PASAL PERTAMA

BIOGRAFI ABU BAKAR ASHSHIDDIQ Rodhiyalloohu Anhu16

……………………………

NASABNYA.
Nama Abu bakar ash-Shiddiq ra. sebenarnya adalah Abdullah bin Usman
bin Amir bin Amru bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ai
bin Ghalib bin Fihr17 al-Qurasy at-Taimi. Bertemu nasabnya dengan Nabi saw
pada kakeknya Murrah bin Ka’ab bin Lu’ai.
Dan ibunya adalah Ummu al-Khair Salma binti Shakhr bin Amir bin Ka’ab
bin Sa’ad bin Taim.18 Berarti ayah dan ibunya berasal dari kabilah Bani Taim.
Ayahnya diberi kuniyah (sebutan panggilan) Abu Quhafah. Dan pada masa
jahiliyyah Abu Bakar ash-Shiddiq ra. digelari Atiq. Imam Thabari menye-butkan19
dari jalur Ibnu Luhai’ah bahwa anak-anak dari Abu Quhafah tiga orang, pertama
Atiq (Abu Bakar), kedua Mu’taq dan ketiga Utaiq.

…………………………………………

KARAKTER FISIK DAN AKHLAKNYA,
Abu Bakar adalah seorang yang bertubuh kurus, berkulit putih20. ‘ Aisyah
menerangkan karakter bapaknya, “Beliau berkulit putih, kurus, tipis kedua
pelipisnya, kecil pinggang (sehingga kainnya seialu turun dari pinggangnya),
wajahnya seialu berkeringat, hitam matanya, berkening lebar, tidak bisa bersaja’
dan seialu mewarnai jenggotnya dengan memakai hinai maupun katam.”21
Begitulah karakter fisik beliau. Adapun akhlaknya, beliau terkenal dengan
kebaikan, keberanian, kokoh pendirian, seialu memiliki ide-ide yang cemerlang
dalam keadaan genting, banyak toleransi, penyabar memiliki azimah (keinginan
keras), faqih, paling mengerti dengan garis keturunan Arab dan berita-berita
mereka, sangat bertawakkal kepada Allah dan yakin dengan segala janjiNya,
bersifat wara’ dan jauh dari segala syubhat, zuhud terhadap dunia, selalu
mengharapkan apa-apa yang lebih baik di sisi Allah, serta lembut dan ramah,
semoga Allah meridhainya. Akan diterang-kan kelak secara rinci hal-hal yang
membuktikan sifat-sifat dan akhlaknya yang mulia ini.

………………………………………….

KEISLAMANNYA,
Abu Bakar adalah lelaki yang pertama kali memeluk Islam, walaupun
Khadijah lebih dahulu masuk Islam daripadanya, adapun dari golongan anak-anak,
Ali yang pertama kali memeluk Islam, sementara Zaid bin Haritsah adalah yang
pertama kali memeluk Islam dari golongan budak.
Ternyata keislaman Abu Bakar ra. paling banyak membawa manfaat besar
terhadap Islam dan kaum muslimin dibandingkan dengan keislaman selainnya,
karena kedudukannya yang tinggi dan semangat serta kesungguhan-nya dalam
berdakwah.22 Dengan keislamannya maka masuk mengikutinya tokoh-tokoh besar
yang masyhur sepérti Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqas, Usman bin
Affan, Zubair bin Awwam, dan Talhah bin Ubaidil-lah ra
Di awal keislamannya beliau menginfakkan di jalan Allah apa yang
dimilikinya sebanyak 40.000 dirham, beliau banyak memerdekakan budak-budak
yang disiksa karena keislamannya di jalan Allah, seperti Bilal ra. Beliau selalu
mengiringi Rasulullah saw. selama di Makkah, bahkan dialah yang mengiringi
beliau ketika bersembunyi dalam gua dan dalam perjalanan hij-rah hingga sampai
di kota Madinah. Di samping itu beliau mengikuti seluruh peperangan yang diikuti
Rasulullah saw. baik perang Badar, Uhud, Khandaq, Penaklukan kota Makkah,
Hunain maupun peperangan di Tabuk.

…………………………………………………………

ISTRI-ISTRI DAN ANAK-ANAKNYA23
Abu Bakar pernah menikahi Qutailah binti Abd al-Uzza bin Abd bin As’ad
pada masa Jahiliyyah dan dari pernikahan tersebut lahirlah Abdullah dan Asma’.
Beliau juga menikahi Ummu Ruman binti Amir bin Uwaimir bin Zuhal bin
Dahman dari Kinanah, dari pernikahan tersebut lahirlah Abdurrahman dan ‘Aisyah
ra..
Beliau juga menikahi Asma’ binti Umais bin Ma’add bin Taim al-
Khats’amiyyah, dan sebelumnya Asma’ diperisteri oleh Ja’far bin Abi Thalib. Dari
hasil pernikahan ini lahirlah Muhammad bin Abu Bakar, dan kelahiran tersebut
terjadi pada waktu haji Wada’ di Dzul Hulaifah.
Beliau juga menikahi Habibah binti Kharijah bin Zaid bin Abi Zuhair dari
Bani al-Haris bin al-Khazraj.
Abu bakar pernah singgah di rumah Kharijah ketika beliau datang ke
Madinah dan kemudian mempersunting putrinya, dan beliau masih terus berdiam
dengannya di suatu tempat yang disebut dengan as-Sunuh 24 hingga Rasulullah
saw. wafat dan beliau kemudian diangkat menjadi khalifah sepeninggal
Rasulullah saw. Dari pernikahan tersebut lahirlah Ummu Kaltsum setelah
wafatnya Rasulullah saw.

………………………………………………
BEBERAPA CONTOH KETELADANAN DAN
KEUTAMAANNYA
Keutamaan Abu Bakar ash-Shiddiq ra. sangat banyak sekali dan telah
dimuat dalam kitab-kitab sunnah, kitab tarajim (biografi para tokoh), maupun
kitab-kitab tarikh, namun saya akan berusaha meringkas sesuai dengan yang telah
disebutkan al-Hafizh Abdullah al-Bukhari dalam shahihnya yang termuat dalam
Kitab Fadha’il Shahabat.25
1) Beliau Adalah Sahabat Rasulullah saw. di Gua Dan Ketika Hijrah
Allah berfirman,
“Jikalau tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah
menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Makkah) mengeluar-kannya
(dari Makkah) sedang dia salah seseorang dari dua orang ketika ke-duanya berada
dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya, ‘Janganlah berduka cita,
sesungguhnya Allah bersama kita”. (At-Taubah: 40)
Aisyah, Abu Said dan Ibnu Abbas dalam menafsirkan ayat ini mengatakan “
Abu Bakarlah yang mengiringi Nabi dalam gua tersebut.”
Diriwayatkan dari al-Barra’ bin ‘Azib, ia berkata, “Suatu ketika Abu Bakar
pernah membeli seekor tunggangan dari Azib dengan harga 10 Dirham, maka Abu
Bakar berkata kepada ‘Azib, Suruhlah anakmu si Barra agar mengantarkan hewan
tersebut.” Maka ‘Azib berkata, “Tidak, hingga engkau menceritakan kepada kami
bagaimana kisah perjalananmu bersama Rasulullah saw. ketika keluar dari
Makkah sementara orang-orang musyrikin sibuk mencari-cari kalian.”
Abu Bakar berkata, “Kami berangkat dari Makkah, berjalan sepanjang siang
dan malam hingga datang waktu zuhur, maka aku mencari-cari tempat bernaung
agar kami dapat istirahat di bawahnya, ternyata aku melihat ada batu besar, maka
segera kudatangi dan terlihat di situ ada naungannya, maka kubentangkan tikar
untuk Nabi saw. kemudian kukatakan padanya, “Istirahat-lah wahai Nabi Allah.”
Maka beliaupun beristirahat, sementara aku memantau daerah sekitarku, apakah
ada orang-orang yang mencari kami datang mengin-tai. Tiba-tiba aku melihat ada
seorang pengembala kambing sedang menggiring kambingnya ke arah teduhan di
bawah batu tersebut ingin berteduh seperti kami, maka aku bertanya padanya,
“Siapa tuannmu wahai budak?” Dia menja-wab, “Budak milik si fulan, seseorang
dari suku Quraisy.” Dia menyebut nama tuannya dan aku mengenalnya, kemudian
kutanyakan, “Apakah kambingmu memiliki susu?” Dia menjawab, “Ya!” lantas
kukatakan, “Maukah engkau memeras untuk kami?” Dia menjawab, “Ya!” Maka
dia mengambil salah satu dari kambing-kambing tersebut, setelah itu
kuperintahkan dia agar member-sihkan susu kambing tersebut terlebih dahulu dari
kotoran dan debu, kemudian kuperintahkan agar menghembus telapak tangannya
dari debu, maka dia menepukkan kedua telapak tanggannya dan dia mulai
memeras susu, sementara aku telah mempersiapkan wadah yang di mulutnya
dibalut kain menampung susu tersebut, maka segera kutuangkan susu yang telah
diperas itu ke dalam tempat tersebut dan kutunggu hingga bawahnya dingin, lalu
kubawakan kehadapan Nabi saw. dan ternyata beliau sudah bangun, segera
kukatakan padanya, “Minumlah wahai Rasulullah saw..” Maka beliau mulai
minum hingga kulihat beliau telah kenyang, setelah itu kukatakan padanya,
“Bukan-kah kita akan segera berjalan kembali ya Rasulullah saw.?” Beliau
menjawab, “Ya!” Akhirnya kami melanjutkan perjalanan sementara orang-orang
musyrik terus menerus mencari kami, tidak satupun yang dapat menyusul kami
kecuali Suraqah bin Malik bin Ju’syam yang mengendarai kudanya, maka
kukatakan pada Rasulullullah, “Orang ini telah berhasil mengejar kita wahai
Rasulullah saw.,” namun beliau menjawab, “Jangan khawatir, sesungguhnya Allah
beserta kita.”
Diriwayatkan dari Anas dari Abu Bakar beliau berkata, “Kukatakan kepada
Nabi saw ketika kami berada dalam gua, ‘Andai saja mereka (orang-orang
Musyrik) melihat ke bawah kaki mereka pastilah kita akan terlihat.’ Rasul
menjawab,”Bagaimana pendapatmu wahai Abu Bakar dengan dua orang manusia
sementara Allah menjadi yang ketiga.”
2) Abu Bakar Adalah Sahabat yang Paling Banyak Ilmunya
Abu Sa’id al-Khudri berkata, “Suatu ketika Rasulullah saw. berkhutbah di
hadapan manusia dan berkata,”Sesungguhnya Allah telah menyuruh seorang
hamba untuk memilih antara dunia atau memilih ganjaran pahala dan apa-apa
yang ada di sisiNya, namun ternyata hamba tersebut memilih apa-apa yang ada di
sisi Allah.”
Abu Sa’id berkata, “Maka Abu Bakar menangis, kami heran kenapa beliau
menangis padahal Rasulullah saw. hanyalah menceritakan seorang hamba yang
memilih kebaikan, akhirnya kami ketahui bahwa hamba tersebut ternyata tidak lain
adalah Rasulullah saw. sendiri, dan Abu Bakarlah yang paling mengerti serta
berilmu di antara kami. Kemudian Rasulullah saw. bersabda,
,”Sesungguhnya orang yang sangat besar jasanya padaku dalam
persahabatan dan kerelaan mengeluarkan hartanya adalah Abu Bakar. Andai saja
aku diperbolehkan mengangkat seseorang menjadi kekasihku selain Rabbku pastilah
aku akan memilih Abu Bakar, namun cukuplah persaudaraan se-lslam dan
kecintaan karenanya. Maka jangan ditinggalkan pintu kecil di masjid selain
pintu Abu Bakar saja.”
Diriwayatkan dari Aisyah ra. istri Rasulullah saw. ia berkata, “Ketika
Rasulullah saw. wafat Abu Bakar sedang berada di suatu tempat yang bernama
Sunuh- Ismail berkata, “Yaitu sebuah kampung, maka Umar berdiri dan berpidato,
“Demi Allah sesungguhnya Rasulullah saw. tidak meninggal. ‘Aisyah ra.
melanjutkan, Kemudian Umar berkata, “Demi Allah tidak terdapat dalam hatiku
melainkan perasaan bahwa beliau belum mati, Allah pasti akari membangkitkannya
dan akan dipotong kaki dan tangán mereka (yang menga-takan
beliau telah mati, pent.). Kemudian datanglah Abu Bakar menyingkap kain yang
menutup wajah Rasulullah saw. serta menciumnya sambil berkata, Kutebus dirimu
dengan ibu dan bapakku, alangkah harum dan eloknya engkau saat hidup dan
sesudah mati, demi Allah yang diriku berada di-tanganNya mustahil Allah akan
menimpakan padamu dua kali kematian selama-lamanya.”
Kemudian Abu Bakar keluar dan berkata, “Wahai orang yang telah
bersumpah, (yakni Umar) tahanlah bicaramu!” Ketika Abu Bakar mulai berbicara
maka Umar duduk, setelah memuji Allah beliau berkata, “Ingatlah sesungguhnya
siapa saja yang menyembah Muhammad saw maka beliau se-karang telah wafat,
dan barangsiapa yang menyembah Allah maka sesung guhnya Allah akan tetap
hidup tidak pernah mati. Kemudian beliau memba-cakan ayat,
“Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati
(pula).” (Az-Zumar: 30).
Dan ayat,
“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu
sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu
berbalik ke belakang (murtad) Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak
dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi
balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (Ali-Imran: 144).
Ismail berkata, “Maka manusia mulai menangis terisak-isak, kemudian kaum
Anshar segera berkumpul bersama Sa’ad bin Ubadah di Saqifah Bani Sa’idah dan
mereka berpendapat, “Dari kami seorang amir (pemimpin) dan dari kalian
(muhajirin) juga seorang amir.” Maka segera Abu Bakar, Umar bin al-Khaththab,
dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah berangkat mendatangi majlis mereka, Umar
berbicara tetapi Abu Bakar menyuruhnya untuk diam, Umar berkata, “Demi Allah
sebenarnya aku tidak ingin berbicara melainkan aku telah persiapkan kata-kata
yang kuanggap sangat baik yang kutakutkan tidak akan disampaikan oleh Abu
Bakar.”
Kemudian Abu Bakar bepidato dan perkataarnnya sungguh mengena, beliau
berkata, “Kami yang menjadi amir dan kalian menjadi wazir.” Maka Hubab bin
Munzir berkata, “Tidak Demi Allah kami tidak akan terima, tetapi dari kami
seorang amir dan dari kalian seorang amir pula.” Abu Bakar menja-wab, “Tidak,
tetapi kamilah yang menjabat sebagai amir dan kalian menjadi wazir, karena
sesungguhnya mereka (Quraisy) yang paling mulia kedu-dukannya di bangsa Arab
dan yang paling tinggi nasabnya, maka silahkan kalian membai’at Umar ataupun
Abu Ubaidah.” Maka spontan Umar menja-wab, “Tetapi engkaulah yang lebih
pantas kami bai’at engkaulah pemimpin kami, orang yang paling baik di antara
kami dan orang yang paling dicintai oleh Rasulullah saw. daripada kami.” Maka
Umar segera meraih tangán Abu Bakar dan membai’atnya akhirnya orangorangpun
turut membaiatnya pula.
Diriwayatkan dari ‘Aisyah ra. ia berkata, “Pandangan Nabi menengadah ke
atas dan berkata, “Tetapi Yang kupilih adalah Ar-Rafiqul A’la (kekasih Allah Yang
Mahatinggi) 3X. ‘Aisyah ra. melanjutkan, “Tidaklah perkataan mereka berdua
(Abu Bakar dan Umar) kecuali Allah jadikan bermanfaat untuk manusia, profile
Umar yang tegas berhasil membuat orang munafik yang menyusup di antara kaum
muslimin sangat takut padanya, dengan kepriba-diannya Allah menolak
kemunafikan. Adapun Abu Bakar, beliau berhasil menggiring manusia hingga
mendapatkan petunjuk kepada kebenaran dan mengetahui kewajiban mereka, Abu
Bakar berhasil mengeluarkan umat dari bencana perpecahan setelah meninggalnya
Rasulullah saw. setelah membacakan ayat,
“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu
sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik
ke belakang (murtad) Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat
mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan
kepada orang-orang yang bersyukur.” (Ali Imran :144).
3) Abu Bakar Adalah Sahabat Yang Paling Utama
Diriwayatkan dari Ibnu Umar dia berkata, “Kami selalu mem-bandingbandingkan
para sahabat di masa Rasulullah saw. maka kami sepakat memilih Abu
bakar yang paling utama, kemudian Umar, selanjutnya Usman bin affan “
Diriwayatkan dari Muhammad bin al-Hanafiyyah dia berkata, “Kuta-nyakan
pada ayahku siapa manusia yang paling baik setelah Rasulullah saw.” Maka beliau
menjawab, “Abu Bakar!” Kemudian kutanyakan lagi, “Siapa setelahnya?” Beliau
menjawab, “Umar.” Dan aku takut jika dia menyebut Utsman sesudahnya maka
kukatakan, “Setelah itu pasti anda. Namun beliau menjawab, “Aku hanyalah salah
seorang dari kaum muslimin.”
4) Kedudukan Abu Bakar di Sisi Rasulullah saw.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra dari Rasulullah saw. beliau bersabda,
”Andai saja aku dibolehkan mengambil Khalil (kekasih) selain Allah pasti aku
akan memilih Abu bakar sebagai khalil namun dia adalah saudaraku dan
sahabatku.”
Diriwayatkan dari Abdullah bin Abi Malikah ia berkata, “Penduduk Kufah
bertanya kepada Abdullah bin az-Zubair perihal bagian warisan yang akan
diperoleh seorang kakek, maka dia berkata, “Ikutilah pendapat Abu Bakar.
Bukankah Rasulullah saw. pernah menyebutkan perihal dirinya, “Andai saja aku
dibolehkan mengambil Khalil (kekasih) selain Allah pasti aku akan memilihnya.”
Abu Bakar mengatakan, “Samakan pembagian kakek dengan bagian bapak (Jika
bapak tidak ada).”
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas dari Nabi saw
” Tutuplah seluruh pintu-pintu kecuali pintu Abu Bakar.”
Dari Muhammad bin Jubair bin Muth’im dari bapaknya dia berkata, “Pernah
seorang wanita mendatangi Nabi iH, kemudian beliau menyuruh-nya kembali
datang menghadapnya, maka wanita itu bertanya, “Bagaimana jika kelak aku
datang namun tidak lagi menjumpaimu -seolah-olah ia meng-isyaratkan setelah
rasul wafat- maka Rasulullah saw. É| berkata,
“Jika engkau tidak menjumpaiku maka datangilah Abu Bakar.”
Diriwayatkan dari Abu Darda’ ¿I&, “Aku sedang duduk bersama Nabi 3ft
tiba-tiba muncullah Abu Bakar ¿i¡& sambil menjinjing ujung pakaiannya hingga
terlihat lututnya, maka Nabi ¡HI berkata, “‘Sesungguhnya teman kalian ini sedang
kesal maka berilah salam atasnya.” Maka Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah
saw., antara aku dan Ibnu al-Khaththab terjadi perselisihan, maka aku segera
mendatanginya untuk meminta maaf, kumohon padanya agar mema-afkan aku
namun dia enggan menerima permohonanku, karena itu aku datang menghadapmu
sekarang.” Rasulullah saw. menjawab, “Semoga Allah mengam-punimu wahai Abu
Bakar.” Sebanyak tiga kali, tak lama setelah itu Umar menyesal atas perbuatannya,
dan mendatangi rumah Abu Bakar sambil bertanya, “Apakah di dalam ada Abu
Bakar?” Namun keluarganya menjawab, tidak, Umar segera mendatangi
Rasulullah saw. sementara wajah Rasulullah saw. terlihat memerah karena marah,
hingga Abu Bakar merasa kasihan terhadap Umar dan memohon sambil duduk di
atas kedua lututnya, “Wahai Rasulullah saw. Demi Allah sebenarnya akulah yang
bersalah -dua kali-,” Maka Rasulullah saw. berkata,
“Sesungguhnya aku telah diutus Allah kepada kalian namun kalian mengatakan,
“Engkau pendusta!” Sementara Abu Bakar berkata, “Engkau benar ” Setelah itu
dia membelaku dengan seluruh jiwa dan hartanya. Lalu apakah kalian tidak jera
menyakiti sahabatku ?”
Setelah itu Abu Bakar tidak pernah lagi di sakiti.”
5) Abu Bakar Paling Dulu Masuk Islam dan Selalu Mendampingi
Rasulullah saw.
Diriwayatkan dari Wabirah bin Abdurrahman dari Hammam dia berkata,
Aku mendengar Ammar berkata, “Aku melihat Rasulullah saw. pada waktu itu
tidak ada yang mengikutinya kecuali lima orang budak, dua wanita dan Abu
Bakar.”
6) Orang yang Paling Dicintai Rasulullah saw.
Diriwayatkan dari Abu Utsman dia berkata, “Telah berkata kepadaku Amru
bin al-Ash bahwa Rasulullah saw. pernah mengutusnya dalam peperangan Dzatus
Salaasil, kemudian aku mendatanginya dan bertanya, “Siapakah orang yang paling
kau cintai? Maka Rasulullah saw. menjawab, ‘”Aisyah!” Kemudian kutanyakan
lagi, “Dari kalangan laki-laki?” Rasul menjawab, “Bapaknya.” Kemudian
kutanyakan lagi, “Siapa setelah itu?” Dia menjawab, “Umar!” Kemudian
Rasulullah saw. menyebutkan beberapa orang lelaki”.
7) Imán dan Keyakinannya yang Kuat
Diriwayatkan dari Abu Hurairah dia berkata, “Aku pernah men-dengar
Rasulullah saw. berkata, “Ketika seorang pengembala sedang menggembala
kambingnya, tiba-tiba datang seekor serigala memangsa seekor kambingnya, maka
spontan pengembala tersebut mengejarnya, tiba-tiba serigala itu berpaling menoleh
kepadanya dan berkata, ‘Siapa yang dapat menjaganya pada waktu dia akan
dimangsa, yaitu hari tatkala tidak ada pengembala selain diriku Dan ketika
seorang sedang menggiring sapinya yang membawa beban, maka seketika sapi
itu menoleh padanya dan berkata, ‘ Sesungguhnya aku tidak diciptakan untuk
tugas ini, tetapi aku diciptakan Allah untuk membajak.’ Orang-orang berkata,
‘Subhanallah!’ Maka Nabi bersabda, ‘ Sesungguhnya aku beriman kepada berita itu
sebagaimana Abu Bakar dan Umar mengimaninya pula’.”
Diriwayatkan dari Abdullah Ibnu Umar dia berkata, “Rasulullah saw.
bersabda,
” Barangsiapa menjulurkan pakaiannya (di bawah mata kaki) karena kesombongan
maka Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat.”
Maka Abu bakar berkata, “Sesungguhnya salah satu sisi dari bajuku selalu
melorot ke bawah, kecuali jika aku selalu mengetatkarmya, maka Rasulullah saw.
bersabda,
“Sesungguhnya engkau tidak termasuk orang yang menjulurkan pakaiannya
karena kesombongan.”
8)Kemauannya yang Tinggi
Diriwayatkan dari Abu Hurairah berkata,” Aku mendengar Rasulullah saw.
bersabda,
” Barangsiapa menginfakkan sesuatu dari dua yang dimilikinya di jalan Allah
niscaya akan diseru dari pintu-pintu surga, “Wahai Harnba Allah inilahke-baikan.
Maka barangsiapa termasuk ahli shalat maka akan dipanggil dari pintu shalat, barang
siapa termasuk golongan yang suka berjihad maka akan dipanggil dari pintu jihad,
dan barang siapa yang suka bersedekah maka akan dipanggil dari pintu sedekah,
barang siapa yang suka berpuasa maka akan dipanggil dari pintu puasa dan dari
pintu Ar Rayyan. Maka Abu Bakar berkata, ‘ Bagaimana jika seseorang harus
dipanggil dari setiap pintu, dan apakah mungkin seseorang dipangil dari setiap
pintu wahai Rasulullah saw.?’ Rasulullah saw. menjawab, ‘ Ya, dan aku berharap agar
engkau wahai Abu Bakar termasuk salah seorang dari mereka’.”
9)Keberkahan Abu Bakar ash-Shiddiq ra. dan Keluarganya
Diriwayatkan dari ‘Aisyah ra. dia berkata, “Kami keluar bersama Rasulullah
saw. dalam sebuah perjalanan, ketika kami sampai di suatu tempat yang bernama
al-Baida -atau di Dzatul Jaisy- terputuslah kalung yang kupakai, maka Rasulullah
saw. menyuruh rombongan berhenti untuk mencarinya dan orang-orang pun
berhenti bersama beliau, sementara mereka tidak menda-pati air dan tidak
mempunyai air, maka orang-orang mendatangi Abu Bakar dan berkata, Tidakkah
engkau melihat apa yang telah diperbuat oleh Aisyah? Dia telah membuat
Rasulullah saw. berhenti dan manusia pun berhenti bersa-manya, sementara
mereka tidak mendapatkan air dan tidak memilikinya.’ Maka datanglah Abu Bakar
ketika Rasulullah saw. berbaring meletakkan kepala-nya di atas pahaku sedang
tertidur, Abu Bakar mendatangiku dan berkata, ‘Engkau telah menahan Rasulullah
saw. dan manusia sementara mereka tidak memiliki air dan tidak pula
mendapatkannya’.” ‘Aisyah ra. berkata, “Maka ayahku mencelaku habis-habisan
sambil menusuk-nusuk pinggangku dengan tangan-nya, tidak ada yang
menghalangiku untuk bergerak kecuali takut Rasulullah saw. terganggu tidurnya,
sementara Rasululullah masih tetap tidur hingga pagi datang dan mereka tidak
memiliki air, maka Allah turunkan waktu itu ayat mengenai tayammum,
‘Maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci).’(An-Nisa’: 43).
Usa’id bin Hudhair berkata, “Bukanlah ini awal dari keberkahan kalian wahai
keluarga Abu Bakar.” Maka ‘Aisyah ra. berkata, “Kemudian kami membangkitkan
kendaraan tungganganku dan ternyata kalung tersebut berada di bawahnya.”
10) Berita Gembira Untuknya Sebagai Penghuni Surga
Diriwayatkan dari Sa’id bin Musayyab dia berkata, “Telah berkata kepadaku
Abu Musa al-Asy’ari bahwa suatu hari dia berwudhu’ di rumahnya kemudian
berangkat keluar dan berkata, “Aku harus mengiringi Rasulullah saw. hari ini.”
Beliau berangkat ke mesjid dan bertanya di mana Nabi saw, maka dijawab bahwa
beliau keluar untuk suatu hajat, maka aku segera pergi beru-saha menyusulnya
sambil bertanya-tanya, hingga akhirnya beliau masuk ke kebun yang di dalamnya
terdapat sebuah sumur bernama Aris, maka aku duduk di pintu -dan ketika itu
pintunya terbuat dari pelepah kurma- hingga beliau menyelesaikan buang hajat dan
setelah itu berwudhu, maka akupun berdiri berjalan ke arahnya ternyata beliau
sedang duduk-duduk di atas sumur tersebut sambil menyingkap kedua betisnya
dan menjulur-julurkan kakinya ke dalam sumur, maka aku datang memberi salam
kepadanya, kemudian kembali ke pintu sambil berkata dalam hatiku, “Hari ini aku
harus menjadi penjaga pintu Rasulullah saw. Tak lama kemudian datanglah Abu
Bakar ingin membuka pintu, maka kutanyakan, “Siapa itu?” Dia menjawab, “Abu
Bakar!” Maka kukatakan padanya, “Tunggu sebentar!” Aku segera datang kepada
Rasulullah saw. dan bertanya padanya, “Wahai Rasulullah saw., ada Abu Bakar
datang dan minta izin masuk!” Rasulullah saw. berkata, “Suruhlah dia masuk dan
beritahukan padanya bahwa dia adalah penghuni surga.”
Maka aku berangkat menujunya dan berkata, “Masuklah sesungguhnya
Rasulullah saw. memberitakan padamu kabar gembira bahwa engkau adalah
penghuni surga.”
Abu Bakar masuk dan duduk di sebelah kanan Rasulullah saw. sambil
menjulurkan kakinya ke sumur sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah saw.
dan dia menyingkap kedua betisnya ……………………….hingga akhir kisah.”
Diriwayatkan dari Qatadah dari Anas bin Malik dia pernah bercerita bahwa
Nabi pernah menaiki gunung Uhud bersama Abu Bakar, Umar dan Utsman, maka
tiba-tiba gunung Uhud bergoncang dan Rasulullah saw. lang-sung berkata,
“Diamlah woahai Uhud sesunggnhnya di atasmu ada seorang Nabi, seorang Shiddiq
ra. dan dua syahid.”
11) Sepak Terjangnya dalam Membela RasuIullah saw.
Diriwayatkan dari Urwah bin az-Zubair dia berkata, “Aku pernah bertanya
kepada Abdullah bin Amru tentang perbuatan kaum musyrikin yang paling
menyakitkan RasuIuUah, maka dia berkata, “Aku pernah melihat Utbah bin Abi
Mu’ith mendatangi Nabi yang sedang shalat, maka tiba-tiba Uqbah melilit leher
Nabi dengan sorban miliknya dan mencekiknya sekeras-kerasnya, kemudian
datanglah Abu Bakar membelanya dan melepas-kan ikatan tersebut sambil
berkata, “Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena ia
menyatakan, ‘Rabbku ialah Allah’ padahal dia telah datang kepadamu dengan
membawa keterangan-keterangan dari Rabbmu.” (Al-Mukmin: 28).
JASA-JASA ABU BAKAR RA.
Abu Bakar ash-Shiddiq ra. adalah sahabat yang pertama kali masuk Islam,
dan selalu menyertai Rasulullah sepanjang hidupnya baik di Makkah maupun di
Madinah. Tidak hanya itu, beliau adalah sahabat Rasulullah saw. sekaligus teman
bermusyawarah dan wazirnya. Di tangannya para senior sahabat masuk memeluk
Islam seperti Usman bin Affan, az-Zubair bin al-Awwam, Abdurrahman bin Auf,
Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Thalhah bin Ubaidillah.26
Setia mendampingi Rasulullah saw. dalam menghadapi berbagai macam
halangan dan rintangan, siap membela beliau dengan sepenuh jiwa, bahkan beliau
pula yang telah membebaskan banyak budak-budak yang di siksa karena masuk
Islam seperti Bilal, Amir bin Fuhairah, Ummu Ubaisy. Zinnirah, Nahdiyyah dan
kedua putrinya, serta budak wanita milik Bani Muammal27
Beliaulah yang menemani Nabi di kala hijrah, dan turut serta dalam setiap
peperangan bersama Rasulullah saw. seperti Badar, Uhud, Khandaq, Hudaibiyyah,
Penaklukan kota Makkah, Hunain, Tabuk dan pertempuran besar lainnya.
Setelah menjabat sebagai khalifah maka beliaulah yang berrugas dan
bertanggung jawab terhadap seluruh negeri Islam dan wilayah kekhalifahannya
sepeninggal Rasulullah saw. maka tercatat sejumlah reputasi beliau yang gemilang
di antaranya,
1- Instruksinya agar jenazah Rasulullah saw., diurus hingga dikebumikan.
2- Melanjutkan misi pasukan yang dipimpin Usamah yang sebelum-nya
telah dipersiapkan Rasulullah saw. sebelum wafat, sebagaimana kelak akan
diterangkan secara rinci.
3- Kebijakannya menyatukan persepsi seluruh sahabat untuk memerangi
kaum murtad dengan segala persiapan ke arah itu, kemudian instruksinya untuk
memerangi seluruh kelompok yang murtad di wilayah masing-masing.
4- Ibnu Katsir berkata, “Pada tahun 12 H Abu Bakar ash-Shiddiq ra.
memerintahkan Zaid bin Tsabit agar mengkumpulkan al-Qur’an dari berbagai
tempat penulisan, baik yang ditulis di kulit-kulit, dedaunan, maupun
yang dihafal dalam dada kaum muslimin. Peristiwa itu terjadi setelah para
Qari’ penghafal al-Qur’an banyak yang terbunuh dalam peperangan Yama-
mah, sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Shahih al-Bukhari28 . Imam al-
Bukhari berkata29, Bab Pengumpulan al-Qur’an kemudian dia mulai menyebutkan
sanadnya hingga sampai kepada Ibnu Syihab dari Ubaid bin as-
Sabbaq, bahwa Zaid bin Tsabit pernah berkata, “Abu Bakar ash-Shiddiq ra.
mengirim kepadaku surat tentang orang-orang yang terbunuh diperang
Yamamah, ketika aku mendatanginya, kudapati Umar bin al-Khaththab
berada di sampingnya, maka Abu Bakar berkata, “Umar mendatangiku dan
berkata, “Sesungguhnya banyak para Qurra’ penghafal al-Qur’an yang telah
gugur dalam peperangan Yamamah. Aku takut jika para Qari’ yang masih
hidüp kelak terbunuh dalam peperangan, akan mengakibatkan hilangnya
sebagian besar dari ayat al-Qur’an, menurut pendapatku, engkau harus
menginstruksikan agar segera mengumpulkan dan membukukan al-Qur’an.”
Aku bertanya kepada Umar, “Bagaimana aku melakukan sesuatu yang tidak
pernah dilakukan Rasulullah saw.?” Umar menjawab, “Demi Allah, ini adalah
kebaikan!” Dan Umar terus menuntutku hingga Allah melapangkan dadaku untuk
segera melaksanakannya, akhirnya akupun setuju dengan pendapat Umar
Zaid bin Tsabit berkata, “Kemudian Abu Bakar berkata padaku, “Engkau
adalah seorang pemuda yang jenius, berakal dan penuh amanah, dan engkau telah
terbiasa menulis wahyu untuk Rasulullah saw., maka carilah seluruh ayat al-Qur’an
yang berserakan dan kumpulkanlah.” Berkata Zaid, “Demi Allah jika mereka
memerintahkan aku untuk memikul gunung tentu-lah lebih ringan bagiku daripada
melaksanakan instruksi Abu Bakar agar aku mengumpulkan al-Qur’an.”
Aku bertanya, “Bagaimana kalian melakukan sesuatu perbuatan yang tidak
diperbuat oleh Rasulullah saw. Dia berkata, “Demi Allah ini adalah suatu
kebaikan!” Dan Abu Bakar terus berusaha meyakinkan aku hingga akhirnya Allah
melapangkan dadaku untuk menerimanya sebagaimana Allah melapangkan dada
mereka berdua
Maka aku mulai mengumpulkan tulisan-tulisan al-Qur’an yang ditulis di
daun-daunan, kulit maupun dari hafalan para penghafal al-Qur’an, hingga akhirnya
aku menemukan akhir surat at-Taubah yang ada pada Abu Khuzaimah al-Anshari,
yang tidak kudapatkan dari selainnya, yaitu ayat:
” Sesungguhmja telah datang kepndamu seorang rasul dari kaummu sendiri,
berat terasa olehnya penderitaanmu.” (At-Taubah: 128).
Hingga akhir surat al-Bara’ah. Kemudian al-Qur’an yang telah dikum-pulkan
dan dibukukan itu disimpan oleh Abu Bakar hingga Allah mewafatkannya. Setelah
itu berpindah ke tangán Umar sewaktu hidup-nya, dan akhirnya berpindah ke
tangán Hafshah binti Umar
Imam al-Bukhari berkata, Ibnu Syihab berkata, Telah berkata kepadaku
Kharijah bin Zaid bin Tsabit, bahwasanya dia mendengar Zaid berkata, “Aku tidak
mendapatkan satu ayat dari surat al-Ahzab ketika kami menulis al-Qur’an ke dalam
satu mushaf, sementara aku pernah mendengarkan Rasulullah saw. membacanya,
akhirnya ayat tersebut kami cari dan ternyata ayat tersebut ada pada Khuzaimah
bin Tsabit al-Anshari,
” Di antara orang-orang mu’ min itu ada orang-orang yang menepati apa yang
mereka janjikan kepada Allah.” (Al-Ahzab: 23).
Maka segera kami sisipkan ke tempatnya di dalam mushaf.
5- Pengiriman pasukan untuk menyebarkan Agama Allah kepada bangsabangsa
yang bertetangga dengan kaum muslimin baik kepada penduduk Persia
maupun penduduk Syam, dalam rangka merealisasikan firman Allah SWT
“Hai orang-orang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu
itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan dari padamu, dan ketahuilah,
bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa.” (At-Taubah: 123).
Sebagaimana yang akan diterangkan secara rinci insya Allah di pasal
keempat dan kelima.

………………………………………………………
QADHI, SEKRETARIS DAN PEMUNGUT ZAKAT DI MASA
KEKHALIFAHAN ABU BAKAR

Sebelum Abu Bakar diangkat sebagai khalifah, profesi beliau dalam mencari
nafkah adalah seorang pedagang, setelah dilantik sebagai khalifah maka
sebagaimana biasanya beliau berangkat ke pasar untuk berdagang, dijalan beliau
bertemu dengan umar bin al-Khaththab dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah, keduanya
menghampirinya dan berkata, “Profesimu sebagai pedagang kini sudah tídak
sesuai lagi sejak engkau mengemban amanat yang amat besar ini.” Abu Bakar ash-
Shiddiq ra. menjawab, “Jika tídak dengan berda-gang seperti ini bagaimana aku
dapat menghidupi anak istriku?” Keduanya menjawab, “Mari ikut kami agar kami
siapkan untukmu gaji.”
Maka sejak itu Abu Bakar diberi upah setengah kambing dan dijamin
baginya pakaian beserta sandang pangan, Umar berkata, Biarlah aku yang
mengurusi masalah qadha (peradilan), selanjutnya Abu Ubaidah berkata,
“Serahkan kepadaku urusan pajak.” Umar berkata, “Sejak aku menjabat sebagi
Qadhi di peradilan, selama sebulan penuh aku duduk menganggur tídak satupun
terjadi persengketaan antara dua orang.”30
Dan yang menjadi sekretaris dan juru tulisnya adalah Zaid bin Tsabit, Usman
bin Affan atau siapa yang hadir ketika itu di sisinya.
Adapun gubernur untuk wilayah Makkah adalah Itab bin Sa’id, untuk
wilayah Tha’if adalah Usman bin Abi al-Ash, untuk wilayah adalah Shan’a Muhajir
bin Abi Umayyah, untuk wilayah Hadramaut adalah Ziyad bin Lubaid, untuk
wilayah Khaulan adalah Ya’la bin Umayyah, untuk wilayah Zubeid dan Rima’31
adalah Abu Musa al-Asy’ari, untuk wilayah al-Janad32 adalah Mu’adz bin Jabal,
untuk wilayah Bahrain adalah ai-Ala’ bin al-Hadrami.
Beliau juga mengutus Jabir bin Abdillah al-Bajalli ke Najran, Abdullah bin
Tsaur -salah seorang dari Bani al-Ghauts- diutus ke daerah Jurasy33, kemudian
beliau mengutus Iyadh bin Ghanm al-Fahri ke Daumatul Jandal, wilayah Syam
diserahkan kepada Abu Ubaidah bin al-Jarrah, Syarahbil bin Hasanah, Yazid bin
Abu Sufyan, Amru bin al-Ash, seluruhnya adalah pemimipin pasukan di bawah
satu komandan yaitu Khalid bin Walid.34
Ketika itu Abu Bakr belum mendirikan baitul mal secara independen,
melainkan hanyalah mengambil sebuah kamar kecil di rumahnya yang berada di
sanuh, ketika salah seorang sahabat berkata padanya, “Tidakkah engkau
memerlukan penjaga Baitul mal tersebut?” Dia menjawab, “Tidak, sebab kamar
tersebut memiliki gembok yang terkunci. Namun ketika beliau pindah ke
rumahnya yang di samping masjid Nabawi maka beliau harus memindahkan baitul
mal tersebut ke sana. Ketika Abu Bakar wafat, maka Umar membuat para penjaga
baitul mal secara khusus, ketika baitul mal di buka tenyata mereka tidak
menemukan apapun.35

…………………………………………………………
USIA DAN WAFAT ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ RA.
Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata36, “Abu Bakar ash-Shiddiq ra. wafat pada hari
senin di malam hari, ada yang mengatakan bahwa Abu Bakar wafat setelah
Maghrib (malam selasa) dan dikebumikan pada malam itu juga yaitu tepatnya 8
hari sebelum berakhirnya bulan Jumadil Akhir tahun 13 H, setelah beliau
mengalami sakit selama 15 hari. Pada waktu itu Umar menggantikan posisinya
sebagai imam kaum muslimin dalam shalat. Ketika sakit beliau menuliskan
wasiatnya agar tampuk pemerintahan kelak diberikan kepada Umar bin al-
Khaththab, dan yang menjadi juru tulis waktu itu adalah Usman bin Affan, Setelah
surat selesai segera dibacakan kepada segenap kaum muslimin, dan mereka
menerimanya dengan segala kepatuhan dan ketundukan.37
Masa kekhalifahannya berjalan selama 2 tahun 3 bulan38, dan beliau wafat
pada usia 63 tahun39 persis dengan usia Nabi, akhirnya Allah me-ngumpulkan
jasad mereka dalam satu tanah, sebagaimana Allah mengum-pulkan mereka dalam
kehidupan.
Sebelum wafat beliau telah mewasiatkan agar seperlima dari hartanya
disedekahkan sembari berkata,”Aku akan menyedekahkan hartaku sejumlah yang
Allah ambil dari harta fai’ kaum muslimin.40
Ketika beliau dalam kondisi sekarat, ada yang berkata kepadanya, “Maukah
anda jika kami carikan seorang dokter?” Maka spontan dia menja-wab, “Dia telah
melihatku (maksudnya Allah) dan Dia berkata, “Sesungguh-nya Aku akan berbuat
apa-apa yang Kukehendaki.41
Disebutkan bahwa sebab beliau jatuh sakit dan wafat bahwa beliau dan al-
Harits -seorang dokter yang masyhur- pernah memakan khazirah42 yang
dihadiahkan kepada Abu Bakar, maka setelah memakan daging itu berkata al-
Harits, “Angkatlah tangán anda wahai Khalifah Rasulullah saw., demi Allah
sesungguhnya daging ini telah beracun, maka Abu Bakar segera mengangkat
tangannya, sejak itu keduanya selalu merasa sakit hingga akhirnya keduanya wafat
satu tahun kemudian.43
Versi lain ada yang mengatakan bahwa sebab wafatnya beliau karena mandi
pada waktu musim dingin yang bersengatan, yang membuat beliau demam lalu
wafat karena itu.
Dalam keadaan sakit beliau melantunkan sebuah bait syair,
Engkau selalu memberikan kabar duka cita atas kematian kekasihmu
Hingga kini engkaulah yang akan merasakan kematian itu
Banyak orang memüiki cita-cita
Namun kematian jualah yang menghadang segalanya.44
Ketika sakaratul maut pertanda ajal yang akan menjemputnya datang,
putrinya ‘ Aisyah -Ummul mukminin- membacakan sebuah bait syair,
Sesungguhnya tidak guna kekayaan bagi seseorang
Ketika dada terasa sempit dan susah bernafas
Mendengar itu beliau memandang kepada ‘Aisyah ra. seolah-olah marah dan
berkata, “Jangan katakan demikian wahai Ummul mukminin, namun katakan, “
Dan datanglah sakaratul maut yang sebenar-benarnya. itulah yang kamu selalu
lari dari padanya.” (Qaf: 19).
Di antara wasiat beliau kepada ‘Aisyah ra., Aku tidak meninggalkan harta
untuk kalian kecuali hewan yang sedang hamil, serta budak yang selalu membantu
kita untuk membuat pedang kaum muslimin, karena itu jika aku wafat tolong
berikan seluruhnya kepada Umar. Ketika ‘Aisyah ra. menunaikan wasiat itu
kepada Umar maka Umar berkata, “Semoga Allah merahmati Abu Bakar,
sesungguhnya dia telah membuat kesulitan (untuk mengikutinya) bagi orang-orang
yang menjadi khalifah setelahnya.45
Ketika Salman al-Farisi datang menjenguknya, Salman berkata, “Wahai
Khalifah Rasulullah saw. berikan aku wasiat, sebab kulihat engkau tidak akan
dapat lagi melakukannya setelah hari ini.” Maka Abu Bakar menjawab, Wahai
Salman, pasti akan terjadi penaklukan (negeri-negeri kafir) tapi aku tidak pernah
mengetahui apa-apa yang engkau peroleh dari bagianmu kecuali apa-apa yang
dapat engkau makan dan engkau masukkan ke dalam perutmu, atau apa-apa yang
dapat kau kenakan di atas punggungmu (pakainmu), dan ketahuilah sesungguhnya
barangsiapa yang mengerjakan shalat lima waktu, maka dia telah berada dalam
lindungan Allah pada pagi hari maupun sore harinya, dan jangan sampai engkau
membunuh seorang ahli dzimmah, maka kelak Allah pasti akan menuntutmu di
hari kiamat dan mencampakkan dirimu dalam keadaan tersungkur dengan
wajahmu ke dalam neraka.46
Ibn Sa’ad menyebutkan dengan sanadnya dari al-Qashim bin Muhammad dia
berkata, “Abu Bakar dikafankan dalam dua kain, kain yang berwarna putih, dan
satu lagi berwarna lain, beliau berpesan, ‘Sesungguhnya orang yang masih hidup
lebih membutuhkan kain dari orang yang telah mati, sebab kain kafan hanyalah
menutup apa-apa yang akan keluar dari hidung maupun mulutnya.”47
Beliau dimakamkan bersama Rasulullah saw. dalam kamar (Aisyah) dan
beliau dishalatkan oleh Umar bin al-Khaththab
Beliaulah yang pertama kali diangkat oleh Rasulullah saw. sebagai amir
dalam pelaksanaan ibadah haji pertama dalam Islam yaitu pada tahun 9 H, dan
pada tahun berikutnya Rasulullah saw. baru melaksanakan ibadah haji Wada’.
Ketika beliau diangkat menjadi khalifah, beliau memerintahkan Umar untuk
menjadi amir haji pada tahun 11 H, dan tahun berikutnya barulah beliau berangkat
haji.48

……………………………………………………………

16 Ibnu Katsir tidak menuliskan biografi ash-Shiddiq ra., teapi beliau hanya memeberikan petunjuk dalam kitabnya al-
Bidayah wan Nlhayah kepada sebuah kitab yang dlkarangnya khusus membahas kehldupan Abu Bakar, harl-hannya, hadits
dan hukum-hukum yang diriwayatkannya. Namun saya tidak mendapatkan buku ini. Akhirnya terpaksa harus saya
kumpulkan secara ringkas mengai biografinya dari Thabaqat Ibnu Sa’ad, Tarikh ath-Thabari dan Shahih al-Bukhari
17 Thabaqat Ibnu Sa’ad 3/ 169, Tarikh ath-Thabari, 3/ 425.
18 Ibid.
19 Tarikh ath-Thabari, 3/425
20 Thabaqat Ibnu Sa’ad, 3/188
21 Ibid, 1/188, semakna dengan perkataan ini terdapat dalam ath-Thabari, 3/524.

22 Lihat al-Bldayah wan Nihayah, 3/26
23 Lihat Thabaqatlbnu Sa’ad, 3/169,174 dan Tarikh ath-Thabarí, ZI426

24 Nama tempat yang berada di Awal al-Mad¡nah, di situlah perkampungan Bani al-Harits bin al-Khazraj.
(Mu’jam al-Buldan
3/265).
25 Lihat Shahih al-Bukhari, 4/189-197 (cetakan Istambul 1979 M).

26 Ibnu Hisyam, as-Sirah an-Nabawiyyah 1/317
27 Ibid 1/393

28 Al-Bidayah wan Nihayah, 6/353
29 Ibnu Hajar, Fathul Baril/ÍO Kitab Fadhail al-Qur’an. Abu Khuzaimah al-Ansari yang disebutkan dalam haditst
pertama,Dukan Khuzaimah bin Tsabit al-Ansari yang pernah dua kali Syahld, sebagaimana yang telah diterangkan oleh
al-Hafizh Ibnu IbnuHajar dalam syarahnya pada hadits yang pertama 9/15

30 Ibnu Sa’ad, ath-Thabaqat al-Kubra 3/184 dengan sanad yang para perawinya tsiqah namun sanadnya mursal. Setelah itu día
berusaha menyebutkan riwayat lairtnya sebagai syahid (penguat). Adapun perkataan Umar, “Serahkan padaku urusan
Qadha.” dan perkataan Abu Ubaidah, “Serahkan kepadaku uruan pajak.” Maka ¡ni memiliki syahid (penguat) yang
diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra 1/87.
31 Al-Haflzh berkata dalam al-Fath 13/129, “Sanadnya kuat.”
32 Rima’, ñama sebuah lembah di Yaman di samping Wadi Zubid dan di bawah Rima’ terdapat telaga kecil yang disebut dengan
Ghassan. (Mu’jam al-Buldan, 3/68).
33 A-janad, yaitu salah satu dari istana Yaman dan tempat berdiamnya penguasa. {Mu’jamal-Buldan2/169). Jjrasy, yaitu
salah satu dari istana Yaman dari arah Makkah, dan konon wilayah ini merupakan kota besar dalam kekuasaan jenguasa
yang lúas. {Mu’jam al-Buldan, 2/126).
34 Lmat Tarikh ath-Thabari 3/426 dan setelahnya
35 Thabaqat Ibnu Sa’ad, 3/203
36 Al-Bidayah wan Nihayah, 7/18.

37 Thabaqat Ibnu Sa’ad, 3/202, Tarikh ath-Thabari, 3/420
38 Lihat Thabaqat Ibnu Sa’ad, 3/202, Tarikh ath-Thabari3/420 dan dia menambahkan masa kekhalifahannya lebih sepuluh
hari, adapun Ibnu Katsir menghapuskan hitungan malam hari, dan Ibnu Sa’ad ada juga menyebutkan pendapat lainnya.
39 Ibnu Sa’ad, dan ini dlsepakati 3/202.
40 Thabaqat Ibnu Sa’ad, 3/194
41 Ibid, 3/198
42 Yaitu daging yang telah lewat satu hari, yang dicampur dengan tepung setelah dlmasak . (Al-Usan, 4ITÍ7).
43 szazat al-Kubra, 3/198. 193.
44 ‘ Ibid 3/193, dengan sanad la ba’sa (tidak mengapa).
45 ‘ Ibid 3/192, dengan sanad shahih
46 ‘ Ibid 3/193, dengan sanad la ba’sa (tidak mengapa).
47 Ibid 3/204, dengan sanad yang shahih. Dan dia menyebutkan riwayat lain seputar masalah ini

48 ‘ Ibid 3/177

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Untuk yang Sehati

Bercita-cita mengamalkan Islam secara utuh adalah suatu hal yang wajib bagi setiap muslim....
Namun bila belum mampu seluruhnya, jangan ditinggalkan semuanya....Karena Alloh Subhanahu wata'ala tidak membebani seseorang kecuali sesuai kemampuan maksimal yang dimiliki...

Buat diriku & dirimu

....Jangan pernah merasa cukup untuk belajar Islam, karena semakin kita tahu tentang Islam, semakin kita tahu tentang diri kita (...seberapa besar iman kita, ...seberapa banyak amal kita,....seberapa dalam ilmu kita, dan sebaliknya...seberapa besar kemunafikan kita, ...seberapa banyak maksiat kita, ...seberapa jauh kedunguan kita)
....Barangsiapa mengenal dirinya, maka semakin takut ia kepada Alloh Subhaanahu wata'ala

Do’a kita

Semoga Alloh Subhaanahu wata'ala meneguhkan hati kita dalam Islam hingga maut menjemput kita,...aamiin

Kalender

Januari 2010
S M S S R K J
« Des   Feb »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Total Pengunjung

  • 150,033 klik
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: