RIWAYAT SEPUTAR NISFU SYA’BAN DAN HUKUM MERAYAKANNYA

Wahai saudaraku!! Waspadalah kalian terhadap para pembuat cerita palsu, yang mengutarakan sebuah hadits kepada kalian, sekalipun tujuannya baik. Sebab untuk mewujudkan suatu kebaikan itu harus benar-benar sah dari Rasulullah. Jika anda telah mengetahui palsunya suatu hadits, maka ketahuilah bahwa hal itu bukan termasuk syari’at sedikitpun, bahkan termasuk wahyu dari syetan yang dibangun diatas hadits palsu”. (Al-Amru bil Ittiba hal, 177 Imam As-Suyuthi).

Banyak riwayat yang beredar ditengah masyarakat berkaitan dengan bulan sya’ban, yang berbicara seputar amalan-amalan khusus saat nishfu (pertengahan) sya’ban, baik berupa sholat, puasa, khotaman AL-Qur’an, shodaqoh dan sebagainya. Akhirnya hadits-hadits tersebut sangat populer (masyhur) dikalangan masyarakat. Padahal hadits-hadits yang dimaksud tidak shohih, menurut para ahlul ilmi. Dari sinilah kami ingin mengungkap beberapa riwayat tersebut, sehingga terang antara benang putih dengan benang hitam.

Beberapa riwayat tersebut diantaranya:

* Riwayat Ali bin Abi Thalib صلى الله عليه وسلم .

إِذَا كَانَتْ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُوْمُوْا لَيْلَهَا وَصُوْمُوْا نَهَارَهَا. فَإِنَّ اللهَ يَنْزِلُ فِيْهَا لِغُرُوْبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُوْلُ أَلاَ مِنْ مَسْتَغْفِرٍ لِيْ فَأَغْفِرَ لَهُ أَلاَ مِنْ مُسْتَرْزِقٍ فَأَرْزُقَهَ أَلاَ مُبْتَلَى فَأُعَافِيَهُ أَلاَ كَذَا أَلاَ كَذَا حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْر

Dari Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه , berkata: “Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: “apabila tiba malam nishfu sya’ban, maka sholatlah pada malam harinya, dan puasalah disiang harinya, karena Allah turun kelangit dunia disaat tenggelamnya matahari, lalu berfirman: “ adakah yang meminta ampun kepada-Ku, lalu aku mengampuninya! Adakah yang meminta rizki kepada-Ku, lalu aku akan memberinya rizki! Adakah yang sakit lalu aku akan menyembuhkannya! Adakah yang demikian….. Adakah yang demikian….. sampai terbit fajar”.
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah (1388), Ibnul Jauzy dalam “Al-‘Ilal (2/561) dan Al-Baihaqy (3822). Tetapi dalam sanadnya terdapat seorang rawi bernama Abu Bakar bin Muhammad bin Abi Sabrah, dia adalah seorang rawi yang dho’if (lemah) menurut kesepakatan para Ulama’. Ibnu Rajab berkata di dalam “Latho’iful Ma’arif” (1432): ”sanadnya dho’if”, bahkan ahli hadits besar Al-Albani berkata dalam “Ad-Dhoi’fah” (2132): “Hadits ini Maudhu (palsu)”.

Riwayat Utsman bin Al-Mughirah.

تقطع الآجال من شعبان إلى شعبان ، حتى إن الرجل لينكح ويولد له وقد خرج اسمه في الموتى

Dari Utsman bin Mughirah berkata: Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “ajal manusia telah ditetapkan dari bulan sya’ban ke sya’ban berikutnya, hingga ada seorang yang menikah dan dikaruniai seorang anak, lalu namanya keluar sebagai orang-orang yang akan mati”.
Hadits ini mursal, diriwayatkan ibnu jarir dalam tafsirnya, jami’ul bayan (25/109) dari Aqil bin Khalid dari Ibnu Syaibah dari utsman bin mughiroh dari Nabi. Dan diriwayatkan pula oleh Al-baihaqy dalam “syu’abul iman” (3839) tetapi terhenti sampai pada Utsman bin Mughirah saja, tidak sampai Nabi.
Al Hafidz Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya “Tafsir Qur’anil Adhim” (4/145): “Hadits Mursal, tidak dapat dijadikan hujjah.

Riwayat tentang shalat “Al-Fiyyah” pada malan nishfu sya’ban.

Dinamakan Al Fiyyah (Seribu) karena bacaan sholatnya adalah surat al-ikhlas seribu kali dalam seratus rakaat, pada setiap rakaat membaca surat al-fatihah sekali dan al-ikhlas sepuluh kali. Adapun haditsnya adalah:

يَا عَلِيُّ مَنْ صَلَّى لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ مِئَةَ رَكْعَةٍ بِأَلْفِ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ قَضَى اللهُ لَتهُ كَلَّ حَاجَةٍ طَلَبَهَا تِلْكَ اللَّيْلَةَ

Wahai Ali, barang siapa yang sholat seratus rakaat pada malam nishfu sya’ban dengan membaca surat al-fatihah dan “Qul huwa Allahu Ahad” (surat al-ikhlas) pada setiap rakaat sepuluh kali, maka Allah akan memenuhi seluruh kebutuhannya”.
Hadits ini Maudhu (palsu). Al imam Ibnul Jauzy berkata dalam “Al Maudhu’at” (2/129): “ tidak diragukan lagi, hadits ini adalah maudhu.” Kemudian beliau selanjutnya berkata: ”dan sungguh kita telah melihat mayoritas orang yang melakukan sholat al fiyyah ini sampai larut malam, sehingga merekapun malas sholat shubuh atau bahkan tidak sholat shubuh”.

Imam Ibnul Qoyyim juga berkata dalam “Al-Manarul Munif” hal.98-99: “Diantara contoh haidts-hadits maudhu’ adalah haidts tentang sholat nishfu sya’ban”. Lalu lanjutnya: “sungguh sangat mengherankan, ada seorang yang mengerti ilmu hadits, namun tertipu dengan hadits-hadits semacam ini lalu mengamalkannya!! Padahal sholat seperti ini baru disusupkan dalam Islam setelah tahun 400 Hijriyyah dan berkembang di Baitul Maqdis”???
Imam As-Syaukani berkata dalam “Majmu’atul Fawaaid”: “hadits ini maudhu’. Seorang yang cakap dalam ilmu hadits, hanya dalam melihat lafazdnya saja, yakin bahwa hadits ini palsu.”

Benar, terdapat suatu riwayat tentang keutamaan malam nishfu sya’ban yang di shohihkan oleh sebagian ahlu ilmu. Yaitu sebagai berikut:

يَطَّلِعُ اللهُ إِلَى خَلْقِهِ لَيلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيْعِ خَلْقِهِ إِلاَّ مُشْرِكٌ أَوْ مَشَاحِن

Allah tabaraka wa ta’alah turun kepada makhluk-Nya pada malam nihsfu sya’ban, lalu Dia mengampuni seluruh makhluk-Nya kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.

Hadits ini shohih, diriwayatkan dari jalan beberapa sahabat yaitu muadz ibnu Jabal, Abu Tsa’labah Al-Hutsany, Abdulloh ibnu Umar, Abu Musa Al Asy’ary, Abu Hurairah, Abu Bakar As-Shidiq, Auf bin Malik, dan Aisyah.
Diantara para ulama yang menshohihkan hadits ini adalah seorang ahli hadits besar –belum lama meninggal- Syeikh Muhammad Nashiruddin Al Albany dalam kitabnya yang bagus “Silsilatul Ahaditsis Shahihah” (no.1144), beliau berkata: “Kesimpulannya; hadits ini tidak diragukan shohihnya, karena diriwayatkan dengan banyak sanad.”

Namun, perlu diingat, hadits ini hanya menunjukan keutamaan malam nishfu sya’ban saja, tidak menunjukan sedikitpun anjuran mengkhususkannya dengan amalan sholat, puasa, khotaman Al-Qur’an, maupun amalan ibadah lainnya, lebih-lebih perayaan malam nishfu sya’ban, seperti yang biasa dilakukan masyarakat kita.
Syaikhul islam ibnu Taimiyah menjelaskan dalam kitabnya “I’tidha’ Sirathil Mustaqim” (2/138): “adapun mengkhususkan puasa pada hari nishfu sya’ban, maka tidak ada dasarnya, bahkan harom. Demikian juga menjadikan sebagai perayaan, dengan membuat makanan dan menampakan perhiasan, semua ini merupakan perayaan-perayaan bid’ah yang tidak berdasar sama sekali. Termasuk pula berkumpul untuk melaksanakan sholat “al fiyyah” di masjid-masjid, karena melaksanakan sholat sunnah pada waktu, jumlah rokaat, dan bacaannya tertentu, yang tidak disyariatkan maka hukumnya harom. Selain itu hadits tentang sholat al fiyyah adalah maudhu’ (palsu) menurut kesepakatan ahlul hadits. Oleh karena itu, tidak boleh menganggap sunnahnya sholat al fiyyah berdasarkan hadits tersebut. Dan jika tidak disunnahkan maka harom mengamalkannya. Seandainya malam-malam yang mempunyai keutamaan tertentu, disyariatkan untuk dikhususkan dengan melakukan sholat, tentunya amalan sholat tersebut disyari’atkan pula, untuk dilakukan pada malam i’dhul fithry, idul adha, dan hari arafah.”

Imam An-Nawawi (salah seorang Ulama madzhab Syafi’i) berkata dalam “Fatawanya” hal.26: “Sholat rajab dan sya’ban keduanya keduanya merupakan bid’ah yang jelek dan mungkar.”
Imam ibnu Wadhdhah meriwayatkan dari zaid bin Aslam, ia berkata: “kami tidak menemukan seorang pun dari sahabat kami, tidak pula fuqoha’nya yang mempedulikan malam nishfu sya’ban, mereka juga tidak acuh terhadap hadits makhul, dan mereka berpendapat malam nishfu sya’ban tidak lebih utama dibanding malam yang lainnya.”

Imam Abi malikah diberitahu bahwa Ziyad an numairi berkata: “pahala malam nishfu sya’ban sama dengan pahala lailatul qodhar.” Beliau menjawab: “seandainya saya mendengar sedangkan ditangan saya ada tongkat, tentu saya pukul dia, sebab Ziyad adalah tukang cerita.”

Imam suyuthi berkata: “termasuk perkara yang dibikin oleh ahlul bid’ah – yang mana mereka adalah orang-orang yang keluar dari syari’at karena kembali menekuni tradisi orang majusi, dan menjadikan agamanya barang mainan dan gurauan- adalah menyemarakan malam nishfu sya’ban. Padahal amalan ini tidak pernah diriwayatkan secara shohih dari Rosulullah. Para periwayat hadits yang jujur tidak pernah meriwayatkan adanya sholat dimalamnya dan anjuran untuk menyemarakannya. Orang-orang yang membikin amalan tersebut , tidak lain adalah orang yang mempermainkan syari’at nabi, dan suka kepada agama majusi, karena api adalah tuhan mereka. Pertama kali diselenggarakan pada zaman AL Baromikah, lalu mereka menyusupkannya ke dalam sya’riat islam, untuk mengelabui rakyat jelata, agar rakyat menyangka amalan tersebut termasuk sunnah. Maksud mereka sebenarnya adalah untuk menyembah Api dan membangkitkan kembali agama mereka. Padahal majusi adalah agama yang paling hina. Apabila kaum muslimin melaksanakan sholat, maka mereka rukuk dan sujud kepada api yang dinyalakan. Tradisi ini terus berlangsung sepanjang tahun. Kemudian seluruh negeri islam mengekornya. Selain itu ketika acara diselenggaraan laki-laki dan perempuan campur baur. Maka wajib bagi pemerintah untuk melarangnnya, dan ulama wajib memberi peringatan. Mengapa bulan sya’ban dimuliakan? Karena Rosulullah berpuasa dibulan tersebut kecuali beberapa hari saja. Memang ada riwayat dan atsar yang marfu’. Ini sebagai dalil bahwa bulan sya’ban adalah bulan mulia. Akan tetapi tidak ada dalil tentang amalan sholat secara khusus dan menyemarakannya sebagaimana syari’at yang telah shohih dalilnya.” (Al Amru bilittiba’ wannahyu bilibtida’ Imam Sy Suyuthi hal. 177-178).
Imam qurthubi berkata dalam tafsirny (16/128): “Tentang malam nishfu sya’ban tidak terdapat satu haditspun yang dapat dijadikan sandaran, baik mengenai keutamaanya atau tentang pembatalan ajal seseorang, maka jangalan kalian mengacuhkannya!!”

Imam Ali bin ibrohim mengatakan (yang intinya): “para imam masjid menyemarakan malam nishfu sya’ban dengan sholat roghoib dan amalan lainnya sekedar untuk menjaring masa, karena mendambakan kepemipinan. Di situ para tukang cerita meramaikan dengan bualannya. Semua itu jauh dari kebenaran. Namun Allah ta’alah berkehendak menampakan para ulama yang berpegang pada sunnah untuk membantah amalan sholat yang batil ini. Memang amalan ini telah merambah luas sehingga mereka melaksanakan sholat dengan senda gurau. Sholat ini dihapus secara sempurna di Mesir dan Syam pada awal tahun delapan ratus.” (Al Amru bilittiba’ hal.179).

Berkata syaikhul islam Ibnu Taimiyah: “Asal semua amalan ini adalah; bahwasanya ibadah yang disyari’atkan secara berulang sering dengan berulangnya waktu, sehingga menjadi amalan sunnah dan hari raya, telah disyari’atkan oleh Allah. Dan itu telah mencukupi bagi orang yang ingin beribadah. Apabila terdapat amalan jama’i yang melampaui syari’at yang telah ditetapkan Allah tadi, maka menyerupai syri’at Allah dan sunnah Rosul-Nya. Pasti akan didapati didalamnya kerusakan yang telah disebutkan dimuka. Berbeda apabila yang melakukannya hanya seseorang atau jamaah khusus. Maka disini dibedakan antara dilakukan oleh orang banyak secara demonstratif dengan sedikit orang secara sembunyi, dan antara kebiasaan dengan bukan kebiasaan. Seperti itu pula setiap amalan yang pada asalnya disyari’atkan, lalu timbul bid’ah didalamnya lantaran amalan tersebut dijadikan amalan kontinyu, sehingga nampaknya hal itu adalah wajib.” (hal.180)

Ibnu abi malikah diberitahu bahwa Ziyad An Numairi berkata: “pahala amalan nishfu sya’ban sama dengan amalan lailatul qodar.” Beliau menjawab: “ seandainya saya mendengar sedangkan ditangan saya ada tongkat, tentu saya pukul dia.” Sebab Ziyad adalah tukang cerita.

Syeikh Al Allamah Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz berkata dalam risalahnya “At Tahdhir minal bida” hal.27: “termasuk perkara bid’ah yang diada-adakan oleh sebagian manusia adalah perayaan malam nishfu sya’ban, atau pengkhususan hari tersebut dengan berpuasa. Semua itu tidak ada dasarnya dalam agama Islam. Kalaulah ada, itu hanyalah hadits-hadits yang tidak dapat dijadikan hujjah, sebagaimana ditegaskan oleh mayoritas ahlul ilmi”.

Kesimpulan:

Kita harus berhati-hati terhadap beredarnya hadits-hadits yang tidak sah dari Nabi Muhammad , termasuk diantaranya riwayat-riwayat tentang nishfu sya’ban ini, seperti riwayat dari Ali bin Abi Thalib dan utsman bin Mughiroh dimuka.
Riwayat tentang sholat al fiyyah adalah maudhu’ dengan kesepakatan ahlul ilmi dan ahlul hadits, sebagaimana penjelasan syaikhul islam ibnu Taimiyah.
Terdapat suatu hadits yang dishohihkan sebagian ulama tentang keutamaan malam nishfu sya’ban.
Tidak boleh mengkhususkan hari nishfu sya’ban dengan amalan sholat ataupun puasa karena memang tidak ada dasarnya dalam Islam.
Tidak boleh mengadakan perayaan malam nishfu sya’ban sekalipun kebanyakan orang sering merayakannya, karena islam tidka pernah mensyari’atkannya.

(disarikah oleh Abu Ubaidah yusuf al atsary dari kitab “AL Hawadits Wal Bida” , imam at-thurthusy, ta’lig syeikh ali bin hasan. Dan kitab “Al Amru bil Ittiba’…” Imam As Suyuthy, tahqiq Syaikh manshur bin Hasan Alu Salman, dan risalah “At-Tahdzir minal bida’” Imam Abdul Aziz bin Baz.)

(Majalah Al-Furqon edisi 1 tahun 1, masih bernama Buletin Al Furqon)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Untuk yang Sehati

Bercita-cita mengamalkan Islam secara utuh adalah suatu hal yang wajib bagi setiap muslim....
Namun bila belum mampu seluruhnya, jangan ditinggalkan semuanya....Karena Alloh Subhanahu wata'ala tidak membebani seseorang kecuali sesuai kemampuan maksimal yang dimiliki...

Buat diriku & dirimu

....Jangan pernah merasa cukup untuk belajar Islam, karena semakin kita tahu tentang Islam, semakin kita tahu tentang diri kita (...seberapa besar iman kita, ...seberapa banyak amal kita,....seberapa dalam ilmu kita, dan sebaliknya...seberapa besar kemunafikan kita, ...seberapa banyak maksiat kita, ...seberapa jauh kedunguan kita)
....Barangsiapa mengenal dirinya, maka semakin takut ia kepada Alloh Subhaanahu wata'ala

Do’a kita

Semoga Alloh Subhaanahu wata'ala meneguhkan hati kita dalam Islam hingga maut menjemput kita,...aamiin

Kalender

Desember 2011
S M S S R K J
« Nov   Mei »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Total Pengunjung

  • 150,014 klik
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: