat dari menetapnya parasit-parasit atau benda‑benda asing di luar sarang, seperti pada Megachile. Sesungguhnya terdapat partikel‑partikel dari kerang atau. dari pasir, yang barangkali besar atau kecil tersusun dalam satu baris atau. lebih, diletakkan antara sel‑sel yang tersusun rapi. Pada Anthidium, ia ditutup melalui lilin hijau. Sementara itu pada lebah Megachile cefebre, maka partikel‑partikel sarang yang kokoh berhubungan antara satu dengan yang lain melalui perekat hijau, sedangkan sel‑sel itu sendiri terbuat dari tanah berperekat yang diaduk dengan air ludah lebah.

 

Pada beberapa keadaan, bagian akhir sel kadang‑kadang berubah menjadi tutup dan pada ruangan sel yang diubah kadang‑kadang ditempatkan benih pembuah. Tutup sarang kadang‑kadang terdapat di dalam, khususnya pada permulaan gerbang masuk seperti pada Osmia rufa. Pada keadaan yang lain, barangkali tutup diletakkan sedikit jauh ke dalam dari pintu gerbang. Dengan demikian, ia melingkari ujung pintu masuk. Jarang sekali ada tutup luar yang sempurna yang serasi di atas setiap sarang dari luar, seperti pada Chalicodoma micraria.

 

 

Pembagian Jenis‑jenis Sarang

 

Supaya dapat menjaga diri, lebah membangun berbagai sarang. Supaya dapat mengetahui dengan baik jenis‑jenisnya, Anda harus mempelajarinya dari berbagai segi serta membandingkan berbagai bentuknya antara yang satu dengan yang lain. Sebagian besar pengkajian ini telah disebutkan dalam halaman‑halaman terdahulu. Hasilnya adalah pengenalan jenis‑jenis dan bentuk‑bentuk sarang seperti berikut:

 

1. Berkenaan dengan Individu penghuni Sarang:

a. Sarang Jantan

b. Sarang Betina

c. Sarang bersama Jantan dan Betina

d. Sarang yang menggabungkan antara ketiga jenis di atas

2. Berkenaan dengan jumlah Sel:

a. Sel Tunggal

b. Multi Sel

3. Berkenaan dengan hubungan antar berbagai Sel:

a. Sarang dengan sel‑sel terpisah

b. Sarang dengan sel‑sel berhubungan

4. Berkenaan dengan cara Membangun:

a. Sarang Vertikal

b. Sarang Horisontal

5. Berkenaan dengan jumlah sarang yang termasuk komposisi sarang tunggal yang dibangun oleh seekor serangga tunggal:

a. Sarang Sederhana

b. Sarang Berlapis

6. Berkenaan denganjumlah serangga yang membangun sarang:

a. Sarang Menyendiri

b. Sarang mengelompok atau tersusun

7. Berkenaan dengan kemiripan antara Sarang‑sarang:

a. Sarang dengan bentuk tersendiri

b. Sarang dengan bentuk mirip

Penutupan Sel (Kamar)

Setelah selesai menyuplai sel dengan makanan dan menempatkan telur di dalam sel, lebah penyendiri biasanya menutup sel itu. Sesuai dengan kebiasaan yang banyak ditemukan di antara lebah‑lebah penyendiri, sel langsung ditutup setelah meletakkan telur dalam sel itu.

 

Sesuai dengan penetrasinya terhadap kelembaban, maka tutup sel dapat digolongkan kepada dua jenis:

1.  Jenis yang dapat dimasuki oleh kelembaban seperti pada lebah jenis Halictus, Andrena dan Osmia.

2.  Jenis yang tidak dapat dimasuki oleh kelembaban, seperti pada lebah jenis Colletes, Chalicodoma dan Anthophara.

 

Menurut tingkatan keserasian, tutup itu juga dapat digolongkan kepada dua jenis:

1. Pintu Terkunci

Terdiri dari bagian‑bagian atau bagian‑bagian kecil terpisah yang tidak bersenyawa yang teronggok secara tidak beraturan pada gerbang masuk sel. Tutup jenis ini jarang sekali kelihatan, kecuali pada lebah jenis Halictus dan Anthidium.

2. Tutup Menyatu

Terdapat pada hampir semua jenis lebah. Ia terdiri dari bagian‑bagian kecil yang disusun dengan cara tertentu dan sebagiannya biasanya bergenyawa atau terdiri dari bagian‑bagian lengkap dari berbagai bahan seperti pada lebah Colletes, Andrena dan Megachile.

Setelah menutup sel sebagian jenis lebah membuat berbagai jenis hambatan untuk sampai kepada sel. Misalnya dengan membangun onggokan‑onggokan dari partikel‑partikel yang biasanya ditinggalkan tanpa melekat dan tanpa aturan sehingga memenuhi jalan menuju ke sel dan dengan demikian menghambat lalu lintas lebah yang lain.

 

 

Jumlah, Kamar dalam Sarang

 

Sedikit sekali lebah jenis penyendiri yang membuat sarang terdiri dari satu sel saja. Contoh penting dari lebah jenis ini adalah Osmia papevaria juga terdapat beberapa jenis yang membuat sarang terdiri dari dua kamar, kamar pertama sebagai kamar utama dan kamar kedua sebagai kamar tambahan.

 

Jumlah kamar berbeda sesuai dengan perbedaan kondisi luar seperti besar kamar dan bidang tempat membuat sarang. Ia juga berbeda sesuai dengan per­bedaan kondisi dalam seperti instink membangun sendiri atau usia lebah. Dalam keadaan‑keadaan seperti ini, jumlah kamar biasanya antara 5 dan 6 kamar. Jumlah sampai 10 kamar pada lebah jenis Andrena binaculata, 15 kamar pada lebah jenis Chalicodma muraria dan Osmia, 17 kamar pada jenis lebah kayu kecil Ceratina, dan 19 kamar pada lebah kayu besar Xylcopa. Semua angka ini tentu saja

 

menunjuk sarang lebah penyendiri yang dibangun oleh individu tunggal. Sedang­kan sarang‑sarang bertingkat‑tingkat yang dibangun oleh sejumlah individu secara khusus lebah bermasyarakat yang telah kita terangkan, sering terdiri dari sejumlah kamar yang sampai ratusan atau ribuan buah.

 

 

Urutan Kamar dalam Sarang

 

Biasanya susunan kamar sudah tertentu. Kamar‑kamar itu mungkin betul-betul terpisah, atau sedikit saling berhubungan, atau berganda. Bila hubungannya sederhana, terdapat satu jalan menuju kamar, dan bila berhubungan ganda, barangkali terdapat dua jalan atau lebih. Pada lebah penggali (digger bees), maka kamar‑kamar sarang berhubungan antara satu dengan yang lain melalui terowongan utama menuju kamar‑kamar dan melalui terowongan‑terowongan sampingan untuk setiap kamar terpisah. Urutan menurut cara ini bersimpang siur. Dalam kesimpangsiuran itu dapat dibedakan mana jalan‑jalan yang maju ke depan, yang mundur ke belakang dan yang tetap bila diukur dengan kedalaman dan panjang terowongan utama ketika jumlah sel (kamar) bertambah.

 

Contoh kesimpangsiuran yang banyak adalah pada lebah Halictus. Hal itu karena hubungan antara sel‑sel pertambahan jumiah dan terowongan utama tidak jelas. Contoh kesimpangsiuran yang maju ke depan adalah seperti yang terdapat pada lebah Systropha. Contoh kesimpangsiuran yang mundur ke belakang adalah seperti yang terdapat pada lebah Colletes cunicitarius. Juga mudah ditemukan kesimpangsiuran mengikuti putaran jarum jam atau melawannya. Namun ini tidak begitu penting bila dibandingkan dengan cmpat cara kesimpangsiuran yang telah disebutkan, karena terdapat pilihan di antara beberapa cara ini, bahkan di antara puak‑puak dari satu jenis.

 

Juga terdapat perbedaan mengenai cara urutan kamar pada level horisontal dan vertikal dalam sarang yang sama. Terdapat kamar‑kamar yang membuat sudut dengan level horisontal dan vertikal serta pada beberapa keadaan sudut yang dibuat itu melindungi sel‑sel pada kedua level secara permanen dalam satu sarang. Barangkali pula hubungan antara kamar‑kamar itu bersifat sempuma sehingga hilang sama sekali dinding sel yang membujur, seperti pada sarang lebah (qarsh al‑asal;honeycomb).

 

Sel‑sel juga tersusun antara cara urutan sarang lebah dan cara urutan garis atau bersimpangsiur. Pada lebah Osmia coerulescens yang mengisi ruang sarang, maka kamar‑kamar sering berhubungan antara satu dengan yang lain. Itu tidak hanya pada jalan ujung saja, seperti pada keadaan urutan garis yang lurus, tapi juga melalui jalan dinding yang membujur, seperti pada keadaan sarang lebah. Menurut cara garis lurus, ini dinamakan berbaris banyak. Pada lebah Osmia fucunda dengan mengesampingkan besar dan bentuk ruang (seperti pada urutan‑sarang lebah), sering saling berhubungan antara satu dengan yang lain melalui garis lurus ini disebut himpunan luruh. Diamati bahwa urutan kamar‑kamar pada sarang lebah bertahap dalam bersimpangsiuran, lebih banyak dari apa yang ada pada garis lurus.

 

Bentuk yang jarang ini terdapat dalam sarang‑sarang di mana kamar‑kamar dihubungkan secara teratur melalui sisi‑sisi yang terdapat pada ruang. Inilah yang disebut kamar pendidikan (penjagaan) yang pada dasarnya meru­pakan perekatan berbagai terowongan samping yang pendek. Pada sarang‑sarang ini sel‑sel tersusun pada kamar‑kamar. Sistem seperti ini terdapat pada lebah Halictus dan pada beberapa jenis lebah yang membuat sarang madu pada tanah.

 

 

Penutupan Sarang

 

Setelah sel‑sel selesai dibangun dalam sarang, maka lebah menutup sarang melalui sebuah tutup yang disebut tutup sarang. Ini terjadi pada semua jenis dan bangsa lebah selain jenis Ceratina dan Xylocopa. Kedua jenis ini dikecualikan dari kaidah. Hal itu karena lebah akan terus bekerja di sarang sampai tenaganya habis. Dengan demikian, lebah itu akan tetap di gerbang masuk supaya ia dapat mempertahankannya sebisa mungkin.

 

Di samping adanya proteksi alami bersifat mekanis, seperti ditemukan pada lebah bermasyarakat, terdapat apa yang disebut kuburan lebah yang masih hidup seperti pada jenis Lithurgus. Ia juga tidak menutup sarang dan tutup jarang yang diletakkan dari dalam sehingga mengurung lebah itu sendiri didalam sarang. Di antara contoh‑contohnya adalah apa yang dilakukan oleh lebah Andiena ovina yang membangun sarang madu di tanah, kemudian lebah itu meninggalkan sarang pada akhimya.

 

Tutup sarang dan kamar terbagi tiga:

1. Tutup yang kokoh

2. Tutup yang tidak kokoh

3. Tutup bercampur

 

(1)Tutup yang kokoh adalah melalui rekatan partikel‑partikel antara yang satu dengan yang lain, yang sering mencakup partikel‑partikel lebar yang terpisah satu sama lain di akhir sel dengan adanya jarak‑jarak yang kosong. Keadaan seperti ini terdapat pada lebah menetap dan lebah Mason, seperti pada Osmia globicola dan Chalicodoma.

(2)Tutup jenis kedua,dibangun dari partikel‑partikel yang tidak melekat dengan partikel lain, sekalipun bersenyawa seluruhnya, yang tampak seperti onggokan yang menyatu pada gerbang masuk sarang. Sistem ini terdapat pada lebah penggali seperti Andrena, tetralonia dan lebah Antrophora dan terdapat dalam persentase kecil pada lebah Ceratina.

(3) Jenis ketiga, campuran menghimpun antara yang kokoh dan tidak kokoh.Ia mencangkup onggokan tanah, partikel‑partikel yang bertaut, dipadatkan atau lainnya. Pada beberapa keadaan, ia berhubungan dengan suatu kum­pulan atau sistem tertentu dari pintu‑pintu. Contohnya adalah lebah Antrophora acervarum dan lebah Osmia leucomelaena.

Tutup sarang yang tidak kokoh tersusun dari bahan yang sama yang menjadi komposisi tutup kamar pada sarang. Perbedaan satu‑satunya, pada pintu sarang, bahan pada pintu sarang diambilkan dari bagian depan sarang di mana tidak mungkin membuat terowongan baru. Ini mengakibatkan adanya penurunan tajam pada salah satu sisi galian atau kamar di permukaan, seperti pada Tetraloniamalvae dan Anthaphera accervorum.

Suplai Makanan untuk Sarang

Lebah jenis penyendiri menyuplai kamar‑kamamya dengan makanan secara sempuma dan sering sekali dengan jenis‑jenis makanan yang berasal dari bahan-bahan nabati seperti nektar dan bibit pembuah dan sering juga dicampur dengan cairan‑cairan dari kelenjar air ludah. Pada jenis lebah bermasyarakat juga menyuplai kamar‑kamamya dengan cara ini, tetapi dengan beberapa. pengecualian seperti dalam hal makanan raja yang disemprotkan oleh lebah pembantu dari kelenjar pada sel‑sel di mana ratu‑ratu lebah madu dibesarkan, yang menggantikan sama sekali fungsi nektar dan bibit‑bibit pembuah. Lebah biasanya mendapatkan bahan karbohidrat dari nektar dan mendapatkan bahan protein dari bibit pembuah atau cairan dari berbagai kelenjar.

Urutan Pembuatan Kamar kamar

Lebah secara umum membangun sel‑sel atau kamar‑kamamya menurut salah satu dari dua sistem. Pertama, ia membangun kamar satu demi satu sampai selesai. Kedua, ia membangun kamar‑kamar secara keseluruhan dalam waktu yang sama. Sering sekali bahwa jenis lebah penyendiri membangun sarangnya dengan cara pertama dan lebah jenis bermasyarakat membangun sarangnya dengan cara kedua. Berikut ini adalah berbagai cara untuk membagi kamar-kamar atau sel‑sel:

 

A. Menurut Fungsi Kamar

1. Kamar yang ditempati terbagi kepada:

  1. Kamar Jantan
  2. Kamar Betina
  3. Kamar Pembantu
  4. Kamar Kelompok

2. Kamar  yang tidak ditunggui terbagi kepada:

a. Kamar untuk gudang

b. Kamar tambahan

 

B. Menurut Bentuk:

1. Panjang

2. Pendek

3. Berbentuk beraturan

4. Berbentuk tidak beraturan

5. Dua sisinya sama

6. Porosnya sama

7. Tidak sama

 

C. Menurut Bahan Pembuat Bangunan:

1. Bahan Nabati

2. Bahan Metalik

3. Bahan Hewani

 

D. Menurut Rongga Sel:

1. Sempit

2. Cukup Luas

3. Luas

 

E. Menurut Arah:

1. Horisontal.

2. Miring ke bawah

3. Vertikal

4. Miring ke atas

 

E Menurut Urutan Pembuatan:

1. Sel demi sel

2. Sejumlah sel dalam waktu yang sama

Arah Kamar kamar

Biasanya keadaan sel dalam ruangan dipandang menurut arah poros bujur dalam hubungannya dengan poros vertikal. Berdasarkan ini, maka sel itu vertikal, miring dengan sisi vertikal dan dengan demikian miring ke bawah atau ke atas atau horisontal.

 

Secara umum, sel‑sel lebah yang sejenis biasanya diarahkan dengan cara tertentu. Di antara contoh lebah penyendiri yang membangun kamar‑kamar horisontal atau mendekati horisontal adalah lebah teralonia dan nomia. Sedangkan arah kamar lebah bermasyarakat bombus dan trogona dipengaruhi oleh tempat‑tempat membuat sarang.

Rongga Kamar Kamar

Besar rongga atau kekosongan sel sampai ke batas tertentu dipengaruhi oleh besamya lebah yang membuat sel. Besarnya juga ditentukan oleh faktor-faktor selain itu. Secara umum kamar‑kamar dapat dibedakan antara kamar-kamar yang kecil sekali, kamar‑kamar yang luas dan kamar‑kamar biasa yang berukuran sedang. Pada lebah Teralonia malvae, sel itu kecil sekali sampai dipenuhi sama sekali oleh anak‑anak lebah yang telah dewasa dan bila anak lebah ini diangkat, maka mustahil mengcmbalikannya lagi ke dalam sel. Sementara lebah Dasypoda plamipes tidak memenuhi kecuali sebagian kecil saja dari selnya.

 

Tampaknya di antara faktor‑faktor utama yang penting yang mempengaruhi volume kekosongan atau rongga sel adalah cara menyuplai makanan (jenis makanan dan kuantitas makanan).

f . Sel sel dan Cara Pembuatannya

Pada berbagai jenis lebah, baik lebah penyendiri, lebah bermasyarakat atau lebah kekanak‑kanakan, setiap anak lebah memerlukan kamar terpisah untuk dapat besar. Berdasarkan ini, kamar adalah bagian yang paling penting dari sarang dan dalam kenyataannya adalah bagian satu‑satumya yang diperlukan dalam sarang.

 

 

Sistem Penempatan Sel‑sel dalam Sarang

 

Terdapat perbedaan sistem dalam menempatkan sel‑sel pada sarang. Pada lebah kayu besar xylocopa misalnya ia menempatkan sel‑selnya secara berdampingan dan berhimpitan dalam sebuah urutan teratur. Lebah mulai keluar dari sel pertama, kemudian sel kedua dan seterusnya. Pada lebah Andrenida, ia membangun sel‑selnya secara terpisah di akhir terowongan‑terowongan yang terpecah dari terowongan utama. Sedangkan lebah anthrophorines membangun sel‑selnya di ruang‑ruang dan lubang‑lubang.

 

Pada kebanyakan jenis lebah penyendiri kecuali megachilidae, sel‑sel diselimuti dengan tutup tipis dari bahan sejenis lilin atau varnish yang anti air. Bahan ini berasal dari air ludah pada lebah Andrenida halictids dan bahan berasal dari dalam perut pada beberapa jenis anthrophorines. Sel‑sel khusus pada megachilidae bekerja dari bahan‑bahan aneh yang bukan berasal dari dirinya. Kebanyakan keluarga ini menggunakan daun‑daun kayu atau potongan daun atau menggunakan serpihan atau serabut bunga. Sebagiannya menggunakan tanah. Pada serangga trachusa, ia menggunakan daun‑daun yang direkat dengan lilin atau damar.

 

Lebah Neteranthidium menggunakan pasir yang diaduk menjadi menyatu dengan damar dan serangga serapista menggunakan jerami atau batang tumbuh-tumbuhan pada lubang‑lubang dalam tanah. Pada lebah osmia, sebagiannya menggunakan tanah liat dan sebagian yang lain menggunakan bahan‑bahan dari daun kayu yang ditempelkan dan bagian yang lain lagi menggunakan kedua-duanya.

 

Pada lebah pembangun sarangnya terdiri dari beberapa kamar yang disusun berdampingan. Kamar pada dasamya terdiri dari tempat tertutup terkendali yang dilengkapi dengan semua kebutuhan yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan anak lebah. Tugas pertama dan utamanya adalah pemisahan individu-individu antara satu dengan yang lain pada saat pertumbuhan serta menjaganya dari pengaruh luar yang merusak. Terdapat kamar-kamar untuk jantan dan kamar‑kamar untuk pembantu dan betina. Kamar dinamakan sesuai dengan isinya. Kadang‑kadang terdapat beberapa kamar yang tidak dihuni oleh anak lebah, tetapi digunakan untuk fungsi‑fungsi lain yang sekunder yang berhubungan secara tidak langsung dengan anak lebah. Kamar-kamar ini kadang‑kadang berguna untuk memelihara anak lebah dari parasit-parasit seperti pada lebah Osmia emargenata atau digunakan sebagai gudang untuk kelebihan makanan seperti pada lebah bermasyarakat atau membantu lebah yang baru keluar dari fase makan dalam meninggalkan sarang seperti pada lebah kayu Ceratina callosa. Berdasarkan ini maka kamar‑kamar yang tidak ditunggui ini dapat dibagi kepada kamar‑kamar untuk penjagaan, pergudangan, dan untuk membantu keluar.

 

 

Bahan Bangunan Sel

Terdapat perbedaan besar di antara. berbagai jenis lebah dalam menggunakan bahan‑bahan untuk membangun kamar‑kamar. Faktor pertama dalam perbedaan ini adalah tempat dari mana bahan ini dibawa oleh lebah. Apakah ia membawanya dari dalam sarang atau dari dekat sarang atau jauh dari sarang. Bertolak dari sini terdapat dua cara tertentu untuk membangun kamar‑kamar. Cara pertama dalam membangun kamar‑kamar adalah dari bahan‑bahan dalam sarang dan cara kedua dari luar bahan‑bahan sarang.

 

Tampaknya tidak terdapat banyak kondisi di mana bagian‑bagian kamar dibangun dari dalam sarang dan bagian‑bagian dari luar sarang kecuali bila itu dalam pembangunan berbagai kamar atau bagian sarang. Lebah trigona misalnya membangun kamar‑kamar tempat membesarkan anak‑anak dari bahan yang dibuat di dalam sarang yaitu lilin. Sedangkan kamar‑kamar yang lain yaitu tempat penyimpanan madu dibuat dari bahan‑bahan yang berasal dari kamar yang dibawa dari luar sarang.

 

Bagaimanapun terdapat bahan‑bahan yang digunakan untuk membasahi bahan‑bahan yang keras yang digunakan dalam pembangunan. Bahan‑bahan ini adalah air dan air ludah yang kadang‑kadang digunakan sebagai bahan pelekat. Pada bahan‑bahan bangunan yang digunakan dari dalam sarang biasanya bersumber dari dinding ruang sarang baik metalik (sumbemya tanah) atau tumbuhan atau diproduksi dari kelenjar‑kelenjar lebah itu sendiri.

 

Dalam beberapa keadaan kedua sumber itu sama‑sama digunakan untuk membangun kamar yang sama, tetapi bukan campuran dari kedua sumber, dimana terdapat dua lapisan, salah satunya domestik dan yang lain ekstemal.

 

Biasanya lapisan luar pada dasamya dibuat dari inti pembuat sarang atau sedikit dicampur dengan cairan‑cairan dari kelenjar‑kelenjar atau campuran air dengan air ludah sebagai bahan perekat. Sementara. itu lapisan dalam yang membentuk dinding dalam kamar sebenamya semua dibentuk dari cairan kelenjar‑kelenjar lebah. Dengan demikian kamar dari dalam selalu tampak licin. Bila kita analisis lapisan dalam dari kamar‑kamar ini secara. teliti kita akan menemukannya tersusun dari dua jenis:

 

Jenis Pertama. Seperti pada lebah tetralonia, halictus dan andrena berbentuk sutera yang dapat lebur dalam ether dan chloroform dan bersenyawa meningkatkan temperatur udara sedikit.

 

Jenis kedua. Bahan ini sangat berbeda. Tampaknya lebah menyemprotkan bahan lilin dan kelenjar‑kelenjar di perutnya. Sedangkan kamar‑kamar yang dibangun dari bahan‑bahan berasal dari luar, seperti pada lebah pembangun dan lebah menetap biasanya dari bahan‑bahan yang berasal dari metal, tumbuh-tumbuhan dan hewan.

 

(1).Dari sumber‑sumber metalk terdapat berbagai jenis lebah Osmia yang membangun kamar‑kamar dari tanah liat yang merekatnya dengan bahan perekat yang dibuat sendiri oleh lebah ini dari tanah kering dan air ludah. Pada keadaan yang lain ia menggunakan. bagian‑bagian terbesar bersama tanah liat seperti biji‑biji kecil kuartis.

 

(2).Dari sumber‑sumber nabati antara lain dari cairan‑cairan nabati alami seperti bahan‑bahan damar atau lilin atau berbagai jenis sari tumbuhan. Kadang‑kadang juga digunakan beberapa bagian tumbuh‑tumbuhan setelah mengaduknya dan contoh paling jelas untuk itu adalah adonan hijau yang digunakan untuk membuat dinding sarang lebah yang terdiri dari potongan‑potongan tanaman kecil hijau setelah melumatkan dan mengubahnya menjadi adonan.

Termasuk dalam hal ini keadaan potongan‑potongan daunan tumbuh‑tum­buhan berbentuk telur, bundar atau tidak teratur yang digunakan oleh ba­nyak jenis lebah megachile dan potongan‑potongan berbentuk pita yang digunakan oleh Lebah Trachusa corratule serta daun‑daun sempurna. Dari cabang‑cabang baru tumbuh‑tumbuhan yang digunakan oleh berbagai jenis lebah megachile. Di samping jaringan‑jaringan hijau yang sudah disebutkan juga terdapat bagian‑bagian hijau nabati lainnya yang kadang‑kadang di­gunakan untuk membangun sarang misalnya beberapa jenis lebah anthi­dium yang menggunakan sampah‑sampah daun beberapa. tanaman yang masih hidup atau telah mati atau kering yang diangkutnya. Juga terdapat beberapa jenis lebah osmia dan megachile yang menggunakan bagian‑bagian rontokan bunga‑bunga berwama. kuning, merah dan putih. Juga terdapat bukti‑bukti yang menunjukkan bahwa pada beberapa keadaan lebah me­ngumpulkan dan menggunakan buangan‑buangan keluarga yang disusun. Juga disaksikan keadaan‑keadaan di mana digunakan bunga sari sebagai penutup bagian dalam kamar‑kamar.

 

(3) Dalam hal sumber‑sumber hewani tampaknya jarang sekali yang dibawa oleh lebah dari sarang sewaktu proses pembangunan kamar‑kamar namun terdapat keadaan‑keadaan di mana lebah menggunakan bahan‑bahan seperti berikut:

  1. Cairan‑cairan yang berasal dari binatang (kotoran temak) seperti sapi dan onta, seperti pada lebah osmia tricornis, hewan ternak seperti kambing, kelinci dan barangkali juga serigala.
  2. Kepala lebah, seperti pada lebah anthidium
  3. Kulit kerang kecil seperti pada lebah Osmia caecmentsoria

Dapat juga ditambahkan di sini bahwa beberapa lalat jenis Agenia meng­gunakan jaringan lebah‑lebah sebagai bahan membangun kamar‑kamamya.

 

Ketiga sumber di atas digunakan oleh lebah, baik lebah penyendiri atau lebah bermasyarakat. Berikut ini adalah beberapa contoh tentang itu:

  1. a.Kamar‑kamar yang dibangun oleh salah satu jenis megaebik yang membentuk lapisan luar dari dinding kamar terbuat dari bahan yang berasal dari metal dan lapisan dalam terbuat dari bahan‑bahan damar (yaitu mempunyai sumber nabati)
  2. Kamar yang dibangun oleh satu jenis lebah trachuse dinding luar terbuat dari potongan‑potongan pita dari daun kayu dan bagian dalam juga dari bahan‑bahan yang berasal dari damar. .
  3. Kamar satu‑satunya yang terkenal pada serangga Osmia oninides ferton, lapisan luar dibuat dari potongan rontokan sejumlah tumbuhan. Warnanya kuning pada bagian luar dan merah ketika kita telah mendekati bagian dalam. Kamar itu dilicinkan dari dalam dengan lantai metalik.
  4. Kamar‑kamar beberapa jenis anthidium terbuat dari bahan‑bahan dammar yang diisi dengan butiran‑butiran kecil tanah dan kepala lebah yang telah kering.

 

Bentuk Sel

Sel‑sel dapat diterangkan dengan salah satu dari dua cara:

  1. Sesuai panjang lorong masing‑masing.

Sesuai hubungan kamar‑kamar dengan ruangan yang melingkarinya

Untuk yang Sehati

Bercita-cita mengamalkan Islam secara utuh adalah suatu hal yang wajib bagi setiap muslim....
Namun bila belum mampu seluruhnya, jangan ditinggalkan semuanya....Karena Alloh Subhanahu wata'ala tidak membebani seseorang kecuali sesuai kemampuan maksimal yang dimiliki...

Buat diriku & dirimu

....Jangan pernah merasa cukup untuk belajar Islam, karena semakin kita tahu tentang Islam, semakin kita tahu tentang diri kita (...seberapa besar iman kita, ...seberapa banyak amal kita,....seberapa dalam ilmu kita, dan sebaliknya...seberapa besar kemunafikan kita, ...seberapa banyak maksiat kita, ...seberapa jauh kedunguan kita)
....Barangsiapa mengenal dirinya, maka semakin takut ia kepada Alloh Subhaanahu wata'ala

Do’a kita

Semoga Alloh Subhaanahu wata'ala meneguhkan hati kita dalam Islam hingga maut menjemput kita,...aamiin

Kalender

Mei 2012
S M S S R K J
« Des    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Total Pengunjung

  • 93,431 klik
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.